Buku

[Book Review] Luka Bermula dari Pasangan yang Tak Setia

luka
Gambar diambil dari sini

Judul: Luka

Penulis: Fanny J. Poyk

Penerbit: Kaki Langit Kencana

Terbit: Desember 2014

Tebal: 150 halaman

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Barangkali itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi Nyoman Sumerta. Belum habis dukanya atas pengkhianatan sang istri tercinta, dia juga harus menanggungkan derita penyakit stroke yang membuat hampir separuh tubuhnya menjadi lumpuh. Penyakit yang membuatnya tak hanya kehilangan seluruh harta dan benda, tetapi juga ditinggalkan istri dan anak-anaknya.

Membaca buku ini, saya seolah diberi tahu bahwa cinta di kehidupan nyata tak selalu penuh dengan bunga-bunga hingga dunia serasa milik berdua. Cinta dalam kehidupan nyata adalah tentang pengertian dan pengorbanan. Berani jatuh cinta, artinya kau juga harus belajar tabah ketika hatimu tiba-tiba patah. Berani mencintai, kau juga harus bersiap ikhlas ketika dia yang kau cintai tak membalas cintamu sama besar. Pun cinta, jangan hanya mengutamakan nafsu belaka atau kau akan hancur karenanya. Sebagaimana yang dialami Nyoman, dia jatuh cinta pada Made Liani hanya karena pesona ragawi. Namun, rupanya hati Made Liani tak secantik parasnya.

“Aku mulai menyatakan diriku bersalah, ya seharusnya aku melakukan penjajakan terlebih dahulu, seharusnya aku meneliti wataknya, seperti apa dirinya, seperti apa perilakunya, seperti apa masa lalunya, kini… penyesalan itu telah terlambat.” — hal. 59

Selain menceritakan kepedihan hati seorang lelaki yang rumah tangganya hancur akibat sebuah pengkhianatan, melalui novel ini penulis juga mengajak pembaca untuk mengenal kearifan-kearifan lokal yang ada di Bali, tempat yang dijadikan latar dalam novel ini. Ada beberapa istilah-istilah adat di Bali yang disebutkan dalam cerita, lengkap dengan catatan kakinya.

“Keluargaku meminang Liani dengan resmi, acara ini disebut mapadik. Dalam mapadik aku dan orangtuaku datang ke rumah calon mempelai perempuan. Ada empat tahapan yang harus kami laksanakan dalam acara pinangan itu, yaitu meminta, mengambil, nyakapang, dan ngunya.” — hal. 34

Novel ini memiliki jalan cerita yang lambat. Ditambah penggunaan sudut pandang orang pertama, membuat kita jadi seolah ikut nelangsa membaca ratapan-ratapan Nyoman atas segala cobaan yang dialaminya. Namun, jangan khawatir bosan membacanya, sebab konflik yang disuguhkan di dalam novel ini sangat beragam. Tidak hanya kisah rumah tangga Nyoman dan Made Liani, tetapi ada juga cerita tetang cinta beda agama, isu kumpul kebo, dan KDRT. Dalam satu novel ini, saya menemukan cerita tentang problematika kehidupan yang sangat kompleks. Senang sekali bisa mendapatkan buku ini gratis dari sebuah giveaway. Terima kasiihh… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *