Buku

[Book Review] Oyako no Hanashi: Ketika Orang Tua Menjadi Sahabat Bagi Anak

Oyako No Hanashi
Gambar diambil dari sini

Judul: Oyako no Hanashi (Mom Vs Kid @ Japan)

Penulis: Aan Wulandari

Penerbit: Leutika

Cetakan Pertama: Juni 2010

Tebal: 168 halaman

Ketika mencermati judul dan subjudulnya, “Oyako no Hanashi: Mom Vs Kids @ Japan”, ditambah cover berlatar belakang bunga sakura dan rumah tradisional Jepang, saya membayangkan akan mendapati betapa serunya cerita keseharian seorang ibu bersama anaknya di Jepang. Maka, saya sedikit kecewa ketika isi dari buku ini tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Penggambaran setting yang kurang kuat, membuat saya tidak merasakan bahwa peristiwa yang diceritakan di dalam buku ini benar-benar terjadi di Jepang. Lebih mengecewakan lagi ketika ternyata cerita yang berlatar belakang Jepang hanya sampai pada halaman 55 saja, dari keseluruhan 168 halaman buku. Selebihnya adalah cerita keseharian ibu dan anak yang terjadi di Indonesia. Artinya, lebih dari separuh isi buku ini tidak ada hubungannya dengan jepang-jepangan. Barangkali inilah maksud ungkapan “Don’t judge a book by its cover”, sebab pada faktanya cover dari sebuah buku tidak bisa jadi acuan untuk mengira-ngira isinya.

Meskipun demikian, seluruh kekecewaan saya di atas sedikit terobati oleh Syafiq, anak kecil yang diceritakan di dalam buku ini. Di tengah kegundahan para orang tua terhadap anak-anak zaman sekarang yang bahkan sudah hafal lagu-lagu dangdut koplo (baca: dewasa sebelum waktunya), Syafiq adalah contoh anak yang cerdas, kritis, akan tetapi tetap polos sebagaimana seharusnya. Celotehan Syafiq tak hanya lucu dan menghibur, tetapi kadang-kadang juga tak terduga.

Terlepas dari kekecewaan yang tersebut di atas, membaca buku ini dapat memberikan gambaran bagi para orang tua atau calon orang tua bagaimana menghadapi celotehan-celotehan anak yang kritis. Menjadi sahabat bagi anak, seperti yang dilakukan oleh Mama dan Abah terhadap Syafiq dalam buku ini, mungkin adalah solusi yang baik daripada sekadar menjadi orang tua yang menggurui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *