Suka-Suka

Panggilan Kekerabatan di Jawa Itu Rumit

Family Tree
Gambar diambil dari mahadarmaworld.wordpress.com

Saya sempat ngakak ketika kawan saya cerita kalau dia dipanggil “simbah” (kakek) oleh salah seorang kerabat. Pasalnya, dia ini masih jauh dari kesan kakek-kakek. Sangat jauh dari kesan seorang pria tua bijaksana dengan rambut yang mulai terjajah uban di mana-mana. Dia hanyalah anak muda kekinian sebagaimana umumnya. :v

Usut punya usut, rupanya sapaan “simbah” itu disematkan kepadanya karena kerabat yang memanggilnya “simbah” ini merupakan anak dari anaknya sepupunya. Nah, loh! Bingung, yak? Sama, saya juga. Haha Tapi, kalau diuraikan kurang lebih seperti ini:

Generasi pertama: Kakek dan nenek kawan saya. Mereka kemudian punya beberapa anak, yang selanjutnya kita sebut saja sebagai generasi kedua.

Generasi kedua: anak-anak dari kakek dan nenek kawan saya, ada pakde, bude, paklik, bulik, dan juga orangtua kawan saya itu. Dengan jarak usia yang variatif. Ada yang sangat dekat, ada yang sangat jauh. Karena anak-anak dari generasi pertama tidak sedikit, maka bisa jadi ketika anak pertamanya sudah menikah, si anak bungsu masih usia sekolah. Gap usia ini kemudian akan nyambung terus ke generasi berikutnya.

Generasi ketiga: Anak-anak dari generasi kedua. Kawan saya dan para sepupunya. Mengingat gap usia pada generasi kedua tadi, maka di generasi ketiga pun terjadi hal yang sama. Ketika salah seorang sepupunya sudah punya anak yang cukup gede (generasi keempat), kawan saya ini masih abege. Sialnya, ketika keponakannya itu sudah mau menikah, kawan saya ini masih menanti jodoh dengan gundah. Pada akhirnya, generasi berikutnya pun terlahir sudah. Dan, kawan saya resmi menjadi “simbah”. :v

Panjang sekali ya ceritanya. Hal serupa juga terjadi kepada saya sendiri. Yah, walau nggak seekstrem kawan saya itu, sih. Ketika keponakan-keponakan baru mulai bermunculan. Anak-anak dari para sepupu. Maka, saya pun mendapat panggilan baru, yaitu “Bude”. Sepupu yang sebenarnya usianya di atas usia saya, akan tetapi karena mereka anak dari adik-adik bapak dan ibu saya, maka mereka panggil saya “mbak”. Lalu, anak-anak mereka panggil saya “bude”. Lain cerita, waktu SMA, ada adek bayi yang harus saya panggil “mbak” karena dia anaknya pakde saya. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Aturan ini nantinya tentu saja akan berlanjut ke anak-anak saya kelak. Semoga mereka nggak puyeng. Haha 😀

Ya, begitulah rumitnya aturan panggilan kekerabatan di Jawa. Bukan berdasarkan usia atau siapa yang lahir terlebih dahulu, melainkan berdasarkan ada pada urutan mana silsilahmu.

Kalau di daerah lain gimana, ya? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *