Buku

[Book Review] Komik Empat Domba Gila: Tolong Kondisikan Kambing-Kambing Ini!

domba gila
Gambar diambil dari sini

Judul: Empat Domba Gila

Komikus: Acheng Watanabe

Penerbit: Transmedia

Terbit: 2015

Tebal: 114 halaman

Blurb:

Kenali DULU para domba gila, sebelum ikut menjadi gila:

Albert Liebarary (Bert)

Domba yang paling cerdas dan bijak, hampir semua pertanyaan bisa ia jawab, kecuali pertanyaannya sendiri.

George Sparo (George)

Domba lugu yang selalu jadi bahan tertawaan teman-temannya.

Karjohno (John)

Domba yang ketika lahir sudah tertawa, paling gila di antara domba lainnya, punya banyak ide gila, yang bahkan tak terpikirkan oleh orang-orang gila.

Jack Setengah (Jack)

Namanya Jack Pamungkas, namun dipanggil “Jack Setengah” karena otaknya yang sudah mendekati ambang batas kegilaan. Sangat diidolakan oleh John dan George.

Bayangkan, apa jadinya kalau ada kambing pintar hasil rekayasa genetik yang berkeliaran. Kambing yang bisa baca terus nyasar di perpustakaan tak bertuan. Makin pintar deh, tuh kambing karena banyak membaca. Duh! Jadi merasa gagal sebagai manusia karena teringat tumpukan buku yang masih plastikan di sudut kamar. #plak

Saya berhasil menyelesaikan membaca buku ini hanya dalam sekali duduk (iyalah, cuma komik, disombongin. Hahaha). Pembukaan di awalnya menarik, sih. Saya sudah membayangkan akan membaca petualangan Arary dan Aramy, si kambing pintar, di alam bebas setelah dibuang oleh sang ilmuwan. Tapi… tapi… tapi… ujung-ujungnya buku ini malah cuma berisi joke-joke doang. Tanpa alur cerita. Beberapa joke di antaranya malah sudah sering saya baca dari meme-meme yang tersebar di media sosial.

Namun demikian, meskipun beberapa joke terasa garing yang bikin saya be like … “Apaan sih, nih!”, tapi selebihnya joke-joke di sini lumayan bikin tersenyum-senyum simpul dan merasa tersentil. Ilustrasinya juga bagus. Bisa nggak ya, tuh mukanya George si kambing ingusan dikondisikan. Ngeselin banget, hahaha. :))

Selain itu, hal lain yang saya suka dari buku ini adalah setiap joke selalu disimpulkan dengan pesan moral dan kalimat-kalimat yang quoteable macam ini:

“Dalam hidup ini hakikatnya kita sedang menunggu giliran. Jadi bersiaplah, karena nggak ada nomor antrean. Kita bisa dipanggil kapan saja.” – hal. 94

“Ketika di hadapanmu berdiri seribu teman, dan ada satu musuhmu berdiri di antara mereka, maka dialah satu-satunya yang ada dalam benakmu, mengusik pikiranmu, menggaruk kasar perasaanmu. Dan tanpa kamu sadari, kamu justru lebih sering memperhatikan musuhmu ketimbang teman-temanmu.” – hal. 103

Quotes-quotes inilah yang membuat saya bertahan untuk meneruskan membaca buku ini sampai tuntas. And this one is my favorite, lol!

“Jangan ngaku koleksi bukumu paling lengkap kalau belum punya buku nikah” – hal. 84

Aduh, nggak berdarah tapi kok sakit ya. Tolong kondisikan kambing-kambing ini astagaaaa…!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *