Buku

[Review] Dua Belas Pasang Mata: Kisah Guru dan Murid di Jepang Zaman Perang

Sakae Tsuboi

Judul: Dua Belas Pasang mata

Penulis: Sakae Tsuboi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 248 hlm

Cetakan ke-3: 2016

Miss Oishi baru lulus dari sekolah keguruan. Untuk mengawali kariernya, ia kemudian ditugaskan mengajar di Desa Tanjung, sebuah desa nelayan yang sangat pelosok dan miskin. Semula, Miss Oishi merasa sangat berat menjalani tugasnya. Bukan hanya karena ia harus menempuh jarak 8 km sekali jalan dari tempat tinggalnya, melainkan juga karena dia harus menghadapi sikap penduduk desa yang kurang menyukainya karena dianggap terlalu modern.

Seiring berjalannya waktu dan banyaknya kejadian yang dialami, Miss Oishi kemudian justru memiliki keterikatan hati dengan Desa Tanjung. Khususnya, dengan para muridnya. Tak jarang air matanya berlinang saat memikirkan siswanya yang seharusnya tumbuh dengan gemilang justru harus menyerah atas cita-citanya. Bukan hanya karena kemiskinan, melainkan juga karena perang.

Diceritakan pada saat itu, Jepang sedang mengalami masa-masa sulit akibat perang. Semangat nasionalisme sedang gencar digalakkan di mana-mana. Terlebih lagi di sekolah. Orang-orang yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip nasionalisme, akan ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan “merah” atau komunis. Beberapa kali kepala sekolah mewanti-wanti Miss Oishi untuk berhati-hati ketika mengajar agar tidak dicurigai. Miss Oishi akhirnya memutuskan berhenti mengajar karena merasa sudah tidak sejalan dengan keadaan di sekolah.

Sementara itu, setiap anak laki-laki juga harus siap menjadi sukarelawan prajurit yang turun ke medan perang lalu gugur sebagai bunga bangsa. Dengan doktrin bahwa mereka akan gugur sebagai pahlawan, membuat anak-anak muda bersemangat merelakan diri maju berperang untuk kemudian mati secara terhormat. Di sisi lain, para Ibu bersedih hati karena harus rela kehilangan suami atau anak laki-laki mereka.

“Jaga diri kalian baik-baik. Jangan mati terhormat, pulanglah dengan selamat.” — Miss Oishi kepada Nita, Isokichi, dan Kicijhi (hlm. 189)

Membaca buku ini, sedikit mengingatkan saya kepada Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Ada guru laki-laki yang sudah tua, guru perempuan muda yang berangkat mengajar dengan sepeda, serta anak-anak desa yang semangat ke sekolah meski dalam keterbatasan. Beberapa kemiripan di antara dua novel tersebut, mau tak mau membuat saya mengaitkan keduanya. Belakangan, baru saya tahu bahwa ternyata Andrea Hirata memang terinspirasi dari novel ini saat menulis Laskar Pelangi.

Latar masa perang dunia tahun 1928 sebenarnya menarik. Sayangnya, saya kurang bisa membayangkan bagaimana situasinya. Seandainya latar tahun 1928 itu di Indonesia, barangkali saya ada sedikit gambaran. Namun karena latar novel ini Jepang di masa lalu, jadi saya rada nge-blank. Tapi mungkin sayanya aja yang kurang wawasan. :)) Hal lain yang membuat saya kurang bisa masuk ke dalam cerita adalah tokohnya yang sangat banyak dan masing-masing memiliki kisah sendiri, sehingga susah untuk dihafal.

Namun lebih dari itu, buku ini sangat heartwarming untuk dibaca. Di balik cerita tentang kemiskinan, perang, putus sekolah, prajurit gugur, dan hal-hal menyedihkan lainnya, kita juga akan menemukan kisah tentang kasih sayang, cinta, keluarga, dan persahabatan.

Buku

[Review] Geek In High Heels: Dari Jomblo Jatuh Tempo, Lalu Bimbang di Antara Dua Cinta

lpHmS82L

Judul: Geek in High Heels

Penulis: Octa NH

Penerbit: Stiletto Book

Tebal: 208 hlm.

Terbit: Desember 2013

Athaya adalah seorang web designer yang juga shoe fetishism. Athaya memiliki obsesi khusus terhadap sepatu. Dia bahkan dapat merasa lebih bersemangat bekerja ketika menaruh high heels di samping meja kerjanya. Athaya suka menyerasikan warna sepatu dan cat kukunya sehingga membuat penampilannya tampak modis. Namun di balik penampilannya yang selalu modis tersebut, ada hal yang sangat menggelisahkan hati Athaya, yaitu kehidupan cintanya. Pasalnya, di usianya yang sudah menginjak 27 tahun, Athaya belum juga menemukan jodoh yang tepat. Tekanan dari keluarga besar, terutama sang tante, akan status jomblonya membuat hari-hari Athaya jadi terasa berat.

Takdir kemudian mempertemukan Athaya dengan dua orang pria. Adalah Kelana, seorang penulis novel best seller yang secara tak sengaja ditemuinya di sebuah kafe waktu Athaya melarikan diri dari acara keluarga. Dan juga Ibra, mantan klien Athaya. Sejak mengenal Kelana dan Ibra, nasib kehidupan cinta Athaya jadi berubah drastis. Dari yang semula jomblo jatuh tempo, menjadi seorang gadis yang didekati oleh dua pria.

Suatu hari, Ibra melamar Athaya. Lamaran Ibra ini membuat Athaya jadi bimbang. Pasalnya, dia masih tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ibra adalah seorang pria yang dewasa dengan perkerjaan yang mapan. Tentu, tak ada alasan untuk Athaya menyia-nyiakannya. Apalagi, sudah jelas Ibra sangat mencintainya. Keseriusan Ibra dibuktikan dengan komitmennya untuk menikahi Athaya.

“… kadang ada yang lebih penting dijadikan pertimbangan selain cinta…”

“Apa?”

“Komitmen.”

— Hlm. 153

Sementara itu, Kelana adalah pria yang selalu bisa membuat Athaya tertawa. Bersama Kelana, Athaya merasa lebih bisa lepas dan spontan. Namun sayangnya, Kelana sering ilang-ilangan. Athaya jadi ragu bagaimana sebenarnya perasaan Kelana kepadanya.

Jadi, siapakah yang akan dipilih Athaya di antara keduanya?

Cerita cinta segitiga ala Athaya, Ibra, dan Kelana ini sebenarnya sudah cukup mainstream. Namun, narasi-narasi lucu dan segar ataupun celetukan dialog tokoh-tokohnya menjadikan novel ini tetap menarik untuk dibaca hingga akhir.

Pembicaraan yang selalu mengarah ke hal jodoh dan pernikahan membuat suasana (dan makanan enak apa pun) jadi tidak menarik buat Athaya. Bayangkan!  Ketika kamu sedang asyik makan shrimp salad dan tiba-tiba ditanyai, “Apa kamu tidak sebaiknya cepat-cepat menikah saja?” Aku yakin shrimp salad itu rasanya tiba-tiba berubah seperti sandal jepit. – Hlm. 11

Cowok seperti Kelana mungkin banyak disukai sama cewek-cewek ya. Tapi, kalau jadi Athaya, saya sepertinya akan lebih memilih Ibra. Karena yaa… Ibra itu:

“Single dan mapan. Terlalu menarik untuk dilewatkan.” – Hlm. 93 #eh

Nggak, ding. Karena Ibra itu dewasa dan berani berkomitmen. Tidak ilang-ilangan seperti Kelana. Tapi, Kelana juga romantis, sih. Kalau ada yang punya kenalan cowok kayak Kelana ini, tolong kabari saya yha. #lahh *digebuk massa*

Satu hal yang agak mengganjal buat saya adalah judul novel ini, “Geek In High Heels”. Sepengetahuan saya, geek itu sosok yang cupu, unik, dan rada-rada antisosial. Dekat dengan nerd. Tapi, Athaya yang disebut-sebut geek di novel ini kenapa justru sangat gaul dan stylish. Jauh dari geek sebagaimana bayangan saya.

Terakhir, izinkan saya mengutip salah satu kalimat yang menenteramkan hati para jomblowan dan jomblowati di dalam novel ini:

“Hidup memang berat. Apalagi buat para single kayak kita. Tapi buat yang dobel, beratnya juga dobel.” – Hlm 36.

 

Suka-Suka

Selamat Malam, Tuan

Selamat Malam, Tuan

Semoga malam ini kamu bisa tidur dengan nyenyak.

Dan ketika kau terbangun di pagi hari nanti, Tuhan telah menghapuskan segala sakit yang mendera ragamu, serta segala kegelisahan yang mengganggu jiwamu. Menggantinya dengan rezeki yang berkah. Juga, kebahagiaan yang melimpah.

Lalu ketika esok hari kamu kembali menjelma menjadi siluet di antara hitam dan biru pada langit pagi itu, akan kukatakan kepadamu: “Sebenarnya aku ingin sekali mengendap-endap masuk ke hatimu, tapi kenapa justru kamu yang selalu kurang ajar wara wiri di pikiranku?”

 

Suka-Suka

Lelaki yang Mengetuk Pintu di Tahun Baru

Selamat pagi… eh, udah siang, ding.

Saat membaca surat ini, mungkin kau sedang nguap-nguap ngantuk di depan monitor. Atau, sedang meregangkan punggungmu ke kiri dan kanan, hingga terdengar bunyi “kratak… kratak…”. Weww… sabar, yah. Sebentar lagi jam pulang kantor. Kamu bisa langsung touch down kasur, baca buku, atau mainan medsos.

Enng… melalui surat ini, aku cuma ingin mengingatkanmu pada perjanjian yang telah kita buat waktu itu. Kau bilang:

“Baiklah, hatiku. Kali ini hanya ada engkau dan aku. Juga Dia, yang menciptakan kita.”

Kala itu, aku masih belum sembuh benar. Masih ada sedikit nyeri di sana sini. Ya, karena kau tidak berhati-hati, aku jadi terluka lagi. Lebih parah.

“Kali ini aku akan menjagamu dengan baik. Tak akan membiarkanmu jatuh, dan akhirnya sakit lagi.”

Janjimu, dan aku setuju. Aku tulis surat ini, bukan karena aku tak percaya padamu. Aku hanya merasakan blakangan ini kau mulai gelisah. Sejak lelaki itu mengetuk pintu di tahun baru dua tahun yang lalu, kau jadi kepikiran, geregetan, dan penasaran. Lebih dari itu, kau juga jadi sering merasa rindu.

Yah, aku tahu, dia memang lebih hebat, jauh lebih hebat. Tapi, please yaa… kau sudah janji kepadaku. Kau berjanji akan berhati-hati menjagaku. Tak akan membiarkanku jatuh lagi kepada orang yang salah, yang pada akhirnya membuatku patah.

“Patah hati itu pedih, Jenderal!”

 

Salam,

Aku, isi hatimu

Suka-Suka

Review Suka-Suka Lagu Thousand Years – Christina Perri

Mendengar lagu ini, barangkali yang terbayang di benak kita adalah romantisme cinta segitiga antara Edward Cullen si vampire tampan dan Jacob Black si serigala ganteng yang mencintai seorang gadis yang sama, yaitu Bella Swan. Yap, lagu ini merupakan salah satu lagu yang menjadi soundtrack dari film Twilight. Terlepas dari romantisme yang dihadirkan dalam cerita filmnya, lagu ini juga memiliki potensi untuk membuat siapa pun yang mendengarnya jadi baper massal. Mendengarkan lagu ini, berasa ingin ngupas bawang bombai sambil bersandar di pundak Jacob. #ehh

Edward-jacob-bella-eclipse-movie-photos
Gambar diambil dari http://twilightsaga.wikia.com

Konon, para kritikus musik di Amerika sana juga sangat memuji lagu ini. Baik dari segi vokal Christina Perri yang sangat baik dalam membawakan lagu ini, juga dari lirik yang meskipun terkesan cengeng akan tetapi menimbulkan kesan yang mendalam. Suara Christina Perri yang merdu serta lirik lagu yang penuh haru adalah kekuatan dari lagu ini. Kedua aspek tersebut dapat menimbulkan suasana yang romantis sendu (halah, apaan tuh? 😀 ) dari lagu ini.

Mencermati liriknya, lagu ini bercerita tentang seseorang yang pada akhirnya menemukan tambatan hatinya setelah sekian lama menunggu. Setelah selama ini mencari, dia telah jatuh cinta dan ingin bersama dengan pujaan hatinya selama 1.000 tahun lamanya.

I have died everyday waiting for you / Darling don’t be afraid I have loved you / For a thousand years

Namun, betapapun cintanya, masih ada sedikit kegamangan di hatinya. Ada rasa takut untuk mendekat. Takut membuka hati lalu dia akan tersakiti. Barangkali dulu nih orang ceritanya pernah patah hati, jadi masih trauma buat jatuh cinta lagi. Atau, dia nggak berani mendekati orang yang ditaksirnya karena takut nggak direspons. Lol

How can I love when I’m afraid to fall

Pada akhirnya, dia beranikan diri juga untuk mendekat. Takut keburu gebetan ditikung orang. Wakakak

I will be brave / I will not let anything take away / What’s standing in front of me

Secara keseluruhan, lagu ini sangat puitis, romantis, dan baperable. Kurang baper gimana, di mana-mana yang namanya memendam perasaan suka itu rasanya pasti nyesek dong ya. *jangan curhat Mbak pliz*

Ya udah, gitu saja. Mohon maaf bila review ini sangat abal. Sekian dan terima pinangan Jacob Black.

 

 

Kuliner

Kicak and the Story Behind

Kalau ada yang saya tunggu di saat Ramadan, salah satunya adalah untuk mencicipi kudapan khas Yogyakarta ini. Namanya Kicak, makanan tradisional yang terbuat dari ketan, parutan kelapa muda, santan, gula, dan irisan nangka. Rasanya manis, gurih, dan lembut di lidah. Cocok sekali disantap waktu buka puasa. Ditambah aroma nangka yang hmm… sungguh menggugah selera.

Konon, kicak merupakan kudapan asli dari kampung Kauman Yogyakarta dan hanya muncul pada saat bulan Ramadhan. Di daerah lain, ada juga makanan tradisional dengan nama kicak. Namun, tidak sama dengan kicak versi Kauman ini. Di daerah Jepara misalnya, kicak terbuat dari singkong yang diberi taburan parutan kelapa dan gula merah. Dari bahannya, kicak versi Jepara ini barangkali memiliki citarasa mirip dengan gethuk. Berbeda dengan kicak versi Kauman yang berbahan dasar beras ketan.

Kicak
Kicak versi Kauman

Adalah Mbah Wono, orang pertama yang membuat kicak Kauman sejak tahun 80-an. Mbah Wono adalah warga asli kampung Kauman. Dulu, beliau membuat kicak untuk dijual sebagai menu harian di warung nasinya. Namun, ternyata kicak lebih digemari pada saat bulan Ramadhan dibandingkan pada hari-hari biasa. Sejak saat itulah, kicak akhirnya hanya dibuat setiap bulan Ramadhan saja.

Sayangnya, belum diketahui mengapa beliau memberi nama penganan ciptaannya ini kicak. Anak cucu Mbah Wono sendiri belum sempat menanyakan hal ini kepada beliau. Saat ini, Mbah Wono telah meninggal dunia. Namun, tradisi membuat kicak selama bulan Ramadan masih terus dilanjutkan oleh anak cucu beliau. Bahkan, banyak pedagang lain yang kemudian juga membuat kicak dengan modifikasi mereka sendiri. Kini, kicak dapat dijumpai setiap bulan puasa di Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman. Letaknya di sepanjang lorong kampung Kauman.

Masjid Kauman
Masjid Gede Kauman

Nah, mencicipi kue kicak ini menjadi salah satu momen khas Ramadan versi saya. Kalau sekarang, sih, penjual kicak mungkin sudah menjamur, di mana-mana ada. Tapi, rasanya belum mantep aja kalau belum mencicipi kicak yang asli dari Kauman. Jadi, kemarin sepulang kerja saya sempatkan mampir menyusuri lorong-lorong kampung Kauman untuk membeli penganan ini. Ada yang sudah pernah makan kicak juga? 🙂

Jalan-Jalan

Candi Kalasan dan Candi Sari: Dulu Bercahaya di Tengah Hutan Rimba

Beberapa waktu yang lalu, saya berencana untuk mengunjungi Candi Kalasan sendirian. Waktu saya sampaikan niat itu kepada seorang kawan, reaksinya: “Hah? Sendirian? Mau ngapain??”

Jadi, tujuan saya sebenarnya adalah sekadar ingin melepas penat. Saat sedang dalam kondisi suntuk atau bad mood, saya biasanya selalu ingin menyendiri. Jalan-jalan sendiri, kulineran sendiri, atau naik bus dengan rute yang lebih jauh sekadar untuk menenangkan diri. Yang belum pernah saya coba adalah jalan-jalan ke candi sendiri. :))

Sebenarnya saya juga bukan orang yang pemberani, sih. Saya pilih Candi Kalasan karena lokasinya cukup dekat dari kantor. Candi ini terletak di tepi jalan raya Jogja-Solo. Sekitar 13 km dari Candi Prambanan. Tepatnya di Dusun Kalibening, Tirtamani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Sudah dua kali saya berkunjung ke candi ini (tapi sama teman, haha). Dan, saya sudah sangat terkesan sejak awal kunjungan. Candi Kalasan memang bukan kompleks candi yang luas seperti Prambanan. Hanya ada satu bangunan candi yang besar, tinggi menjulang. Namun, satu candi itu di mata saya terlihat eksotis sekaligus menawan.

Candi Kalasan
Candi Kalasan

Konon, candi ini dibangun pada abad ke-8 dan merupakan candi peninggalan Buddha. Candi Kalasan yang memiliki nama lain Candi Kalibening ini dibangun oleh Rakai Panangkaran sebagai sarana pemujaan Dewi Tara sekaligus biara untuk para pendeta. Keterangan ini tertulis dalam sebuah prasasti yang ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan situs Candi Kalasan. Menurut para ahli, prasasti yang tertulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf pranagari tersebut diperkirakan ditulis pada tahun Saka 700 atau 778 Masehi.

Salah satu keistimewaan dari Candi Kalasan adalah adanya Bajralepa yang melapisi dinding batu dari candi ini. Bajralepa merupakan semacam lapisan yang bisa membuat batu-batu candi ini jadi tampak mengkilap kalau terkena cahaya (emm, kayak plitur gitu kali ya kalau zaman sekarang? *ngawur, abaikan*). Lapisan bajralepa dapat memantulkan cahaya sehingga dinding-dinding batu candi akan tampak gemerlapan. Selain fungsi estetis tersebut, lapisan yang konon memiliki sifat kedap air ini juga berfungsi untuk melindungi batu-batuan candi dari paparan sinar matahari dan guyuran hujan.

Selain Candi Kalasan, terdapat candi lain yang juga dilapisi bajralepa, yaitu Candi Sari. Lokasi Candi Sari tak jauh dari Candi Kalasan, kira-kira sekitar 0,5 km ke arah timur dari Candi Kalasan. Tepatnya di Dusun Bendan, Tirtamartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Saya juga pernah mengunjungi candi ini sebanyak dua kali. Meskipun kali kedua saya kurang beruntung, karena sudah terlalu sore jadi sudah tutup.

Candi Sari
Candi Sari

Candi Sari memiliki nama lain Candi Bendan. Barangkali merujuk kepada nama dusun di mana candi tersebut berada, Dusun Bendan. Dalam prasasti yang ditemukan di lokasi penemuan Candi Kalasan, tertulis juga keterangan mengenai Candi Sari. Jadi, candi ini ternyata masih ada hubungannya dengan Candi Kalasan. Sama-sama dibangun oleh Rakai Panangkaran pada abad ke-8. Diperkirakan Candi Sari dibangun sebagai biara atau asrama bagi para pendeta Buddha. Dan, sama halnya dengan Candi Kalasan, sisa-sisa lapisan bajralepa katanya juga masih dapat dilihat di Candi Sari.

Sebagai orang yang awam dalam hal ini, saya kurang tahu juga persisnya yang mana itu lapisan bajralepanya. 😀 Namun dalam pengamatan awam saya, dinding batu Candi Kalasan dan Candi Sari tampak berwarna keputih-putihan jika dibandingkan dengan candi-candi yang lain. Mo’on maap ya… kalau keliru. Yang jelas, membaca sejarah dari Candi Kalasan dan Candi Sari ini, saya jadi membayangkan, berabad silam, kedua candi ini berdiri menjulang di tengah hutan rimba (katanya sih, dulu daerah Kalasan adalah alas/hutan), lalu berkilau keemasan oleh pantulan sinar bulan. Wuaaa… pasti indah sekali yaaa… 😀

Kembali kepada rencana saya untuk menenangkan diri di Candi Kalasan sebagaimana yang saya kemukakan di awal tulisan, pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengurungkannya. Sebab kata kawan saya, “Kalau kamu lagi galau, mending dengerin sholawatan. Bukannya malah ngelamun di tempat peninggalan purbakala. Bisa-bisa nanti disamperin jin. Apalagi sendirian.”

Oke, saya menyerah!

Seni & Budaya

Asyiknya Nonton Gladhen Prajurit di Tengah Gerimis

Nonton kirab prajurit kraton merupakan agenda yang saya gemari sejak kecil. Waktu kecil, saya akan senang sekali ketika almarhum simbah wedok (mbah putri) mengajak saya ke alun-alun utara yang jaraknya tak jauh dari rumah untuk menyaksikan acara garebeg. Apa yang saya tunggu di acara itu? Tentu saja iring-iringan prajurit kraton yang mengantarkan gunungan keluar dari dalam kraton untuk selanjutnya nanti akan dirayah atau dibagi-bagikan ke masyarakat. Iring-iringan bregada prajurit kraton yang berbaris dengan diiringi istrumen perpaduan genderang, seruling, dan terompet yang dibunyikan dengan irama lambat sungguh membuat saya terpesona.

Bahkan, saya tak segan  duduk bersila dengan nyaman di atas rumput pinggir trotoar. Tak peduli jika sesekali harus menggaruk kaki yang gatal akibat digigit semut api yang bersarang pada akar rumput di dalam tanah. Hal ini tentu sudah tak bisa lagi saya lakukan saat ini. Selain karena rumput yang ada di alun-alun tidak serimbun dulu sehingga tidak memungkinkan untuk bersila di sana, juga karena sudah tua oiii… jadi nggak bisa sebebas waktu masih kecil. Hahaha

Namun demikian, bertambahnya usia tidak menyurutkan kegemaran saya untuk nonton kirab prajurit Kraton. Dulu, selain di acara Garebegnya, saya biasanya juga menyaksikan arak-arakan para prajurit itu ketika mereka latihan dan lewat di depan rumah. 😀 Namun, belakangan pihak pariwisata Kraton membuat agenda sendiri untuk latihan prajurit ini sehingga bisa disaksikan oleh masyarakat luas. Agenda tersebut diberi tajuk “Gladhen Prajurit”. Nah, pada postingan ini saya mau cerita pengalaman saya waktu nonton gladhen prajurit dalam rangka acara Garebeg Maulud tahun Dal 1951. Late post banget sih emang. 😀

GP 1
Hujan-hujan stand by di alun-alun utara 😀

Dalam setahun, setidaknya ada tiga kali acara garebeg, yaitu pada waktu Idulfitri, Iduladha, dan Maulud Nabi Muhammad saw. Dari masing-masing acara garebeg tersebut, pasti ada gladhen-nya. Saya kurang tahu juga berapa kali persisnya mereka latihan. Tapi, acara “Gladhen Prajurit” selalu bisa ditonton setidaknya dalam tiga kali garebeg itu. Dalam acara gladhen ini, para prajurit belum memakai kostum dan atribut lengkap. Mereka memakai “pakaian dinas”-nya para abdi dalem. Kalau tidak salah, pakaian ini disebut dengan nama “baju peranakan”, yaitu satu set baju atasan lurik, bawahan jarik, serta ikat kepala blangkon. Tak ketinggalan keris yang terselip di pinggang.

Terkait baju peranakan, ternyata setiap detail dari baju ini memiliki makna tersendiri, loh. Dari laman Facebook Kraton Jogja dijelaskan bahwa dalam baju peranakan terdapat 6 buah kancing di bagian leher yang melambangkan rukun iman dan 5 buah kancing di ujung lengan menyimbolkan rukun Islam. Adapun nama “peranakan” itu sendiri memiliki makna “satu keturunan”. Nama ini bukan tanpa maksud. Kata “peranakan” dipilih untuk menjadi nama pakaian dinas para abdi dalem sebagai wujud harapan agar para abdi dalem satu sama lain saling menjaga hubungan harmonis layaknya saudara kandung atau saudara satu keturunan.

GP 2
Para prajurit  keraton Yogyakarta dengan pakaian peranakan

Kembali ke acara Gladhen Prajurit, waktu itu saya sempat pesimis tidak jadi nonton acara yang sudah saya tunggu-tunggu ini, sebab tiba-tiba hujan turun deras sekali. Sampai pada jam di mana acara seharusnya dimulai, hujan tidak kunjung reda. Malah semakin deras. Saya pikir, “Ah, jangan-jangan gladhen-nya juga nggak jadi, nih. Hujan begini.” Tapi, tak lama kemudian, dari rumah terdengar sayup-sayup suara terompet dan genderang. Walah… sudah mulai yak! Akhirnya, saya dan kawan nekat pakai payung menuju ke lokasi.

Awalnya kami menyaksikan arak-arakan mereka dari Kemandhungan Ler atau Keben. Di tengah hujan deras, para prajurit itu tetap semangat menabuh genderang, meniup terompet, dan berbaris masuk ke dalam salah satu areal di Keraton, yang kemudian nanti akan keluar kembali melalui gerbang Pagelaran Keraton. Salut, deh. Para prajurit itu yang sebagian juga terdiri dari bapak-bapak sepuh, tetap semangat meski hujan sedang lebat.

GP 3
Tetap semangat meski sedang hujan

Nah, karena kami nggak boleh ikut masuk ke dalam areal Kraton, maka dari Kemandungan Ler kami kemudian langsung ngacir ke alun-alun utara dan menunggu para prajurit keluar dari pintu gerbang Pagelaran Kraton. Di sana, ternyata banyak juga orang-orang yang sudah berdiri di tepi trotoar untuk menyaksikan Gladhen Prajurit. Meski waktu itu hujan belum sepenuhnya reda. Masih ada gerimis tipis-tipis.

Nah, karena pada waktu itu bertepatan dengan tahun Dal, maka rangkaian acara garebeg pada waktu itu pun berbeda dari tahun-tahun biasanya. Konon tahun Dal ini hanya terjadi selama 8 tahun sekali, demikian kata salah satu bapak prajuritnya waktu saya tanya. Jadi, kalau biasanya gunungan akan langsung dirayah oleh masyarakat sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan, pada tahun tahun Dal ini ada satu gunungan lagi yang harus para prajurit bawa pulang kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para kerabat Keraton. Gunungan tersebut dinamakan gunungan Bromo. Sebelumnya, gunungan Bromo akan ikut diarak bersama gunungan yang lain. Dua gunungan lanang kemudian dibawa ke Kepatihan dan Puro Pakualaman, lima gunungan dibagikan kepada masyarakat di pelataran Masjid Gedhe Kauman, sedangkan gunungan Bromo dibawa kembali ke Kraton. Pada waktu gladhen, gunungannya belum dibawa tentu saja.

GP 4
Menunggu gunungan Bromo dibacakan doa di pelataran Masjid Gedhe Kauman

Bagi saya sendiri, sebenarnya lebih menyukai nonton Gladhen Prajurit daripada waktu acara garebeg-nya. Meskipun belum ada gunungan serta para prajuritnya belum memakai atribut dan kostum lengkap, tapi saya lebih bisa menikmati rangkaian acaranya. Sebab, pada waktu garebeg biasanya akan crowded sekali. Alih-alih menikmati acara, saya harus berjibaku senggol-senggolan dengan penonton lainnya. Pernah suatu kali, saya hampir berakhir di tangan paramedis karena dehidrasi waktu nonton garebeg. Untung nggak pingsan. Kan, malu kalau sampai pingsan. 😀

Suka-Suka

Ketika Smartphone Membuat Hidup Terasa Bising

9568276_201803180938090520
gambar diambil dari https://www.kaskus.co.id

Belakangan ini, saya sering merasa ingin kembali ke zaman di mana belum ada smartphone. Zaman di mana kita harus sabar menunggu beberapa hari untuk bertegur sapa dengan kawan yang terpisahkan jarak. Menunggu ketika Pak Pos datang membawakan sepucuk surat balasan dari kawan lama. Bukannya saya tidak mau menerima kemajuan zaman, saya hanya merasa kesepian di tengah keramaian. Merasa hampa di tengah gempuran chat whatsapp yang seolah tidak ada habisnya. Ramai, sih. Tapi, hati ini rasanya kosong karena terlalu banyak haha hihi. Intinya, saya hanya ingin menikmati melipir sejenak dari hiruk pikuk yang mungkin ditimbulkan dari handphone pintar ini.

Bayangkan saja, misal dari satu handphone terinstal beberapa aplikasi sosial media, seperti facebook, twitter, instagram, dan sebagainya, yang kesemuanya dalam posisi log in. Maka, harus siap mendapatkan notifikasi masuk kapan saja.

Itu baru akun medsos, belum aplikasi messenger seperti whatsapp, BBM, Line, dan lain sebagainya. Dan, di masing-maing platform messenger kita join ke dalam beberapa grup. Grup ini kadang juga bukan kemauan kita untuk gabung, hanya dimasukkan oleh teman yang tidak kuasa ditolak demi kesopanan. Nah, bayangkan ketika setiap grup sedang ramai. Handphone tidak akan berhenti bergetar dan berbunyi “tang-ting-tang-ting”. Pusyiinngg…

Saya pribadi hanya pakai satu aplikasi messenger, yaitu Whatsapp. Lalu, beberapa grup juga sudah saya silent (hehe… piss!). Namun demikian, tetap saja perhatian teralih saat tahu ada banyak chat yang belum terbaca. Jadi penasaran untuk membacanya satu per satu. Akhirnya, buang-buang waktu. Saya sering diam-diam leave grup demi kesehatan jiwa. Tapi sialnya, setiap kali leave saya selalu tertangkap basah. :))

Gabung dengan grup-grup seperti itu sebenarnya seru, sih. Bisa punya teman ngobrol seru-seruan saat sedang merasa kesepian. Pun bisa saling berbagi informasi. Namun, ada kalanya saya ingin menyepi dan tidak berinteraksi dengan banyak orang untuk sementara waktu. Nah, inti dari tulisan ini sebenarnya adalah saya cuma mau curhat saja, sih. Daripada jadi penyakit kalau cuma dipendam, jadi sebaiknya diceritakan. Dan, saya nggak tahu mesti cerita ke siapa yang paling tepat. Makanya, saya nyampah di sini saja. Hahaha mo’on maap ya pemirsa…. 😀

Suka-Suka

Review Ala-Ala Lagu Mirasantika Rhoma Irama: Say No To Drugs

Singkat saja, karena saya sedang lemes, haha. Postingan ini terilhami dari kawan saya, Mpok Nanik, yang begitu menggemari Bang Haji Rhoma Irama. 😀

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan lagu milik Bang Haji Rhoma Irama ini. Liriknya yang cukup menggelitik karena adanya repetisi dari kata “tak”, tak jarang akan membuat kita senyum-senyum sendiri setiap kali mendengarnya. Namun demikian, di samping liriknya yang lucu itu, lagu ini sebenarnya mengandung nasihat yang cukup penting.

Dalam lagu Mirasantika, terdapat pesan agar kita senantiasa “Say No to Drugs!”. Sebab, minuman keras dan narkotika itu dapat membawa kita kepada banyak hal-hal buruk, yang pada akhirnya tidak hanya akan merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.

Gara-gara kamu orang bisa menjadi gila

Gara-gara kamu orang bisa putus sekolah

Gara-gara kamu orang bisa menjadi edan

Gara-gara kamu orang kehilangan masa depan

Tentu kita semua sudah tahu belakangan ini banyak berita-berita menyeramkan yang kesemua itu diakibatkan oleh miras dan obat-obatan terlarang. Sebagaimana kata Bang Haji dalam lagunya, minuman keras dan obat-obatan terlarang itu dapat menghancurkan hidup dan merusakkan jiwa. Maka, jangan sekali-kali mendekati benda-benda haram itu. Say no to drugs! Katakan, “Tak-tak-tak-tak-tak ku tak sudi tak sudi tak!