Buku

[Book Review] Teror Married: Ketika Pertanyaan Kapan Menjadi Mengerikan

Gambar diambil dari sini

Judul: Teror Married: Sekali Teror, Seribu Sakit Hati

Penulis: Hilal Ahmad, dkk

Penerbit: Glitzy Book Publishing

Jumlah halaman: 130

Terbit: 2011

Ketika teman saya membelikan buku ini untuk saya, reaksi pertama saya adalah “What the…” (tapi cuma dalam hati, haha). Yah, buku atau apa pun dengan tema seperti ini memang sepertinya jadi hal yang paling sensitif. Pasalnya, saya sudah terlalu lelah kebanyakan membaca motivasi-motivasi yang lama-lama jadi terasa klise. Di mana-mana, kalimat-kalimat tersebut rasanya sama dan hanya diulang-ulang. Kalau bahasa kekiniannya, kurang ngena. Akibatnya, alih-alih termotivasi, yang ada malah jadi semakin gelisah. Iya, saya butuh solusi, bukan sekadar motivasi.

Ups… curcolnya kepanjangan, ahaha. Ok, back to the book. Namun, setelah saya baca cover belakangnya… hohoho, ternyata saya salah sangka saudara-saudara! 😀 Ini bukan buku motivasi seperti yang saya tuduhkan, buku ini berisi curahan hati dari para jombloers yang sudah jengah mendapatkan pertanyaan sejuta umat dari sanak saudara, handai taulan: “Kapan nikah?”

Mmm… sebenarnya ini semimotivasi, sih. Cuma tidak diungkapkan dengan kalimat-kalimat yang menggurui, akan tetapi dengan cara membaca kisah-kisah dari mereka yang mengalami nasib serupa. Jadi berasa nggak sendiri gitu, haha. Ya sudahlah, langsung saja kita bahas bukunya!

Mungkin dahulu kala ketika di alam rahim, saat malaikat bagi-bagi tanggal pernikahan pada para janin, aku sedang alpa. Entahlah, yang pasti hingga usiaku yang jadi rawan perawan begini, aku hanya bisa nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala melihat teman-temanku satu per satu duduk di pelaminan tanpa tahu kapan dan dengan siapa aku menyusul mereka. Ihiksss.

Jomblo itu pedih, Jenderal!

— hal. 28

Bwahaha meski ngakak baca kalimatnya yang cukup lebay itu, sampai bagian ini saya bergumam: “Hoo… I feel you.” Benar, jomblo itu pedih, Jenderal! Wkwk yaa… sebenarnya nggak pedih-pedih amat, sih, kalau nggak direcokin oleh orang-orang di sekitar. Karena direcokin, jadinya gelisah. Karena gelisah, jadinya grasa-grusu. Karena grasa-grusu, jadi terjebak dalam cinta yang salah. Cinta yang salah itu seperti candu, kelihatannya saja menyembuhkan tapi lama-lama bikin kesakitan. Huewh! *lha, kok, curhat lagi*

Pernikahan bukan sekadar kecocokan hati, kesesuaian sifat, atau kesenangan bersama. Pernikahan adalah kompromi dari ketidakcocokan, kompromi dari egoisme.

— hal. 26

Nah, di bagian ini saya manggut-manggut. Pernikahan memang bukan sekadar kesenangan bersama atau kecocokan hati. Dari beberapa kejadian yang dialami kerabat atau teman-teman saya, mereka yang dulu sebelum menikah bahagia bersama, setelah menikah justru sering cekcok. Itu karena tidak ada kompromi dari egoisme masing-masing.

Saya jadi ingat sebuah nasihat. Agak kurang nyambung dengan konteks di atas sih, tapi nasihat ini cukup penting untuk direnungkan. Kurang lebih begini bunyinya: “Kalau diibaratkan online shop, jodoh yang baik itu seharusnya yang fresh from the oven. Jangan pre order lama. Keburu kedaluwarsa.”

Artinya kurang lebih begini, kalau mantannya buanyak banget, artinya udah nggak fresh from the oven, tuh. Ciri nggak setia. Trus kalau udah siap lahir batin, mending langsung nikah saja. Jangan cuma pre order lama. Dikata kita barang antik.

Nah, kalau boleh saya menambahkan pakai istilah online shop juga, selain fresh from the oven, harusnya milih yang agak mahalan. Kalau yang murahan itu nggak menjamin kualitas bagus, walau bungkusnya cantik. Ngenes lagi kalau udah dapat yang murah meriah tapi nggak langsung keep. Keburu busuk ntar.

Biar dapat yang kualitasnya bagus dan terjaga, sebaiknya banyak-banyak istigfar. Kalau ngawur dan cuma mengikuti nafsu, ya nggak bisa dapat yang eksklusif.

Kembali ke buku, dari buku ini saya jadi mengerti mengapa orang-orang menunda pernikahannya. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi. Seperti, kesiapan finansial, ingin berkarier terlebih dahulu, ingin sekolah setinggi-tingginya, masih ingin membahagiakan orang tua, trauma masa lalu, belum move on, hingga belum ketemu jodoh. 😀

Secara garis besar, buku ini cukup menarik dan motivatif. Tapi… ada tapinya, nih. Alangkah lebih baik kalau masalah editorial lebih diperhatikan lagi. Meskipun sifatnya curhat, tapi karena ini buku, jadi tata bahasa dan kalimatnya harus ditata lagi. Di buku ini masih banyak kalimat yang keterbacaannya kurang. Kadang saya sampai baca berulang-ulang kalimatnya supaya paham, sebab bahasanya masih terlalu lisan. Bahasa lisan dan tulisan itu beda, loh. Bahasa tulis yang komunikatif itu bukan berarti bahasa lisan yang dituliskan. Duh, gimana ya menjelaskannya. Ribet, haha.

Satu lagi, pada halaman 15-19 terdapat kutipan komen-komen di Facebook salah satu kontributor dalam buku ini. Pada bagian itu… huft… saya lelah membacanya. Sekali lagi, meskipun itu berupa kutipan komentar di Facebook, alangkah baiknya dilakukan editing terlebih dahulu. Jangan langsung copas secara mentah begitu saja. Dengan banyak singkatan dan kata-kata alay yang bikin kening berkerut saat membacanya (karena nggak paham).

Oke, terakhir… izinkan saya mengutip paragraf berikut ini. Hahaha 😀

Tak berbilang sudah berapa kali matahari terbit di timur dan tenggelam di barat, bersama laut pasang di selatan dan surut di utara, musim duren pun telah berkali-kali berganti musim rambutan, tapi sosok Kakang Prabu belum juga menampakkan wujudnya. Entah di padepokan mana ia bersemedi menunggu wangsit untuk menemukan tulang rusuknya yang hilang. Padahal aku di sini menanti bak cacing kepanasan.

— hal. 34

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *