Buku

[Book Review] After School Club: Cinta dan Persahabatan di Kelas Tambahan

after-school-club
Gambar diambil dari sini

Penulis: Orizuka

Penyunting: Dila Maretihaq Sari

Penerbit: Bentang Belia

Terbit: 2012

Tebal: 244 halaman

 

Sinopsis:

Aneh, Ajaib, Norak. Tiga kata itu pas untuk menggambarkan penghuni kelas After School. Kelas ini juga dianggap sebagai kelas anak-anak “bodoh” oleh seluruh warga sekolah.

Gara-gara nilai Fisikanya jeblok dua kali berturut-turut, Putra harus masuk kelas itu. Ini jadi aib yang serius bagi Putra yang terkenal cool dan populer. Apalagi kalau ayahnya yang angker dan penuntut sampai tahu, bagaimana dia menjelaskannya?

Tiap hari Putra harus tahan banting menghadapi keusilan anak-anak After School. Ditambah lagi, Cleo, ketua genk After School diam-diam menyukainya. Keusilan anak-anak After School meningkat dua kali lipat demi membantu Cleo PDKT.

Bencana bagi Putra seakan jadi bertumpuk-tumpuk. Musibah apa lagi setelah ini?

Ceritanya, sih, sudah mainstream. Cowok cool dan populer yang jatuh cinta kepada cewek unik dengan kelakuan ajaib. Tapi, penulis bisa menceritakannya dengan seru dan tidak membosankan, sehingga saya tetap enjoy membacanya.

Apalagi ide tentang geng After School, sekumpulan siswa dengan nilai pas-pasan yang harus mendapatkan kelas tambahan. Tak habis saya ngakak dengan kelakuan usil dari geng koplak ini. Duh, saya harus banyak belajar dari mereka, yang tetap ceria, optimis, dan bersemangat menikmati hidup walau orang lain sering meremehkan mereka.

Di beberapa bagian, ada beberapa adegan yang mengingatkan saya pada drama Korea tertentu. Bikin saya berulang kali menggumam, “Hmm… ini kayak yang di drama itu, deh.” Nggak masalah, sih, karena di sini penulis sudah melakukan modifikasi yang di-mix dengan ide cerita dari penulis sendiri.

Tapi… ada satu yang saya masih nggak habis pikir. Hampir di setiap novel teenlit yang pernah saya baca (termasuk di novel ini), diceritakan anak-anak sekolah sudah boleh mengendarai mobil sendiri. Memangnya, anak umur 16 tahun sudah bisa bikin SIM A, ya? *berpikir keras*

Saya harap, sih, semoga suatu saat nanti saya bisa menemukan novel remaja dengan cerita yang lebih bersahaja. Misalnya tentang anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepeda mini, angkot, atau jalan kaki, beserta segala liku-likunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *