Buku

[Book Review] Istriku Seribu

VBpndiFm

Judul: Istriku Seribu

Penulis: Emha Ainun Nadjib

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 96 halaman

Terbit: Agustus 2015

Poligami barangkali menjadi bahasan yang tak pernah sepi diperbincangkan di masyarakat. Ada pro dan kontra, tentu saja. Sebagian berpendapat boleh poligami dengan alasan mengikuti syariat agama, sebagian yang lain menolak poligami dengan alasan melukai hak asasi wanita, dan sebagian lainnya lagi memilih berada di tengah-tengah, poligami dibolehkan dengan syarat-syarat tertentu yang kondisional.

Entah kesambet apa saya sehingga memutuskan untuk membaca buku dengan tema yang “berbahaya” ini. Lalu, tersesat ke dalam kalimat-kalimat yang penuh pemikiran dan tak bisa dibaca sambil ngemil kacang. Namun demikian, sebut saja saya sedang tersesat di jalan yang benar. Buku ini tipis saja, akan tetapi sarat akan nilai-nilai kehidupan yang berharga.

Di samping menyoroti seputar poligami, di dalam buku ini Cak Nun juga menyinggung permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat Indonesia, lebih tepatnya. Bagaimana mereka sangat mudah ribut-ribut sebab perkara yang remeh temeh, mudah teradu domba sebab hal-hal yang sepele. Melalui buku ini pula, Cak Nun mengajak kita untuk belajar berlapang dada ketika menghadapi sebuah kezaliman yang menimpa diri sendiri, sebab kezaliman yang dilakukan orang lain atas diri kita itu akan menjadi investasi pahala di masa yang akan datang. Dan banyak lagi pelajaran kehidupan yang disampaikannya melalui interaksi penulis dengan Yai Sudrun.

Kembali ke masalah poligami, penulis membahas asal mula ayat tentang poligami diturunkan, bagaimana kondisi sosial pada masa itu. Di bagian akhir buku ini, terdapat esai yang cukup menarik tentang bahwasanya Tuhan hanya sedang mengajak kita berdiskusi. Diskusi antara ayat Allah dengan akal pikiran manusia. Allah membolehkan laki-laki untuk berpoligami dengan syarat utama dapat berlaku adil. Sementara, dalam ayat lain secara tegas Allah menyatakan bahwa kaum lelaki sesekali tidak akan pernah mampu berbuat adil. Demikian, hendaknya manusia berpikir serta merenungkannya sebelum mengambil keputusan, demi kemaslahatan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *