Seni & Budaya

Pengalaman Mengikuti Diskusi Budaya di Bangsal Prabeya, Keraton, Yogyakarta

Hari Minggu pagi tanggal 5 Agustus 2018, warga Jalan Magangan Kulon tengah berbenah untuk menyambut HUT RI ke-73. Lagu-lagu kebangsaan diputar sementara para warga bergotong-royong memasang bendera, umbul-umbul, dan pernak-pernik HUT RI lainnya. Pada saat yang sama, di salah satu sudut Jalan Magangan Kulon, tepatnya sekitar 50 meter dari regol Kemagangan, berkumpul 50-an orang dari berbagai komunitas, media, dan masyarakat umum. Dengan wajah antusias, mereka siap menerima wawasan baru dalam diskusi budaya yang mengangkat tema “Gunungan, Simbol dan Maknanya”. Saya senang sekali bisa menjadi bagian dari masyarakat umum yang berkesempatan mengikuti diskusi tersebut.

Diskusi tersebut diselenggarakan di Bangsal Prabeya, konon merupakan sebuah bangunan yang digunakan sebagai dapur Keraton. Di belakang Bangsal Prabeya ini terdapat regol yang terhubung dengan Keraton Kilen, tempat tinggal HB X. Adapun diskusi budaya tersebut diselenggarakan oleh Malam Museum yang bekerja sama dengan Tepas Tandha Yekti. Mas Erwin, founder komunitas Malam Museum, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya diskusi budaya tersebut adalah dalam rangka mengajak anak-anak muda, khususnya para generasi millennial, agar lebih aware terhadap budaya bangsa sendiri. Dalam kesempatan itu pula, Mas Erwin mengimbau agar para peserta berkenan untuk menuliskan kembali apa yang telah didapat dari diskusi. Apa pun bentuknya. Baik berupa blog post, maupun sekadar postingan di medsos.

Diskusi Budaya 1
Mas Erwin sedang menjelaskan tujuan diselenggarakannya acara diskusi budaya kepada para peserta

Diskusi diawali dengan perkenalan singkat tentang Tepas Tandha Yekti oleh GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti) dan Mas Wiwit selaku pimpinan produksi yang bertanggung jawab mengurusi online present Keraton Yogyakarta. Jadi, sederhananya, Mas Wiwit itu tuh bertugas membuat konten untuk memperkenalkan Keraton Yogyakarta melalui media online, seperti website, Instagram, Twitter, dan bahkan Youtube.

Acara selanjutnya adalah pemutaran video terkait gunungan dan dilanjutkan ke pembahasan tema utama diskusi dengan narasumber KRT Kusumonegoro (penghageng Tepas Keprajuritan). Jujur saja, nih. Meskipun saya sering menonton upacara garebeg dan mengaku sebagai penggemar berat dari prajurit Keraton, ternyata pengetahuan saya tentang gunungan masih sedikit sekali. Dari diskusi ini, saya jadi tahu lebih banyak mengenai gunungan. Mulai dari sejarah, cara pembuatan, makna simbolik, hingga detail-detail terkecil yang terkait dengannya. Lebih lanjut tetang gunungan ini, nanti saya ceritakan di postingan yang lain saja, ya. Insya Allah.

Diskusi Budaya 3
Kiri-kanan: GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti), Mas Wiwit (Pimpro Tepas Tandha Yekti), Mas Erwin (founder komunitas Malam Museum)
Diskusi Budaya 4
KRT Kusumonegoro, penghageng Tepas Keprajuritan selaku pembicara 

Acara diskusi menjadi semakin semarak ketika dibuka sesi tanya jawab. Saya sempat menanyakan kepada pembicara tentang sikap masyarakat yang menjadikan bahan-bahan makanan yang mereka dapatkan dari merayah gunungan tersebut sebagai jimat. Ada yang meletakkannya di sawah dengan harapan panen jadi lancar. Pun ada yang menyimpannya di tempat-tempat tertentu sebagai tolak bala. Apakah memang seperti itu tujuan dari pembagian gunungan sebenarnya?

Menjawab pertanyaan saya tersebut, KRT Kusumonegoro mengatakan bahwa sikap masyarakat tersebut merupakan wujud dari betapa tingginya penghormatan mereka terhadap Keraton, sehingga menganggap segala sesuatu yang berasal dari dalam Keraton merupakan benda bertuah. Padahal, tujuan dari pembagian gunungan sendiri adalah untuk sedekah. Dengan demikian, sebenarnya bahan-bahan makanan dari gunungan itu tentu sebaiknya dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Dengan sedikit berseloroh, beliau berkata bahwa jika suatu hari nanti saya berhasil dapat sayuran hasil rayahan gunungan, lebih baik dimasak jadi jangan mbayung saja (sayur daun lembayung). Haha

Acara diskusi ditutup dengan foto bersama. Dan, saya berkesempatan berfoto bersama Gusti Hayu. :’)

Diskusi-Budaya-2-2380903516-1535777178199.jpg
Bersama GKR Hayu

Senang sekali bisa mengikuti acara yang sangat berfaedah ini, meskipun saya bukan termasuk bagian dari generasi milenial yang dimaksud oleh Mas Erwin. :)) Harapannya. acara-acara semacam ini dapat terus berlanjut dan mendapat semakin banyak peminat. Sebab seperti tujuan dari acara ini, acara-acara seperti ini bisa menjadi upaya untuk membuat generasi muda tetap memahami dan mencintai kebudayaan bangsa sendiri di tengah era globalisasi. Semoga.

Seni & Budaya

Prajurit Jogokaryo, Sang Penjaga Keamanan Kerajaan

4.Jagakarya
Gambar diambil dari web https://www.kratonjogja.id

Prajurit Jogokaryo dulu merupakan pasukan yang bertugas menjaga keamanan dan jalannya pemerintahan di kerajaan. Namanya berasal dari gabungan bahasa sansekerta ‘jogo’ yang berarti menjaga serta dari bahasa kawi ‘karyo’ yang berarti tugas atau pekerjaan. Dalam iring-iringan bregada prajurit Keraton Yogyakarta, Prajurit Jogokaryo berada pada urutan keempat setelah Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaeng, dan Prajurit Patangpuluh.

Dalam satu pasukan, Prajurit Jogokaryo terdiri atas 4 orang perwira, 8 orang bintara, 72 orang prajurit, serta 1 orang prajurit yang bertugas membawa dwaja atau panji-panji pasukan. Panji dari Prajurit Jogokaryo memiliki warna dasar merah dengan lingkaran berwarna hijau di bagian tengahnya, yang diberi nama papasan. Konon, nama tersebut memiliki makna “memapas” atau “menumpas”. Melambangkan Prajurit Jogokaryo sebagai pasukan yang gagah berani menumpas musuh-musuhnya.

Seragam yang dikenakan oleh Prajurit Jogokaryo berupa pakaian bermotif lurik dengan topi tempelangan (berbentuk kapal terbalik) berwarna hitam. Selain Jogokaryo, ada tiga pasukan lagi yang juga memakai pakaian bermotif lurik, yaitu Prajurit Patangpuluh, Prajurit Ketanggung, dan Prajurit Mantrijero. Prajurit Patangpuluh mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna merah, Prajurit Ketanggung mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna hitam, sementara Prajurit Matrijero dan Jogokaryo sama-sama memakai atasan dan celana lurik. Perbedaannya ada pada kaus kaki yang mereka kenakan. Prajurit Mantrijero memakai kaus kaki berwarna putih, sedangkan Prajurit Jogokaryo mengenakan kaus kaki berwarna hitam.

Gladi Resik Jogokaryo
Gambar dokumen pribadi

Prajurit Jogokaryo memiliki persenjataan berupa senapan, tombak, serta keris. Dalam iring-iringan kirab Prajurit Keraton, mereka juga dilengkapi dengan seperangkat alat musik, yaitu tambur, seruling, dan terompet. Ada dua macam iringan musik yang dimainkan oleh Prajurit Jogokaryo, yaitu Mars Tamengmaduro ketika mereka sedang berjalan cepat dan Mars Slanggunder ketika mereka sedang berjalan lambat dengan langkah yang sedikit digayakan.

Saya berkesempatan mengabadikan momen Prajurit Jogokaryo ini dalam gladi resik untuk acara Grebeg Syawal tahun Dal 1951, di Alun-alun Utara tanggal 10 Juni 2018 yang lalu. Suara terompet yang dibunyikan dengan irama khas sebagai penanda datangnya para Prajurit Jogokaryo, selalu berhasil membuat saya terkesima. Meskipun saat ini peran dari Prajurit Jogokaryo sudah sangat berbeda daripada dulu, akan tetapi pesona mereka serta kesembilan bregada lainnya tetap menarik perhatian masyarakat. Dan, saya termasuk di antaranya.

Seni & Budaya

Prajurit Lombok Abang, Sang Pengiring Gunungan dari Pakualaman

Bersama Prajurit Lombok Abang
Saya bersama Prajurit Lombok Abang

Banyak orang sering salah menggunakan nama Prajurit Lombok Abang untuk menyebut kesatuan prajurit yang ada pada urutan pertama dalam defile prajurit Keraton Yogyakarta. Nama pasukan tersebut yang sebenarnya adalah Prajurit Wirabraja. Terus terang, saya pun dulu mengira nama “Lombok Abang” merupakan julukan dari Prajurit Wirabraja yang diberikan oleh masyarakat. Sebab, seragam dan bentuk topi Prajurit Wirabraja memang menyerupai lombok abang atau cabai merah.

Belakangan saya tahu kalau Prajurit Lombok Abang itu ternyata ada sendiri, Guys. Jadi, Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Wirabraja itu merupakan dua kesatuan yang berbeda.

Lombok Abang merupakan kesatuan prajurit dari Puro Pakualaman. Selain Lombok Abang, ada satu pasukan lagi yang bernama Prajurit Plangkir. Prajurit Lombok Abang memiliki seragam dan atribut berwarna serba merah, sedangkan Prajurit Plangkir seragam dan atributnya berwarna serba hitam. Pada waktu acara garebeg, Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Plangkir bertugas mengiringi gunungan dari Keraton menuju ke Puro Pakualaman.

Foto saya bersama Prajurit Lombok Abang di atas diambil pada acara garebeg Syawal sekitar tahun 2014. Waktu itu pas nggak niat mau nonton garebeg. Hanya mendapat titah dari ibu buat mengondisikan ponakan-ponakan. Lalu, saya ajak saja mereka melipir ke Kemandungan Ler. 😀

 

 

Buku

[Review] Sebuah Kitab yang Tak Suci: Absurd dan Muram, Jangan Baca Buku Ini Ketika Otak Sedang Semrawut

Sebuah Kitab yang Tak Suci

Judul: Sebuah Kitab yang Tak Suci

Penulis: Puthut Ea

Penerbit: Mojok

Tebal: 87 hlm

Terbit: 2017

Buku kedua karya Puthut Ea yang saya baca setelah Seekor Bebek Mati di Pinggir Kali. Sama seperti ketika membaca buku sebelumnya, lagi-lagi saya seperti tersesat dalam labirin yang ruwet. Diksi-diksi yang cenderung absurd, cukup sulit dijangkau oleh otak saya yang pas-pasan ini.

Buku ini berisi 10 cerita pendek yang kesemuanya bernuansa muram. Iya, 10 cerpen, entah kenapa di back cover-nya tertulis ada 12 cerpen. Kesan muram tersebut juga saya temukan pada buku Seekor Bebek mati di Pinggir Kali. ­Barangkali memang itu merupakan ciri khas dari karya-karya Puthut Ea. Selain kisah-kisah yang muram, ciri khas lainnya adalah pilihan kata serta penggambaran suasana yang keren.

Pada cerpen pertama yang berjudul “Kematian Seorang Istri” contohnya, kita akan disuguhi kisah menyedihkan seorang laki-laki yang merawat jenazah istrinya layaknya masih hidup. Namun demikian, kisah tentang kematian, mayat, dan kesunyian tersebut dibuka dengan narasi yang cukup membuai seperti ini:

“Ia menulis sebuah puisi panjang di depan sekujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata seperti “mati”, “kematian”, dan “air mata” di dalam puisi itu. Dia bersama tubuh kaku istrinya, kamar sepi, dan sesuatu yang menyangkut di tenggorokan namun bukan kesedihan.” – hlm 1.

Pilihan kata dan penggambaran suasana yang indah juga tampak dalam cerpen berjudul “Penunggang Kuda yang Selalu Memburu Angin”. Saya agak kesulitan untuk memahami esensi dari cerpen yang satu ini, akan tetapi cukup terbuai dengan diksi-diksinya yg sangat estetis.

“Sebetulnya cerita ini tidak pernah berakhir. Hanya karena ketakutan kaum ibu yang tak bisa membelai rambut dan meniupkan doa-doa pada ubun-ubun anak mereka, serta para bapak yang tak bisa lagi membanggakan anaknya di tengah pesta kenduri atau warung kopi, maka cerita ini dibuang jauh-jauh menuju ke negeri dongeng.” – hlm. 65

Cerpen lain yang menjadi favorit saya adalah “Rahim Itu Berisi Cahaya”. Cerpen ini mengisahkan tentang tiga jenis makhluk ciptaan Tuhan yang memprotes ketetapan takdir, lalu bekerja sama untuk menciptakan takdir sendiri.

“Menurutnya, ada yang keliru tentang wakil Tuhan di dunia. Sayang di dalam kitab yang selalu diwariskan oleh keluarganya mengatakan bahwa Tuhan tahu apa yang tidak diketahui makhluknya. Bahkan juga setan yang dengan sangat keras dan kritis menanyakan eksistensinya. Sebab buat apa setan diciptakan jika hanya untuk mengganggu manusia.” — hlm. 40

Ada satu bagian yang menarik dari cerpen tersebut, yaitu ketika si tokoh wanita gundah dan bertanya-tanya tentang penciptaan manusia di dunia. Tentang apa alasan Tuhan menciptakan pria terlebih dahulu, baru kemudian wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Mengapa bukan wanita yang diciptakan terlebih dahulu kemudian pria diciptakan dari rontokan rambut wanita. Walah! 😀 Kalau mengingat penulisnya adalah seorang lulusan dari fakultas filsafat, nggak heran sih kalau kita jadi diajak untuk ikut berpikir filsafati begitu di dalam cerpennya.

Nah, pada akhirnya, saya sependapat dengan komentar salah satu pembaca buku ini di Goodreads, yaitu jangan membaca buku ini ketika suasana sedang semrawut. Kecuali kamu bisa memisahkan isi kepala di antara keramaian. 😀

Buku

[Review] Dua Belas Pasang Mata: Kisah Guru dan Murid di Jepang Zaman Perang

Sakae Tsuboi

Judul: Dua Belas Pasang mata

Penulis: Sakae Tsuboi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 248 hlm

Cetakan ke-3: 2016

Miss Oishi baru lulus dari sekolah keguruan. Untuk mengawali kariernya, ia kemudian ditugaskan mengajar di Desa Tanjung, sebuah desa nelayan yang sangat pelosok dan miskin. Semula, Miss Oishi merasa sangat berat menjalani tugasnya. Bukan hanya karena ia harus menempuh jarak 8 km sekali jalan dari tempat tinggalnya, melainkan juga karena dia harus menghadapi sikap penduduk desa yang kurang menyukainya karena dianggap terlalu modern.

Seiring berjalannya waktu dan banyaknya kejadian yang dialami, Miss Oishi kemudian justru memiliki keterikatan hati dengan Desa Tanjung. Khususnya, dengan para muridnya. Tak jarang air matanya berlinang saat memikirkan siswanya yang seharusnya tumbuh dengan gemilang justru harus menyerah atas cita-citanya. Bukan hanya karena kemiskinan, melainkan juga karena perang.

Diceritakan pada saat itu, Jepang sedang mengalami masa-masa sulit akibat perang. Semangat nasionalisme sedang gencar digalakkan di mana-mana. Terlebih lagi di sekolah. Orang-orang yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip nasionalisme, akan ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan “merah” atau komunis. Beberapa kali kepala sekolah mewanti-wanti Miss Oishi untuk berhati-hati ketika mengajar agar tidak dicurigai. Miss Oishi akhirnya memutuskan berhenti mengajar karena merasa sudah tidak sejalan dengan keadaan di sekolah.

Sementara itu, setiap anak laki-laki juga harus siap menjadi sukarelawan prajurit yang turun ke medan perang lalu gugur sebagai bunga bangsa. Dengan doktrin bahwa mereka akan gugur sebagai pahlawan, membuat anak-anak muda bersemangat merelakan diri maju berperang untuk kemudian mati secara terhormat. Di sisi lain, para Ibu bersedih hati karena harus rela kehilangan suami atau anak laki-laki mereka.

“Jaga diri kalian baik-baik. Jangan mati terhormat, pulanglah dengan selamat.” — Miss Oishi kepada Nita, Isokichi, dan Kicijhi (hlm. 189)

Membaca buku ini, sedikit mengingatkan saya kepada Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Ada guru laki-laki yang sudah tua, guru perempuan muda yang berangkat mengajar dengan sepeda, serta anak-anak desa yang semangat ke sekolah meski dalam keterbatasan. Beberapa kemiripan di antara dua novel tersebut, mau tak mau membuat saya mengaitkan keduanya. Belakangan, baru saya tahu bahwa ternyata Andrea Hirata memang terinspirasi dari novel ini saat menulis Laskar Pelangi.

Latar masa perang dunia tahun 1928 sebenarnya menarik. Sayangnya, saya kurang bisa membayangkan bagaimana situasinya. Seandainya latar tahun 1928 itu di Indonesia, barangkali saya ada sedikit gambaran. Namun karena latar novel ini Jepang di masa lalu, jadi saya rada nge-blank. Tapi mungkin sayanya aja yang kurang wawasan. :)) Hal lain yang membuat saya kurang bisa masuk ke dalam cerita adalah tokohnya yang sangat banyak dan masing-masing memiliki kisah sendiri, sehingga susah untuk dihafal.

Namun lebih dari itu, buku ini sangat heartwarming untuk dibaca. Di balik cerita tentang kemiskinan, perang, putus sekolah, prajurit gugur, dan hal-hal menyedihkan lainnya, kita juga akan menemukan kisah tentang kasih sayang, cinta, keluarga, dan persahabatan.

Buku

[Review] Geek In High Heels: Dari Jomblo Jatuh Tempo, Lalu Bimbang di Antara Dua Cinta

lpHmS82L

Judul: Geek in High Heels

Penulis: Octa NH

Penerbit: Stiletto Book

Tebal: 208 hlm.

Terbit: Desember 2013

Athaya adalah seorang web designer yang juga shoe fetishism. Athaya memiliki obsesi khusus terhadap sepatu. Dia bahkan dapat merasa lebih bersemangat bekerja ketika menaruh high heels di samping meja kerjanya. Athaya suka menyerasikan warna sepatu dan cat kukunya sehingga membuat penampilannya tampak modis. Namun di balik penampilannya yang selalu modis tersebut, ada hal yang sangat menggelisahkan hati Athaya, yaitu kehidupan cintanya. Pasalnya, di usianya yang sudah menginjak 27 tahun, Athaya belum juga menemukan jodoh yang tepat. Tekanan dari keluarga besar, terutama sang tante, akan status jomblonya membuat hari-hari Athaya jadi terasa berat.

Takdir kemudian mempertemukan Athaya dengan dua orang pria. Adalah Kelana, seorang penulis novel best seller yang secara tak sengaja ditemuinya di sebuah kafe waktu Athaya melarikan diri dari acara keluarga. Dan juga Ibra, mantan klien Athaya. Sejak mengenal Kelana dan Ibra, nasib kehidupan cinta Athaya jadi berubah drastis. Dari yang semula jomblo jatuh tempo, menjadi seorang gadis yang didekati oleh dua pria.

Suatu hari, Ibra melamar Athaya. Lamaran Ibra ini membuat Athaya jadi bimbang. Pasalnya, dia masih tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ibra adalah seorang pria yang dewasa dengan perkerjaan yang mapan. Tentu, tak ada alasan untuk Athaya menyia-nyiakannya. Apalagi, sudah jelas Ibra sangat mencintainya. Keseriusan Ibra dibuktikan dengan komitmennya untuk menikahi Athaya.

“… kadang ada yang lebih penting dijadikan pertimbangan selain cinta…”

“Apa?”

“Komitmen.”

— Hlm. 153

Sementara itu, Kelana adalah pria yang selalu bisa membuat Athaya tertawa. Bersama Kelana, Athaya merasa lebih bisa lepas dan spontan. Namun sayangnya, Kelana sering ilang-ilangan. Athaya jadi ragu bagaimana sebenarnya perasaan Kelana kepadanya.

Jadi, siapakah yang akan dipilih Athaya di antara keduanya?

Cerita cinta segitiga ala Athaya, Ibra, dan Kelana ini sebenarnya sudah cukup mainstream. Namun, narasi-narasi lucu dan segar ataupun celetukan dialog tokoh-tokohnya menjadikan novel ini tetap menarik untuk dibaca hingga akhir.

Pembicaraan yang selalu mengarah ke hal jodoh dan pernikahan membuat suasana (dan makanan enak apa pun) jadi tidak menarik buat Athaya. Bayangkan!  Ketika kamu sedang asyik makan shrimp salad dan tiba-tiba ditanyai, “Apa kamu tidak sebaiknya cepat-cepat menikah saja?” Aku yakin shrimp salad itu rasanya tiba-tiba berubah seperti sandal jepit. – Hlm. 11

Cowok seperti Kelana mungkin banyak disukai sama cewek-cewek ya. Tapi, kalau jadi Athaya, saya sepertinya akan lebih memilih Ibra. Karena yaa… Ibra itu:

“Single dan mapan. Terlalu menarik untuk dilewatkan.” – Hlm. 93 #eh

Nggak, ding. Karena Ibra itu dewasa dan berani berkomitmen. Tidak ilang-ilangan seperti Kelana. Tapi, Kelana juga romantis, sih. Kalau ada yang punya kenalan cowok kayak Kelana ini, tolong kabari saya yha. #lahh *digebuk massa*

Satu hal yang agak mengganjal buat saya adalah judul novel ini, “Geek In High Heels”. Sepengetahuan saya, geek itu sosok yang cupu, unik, dan rada-rada antisosial. Dekat dengan nerd. Tapi, Athaya yang disebut-sebut geek di novel ini kenapa justru sangat gaul dan stylish. Jauh dari geek sebagaimana bayangan saya.

Terakhir, izinkan saya mengutip salah satu kalimat yang menenteramkan hati para jomblowan dan jomblowati di dalam novel ini:

“Hidup memang berat. Apalagi buat para single kayak kita. Tapi buat yang dobel, beratnya juga dobel.” – Hlm 36.

 

Suka-Suka

Selamat Malam, Tuan

Selamat Malam, Tuan

Semoga malam ini kamu bisa tidur dengan nyenyak.

Dan ketika kau terbangun di pagi hari nanti, Tuhan telah menghapuskan segala sakit yang mendera ragamu, serta segala kegelisahan yang mengganggu jiwamu. Menggantinya dengan rezeki yang berkah. Juga, kebahagiaan yang melimpah.

Lalu ketika esok hari kamu kembali menjelma menjadi siluet di antara hitam dan biru pada langit pagi itu, akan kukatakan kepadamu: “Sebenarnya aku ingin sekali mengendap-endap masuk ke hatimu, tapi kenapa justru kamu yang selalu kurang ajar wara wiri di pikiranku?”

 

Suka-Suka

Lelaki yang Mengetuk Pintu di Tahun Baru

Selamat pagi… eh, udah siang, ding.

Saat membaca surat ini, mungkin kau sedang nguap-nguap ngantuk di depan monitor. Atau, sedang meregangkan punggungmu ke kiri dan kanan, hingga terdengar bunyi “kratak… kratak…”. Weww… sabar, yah. Sebentar lagi jam pulang kantor. Kamu bisa langsung touch down kasur, baca buku, atau mainan medsos.

Enng… melalui surat ini, aku cuma ingin mengingatkanmu pada perjanjian yang telah kita buat waktu itu. Kau bilang:

“Baiklah, hatiku. Kali ini hanya ada engkau dan aku. Juga Dia, yang menciptakan kita.”

Kala itu, aku masih belum sembuh benar. Masih ada sedikit nyeri di sana sini. Ya, karena kau tidak berhati-hati, aku jadi terluka lagi. Lebih parah.

“Kali ini aku akan menjagamu dengan baik. Tak akan membiarkanmu jatuh, dan akhirnya sakit lagi.”

Janjimu, dan aku setuju. Aku tulis surat ini, bukan karena aku tak percaya padamu. Aku hanya merasakan belakangan ini kau mulai gelisah. Sejak lelaki itu mengetuk pintu di tahun baru dua tahun yang lalu, kau jadi kepikiran, geregetan, dan penasaran. Lebih dari itu, kau juga jadi sering merasa rindu.

Yah, aku tahu, dia memang lebih hebat, jauh lebih hebat. Tapi, please yaa… kau sudah janji kepadaku. Kau berjanji akan berhati-hati menjagaku. Tak akan membiarkanku jatuh lagi kepada orang yang salah, yang pada akhirnya membuatku patah.

“Patah hati itu pedih, Jenderal!”

 

Salam,

Aku, isi hatimu

Suka-Suka

Review Suka-Suka Lagu Thousand Years – Christina Perri

Mendengar lagu ini, barangkali yang terbayang di benak kita adalah romantisme cinta segitiga antara Edward Cullen si vampire tampan dan Jacob Black si serigala ganteng yang mencintai seorang gadis yang sama, yaitu Bella Swan. Yap, lagu ini merupakan salah satu lagu yang menjadi soundtrack dari film Twilight. Terlepas dari romantisme yang dihadirkan dalam cerita filmnya, lagu ini juga memiliki potensi untuk membuat siapa pun yang mendengarnya jadi baper massal. Mendengarkan lagu ini, berasa ingin ngupas bawang bombai sambil bersandar di pundak Jacob. #ehh

Edward-jacob-bella-eclipse-movie-photos
Gambar diambil dari http://twilightsaga.wikia.com

Konon, para kritikus musik di Amerika sana juga sangat memuji lagu ini. Baik dari segi vokal Christina Perri yang sangat baik dalam membawakan lagu ini, juga dari lirik yang meskipun terkesan cengeng akan tetapi menimbulkan kesan yang mendalam. Suara Christina Perri yang merdu serta lirik lagu yang penuh haru adalah kekuatan dari lagu ini. Kedua aspek tersebut dapat menimbulkan suasana yang romantis sendu (halah, apaan tuh? 😀 ) dari lagu ini.

Mencermati liriknya, lagu ini bercerita tentang seseorang yang pada akhirnya menemukan tambatan hatinya setelah sekian lama menunggu. Setelah selama ini mencari, dia telah jatuh cinta dan ingin bersama dengan pujaan hatinya selama 1.000 tahun lamanya.

I have died everyday waiting for you / Darling don’t be afraid I have loved you / For a thousand years

Namun, betapapun cintanya, masih ada sedikit kegamangan di hatinya. Ada rasa takut untuk mendekat. Takut membuka hati lalu dia akan tersakiti. Barangkali dulu nih orang ceritanya pernah patah hati, jadi masih trauma buat jatuh cinta lagi. Atau, dia nggak berani mendekati orang yang ditaksirnya karena takut nggak direspons. Lol

How can I love when I’m afraid to fall

Pada akhirnya, dia beranikan diri juga untuk mendekat. Takut keburu gebetan ditikung orang. Wakakak

I will be brave / I will not let anything take away / What’s standing in front of me

Secara keseluruhan, lagu ini sangat puitis, romantis, dan baperable. Kurang baper gimana, di mana-mana yang namanya memendam perasaan suka itu rasanya pasti nyesek dong ya. *jangan curhat Mbak pliz*

Ya udah, gitu saja. Mohon maaf bila review ini sangat abal. Sekian dan terima pinangan Jacob Black.

 

 

Kuliner

Kicak and the Story Behind

Kalau ada yang saya tunggu di saat Ramadan, salah satunya adalah untuk mencicipi kudapan khas Yogyakarta ini. Namanya Kicak, makanan tradisional yang terbuat dari ketan, parutan kelapa muda, santan, gula, dan irisan nangka. Rasanya manis, gurih, dan lembut di lidah. Cocok sekali disantap waktu buka puasa. Ditambah aroma nangka yang hmm… sungguh menggugah selera.

Konon, kicak merupakan kudapan asli dari kampung Kauman Yogyakarta dan hanya muncul pada saat bulan Ramadhan. Di daerah lain, ada juga makanan tradisional dengan nama kicak. Namun, tidak sama dengan kicak versi Kauman ini. Di daerah Jepara misalnya, kicak terbuat dari singkong yang diberi taburan parutan kelapa dan gula merah. Dari bahannya, kicak versi Jepara ini barangkali memiliki citarasa mirip dengan gethuk. Berbeda dengan kicak versi Kauman yang berbahan dasar beras ketan.

Kicak
Kicak versi Kauman

Adalah Mbah Wono, orang pertama yang membuat kicak Kauman sejak tahun 80-an. Mbah Wono adalah warga asli kampung Kauman. Dulu, beliau membuat kicak untuk dijual sebagai menu harian di warung nasinya. Namun, ternyata kicak lebih digemari pada saat bulan Ramadhan dibandingkan pada hari-hari biasa. Sejak saat itulah, kicak akhirnya hanya dibuat setiap bulan Ramadhan saja.

Sayangnya, belum diketahui mengapa beliau memberi nama penganan ciptaannya ini kicak. Anak cucu Mbah Wono sendiri belum sempat menanyakan hal ini kepada beliau. Saat ini, Mbah Wono telah meninggal dunia. Namun, tradisi membuat kicak selama bulan Ramadan masih terus dilanjutkan oleh anak cucu beliau. Bahkan, banyak pedagang lain yang kemudian juga membuat kicak dengan modifikasi mereka sendiri. Kini, kicak dapat dijumpai setiap bulan puasa di Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman. Letaknya di sepanjang lorong kampung Kauman.

Masjid Kauman
Masjid Gede Kauman

Nah, mencicipi kue kicak ini menjadi salah satu momen khas Ramadan versi saya. Kalau sekarang, sih, penjual kicak mungkin sudah menjamur, di mana-mana ada. Tapi, rasanya belum mantep aja kalau belum mencicipi kicak yang asli dari Kauman. Jadi, kemarin sepulang kerja saya sempatkan mampir menyusuri lorong-lorong kampung Kauman untuk membeli penganan ini. Ada yang sudah pernah makan kicak juga? 🙂