Jalan-Jalan

Silaturahmi ke Kulon Progo

Kata orang, silaturahmi itu bisa membuat kita awet muda. Terlepas dari bagaimana penjelasan medisnya sehingga silaturahmi itu bisa membuat kita awet muda, sesungguhnya agama pun mengajarkan demikian. “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya, dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturahmi,” begitu sabda Nabi saw. yang diriwayatkan dalam hadis Al-Bukhari. Berangkat dari alasan itulah, kami memulai petualangan ini.

Tanggal 22 Agustus 2012, masih dalam suasana bulan Syawal. Sesuai kesepakatan bersama, jam 9 kami berkumpul di kantor. Tepat waktu, semua datang pukul 9 (9.10, 9.30, 9.45, dan lain-lain). -___-

Tujuan pertama adalah ke rumah seorang teman yang lokasinya dekat kantor. Di sana, kami disambut oleh senyum ramah istrinya serta tingkah lucu ketiga anaknya, dan… yak! Itu dia! Kudapan favorit sepanjang masa, kacang mete! Maka dengan tatapan malu-malu tapi mau, kacang-kacang itu berhasil mendarat dengan mulus dalam genggaman, sebelum berakhir di mulut memanjakan indra pencecap. Haha….

Rute selanjutnya adalah ke rumah Pak Kijo, bapak yang sangat berjasa membuatkan kami teh setiap pagi. Di sana, sambutan tak kalah hangat. Setelah bersalam-salaman, mengucapkan minal aidzin wal faidzin, dan tak lupa memohon maaf lahir dan batin, kami kembali dijamu dengan kue-kue yang seolah wajib ada pada waktu Lebaran. Berhubung kami datang tepat pukul 12, maka menu makan siang khas Lebaran pun turut memanjakan lidah kami. Bukannya sengaja sih, tapi ya… alhamdulillah. 😀

Kulon Progo

Setelah perut kenyang dan salat Zuhur, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Kulon Progo. Silaturahmi sekalian menjenguk teman yang baru saja mendapat halangan, jatuh dari motor. Perjalanan yang cukup panjang, mendaki gunung, melewati lembah, dan sungai yang mengalir indah ke samudera. Astaga… lebay! Hehe… ralat, tidak sampai segitunya sih, kami hanya menemukan beberapa narsis area, seperti hutan-hutan kering ini.

1

2

Sesampainya di sana, kami lagi-lagi bertemu dengan kue-kue khas Lebaran, kudapan favorit, dan… makan lagi??? Waaw… mungkin inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi, bahwa dengan silaturahmi Allah akan menambah umur kita. Yup, banyak makan, banyak asupan gizi, badan kita akan sehat dan panjang umur. Insya Allah. Amin. 😀

p10001661

p10001671

Setelah puas temu kangen sambil memanjakan mulut dan perut (ngemil maksudnya), saatnya kami memanjakan otak. Refreshing! Perjalanan pun dilanjutkan ke pantai terdekat, Pantai Trisik.

Oke, walau saya bilang pantai terdekat, bukan berarti bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki lho, ya…. (‘___’!) Perjalanannya cukup jauh juga, akan tetapi tak mengurangi semangat. Karena di sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan sawah yang menghijau, jembatan plus sungai yang jernih di bawahnya, udara segar.

3

Hingga tanpa terasa pantai sudah dekat. Hawa dingin sudah menyusup kulit, bau laut sudah tercium, nah… itu dia! Laut di depan mata! Bergegas kami memarkir motor dan segera menuju TKP. Tapi, tunggu… yang lain mana??!!

Ban Bocor

Ternyata mereka berakhir di tukang tambal ban. Yeah, ban motor salah satu teman kami bocor. Untung saja kami menemukan narsis area lain, yang bisa dimanfaatkan untuk mengusir kebosanan sembari menunggu tukang tambal ban menyelesaikan pekerjaannya. 😀

p1000177
Trio galau

p1000175
Duo India
p1000179
Sedang antre perahu getek. Haha ^^

p1000187
Ini bukan penunggu jembatan lho ya, karena kami bukan si Manis. #eh
p1000183
Apalagi yang ini. Sama sekali bukan penunggu jembatan, karena ini bukan di Ancol. ^^

Pasir

Tepat pada saat azan Magrib berkumandang, tukang tambal ban berhasil menyelesaikan hasil karyanya. Karena masih penasaran, kami memutuskan mencari mushala terlebih dahulu untuk salat Magrib, kemudian kembali ke rencana semula, ke pantai. Mushola pertama yang kami temui cukup horor, tempat wudu yang gelap gulita tanpa penerangan sedikit pun. Akhirnya kami memilih untuk mencari musala lain, di sekitar pantai. Dalam hati masih ngarep ke pantai soalnya.

Tiba-tiba, motor yang tadi baru saja mendapat pertolongan pertama dari tukang tambal ban, nyungsep di pasir. Jalan di depan musala horor itu memang ketutup pasir yang cukup banyak, jadi motor nggak bisa jalan (Ngerti nggak maksudnya? -___-“). Setelah berhasil membebaskan motor tersebut, perjalanan pun dilanjutkan. Beberapa meter kemudian, lagi-lagi kami berurusan dengan pasir. Bukan nyungsep lagi, melainkan sudah sampai pada tahap terjerembap (biar dramatis). Salah satu motor—kebetulan motor yang saya tumpangi—jatuh karena terpeleset pasir yang berserakan di aspal (Ngerti maksudnya lagi nggak? Kayaknya saya sedang bermasalah dengan tata kalimat -___-”), tepat di depan sebuah musala. Hmm… mungkin kami memang tidak diridhoi untuk ke pantai. Jadi, setelah salat Magrib, kami memutuskan untuk pulang.

Bakso & Es Teh

Kurang lebih pukul 20.30, kami sampai di Jogja. Kami lalu mampir ke sebuah warung makan sebelum pulang ke rumah masing-masing. Melihat kedatangan kami, penjaga warung segera memasang senyum standar penjaga warung, toko, minimarket, dan lain-lain. 😀 Dengan santun, ia bertanya:

“Mau makan apa?” Ada yang memesan bakso, dan yang lainnya mi ayam.

“Oh, maaf. Tapi, makannya tinggal bakso.” Apa boleh buat, bakso pun menjadi satu-satunya menu makanan yang dipesan.

“Minumnya?” penjaga warung bertanya lagi.

“Es jeruk.”

“Saya juga es jeruk.”

“Maaf, tapi minumnya tinggal es teh,” kata penjaga warung final.

Ampun deh, ngapain tadi dia tanya mau makan dan minum apa kalau menunya tinggal dua macam itu? -____-

Dan perjalanan itu pun berakhir dengan semangkuk bakso dan segelas es teh manis. Oke, sekian dari saya. Maafkan jika ‘bentuk’ catatan ini seperti anak TK yang sedang belajar mengarang, karena saya sedang limit. #malah curhat#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *