Seni & Budaya

Asyiknya Nonton Gladhen Prajurit di Tengah Gerimis

Nonton kirab prajurit kraton merupakan agenda yang saya gemari sejak kecil. Waktu kecil, saya akan senang sekali ketika almarhum simbah wedok (mbah putri) mengajak saya ke alun-alun utara yang jaraknya tak jauh dari rumah untuk menyaksikan acara garebeg. Apa yang saya tunggu di acara itu? Tentu saja iring-iringan prajurit kraton yang mengantarkan gunungan keluar dari dalam kraton untuk selanjutnya nanti akan dirayah atau dibagi-bagikan ke masyarakat. Iring-iringan bregada prajurit kraton yang berbaris dengan diiringi istrumen perpaduan genderang, seruling, dan terompet yang dibunyikan dengan irama lambat sungguh membuat saya terpesona.

Bahkan, saya tak segan  duduk bersila dengan nyaman di atas rumput pinggir trotoar. Tak peduli jika sesekali harus menggaruk kaki yang gatal akibat digigit semut api yang bersarang pada akar rumput di dalam tanah. Hal ini tentu sudah tak bisa lagi saya lakukan saat ini. Selain karena rumput yang ada di alun-alun tidak serimbun dulu sehingga tidak memungkinkan untuk bersila di sana, juga karena sudah tua oiii… jadi nggak bisa sebebas waktu masih kecil. Hahaha

Namun demikian, bertambahnya usia tidak menyurutkan kegemaran saya untuk nonton kirab prajurit Kraton. Dulu, selain di acara Garebegnya, saya biasanya juga menyaksikan arak-arakan para prajurit itu ketika mereka latihan dan lewat di depan rumah. 😀 Namun, belakangan pihak pariwisata Kraton membuat agenda sendiri untuk latihan prajurit ini sehingga bisa disaksikan oleh masyarakat luas. Agenda tersebut diberi tajuk “Gladhen Prajurit”. Nah, pada postingan ini saya mau cerita pengalaman saya waktu nonton gladhen prajurit dalam rangka acara Garebeg Maulud tahun Dal 1951. Late post banget sih emang. 😀

GP 1
Hujan-hujan stand by di alun-alun utara 😀

Dalam setahun, setidaknya ada tiga kali acara garebeg, yaitu pada waktu Idulfitri, Iduladha, dan Maulud Nabi Muhammad saw. Dari masing-masing acara garebeg tersebut, pasti ada gladhen-nya. Saya kurang tahu juga berapa kali persisnya mereka latihan. Tapi, acara “Gladhen Prajurit” selalu bisa ditonton setidaknya dalam tiga kali garebeg itu. Dalam acara gladhen ini, para prajurit belum memakai kostum dan atribut lengkap. Mereka memakai “pakaian dinas”-nya para abdi dalem. Kalau tidak salah, pakaian ini disebut dengan nama “baju peranakan”, yaitu satu set baju atasan lurik, bawahan jarik, serta ikat kepala blangkon. Tak ketinggalan keris yang terselip di pinggang.

Terkait baju peranakan, ternyata setiap detail dari baju ini memiliki makna tersendiri, loh. Dari laman Facebook Kraton Jogja dijelaskan bahwa dalam baju peranakan terdapat 6 buah kancing di bagian leher yang melambangkan rukun iman dan 5 buah kancing di ujung lengan menyimbolkan rukun Islam. Adapun nama “peranakan” itu sendiri memiliki makna “satu keturunan”. Nama ini bukan tanpa maksud. Kata “peranakan” dipilih untuk menjadi nama pakaian dinas para abdi dalem sebagai wujud harapan agar para abdi dalem satu sama lain saling menjaga hubungan harmonis layaknya saudara kandung atau saudara satu keturunan.

GP 2
Para prajurit  keraton Yogyakarta dengan pakaian peranakan

Kembali ke acara Gladhen Prajurit, waktu itu saya sempat pesimis tidak jadi nonton acara yang sudah saya tunggu-tunggu ini, sebab tiba-tiba hujan turun deras sekali. Sampai pada jam di mana acara seharusnya dimulai, hujan tidak kunjung reda. Malah semakin deras. Saya pikir, “Ah, jangan-jangan gladhen-nya juga nggak jadi, nih. Hujan begini.” Tapi, tak lama kemudian, dari rumah terdengar sayup-sayup suara terompet dan genderang. Walah… sudah mulai yak! Akhirnya, saya dan kawan nekat pakai payung menuju ke lokasi.

Awalnya kami menyaksikan arak-arakan mereka dari Kemandhungan Ler atau Keben. Di tengah hujan deras, para prajurit itu tetap semangat menabuh genderang, meniup terompet, dan berbaris masuk ke dalam salah satu areal di Keraton, yang kemudian nanti akan keluar kembali melalui gerbang Pagelaran Keraton. Salut, deh. Para prajurit itu yang sebagian juga terdiri dari bapak-bapak sepuh, tetap semangat meski hujan sedang lebat.

GP 3
Tetap semangat meski sedang hujan

Karena kami nggak boleh ikut masuk ke dalam areal Kraton, maka dari Kemandungan Ler kami kemudian langsung ngacir ke alun-alun utara dan menunggu para prajurit keluar dari pintu gerbang Pagelaran Kraton. Di sana, ternyata banyak juga orang-orang yang sudah berdiri di tepi trotoar untuk menyaksikan Gladhen Prajurit. Meski waktu itu hujan belum sepenuhnya reda. Masih ada gerimis tipis-tipis.

Nah, karena pada waktu itu bertepatan dengan tahun Dal, maka rangkaian acara garebeg pada waktu itu pun berbeda dari tahun-tahun biasanya. Konon tahun Dal ini hanya terjadi selama 8 tahun sekali, demikian kata salah satu bapak prajuritnya waktu saya tanya. Jadi, kalau biasanya gunungan akan langsung dirayah oleh masyarakat sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan, pada tahun tahun Dal ini ada satu gunungan lagi yang harus para prajurit bawa pulang kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para kerabat Keraton. Gunungan tersebut dinamakan gunungan Bromo. Sebelumnya, gunungan Bromo akan ikut diarak bersama gunungan yang lain. Dua gunungan lanang kemudian dibawa ke Kepatihan dan Puro Pakualaman, lima gunungan dibagikan kepada masyarakat di pelataran Masjid Gedhe Kauman, sedangkan gunungan Bromo dibawa kembali ke Kraton. Pada waktu gladhen, gunungannya belum dibawa tentu saja.

GP 4
Menunggu gunungan Bromo dibacakan doa di pelataran Masjid Gedhe Kauman

Bagi saya sendiri, sebenarnya lebih menyukai nonton Gladhen Prajurit daripada waktu acara garebeg-nya. Meskipun belum ada gunungan serta para prajuritnya belum memakai atribut dan kostum lengkap, tapi saya lebih bisa menikmati rangkaian acaranya. Sebab, pada waktu garebeg biasanya akan crowded sekali. Alih-alih menikmati acara, saya harus berjibaku senggol-senggolan dengan penonton lainnya. Pernah suatu kali, saya hampir berakhir di tangan paramedis karena dehidrasi waktu nonton garebeg. Untung nggak pingsan. Kan, malu kalau sampai pingsan. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *