Seni & Budaya

Asyiknya Nonton Gladhen Prajurit di Tengah Gerimis

Nonton kirab prajurit kraton merupakan agenda yang saya gemari sejak kecil. Waktu kecil, saya akan senang sekali ketika almarhum simbah wedok (mbah putri) mengajak saya ke alun-alun yang jaraknya tak jauh dari rumah untuk menyaksikan acara garebeg. Apa yang saya tunggu di acara itu? Tentu saja iring-iringan prajurit kraton yang mengantarkan gunungan keluar dari dalam kraton untuk selanjutnya nanti akan dirayah atau dibagi-bagikan ke masyarakat. Iring-iringan bregada prajurit kraton yang berbaris dengan diiringi istrumen perpaduan genderang, seruling, dan terompet yang dibunyikan dengan irama lambat sungguh membuat saya terpesona.

Bahkan, saya tak segan  duduk bersila dengan nyaman di atas rumput pinggir trotoar. Tak peduli jika sesekali harus menggaruk kaki yang gatal akibat digigit semut api yang bersarang pada akar rumput di dalam tanah. Hal ini tentu sudah tak bisa lagi saya lakukan saat ini. Selain karena rumput yang ada di alun-alun tidak serimbun dulu waktu saya masih kecil sehingga tidak memungkinkan untuk bersila di sana, juga karena sudah tua oiii… jadi nggak bisa sebebas waktu masih kecil. Hahaha

Namun demikian, bertambahnya usia tidak menyurutkan kegemaran saya untuk nonton kirab prajurit Kraton. Dulu, selain di acara Garebegnya, saya juga bisa menyaksikan arak-arakan para prajurit itu ketika mereka latihan dan lewat di depan rumah. 😀 Nah, belakangan pihak pariwisata Kraton membuat agenda sendiri untuk latihan prajurit ini sehingga bisa disaksikan oleh masyarakat luas. Agenda tersebut diberi tajuk “Gladhen Prajurit”. Nah, pada postingan ini saya mau cerita waktu nonton gladhen prajurit dalam rangka acara Garebeg Maulud tahun Dal 1951. Late post banget sih emang. 😀

GP 1
Hujan-hujan stand by di alun-alun utara 😀

Dalam setahun, setidaknya ada tiga kali acara garebeg, yaitu pada waktu Idulfitri, Iduladha, dan Maulud Nabi Muhammad saw. Dari masing-masing acara garebeg tersebut, pasti ada gladhen-nya. Saya kurang tahu juga berapa kali persisnya mereka latihan. Tapi, acara “Gladhen Prajurit” selalu bisa ditonton setidaknya dalam tiga kali garebek itu. Dalam acara gladhen ini, para prajurit belum memakai kostum dan atribut lengkap. Mereka memakai “pakaian dinas”-nya para abdi dalem. Kalau tidak salah, pakaian ini disebut dengan nama “baju peranakan”, yaitu satu set baju atasan lurik, bawahan jarik, serta ikat kepala blangkon. Tak ketinggalan keris yang terselip di pinggang.

Terkait baju peranakan, ternyata setiap detail dari baju ini memiliki makna tersendiri, loh. Dari laman Facebook Kraton Jogja dijelaskan bahwa dalam baju peranakan terdapat 6 buah kancing di bagian leher yang melambangkan rukun iman dan 5 buah kancing di ujung lengan menyimbolikan rukun Islam. Adapun nama “peranakan” itu sendiri memiliki makna “satu keturunan”. Nama ini bukan tanpa maksud. Kata “peranakan” dipilih untuk menjadi nama pakaian dinas para abdi dalem sebagai wujud harapan agar para abdi dalem satu sama lain saling menjaga hubungan harmonis layaknya saudara kandung atau saudara satu keturunan.

GP 2
Para prajurit  keraton Yogyakarta dengan pakaian peranakan

Kembali ke acara Gladhen Prajurit, waktu itu saya sempat pesimis tidak jadi nonton acara yang sudah saya tunggu-tunggu ini sebab tiba-tiba hujan turun deras sekali. Sampai pada jam di mana acara seharusnya dimulai, hujan tidak kunjung reda. Dan malah semakin deras. Saya pikir, “Ah, jangan-jangan gladhen-nya juga nggak jadi, nih. Hujan begini.” Tapi, tak lama kemudian, dari rumah terdengar sayup-sayup suara terompet dan genderang. Walah… sudah mulai yak! Akhirnya, saya dan kawan nekat pakai payung menuju ke lokasi.

Awalnya kami menyaksikan arak-arakan mereka dari Kemandhungan Ler atau Keben. Di tengah hujan deras, para prajurit itu tetap semangat menabuh genderang, meniup terompet, dan berbaris masuk ke dalam salah satu areal di Kraton yang kemudian nanti keluar melalui gerbang Pagelaran Kraton. Salut, deh. Para prajurit itu yang sebagian juga terdiri dari bapak-bapak sepuh, tetap semangat meski hujan sedang lebat.

GP 3
Tetap semangat meski hujan

Nah, karena kami nggak boleh ikut masuk ke dalam areal Kraton, maka dari Kemandungan Ler kami kemudian langsung ngacir ke alun-alun utara dan menunggu para prajurit keluar dari pintu gerbang Pagelaran Kraton. Di sana, ternyata banyak juga orang-orang yang sudah berdiri di tepi trotoar untuk menyaksikan Gladhen Prajurit. Meski waktu itu, hujan belum sepenuhnya reda. Masih ada gerimis tipis-tipis.

Nah, karena waktu itu bertepatan dengan tahun Dal, maka rangkaian acara garebeg-nya pun berbeda dari tahun-tahun biasanya. Kalau kata salah satu bapak prajuritnya waktu saya tanya, tahun Dal ini konon hanya terjadi selama 500 tahun sekali. Jadi, kalau biasanya gunungan akan langsung dirayah oleh masyarakat sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan, pada tahun tahun Dal ini ada satu gunungan lagi yang harus para prajurit bawa pulang kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para kerabat Keraton. Gunungan tersebut dinamakan gunungan Bromo. Sebelumnya, gunungan Bromo akan ikut diarak bersama gunungan yang lain. Dua gunungan lanang kemudian dibawa ke Kepatihan dan Puro Pakualaman, lima gunungan dibagikan kepada masyarakat di pelataran Masjid Gedhe Kauman, sedengkan gunungan Bromo dibawa kembali ke Kraton. Pada waktu gladhen, gunungannya belum dibawa tentu saja.

GP 4
Menunggu gunungan Bromo dibacakan doa di Masjid Gedhe Kauman

Bagi saya sendiri, sebenarnya lebih menyukai nonton Gladhen Prajurit daripada waktu acara garebeg-nya. Meskipun belum ada gunungan dan belum memakai atribut dan kostum lengkap, tapi saya bisa menikmati rangkaian acaranya. Sebab, pada waktu garebeg biasanya akan crowded sekali. Alih-alih menikmati acara, saya harus berjibaku senggol-senggolan sama penonton lainnya. Pernah suatu kali, saya hampir berakhir di tangan paramedis karena dehidrasi waktu nonton garebeg. Untung nggak pingsan. Kan, malu kalau sampai pingsan. 😀

Suka-Suka

Belajar Menjadi Manusia Tanpa Smartphone

9568276_201803180938090520
gambar diambil dari https://www.kaskus.co.id

Belakangan ini, saya sering merasa ingin kembali ke zaman di mana belum ada smartphone. Zaman di mana kita harus sabar menunggu beberapa hari untuk bertegur sapa dengan kawan yang terpisahkan jauh jarak. Menunggu ketika Pak Pos datang membawakan sepucuk surat balasan dari kawan lama. Bukannya saya tidak mau menerima kemajuan zaman, saya hanya merasa kesepian di tengah keramaian. Saya hanya merasa hampa di tengah gempuran chat whatsapp yang seolah tidak ada habisnya. Ramai, sih. Tapi, hati ini rasanya kosong karena terlalu banyak haha hihi. Intinya, saya hanya ingin menikmati melipir sejenak dari hiruk pikuk yang mungkin ditimbulkan dari handphone pintar ini.

Bayangkan saja, misal dari satu handphone terinstal beberapa aplikasi sosial media, seperti facebook, twitter, instagram, path, dan sebagainya, yang kesemuanya dalam posisi log in. Maka, harus siap mendapatkan notifikasi masuk kapan saja.

Itu baru akun medsos, belum aplikasi messenger seperti whatsapp, BBM, Line, dan lain sebagainya. Dan, di masing-maing platform messenger kita join ke dalam beberapa grup. Grup ini kadang juga bukan kemauan kita untuk gabung, hanya dimasukkan oleh teman yang tidak kuasa ditolak demi kesopanan. Nah, kalau saja setiap grup sedang ramai. Bayangkan handphone tidak akan berhenti bergetar dan berbunyi “tang-ting-tang-ting”. Pusyiinngg…

Saya pribadi hanya pakai satu aplikasi messenger, yaitu Whatsapp. Lalu, beberapa grup juga sudah saya silent (hehe… piss!). Namun demikian, tetap saja perhatian teralih saat tahu ada banyak chat yang belum terbaca. Jadi penasaran untuk membacanya satu-satu. Akhirnya, buang-buang waktu. Saya sering diam-diam leave grup demi kesehatan jiwa. Tapi sialnya, setiap kali leave saya selalu tertangkap basah. :))

Gabung dengan grup-grup seperti itu sebenarnya seru, sih. Bisa punya teman ngobrol seru-seruan saat sedang merasa kesepian. Pun bisa saling berbagi informasi. Namun, ada kalanya saya ingin menyepi dan tidak berinteraksi dengan banyak orang untuk sementara waktu. Nah, inti dari tulisan ini sebenarnya adalah saya cuma mau curhat saja, sih. Daripada jadi penyakit kalau cuma dipendam, jadi sebaiknya diceritakan. Dan, saya nggak tahu mesti cerita ke siapa yang paling tepat. Makanya, saya nyampah di sini saja. Hahaha mo’on maap ya pemirsa…. 😀

Kuliner

Belajar Masak: Nasi Goreng Ebi Sosis Sapi

 

Nasi Goreng Ebi

Sehubungan pembicaraan tentang EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) sedang ramai-ramainya di kalangan teman-teman saya, jadi di salah satu agenda masak kemarin saya putuskan untuk membuat menu nasi goreng ebi. Hubungannya? Enng… nggak ada, hahaha. <– editor salah fokus

Dan, karena saya suka sosis, jadi nasi goreng ebi ini mau saya tambahi sosis sapi sebagai lauknya, sebagai pengganti telur yang biasanya jadi pasangan dari nasi goreng. 🙂 Adapun bahan-bahannya sebagai berikut:

  • Nasi (tentu saja)
  • Sosis sapi
  • Ebi/udang kecil yang telah dikeringkan
  • Tepung (sedikit saja, untuk goreng sosisnya)

Bumbu-bumbunya:

  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Kemiri
  • Merica
  • Cabai
  • Garam
  • Kecap
  • Saus

Cara membuat:

Oh ya, ini saya nggak kasih foto step-step-nya seperti sebelum-sebelumnya. Karena bikinnya kejar waktu buka puasa, jadi nggak sempat foto-foto. Hehehe

Jadi, langkah pertama adalah membuat nasi gorengnya terlebih dahulu, sebagai berikut:

  • Haluskan seluruh bumbu-bumbunya: Bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, cabai, dan gara Tambahkan ebi dan uleg kasar (Maksudnya, uleg nggak sampai halus gitu, bukan ngulegnya secara kasar. Bisa dipahami, kan? 😀 ).
  • Panaskan minyak goreng di wajan. Kemudian masukkan bumbu dan ebi yang sudah diuleg tadi. Tumis hingga harum. Lalu, masukkan nasi dan aduk di atas wajan hingga tercampur dengan bumbu dan ebinya. Beri kecap dan saus secukupnya. Aduk hingga tercampur merata.

Untuk sosisnya, saya maunya yang agak utuhan. Jadi sengaja nggak dipotong kecil-kecil dan dicampur ke dalam nasgornya. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  • Encerkan sedikit tepung dengan air
  • Cuci bersih sosis, lalu masukkan ke dalam adonan tepung tadi
  • Setelah itu, goreng hingga matang

Nah, sudah jadi, deh. Nasi goreng ebi plus sosis sapi siap santap! Eits… tapi, nunggu adzan Magrib dulu, yes. 😀

Kuliner

Belajar Masak: Perkedel Keju

Perkedel Keju

Awalnya saya tertarik waktu lihat-lihat video salah satu akun kuliner di instagram. Di situ ada resep plus tutorial cara memasak sebuah menu yang namanya kalau nggak salah ingat adalah “Cheesey Potato Bites”. Setelah saya perhatikan, mirip perkedel. Bedanya, ini dikasih keju. Ya, mungkin perkedel ala-ala barat.

Karena cukup simpel, maka saya coba untuk membuatnya sendiri. Dengan modifikasi saya sendiri, yaitu ukurannya yang saya bikin agak gedean. Jadi, nggak bisa disebut “bites”, karena tidak sekali gigit. Maka dari itu, namanya saya ganti yang lebih mengindonesia: Perkedel Keju. 😀

Bahan-bahannya sebagai berikut (kali ini saya kasih takarannya deh ya, mumpung ingat 🙂 ):

  • Ketang 500 gram
  • Telur 1 butir
  • Keju secukupnya
  • Daun bawang secukupnya
  • Bawang putih, merica, dan garam secukupnya

Cara membuat:

  • Kupas dan cuci bersih kentang, lalu potong-potong ukuran besar. Setelah itu goreng hingga lunak dan mudah untuk dihancurkan. Setelah lunak, tumbuk hingga halus.
  • Haluskan bumbu-bumbu bawang putih, merica, dan garam. Kemudian campurkan dalam kentang yang sudah dihaluskan tadi. Uleni hingga tercampur merata bumbunya.
  • Iris-iris daun bawang, lalu campurkan juga dengan kentang plus bumbunya.
  • Kocok telur. Masukkan ke dalam adonan ketang tadi, dan uleni hingga tercampur merata. Tujuan diberi telur ini supaya nanti kentangnya nggak hancur waktu digoreng. Sisakan telurnya sedikit untuk olesan di luar perkedelnya sebelum digoreng.
  • Potong dadu keju dengan ukuran jangan terlalu besar. Karena nanti akan dimasukkan ke dalam perkedelnya.
  • Bentuk adonan keju tadi menjadi bulat pipih, jangan lupa masukkan keju di tengahnya.
  • Panaskan minyak di wajan
  • Celupkan adonan ketang yang sudah dibentuk bulatan tadi ke dalam telur, lalu masukkan ke wajan
  • Goreng hingga matang

Perkedel keju siap disantap! 😀 Btw, kejunya kok nggak meleleh ya. Padahal udah pakai yang quick melt. :/

Kuliner

Belajar Masak: Kroket Salah Gaul

Kroket Salah Gaul

Setelah berjibaku dengan deadline satu dan yang lainnya sejak bulan Januari kemarin, entah kenapa otak ini jadi macet buat nulis. Blog jadi lumutan, deh. Nah, sebagai pemanasan, sekarang saya mau posting cerita main masak-masakan aja, deh. Oh ya, ini pernah saya posting sebelumnya di Instagram. Iya, ini repost. Hahaha *ketawa evil*

Jadi, ini saya bikin apa? Emm… sebut saja ini dengan nama “Kroket Salah Gaul. Lol! Niat awal memang bikin kroket, tapi pas eksekusi saya ngebentuknya kegedean. Jadi macem perkedel, haha. Selain itu, saya juga kelupaan salah satu bumbu yang paling penting, yaitu gula pasir. Gula pasir itu penting untuk menentukan jati diri masakan ini, sebab yang membedakan antara kroket dengan perkedel adalah cita rasanya. Kalau perkedel gurih, kroket agak manis (macem yang masak *abaikan*). Ya wes kalau gitu, sebut saja ini “Kroket Salah Gaul (Blasteran Perkedel)”. :)).

Resepnya sebagai berikut:

Bahan untuk kentangnya:

  • Kentang
  • Telur
  • Bawang putih
  • Garam
  • Merica
  • Tepung panir

Bahan untuk isiannya:

  • Wortel
  • Daun bawang
  • Keju (biasanya pakai daging ayam cincang, tapi ini dadakan jadi seadanya 😀)
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Garam
  • Merica

Cara membuat:

  • Adonan kentangnya:

Haluskan bumbu: bawang putih, merica, dan garam. Goreng kentang sampai kira-kira lunak dan mudah untuk dihaluskan. Tumbuk kentang, lalu campurkan bumbu yang sudah dihaluskan, tambahkan telur (sisakan sedikit untuk tahap akhir). Uleni hingga tercampur rata.

  • Isiannya:

Potong-potong wortel, daun bawang, bawang merah, bawang putih. Tumis semua bahan. Tambahkan garam dan merica. Terakhir, setelah diangkat dari kompor, tambahkan keju parut.

  • Tahap akhir:

Ambil sedikit adonan kentang, bentuk menjadi pipih, lalu beri isiannya. Kemudian bulatkan lagi hingga isian tertutup kentang. Setelah itu, celupkan ke dalam telur lalu gulingkan dalam tepung panir. Ulangi langkah ini hingga adonan habis.

Setelah seluruh adonan dibentuk dan diberi isian, goreng hingga kecokelatan. Udah, jadi, dah! Agak rumit juga sih langkah-langkahnya. Setidaknya, nggak serumit membaca hatimu. 😀

Suka-Suka

Review Ala-Ala Lagu Mirasantika Rhoma Irama: Say No To Drugs

Singkat saja, karena saya sedang lemes, haha. Postingan ini terilhami dari kawan saya, Mpok Nanik, yang begitu menggemari Bang Haji Rhoma Irama. 😀

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan lagu milik Bang Haji Rhoma Irama ini. Liriknya yang cukup menggelitik karena adanya repetisi dari kata “tak”, tak jarang akan membuat kita senyum-senyum sendiri setiap kali mendengarnya. Namun demikian, di samping liriknya yang lucu itu, lagu ini sebenarnya mengandung nasihat yang cukup penting.

Dalam lagu Mirasantika, terdapat pesan agar kita senantiasa “Say No to Drugs!”. Sebab, minuman keras dan narkotika itu dapat membawa kita kepada banyak hal-hal buruk, yang pada akhirnya tidak hanya akan merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.

Gara-gara kamu orang bisa menjadi gila

Gara-gara kamu orang bisa putus sekolah

Gara-gara kamu orang bisa menjadi edan

Gara-gara kamu orang kehilangan masa depan

Tentu kita semua sudah tahu belakangan ini banyak berita-berita menyeramkan yang kesemua itu diakibatkan oleh miras dan obat-obatan terlarang. Sebagaimana kata Bang Haji dalam lagunya, minuman keras dan obat-obatan terlarang itu dapat menghancurkan hidup dan merusakkan jiwa. Maka, jangan sekali-kali mendekati benda-benda haram itu. Say no to drugs! Katakan, “Tak-tak-tak-tak-tak ku tak sudi tak sudi tak!

Kpop & Kdrama

100 Detik Nostalgia Bersama SS501

SS501-e1522822828405
(gambar diambil dari https://www.soompi.com)

Di saat saya sedang merasa sangat muak dengan kelakukan dedek-dedek fangirl zaman sekarang yang seperti kompor meleduk, tiba-tiba seorang kawan mencolek saya di sebuah postingan instragram milik akun @dingo_music. Secuil video dalam postingan tersebut sukses membuat saya baper dan teringat masa-masa fangirlingan zaman dulu, yang tentu saja sangat jauh berbeda dibandingkan saat ini. Dulu, hallyu wave mungkin tak sebesar sekarang, kegiatan fangirlingan pun tak semudah sekarang. Namun, pada masa itu, semua terasa menyenangkan, tidak ada ujaran-ujaran kebencian yang bikin nggak nyaman.

Kembali ke Dingo Music, dalam cuplikan video tersebut tampak tiga orang personel dari SS501, yaitu Heo Young Saeng, Kim Kyu Jong, dan Park Jung Min, berkumpul dan menyanyikan lagu-lagu SS501 secara medley. Sebagai informasi, SS501 merupakan boyband pertama yang membawa saya kecemplung ke dalam dunia Kpop. Dan Triple S (nama fandom-nya), merupakan fandom paling tabah yang saya bangga pernah tergabung di dalamnya. Banyak sekali cobaan yang harus dihadapi fandom ini. Mulai dari ditinggalin waktu lagi sayang-sayangnya (karena permasalahan dengan manajemen, membuat nasib SS501 jadi tidak jelas), digantungin (tidak ada konfirmasi resmi bahwa mereka disbanded, tapi SS501 vakum sampai waktu yang tidak ditentukan), hingga berbagai permasalahan yang dialami oleh para personelnya. Termasuk skandal besar yang menimpa sang leader.

Selama ini, Triple S sudah cukup senang masih bisa melihat masing-masing personel SS501 bersolo karier. Maka dari itu, saat melihat tiga orang personel bernyanyi dalam satu acara yang sama, menyanyikan lagu-lagu SS501, tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang membahagiakan bagi Triple S. Saya termasuk di antaranya.

Di dalam acara yang diadakan oleh Dingo Music tersebut, tiga orang personel SS501 menyanyikan lagu-lagu SS501 yang dulu sempat menjadi hits, seperti “Because I’m Stupid”, “Love Ya”, “Love Like This”, dan “Snow Prince”. Mereka menyanyikannya secara medley dengan durasi 100 detik saja. Sayang, hanya tiga orang personel saja yang dapat ikut tampil di acara ini. Salah satu personelnya, Kim Hyung Joon, tidak bisa ikut karena masih dalam tugas wajib militer. Adapun sang leader, Kim Hyun Joong, … emm, barangkali sedang ada kesibukan lain. Namun demikian, meskipun hanya bertiga dan meski hanya 100 detik saja, sudah cukup mengobati kerinduan para Triple S kepada boyband kesayangan mereka, SS501.

Suka-Suka

Terus Bergerak, Jangan Berhenti

keep moving
(gambar diambil dari sini)

Pernahkah kamu merasa kalau hidup ini amatlah lucu. Bisa saja, menit ini kamu merasa sangat bahagia, tapi menit berikutnya kamu nelangsa. Pun sebaliknya.

Contohnya:

Pagi hari, kamu masih bisa sayang-sayangan sama buku favorit. Lalu sore harinya, buku itu rusak karena keteledoranmu sendiri.

Atau mungkin, kamu sudah jatuh bangun menyelesaikan satu level games. Tinggal selangkah saja. Lalu tiba-tiba, musuh datang sehingga game over dan membuat seluruh usahamu sia-sia.

Atau bisa jadi, kamu sudah penuh kesabaran ekstra men-download satu episode drama Korea. Sudah sampai 90%, tinggal sedikit lagi download-an paripurna. Lalu tiba-tiba, koneksi internet mati. Membuatmu pengen nangis seprovinsi.

Atau bisa juga, saat ini kamu tengah lelah dan ingin menyerah memikirkan seseorang yang belakangan ini selalu wara-wiri di pikiranmu. Lalu suatu saat nanti, kamu menyadari bahwa ada orang lain yang diam-diam ingin mengendap-endap masuk ke hatimu.

Nah, sesungguhnya kesemuanya itu wajar adanya. Karena sejatinya segala sedih, duka, sakit hati, patah hati itu ada untuk mengingatkan bahwa kamu masih hidup. Semua itu ada untuk memberikan pelajaran baru, pemahaman baru, kekuatan baru, dan membuat kita menjadi pribadi yang baru.

Yang harus dilakukan hanyalah terus bergerak. Sebagaimana hidup yang harus terus berjalan. Sedih boleh, tapi sebentar saja. Setelah itu, berdamailah dengan masa lalu dan segera move on. Sebab percayalah, yang akan datang kepadamu pasti lebih baik untukmu daripada yang telah lalu.

“Indeed what is to come will be better for you than what has gone by.”

(QS. Ad-Dhuha, 93:4)

Suka-Suka

Gara-Gara Ayam Geprek

(gambar diambil dari https://hellosehat.com)

Kalau ada makanan yang dapat mengubah hidup saya, maka itu adalah ayam geprek. Sebagai chilli haters, selama ini saya selalu menyatakan diri kalau saya ini bukannya nggak berani makan sambel, melainkan nggak suka. Nggak berani dan nggak suka adalah dua hal yang berbeda. Nggak berani itu masalah nyali. Sedangkan nggak suka, masalah selera.

Saya suka heran sama teman-teman yang asyik makan pedas hingga air mata berlinangan dan bibirnya tak henti mengeluarkan desisan. Weh, itu makan atau kesurupan? Lalu mereka bilang, “Makan kalau nggak pakai sambel itu nggak nikmat.” Sementara saya bilang, “Gimana bisa menikmati kalau kudu megap-megap, kan?” Selanjutnya, mereka akan meragukan tulisan di KTP saya, “Kamu beneran orang Indonesia? Bukan Eropa?”

Hingga suatu hari, ayam geprek mengubah segalanya. Berawal dari seorang kawan yang mengeluhkan tak ada sambel di nasi kotaknya. Lalu saya sodorkan cabai gorengan sebagai pengganti sambalnya.

Dia bilang, “Mbak, aku cari sambal, bukan cabai.”

Saya: “Halah sama aja. Yang penting pedas, kan?”

Dia: “Aku makan sambal itu bukan cari pedasnya, Mbak. Tapi, cari enaknya.”

Nah, jawaban dia ini berbeda dari testimoni kebanyakan orang tentang sambal. Orang umumnya mencari kenikmatan saat makan sambal, sedangkan teman saya mencari enak. Jadi, apa benar sambal itu enak? Ingin membuktikan ucapan teman saya itu, akhirnya saya mencobanya sendiri. Saya bereksperimen sendiri dengan membuat ayam geprek.

Dan, benar! Memang enak. Paduan antara cabai rawit, bawang putih, garam, dan sedikit micin (#eh), sungguh menggugah selera saya. Sejak saat itu, saya mulai keranjingan menggeprek segala jenis bahan makanan. Mulai dari ayam, ikan, tempe, telur, perkedel, dan bahkan tahu bulat. Lol

Tapi sebagai newbie dalam dunia persambelan, perut saya hanya dapat bertahan dengan cabai satu saja. Pernah nekat mencoba cabai dua, akhirnya mules datang melanda. :))

Kpop & Kdrama · Suka-Suka

Bos Otak dan Anak Buahnya

Song Song Couple
(gambar diambil dari KapanLagi.com)

Sudah pernah merasakan bagaimana mata, tangan, dan mulut berkolaborasi untuk membangkang dari otak? Saya pernah.

Begini ceritanya:

Suatu hari, saat baca naskah saya menemukan kalimat yang kurang lebih begini bunyinya: “Perusahaan memutasi beberapa karyawannya.” Tapi, entah kenapa terbaca jadi: “Perusahaan memutilasi beberapa karyawannya.” -_-.

Maka untuk beberapa detik, saya hanya diam terpaku pada kalimat itu. Otak merasakan sesuatu yang salah, akan tetapi mata mengirimkan informasi kepadanya berupa: “Perusahaan memutilasi beberapa karyawannya.” Ngeri amat.

Pada kasus di atas, dapat diketahui bahwa mata saya sedang mencoba mengkhianati otak dengan cara mengirimkan informasi yang keliru dari apa yang sebenarnya telah ditangkap olehnya. Nah, mungkin karena beberapa kali merasa dikhianati oleh kawan-kawannya, suatu hari otak saya balas dendam dengan cara membangkang dari sinyal yang dikirimkan kepadanya.

Begini ceritanya:

Waktu itu mata menangkap sebuah pemandangan yang nyesekable, yaitu berita tentang pernikahan oppa. Kemudian mata mengirim berkas laporan ke otak, dengan tembusan untuk hati saya (tempat di mana oppa berada). Hati meresponsnya dengan cepat. Yeah, nyesek gitulah. 🙁 Karena nyesek, ia mengirim sinyal ke paru-paru untuk menghela napas barang sejenak, dengan harapan sedikit udara itu bisa mengusir ganjalan yang membuatnya nyesek. Ia juga mengirim sinyal ke mulut untuk lupa mingkem a.k.a melongo, dan mata untuk lupa kedip. Meskipun akhirnya itu justru membuatnya makin nyesek.

Tak lupa, ia mengirim laporan ke otak, “Bos, saya galau. Saya cinta oppa sepenuh hati, tapi mereka bahkan tak tahu-menahu bahwa saya ada di dunia ini.”

Tapi, otak tak memedulikannya. Ia justru memerintahkan mulut yang tadinya melongo untuk bilang, “Kalau kalian bahagia, aku juga akan bahagia, Oppa.”

Demikianlah cerita tentang bos otak dan anak buahnya. Seluruh teori di atas hanyalah karangan saya saja, bukan berdasarkan penelitian secara medis. Haha! Entahlah apa sebab keeroran tersebut, tapi yang namanya khilaf itu memang milik manusia. 😀