Buku

[Book Review] Dear Yurichika: Pesan dari Mama

dear-yurichika
Gambar diambil dari sini

Judul: Dear Yurichika

Penulis: Akiko Terenin

Penerbit: Elex Media Komputindo

Terbit: Desember 2013

Tebal: 168 halaman

Waktu divonis dokter menderita kanker yang sangat ganas, saat itu Mama sedang mengandung Yuria. Lalu, Mama dihadapkan pada dilema. Menjalani pengobatan kanker, yang berarti Mama harus merelakan janin di dalam kandungannya. Atau, mempertahankan Yuria dengan risiko nyawa Mama tidak dapat terselamatkan. Sungguh pilihan yang sulit, antara merelakan nyawa sendiri atau kehilangan bayi. Namun akhirnya, Mama berjanji akan melahirkan seorang bayi yang sehat untuk Papa.

Mama bertanya pada Papa, “Do you really want this baby?” Sambil menangis Papa menjawab, “Ya. Maafkan aku, ya. Tapi aku menginginkan kalian berdua (Yuria dan juga Mama).”

— hal. 85

Membaca buku ini, mengingatkan saya pada novel Sabtu Bersama Bapak. Keduanya, sama-sama menceritakan tentang orangtua yang dengan cinta dan kasihnya ingin selalu mendampingi anak mereka hingga dewasa, akan tetapi maut tak mengizinkannya. Tokoh bapak dalam novel Sabtu Bersama Bapak dan juga mama dalam buku Dear Yurichika ini, sama-sama divonis dokter tidak akan bertahan hidup hingga anak-anak mereka dewasa nanti akibat penyakit ganas yang menyerang tubuh mereka. Mendapati kenyataan itu, mereka lantas membuat sebuah “warisan” yang berisi nasihat-nasihat kehidupan untuk anak-anaknya. Nasihat yang mereka kemas dalam media tertentu. Dalam hal ini, Mama menulis surat.

Mama ingin selalu bisa melihat tawamu. Tetapi, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, Mama menuliskan saja semua yang ingin Mama katakan pada Yurichika.

— hal. 2

Yuria juga pasti nanti akan menghadapi masa-masa sulit. Mama ingin sekali membantumu menghadapinya!

— hal. 23

Ada banyak nasihat yang Mama tuliskan melalui surat-suratnya untuk Yuria. Mulai dari bagaimana sebaiknya bersikap dalam pertemanan, saat menghadapi pertengkaran dengan teman-teman, tentang masa kecil, tentang belajar, sekolah, dan guru, tentang hal-hal yang diperlukan sebagai anak perempuan, bahkan tentang cinta dan pernikahan. Dalam surat-suratnya, Mama juga menuliskan bagaimana perjuangannya saat melawan penyakit.

Saya emang agak bingung dengan nama Yuria dan Yurichika, sebab di buku ini menggunakan dua panggilan tersebut. Namun lebih dari itu, membaca buku ini cukup membuat saya tersentuh. Karena konon buku ini diangkat dari kisah nyata. Berdasarkan apendiks dan profil penulisnya, saya mendapatkan informasi bahwa Mama menyelesaikan catatannya untuk Yuria pada akhir tahun 2007. Setahun setelah Mama melahirkannya pada tahun 2006. Lalu, pada awal tahun 2008, Mama tak bisa lagi bertahan atas penyakitnya. Meninggalkan Yuria untuk selamanya.

Buku ini, menjadi bukti bahwa kasih sayang orangtua untuk anaknya akan tetap nyata betapapun maut telah memisahkan mereka.

Mama berharap Papa cepat kembali seperti sedia kala. Mama ingin menghabiskan waktu Mama yang tersisa bersama Yuria dan Papa. Dan andai memungkinkan, Mama ingin waktu yang tersisa ini diperpanjang. Mama belum mau mati … belum mau ….

— hal. 149

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *