Suka-Suka

Diari dan Jejak Labil Masa Lalu

Gara-gara belum move on dari cerita tentang anak teman kami kemarin (sila baca: Jemput Jodoh dengan Cara yang Ngawur atau Elegan?), saya dan dua kawan saya jadi bernostalgia ke masa lalu. Waktu kami masih di usia yang sama dengan anak itu, 14 tahun, kelas 2 SMP.

“Waktu masih SMP, naksir cowok aja aku masih malu-malu. Nggak kepikiran deh untuk bertindak terlalu berani seperti itu,” kata seorang kawan saya.

“Kalau aku, kelas 2 SMP baru belajar terbiasa mendapatkan ‘tamu’ setiap bulan. ‘Tamu’ yang setiap kali datang, membuat hidupku jadi lebih ribet selama semingguan. Belum lagi berurusan dengan nyeri yang kadang bikin nggak bisa ngapa-ngapain lagi selain tiduran,” kawan saya yang satu lagi menimpali.

Sementara saya, apa yang terjadi dengan hidup saya pada waktu kelas 2 SMP? Hmm… nggak ada yang istimewa, sebab sebagian besar hidup saya hanya saya habiskan untuk menulis diari, hahaha. Saya memang agak kuper dulu (sekarang mendingan, lol). Waktu remaja, saya adalah tipe anak rumahan yang setiap hari kerjaannya baca buku, nonton tivi, dan menulis diari. Diari saya dulu lumayan tebal, covernya bergambar Meteor Garden yang sedang hits pada masa itu. Tidak pakai gembok dan anak kunci berbentuk Barbie sebagaimana diari milik teman saya yang lain. Diari saya ini, blak-blakan saja. Namun, saat membuka lembar pertamanya, saya pastikan tidak akan ada yang berani usil membaca isinya.

Memang ada apa di sana?

Di lembar pertama, saya tuliskan dengan huruf kapital semua. Dengan tulisan tangan yang sangat jauh untuk dibilang bagus. Sebuah kalimat intimidasi berikut ini:

“READ THIS AND YOU’LL DIE!”

Haha kok, dulu saya begitu, ya? Moon maaf, pemirsa! Ternyata saya sudah alay sejak dini. :)) Padahal isinya nggak ada yang menarik sama sekali. Baiklah, saya beri sedikit bocoran, ya. Isinya adalah tentang hari-hari di sekolah; tentang saya yang susah mengikuti pelajaran Matematika karena mesti nyimak penjelasan guru di papan tulis, sementara mata saya rabun jauh dan saya nggak pede pakai kacamata ke sekolah jadi nggak bisa lihat tulisan di papan (Hadeh, susah dibikin sendiri); tentang pelajaran favorit saya; tentang teman yang selalu pinjam pulpen tapi nggak pernah dikembalikan lagi (dari dulu memang bakat teraniaya sepertinya -__-); dan banyak lagi. Termasuk tentang cowok pujaan hati saya. Hehehe

Siapa dia? Hemm… jangan pikir dia adalah kapten basket yang ganteng, anggota pencinta alam yang super keren, atau ketua mading yang cerdas dan kharismatik, ya. Sebab, ini bukan FTV. 😀 Jadi, cowok pujaan hati saya adalah… Zac Hanson! Wkwkwk Tahu Zac Hanson, kan? Yang generasi 90-an pasti kenal, deh. Zac Hanson ini drummer sekaligus anggota termuda dari boyband ngetop waktu itu, Hanson. Nih, saya kasih lihat fotonya.

zac
Zachary Walker Hanson
(Gambar diambil dari sini)

Cerita tentang Zac Hanson dan kedua kakaknya, Isaac dan Taylor Hanson, hampir mendominasi lembar-lembar diari saya.

hanson
Zac bersama kedua kakaknya, Taylor dan Isaac.
(gambar diambil dari sini)

Rasakan perbedaannya! 😀

hanson now
Gambar diambil dari sini

Belakangan saya kepo lagi tentang idola lama saya ini. Penasaran bagaimana kabar mereka sekarang. Lalu, saya menemukan fakta bahwa Hanson ternyata masih aktif sampai sekarang, meskipun tidak tur dunia seperti dulu. Zac makin ganteng nggak ketulungan setelah dewasa, aduuu… dan dia sudah menikah. Ya iyalah, memangnya saya, jomblo jatuh tempo. Fakta lain yang cukup mengejutkan, ternyata Zac sudah jadi bapak empat anak! 😀

Turut bahagia, tapi… ada sedihnya juga. Bukan karena patah hati, melainkan karena kapan saya jadi ibu juga? Hiyaahhh….

Time flies. Kalau lagi nostalgia begini, kadang ada perasaan terharu di hati saya. Rasanya waktu cepat sekali berlari dan mengalahkan saya berkali-kali.

Suka-Suka

Jemput Jodoh dengan Cara yang Ngawur atau Elegan?

balance-cookies-dessert-6747
Gambar diambil dari sini

Beberapa waktu yang lalu, kami di kantor dibuat terpana sekaligus tak percaya ketika teman-teman bagian produksi mengajak kami untuk nengok baby di rumahnya salah satu mbak produksi. Bukan baby­-nya yang bikin kami terpana sampai segitunya. Menengok baby ­yang unyu-unyu, tentu saja merupakan agenda yang ditunggu-tunggu. Yang membuat kami agak ternganga adalah ketika mendapat kabar bahwa bayi yang akan kami tengok itu adalah cucu dari si mbak produksi. Benar, cucunya.

Setahu kami, mbaknya itu usianya baru sekitar 35 tahunan. Masih terlalu muda untuk memiliki cucu. Atau, mbaknya dulu nikah muda. Mungkin saja. Kami masih positif thinking waktu itu. Sampai pada akhirnya, kami mendapat informasi bahwa bukan mbaknya yang nikah muda, melainkan anaknya yang menikah dini. Lebih tepatnya, menikah terlalu dini. Anak itu baru saja memasuki usia remaja. Seharusnya dia masih kelas 2 SMP. Namun, karena “terlalu berani” dalam bergaul, sehingga dia sudah harus (terpaksa) menikah dan menjadi orangtua sebelum waktunya. *speechless*

Mendengar kabar itu, rasanya ironis sekaligus miris. Ironis, sebab bahkan saya yang usianya dua kali lipat dari usia dia saja (ketahuan tua), belum ketemu jodoh. Hahaha Dan miris, sebab kasihan sama adeknya itu. Belum tuntas dia merasakan masa remaja, sudah dibebani tanggung jawab sedemikian rupa. Namun, setiap perbuatan sudah pasti ada konsekuensinya. Dan kehilangan masa muda yang menyenangkan adalah konsekuensi yang harus dia terima akibat perbuatannya yang terlalu berani ini. Duh, Dek… 🙁

Lalu, saya jadi teringat pada nasihat berikut ini: “Tuhan telah mempersiapkan jodoh kita masih-masing. Mau cepat atau lambat, pasti akan ketemu dengan orang yang itu juga. Dengan orang yang sudah dipersiapkan oleh-Nya. Tinggal kita mau mengambilnya dengan cara yang grasa-grusu atau cara yang elegan.”

Baiklah kalau begitu, Tuhan. Di mana pun jodoh saya saat ini berada, mohon sampaikan kepadanya. Saya di sini masih menunggunya dengan elegan. Ea~

Jalan-Jalan

Candi Kadisoka: Peninggalan Abad Ke-8 yang Terbengkalai

Candi Kadisoka
Candi Kadisoka (sumber: https://www.instagram.com/dtinta/)

Beberapa waktu yang lalu, kawan saya mengajak untuk mengunjungi Candi Kadisoka. Terus terang, sebelumnya saya tidak tahu-menahu tentang candi tersebut. Bahkan, saya baru tahu kalau ada candi yang bernama Kadisoka. Karena saya sangat suka mengunjungi candi-candi sambil kepo sejarah tentangnya, saya pun mengikuti ajakan kawan tersebut.

Candi ini terletak di Jalan Raya Kadisoka, Kadisoko, Purwomartani, Kec. Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281. Medan yang ditempuh untuk mencapai candi ini cukup merepotkan juga ternyata, haha. Kami harus mblusuk melalui jalan yang sempit dan penuh genangan air, sebab di kiri dan kanan areal candi ini merupakan tempat pemancingan umum.

Setelah berjibaku dengan jalan setapak yang sempit dan becek, kami berhasil mencapai lokasi Candi Kadisoka. Sayang, kami hanya bisa menikmatinya dari luar, sebab pintu pagarnya terkunci dan kami tidak berhasil menemukan petugas yang berjaga di sana. Memang sepertinya candi ini belum dibuka untuk umum dan menjadi objek wisata seperti beberapa candi lainnya yang ada di sekitar wilayah candi ini.

Reaksi pertama saya saat kami tiba di lokasi candi ini adalah … “Mana candinya??” 😀 Kami tidak menemukan bangunan candi sebagaimana umumnya. Yang kami lihat hanyalah sebagian kecil dari batu candi yang masih tertutup tanah di bagian atasnya.

Candi Kadisoka diperkirakan merupakan candi Hindu yang dibangun pada abad ke-8. Konon katanya candi ini memang belum selesai dibangun, kemudian tertutup oleh lahar dingin dari Sungai Kuning. Candi Kadisoka ditemukan kembali pada tahun 2000 oleh seseorang penambang pasir. Kemudian dilakukan penggalian oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala pada tahun 2001.

Selain berhasil menemukan sebagian pondasi candi, pada awal penggalian juga ditemukan beberapa benda peninggalan. Seperti, plakat berukiran bunga teratai yang terbuat dari emas serta beberapa batu mulia.

Sayang penggalian candi ini masih terhenti. Sebagian besar dari Candi Kadisoka ini masih tertimbun tanah. Harapannya, sih, bisa terus dilanjutkan. Kemudian Candi Kadisoka menjadi salah satu pilihan objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan seperti candi-candi lainnya yang lebih dahulu terkenal. Semoga.

Suka-Suka

Lelaki yang Mengetuk Pintu di Tahun Baru

 

Tahun baru kala itu, baru genap lima hari usianya. Aku masih berjuang mengusir kunang-kunang yang beterbangan di depan mataku akibat migrain. Sisa-sisa pertempuran bersama bu dokter gigi di hari sebelumnya, membuatku tidak enak badan. Bekas suntikan anestesi itu, membuat gusiku terasa sangat nyeri dan ngilu. Aku lapar, tapi susah makan. Hiks! :’(

Sebagai penghiburan, aku bermaksud membuka beranda rumahku. Bertemu dan menyapa teman-teman di sana barangkali akan membuatku lupa rasa sakit yang sedang kuderita. Lagipula, sudah beberapa hari aku tidak menengok beranda rumahku sejak hari yang heroik itu.

Tiba-tiba, kau muncul di sana. Di beranda rumahku. “Hai, bolehkah aku berteman denganmu?” kau bilang.

Ah, bukan… bukan begitu kronologinya. Kau hanya muncul begitu saja. Menawarkan pertemanan. Tanpa sapa. Pun salam pembuka.

Hari-hari setelahnya, kita resmi berteman. Namun, kau tetap diam. Tak ada obrolan. Apalagi canda. Tetangga baru ini memang berbeda. Mungkin kamu adalah alien.

Iseng, aku main ke rumahmu. Sekadar ingin “say hi” kepada tetangga baru. Namun, yang ada aku justru seperti tenggelam dalam tumpukan buku. Tersandung di sana sini, lalu tersesat. Seperti masuk ke dunia lain, kemudian melambaikan tangan dan aku menyerah!

Kulihat dari beranda rumahku, kau memang sering wara wiri membawa setumpuk buku-buku. Well, sepertinya kamu bukan alien, melainkan kutu buku. Atau, mungkin kamu kutu buku keturunan alien. Bisa jadi.

Namun, siapa pun kamu. Alien ataupun kutu, sepertinya kamu adalah makhluk (?) yang baik.

Jadi, love to be your friend. 🙂

Udah, gitu aja.

Suka-Suka

Dapat Kunjungan Belajar dari Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

1
Saranghaeyo

Late post alias telat posting. 😀

Sekitar awal bulan Mei yang lalu, di kantor dapat kunjungan belajar dari teman-teman mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Mereka adalah mahasiswa jurusan Bahasa Arab. Dalam jurusan tersebut terdapat mata kuliah Penerjemahan dan Editorial (begitu kalau nggak salah ingat). Nah, kunjungan belajar ini masuk ke dalam mata kuliah tersebut.

Acara dimulai dengan sesi perkenalan dan ramah tamah. Setelah itu, mereka diperkenankan untuk melihat-lihat sekaligus tanya-tanya langsung ke tim kami. Nggak nyangka, antusiasmenya luar biasa. Dari teman-teman yang berkerumun ke meja saya saja, banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan. Mulai dari penentuan tema buku tiap bulan, mekanisme pencarian naskah, proses editing, proses artistik, proses distribusi, dan banyak lagi.

Saya jadi ingat zaman masih mahasiswa dulu. Sejak dulu, saya sudah bercita-cita pengin kerja di penerbit. Sama seperti mereka, saat itu juga banyak sekali pertanyaan tentang penerbitan dan dunia perbukuan yang memenuhi benak saya. Jadi, senang sekali sekarang bisa berbagi dengan teman-teman ini.

Di pertengahan obrolan, ada yang tanya begini, “Apa kendala terberat yang pernah dihadapi selama bekerja sebagai editor, Mbak?” Hmm… apa ya? Kalau yang berat, sih, paling ketika ketemu naskah yang berantakan tapi penulisnya nggak kooperatif, ketika udah dikejar deadline tapi otak tiba-tiba ngadat, atau kalau dapat komplain dari pembaca hiks, dan sebagainya. Tapi, karena udah cinta sama pekerjaan ini, jadi yang berat-berat itu nggak begitu terasa.

Yah, setidaknya nggak lebih berat kalau dibandingkan dengan upaya move on dari mantan gebetan. Halah… wes to, Mbak!

2

Btw, masih pantas nggak saya foto bareng adek-adek mahasiswi yang imut-imut ini? 😀

 

Suka-Suka

Letter to My Self: “Selamat Ulang Tahun, Mpok!”

WhatsApp Image 2019-05-02 at 9.09.55 AM

To: Me

From: Also Me

Dulu, kamu pernah bertanya, “Apa yang paling menggelisahkan tentang masa depan? Jodoh yang tak kunjung kelihatan? Atau, hati yang selalu salah sasaran?”

Waktu itu, aku tak bisa menjawabnya. Sebab, aku pun merasakan kegelisahan yang sama.

Belakangan, kau tanya lagi kepadaku, “Dari sekian kesempatan, belum ada yang membuat kita berkenan. Apa menurutmu kita enggak sok kecantikan?”

Lagi, aku tak dapat menjawabnya. Namun, kalau boleh aku mengutip analogi dari seorang kawan, saat ini kita ibarat menunggu bus kota. Masing-masing bus yang datang, tentu akan bermacam-macam kondisinya. Kita bisa memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan bus yang lebih dulu merapat sehingga sampai tujuan lebih cepat, meskipun kondisi bus mungkin akan membuat kita tidak nyaman dan bahkan salah jurusan. Atau, kita sabar menunggu hingga datang bus dengan kualitas yang kita mau, sesuai dengan jalur yang ingin kita tuju, dan membuat kita nyaman sepanjang perjalanan. Dengan risiko, mungkin kita akan sedikit terlambat sampai ke tujuan.

Mengingat perjalanan yang akan kita tempuh ini sangat panjang, sepanjang sisa kehidupan, maka sebaiknya kita memilih kedaraan yang memang mebuat kita nyaman dan sesuai jalur yang kita inginkan. Tak mengapa terlambat, asal tetap selamat. Sebab seperti katamu dulu, cukup masa lalu saja yang penuh dengan drama-drama kehidupan. Masa depan jangan.

Selamat ulang tahun, Mpok. Terima kasih telah mau banyak belajar dan berbenah. Terima kasih sudah jadi orang yang selow dan santai dalam menghadapi masalah. Terus terang, dibanding beberapa tahun yang lalu, aku lebih suka dirimu yang sekarang ini. Semoga segera terwujud apa yang menjadi doa-doa kita selama ini.

Aamiin.

03 Ramadhan 11440 H / 08 Mei 2019 M

Suka-Suka

Terima Kasih Telah Singgah

Terima kasih telah bersedia singgah, Tuan.

Maaf aku tak sempat menyeduhkan secangkir kopi serta setangkup roti berlapis selai stroberi, sebab engkau telah buru-buru pergi. Lebih tepatnya, aku yang mengizinkanmu singgah sejenak di dalam dada ini dan aku pula yang kemudian melepasmu pergi lagi.

Aku harus melepasmu pergi.

Bukan karena aku membencimu, Tuan. Justru, kau yang paling istimewa sejauh ini. Hanya, aku terlalu lelah untuk terjebak dalam gelisah, sebagaimana yang sudah-sudah. Sudah kutinggalkan semua hal yang melelahkan itu. Tahun ini, aku hanya ingin merawat diriku sendiri. Lahir dan batin.

Namun, satu hal yang perlu kau tahu, Tuan. Darimu, aku sadar bahwa orang hebat adalah justru dia yang tak pernah menunjukkan dirinya sendiri hebat. Kehebatannya akan tampak sendiri dari kerendahan hati. Bagiku, kamu hebat, tapi rendah hati. Kamu pintar, banyak yang mengakui itu. Pun aku, melihatmu seperti itu. Kamu pendiam, tapi juga lucu. Kamu puitis, tapi tidak sembarangan mengumbar kata-kata romantis. Lebih dari itu, kamu adalah pria yang sopan.

Kamu memang tak sempurna, tapi kamu sempurna memenuhi kriteria yang kupintakan kepada-Nya. Belakangan baru kusadari fakta itu. Fakta yang membuatku tidak ingin melihat yang lain secara objektif. Aku hanya melihatmu saja. Tentu saja, sikapku itu kurang benar. Sebab seperti katamu, setiap orang punya takaran kebahagiaan dan kesempurnaan masing-masing. Jadi jangan dibanding-bandingkan.

Jodohmu kelak tentulah wanita dengan kualitas yang sama sepertimu. Dan, itu bukan aku.

Membahas masalah jodoh, topik inilah yang membuat kita bertemu dalam situasi yang membuatku gelisah begini. Saat kamu mengetuk pintu di awal tahun baru beberapa tahun yang lalu, betapa senangnya aku menyambutmu. Tentu, aku belum berpikiran apa-apa waktu itu. Yang aku bayangkan hanyalah, aku dapat melakukan hal-hal yang kulakukan dulu. Waktu kamu mengajariku macam-macam, meskipun kita belum pernah dipertemukan. Maka pada kali pertama kita bertemu, aku membayangkan dapat melakukan semua hal itu. Belajar banyak darimu, berbincang panjang denganmu, ngobrol lucu-lucuan, pun aku bisa meminjam buku-bukumu. Jadi, marilah sekarang kita lakukan hal-hal yang seperti itu saja. Berteman biasa, seperti yang kau minta.

Terima kasih. Senang berteman denganmu. 🙂

 

PS: Kalau kau tak mengizinkanku untuk mengendap-endap masuk ke hatimu, berhentilah wara wiri di pikiranku. Aku mau cepat move on, woii!!

Suka-Suka

Bertemu Dilan KW di Bus Transjogja Jalur 1B, Akankah Ada Pertemuan Ketiga?

Saya selalu berpendapat bahwa yang disebut sebagai jodoh itu bukan semata belahan jiwa yang menunggu untuk berlayar bersama sambil saling bergenggaman tangan, melainkan siapa saja yang dipertemukan oleh Tuhan di sepanjang perjalanan kehidupan. Baik mereka yang singgah untuk kita sebut sebagai teman, maupun mereka yang hanya sepintas lalu hadir namun tetap meninggalkan kenangan.

Sepanjang tahun 2018 kemarin, alhamdulillah saya “berjodoh” dengan banyak teman baru. Termasuk salah satu orang unik yang saya temui awal tahun 2018 lalu. Saya menyebutnya sebagai Dilan KW, sebab kelakuannya mirip Dilan. Iya, Dilan yang itu. Tahu, kan. Dilan pacar Milea di novelnya Pidi Baiq yang famous itu. Dilan yang jago nyepik dan bikin cewek-cewek baper. Pertemuan kami hanya sepintas saja. Tidak berlama-lama. Namun, tetap meninggalkan cerita.

Siang itu, kira-kira awal bulan April atau akhir Maret 2018. Lupa tepatnya. Tidak ada yang istimewa. Saya hanya menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi ngejar bus, sore nunggu bus. Gitu aja terus sampai Jungkook tahu-tahu sudah gede, lol. Namun, hari Sabtu siang itu, takdir memberi sedikit kejutan agar hidup saya tidak terlalu lempeng. Waktu itu, saya sedang otw pulang kerja naik Transjogja jalur 1B. Lalu, naiklah cowok ini dan duduk di sebelah saya. Mulanya saya cuek aja (yakali, nggak kenal mau SKSD), sebelum akhirnya dia menyapa saya terlebih dahulu. Lalu, kami ngobrol. Kebetulan kami sama-sama turun di Taman Pintar. Dia mau ke Taman Budaya Yogyakarta.

Di tengah obrolan, tiba-tiba dia mengeluarkan buku kumpulan puisi karyanya. Wah, penyair ternyata. Lalu, dia cerita kalau sedang ada masalah dengan penerbit tempat bukunya itu diterbitkan. Katanya, pihak penerbit keliru mencantumkan ISBN dari buku lain pada cover bukunya. Dia lalu inisiatif menghubungi pihak Perpusnas untuk mengganti input di database mereka. Minta ditukar antara data ISBN untuk bukunya dengan data ISBN buku lain yang keliru itu. Menurutnya, hal itu lebih efisien daripada harus mencetak lagi cover dengan ISBN yang benar, lalu dijilid ulang. Lagipula, kata dia, kalau dibongkar terus dipasang lagi jilidan bukunya, nanti jadi jelek. Namun, inisiatifnya itu malah justru membuat CEO penerbit marah dan ngomel ke dia.

Allahumma… yakaliii….

Mendengar ceritanya, saya malah jadi pengin ikutan ngomelin dia. Saya bilang, masalah itu sebenarnya mudah diatasi kalau dia pasrahkan saja ke penerbit. Kan, kesalahan ada di pihak penerbit. Jadi, biar penerbit yang mengatasinya. Inisiatif dia menghubungi Perpusnas malah bikin masalah jadi melebar ke mana-mana. Wajar aja kalau CEO penerbitnya jadi marah. Nah, mendengar saya nyerocos begitu, dia jadi bertanya-tanya. Kok, saya bisa tahu banyak masalah ginian? Ya udah, saya bilang kalau saya kerja di penerbit juga. Hal yang kemudian saya sesali karena dia jadi makin penasaran. Tanya-tanya saya kerja di penerbit mana, bagian apa, dan sebagainya.

Jelang turun dari bus, tiba-tiba dia menyodorkan handphone-nya sambil bilang, “Minta nomor wa, ya.” Duh, saya nggak terbiasa kasih nomor handphone ke orang asing secara random begitu. Jadi, saya tanya balik, “Buat apa?” Dia bilang buat jualan buku. Sempat tebersit di benak saya buat kasih nomor asal aja, bukan nomor yang beneran. Tapi, dia bilang, “Jangan dipalsuin, lho.” OMG! Bisa baca pikiran apa gimana ini orang?

Setelah turun dari bus, saya langsung buru-buru pamit dan ngacir menjauh dari dia sambil berdoa semoga saya tidak perlu berurusan yang aneh-aneh dengannya. Saya kira, Allah mengabulkan doa saya itu. Karena beberapa waktu setelahnya, hidup saya kembali lempeng seperti biasa. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, tiga minggu, aman. Sampai suatu hari, kami ketemu lagi!! Tanpa sengaja. Di Transjogja jalur yang sama.

Dia tanya kabar, saya jawab baik. Terus kami ngobrol lagi. Dia tanya, “Eh, ini tanggal 25, ya?” Saya jawab, iya. Lalu, tiba-tiba dia mengulurkan tangan sambil bilang “Selamat, ya.”

Hah?

Selamat apaan? Saya tanya. Jawabnya, selamat hari Kartini. -__-

Mau nggak mau saya jadi ngakak. Terus iseng saya bilang, “Kenapa cuma aku? Ini ibunya juga Kartini,” kata saya sambil menunjuk ibu-ibu di sebelah. Ibunya cuma mesem-mesem saja. And you know what? Dia terus menyalami semua ibu-ibu dan mbak-mbak yang ada di bus sambil mengucapkan selamat hari Kartini. Saya sampai malu.

Untuk mengalihkan topik, saya bilang “Kok, bisa kebetulan ketemu lagi, ya?” Dia malah balik tanya, “Setiap hari naik bus ini, ya?” Saya jawab, iya. Lalu katanya, “Kalau begitu tunggu sampai pertemuan ketiga.” Emang kenapa dengan pertemuan ketiga? Tanya saya. Kata dia, “Aku percaya nggak ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk pertemuan kita.” Astagaaa!! -____-

Waktu itu saya ketawa, sih. Tapi, kan, malu juga dilihat sama orang-orang satu bus. Saya tahu, dia pasti mau ke TBY lagi. Jadi, saya turun di halte depan Pakualaman karena nggak mau turun bareng dia di Taman Pintar. Sudah terlanjur malu sama orang-orang di dalam bus. Dia tanya, “Loh, kan turunnya di Taman Pintar?” Akhirnya saya terpaksa bohong mau mampir ke suatu tempat dulu. Huft!

Nah, waktu saya mau turun, ada ibu-ibu juga mau turun. Terus cowok aneh itu manggil si ibu. Dia bilang gini, “Bu, titip, ya.” Allahumma… mana ibunya pakai jawab “Nggih, Mas.” segala.

Sungguh, kalau saya baca adegan seperti ini di novel romansa, pasti saya akan sibuk ber-uwuwu ria. Tapi ketika mengalaminya sendiri, ternyata yang ada saya malah merasa insecure. Malu banget sama orang-orang sumpeh. Sepanjang perjalanan pakai Gojek ke rumah, saya berdoa semoga nggak perlu berurusan dengan orang yang aneh-aneh lagi.

Demikian kisah pertemuan saya dengan Dilan KW. Meski dramatis begini, ini kisah nyata, Gaess. Saya juga nggak nyangka bakal ketemu orang sejenis itu. Yang jelas, semenjak pertemuan kedua itu, saya langsung ganti jalur bus dan sering naik Gojek dari kantor. Takut ada pertemuan ketiga, haha. Oh ya, dia juga sempat whatsapp. Tapi setiap kali dia whatsapp, saya selalu balas slow respons dan ala kadarnya. Wkwk ya gimana, serem eh. 😀

Tahun 2019 saya sudah balik naik jalur 1B lagi. Tapi, Dilan KW sudah nggak ada. Hahaha

Seni & Budaya

Menjenguk Keraton Yogyakarta di Masa Lalu dengan ‘Mesin Waktu’

Sejak kecil, saya sangat menyukai dongeng. Saya tinggal di perkampungan di dalam benteng Keraton Yogyakarta. Orang Yogya sering menyebut daerah tempat tinggal saya dengan nama jeron beteng. Di daerah jeron beteng, banyak sastra lisan seperti dongeng, asal-usul, mitos, tembang, dan sebagainya, yang tersebar di masyarakat setempat. Saya bersyukur masih sempat mendengar beberapa sastra lisan tersebut sebelum keberadaannya mulai punah seiring dengan berkembangnya zaman. Salah satu yang tak pernah saya lupa adalah tembang Mijil berikut ini.

Ing Mataram betengira inggil. Ngubengi kedhaton. Plengkung lima mung papat mengane. Jagang jero toyanira wening. Ringin pacak suji. Gayam turut lurung.

Terjemahan:

Di Mataram bentengnya tinggi. Mengelilingi keraton. Lima pintu gerbang, hanya empat yang terbuka. Parit yang dalam dan airnya jernih. Pohon beringin di-pacak suji. Pohon gayam sepanjang jalan.

Kali pertama saya mendengar tembang tersebut dari almarhum simbah putri. Beliau menyenandungkannya untuk saya lengkap dengan cerita tentang kerajaan dengan lima pintu gerbang, tetapi satu pintunya ditutup. Kata simbah, salah satu pintu gerbang tersebut ditutup karena di sana banyak maling.

Tahun 2008, saya mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian terkait sastra-sastra lisan yang ada di wilayah jeron beteng dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Sayang karena keterbatasan ilmu, saya dan tim tidak berhasil lolos hingga ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Namun demikian, saya cukup senang karena dari kegiatan tersebut, saya jadi tahu bahwa cerita simbah tentang kerajaan dengan lima pintu gerbang itu bukanlah kisah fiksi. Lalu, “maling” yang dimaksud oleh simbah bukanlah pencuri biasa, melainkan tentara Inggris.

Saat penelitian, kami melakukan interview ke beberapa penduduk setempat serta membaca banyak referensi. Dari situlah, saya tahu bahwa semua yang digambarkan dalam lirik tembang Mijil nyata adanya. Seperti mesin waktu, tembang Mijil tersebut seolah mengajak kita untuk menjenguk keraton Yogyakarta tempo dulu. Kalau begitu, mari kita nyalakan mesin waktunya dan kembali ke masa lalu.

/ Ing Mataram, betengira inggil / Ngubengi kedhaton /

Pada tahun 1755, Pangeran Mangkubumi atau Hamengkubuwana I membangun ibukota kerajaan Yogyakarta di atas tanah sepanjang 4 km. Wilayah ini yang kelak disebut jeron beteng. Di tengah-tengah wilayah tersebut, berdiri istana Pangeran Mangkubumi yang kemudian kita kenal sebagai Keraton Yogyakarta.

Tahun 1785-1787, Adipati Anom, sang putra mahkota yang kelak bergelar Hamengkubuwana II, memprakarsai pembangunan benteng baluwarti mengelilingi wilayah di sekitar keraton. Lengkap dengan bastion untuk mengintai musuh di setiap sudutnya.

Konon, pembangunan benteng baluwarti ini sebagai bentuk protes atas pembangunan benteng milik kompeni yang terletak tak jauh dari keraton. Kini dikenal dengan nama Benteng Vredeburg.

IMG_20171227_070442
Benteng baluwarti beserta bastion yang masih tersisa

/ Plengkung lima mung papat mengane /

Terdapat lima pintu gerbang yang berbentuk melengkung (plengkung) untuk akses keluar masuk wilayah yang dilingkupi baluwarti. Kelima pintu gerbang tersebut bernama: Plengkung Nirbaya, terletak di dekat alun-alun selatan, menghadap selatan; Plengkung Jagabaya, terletak di sebelah barat Tamansari, menghadap barat; Plengkung Jagasura, terletak di sebelah barat alun-alun utara, menghadap utara; Plengkung Tarunasura, terletak di sebelah timur alun-alun utara, menghadap utara; dan Plengkung Madyasura, terletak di benteng timur, menghadap timur.

Tahun 1812, terdapat kabar mengenai penyerangan tentara Inggris dari arah timur keraton. Maka, Plengkung Madyasura pun dengan tergesa ditutup secara permanen. Namun, ternyata para tentara Inggris menyerang dari arah utara dengan menjebol benteng bagian utara. Sejarah mencatatnya sebagai peristiwa “Geger Sepei”. Bekas penjebolan benteng oleh tentara Inggris ini masih dapat kita lihat di sebelah timur Jalan Ibu Ruswo Yogyakarta.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 16.24.08
Bekas penjebolan benteng dalam peristiwa Geger Sepei

Sejak ditutup secara permanen, Plengkung Madyasura kemudian dijuluki dengan nama plengkung buntet oleh masyarakat setempat. Plengkung buntet berarti “plengkung yang tertutup”. Keberadaan si plengkung buntet Madyasura saat ini semakin tergeser oleh padatnya pemukiman penduduk. Jika ingin melihatnya, kita bisa pergi ke Jalan Mantrigawen, Yogyakarta. Di sela-sela atap rumah penduduk, kita akan menemukan sebuah bangunan menyerupai gapura. Nah, itulah dia Madyasura.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 16.24.40
Sisa Plengkung Madyasura

Saat ini, hanya tinggal dua pintu gerbang saja yang masih dapat kita temukan dalam kondisi lumayan utuh, yaitu Plengkung Nirbaya (kini dikenal dengan nama Plengkung Gading) dan Plengkung Tarunasura (kini dikenal dengan nama Plengkung Wijilan). Adapun Plengkung Jagabaya dan Plengkung Jagasura saat ini hanya tampak berupa gapura biasa. Tidak lagi berbentuk plengkung (melengkung).

Dari kiri ke kanan: Plengkung Nirbaya – Plengkung Tarunasura – Plengkung Jagasura – Plengkung Jagabaya

/ Jagang jero toyanira wening /

Di bagian luar tembok baluwarti, terdapat jagang (parit buatan) dengan kedalaman 3 meter sebagai fungsinya untuk pertahanan dan keamanan. Parit-parit ini saat ini sudah menjadi pemukiman penduduk. Banyak rumah penduduk yang dibangun di atas bekas jagang. Sisa-sisa jagang masih dapat dilihat di daerah pojok benteng sebelah timur.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.02 (1)
Sisa jagang di bawah bastion pojok beteng timur

/ Ringin pacak suji / Gayam turut lurung /

Pohon beringin dan pohon gayam merupakan dua dari beberapa tanaman khas yang ada di wilayah keraton. Konon, ada 9 jenis pohon yang masing-masing memiliki filosofi sendiri. Pohon beringin yang berdaun rimbun serta batang yang kokoh melambangkan pengayoman. Pengayoman dari raja kepada rakyatnya, juga dari Tuhan kepada manusia. Di lingkungan keraton, beberapa pohon beringin mendapat perlakuan khusus, yaitu diberi pacak suji. Pacak suji adalah pagar yang menghias sekeliling pohon, yang terbuat dari suji/sujen (bilah bambu dengan ujung runcing). Saat ini, pohon beringin yang dihias pagar di sekelilingnya dapat kita temukan di Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan Yogyakarta. Namun, bukan pagar yang terbuat dari suji/sujen lagi, melainkan pagar dari tembok. Oleh masyarakat, pohon beringin ini dijuluki dengan nama Ringin Kurung.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.02
Ringin kurung di alun-alu selatan

Pohon gayam melambangkan ketenteraman. Hal ini diambil dari nama gayam yang dimaknai dengan “ayem”. Selain itu, secara ekologi pohon gayam (Inocarpus Fagifor) memiliki akar yang dapat menyimpan banyak cadangan air, sehingga dapat menjaga pasokan mata air. Air merupakan sumber kehidupan. Jika ketersediaan mata air terjaga, maka akan tercipta rasa ayem atau tenteram dalam kehidupan manusia. Beberapa pohon gayam masih dapat kita temui di dekat gedung Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-Alun Selatan, Yogyakarta.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.03
Pohon gayam di dekat gedung Sasana Hinggil Dwi Abad

Dalam satu tembang saja, termuat cerita sejarah yang sedemikian rupa. Kini, setiap kali mengingat tembang tersebut, benak saya akan mengembara membayangkan keadaan sekitar berabad silam. Atau, bernostalgia ke masa kecil. Saat simbah putri melagukan tembang tersebut di tengah aktivitas beliau meracik bubur sumsum. Bait-bait syair Mijil yang mengudara, berpadu dengan suara mendidih bubur beras yang menciptakan gelembung-gelembung kecil di permukaannya, dan di antara aroma saus gula jawa yang menguar ke mana-mana.

*) gambar merupakan dokumen pribadi hasil penelusuran Desember 2017

**) tulisan ini termuat dalam buku antologi Stories of Your Life, Penerbit Laksana

 

Membaca & Menulis

Hasil Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya

Awal tahun lalu saya pernah gaya-gayaan bikin “tabungan buku”. Niatnya sih untuk menyemangati diri sendiri supaya makin rajin membaca. Jadi, setiap kali saya selesai membaca sebuah buku, saya akan memasukkan uang ke dalam celengan. Nominal uang yang masuk ke celengan disesuaikan dengan jenis bukunya. Nggak tanggung-tanggung, loh, saya bahkan sudah membuat rincian jenis buku dan nominalnya sebagai berikut.

  • Komik/novel grafis/buku yang isinya banyak gambarnya: 1.500
  • Buku komedi/personal literatur/kumcer: 2.000
  • Novel: 2.500
  • Nonfiksi: 3.000
  • Novel Sastra: 3.500
  • Sejarah: 4.000
  • Buku yang tebalnya 500 halaman ke atas: 5.000

Kemudian tekad membuat “tabungan buku” ini pun sudah saya tuliskan pula di blog ini (Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya). Realisasinya, selama setahun kemarin saya agak terseok-seok baca bukunya.

e1e78b60-10fd-4954-8441-939a116c2616

Alhamdulillah, sepanjang tahun 2018 saya banyak mendapat kesempatan menulis. Namun, akibatnya membacanya jadi keteteran. Target membaca di Goodreads yang nggak sampai 50 buku itu pun tidak bisa saya penuhi. Kurang 4 buku astagaaaa…. padahal, yang saya baca juga kebanyakan komik dan novel grafis. Payah sekali.

Tapi, bagaimanapun tabungan bukunya tetap jalan dong, ya. Jadi, sekarang saatnya untuk pecah celengan. Yeay! Oke, langsung saja.

Selama tahun 2018, saya banyak baca komik. Ada sekitar 13 komik (13 x 1.500 = 19.500). Selain komik, ada pula satu novel grafis dan dua buku yang saya masukkan ke dalam kategori pertama karena memuat banyak gambar dan sedikit teks (3 x 1.500 = 4.500). Ada dua buku antologi, yang saya masukkan ke kategori kumcer (2 x 2.000 = 4.000). Dua buku komedi (3 x 2.000 = 6.000). Ada pula satu buku kumpulan tulisan refleksi dan satu buku yang isinya kumpulan tulisan pendek-pendek semacam curahan hati, haha. Keduanya saya masukkan ke kategori nomor dua (2 x 2.000 = 4.000). Ada 6 buah novel populer (6 x 2.500 = 15.000) serta 3 novel sastra (3 x 3.500 = 10.500). Dua buku nonfiksi (2 x 3.000 = 6.000) dan terakhir, dua buah buku sejarah (2 x 4.000 = 8.000).

Total ada 36 buku yang saya baca dengan total tabungannya adalah … duh, sik mana kalkulator? Hahaha

19.500 + 4.500 + 4.000 + 6.000 + 4.000 + 15.000 + 10.500 + 6.000 + 8.000 = 77.500

Tujuh ribu lima ratus rupiah, Gaes! Dalam setahun. Astaga! Alhamdulillah, tetap harus disyukuri. Lumayan bisa buat bekal berburu buku obralan. Hahaha Dan tabungan buku ini akan dilanjutkan lagi setahun ke depan. Semoga ada peningkatan. Mangats!