Suka-Suka

Bertemu Dilan KW di Bus Transjogja Jalur 1B, Akankah Ada Pertemuan Ketiga?

Saya selalu berpendapat bahwa yang disebut sebagai jodoh itu bukan semata belahan jiwa yang menunggu untuk berlayar bersama sambil saling bergenggaman tangan, melainkan siapa saja yang dipertemukan oleh Tuhan di sepanjang perjalanan kehidupan. Baik mereka yang singgah untuk kita sebut sebagai teman, maupun mereka yang hanya sepintas lalu hadir namun tetap meninggalkan kenangan.

Sepanjang tahun 2018 kemarin, alhamdulillah saya “berjodoh” dengan banyak teman baru. Termasuk salah satu orang unik yang saya temui awal tahun 2018 lalu. Saya menyebutnya sebagai Dilan KW, sebab kelakuannya mirip Dilan. Iya, Dilan yang itu. Tahu, kan. Dilan pacar Milea di novelnya Pidi Baiq yang famous itu. Dilan yang jago nyepik dan bikin cewek-cewek baper. Pertemuan kami hanya sepintas saja. Tidak berlama-lama. Namun, tetap meninggalkan cerita.

Siang itu, kira-kira awal bulan April atau akhir Maret 2018. Lupa tepatnya. Tidak ada yang istimewa. Saya hanya menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi ngejar bus, sore nunggu bus. Gitu aja terus sampai Jungkook tahu-tahu sudah gede, lol. Namun, hari Sabtu siang itu, takdir memberi sedikit kejutan agar hidup saya tidak terlalu lempeng. Waktu itu, saya sedang otw pulang kerja naik Transjogja jalur 1B. Lalu, naiklah cowok ini dan duduk di sebelah saya. Mulanya saya cuek aja (yakali, nggak kenal mau SKSD), sebelum akhirnya dia menyapa saya terlebih dahulu. Lalu, kami ngobrol. Kebetulan kami sama-sama turun di Taman Pintar. Dia mau ke Taman Budaya Yogyakarta.

Di tengah obrolan, tiba-tiba dia mengeluarkan buku kumpulan puisi karyanya. Wah, penyair ternyata. Lalu, dia cerita kalau sedang ada masalah dengan penerbit tempat bukunya itu diterbitkan. Katanya, pihak penerbit keliru mencantumkan ISBN dari buku lain pada cover bukunya. Dia lalu inisiatif menghubungi pihak Perpusnas untuk mengganti input di database mereka. Minta ditukar antara data ISBN untuk bukunya dengan data ISBN buku lain yang keliru itu. Menurutnya, hal itu lebih efisien daripada harus mencetak lagi cover dengan ISBN yang benar, lalu dijilid ulang. Lagipula, kata dia, kalau dibongkar terus dipasang lagi jilidan bukunya, nanti jadi jelek. Namun, inisiatifnya itu malah justru membuat CEO penerbit marah dan ngomel ke dia.

Allahumma… yakaliii….

Mendengar ceritanya, saya malah jadi pengin ikutan ngomelin dia. Saya bilang, masalah itu sebenarnya mudah diatasi kalau dia pasrahkan saja ke penerbit. Kan, kesalahan ada di pihak penerbit. Jadi, biar penerbit yang mengatasinya. Inisiatif dia menghubungi Perpusnas malah bikin masalah jadi melebar ke mana-mana. Wajar aja kalau CEO penerbitnya jadi marah. Nah, mendengar saya nyerocos begitu, dia jadi bertanya-tanya. Kok, saya bisa tahu banyak masalah ginian? Ya udah, saya bilang kalau saya kerja di penerbit juga. Hal yang kemudian saya sesali karena dia jadi makin penasaran. Tanya-tanya saya kerja di penerbit mana, bagian apa, dan sebagainya.

Jelang turun dari bus, tiba-tiba dia menyodorkan handphone-nya sambil bilang, “Minta nomor wa, ya.” Duh, saya nggak terbiasa kasih nomor handphone ke orang asing secara random begitu. Jadi, saya tanya balik, “Buat apa?” Dia bilang buat jualan buku. Sempat tebersit di benak saya buat kasih nomor asal aja, bukan nomor yang beneran. Tapi, dia bilang, “Jangan dipalsuin, lho.” OMG! Bisa baca pikiran apa gimana ini orang?

Setelah turun dari bus, saya langsung buru-buru pamit dan ngacir menjauh dari dia sambil berdoa semoga saya tidak perlu berurusan yang aneh-aneh dengannya. Saya kira, Allah mengabulkan doa saya itu. Karena beberapa waktu setelahnya, hidup saya kembali lempeng seperti biasa. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, tiga minggu, aman. Sampai suatu hari, kami ketemu lagi!! Tanpa sengaja. Di Transjogja jalur yang sama.

Dia tanya kabar, saya jawab baik. Terus kami ngobrol lagi. Dia tanya, “Eh, ini tanggal 25, ya?” Saya jawab, iya. Lalu, tiba-tiba dia mengulurkan tangan sambil bilang “Selamat, ya.”

Hah?

Selamat apaan? Saya tanya. Jawabnya, selamat hari Kartini. -__-

Mau nggak mau saya jadi ngakak. Terus iseng saya bilang, “Kenapa cuma aku? Ini ibunya juga Kartini,” kata saya sambil menunjuk ibu-ibu di sebelah. Ibunya cuma mesem-mesem saja. And you know what? Dia terus menyalami semua ibu-ibu dan mbak-mbak yang ada di bus sambil mengucapkan selamat hari Kartini. Saya sampai malu.

Untuk mengalihkan topik, saya bilang “Kok, bisa kebetulan ketemu lagi, ya?” Dia malah balik tanya, “Setiap hari naik bus ini, ya?” Saya jawab, iya. Lalu katanya, “Kalau begitu tunggu sampai pertemuan ketiga.” Emang kenapa dengan pertemuan ketiga? Tanya saya. Kata dia, “Aku percaya nggak ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk pertemuan kita.” Astagaaa!! -____-

Waktu itu saya ketawa, sih. Tapi, kan, malu juga dilihat sama orang-orang satu bus. Saya tahu, dia pasti mau ke TBY lagi. Jadi, saya turun di halte depan Pakualaman karena nggak mau turun bareng dia di Taman Pintar. Sudah terlanjur malu sama orang-orang di dalam bus. Dia tanya, “Loh, kan turunnya di Taman Pintar?” Akhirnya saya terpaksa bohong mau mampir ke suatu tempat dulu. Huft!

Nah, waktu saya mau turun, ada ibu-ibu juga mau turun. Terus cowok aneh itu manggil si ibu. Dia bilang gini, “Bu, titip, ya.” Allahumma… mana ibunya pakai jawab “Nggih, Mas.” segala.

Sungguh, kalau saya baca adegan seperti ini di novel romansa, pasti saya akan sibuk ber-uwuwu ria. Tapi ketika mengalaminya sendiri, ternyata yang ada saya malah merasa insecure. Malu banget sama orang-orang sumpeh. Sepanjang perjalanan pakai Gojek ke rumah, saya berdoa semoga nggak perlu berurusan dengan orang yang aneh-aneh lagi.

Demikian kisah pertemuan saya dengan Dilan KW. Meski dramatis begini, ini kisah nyata, Gaess. Saya juga nggak nyangka bakal ketemu orang sejenis itu. Yang jelas, semenjak pertemuan kedua itu, saya langsung ganti jalur bus dan sering naik Gojek dari kantor. Takut ada pertemuan ketiga, haha. Oh ya, dia juga sempat whatsapp. Tapi setiap kali dia whatsapp, saya selalu balas slow respons dan ala kadarnya. Wkwk ya gimana, serem eh. 😀

Tahun 2019 saya sudah balik naik jalur 1B lagi. Tapi, Dilan KW sudah nggak ada. Hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *