Kuliner

Kicak and the Story Behind

Kalau ada yang saya tunggu di saat Ramadan, salah satunya adalah untuk mencicipi kudapan khas Yogyakarta ini. Namanya Kicak, makanan tradisional yang terbuat dari ketan, parutan kelapa muda, santan, gula, dan irisan nangka. Rasanya manis, gurih, dan lembut di lidah. Cocok sekali disantap waktu buka puasa. Ditambah aroma nangka yang hmm… sungguh menggugah selera.

Konon, kicak merupakan kudapan asli dari kampung Kauman Yogyakarta dan hanya muncul pada saat bulan Ramadhan. Di daerah lain, ada juga makanan tradisional dengan nama kicak. Namun, tidak sama dengan kicak versi Kauman ini. Di daerah Jepara misalnya, kicak terbuat dari singkong yang diberi taburan parutan kelapa dan gula merah. Dari bahannya, kicak versi Jepara ini barangkali memiliki citarasa mirip dengan gethuk. Berbeda dengan kicak versi Kauman yang berbahan dasar beras ketan.

Kicak
Kicak versi Kauman

Adalah Mbah Wono, orang pertama yang membuat kicak Kauman sejak tahun 80-an. Mbah Wono adalah warga asli kampung Kauman. Dulu, beliau membuat kicak untuk dijual sebagai menu harian di warung nasinya. Namun, ternyata kicak lebih digemari pada saat bulan Ramadhan dibandingkan pada hari-hari biasa. Sejak saat itulah, kicak akhirnya hanya dibuat setiap bulan Ramadhan saja.

Sayangnya, belum diketahui mengapa beliau memberi nama penganan ciptaannya ini kicak. Anak cucu Mbah Wono sendiri belum sempat menanyakan hal ini kepada beliau. Saat ini, Mbah Wono telah meninggal dunia. Namun, tradisi membuat kicak selama bulan Ramadan masih terus dilanjutkan oleh anak cucu beliau. Bahkan, banyak pedagang lain yang kemudian juga membuat kicak dengan modifikasi mereka sendiri. Kini, kicak dapat dijumpai setiap bulan puasa di Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman. Letaknya di sepanjang lorong kampung Kauman.

Masjid Kauman
Masjid Gede Kauman

Nah, mencicipi kue kicak ini menjadi salah satu momen khas Ramadan versi saya. Kalau sekarang, sih, penjual kicak mungkin sudah menjamur, di mana-mana ada. Tapi, rasanya belum mantep aja kalau belum mencicipi kicak yang asli dari Kauman. Jadi, kemarin sepulang kerja saya sempatkan mampir menyusuri lorong-lorong kampung Kauman untuk membeli penganan ini. Ada yang sudah pernah makan kicak juga? 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *