Opini

Bijak Menggunakan Sosial Media

logo
Gambar diambil dari pesanlogo.net

Zaman sekarang, siapa sih yang nggak punya akun social media? Hampir semua punya, ya. Bahkan, tak cukup hanya satu, masing-masing orang bisa punya akun sosial media dari berbagai platform. Pun tak hanya didominasi oleh para kawula muda, sosial media juga menjadi milik para orang tua. Hampir semua orang menggunakan sosial media. Tentu saja, dengan maksud dan tujuan masing-masing. Bisa untuk bisnis, atau sekadar ingin eksis.

Dalam perkembangannya, sosial media kini jadi ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, sosial media memudahkan orang-orang untuk saling terhubung meski jarak ribuan mil jauhnya. Namun di sisi lain, sosial media juga dapat membawa dampak negatif, baik bagi diri sendiri, pun bagi orang lain.

Maka, bijaklah dalam memakai sosial media. Berikut ada beberapa poin mengenai apa yang sebaiknya tak dilakukan di sosial media, berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya sendiri.

  1. Pikir dulu sebelum share sesuatu

Banyak berita abal dan seringnya cenderung hoax di sosial media. Parahnya, kita langsung mudah terprovokasi dan membagikannya begitu saja. Lebih parah, sebagian dari kita malah langsung merespons dengan nyinyir tanpa membaca terlebih dahulu isinya dengan saksama. Hanya melihat judul yang provokatif, lalu tersulut dengan pikiran yang negatif. Akibatnya, semakin banyak link tersebut dibagikan, semakin menyebar pula pikiran-pikiran negatif itu.

Baiknya, pilah dan pilih terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membagikan sesuatu. Pilih hanya dari sumber yang terpercaya untuk share sebuah berita. Pastikan juga kebenarannya. Jangan lupa dibaca dulu, ya. Jangan asal komen nyinyir padahal baru baca judulnya doang. Intinya, think before sharing.

  1. Klik like dan tulis “aamiin” untuk ikut mendoakan

Di sosial media kadang kita menemukan foto/gambar menyedihkan lalu disertai tulisan seperti ini, “Klik like dan komen ‘aamiin’ untuk mendoakan.” Tak jarang foto-foto tersebut berupa foto korban suatu musibah yang berdarah-darah, yang bahkan untuk melihatnya pun rasanya tak tega. Nah, dengan mengetik like dan menuliskan komentar, otomatis foto itu akan terus beredar ke linimasa. Kalau kita saja tidak nyaman melihat foto-foto itu, maka demikian halnya penghuni linimasa lainnya. Hormati mereka juga, ya. Kalau memang berniat ikut mendoakan, cukup doakan dalam hati saja. Karena sesungguhnya Allah maha mendengar setiap doa hamba-Nya.

Selain itu, saya pernah membaca sebuah artikel yang menyatakan kalau disinyalir ada modus di balik postingan “klik like dan aamin” itu. Berikut penjelasannya yang saya ambil dari sebuah thread di kaskus.

1750262_20150107111649

  1. Nyampah, marah-marah, sumpah serapah, dan mengumbar keluh kesah

Zaman dulu, kalau kita punya diari pasti selalu milih yang ada gemboknya. Sebab di dalam diari itu akan tertulis curahan hati yang paling rahasia, yang tak semua orang boleh membacanya. Sekarang, malah sebaliknya. Sosial media jadi semacam diari tempat untuk berkeluh kesah. Yah, dulu saya juga sempat begitu. Namun akhirnya saya sadari bahwa dengan mengumbar keluh kesah, semua orang jadi tahu kalau kita sedang memiliki masalah. Alih-alih membantu, mereka justru hanya ingin selalu mau tahu, sehingga kita jadi punya masalah baru.

Selain itu, sosial media juga bukan tempatnya untuk marah-marah, apalagi sumpah serapah. Tentu kita belum lupa ada banyak kasus orang-orang yang harus berurusan dengan polisi hanya gara-gara menulis status di Facebook. Jadi, marah-marah di sosmed tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Justru menambah masalah. Lebih parah, citra kita di mata orang lain juga akan jadi negatif. Nah, kalau tadi kita harus think before sharing, sekarang lagi-lagi kita harus think before posting.

Sosial media adalah sarana untuk menjalin pertemanan dan mencari hiburan dari penatnya pikiran. Jadi, bijaklah menggunakannya. Jangan sampai menjadi senjata yang justru menyusahkan kita. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *