Seni & Budaya

Prajurit Kraton Dulu dan Kini

prajurit-kraton-yogyakarta

Prajurit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa sekarang mungkin hanyalah menjadi salah satu simbol budaya warisan leluhur terdahulu. Kehadirannya bisa kita temui dalam acara-acara kebudayaan di Yogyakarta, seperti dalam Upacara Grebeg sebagai pengiring keluarnya Gunungan dari Kraton yang kemudian akan dibagi-bagikan kepada masyarakat. Sebagai simbol budaya, tak bisa dipungkiri bahwa pesona para prajurit kraton ini masih begitu memikat masyarakat Jawa pada umumnya, dan Yogyakarta pada khususnya. Terbukti, mereka rela berduyun-duyun datang ke Yogya dari segala penjuru demi bisa menyaksikan kirab prajurit kraton. Dengan bersenjatakan senapan dan tombak panjang, para prajurit kraton berbaris dengan gagah. Diiringi instrumen berirama lambat, perpaduan antara genderang, seruling, dan terompet. Menyimbolkan bahwasanya di balik sosok-sosok yang gagah itu, tersimpan jiwa yang lembah manah (sopan dan santun). Khas Yogyakarta.

Prajurit kraton dibentuk oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada abad ke-17, tepatnya pada tahun 1755. Falsafah dasar yang digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I ketika membentuk prajurit kraton ini adalah watak kesatria atau “Wataking Satriya Ngayogyakarta” yang berlandaskan pada kredo SawijiGregetSengguhOra Mingkuh. Sebagai falsafah hidup, Sawiji dapat diartikan sebagai sifat persatuan, bersatu untuk mencapai satu tujuan. Greget dimaknai sebagai semangat hidup atau kegigihan dalam berjuang. Sengguh berarti percaya diri dengan kemampuannya, akan tetapi tidak sombong dan tetap rendah hati. Sedangkan, ora mingkuh berarti sifat bertanggung jawab, pantang menyerah, dan tidak akan pernah mundur menghadapi segala tantangan yang menghadang dengan tetap tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa. Falsafah tersebut digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai landasan dalam pembentukan watak para prajurit kraton, yang harapannya nanti akan tercipta watak luhur yang berdasar pada idealisme serta komitmen untuk menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, integritas moral, serta nurani yang bersih dalam pengabdiannya terhadap nusa, bangsa, dan negara.

 

Adapun mengenai seragam dan atribut yang dikenakan oleh para prajurit kraton ini adalah berupa pakaian yang menjadi identitas dari orang Yogyakarta, yaitu Surjan. Sri Sultan Hamengku Buwono I telah menetapkan surjan ini sebagai pakaian identitas masyarakat Yogyakarta, beberapa waktu setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti.

Prajurit kraton Yogyakarta terdiri dari 10 bregada/prajurit, yaitu Bregada Wirabraja, Bregada Dhaeng, Bregada Patangpuluh, Bregada Jagakarya, Bregada Prawiratama, Bredaga Nyutra, Bregada Ketanggung, Bregada Mantrijero, Bregada Bugis, dan Bregada Surakarsa. Layaknya seorang prajurit, para prajurit kraton ini pada masa lalu juga ikut berperang melawan penjajah. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, para prajurit yang dulu dikenal dengan nama Prajurit Mataram ini pernah dua kali melakukan penyerbuan ke benteng VOC di Batavia (Jakarta) pada tahun 1628 dan 1629 atas perintah Sultan Agung. Mereka juga pernah perang menghadapi serbuan pasukan Inggris di bawah pimpinan Jenderal Gillespie pada bulan Juni 1812. Dulu mereka dipersenjatai bedil dan meriam. Bahkan, dalam beberapa catatan sejarah diceritakan bahwa pasukan dari Kraton ini cukup kuat, sehingga pasukan Inggris kewalahan. Dan masih banyak lagi perjuangan mereka melawan penjajah dari beberapa zaman.

Sayangnya, semenjak masa pemerintahan Hamengku  Buwono III, kompeni Inggris membubarkan angkatan perang Kasultanan Yogyakarta ini dalam sebuah perjanjian tanggal 2 Oktober 1813, yang ditandatangani oleh Sultan Hamengku Buwono III dan Raffles. Maka, sejak saat itulah peran dan fungsi prajurit kraton sebagai prajurit perang kemudian bergeser menjadi sebagai pengawal sultan dan penjaga kraton saja.

Pada masa kini, fungsi prajurit kraton kembali bergeser menjadi prajurit yang hanya muncul pada acara-acara seremonial yang diadakan kraton. Namun demikian, kita tetap wajib menaruh hormat yang tinggi, mengingat peran dan jasa-jasa mereka terhadap bangsa dan negara. Meskipun kini mereka bukanlah pasukan yang turut serta berjuang mengusir penjajah seperti tempo dulu, mereka harus tetap ada. Agar anak cucu kita nanti bisa ikut mengenang sejarah bahwa dulu negara Ngayogyakarta Hadiningrat (kini Kota Yogyakarta) pernah mempunyai pasukan perang yang tangguh dan ditakuti musuh.

 

*) Gambar diambil dari forum.viva.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *