Suka-Suka

Lelaki yang Mengetuk Pintu di Tahun Baru

 

Tahun baru kala itu, baru genap lima hari usianya. Aku masih berjuang mengusir kunang-kunang yang beterbangan di depan mataku akibat migrain. Sisa-sisa pertempuran bersama bu dokter gigi di hari sebelumnya, membuatku tidak enak badan. Bekas suntikan anestesi itu, membuat gusiku terasa sangat nyeri dan ngilu. Aku lapar, tapi susah makan. Hiks! :’(

Sebagai penghiburan, aku bermaksud membuka beranda rumahku. Bertemu dan menyapa teman-teman di sana barangkali akan membuatku lupa rasa sakit yang sedang kuderita. Lagipula, sudah beberapa hari aku tidak menengok beranda rumahku sejak hari yang heroik itu.

Tiba-tiba, kau muncul di sana. Di beranda rumahku. “Hai, bolehkah aku berteman denganmu?” kau bilang.

Ah, bukan… bukan begitu kronologisnya. Kau hanya muncul begitu saja. Menawarkan pertemanan. Tanpa sapa. Pun salam pembuka.

Hari-hari setelahnya, kita resmi berteman. Namun, kau tetap diam. Tak ada obrolan. Apalagi canda. Tetangga baru ini memang berbeda. Mungkin kamu adalah alien.

Iseng, aku main ke rumahmu. Sekadar ingin “say hi” kepada tetangga baru. Namun, yang ada aku justru seperti tenggelam dalam tumpukan buku. Tersandung di sana sini, lalu tersesat. Seperti masuk ke dunia lain, kemudian melambaikan tangan dan aku menyerah!

Kulihat dari beranda rumahku, kau memang sering wara wiri membawa setumpuk buku-buku. Well, sepertinya kamu bukan alien, melainkan kutu buku. Atau, mungkin kamu kutu buku keturunan alien. Bisa jadi.

Namun, siapa pun kamu. Alien ataupun kutu, sepertinya kamu adalah makhluk (?) yang baik.

Jadi, love to be your friend. 🙂

Udah, gitu aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *