Suka-Suka

Review Suka-Suka Lagu Thousand Years – Christina Perri

Mendengar lagu ini, barangkali yang terbayang di benak kita adalah romantisme cinta segitiga antara Edward Cullen si vampire tampan dan Jacob Black si serigala ganteng yang mencintai seorang gadis yang sama, yaitu Bella Swan. Yap, lagu ini merupakan salah satu lagu yang menjadi soundtrack dari film Twilight. Terlepas dari romantisme yang dihadirkan dalam cerita filmnya, lagu ini juga memiliki potensi untuk membuat siapa pun yang mendengarnya jadi baper massal. Mendengarkan lagu ini, berasa ingin ngupas bawang bombai sambil bersandar di pundak Jacob. #ehh

Edward-jacob-bella-eclipse-movie-photos
Gambar diambil dari http://twilightsaga.wikia.com

Konon, para kritikus musik di Amerika sana juga sangat memuji lagu ini. Baik dari segi vokal Christina Perri yang sangat baik dalam membawakan lagu ini, juga dari lirik yang meskipun terkesan cengeng akan tetapi menimbulkan kesan yang mendalam. Suara Christina Perri yang merdu serta lirik lagu yang penuh haru adalah kekuatan dari lagu ini. Kedua aspek tersebut dapat menimbulkan suasana yang romantis sendu (halah, apaan tuh? 😀 ) dari lagu ini.

Mencermati liriknya, lagu ini bercerita tentang seseorang yang pada akhirnya menemukan tambatan hatinya setelah sekian lama menunggu. Setelah selama ini mencari, dia telah jatuh cinta dan ingin bersama dengan pujaan hatinya selama 1.000 tahun lamanya.

I have died everyday waiting for you / Darling don’t be afraid I have loved you / For a thousand years

Namun, betapapun cintanya, masih ada sedikit kegamangan di hatinya. Ada rasa takut untuk mendekat. Takut membuka hati lalu dia akan tersakiti. Barangkali dulu nih orang ceritanya pernah patah hati, jadi masih trauma buat jatuh cinta lagi. Atau, dia nggak berani mendekati orang yang ditaksirnya karena takut nggak direspons. Lol

How can I love when I’m afraid to fall

Pada akhirnya, dia beranikan diri juga untuk mendekat. Takut keburu gebetan ditikung orang. Wakakak

I will be brave / I will not let anything take away / What’s standing in front of me

Secara keseluruhan, lagu ini sangat puitis, romantis, dan baperable. Kurang baper gimana, di mana-mana yang namanya memendam perasaan suka itu rasanya pasti nyesek dong ya. *jangan curhat Mbak pliz* Ya udah, gitu saja. Mohon maaf bila review ini sangat abal. Sekian dan terima pinangan Jacob Black.

 

 

Kuliner

Kicak and the Story Behind

Kalau ada yang saya tunggu di saat Ramadan, salah satunya adalah untuk mencicipi kudapan khas Yogyakarta ini. Namanya Kicak, makanan tradisional yang terbuat dari ketan, parutan kelapa muda, santan, gula, dan irisan nangka. Rasanya manis, gurih, dan lembut di lidah. Cocok sekali disantap waktu buka puasa. Ditambah aroma nangka yang hmm… sungguh menggugah selera.

Konon, kicak merupakan kudapan asli dari kampung Kauman Yogyakarta dan hanya muncul pada saat bulan Ramadhan. Di daerah lain, ada juga makanan tradisional dengan nama kicak. Namun, tidak sama dengan kicak versi Kauman ini. Di daerah Jepara misalnya, kicak terbuat dari singkong yang diberi taburan parutan kelapa dan gula merah. Dari bahannya, kicak versi Jepara ini barangkali memiliki citarasa mirip dengan gethuk. Berbeda dengan kicak versi Kauman yang berbahan dasar beras ketan.

Kicak
Kicak versi Kauman

Adalah Mbah Wono, orang pertama yang membuat kicak Kauman sejak tahun 80-an. Mbah Wono adalah warga asli kampung Kauman. Dulu, beliau membuat kicak untuk dijual sebagai menu harian di warung nasinya. Namun, ternyata kicak lebih digemari pada saat bulan Ramadhan dibandingkan pada hari-hari biasa. Sejak saat itulah, kicak akhirnya hanya dibuat setiap bulan Ramadhan saja.

Sayangnya, belum diketahui mengapa beliau memberi nama penganan ciptaannya ini kicak. Anak cucu Mbah Wono sendiri belum sempat menanyakan hal ini kepada beliau. Saat ini, Mbah Wono telah meninggal dunia. Namun, tradisi membuat kicak selama bulan Ramadan masih terus dilanjutkan oleh anak cucu beliau. Bahkan, banyak pedagang lain yang kemudian juga membuat kicak dengan modifikasi mereka sendiri. Kini, kicak dapat dijumpai setiap bulan puasa di Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman. Letaknya di sepanjang lorong kampung Kauman.

Masjid Kauman
Masjid Gede Kauman

Nah, mencicipi kue kicak ini menjadi salah satu momen khas Ramadan versi saya. Kalau sekarang, sih, penjual kicak mungkin sudah menjamur, di mana-mana ada. Tapi, rasanya belum mantep aja kalau belum mencicipi kicak yang asli dari Kauman. Jadi, kemarin sepulang kerja saya sempatkan mampir menyusuri lorong-lorong kampung Kauman untuk membeli penganan ini. Ada yang sudah pernah makan kicak juga? 🙂

Jalan-Jalan

Candi Kalasan dan Candi Sari: Dulu Bercahaya di Tengah Hutan Rimba

Beberapa waktu yang lalu, saya berencana untuk mengunjungi Candi Kalasan sendirian. Waktu saya sampaikan niat itu kepada seorang kawan, reaksinya: “Hah? Sendirian? Mau ngapain??”

Jadi, tujuan saya sebenarnya adalah sekadar ingin melepas penat. Saat sedang dalam kondisi suntuk atau bad mood, saya biasanya selalu ingin menyendiri. Jalan-jalan sendiri, kulineran sendiri, atau naik bus dengan rute yang lebih jauh sekadar untuk menenangkan diri. Yang belum pernah saya coba adalah jalan-jalan ke candi sendiri. :))

Sebenarnya saya juga bukan orang yang pemberani, sih. Saya pilih Candi Kalasan karena lokasinya cukup dekat dari kantor. Candi ini terletak di tepi jalan raya Jogja-Solo. Sekitar 13 km dari Candi Prambanan. Tepatnya di Dusun Kalibening, Tirtamani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Sudah dua kali saya berkunjung ke candi ini (tapi sama teman, haha). Dan, saya sudah sangat terkesan sejak awal kunjungan. Candi Kalasan memang bukan kompleks candi yang luas seperti Prambanan. Hanya ada satu bangunan candi yang besar, tinggi menjulang. Namun, satu candi itu di mata saya terlihat eksotis sekaligus menawan.

Candi Kalasan
Candi Kalasan

Konon, candi ini dibangun pada abad ke-8 dan merupakan candi peninggalan Buddha. Candi Kalasan yang memiliki nama lain Candi Kalibening ini dibangun oleh Rakai Panangkaran sebagai sarana pemujaan Dewi Tara sekaligus biara untuk para pendeta. Keterangan ini tertulis dalam sebuah prasasti yang ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan situs Candi Kalasan. Menurut para ahli, prasasti yang tertulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf pranagari tersebut diperkirakan ditulis pada tahun Saka 700 atau 778 Masehi.

Salah satu keistimewaan dari Candi Kalasan adalah adanya Bajralepa yang melapisi dinding batu dari candi ini. Bajralepa merupakan semacam lapisan yang bisa membuat batu-batu candi ini jadi tampak mengkilap kalau terkena cahaya (emm, kayak plitur gitu kali ya kalau zaman sekarang? *ngawur, abaikan*). Lapisan bajralepa dapat memantulkan cahaya sehingga dinding-dinding batu candi akan tampak gemerlapan. Selain fungsi estetis tersebut, lapisan yang konon memiliki sifat kedap air ini juga berfungsi untuk melindungi batu-batuan candi dari paparan sinar matahari dan guyuran hujan.

Selain Candi Kalasan, terdapat candi lain yang juga dilapisi bajralepa, yaitu Candi Sari. Lokasi Candi Sari tak jauh dari Candi Kalasan, kira-kira sekitar 0,5 km ke arah timur dari Candi Kalasan. Tepatnya di Dusun Bendan, Tirtamartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Saya juga pernah mengunjungi candi ini sebanyak dua kali. Meskipun kali kedua saya kurang beruntung, karena sudah terlalu sore jadi sudah tutup.

Candi Sari
Candi Sari

Candi Sari memiliki nama lain Candi Bendan. Barangkali merujuk kepada nama dusun di mana candi tersebut berada, Dusun Bendan. Dalam prasasti yang ditemukan di lokasi penemuan Candi Kalasan, tertulis juga keterangan mengenai Candi Sari. Jadi, candi ini ternyata masih ada hubungannya dengan Candi Kalasan. Sama-sama dibangun oleh Rakai Panangkaran pada abad ke-8. Diperkirakan Candi Sari dibangun sebagai biara atau asrama bagi para pendeta Buddha. Dan, sama halnya dengan Candi Kalasan, sisa-sisa lapisan bajralepa katanya juga masih dapat dilihat di Candi Sari.

Sebagai orang yang awam dalam hal ini, saya kurang tahu juga persisnya yang mana itu lapisan bajralepanya. 😀 Namun dalam pengamatan awam saya, dinding batu Candi Kalasan dan Candi Sari tampak berwarna keputih-putihan jika dibandingkan dengan candi-candi yang lain. Mo’on maap ya… kalau keliru. Yang jelas, membaca sejarah dari Candi Kalasan dan Candi Sari ini, saya jadi membayangkan, berabad silam, kedua candi ini berdiri menjulang di tengah hutan rimba (katanya sih, dulu daerah Kalasan adalah alas/hutan), lalu berkilau keemasan oleh pantulan sinar bulan. Wuaaa… pasti indah sekali yaaa… 😀

Kembali kepada rencana saya untuk menenangkan diri di Candi Kalasan sebagaimana yang saya kemukakan di awal tulisan, pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengurungkannya. Sebab kata kawan saya, “Kalau kamu lagi galau, mending dengerin sholawatan. Bukannya malah ngelamun di tempat peninggalan purbakala. Bisa-bisa nanti disamperin jin. Apalagi sendirian.”

Oke, saya menyerah!

Seni & Budaya

Asyiknya Nonton Gladhen Prajurit di Tengah Gerimis

Nonton kirab prajurit kraton merupakan agenda yang saya gemari sejak kecil. Waktu kecil, saya akan senang sekali ketika almarhum simbah wedok (mbah putri) mengajak saya ke alun-alun utara yang jaraknya tak jauh dari rumah untuk menyaksikan acara garebeg. Apa yang saya tunggu di acara itu? Tentu saja iring-iringan prajurit kraton yang mengantarkan gunungan keluar dari dalam kraton untuk selanjutnya nanti akan dirayah atau dibagi-bagikan ke masyarakat. Iring-iringan bregada prajurit kraton yang berbaris dengan diiringi istrumen perpaduan genderang, seruling, dan terompet yang dibunyikan dengan irama lambat sungguh membuat saya terpesona.

Bahkan, saya tak segan  duduk bersila dengan nyaman di atas rumput pinggir trotoar. Tak peduli jika sesekali harus menggaruk kaki yang gatal akibat digigit semut api yang bersarang pada akar rumput di dalam tanah. Hal ini tentu sudah tak bisa lagi saya lakukan saat ini. Selain karena rumput yang ada di alun-alun tidak serimbun dulu sehingga tidak memungkinkan untuk bersila di sana, juga karena sudah tua oiii… jadi nggak bisa sebebas waktu masih kecil. Hahaha

Namun demikian, bertambahnya usia tidak menyurutkan kegemaran saya untuk nonton kirab prajurit Kraton. Dulu, selain di acara Garebegnya, saya biasanya juga menyaksikan arak-arakan para prajurit itu ketika mereka latihan dan lewat di depan rumah. 😀 Namun, belakangan pihak pariwisata Kraton membuat agenda sendiri untuk latihan prajurit ini sehingga bisa disaksikan oleh masyarakat luas. Agenda tersebut diberi tajuk “Gladhen Prajurit”. Nah, pada postingan ini saya mau cerita pengalaman saya waktu nonton gladhen prajurit dalam rangka acara Garebeg Maulud tahun Dal 1951. Late post banget sih emang. 😀

GP 1
Hujan-hujan stand by di alun-alun utara 😀

Dalam setahun, setidaknya ada tiga kali acara garebeg, yaitu pada waktu Idulfitri, Iduladha, dan Maulud Nabi Muhammad saw. Dari masing-masing acara garebeg tersebut, pasti ada gladhen-nya. Saya kurang tahu juga berapa kali persisnya mereka latihan. Tapi, acara “Gladhen Prajurit” selalu bisa ditonton setidaknya dalam tiga kali garebeg itu. Dalam acara gladhen ini, para prajurit belum memakai kostum dan atribut lengkap. Mereka memakai “pakaian dinas”-nya para abdi dalem. Kalau tidak salah, pakaian ini disebut dengan nama “baju peranakan”, yaitu satu set baju atasan lurik, bawahan jarik, serta ikat kepala blangkon. Tak ketinggalan keris yang terselip di pinggang.

Terkait baju peranakan, ternyata setiap detail dari baju ini memiliki makna tersendiri, loh. Dari laman Facebook Kraton Jogja dijelaskan bahwa dalam baju peranakan terdapat 6 buah kancing di bagian leher yang melambangkan rukun iman dan 5 buah kancing di ujung lengan menyimbolkan rukun Islam. Adapun nama “peranakan” itu sendiri memiliki makna “satu keturunan”. Nama ini bukan tanpa maksud. Kata “peranakan” dipilih untuk menjadi nama pakaian dinas para abdi dalem sebagai wujud harapan agar para abdi dalem satu sama lain saling menjaga hubungan harmonis layaknya saudara kandung atau saudara satu keturunan.

GP 2
Para prajurit  keraton Yogyakarta dengan pakaian peranakan

Kembali ke acara Gladhen Prajurit, waktu itu saya sempat pesimis tidak jadi nonton acara yang sudah saya tunggu-tunggu ini, sebab tiba-tiba hujan turun deras sekali. Sampai pada jam di mana acara seharusnya dimulai, hujan tidak kunjung reda. Malah semakin deras. Saya pikir, “Ah, jangan-jangan gladhen-nya juga nggak jadi, nih. Hujan begini.” Tapi, tak lama kemudian, dari rumah terdengar sayup-sayup suara terompet dan genderang. Walah… sudah mulai yak! Akhirnya, saya dan kawan nekat pakai payung menuju ke lokasi.

Awalnya kami menyaksikan arak-arakan mereka dari Kemandhungan Ler atau Keben. Di tengah hujan deras, para prajurit itu tetap semangat menabuh genderang, meniup terompet, dan berbaris masuk ke dalam salah satu areal di Keraton, yang kemudian nanti akan keluar kembali melalui gerbang Pagelaran Keraton. Salut, deh. Para prajurit itu yang sebagian juga terdiri dari bapak-bapak sepuh, tetap semangat meski hujan sedang lebat.

GP 3
Tetap semangat meski sedang hujan

Nah, karena kami nggak boleh ikut masuk ke dalam areal Kraton, maka dari Kemandungan Ler kami kemudian langsung ngacir ke alun-alun utara dan menunggu para prajurit keluar dari pintu gerbang Pagelaran Kraton. Di sana, ternyata banyak juga orang-orang yang sudah berdiri di tepi trotoar untuk menyaksikan Gladhen Prajurit. Meski waktu itu hujan belum sepenuhnya reda. Masih ada gerimis tipis-tipis.

Nah, karena pada waktu itu bertepatan dengan tahun Dal, maka rangkaian acara garebeg pada waktu itu pun berbeda dari tahun-tahun biasanya. Konon tahun Dal ini hanya terjadi selama 8 tahun sekali, demikian kata salah satu bapak prajuritnya waktu saya tanya. Jadi, kalau biasanya gunungan akan langsung dirayah oleh masyarakat sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan, pada tahun tahun Dal ini ada satu gunungan lagi yang harus para prajurit bawa pulang kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para kerabat Keraton. Gunungan tersebut dinamakan gunungan Bromo. Sebelumnya, gunungan Bromo akan ikut diarak bersama gunungan yang lain. Dua gunungan lanang kemudian dibawa ke Kepatihan dan Puro Pakualaman, lima gunungan dibagikan kepada masyarakat di pelataran Masjid Gedhe Kauman, sedangkan gunungan Bromo dibawa kembali ke Kraton. Pada waktu gladhen, gunungannya belum dibawa tentu saja.

GP 4
Menunggu gunungan Bromo dibacakan doa di pelataran Masjid Gedhe Kauman

Bagi saya sendiri, sebenarnya lebih menyukai nonton Gladhen Prajurit daripada waktu acara garebeg-nya. Meskipun belum ada gunungan serta para prajuritnya belum memakai atribut dan kostum lengkap, tapi saya lebih bisa menikmati rangkaian acaranya. Sebab, pada waktu garebeg biasanya akan crowded sekali. Alih-alih menikmati acara, saya harus berjibaku senggol-senggolan dengan penonton lainnya. Pernah suatu kali, saya hampir berakhir di tangan paramedis karena dehidrasi waktu nonton garebeg. Untung nggak pingsan. Kan, malu kalau sampai pingsan. 😀

Suka-Suka

Ketika Smartphone Membuat Hidup Terasa Bising

9568276_201803180938090520
gambar diambil dari https://www.kaskus.co.id

Belakangan ini, saya sering merasa ingin kembali ke zaman di mana belum ada smartphone. Zaman di mana kita harus sabar menunggu beberapa hari untuk bertegur sapa dengan kawan yang terpisahkan jarak. Menunggu ketika Pak Pos datang membawakan sepucuk surat balasan dari kawan lama. Bukannya saya tidak mau menerima kemajuan zaman, saya hanya merasa kesepian di tengah keramaian. Merasa hampa di tengah gempuran chat whatsapp yang seolah tidak ada habisnya. Ramai, sih. Tapi, hati ini rasanya kosong karena terlalu banyak haha hihi. Intinya, saya hanya ingin menikmati melipir sejenak dari hiruk pikuk yang mungkin ditimbulkan dari handphone pintar ini.

Bayangkan saja, misal dari satu handphone terinstal beberapa aplikasi sosial media, seperti facebook, twitter, instagram, dan sebagainya, yang kesemuanya dalam posisi log in. Maka, harus siap mendapatkan notifikasi masuk kapan saja.

Itu baru akun medsos, belum aplikasi messenger seperti whatsapp, BBM, Line, dan lain sebagainya. Dan, di masing-maing platform messenger kita join ke dalam beberapa grup. Grup ini kadang juga bukan kemauan kita untuk gabung, hanya dimasukkan oleh teman yang tidak kuasa ditolak demi kesopanan. Nah, bayangkan ketika setiap grup sedang ramai. Handphone tidak akan berhenti bergetar dan berbunyi “tang-ting-tang-ting”. Pusyiinngg…

Saya pribadi hanya pakai satu aplikasi messenger, yaitu Whatsapp. Lalu, beberapa grup juga sudah saya silent (hehe… piss!). Namun demikian, tetap saja perhatian teralih saat tahu ada banyak chat yang belum terbaca. Jadi penasaran untuk membacanya satu per satu. Akhirnya, buang-buang waktu. Saya sering diam-diam leave grup demi kesehatan jiwa. Tapi sialnya, setiap kali leave saya selalu tertangkap basah. :))

Gabung dengan grup-grup seperti itu sebenarnya seru, sih. Bisa punya teman ngobrol seru-seruan saat sedang merasa kesepian. Pun bisa saling berbagi informasi. Namun, ada kalanya saya ingin menyepi dan tidak berinteraksi dengan banyak orang untuk sementara waktu. Nah, inti dari tulisan ini sebenarnya adalah saya cuma mau curhat saja, sih. Daripada jadi penyakit kalau cuma dipendam, jadi sebaiknya diceritakan. Dan, saya nggak tahu mesti cerita ke siapa yang paling tepat. Makanya, saya nyampah di sini saja. Hahaha mo’on maap ya pemirsa…. 😀

Suka-Suka

Review Ala-Ala Lagu Mirasantika Rhoma Irama: Say No To Drugs

Singkat saja, karena saya sedang lemes, haha. Postingan ini terilhami dari kawan saya, Mpok Nanik, yang begitu menggemari Bang Haji Rhoma Irama. 😀

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan lagu milik Bang Haji Rhoma Irama ini. Liriknya yang cukup menggelitik karena adanya repetisi dari kata “tak”, tak jarang akan membuat kita senyum-senyum sendiri setiap kali mendengarnya. Namun demikian, di samping liriknya yang lucu itu, lagu ini sebenarnya mengandung nasihat yang cukup penting.

Dalam lagu Mirasantika, terdapat pesan agar kita senantiasa “Say No to Drugs!”. Sebab, minuman keras dan narkotika itu dapat membawa kita kepada banyak hal-hal buruk, yang pada akhirnya tidak hanya akan merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.

Gara-gara kamu orang bisa menjadi gila

Gara-gara kamu orang bisa putus sekolah

Gara-gara kamu orang bisa menjadi edan

Gara-gara kamu orang kehilangan masa depan

Tentu kita semua sudah tahu belakangan ini banyak berita-berita menyeramkan yang kesemua itu diakibatkan oleh miras dan obat-obatan terlarang. Sebagaimana kata Bang Haji dalam lagunya, minuman keras dan obat-obatan terlarang itu dapat menghancurkan hidup dan merusakkan jiwa. Maka, jangan sekali-kali mendekati benda-benda haram itu. Say no to drugs! Katakan, “Tak-tak-tak-tak-tak ku tak sudi tak sudi tak!

Kuliner

Belajar Masak: Kroket Salah Gaul

Kroket Salah Gaul

Setelah berjibaku dengan deadline satu dan yang lainnya sejak bulan Januari kemarin, entah kenapa otak ini jadi macet buat nulis. Blog jadi lumutan, deh. Nah, sebagai pemanasan, sekarang saya mau posting cerita main masak-masakan aja, deh. Oh ya, ini pernah saya posting sebelumnya di Instagram. Iya, ini repost. Hahaha *ketawa evil*

Jadi, ini saya bikin apa? Emm… sebut saja ini dengan nama “Kroket Salah Gaul. Lol! Niat awal memang bikin kroket, tapi pas eksekusi saya ngebentuknya kegedean. Jadi macem perkedel, haha. Selain itu, saya juga kelupaan salah satu bumbu yang paling penting, yaitu gula pasir. Gula pasir itu penting untuk menentukan jati diri masakan ini, sebab yang membedakan antara kroket dengan perkedel adalah cita rasanya. Kalau perkedel gurih, kroket agak manis (macem yang masak *abaikan*). Ya wes kalau gitu, sebut saja ini “Kroket Salah Gaul (Blasteran Perkedel)”. :)).

Resepnya sebagai berikut:

Bahan untuk kentangnya:

  • Kentang
  • Telur
  • Bawang putih
  • Garam
  • Merica
  • Tepung panir

Bahan untuk isiannya:

  • Wortel
  • Daun bawang
  • Keju (biasanya pakai daging ayam cincang, tapi ini dadakan jadi seadanya 😀)
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Garam
  • Merica

Cara membuat:

  • Adonan kentangnya:

Haluskan bumbu: bawang putih, merica, dan garam. Goreng kentang sampai kira-kira lunak dan mudah untuk dihaluskan. Tumbuk kentang, lalu campurkan bumbu yang sudah dihaluskan, tambahkan telur (sisakan sedikit untuk tahap akhir). Uleni hingga tercampur rata.

  • Isiannya:

Potong-potong wortel, daun bawang, bawang merah, bawang putih. Tumis semua bahan. Tambahkan garam dan merica. Terakhir, setelah diangkat dari kompor, tambahkan keju parut.

  • Tahap akhir:

Ambil sedikit adonan kentang, bentuk menjadi pipih, lalu beri isiannya. Kemudian bulatkan lagi hingga isian tertutup kentang. Setelah itu, celupkan ke dalam telur lalu gulingkan dalam tepung panir. Ulangi langkah ini hingga adonan habis.

Setelah seluruh adonan dibentuk dan diberi isian, goreng hingga kecokelatan. Udah, jadi, dah! Agak rumit juga sih langkah-langkahnya. Setidaknya, nggak serumit membaca hatimu. 😀

Kpop & Kdrama

100 Detik Nostalgia Bersama SS501

SS501-e1522822828405
(gambar diambil dari https://www.soompi.com)

Di saat saya sedang merasa sangat muak dengan kelakukan dedek-dedek fangirl zaman sekarang yang seperti kompor meleduk, tiba-tiba seorang kawan mencolek saya di sebuah postingan instragram milik akun @dingo_music. Secuil video dalam postingan tersebut sukses membuat saya baper dan teringat masa-masa fangirlingan zaman dulu, yang tentu saja sangat jauh berbeda dibandingkan saat ini. Dulu, hallyu wave mungkin tak sebesar sekarang, kegiatan fangirlingan pun tak semudah sekarang. Namun, pada masa itu, semua terasa menyenangkan, tidak ada ujaran-ujaran kebencian yang bikin nggak nyaman.

Kembali ke Dingo Music, dalam cuplikan video tersebut tampak tiga orang personel dari SS501, yaitu Heo Young Saeng, Kim Kyu Jong, dan Park Jung Min, berkumpul dan menyanyikan lagu-lagu SS501 secara medley. Sebagai informasi, SS501 merupakan boyband pertama yang membawa saya kecemplung ke dalam dunia Kpop. Dan Triple S (nama fandom-nya), merupakan fandom paling tabah yang saya bangga pernah tergabung di dalamnya. Banyak sekali cobaan yang harus dihadapi fandom ini. Mulai dari ditinggalin waktu lagi sayang-sayangnya (karena permasalahan dengan manajemen, membuat nasib SS501 jadi tidak jelas), digantungin (tidak ada konfirmasi resmi bahwa mereka disbanded, tapi SS501 vakum sampai waktu yang tidak ditentukan), hingga berbagai permasalahan yang dialami oleh para personelnya. Termasuk skandal besar yang menimpa sang leader.

Selama ini, Triple S sudah cukup senang masih bisa melihat masing-masing personel SS501 bersolo karier. Maka dari itu, saat melihat tiga orang personel bernyanyi dalam satu acara yang sama, menyanyikan lagu-lagu SS501, tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang membahagiakan bagi Triple S. Saya termasuk di antaranya.

Di dalam acara yang diadakan oleh Dingo Music tersebut, tiga orang personel SS501 menyanyikan lagu-lagu SS501 yang dulu sempat menjadi hits, seperti “Because I’m Stupid”, “Love Ya”, “Love Like This”, dan “Snow Prince”. Mereka menyanyikannya secara medley dengan durasi 100 detik saja. Sayang, hanya tiga orang personel saja yang dapat ikut tampil di acara ini. Salah satu personelnya, Kim Hyung Joon, tidak bisa ikut karena masih dalam tugas wajib militer. Adapun sang leader, Kim Hyun Joong, … emm, barangkali sedang ada kesibukan lain. Namun demikian, meskipun hanya bertiga dan meski hanya 100 detik saja, sudah cukup mengobati kerinduan para Triple S kepada boyband kesayangan mereka, SS501.

Suka-Suka

Terus Bergerak, Jangan Berhenti

keep moving
(gambar diambil dari sini)

Pernahkah kamu merasa kalau hidup ini amatlah lucu. Bisa saja, menit ini kamu merasa sangat bahagia, tapi menit berikutnya kamu nelangsa. Pun sebaliknya.

Contohnya:

Pagi hari, kamu masih bisa sayang-sayangan sama buku favorit. Lalu sore harinya, buku itu rusak karena keteledoranmu sendiri.

Atau mungkin, kamu sudah jatuh bangun menyelesaikan satu level games. Tinggal selangkah saja. Lalu tiba-tiba, musuh datang sehingga game over dan membuat seluruh usahamu sia-sia.

Atau bisa jadi, kamu sudah penuh kesabaran ekstra men-download satu episode drama Korea. Sudah sampai 90%, tinggal sedikit lagi download-an paripurna. Lalu tiba-tiba, koneksi internet mati. Membuatmu pengen nangis seprovinsi.

Atau bisa juga, saat ini kamu tengah lelah dan ingin menyerah memikirkan seseorang yang belakangan ini selalu wara-wiri di pikiranmu. Lalu suatu saat nanti, kamu menyadari bahwa ada orang lain yang diam-diam ingin mengendap-endap masuk ke hatimu.

Nah, sesungguhnya kesemuanya itu wajar adanya. Karena sejatinya segala sedih, duka, sakit hati, patah hati itu ada untuk mengingatkan bahwa kamu masih hidup. Semua itu ada untuk memberikan pelajaran baru, pemahaman baru, kekuatan baru, dan membuat kita menjadi pribadi yang baru.

Yang harus dilakukan hanyalah terus bergerak. Sebagaimana hidup yang harus terus berjalan. Sedih boleh, tapi sebentar saja. Setelah itu, berdamailah dengan masa lalu dan segera move on. Sebab percayalah, yang akan datang kepadamu pasti lebih baik untukmu daripada yang telah lalu.

“Indeed what is to come will be better for you than what has gone by.”

(QS. Ad-Dhuha, 93:4)

Suka-Suka

Gara-Gara Ayam Geprek

(gambar diambil dari https://hellosehat.com)

Kalau ada makanan yang dapat mengubah hidup saya, maka itu adalah ayam geprek. Sebagai chilli haters, selama ini saya selalu menyatakan diri kalau saya ini bukannya nggak berani makan sambel, melainkan nggak suka. Nggak berani dan nggak suka adalah dua hal yang berbeda. Nggak berani itu masalah nyali. Sedangkan nggak suka, masalah selera.

Saya suka heran sama teman-teman yang asyik makan pedas hingga air mata berlinangan dan bibirnya tak henti mengeluarkan desisan. Weh, itu makan atau kesurupan? Lalu mereka bilang, “Makan kalau nggak pakai sambel itu nggak nikmat.” Sementara saya bilang, “Gimana bisa menikmati kalau kudu megap-megap, kan?” Selanjutnya, mereka akan meragukan tulisan di KTP saya, “Kamu beneran orang Indonesia? Bukan Eropa?”

Hingga suatu hari, ayam geprek mengubah segalanya. Berawal dari seorang kawan yang mengeluhkan tak ada sambel di nasi kotaknya. Lalu saya sodorkan cabai gorengan sebagai pengganti sambalnya.

Dia bilang, “Mbak, aku cari sambal, bukan cabai.”

Saya: “Halah sama aja. Yang penting pedas, kan?”

Dia: “Aku makan sambal itu bukan cari pedasnya, Mbak. Tapi, cari enaknya.”

Nah, jawaban dia ini berbeda dari testimoni kebanyakan orang tentang sambal. Orang umumnya mencari kenikmatan saat makan sambal, sedangkan teman saya mencari enak. Jadi, apa benar sambal itu enak? Ingin membuktikan ucapan teman saya itu, akhirnya saya mencobanya sendiri. Saya bereksperimen sendiri dengan membuat ayam geprek.

Dan, benar! Memang enak. Paduan antara cabai rawit, bawang putih, garam, dan sedikit micin (#eh), sungguh menggugah selera saya. Sejak saat itu, saya mulai keranjingan menggeprek segala jenis bahan makanan. Mulai dari ayam, ikan, tempe, telur, perkedel, dan bahkan tahu bulat. Lol

Tapi sebagai newbie dalam dunia persambelan, perut saya hanya dapat bertahan dengan cabai satu saja. Pernah nekat mencoba cabai dua, akhirnya mules datang melanda. :))