Jalan-Jalan

Berkunjung ke Kastil Affandi

Tak perlu segan untuk jalan-jalan ke museum. Di sana, kamu tak akan menemui mantan ataupun kenangan tentangnya. Kecuali, lokasi museumnya ada di hatimu. Lagi pula, jalan-jalan ke pantai, gunung, atau pertokoan itu sudah menjadi kegiatan yang sangat mainstream untuk mengisi liburan. Di museum, kita bisa pergi ke masa lalu tanpa perlu mesin waktu.

Demikianlah, untuk mengawali long weekend kemarin, saya dan teman-teman sepakat untuk mengunjungi kastil sang maestro lukis Indonesia, Affandi. Mengapa kastil? Sebab memang bangunan dari museum ini mirip kastil ibu peri dari dunia fantasi. Setidaknya, itulah yang tebersit dalam benak setiap kali melintas di Jalan Laksda Adisucipto, Yogyakarta, dan melewati bangunan museum ini di tepian sungai Gajah Wong.

img-20160507-wa00241

Museum ini buka setiap hari Senin-Sabtu pada pukul 09.00-16.00. Cukup dengan merogoh kocek sebesar 20 ribu rupiah, kita bisa berkeliling ke dalam museum plus mendapat free soft drink. Oh ya, kalau mau foto-foto di dalam museum, akan dikenakan biaya tambahan 10 ribu untuk kamera handphone dan 20 ribu untuk kamera digital. Cukup sepadan karena kita bisa melihat-lihat karya seni hasil sentuhan tangan sang maestro yang konon harganya bisa mencapai miliaran rupiah itu.

Museum ini terbagi menjadi empat galeri. Di galeri pertama, kita bisa melihat-lihat lukisan Pak Affandi dari masa ke masa dan juga benda-benda peninggalan beliau semasa hidup.

img-20160507-wa00121

Galeri kedua, terdapat hasil karya dari para pelukis lain, baik pelukis senior maupun yang masih junior. Tak jauh dari galeri kedua, terdapat makam Pak Affandi dan Ibu Maryati, istrinya. Tadinya saya pengin foto, tapi teman saya bilang jangan. Katanya, nggak etis foto di makam. Iya juga, sih. Hehe 😀

img-20160507-wa0006

Adapun pada galeri ketiga, selain lukisan, kita juga dapat menyaksikan liputan profil Pak Affandi melalui televisi yang telah disediakan di sana. Selain sebagai ruang pameran, galeri ketiga ini katanya juga digunakan sebagai semacam sanggar untuk mendidik anak-anak yang memiliki minat atau berbakat dalam bidang seni lukis.

img-20160507-wa00171
Di dalam galeri tiga disediakan tempat duduk untuk menonton liputan profil Pak Affandi

Galeri keempat adalah sebuah menara. Dari atas menara, kita bisa menyaksikan pemandangan di sekitar museum. Namun, waktu itu saya dan teman-teman belum sempat naik ke sana, karena perut sudah keroncongan dan haus. Akhirnya, kami langsung pergi ke Kafe Loteng yang tak jauh dari galeri tiga untuk mengambil soft drink gratis. 😀 Oh ya, bangunan Kafe Loteng ini konon merupakan rumah tempat tinggal Pak Affandi bersama anak dan istrinya semasa beliau masih hidup.

Puas berjalan-jalan, kami salat Zuhur terlebih dahulu sebelum keluar dari museum. Lagi-lagi kami menemukan hal yang unik. Tempat salatnya tidak seperti mushala-mushala yang ada di ruang publik pada umumnya. “Mushala” yang ada di Museum Affandi bentuknya berupa gerobak. Gerobak tersebut dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi tempat yang layak untuk salat. Unik dan menarik!

Singkat kata, seharian itu kami cukup puas, meskipun harus bermacet-macet ria di jalanan akibat liburan. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *