Buku

[Book Review] Gerbang Dialog Danur: Persahabatan Anak Manusia dengan Hantu

jPxgzvyy

Judul: Gerbang Dialog Danur

Penulis: Risa Saraswati

Penerbit: Bukune

Tebal: 224 halaman

Terbit: Januari 2012

Jangan heran jika mendapatiku sedang bicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat bersamaku. Saat itu, mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut… hantu–jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Jujur, sebenarnya saya ini penakut. Jangankan berurusan dengan hantu, mau ke kamar mandi di rumah tengah malam saja saya tidak berani. Namun, saya memiliki kesenangan yang aneh terhadap cerita-cerita atau film horor. Pada kondisi tertentu, saya membutuhkannya sebagai pelarian ketika hidup terasa mulai penuh dengan drama. Melihat tokoh di film-film tersebut dikejar hantu, saya jadi lebih bersyukur karena segala kegalauan yang sedang saya alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan mereka. Hahaha #ditendang

Karena kegemaran tersebut, sampailah buku ini ke tangan saya. Buku yang sangat menarik, menurut saya. Berbeda dari buku-buku bergenre horor lainnya, yang umumnya berisi full teror dari bangsa hantu. Di buku ini saya menemui hantu-hantu yang friendly, tampan, dan menggemaskan. Buku ini menceritakan tentang Risa, seorang anak manusia yang dikaruniai kemampuan dapat melihat makhluk tak kasat mata. Dengan kemampuannya itu, Risa kemudian berkenalan dengan lima hantu anak Belanda yang kemudian menjadi sahabatnya.

Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen, nama lima sahabat hantunya itu. Kelimanya meninggal secara tragis akibat kekejaman Nippon. Mereka tidak langsung pergi menuju kedamaian, akan tetapi malah bergentayangan untuk menemukan sesuatu yang berharga dan mereka cintai dalam hidup mereka dulu.

“Aku tak mengkhawatirkan Papa, dia dapat melindungi dirinya sendiri. Aku mengkhawatirkan Mama, selamanya akan kucari Mama.” – Peter

Peter Cs membuat hari-hari Risa yang sebelumnya sepi menjadi lebih berwarna. Mereka selalu menemani Risa ke sekolah, mengusir hantu-hantu jahil yang mengganggu, bermain dan tertawa bersama. Namun, sebagaimana dalam kehidupan di dunia, yang namanya persahabatan pasti mengalami pasang surut. Suatu hari, Peter Cs marah karena Risa tak bisa menepati janjinya untuk ikut ke alam mereka pada usianya yang ke-13. Kelima sahabat hantunya itu marah, lalu pergi meninggalkannya.

Semenjak kepergian Peter Cs, hari-hari Risa pun mulai penuh teror. Hantu-hantu yang mendatanginya bukan lagi hantu-hantu bule yang necis dan cakep, melainkan hantu-hantu yang menyeramkan dan buruk rupa. Paling bikin saya merinding adalah hantu korban kebakaran bioskop dari Jogja. Ngeri banget penggambaran wujudnya, suwer. 🙁 Hantu-hantu tersebut mendatangi Risa untuk menceritakan kisah-kisah mereka semasa hidup hingga akhirnya menjadi arwah penasaran.

Nah, yang menarik di sini adalah kita jadi kayak bimbingan konseling dengan hantu gitu. 😀 Banyak petuah-petuah kehidupan dari kisah-kisah flashback para hantu tersebut. Membaca kisah-kisah para hantu yang tragis dan menyedihkan itu, seharusnya membuat kita bersyukur dan lebih menghargai kehidupan ini.

“Baru kali ini aku mengerti alasan kenapa mereka selalu mengeluarkan suara tangisan pilu. Baru sekarang aku tahu kenapa mereka selalu membuat suara-suara tawa mengerikan. Mereka sedang menangisi diri mereka sendiri, dan segala penyesalan atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka juga sedang menertawakan diri mereka, yang begitu bodoh membuat sebuah keputusan.” – hlm. 116

Last, buku ini asyik juga kalau dibaca sambil dengerin lagu Bilur-nya Kak Risa Saraswati yang gloomy banget itu. Biar makin gregets.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *