Suka-Suka

Korespondensi Era: Terlalu Manis untuk Dilupakan

Menemukan harta karun ini waktu beres-beres. Seneng banget masih mengalami masa ini, SURAT-SURATAN! 😀 *ketahuan angkatannya* Waktu itu, belum ada smartphone atau medsos, jadi salah satu cara untuk tetap keep contact dengan teman-teman adalah dengan saling berkirim surat. Selain dengan teman-teman sekolah, dulu saya juga sempat punya sahabat pena. Kalau nggak salah ingat, dari Majalah Bobo atau Tabloid Fantasi. Ini saya fotoin beberapa, karena berbagi kenangan manis itu menyenangkan. 😀

img_20170605_114024

Beberapa surat jadul. Rata-rata dari teman-teman SD dan SMP. Teman SMA, kuliah, dan seterusnya nggak ada. Karena memang sudah beda zaman. 😀

Dari kiri – kanan:

Gambar pertama: kartu ucapan “Selamat Lebaran” dari teman SD saya. Ini dikirimnya waktu kami sudah SMP. Beberapa surat yang saya temukan kebanyakan dari dia, sih. Sekadar curhat atau bertukar pernak-pernik Westlife. Oh ya, waktu itu kami juga sering nulis surat pakai bahasa Inggris. Pede banget, meski ejaan berantakan. Lol!

Gambar kedua: surat dari teman SMP saya. Dikirimnya pas kami sudah SMA. Ini surat paling puanjanggg… yang saya terima. Sampai berlembar-lembar. Di surat itu dia cerita macam-macam. Termasuk cerita tentang salah satu kawan kami, Fornila, yang nggak bisa lanjut sekolah karena sakit. Tak lama setelah saya terima surat ini, kami dapat kabar bahwa Fornila telah meninggalkan kami untuk selamanya. 🙁 (Al-Fatihah…)

Gambar ketiga: surat dari teman SMP yang lainnya. Dilihat dari tahunnya, kayaknya saya terima surat ini pas sudah kuliah. Mungkin waktu itu saya belum punya nomor handphone-nya, jadi saya kirimi dia surat. Dan mungkin juga, di surat, saya curhat kalau akhirnya saya masuk jurusan Sastra Indonesia karena nggak keterima di Sastra Inggris. 😀 Di surat balasannya, dia menyarankan saya untuk kuliah sambil kursus bahasa Inggris. Hahaha

Last, melipat surat juga ada seninya.

Meski tak sepraktis berkomunikasi dengan whatsapp, tapi surat-suratan begini sangat menyenangkan. Asyiknya merangkai kata, lalu harap-harap cemas menanti surat balasan, tentu tak bisa digantikan dengan ratusan chat di sosial media. Di samping itu, kita juga masih bisa membacanya lagi dan lagi meskipun zaman sudah berganti. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *