Buku

[Book Review] Memeluk Masa Lalu

memeluk-masa-lalu
Gambar diambil dari sini

Judul: Memeluk Masa Lalu

Penulis: Dwitasari

Penyunting: Dila Maretihaqsari

Penerbit: Bentang Belia

Terbit: Februari 2016

Tebal: 132 halaman

Sejak bertemu dengan Raditya, hidup Cleo tidak seperti dulu lagi. Setelah membuat mood-nya berantakan sepanjang perjalanan Cibinong-Yogyakarta, Raditya juga telah membuat hidupnya tak tenang selama tiga tahun. Pasalnya, selama itulah Cleo memendam rasa hatinya. Benar, Cleo telah jatuh cinta kepada cowok menyebalkan itu. Tak dinyana, Raditya pun merasakan hal yang sama. Sayang, ada hal yang membuat mereka tak bisa bersama.

Aku ingin jatuh cinta dengan jutaan keajaiban yang aku rasakan saat jatuh cinta, kemudian Tuhan mempertemukanku denganmu.

Untuk kekasih delapan belas jam, yang saya cintai diam-diam.

Sebenarnya, saya sudah berharap banyak dari novel ini, menilik tema yang dipilih sangat menarik. Jatuh cinta diam-diam, jatuh cinta selama delapan belas jam. Yah, cinta memang tak pernah pandang bulu, tempat, dan waktu. Sebagaimana yang dialami Cleo dan Raditya. Mereka terkena panah asmara dalam kebersamaan selama delapan belas jam saat perjalanan dari Cibinong ke Yogyakarta. Namun setelahnya, mereka harus berpisah dengan rasa yang masih terperam di dada. Kurang nyesek apa coba!

Sayangnya, alih-alih termehek-mehek atau gegulingan baper, saya justru pasang ekspresi datar waktu baca buku ini. Dengan tema yang sangat potensial untuk membuat pembaca jadi baper maksimal, penulis menuturkannya dengan terlalu lempeng. Kurang greget. Beberapa alurnya mudah ditebak.

Saya sudah sempat berharap ada sesuatu yang mengejutkan waktu Cleo membaca pesan-pesan dari Ninda untuk Raditya. Tapi ternyata, yaa … segitu saja. Juga, waktu Cleo datang ke pernikahan Raditya dan Nindya, yaa … cuma segitu saja. Malahan, saya heran tahu-tahu Cleo sudah bawa pacar baru. Padahal sebelumnya diceritakan bahwa dia susah move on dari Raditya.

Raditya keluar bus untuk sekadar menghirup udara segar, “Ngopo, Pak? Bocor?”

“Yo, Mas, sedang diperbaiki. Tunggu di dalam saja.”

“Sing ngendhi, tho, Pak?” Raditya menggeser posisinya dan mengintip ke arah ban. “Bocor piye, sih?”

“Ini, lho, Mas.” Kernet yang wajahnya terlihat makin bingung itu menunjuk ke arah ban. “Tapi, saya nggak ngerti cara ganti bannya gimana.”

— hal. 14-15

Nah, untuk bagian yang itu, mendingan pakai bahasa Indonesia saja, deh! Kalau ingin pakai bahasa Jawa supaya lebih mendukung setting-nya, penulis harus riset masalah tatacara berbahasa di Jawa juga. Sebab sebagai orang Jawa, saya agak krik… krikk… baca bagian itu. Pasalnya, di situ Raditya ngobrol dengan kernet bus yang notabene lebih tua dari dia, tapi pakai bahasa Jawa ngoko. Sebaiknya penulis riset lebih banyak lagi supaya tahu bahwa di Jawa, kami mengenal adanya tingkatan bahasa. Bagaimana seharusnya ketika ngobrol dengan orang yang lebih tua, serta bagaimana sebaiknya ketika bicara dengan teman sebaya atau yang lebih muda.

Ending novel ini juga menggantung. Apa yang terjadi setelah Raditya SMS Cleo? Barangkali penulis bermaksud untuk membuat plot terbuka yang memungkinkan pembaca menerka-nerka sendiri gimana akhir cerita para tokohnya. Tapi, di novel ini jadinya malah terkesan seperti novel yang belum kelar. Atau, barangkali memang sengaja mau dibikin buku lanjutannya?

Kalau memang begitu, saya berharap buku selanjutnya benar-benar bisa memanfaatkan tema yang dipilih dengan baik. Bisa membuat pembaca geregetan, penasaran, baper tak keruan. Semoga! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *