Opini

Semoga Yogyakarta Tak Berhenti Nyaman

Ringin kurung alun-alun utara
Pohon beringin kembar di tengah alun-alun utara Yogyakarta pada pertengahan tahun 1857 (Gambar diambil dari Wikipedia.org)

Kejadian hari ini mau tak mau membuat ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam, ketika saya masih kecil, bersama Simbah menyaksikan sebuah pertunjukan yang istimewa, Kirab Grebeg Maulud Kraton Yogyakarta. Duduk bersila di atas rumput pinggir trotoar, tak peduli dengan rumput yang basah sebab hujan yang mengguyur malam harinya. Pun tak peduli ketika sesekali harus menggaruk kaki yang gatal karena digigit semut api yang bersarang pada akar rumput di dalam tanah. Saya sudah begitu terpesona pada iring-iringan bregada prajurit kraton yang berbaris dengan diiringi istrumen perpaduan genderang, seruling, dan terompet yang dibunyikan dengan irama lambat.

Kenangan itu begitu membekas, sehingga membuat saya ingin selalu mengulanginya. Maka, setelah bertahun-tahun waktu tersita oleh kesibukan dan tanggung jawab sebagai orang dewasa (baca: bekerja), siang tadi akhirnya saya bisa kembali mengulang nostalgia. Namun, situasi yang saya temui sungguh berbeda. Tak ada rumput basah untuk duduk bersila. Hujan memang turun deras semalam, akan tetapi hanya menyisakan tanah becek serta udara yang panas dan pengap. Ke mana rumput-rumput itu pergi? Barangkali mati karena terlindas bus-bus pariwisata, atau rusak ketika didirikan panggung-panggung pertunjukan dari stasiun-stasiun televisi ibu kota. Singkat cerita, rencana nostalgia saya gagal total sebab saya justru berakhir di tangan paramedis setelah sebelumnya kliyengan karena dehidrasi.

Yogya memang telah berubah. Cerita di atas mungkin hanya contoh kecil dari perubahan kota ini. Perubahan lain yang cukup signifikan di antaranya adalah banyaknya titik-titik kemacetan yang mulai bermunculan pada beberapa wilayah di Yogyakarta. Lagi-lagi ingatan saya jadi bernostalgia ke beberapa tahun silam, ketika bersama Bapak bersepeda di sore hari melewati sepanjang Jalan Malioboro. Kami bersepeda dengan santai, sambil sesekali Bapak menyuruh saya belajar mengeja nama toko-toko di Malioboro. Di sekitar kami, berseliweran orang-orang yang sedang joging. Juga andong dan becak yang mengantar ibu-ibu pulang dari Pasar Beringharjo. Beberapa di antaranya juga mengantar wisatawan berbelanja di Malioboro. Satu dua bus kota melintas. Suasana seperti itu mungkin sulit untuk kita dapati saat ini, sebab kendaraan bermotor seolah makin banyak saja memadati jalan-jalan di Yogya. Entah, barangkali karena faktor banyaknya pendatang, atau karena makin mudahnya masyarakat untuk membeli kendaraan-kendaraan tersebut dengan sistem kredit. Yang pasti, kegiatan bersepeda santai seperti yang biasa saya lakukan bersama Bapak tempo dulu tentu tidak bisa dilakukan lagi. Bagaimana bisa kita bersepeda dengan santai di tengah lalu lintas yang ruwet. Beberapa waktu yang lalu saya melihat seorang bapak tukang becak yang diklaksoni mobil ketika beliau sedang terengah-engah mengayuh becaknya, mungkin itu bisa jadi salah satu contohnya.

“Yogyakarta sudah menyerupai Jakarta,” kata teman saya.

Selain merujuk kepada kemacetan, barangkali kalimat tersebut juga ditujukan dengan maraknya pembangunan gedung yang terjadi di Yogya. Di satu sisi, pembangunan gedung-gedung ini menunjukkan bahwa Yogya sudah menjadi kota yang lebih maju sehingga para investor sudi meliriknya. Namun di sisi lain, maraknya pembangunan gedung ini juga cukup meresahkan. Pembangunan mal, hotel, apartemen, yang notabene sasarannya hanya untuk orang-orang “berduit”, akan mengundang banyak pendatang, utamanya mereka dari kota-kota besar. Hal ini membuat jumlah penduduk Yogya semakin padat, dan jumlah kendaraan semakin banyak, sehingga Yogya semakin macet. Lalu, bagaimana nasib penduduk lokal Yogya yang mayoritas berstatus sosial lebih rendah daripada orang-orang dari kota besar itu? Mau tak mau mereka harus mengikuti “gaya hidup” yang dibawa oleh para pendatang itu, atau bernasib seperti bapak tukang becak yang diklaksoni mobil ketika terengah-engah mengayuh becaknya tadi.

Banyaknya investor yang menanamkan modalnya ke Yogyakarta memang dapat menambah pendapatan daerah. Namun, hendaknya perlu dipikirkan juga kemanfaatannya untuk penduduk lokal Yogya itu sendiri. Dan bukan berarti menolak sebuah kemajuan, akan tetapi baiknya dipertimbangkan juga agar dengan kemajuan itu tidak lantas membuat Yogyakarta kehilangan jati dirinya serta tetap nyaman untuk ditinggali. Bukankah beberapa waktu yang lalu Yogyakarta dinobatkan menjadi “The Most Liveable City” di Indonesia?

Pada akhirnya, sebagai orang yang lahir dan tumbuh di kota ini, saya berharap semoga Yogyakarta tak berhenti nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *