Suka-Suka

Pak Kijo: Ikhlas, Totalitas

Pak Kijo

Dulu, saya selalu berpikir bahwa kerja itu bukan semata perkara mencari gaji. Ada kalanya kita ingin melompat ke tempat yang lebih tinggi. Pada waktu itu, saya sudah bekerja dengan aman dan nyaman. Namun, hati saya selalu gelisah ketika melihat teman-teman seperguruan (teman kampus maksudnya), yang bekerja di bidang sama tapi perusahaan berbeda. Di tempat kerjanya masing-masing, mereka sudah sangat jauh melesat. Sementara saya, hanya sibuk jalan tempat. Sayangnya, waktu itu saya belum punya cukup nyali untuk meninggalkan zona nyaman. Sampai akhirnya ketika satu per satu teman sekantor saya mengepak koper dengan alasan mereka sendiri-sendiri, saya pun tergerak untuk ikut beranjak pergi.

Di tempat kerja saya saat ini, banyak hal baru yang saya pelajari. Pun banyak teman baru dan orang-orang hebat yang saya temui. Namun demikian, betapa pun betahnya saya di kantor baru, saya juga mulai mengumpulkan rindu. Salah satunya adalah rindu kepada lelaki tua nan kalem dan rendah hati, Pak Kijo. Sosok seperti Pak Kijo inilah yang tidak akan saya temui di kantor baru.

Pak Kijo adalah OB di tempat kerja saya dulu. Lelaki paruh baya yang berangkat paling pagi dan pulang paling sore. Berangkat dengan mengayuh sepeda onthelnya untuk rutinitas harian: bersih-bersih, bikin teh, menyiapkan camilan, dan banyak lagi. Ketika temam-teman redaksi sering mengeluh karena ketatnya deadline, Pak Kijo tak pernah tampak mengeluh dengan pekerjaannya yang serba repot. Beliau melakukannya dengan ikhlas dan penuh totalitas. Tak jarang beliau menanyai kami satu per satu, apakah tehnya kurang manis atau kemanisan. Lebih dari itu, Pak Kijo bahkan hafal warna tutup gelas favorit kami. Waarrbyasak

Pak Kijo, barangkali memang berbeda dari saya yang pada waktu itu selalu gelisah galau karier dan selalu ingin pergi. Bagi beliau, yang terpenting adalah mendapat rezeki untuk nafkah anak istri. Lalu, beliau akan membalasnya dengan jasa semaksimal mungkin yang bisa dilakukannya. Atas sifatnya tersebut, tak heran bila kami semua menyayanginya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *