Membaca & Menulis

Cerpen: Surat Cinta

: Untuk Ang Riandra, jawaban dari Lelaki Diammu.

 Dik, jangan kau membeciku. Meskipun kutahu, wajar bila kau melakukannya. Saat itu aku sungguh tak kuasa ketika cinta datang membawa sekuntum bunga, kemudian menanamnya di hatiku. Dan bunga-bunga itu kian tumbuh bermekaran menyesakkan hati. Bunga-bunga itu bagai candu yang membuatku selalu ingin memetiknya dan menciumi wanginya, hingga aku terlupa akan sajak-sajak cinta yang senantiasa kau suguhkan di setiap pagi, siang, dan malamku. Hal yang kini kusesali. Gelora yang sesaat dulu kurasakan, tak sebanding dengan penyesalan yang kini harus kutanggung.

Aku bukanlah petualang, seperti yang dulu pernah kau katakan. Aku hanyalah seorang pria yang mudah terbawa rasa. Namun sekejap saja cinta itu akan sirna, karena cinta dengan sendirinya pergi dariku. Mencampakkanku begitu saja. Dan engkau Dik, selalu mampu menghangatkan kembali hatiku yang beku. Kau semikan kembali benih-benih dalam jiwaku.

“Kang, kapan kau akan mengakhiri petualanganmu?” tanyamu selalu saat aku sudah mulai bangkit kembali. Aku tak pernah menjawabnya dengan sepatah kata pun. Kau pun tak pernah bertanya lebih banyak lagi. Seakan kau tahu bahwa suatu hari nanti akan kubuktikan, akan kupunya satu cinta saja untuk selamanya. Aku memang telah membuktikannya. Di depan penghulu aku berikrar untuk selalu menjagamu. Kau menjawabnya dengan air mata haru.

***

Semuanya baik-baik saja Dik, hingga ia datang di kehidupan kita. Dia menawariku secangkir madu. Aku tak kuasa menolaknya. Aku sungguh bodoh. Aku terpedaya. Winarsih, dia yang dulu membuatku meninggalkanmu, ternyata adalah seorang bidadari berhati sengkuni. Dengan wajahnya ia memikat, namun dengan taringnya ia akan menghisap habis darah di tubuh korbannya, yang kemudian menjadi biru, kaku, dan akhirnya mati dalam sakit hati.

Itulah yang terjadi padaku saat ini, Dik. Aku hampir mati karenanya. Di saat aku bekerja dengan beribu tetes peluh dan berjuta   harapan, teganya ia membawa laki-laki itu ke dalam rumah. Rumah yang katamu dulu penuh cinta.

“Kalau rumah ini memang dipenuhi cinta, mungkin aku tak akan melakukannya! Tapi engkau selalu diam seribu bahasa! Aku ini wanita Kang! Aku tak yakin akan cintamu! Kau tak pernah mengatakannya! Rumah ini terasa sunyi!” Itulah yang dikatakan Winarsih ketika aku memergoki mereka berdua. Sebuah alasan yang sama, yang selalu kuterima ketika cinta-cinta yang lain hendak meninggalkanku. Aku memang tak pandai mengumbar kata cinta. Tak seperti Chairil Anwar ataupun Rendra, yang mampu merangkai kata puitis, hingga tercipta puisi romantis. Bagiku, cinta tak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata. Cinta datang dari hati, maka cinta dapat terbaca dari tatapan mata. Bukankah mata adalah jendela hati? Cinta juga tak perlu diungkapkan secara berlebihan. Cukup dengan kesederhanaan. Seperti pengabdian seorang istri terhadap suami, dan suami yang akan selalu menjaga dan melindungi anak istrinya. Hanya kau yang mampu memahaminya, Dik.

***

Mereka tak jua jera meski berulang kali kupergoki. Hingga kesabaranku habislah sudah. aku memberinya pilihan, aku atau lelaki itu. Dan aku telah mendapatkan balasan atas apa yang telah kulakukan padamu dulu, Dik. Ketika aku memilih Winarsih tanpa memedulikan air matamu. Juga ketika aku membawanya ke rumah kita, sementara kau harus kembali ke orang tuamu dengan membawa Ryan, buah hati kita. Karma itu telah menimpaku. Winarsih memilih lelaki itu. Meninggalkanku sendiri bersama perasaan dan hatiku yang hancur.

Aku merindukanmu Dik. Juga masa-masa di mana kita masih bersama. Kau selalu setia membawakan masakanmu untuk memulihkan energiku setelah seharian bekerja di sawah. Kau ajak serta Ryan yang semakin lincah dan pandai. Lalu kita akan berbincang mengenai apa saja. Tak kita hiraukan matahari yang bersinar dengan angkuhnya, karena cinta telah meneduhkan hati kita.

Tak akan kulupakan ekspresi bahagiamu ketika Ryan mulai bisa berjalan. Juga ketika kau ajari dia untuk mengenali orang-orang yang kan selalu menyayanginya. Saat itu kau bertanya,

“Ayah mana Ryan?” maka Ryan akan menunjuk diriku. Lalu kau bertanya lagi,

“Bunda mana Ryan?” dan Ryan akan menunjuk dirimu.

***

Dik, betapa bahagianya aku ketika kita berjumpa tanpa sengaja. Tak seberapa jauh dari sawah, ketika senja menyelimuti desa kita. Namun, kau malah mempercepat langkahmu.

“Kang, kumohon jangan ganggu aku, di saat aku mencoba untuk melupakanmu!” begitu katamu saat aku mencoba untuk mengejarmu.

“Benarkah kau ingin melupakanku? Selamanya dalam hidupmu? Bagaimana denga Ryan, anak kita?”

“Kang, mengapa kau berkata demikian? Sedangkan dulu saat kutanya tentang nasib anak kita, kau lebih memberatkan hatimu pada wanita itu.”

“Maafkan aku Dik. Saat itu aku memang mabuk. Dan ketika tersadar, kau sudah begitu jauh dariku.”

“Sudahlah, Kang. Anggap saja kami tiada. Atau kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”

“Dik, bukankah berdosa jika memutuskan silaturahmi?”

“Kang, dosa terbesarku adalah dulu ketika aku begitu mencintaimu, hingga melupakan-Nya. Saat itu kepalaku hanya dipenuhi oleh dirimu. Aku lupa akan kewajibanku sebagai manusia untuk bersujud kepada-Nya. Saat kau meninggalkanku, aku tahu bahwa Tuhan telah menghukumku. Ya, Kang, tak akan kuulangi lagi kesalahanku.”

Dik, dulu aku memang melalaikan-Nya. Dia telah memberikan wanita terbaik di sampingku, namun aku tak pernah mensyukurinya. Aku pun telah mendapatkan hukumannya, Dik. Masih adakah kesempatan untukku? Aku berjanji akan menjadi imam yang baik untukmu, dan anak kita.

***

Mimpikah ini Dik, aku melihatmu di ambang pintu. Kurasa tidak, karena terasa sakit saat kulitku kucubit.

“Kang, sudah kuputuskan, kau boleh menemui Ryan kapan pun kau mau.”

“Benarkah??!! Apa ini berarti kau menerimaku kembali? Kita rajut kembali kisah kita dulu?”

“Maafkan aku, Kang. Untuk itu aku telah menguburkannya dalam-dalam. Kedatanganku kemari adalah untuk ini.”

Dik, kali ini aku berharap sedang bermimpi, ketika kau serahkan sepucuk undangan bersampul biru, tertulis namamu dengan satu nama, Setiadi.

#Dimuat dalam Antologi Cerpen FBS UNY 2008, Kenangan: Esok Pasti Cerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *