Membaca & Menulis

Senja di Pantai

Sejak kecil Sora sudah menyukai pantai. Tak ada alasan khusus, hanya suka. Sejak pertama kali ayahnya mengajaknya ke pantai yang hanya terletak beberapa meter dari rumahnya, ia sudah tepesona pada birunya air laut yang membentang tak terbatas. Lalu saat melihat horizon, kaki langit yang berbatasan dengan permukaan air laut di ujung sana, ia mulai bertanya-tanya dalam benaknya, apakah air laut itu benar-benar menyentuh langit? Ia juga suka sekali dengan sensasi yang ditimbulkan oleh pasir-pasir pantai yang menyentuh telapak kakinya. Angin laut yang menggoda anak-anak rambutnya, mengantarkan aroma laut yang khas ke indra penciumannya. Serta riak-riak kecil air laut yang jahil, yang selalu mengusik kenikmatannya menatap horizon sambil duduk di tepi pantai, yang selalu membuatnya terpekik kaget dan refleks bediri agar roknya tidak basah, walau akhirnya tetap basah juga.

Sora suka ke pantai pagi hari, melihat matahari terbit. Melihat bagaimana matahari itu muncul perlahan menyibak awan, membuat langit yang gelap menjadi biru tua, dan air laut yang hitam berubah keperakan. Sora juga suka ke pantai siang hari, melihat nelayan yang hilir mudik ke tempat pelelangan ikan setelah semalam melaut, mengais rezeki untuk keluarganya di rumah. Udara pantai di siang hari yang panas membakar kulitnya, justru menghangatkan hatinya. Sora belum pernah ke pantai saat senja, bukan karena tak suka, tapi karena senja adalah kelemahannya. Rabun senja, itulah yang dideritanya. Saat senja, maka dunia akan menjadi samar di matanya. Sora ingin sekali melihat pantai saat senja, namun tak bisa.

Adalah Aiden, sahabatnya sejak kecil, yang selalu bercerita tentang senja di pantai untuknya. Aiden bilang, saat senja, matahari seolah akan tenggelam di laut. Burung-burung camar terbang berkelompok kembali ke sarang. Langit berwarna oranye, sedangkan air laut berwarna keemasan, sebelum semuanya menjadi hitam pekat, menampakkan bulan yang gagah bertengger di langit menggantikan tugas matahari menerangi bumi.

Saat itu, untuk kesekian kalinya Sora terpana mendengar cerita Aiden tentang senja di pantai. Ia penasaran ingin melihatnya. Aiden berjanji besok akan memotretkan senja di pantai untuknya. Tapi Sora tak sabar lagi, ia membujuk Aiden untuk memotret senja saat itu juga. Aiden mengalah, ia berangkat ke pantai demi Sora, sahabat kecil yang diam-diam dicintainya. Tanpa tahu bahwa saat itu air laut sedang pasang, dan tak menyangka bahwa ketika ia tengah asyik membidikkan kameranya, ombak besar datang menghampirinya bersama sosok bertudung hitam tak kasat mata yang menjemputnya. Maut. Aiden tak bisa menghindarinya lagi.

Esoknya, Sora sedikit kesal menanti Aiden yang tak kunjung datang memenuhi janjinya, membawakan foto senja di pantai untuknya. Ia bergegas ke pantai, melihat sunrise sudah tak mungkin, tapi suasana pagi di pantai mungkin bisa mengusir kekesalannya. Namun, yang ia dapati justru pemandangan yang menyesakkan. Para nelayan berkerumun pada sesosok tubuh yang baru saja mereka temukan mengapung di laut. Di tangannya masih tergenggam kamera pocket yang ia gunakan untuk memotret senja. Senja di pantai untuk Sora.

#Untuk memenuhi tugas pertama tahap 1 Gradien Writer Audition

Tugas: Narasikan “Senja di Pantai”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *