Buku

[Book Review] Sepotong Hati yang Baru: 8 Kisah Cinta dan Pelajaran yang Bisa Diambil Darinya

16052709
Gambar diambil dari sini

Judul: Sepotong Hati yang Baru

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Mahaka

Tebal: 204 halaman

Terbit: September 2012

Buku ini berisi sekumpulan cerita pendek tentang cinta, yang… endingnya kok nyesek semua. T__T

Konon, dalam kamus Melayu kuno tahun 1902, definisi dari kata “cinta” itu sendiri berupa “kesedihan” dan “patah hati”. Meskipun maknanya sudah sangat berlawanan dengan definisi cinta yang kita pahami saat ini, akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa cinta memang dapat berisiko membawa kita kepada kesedihan dan patah hati. Maka, hati-hatilah dalam bermain cinta.

“Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kamu tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut.” – Hlm. 51

Delapan cerita pendek dengan delapan jenis cinta terangkum dalam buku ini. Ada cinta yang kegeeran, cinta dalam kemiskinan dan tekanan hidup, cinta kepada orangtua dan keluarga, cinta karena pengabdian yang tulus, cinta beda kasta, cinta kepada tanah air, cinta yang dihianati, serta cinta yang hancur karena prasangka.

“Tetapi cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan.” – Hlm. 178

Delapan kisah cinta yang sangat heartbreaking, beserta hikmah-hikmah yang dapat diambil darinya. Cover buku ini pas banget untuk menggambarkan isinya. Hati yang diperban rapat, hanya menyisakan sepotong saja yang masih sehat.

Paling suka dengan cerpen yang diadaptasi dari kisah “Sampek Engtay” dan “Rama Shinta”. Dua kisah cinta legendaris tersebut memang terkenal memiliki ending yang sangat memilukan. Kisah Itje Noerbaja dan Kang Djalil juga cukup seru. Cerita cinta zaman penjajahan Belanda yang dituliskan dengan ejaan lama.

“Tapi tjinta kita, boekanlah apa-apa dibanding tjinta atas kemerdekaan bangsa kita. Tjinta soetji kita boekanlah apa-apa dibanding tjinta kita atas tanah air kita ini. Akoe, kamoe, akan mengorbankan apa poen demi itoe.”

Sayangnya, alih-alih menarik, saya justru capek baca tulisan dengan ejaan lama itu. Kayaknya nggak perlu ditulis pakai ejaan lama juga kali ya, untuk menunjukkan kalau cerita tersebut terjadi di masa penjajahan Belanda. Cukup dengan penggambaran setting atau interaksi tokoh-tokohnya mungkin.

Kisah kasih tak sampai si miskin dan si kaya ala Mbak Hesti dan Tigor juga cukup mengaduk perasaan. Klise, tapi entah kenapa tetap menarik.

Seperti yang tertulis di cover belakangnya, buku ini mengajarkan kepada kita bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik. Jadi, buat kamu…, kamu…, dan kamu yang suka baper dan galau mikir mantan atau gebetan, baiknya baca buku ini. Setidaknya, kamu akan tahu bahwa nasibmu jauh lebih baik daripada tokoh-tokoh yang ada di sini. 😀 *eh, kabur*

One thought on “[Book Review] Sepotong Hati yang Baru: 8 Kisah Cinta dan Pelajaran yang Bisa Diambil Darinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *