Suka-Suka

Uji Nyali di Ruang Forensik

Gambar diambil dari https://pixabay.com

Seumur-umur, nggak pernah tebersit sedikit pun di benak saya bakal masuk ke dalam ruang forensik. Dari film-film horor yang saya tonton, ataupun dari berita-berita di televisi, tentu saya sudah bisa menyimpulkan apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Dan meskipun saya menyukai nonton film horor, tapi saya tidak ingin dekat-dekat dengan hal-hal yang berbau horor di real life.

Namun hari itu, rupanya takdir menentukan bahwa saya harus merasakan pengalaman horor dalam arti yang sebenarnya. Berawal ketika malam takbir, seorang kawan mengirim pesan via whatsapp. Dia mengucapkan Minal Aidzin wal Faidzin, plus minta doa untuk kesembuhan ibunya yang baru saja masuk ICU karena sakit jantung koroner. Di saat orang lain sedang bersukacita menyambut Lebaran, dia harus berduka karena ibunya sakit. 🙁

Karena sampai H+3 Lebaran kami masih disibukkan oleh agenda bersama keluarga masing-masing, akhirnya pada H+5 Lebaran, saya dan seorang kawan sepakat untuk menjenguk ibu kawan kami (kalimat macam apa ini? -_- *editor gagal*). Jam 4 sore pada waktu itu, sesuai jam besuk di RS. Habis Asar kami on the way ke RS. Baru separuh perjalanan ketika kawan kami tersebut update status via Blackberry Messenger, mengabarkan bahwa ibunya baru saja meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….

Pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman ini adalah jangan menunda-nunda untuk membesuk orang sakit. Sebab, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

Singkat cerita, akhirnya kami menemaninya mengurus kepulangan jenazah. Awalnya kami hanya menunggu di depan pintu ruang forensik sementara kawan kami itu ikut memandikan jenazah ibunya. Kami sekadar membantu menjaga barang-barang bawaannya (mau ikut mandiin jenazah nggak berani, Gengs…). Sampai jelang Isya, urusan belum selesai, padahal kami belum salat Magrib. Akhirnya kami tanya letak musala terdekat ke petugas. Lalu, kami ditunjukkan musala yang ada di ruang forensik. I repeat, di dalam ruang forensik. Di kamar mayat! 😐

Ya udah, mau gimana lagi? Masa iya mau skip salat Magrib?

Letak musala itu ada di paling ujung ruangan. Mau nggak mau kami jadi masuk. Sepanjang koridor ruangan itu horor secara harfiah. Bahkan, kolam koi nan cantik yang terletak di tengah ruangan tidak bisa mengurangi kesan horor sedikit pun. Dan, inilah yang kami temui di sana: ruang administrasi yang terletak di depan, dekat pintu masuk; kamar yang berisi brankar-brankar, ada dua jenazah di sana; ruangan tertutup entah apa isinya, di depannya terdapat rak yang berisi sepatu-sepatu boots dan sarung tangan segala ukuran; dan yang paling horor adalah … lemari terbuat dari besi, saya diasumsikan itu merupakan lemari pendingin yang tanpa melihatnya pun sudah bisa diduga apa isinya (setidaknya berdasarkan bau-bau aneh yang tercium di sana 🙁 ); tiga toilet, dan akhirnya sampailah kami di musala.

Setelah salat Magrib (dengan tidak khusyuk), kami harus kembali melewati kehororan tadi menuju pintu depan. Dan entah hanya perasaan saya saja, atau memang penerangan di sepanjang ruangan itu remang-remang. Berbeda dengan di lobinya. Kami lanjut menunggu di depan ruangan, sambil mencoba untuk tak menghiraukan brankar-brankar berisi jenazah yang keluar masuk. Ada yang sudah dijemput keluarga, ada yang baru datang dari ICU untuk dimandikan.

Saya tidak dapat mendeskripsikan bagaimana perasaan saya sendiri pada waktu itu. Campur aduk pokoknya. Antara merinding karena horor, juga ngeri membayangkan cepat atau lambat hal yang demikian juga akan terjadi pada diri sendiri. Lalu, teringat dosa-dosa yang masih menggunung tinggi. *kemudian istigfar tobat*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *