Buku

[Book Review] Le Petit Prince: Pangeran Cilik

L0BqU8A_

Judul: Le Petit Prince: Pangeran Cilik

Penulis: Antoine de Saint-Exupéry

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 120 halaman

Terbit: Desember 2011

Penasaran dengan buku ini karena banyak yang bilang bagus dan konon telah disadur ke dalam 230 bahasa. Tak diragukan dong, ya. Mana ada 230 penerbit dari seluruh dunia yang berkenan ikut menerbitkan buku ini kalau kualitasnya nggak bagus.

Sempat terkecoh dengan covernya yang unyu dan isinya yang lengkap dengan ilustrasi. Saya pikir ini merupakan buku dongeng anak biasa yang ringan dan dapat dibaca sambil leha-leha. Namun, dugaan saya salah. Buku dongeng anak-anak memang khayali, tapi buku ini jauh lebih absurd lagi. Banyak permainan simbol dan metafora. Tak jarang kening saya berkerut untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh Monsieur Exupery di buku ini.

Buku ini bercerita tentang Pangeran Cilik yang tinggal seorang diri di planetnya yang kecil, bersama sekuntum bunga mawar. Suatu hari, Pangeran Cilik terjatuh dari planetnya. Dia lalu melakukan perjalanan melalui planet-planet yang lain untuk kembali ke planetnya sendiri. Dalam perjalanannya itulah, dia menemukan banyak hal yang menakjubkan dan tak jarang membuat benaknya mengeluarkan banyak pertanyaan-pertanyaan.

Meskipun dikemas seperti buku dongeng anak-anak, sebenarnya buku ini ditujukan untuk orang-orang dewasa. Melalui cerita perjalanan si Pangeran Cilik setelah dia jatuh dari planetnya, terdapat sindiran-sindiran tentang orang-orang yang gila kekuasaan, gila hormat, mabuk-mabukan, dan sebagainya. Sifat-sifat yang pada umumnya dimiliki oleh orang-orang dewasa.

“Tapi sayangnya, aku tak pandai melihat domba di dalam peti. Mungkin aku sedikit seperti orang-orang dewasa. Mungkin aku sudah menjadi tua.” – hlm. 23

Kutipan tersebut seolah menyindir kehidupan orang dewasa yang terlalu serius, terlalu sibuk berjibaku dengan dunia yang complicated, sehingga tak lagi peka dengan imajinasi-imajinasi sederhana khas anak-anak. Tak bisa dipungkiri, menjalani hidup sebagai orang dewasa dengan segala liku-likunya memang dapat memudarkan daya imajinasi kita.

Ada pula cerita tentang seorang pengusaha yang sibuk menghitung bintang sampai dirinya sendiri tidak tahu akan dia gunakan untuk apa bintang-bintang itu. Gambaran orang-orang dewasa yang kadang terlalu sibuk bekerja, sampai lupa meluangkan waktu untuk menikmati hasil kerja kerasnya.

“Orang-orang dewasa memang amat ganjil.” – hlm. 51

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *