Suka-Suka

Terima Kasih Telah Singgah

Terima kasih telah bersedia singgah, Tuan.

Maaf aku tak sempat menyeduhkan secangkir kopi serta setangkup roti berlapis selai stroberi, sebab engkau telah buru-buru pergi. Lebih tepatnya, aku yang mengizinkanmu singgah sejenak di dalam dada ini dan aku pula yang kemudian melepasmu pergi lagi.

Aku harus melepasmu pergi.

Bukan karena aku membencimu, Tuan. Justru, kau yang paling istimewa sejauh ini. Hanya, aku terlalu lelah untuk terjebak dalam gelisah, sebagaimana yang sudah-sudah. Sudah kutinggalkan semua hal yang melelahkan itu. Tahun ini, aku hanya ingin merawat diriku sendiri. Lahir dan batin.

Namun, satu hal yang perlu kau tahu, Tuan. Darimu, aku sadar bahwa orang hebat adalah justru dia yang tak pernah menunjukkan dirinya sendiri hebat. Kehebatannya akan tampak sendiri dari kerendahan hati. Bagiku, kamu hebat, tapi rendah hati. Kamu pintar, banyak yang mengakui itu. Pun aku, melihatmu seperti itu. Kamu pendiam, tapi juga lucu. Kamu puitis, tapi tidak sembarangan mengumbar kata-kata romantis. Lebih dari itu, kamu adalah pria yang sopan.

Belakangan baru kusadari fakta bahwa kamu memang tak sempurna, tapi kamu sempurna memenuhi kriteria yang kupintakan kepada-Nya. Fakta yang membuatku tidak ingin melihat yang lain secara objektif. Aku hanya melihatmu saja. Tentu saja, sikapku itu kurang benar. Sebab seperti katamu, setiap orang punya takaran kebahagiaan dan kesempurnaan masing-masing. Jadi jangan dibanding-bandingkan.

Jodohmu kelak tentulah wanita dengan kualitas yang sama sepertimu. Dan, itu bukan aku.

Membahas masalah jodoh, topik inilah yang membuat kita bertemu dalam situasi yang membuatku gelisah begini. Saat kamu mengetuk pintu di awal tahun baru beberapa tahun yang lalu, betapa senangnya aku menyambutmu. Tentu, aku belum berpikiran apa-apa waktu itu. Yang aku bayangkan hanyalah, aku dapat melakukan hal-hal yang kulakukan dulu. Waktu kamu mengajariku macam-macam, meskipun kita belum pernah dipertemukan. Maka pada kali pertama kita bertemu, aku membayangkan dapat melakukan semua hal itu. Belajar banyak darimu, berbincang panjang denganmu, ngobrol lucu-lucuan, pun aku bisa meminjam buku-bukumu. Jadi, marilah sekarang kita lakukan hal-hal yang seperti itu saja. Berteman biasa, seperti yang kau minta.

Terima kasih. Senang berteman denganmu. 🙂

 

PS: Kalau kau tak mengizinkanku untuk mengendap-endap masuk ke hatimu, berhentilah wara wiri di pikiranku. Aku mau cepat move on, woii!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *