Membaca & Menulis

Back To The Past: Yogyakarta 1950

Yup, kalau tak salah tebak nih, kurang lebih sudah lima menit aku celingak-celinguk kayak orang o’on sejak membuka mataku tadi. Mungkin karena baru bangun tidur, otakku jadi tidak bisa bekerja dengan sempurna. Ah, tidak! Bukan salah otakku, tapi memang keadaan ini yang mencapai batas nalarku. Aku mengacak rambutku frustrasi.

Saat bangun tidur tadi, aku dikejutkan oleh dua hal yang sempat membuatku percaya bahwa aku masih bermimpi. Pertama, aku mendapati diriku terbangun di sebuah tempat asing. Tak sepenuhnya asing sih, sepertinya ruangan ini pernah masuk dalam memoriku. Ini seperti rumah Simbah di mana waktu kecil aku juga tinggal di sana, hanya saja bentuknya lain. Maksudnya, perabotan-perabotan sederhana ini sangat berbeda dengan yang kulihat dulu. Kedua, ini yang paling mengejutkan bagiku. Aku menatap perutku yang membuncit, mengelusnya pelan, sesuatu bergerak di sana. Aku… hamil??! Heloooww… ini sungguh tak logis. Aku belum menikah, bagaimana bisa aku tiba-tiba hamil sebesar ini dalam waktu semalam? -_____-

Somebody please tell me what’s going on!

Seorang pria tiba-tiba muncul di ambang pintu. Pria itu mirip sekali dengan bapakku, hanya sedikit lebih kerempeng. Mengenakan surjan lurik dan jarik, ala abdi dalem kraton. Dia tersenyum, lalu berjalan mendekatiku. Refleks aku mundur.

“Kau sudah bangun?” katanya. Aku tak menjawab.

“Kau tidur nyenyak sekali, aku jadi tak tega membangunkanmu,” lanjutnya. Ia menghampiriku yang kini telah terpojok di tembok. Aku menelan ludah panik.

“Aku ke kraton dulu ya? Kau baik-baik di rumah. Hari ini tak usah ke pasar. Aku sudah minta tolong pada Yu Iro kalau kau butuh sesuatu,” katanya sambil mengenakan blangkon yang diambilnya dari lemari. Ia mencium keningku lembut, mengusap perutku yang buncit dan menciumnya juga. Lalu pergi meninggalkanku yang bingung dan frustrasi.

***

“Salamah, kau di dalam? Aku masak sayur kangkung hari ini. Ayo sarapan bersama!” suara cempreng itu menginterupsi segala analisa otakku yang masih random akan apa yang sedang kualami.

“Mas Hadi sudah berangkat ke kraton ya? Haa… beruntung sekali kau, dia suami yang baik.”

Tunggu dulu! Apa dia bilang tadi! Hadi? Suamiku? Pria yang mirip bapakku tadi? Lalu, siapa dia memanggilku tadi? Salamah? Ah… sebuah pencerahan terbetik di otakku. Walau masih tak bisa diterima akal sehat, tapi Hadi dan Salamah itu nama simbahku. Kesimpulanku sementara, pria tadi adalah Mbah Kakung yang masih muda, dan aku… Mbah Putri? Memang banyak yang bilang aku mirip Mbah Putri sih.

“Aaa… siapa kau memanggilku tadi?!!” Karena penasaran, aku berlari keluar menemui pemilik suara cempreng itu. Perutku… eem, maksudnya perut Simbah, yang besar ini mengganggu pergerakanku. “Akhhh…!!” Kakiku tersandung kaki kursi, membuatku mendarat dengan sempurna ke lantai tanah rumah Simbah.

Perempuan paruh baya pemilik suara cempreng tadi menghampiriku panik. “Salamah! Hati-hati!”

“Auwh…,” rintihku. Perutku mulas sekali. Lebih dahsyat rasanya dibanding sakit perut yang tiap bulan kurasakan.

“Waduh, gawat!” wanita itu makin panik saat melihat darah yang mulai mengalir di kedua kakiku. “Tunggu sebentar, aku panggil Mbah Prapto!” Dia ngacir keluar, meninggalkanku yang sekarat.

“Aaarrrggghhh…!” aku terengah.

Kemudian gelap.

 

#Event menulis “Back to The Past”, Gagas Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *