Jalan-Jalan

Belajar Sejarah di Museum Benteng Vredeburg

Suka gagal paham kenapa setiap kali saya ingin jalan-jalan ke museum, teman-teman selalu berkomentar, “Wah, mau mengunjungi mantan ya!” Wew, mantan kok dimuseumkan. Museum, kan, tempat untuk menyimpan benda-benda dari masa lalu yang bersejarah dan layak untuk dikenang. Artinya, kalau mantan dimuseumkan, maka bayangan masa lalu akan terus terkenang, dong. Kapan move on-nya? Hahaha

By the way, ini postingan tentang apa, pembukaannya malah mbahas apa. -___- *salah fokus*

Ok, back to the topic. Pada sebuah akhir pekan beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman sepakat untuk jalan-jalan ke museum. Bukan untuk mengunjungin mantan, melainkan untuk belajar sejarah. Tujuan kami adalah museum Benteng Vredeburg. Lokasi Benteng Vredeburg terletak di kawasan 0 kilometer Yogyakarta. Tepatnya, di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Yogyakarta. Kalau dari Kraton Yogyakarta, cukup berjalan kaki beberapa meter ke utara. Benteng Vredeburg berada persis di depan Gedung Agung, sebelum Malioboro.

Benteng Vredeburg dibuka untuk umum setiap hari Selasa–Minggu. Tiket masuknya? Murah meriah saja. Cukup merogoh kocek 2.000 rupiah untuk orang dewasa, dan 1.000 rupiah untuk anak-anak.

img_20160307_230354
Tiketnya seperti yang saya bawa itu 🙂

Dulu, Benteng Vredeburg sebenarnya adalah sebuah loji atau kantor besar peninggalan kompeni pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Benteng ini dibangun pada tahun 1760 atas permintaan Belanda. Pada masa itu, Belanda merasa cemas melihat Kasultanan Yogyakarta, yang baru saja berdiri di bawah pimpinan Sultan Hamengku Buwono I, berkembang dengan sangat cepat. Lalu, dengan dalih ingin melindungi dan menjaga keamanan di wilayah Kraton dan sekitarnya, Belanda meminta kepada Sultan agar dibangunkan sebuah benteng di dekat Kraton sebagai markas mereka. Namun di balik dalih memberikan perlindungan bagi Kraton, maksud Belanda yang sebenarnya adalah agar mereka lebih mudah mengontrol perkembangan di dalam Kraton. Pada masa itu, konon Belanda memang selalu ingin ikut campur dengan urusan politik para raja-raja Jawa. Wew!

Beteng ini dibangun dengan dikelilingi parit di depan pintu gerbangnya, serta terdapat bastion atau menara pantau di keempat penjuru bangunannya. Saat ini, benteng ini digunakan sebagai museum yang menampilkan diorama-diorama sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Istimewanya, seluruh diorama yang disajikan di dalam museum Benteng Vredeburg ini terjalin runtut mulai dari masa penjajahan, kemerdekaan, hingga periode awal pembangunan Indonesia.

p1010454
Teman-teman saya sedang asyik banget menyimak diorama sejarah perjuangan bangsa Indonesia

Selain diorama, di museum ini juga terdapat koleksi benda-benda bersejarah lainnya, ada pula lukisan, serta patung-patung yang terletak baik di dalam maupun di luar ruangan. Lengkap dengan layar sentuh yang berisi keterangan dari setiap koleksi yang ditampilkan. Lebih dari itu, museum ini juga masih dilengkapi dengan perpustakaan, games audio visual, gedung pertunjukan, serta musala. Ada pula games perang-perangan melawan Belanda. Selain mempelajari sejarah bangsa, berkunjung ke museum ini saya juga jadi ikut terbawa suasana pada masa perjuangan zaman dahulu kala.

p1010447
Patung di dalam ruangan

p1010457
Patung di luar ruangan

Selain dibuka untuk umum sebagai museum, Benteng Vredeburg juga kadang dijadikan sebagai tempat diselenggarakannya Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Atau, event-event kesenian lainnya yang ada di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *