Membaca & Menulis · Suka-Suka

Jika Kamu Mi Instan

Jika kamu adalah mi instan, maka aku adalah butiran nasi dalam panci magic com. Kita tak dapat bersatu, Sayang. Demikianlah kita ditakdirkan.

Untuk apa memaksa bersama, jika yang terjadi nanti adalah bahaya. Kita mungkin akan mengenyangkan. Namun, tidak menyehatkan. Sebab siapa pun yang berkenan menyatukan kita untuk mengisi lambungnya, dia harus rela mengalami lonjakan indeks glikemik. Kadar gula dalam darah pun bisa jadi naik.

Oh, tidak! Aku tidak menyukai kisah cinta yang berbahaya.

Maka bersandinglah engkau dengan bawang goreng, telur, atau cabai rawit. Mereka yang lebih mampu untuk membuatmu menjadi hidangan istimewa. Tak perlu kau risaukan aku di sini. Kelak akan kutemukan jodohku sendiri. Barangkali dia adalah sayur kangkung atau bayam yang dimasak oleh ibu. Tukang sayur akan membawanya kemari esok pagi. Asalkan besok tidak hujan.

Aku akan sabar menanti esok datang sambil mengenang kampung halaman. Sawah dan ladang. Di sanalah dulu aku tinggal, Sayang. Ah, andai Tuhan mengizinkan, aku ingin di sana selamanya. Agar kita tak pernah dipertemukan yang pada akhirnya tak bisa dipersatukan. Karena aku lebih suka jadi petani daripada jadi mantan pacarmu.

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2017 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *