Buku

[Book Review] The Sweet Sins

img_20170613_124314

Judul:  The Sweet Sins

Penulis: Rangga Wirianto Putra

Editor: Ratna Mariastuti

Penerbit: Diva Press

Tebal: 428 halaman

Terbit: Oktober 2012

Blurb:

The sexiest novel I’ve ever read.

Betty W. Kusuma, penulis novel “Aku Seorang Gay”.

“Novelnya bagus, ‘dalem’, dan kehidupan di dalamnya seperti kehidupan yang kita ‘kenal’ banget. Ceritanya juga detail. Seperti membaca pengalaman pribadi seseorang. Anyway…, semoga laris, yaaa….”

Mia Arsjad, penulis novel “Rona Hidup Rona”.

“Jangan sentuh buku ini jika tidak mau tertampar-tampar oleh makna cinta!!!”

Helmy Feriansyah, artis.

“Rangga always do the best! This novel is so deep, mature, and full of surprises. Every scene made by love and lust as simple as beautiful. Best recommend!

Aline Laksmi, model, penulis, art lingerie designer.

“… Bukan cerita yang biasa. Life of gay. Pengetahuan baru buat kita semua.”

Avrira Azzahra, penulis serial “Shalikha”.

“Sebuah novel yang menambah kekayaan literatur roman Indonesia. Bertemakan LGBT dan berani mengangkat opera Italia sebagai jiwa dari keseluruhan cerita dengan cukup saksama….”

Aditya P. Setiadi, dosen Universitas Indonesia dan pemusik.

“Membaca novel ini membuat saya lebih dalam memaknai cinta. Sungguh, ini adalah novel yang jujur dalam memaparkan arti cinta.”

Oka Fahreza, penyiar Radio 89,5 JIZ FM Yogyakarta.

Ketika sang surya pagi menembus sela-sela jendela, aku tersadar, ternyata aku tidur dalam dekapannya. Aku pun merapat sama eratnya. Di sini, di balik dadanya, aku dapat melihat sinar matahari pagi membelai wajahnya yang rupawan dan melukiskan segala keindahan di sana ….

Di Balik Pelukan Terhangatnya…

Pertama kali baca buku beginian, dan mungkin untuk terakhir kalinya. :))

Mulanya karena kemarin saya sempat dilanda bosan baca novel cinta-cintaan yang ceritanya sudah terlalu umum. Lalu, teman saya menyodorkan buku ini. Katanya, cerita cinta di novel ini beda, tidak umum.

Memang beda, sih. Tapi….

Novel ini bercerita tentang Rei, seorang anak broken home yang kehilangan sosok ayah sejak masih kecil. Saat dewasa, dia bergaul dengan sahabat-sahabat yang juga memiliki pengalaman hidup dan pergaulan yang sama ruwetnya, menjadi gigolo, hingga bertemu dengan Ardo yang akhirnya menjadi “kekasihnya”.

Sebenarnya, kisah cinta Ardo dan Rei ini bisa dibilang cukup sweet. Ardo yang dewasa dan bijaksana banget, dan Rei yang butuh sosok pengganti sang ayah. Mereka jadi pasangan yang cocok dan saling melengkapi satu sama lain. Plus, ending kisah mereka yang nyesek, modal yang cukup untuk mengobrak-abrik perasaan.

Sayangnya, saya gagal baper setiap mengingat mereka ini sesama laki-laki. Alih-alih baper, saya justru pening. Apalagi, beberapa bagian di novel ini juga terlalu blak-blakan menggambarkan kemesraan antara Ardo dan Rei, sehingga terpaksa saya skip demi kewarasan jiwa. Saya berhasil menuntaskan membaca buku ini setelah tersaruk-saruk, sambil nahan pening dan mual, serta beberapa kali skip ketika sudah menjurus ke adegan berbahaya. :))

Dua bintang untuk buku ini. Bukan karena buku ini buruk (takut dikeroyok penggemar novel ini, wkwk), melainkan karena saya tidak bisa menikmatinya. Mungkin karena ini memang bukan bacaan yang cocok untuk saya, jadi sayanya nggak becus bacanya.

Maka, sebagaimana keterangan di Goodreads, 2 bintang berarti “it was ok“.

Kutipan favorit di novel ini:

“Jangan pernah mengingkari cinta karena cinta adalah salah satu dari rahmat Tuhan yang paling besar yang Dia turunkan ke dunia. Karena cintalah manusia ada sejak dahulu, sekarang, dan untuk masa yang akan datang.” (hlm 180)

Love is about chemistry but sex is about physics. Love is nude but sex is naked. Love is erotic but sex is pornography.” (hlm 187)

*menenangkan diri, lalu kembali ke buku unyu-unyu wkwkwk*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *