Kuliner

Belajar Masak: Nasi Goreng Ebi Sosis Sapi

 

Nasi Goreng Ebi

Sehubungan pembicaraan tentang EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) sedang ramai-ramainya di kalangan teman-teman saya, jadi di salah satu agenda masak kemarin saya putuskan untuk membuat menu nasi goreng ebi. Hubungannya? Enng… nggak ada, hahaha. <– editor salah fokus

Dan, karena saya suka sosis, jadi nasi goreng ebi ini mau saya tambahi sosis sapi sebagai lauknya, sebagai pengganti telur yang biasanya jadi pasangan dari nasi goreng. 🙂 Adapun bahan-bahannya sebagai berikut:

  • Nasi (tentu saja)
  • Sosis sapi
  • Ebi/udang kecil yang telah dikeringkan
  • Tepung (sedikit saja, untuk goreng sosisnya)

Bumbu-bumbunya:

  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Kemiri
  • Merica
  • Cabai
  • Garam
  • Kecap
  • Saus

Cara membuat:

Oh ya, ini saya nggak kasih foto step-step-nya seperti sebelum-sebelumnya. Karena bikinnya kejar waktu buka puasa, jadi nggak sempat foto-foto. Hehehe

Jadi, langkah pertama adalah membuat nasi gorengnya terlebih dahulu, sebagai berikut:

  • Haluskan seluruh bumbu-bumbunya: Bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, cabai, dan gara Tambahkan ebi dan uleg kasar (Maksudnya, uleg nggak sampai halus gitu, bukan ngulegnya secara kasar. Bisa dipahami, kan? 😀 ).
  • Panaskan minyak goreng di wajan. Kemudian masukkan bumbu dan ebi yang sudah diuleg tadi. Tumis hingga harum. Lalu, masukkan nasi dan aduk di atas wajan hingga tercampur dengan bumbu dan ebinya. Beri kecap dan saus secukupnya. Aduk hingga tercampur merata.

Untuk sosisnya, saya maunya yang agak utuhan. Jadi sengaja nggak dipotong kecil-kecil dan dicampur ke dalam nasgornya. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  • Encerkan sedikit tepung dengan air
  • Cuci bersih sosis, lalu masukkan ke dalam adonan tepung tadi
  • Setelah itu, goreng hingga matang

Nah, sudah jadi, deh. Nasi goreng ebi plus sosis sapi siap santap! Eits… tapi, nunggu adzan Magrib dulu, yes. 😀

Kuliner

Belajar Masak: Perkedel Keju

Perkedel Keju

Awalnya saya tertarik waktu lihat-lihat video salah satu akun kuliner di instagram. Di situ ada resep plus tutorial cara memasak sebuah menu yang namanya kalau nggak salah ingat adalah “Cheesey Potato Bites”. Setelah saya perhatikan, mirip perkedel. Bedanya, ini dikasih keju. Ya, mungkin perkedel ala-ala barat.

Karena cukup simpel, maka saya coba untuk membuatnya sendiri. Dengan modifikasi saya sendiri, yaitu ukurannya yang saya bikin agak gedean. Jadi, nggak bisa disebut “bites”, karena tidak sekali gigit. Maka dari itu, namanya saya ganti yang lebih mengindonesia: Perkedel Keju. 😀

Bahan-bahannya sebagai berikut (kali ini saya kasih takarannya deh ya, mumpung ingat 🙂 ):

  • Ketang 500 gram
  • Telur 1 butir
  • Keju secukupnya
  • Daun bawang secukupnya
  • Bawang putih, merica, dan garam secukupnya

Cara membuat:

  • Kupas dan cuci bersih kentang, lalu potong-potong ukuran besar. Setelah itu goreng hingga lunak dan mudah untuk dihancurkan. Setelah lunak, tumbuk hingga halus.
  • Haluskan bumbu-bumbu bawang putih, merica, dan garam. Kemudian campurkan dalam kentang yang sudah dihaluskan tadi. Uleni hingga tercampur merata bumbunya.
  • Iris-iris daun bawang, lalu campurkan juga dengan kentang plus bumbunya.
  • Kocok telur. Masukkan ke dalam adonan ketang tadi, dan uleni hingga tercampur merata. Tujuan diberi telur ini supaya nanti kentangnya nggak hancur waktu digoreng. Sisakan telurnya sedikit untuk olesan di luar perkedelnya sebelum digoreng.
  • Potong dadu keju dengan ukuran jangan terlalu besar. Karena nanti akan dimasukkan ke dalam perkedelnya.
  • Bentuk adonan keju tadi menjadi bulat pipih, jangan lupa masukkan keju di tengahnya.
  • Panaskan minyak di wajan
  • Celupkan adonan ketang yang sudah dibentuk bulatan tadi ke dalam telur, lalu masukkan ke wajan
  • Goreng hingga matang

Perkedel keju siap disantap! 😀 Btw, kejunya kok nggak meleleh ya. Padahal udah pakai yang quick melt. :/

Kuliner

Belajar Masak: Kroket Salah Gaul

Kroket Salah Gaul

Setelah berjibaku dengan deadline satu dan yang lainnya sejak bulan Januari kemarin, entah kenapa otak ini jadi macet buat nulis. Blog jadi lumutan, deh. Nah, sebagai pemanasan, sekarang saya mau posting cerita main masak-masakan aja, deh. Oh ya, ini pernah saya posting sebelumnya di Instagram. Iya, ini repost. Hahaha *ketawa evil*

Jadi, ini saya bikin apa? Emm… sebut saja ini dengan nama “Kroket Salah Gaul. Lol! Niat awal memang bikin kroket, tapi pas eksekusi saya ngebentuknya kegedean. Jadi macem perkedel, haha. Selain itu, saya juga kelupaan salah satu bumbu yang paling penting, yaitu gula pasir. Gula pasir itu penting untuk menentukan jati diri masakan ini, sebab yang membedakan antara kroket dengan perkedel adalah cita rasanya. Kalau perkedel gurih, kroket agak manis (macem yang masak *abaikan*). Ya wes kalau gitu, sebut saja ini “Kroket Salah Gaul (Blasteran Perkedel)”. :)).

Resepnya sebagai berikut:

Bahan untuk kentangnya:

  • Kentang
  • Telur
  • Bawang putih
  • Garam
  • Merica
  • Tepung panir

Bahan untuk isiannya:

  • Wortel
  • Daun bawang
  • Keju (biasanya pakai daging ayam cincang, tapi ini dadakan jadi seadanya 😀)
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Garam
  • Merica

Cara membuat:

  • Adonan kentangnya:

Haluskan bumbu: bawang putih, merica, dan garam. Goreng kentang sampai kira-kira lunak dan mudah untuk dihaluskan. Tumbuk kentang, lalu campurkan bumbu yang sudah dihaluskan, tambahkan telur (sisakan sedikit untuk tahap akhir). Uleni hingga tercampur rata.

  • Isiannya:

Potong-potong wortel, daun bawang, bawang merah, bawang putih. Tumis semua bahan. Tambahkan garam dan merica. Terakhir, setelah diangkat dari kompor, tambahkan keju parut.

  • Tahap akhir:

Ambil sedikit adonan kentang, bentuk menjadi pipih, lalu beri isiannya. Kemudian bulatkan lagi hingga isian tertutup kentang. Setelah itu, celupkan ke dalam telur lalu gulingkan dalam tepung panir. Ulangi langkah ini hingga adonan habis.

Setelah seluruh adonan dibentuk dan diberi isian, goreng hingga kecokelatan. Udah, jadi, dah! Agak rumit juga sih langkah-langkahnya. Setidaknya, nggak serumit membaca hatimu. 😀

Suka-Suka

Selamat Malam, Tuan

Semoga malam ini kamu bisa tidur dengan nyenyak.

Dan ketika kau terbangun di pagi hari nanti, Tuhan telah menghapuskan segala sakit yang mendera ragamu, serta segala kegelisahan yang mengganggu jiwamu. Menggantinya dengan rezeki yang berkah. Juga, kebahagiaan yang melimpah.

Lalu ketika esok hari kamu kembali menjelma menjadi siluet di antara hitam dan biru pada langit pagi itu, akan kukatakan kepadamu:

“Sebenarnya aku ingin sekali mengendap-endap masuk ke hatimu, tapi kenapa justru kamu yang selalu kurang ajar wara wiri di pikiranku?”

Ini kali kesekian aku tulis surat untukmu. Maaf, kalau mengganggu kesibukanmu. Bukan tak sabaran, hanya ingin memastikan. Tak sampaikah rindu yang kutitipkan pada bait-bait doa di sepertiga malam itu? Kau tahu, betapa letih merayu-Nya seraya bertanya-tanya, “Kapan musim bunga akan tiba?”

Apakah kamu juga begitu? Atau, hanya aku yang selalu memunajatkan rindu?

Kelak, akan kuceritakan kepadamu tentang angin yang berembus mesra. Dulu, kukira kamu adalah dia. Namun, rupanya kamu adalah udara. Yang meski tak mewujud nyata, tapi aku tahu engkau ada. Dan menjadi alasan aku tetap bernapas di dunia.

Kuharap, saat ini kau juga sedang berusaha untuk menujuku. Sebab, aku tak akan ke mana-mana lagi. Di sini saja. Menunggumu, sambil baca buku.

Sampai ketemu. 🙂

Kpop & Kdrama

100 Detik Nostalgia Bersama SS501

SS501-e1522822828405
(gambar diambil dari https://www.soompi.com)

Di saat saya sedang merasa sangat muak dengan kelakukan dedek-dedek fangirl zaman sekarang yang seperti kompor meleduk, tiba-tiba seorang kawan mencolek saya di sebuah postingan instragram milik akun @dingo_music. Secuil video dalam postingan tersebut sukses membuat saya baper dan teringat masa-masa fangirlingan zaman dulu, yang tentu saja sangat jauh berbeda dibandingkan saat ini. Dulu, hallyu wave mungkin tak sebesar sekarang, kegiatan fangirlingan pun tak semudah sekarang. Namun, pada masa itu, semua terasa menyenangkan, tidak ada ujaran-ujaran kebencian yang bikin nggak nyaman.

Kembali ke Dingo Music, dalam cuplikan video tersebut tampak tiga orang personel dari SS501, yaitu Heo Young Saeng, Kim Kyu Jong, dan Park Jung Min, berkumpul dan menyanyikan lagu-lagu SS501 secara medley. Sebagai informasi, SS501 merupakan boyband pertama yang membawa saya kecemplung ke dalam dunia Kpop. Dan Triple S (nama fandom-nya), merupakan fandom paling tabah yang saya bangga pernah tergabung di dalamnya. Banyak sekali cobaan yang harus dihadapi fandom ini. Mulai dari ditinggalin waktu lagi sayang-sayangnya (karena permasalahan dengan manajemen, membuat nasib SS501 jadi tidak jelas), digantungin (tidak ada konfirmasi resmi bahwa mereka disbanded, tapi SS501 vakum sampai waktu yang tidak ditentukan), hingga berbagai permasalahan yang dialami oleh para personelnya. Termasuk skandal besar yang menimpa sang leader.

Selama ini, Triple S sudah cukup senang masih bisa melihat masing-masing personel SS501 bersolo karier. Maka dari itu, saat melihat tiga orang personel bernyanyi dalam satu acara yang sama, menyanyikan lagu-lagu SS501, tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang membahagiakan bagi Triple S. Saya termasuk di antaranya.

Di dalam acara yang diadakan oleh Dingo Music tersebut, tiga orang personel SS501 menyanyikan lagu-lagu SS501 yang dulu sempat menjadi hits, seperti “Because I’m Stupid”, “Love Ya”, “Love Like This”, dan “Snow Prince”. Mereka menyanyikannya secara medley dengan durasi 100 detik saja. Sayang, hanya tiga orang personel saja yang dapat ikut tampil di acara ini. Salah satu personelnya, Kim Hyung Joon, tidak bisa ikut karena masih dalam tugas wajib militer. Adapun sang leader, Kim Hyun Joong, … emm, barangkali sedang ada kesibukan lain. Namun demikian, meskipun hanya bertiga dan meski hanya 100 detik saja, sudah cukup mengobati kerinduan para Triple S kepada boyband kesayangan mereka, SS501.

Suka-Suka

Terus Bergerak, Jangan Berhenti

keep moving
(gambar diambil dari sini)

Pernahkah kamu merasa kalau hidup ini amatlah lucu. Bisa saja, menit ini kamu merasa sangat bahagia, tapi menit berikutnya kamu nelangsa. Pun sebaliknya.

Contohnya:

Pagi hari, kamu masih bisa sayang-sayangan sama buku favorit. Lalu sore harinya, buku itu rusak karena keteledoranmu sendiri.

Atau mungkin, kamu sudah jatuh bangun menyelesaikan satu level games. Tinggal selangkah saja. Lalu tiba-tiba, musuh datang sehingga game over dan membuat seluruh usahamu sia-sia.

Atau bisa jadi, kamu sudah penuh kesabaran ekstra men-download satu episode drama Korea. Sudah sampai 90%, tinggal sedikit lagi download-an paripurna. Lalu tiba-tiba, koneksi internet mati. Membuatmu pengen nangis seprovinsi.

Atau bisa juga, saat ini kamu tengah lelah dan ingin menyerah memikirkan seseorang yang belakangan ini selalu wara-wiri di pikiranmu. Lalu suatu saat nanti, kamu menyadari bahwa ada orang lain yang diam-diam ingin mengendap-endap masuk ke hatimu.

Nah, sesungguhnya kesemuanya itu wajar adanya. Karena sejatinya segala sedih, duka, sakit hati, patah hati itu ada untuk mengingatkan bahwa kamu masih hidup. Semua itu ada untuk memberikan pelajaran baru, pemahaman baru, kekuatan baru, dan membuat kita menjadi pribadi yang baru.

Yang harus dilakukan hanyalah terus bergerak. Sebagaimana hidup yang harus terus berjalan. Sedih boleh, tapi sebentar saja. Setelah itu, berdamailah dengan masa lalu dan segera move on. Sebab percayalah, yang akan datang kepadamu pasti lebih baik untukmu daripada yang telah lalu.

“Indeed what is to come will be better for you than what has gone by.”

(QS. Ad-Dhuha, 93:4)

Suka-Suka

Gara-Gara Ayam Geprek

(gambar diambil dari https://hellosehat.com)

Kalau ada makanan yang dapat mengubah hidup saya, maka itu adalah ayam geprek. Sebagai chilli haters, selama ini saya selalu menyatakan diri kalau saya ini bukannya nggak berani makan sambel, melainkan nggak suka. Nggak berani dan nggak suka adalah dua hal yang berbeda. Nggak berani itu masalah nyali. Sedangkan nggak suka, masalah selera.

Saya suka heran sama teman-teman yang asyik makan pedas hingga air mata berlinangan dan bibirnya tak henti mengeluarkan desisan. Weh, itu makan atau kesurupan? Lalu mereka bilang, “Makan kalau nggak pakai sambel itu nggak nikmat.” Sementara saya bilang, “Gimana bisa menikmati kalau kudu megap-megap, kan?” Selanjutnya, mereka akan meragukan tulisan di KTP saya, “Kamu beneran orang Indonesia? Bukan Eropa?”

Hingga suatu hari, ayam geprek mengubah segalanya. Berawal dari seorang kawan yang mengeluhkan tak ada sambel di nasi kotaknya. Lalu saya sodorkan cabai gorengan sebagai pengganti sambalnya.

Dia bilang, “Mbak, aku cari sambal, bukan cabai.”

Saya: “Halah sama aja. Yang penting pedas, kan?”

Dia: “Aku makan sambal itu bukan cari pedasnya, Mbak. Tapi, cari enaknya.”

Nah, jawaban dia ini berbeda dari testimoni kebanyakan orang tentang sambal. Orang umumnya mencari kenikmatan saat makan sambal, sedangkan teman saya mencari enak. Jadi, apa benar sambal itu enak? Ingin membuktikan ucapan teman saya itu, akhirnya saya mencobanya sendiri. Saya bereksperimen sendiri dengan membuat ayam geprek.

Dan, benar! Memang enak. Paduan antara cabai rawit, bawang putih, garam, dan sedikit micin (#eh), sungguh menggugah selera saya. Sejak saat itu, saya mulai keranjingan menggeprek segala jenis bahan makanan. Mulai dari ayam, ikan, tempe, telur, perkedel, dan bahkan tahu bulat. Lol

Tapi sebagai newbie dalam dunia persambelan, perut saya hanya dapat bertahan dengan cabai satu saja. Pernah nekat mencoba cabai dua, akhirnya mules datang melanda. :))

Kpop & Kdrama · Suka-Suka

Bos Otak dan Anak Buahnya

Song Song Couple
(gambar diambil dari KapanLagi.com)

Sudah pernah merasakan bagaimana mata, tangan, dan mulut berkolaborasi untuk membangkang dari otak? Saya pernah.

Begini ceritanya:

Suatu hari, saat baca naskah saya menemukan kalimat yang kurang lebih begini bunyinya: “Perusahaan memutasi beberapa karyawannya.” Tapi, entah kenapa terbaca jadi: “Perusahaan memutilasi beberapa karyawannya.” -_-.

Maka untuk beberapa detik, saya hanya diam terpaku pada kalimat itu. Otak merasakan sesuatu yang salah, akan tetapi mata mengirimkan informasi kepadanya berupa: “Perusahaan memutilasi beberapa karyawannya.” Ngeri amat.

Pada kasus di atas, dapat diketahui bahwa mata saya sedang mencoba mengkhianati otak dengan cara mengirimkan informasi yang keliru dari apa yang sebenarnya telah ditangkap olehnya. Nah, mungkin karena beberapa kali merasa dikhianati oleh kawan-kawannya, suatu hari otak saya balas dendam dengan cara membangkang dari sinyal yang dikirimkan kepadanya.

Begini ceritanya:

Waktu itu mata menangkap sebuah pemandangan yang nyesekable, yaitu berita tentang pernikahan oppa. Kemudian mata mengirim berkas laporan ke otak, dengan tembusan untuk hati saya (tempat di mana oppa berada). Hati meresponsnya dengan cepat. Yeah, nyesek gitulah. 🙁 Karena nyesek, ia mengirim sinyal ke paru-paru untuk menghela napas barang sejenak, dengan harapan sedikit udara itu bisa mengusir ganjalan yang membuatnya nyesek. Ia juga mengirim sinyal ke mulut untuk lupa mingkem a.k.a melongo, dan mata untuk lupa kedip. Meskipun akhirnya itu justru membuatnya makin nyesek.

Tak lupa, ia mengirim laporan ke otak, “Bos, saya galau. Saya cinta oppa sepenuh hati, tapi mereka bahkan tak tahu-menahu bahwa saya ada di dunia ini.”

Tapi, otak tak memedulikannya. Ia justru memerintahkan mulut yang tadinya melongo untuk bilang, “Kalau kalian bahagia, aku juga akan bahagia, Oppa.”

Demikianlah cerita tentang bos otak dan anak buahnya. Seluruh teori di atas hanyalah karangan saya saja, bukan berdasarkan penelitian secara medis. Haha! Entahlah apa sebab keeroran tersebut, tapi yang namanya khilaf itu memang milik manusia. 😀

Buku

[Book Review] Para Bajingan yang Menyenangkan

 

Para Bajingan yang Menyenangkan

Judul: Para Bajingan yang Menyenangkan

Penulis: Puthut EA

Penyunting: Prima S. Wardhani

Desainer sampul: R.E. Hartanto

Penerbit: Buku Mojok

Terbit: Desember 2016

Tebal: 178 halaman

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat penasaran sekali dengan buku ini gara-gara banyak diomongin sama teman-teman. Waktu saya tanya ke seorang teman, “Bagus ya bukunya, Mas?”, sesemasnya bilang, “Yang ini, kalau nggak biasa baca, takutnya malah nggak cocok.” Barangkali beliau melihat saya terlalu polos sehingga tidak cocok membaca buku yang katanya memuat banyak pisuhan ini. :)) Akhirnya, saya redam rasa penasaran saya.

Belakangan, saya berjodoh dengan buku ini ketika membeli paket valentine di Buku Mojok. Dua buku incaran saya, ada satu paket dengan buku ini. Karena sudah punya, ya masak nggak dibaca. :))

Tadinya cuma mau intip-intip saja dan siap berhenti sewaktu-waktu kalau bikin pusing. Eeh… ternyata malah keterusan sampai habis. Jadi, apa saya sudah tidak polos lagi? Bisa jadi. Haha Alih-alih nggak cocok, saya malah sangat menikmatinya. Buku ini sukses membuat saya cekikikan di sembarang tempat. Di kantor, di dalam bus, dan bahkan di warung mi ayam. Lol

Buku ini berisi kisah masa muda penulis dengan sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Jackpot Society. Mereka adalah tipe mahasiswa tanpa harapan dengan hobi yang semakin memperparah keadaan, mabuk dan judi. Tak habis saya dibuat terpingkal-pingkal membaca cerita koplak dari Bagor cs, meskipun sesekali harus mengernyitkan kening atau ngakak sambil istigfar (?) ketika ada cerita lucu yang diiringi pisuhan saru.

Beberapa cerita yang cukup membuat pipi dan perut saya kaku seperti adegan beli barang secara random di Ramai Mall saat menang judi, Pengki yang mabuk berat hingga asyik ngemil daun teh-tehan karena menyangkanya keripik singkong, Bagor kasih kartu ujian ke polisi waktu ditilang, hingga pengeksploitasian kehadiran Proton demi menyelamatkan diri dari pertanyaan maut dari keluarga besar di hari Lebaran.

Penggunaan bahasa Jawa yang ngoko sengoko-ngokonya membuat saya semakin menghayati cerita. Saya sampai download  beberapa video Basiyo setelah membaca buku ini. Haha Oh ya, tapi saya masih gagal paham kenapa setiap ada yang menantang Bagor berantem, orang itu jadi jiper ketika tahu Bagor orang Kotagede? Ada apa dengan Kotagede? Apa karena di sana ada makam Panembahan Senopati yang konon sangat sakti sampai keris pun tak mempan melukainya, sehingga orang sana juga terkenal sakti-sakti? Nggak dijelaskan di buku ini.

Orang waras pada umumnya barangkali akan menganggap para anggota Jackpot Society ini sebagai segerombolan pemuda dengan masa depan suram. Tapi, kok ya ndilalah mereka kini jadi orang sukses semua. Kecuali Almarhum Jadek yang telah meninggal dunia karena kecelakaan.

Maka pelajaran yang dapat diambil di sini adalah jangan terlalu underestimate kepada orang yang kita anggap buruk. Sebab, bisa jadi kelak mereka akan menjadi manusia yang lebih baik dari kita.

Buku · Suka-Suka

Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya

j5x9e1g2

Kemarin waktu ikut event menulis selama 30 hari berturut-turut di Instagram, ada yang posting tentang “Tabungan Buku”. Jadi, setiap kali dia selesai membaca satu buku, dia akan memasukkan uang ke dalam celengan. Semakin rajin membaca, maka akan semakin banyak pula tabungannya.

Nah, saya kan jadi tertarik pengin coba juga. Kayaknya seru. 😀 Tapi, karena bacaan saya random, jadi saya sudah bikin ketentuan jumlah nominal yang harus dimasukkan sebagai berikut.

  • Komik/novel grafis/buku yang isinya banyak gambarnya: 1.500
  • Buku komedi/personal literatur: 2.000
  • Novel biasa: 2.500
  • Nonfiksi: 3.000
  • Sastra: 3.500
  • Sejarah: 4.000
  • Buku yang tebalnya 500 halaman ke atas: 5.000 (kayaknya yang ini saya jarang, deh. 😀 )

Terus apa lagi, ya? Emm… sementara itu saja dulu. Lalu, uang tabungannya nanti mau buat apa? Ntar aja deh dipikirin. Wong sekarang juga lagi malas baca karena kebanyakan lemburan. Hahaha 😀

NB: Moon maap, gambar celengannya kekanakan banget. Soalnya kalau gambar Jungkook, nanti keremajaan. Halah!