Suka-Suka

Excuse Me, Can You Show Me this Address, Please .…

 

Tinggal di kampung yang dekat dengan salah satu objek wisata, sudah menjadi pemandangan yang jamak bagi saya, turis wara-wiri sambil menenteng kamera, backpack, dan peta. Dulu, waktu kecil, setiap kali melihat ada bule yang melintas di jalanan kampung, saya bersama sepupu dan teman-teman main lainnya selalu berseru riang, “Halo, Mister!” Lalu, si bule akan mengalihkan perhatiannya dari serius membaca peta menjadi serius memfoto anak-anak kecil yang gumunan melihat orang asing. Mendapat kesempatan difoto bule, bukan main bahagianya kami saat itu. Wkwkwk duh!

Belakangan, saat sudah dewasa, saya paham bahwa para bule itu memang sengaja blusukan untuk mengetahui kehidupan asli di perkampungan sekitar. Kalau bahasa kekiniannya, backpacker-an. Mereka sengaja blusukan sendiri dan memilih tidak menggunakan layanan city tour (atau apa ya namanya?) yang biasanya hanya mengunjungi tempat-tempat wisata yang umum saja. Karena blusukan sendiri, maka tentu saja mereka tidak ditemani oleh seorang tour guide. Ya, pokoknya berkelana sendiri gitulah! *ribet amat bahasanya, wkwk*

Dan, tidak seperti waktu masih kecil, sekarang ini ketika bertemu dengan turis yang sedang backpacker-an, saya justru sebisa mungkin menghindar. Bukan apa-apa, saya hanya takut ditanya alamat! Diminta menunjukkan arah pakai bahasa Indonesia saja saya sering ribet sendiri, apalagi kudu pakai bahasa Inggris. 🙁

 

Pernah suatu hari, saat saya sedang ke warung beli kuaci, tiba-tiba ada mbak turis datang menghampiri (halah!). “Excuse me, do you know where Jalan Mantrigawen is?” tanya mbak turis yang ternyata dari Vietnam itu. Jalan yang ditanyakan mbak turis kebetulan cukup dekat dengan posisi kami saat itu. Maka dengan penuh percaya diri, saya jawab:

“Ahh, it’s over there!” Sambil nunjuk ke depan.

There?” Mbak Turis pasang tampang plongo.

Wew… padahal maksud saya mau bilang gini, “Itu lho, Mbak, lurus aja. Sampai ada pertigaan. Nah, situ namanya Jalan Mantrigawen.” Tapiii… kata “pertigaan” bahasa Inggrisnya apaan sih? #plak *digetok pakai kamus Indonesia-Inggris*

 

Ya sudah, daripada ribet, saya anterin saja deh tuh Mbak Turis sampai ke tekape. Jalan kaki, tentu saja. Untung saja, nilai bahasa Inggris saya yang meskipun pas-pasan, tapi nggak jelek-jelek amat. Jadi, sepanjang perjalanan kami nggak krik krik, diem-dieman seperti lagi marahan. Hahaha

Do you live around here?” tanya Mbak Turis.

Yes,” jawab saya.

Married?”

Not yet,” jawab saya sambil senyum dimanis-manisin. Hadeh, ngobrol sama orang asing juga ada ya pertanyaan sejuta umat ini, “Kapan nikah?” -___-

Beruntung kami sudah sampai tekape sebelum obrolan makin nggak keruan. Saya katakan kepada Mbak Turis bahwa kami sudah sampai. Mbak Turis mengucapkan terima kasih, sambil memberi tahu bahwa sebenarnya dia sedang mencari penginapannya yang ada di sekitar jalan tersebut.

Thank you very much. I’m looking for The D*l*m, a guesthouse. But, I can just walk. Thank you :),” kata Mbak Turis.

Intinya, dia bilang dia bisa cari sendiri penginapannya. Yaa… gitu juga boleh, Mbak. Sebenarnya saya tahu itu di mana penginapannya. Nggak jauh lagi dari tempat kami berdiri waktu itu. Tapi, daripada ntar ruwet lagi, mending biar mbak turis cari sendiri saja deh ya. Wkwkwk *melipir pulang sambil nyisil kuaci*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *