Suka-Suka

Bertemu Dilan KW di Bus Transjogja Jalur 1B, Akankah Ada Pertemuan Ketiga?

Saya selalu berpendapat bahwa yang disebut sebagai jodoh itu bukan semata belahan jiwa yang menunggu untuk berlayar bersama sambil saling bergenggaman tangan, melainkan siapa saja yang dipertemukan oleh Tuhan di sepanjang perjalanan kehidupan. Baik mereka yang singgah untuk kita sebut sebagai teman, maupun mereka yang hanya sepintas lalu hadir namun tetap meninggalkan kenangan.

Sepanjang tahun 2018 kemarin, alhamdulillah saya “berjodoh” dengan banyak teman baru. Termasuk salah satu orang unik yang saya temui awal tahun 2018 lalu. Saya menyebutnya sebagai Dilan KW, sebab kelakuannya mirip Dilan. Iya, Dilan yang itu. Tahu, kan. Dilan pacar Milea di novelnya Pidi Baiq yang famous itu. Dilan yang jago nyepik dan bikin cewek-cewek baper. Pertemuan kami hanya sepintas saja. Tidak berlama-lama. Namun, tetap meninggalkan cerita.

Siang itu, kira-kira awal bulan April atau akhir Maret 2018. Lupa tepatnya. Tidak ada yang istimewa. Saya hanya menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi ngejar bus, sore nunggu bus. Gitu aja terus sampai Jungkook tahu-tahu sudah gede, lol. Namun, hari Sabtu siang itu, takdir memberi sedikit kejutan agar hidup saya tidak terlalu lempeng. Waktu itu, saya sedang otw pulang kerja naik Transjogja jalur 1B. Lalu, naiklah cowok ini dan duduk di sebelah saya. Mulanya saya cuek aja (yakali, nggak kenal mau SKSD), sebelum akhirnya dia menyapa saya terlebih dahulu. Lalu, kami ngobrol. Kebetulan kami sama-sama turun di Taman Pintar. Dia mau ke Taman Budaya Yogyakarta.

Di tengah obrolan, tiba-tiba dia mengeluarkan buku kumpulan puisi karyanya. Wah, penyair ternyata. Lalu, dia cerita kalau sedang ada masalah dengan penerbit tempat bukunya itu diterbitkan. Katanya, pihak penerbit keliru mencantumkan ISBN dari buku lain pada cover bukunya. Dia lalu inisiatif menghubungi pihak Perpusnas untuk mengganti input di database mereka. Minta ditukar antara data ISBN untuk bukunya dengan data ISBN buku lain yang keliru itu. Menurutnya, hal itu lebih efisien daripada harus mencetak lagi cover dengan ISBN yang benar, lalu dijilid ulang. Lagipula, kata dia, kalau dibongkar terus dipasang lagi jilidan bukunya, nanti jadi jelek. Namun, inisiatifnya itu malah justru membuat CEO penerbit marah dan ngomel ke dia.

Allahumma… yakaliii….

Mendengar ceritanya, saya malah jadi pengin ikutan ngomelin dia. Saya bilang, masalah itu sebenarnya mudah diatasi kalau dia pasrahkan saja ke penerbit. Kan, kesalahan ada di pihak penerbit. Jadi, biar penerbit yang mengatasinya. Inisiatif dia menghubungi Perpusnas malah bikin masalah jadi melebar ke mana-mana. Wajar aja kalau CEO penerbitnya jadi marah. Nah, mendengar saya nyerocos begitu, dia jadi bertanya-tanya. Kok, saya bisa tahu banyak masalah ginian? Ya udah, saya bilang kalau saya kerja di penerbit juga. Hal yang kemudian saya sesali karena dia jadi makin penasaran. Tanya-tanya saya kerja di penerbit mana, bagian apa, dan sebagainya.

Jelang turun dari bus, tiba-tiba dia menyodorkan handphone-nya sambil bilang, “Minta nomor wa, ya.” Duh, saya nggak terbiasa kasih nomor handphone ke orang asing secara random begitu. Jadi, saya tanya balik, “Buat apa?” Dia bilang buat jualan buku. Sempat tebersit di benak saya buat kasih nomor asal aja, bukan nomor yang beneran. Tapi, dia bilang, “Jangan dipalsuin, lho.” OMG! Bisa baca pikiran apa gimana ini orang?

Setelah turun dari bus, saya langsung buru-buru pamit dan ngacir menjauh dari dia sambil berdoa semoga saya tidak perlu berurusan yang aneh-aneh dengannya. Saya kira, Allah mengabulkan doa saya itu. Karena beberapa waktu setelahnya, hidup saya kembali lempeng seperti biasa. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, tiga minggu, aman. Sampai suatu hari, kami ketemu lagi!! Tanpa sengaja. Di Transjogja jalur yang sama.

Dia tanya kabar, saya jawab baik. Terus kami ngobrol lagi. Dia tanya, “Eh, ini tanggal 25, ya?” Saya jawab, iya. Lalu, tiba-tiba dia mengulurkan tangan sambil bilang “Selamat, ya.”

Hah?

Selamat apaan? Saya tanya. Jawabnya, selamat hari Kartini. -__-

Mau nggak mau saya jadi ngakak. Terus iseng saya bilang, “Kenapa cuma aku? Ini ibunya juga Kartini,” kata saya sambil menunjuk ibu-ibu di sebelah. Ibunya cuma mesem-mesem saja. And you know what? Dia terus menyalami semua ibu-ibu dan mbak-mbak yang ada di bus sambil mengucapkan selamat hari Kartini. Saya sampai malu.

Untuk mengalihkan topik, saya bilang “Kok, bisa kebetulan ketemu lagi, ya?” Dia malah balik tanya, “Setiap hari naik bus ini, ya?” Saya jawab, iya. Lalu katanya, “Kalau begitu tunggu sampai pertemuan ketiga.” Emang kenapa dengan pertemuan ketiga? Tanya saya. Kata dia, “Aku percaya nggak ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk pertemuan kita.” Astagaaa!! -____-

Waktu itu saya ketawa, sih. Tapi, kan, malu juga dilihat sama orang-orang satu bus. Saya tahu, dia pasti mau ke TBY lagi. Jadi, saya turun di halte depan Pakualaman karena nggak mau turun bareng dia di Taman Pintar. Sudah terlanjur malu sama orang-orang di dalam bus. Dia tanya, “Loh, kan turunnya di Taman Pintar?” Akhirnya saya terpaksa bohong mau mampir ke suatu tempat dulu. Huft!

Nah, waktu saya mau turun, ada ibu-ibu juga mau turun. Terus cowok aneh itu manggil si ibu. Dia bilang gini, “Bu, titip, ya.” Allahumma… mana ibunya pakai jawab “Nggih, Mas.” segala.

Sungguh, kalau saya baca adegan seperti ini di novel romansa, pasti saya akan sibuk ber-uwuwu ria. Tapi ketika mengalaminya sendiri, ternyata yang ada saya malah merasa insecure. Malu banget sama orang-orang sumpeh. Sepanjang perjalanan pakai Gojek ke rumah, saya berdoa semoga nggak perlu berurusan dengan orang yang aneh-aneh lagi.

Demikian kisah pertemuan saya dengan Dilan KW. Meski dramatis begini, ini kisah nyata, Gaess. Saya juga nggak nyangka bakal ketemu orang sejenis itu. Yang jelas, semenjak pertemuan kedua itu, saya langsung ganti jalur bus dan sering naik Gojek dari kantor. Takut ada pertemuan ketiga, haha. Oh ya, dia juga sempat whatsapp. Tapi setiap kali dia whatsapp, saya selalu balas slow respons dan ala kadarnya. Wkwk ya gimana, serem eh. 😀

Tahun 2019 saya sudah balik naik jalur 1B lagi. Tapi, Dilan KW sudah nggak ada. Hahaha

Seni & Budaya

Menjenguk Keraton Yogyakarta di Masa Lalu dengan ‘Mesin Waktu’

Sejak kecil, saya sangat menyukai dongeng. Saya tinggal di perkampungan di dalam benteng Keraton Yogyakarta. Orang Yogya sering menyebut daerah tempat tinggal saya dengan nama jeron beteng. Di daerah jeron beteng, banyak sastra lisan seperti dongeng, asal-usul, mitos, tembang, dan sebagainya, yang tersebar di masyarakat setempat. Saya bersyukur masih sempat mendengar beberapa sastra lisan tersebut sebelum keberadaannya mulai punah seiring dengan berkembangnya zaman. Salah satu yang tak pernah saya lupa adalah tembang Mijil berikut ini.

Ing Mataram betengira inggil. Ngubengi kedhaton. Plengkung lima mung papat mengane. Jagang jero toyanira wening. Ringin pacak suji. Gayam turut lurung.

Terjemahan:

Di Mataram bentengnya tinggi. Mengelilingi keraton. Lima pintu gerbang, hanya empat yang terbuka. Parit yang dalam dan airnya jernih. Pohon beringin di-pacak suji. Pohon gayam sepanjang jalan.

Kali pertama saya mendengar tembang tersebut dari almarhum simbah putri. Beliau menyenandungkannya untuk saya lengkap dengan cerita tentang kerajaan dengan lima pintu gerbang, tetapi satu pintunya ditutup. Kata simbah, salah satu pintu gerbang tersebut ditutup karena di sana banyak maling.

Tahun 2008, saya mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian terkait sastra-sastra lisan yang ada di wilayah jeron beteng dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Sayang karena keterbatasan ilmu, saya dan tim tidak berhasil lolos hingga ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Namun demikian, saya cukup senang karena dari kegiatan tersebut, saya jadi tahu bahwa cerita simbah tentang kerajaan dengan lima pintu gerbang itu bukanlah kisah fiksi. Lalu, “maling” yang dimaksud oleh simbah bukanlah pencuri biasa, melainkan tentara Inggris.

Saat penelitian, kami melakukan interview ke beberapa penduduk setempat serta membaca banyak referensi. Dari situlah, saya tahu bahwa semua yang digambarkan dalam lirik tembang Mijil nyata adanya. Seperti mesin waktu, tembang Mijil tersebut seolah mengajak kita untuk menjenguk keraton Yogyakarta tempo dulu. Kalau begitu, mari kita nyalakan mesin waktunya dan kembali ke masa lalu.

/ Ing Mataram, betengira inggil / Ngubengi kedhaton /

Pada tahun 1755, Pangeran Mangkubumi atau Hamengkubuwana I membangun ibukota kerajaan Yogyakarta di atas tanah sepanjang 4 km. Wilayah ini yang kelak disebut jeron beteng. Di tengah-tengah wilayah tersebut, berdiri istana Pangeran Mangkubumi yang kemudian kita kenal sebagai Keraton Yogyakarta.

Tahun 1785-1787, Adipati Anom, sang putra mahkota yang kelak bergelar Hamengkubuwana II, memprakarsai pembangunan benteng baluwarti mengelilingi wilayah di sekitar keraton. Lengkap dengan bastion untuk mengintai musuh di setiap sudutnya.

Konon, pembangunan benteng baluwarti ini sebagai bentuk protes atas pembangunan benteng milik kompeni yang terletak tak jauh dari keraton. Kini dikenal dengan nama Benteng Vredeburg.

IMG_20171227_070442
Benteng baluwarti beserta bastion yang masih tersisa

/ Plengkung lima mung papat mengane /

Terdapat lima pintu gerbang yang berbentuk melengkung (plengkung) untuk akses keluar masuk wilayah yang dilingkupi baluwarti. Kelima pintu gerbang tersebut bernama: Plengkung Nirbaya, terletak di dekat alun-alun selatan, menghadap selatan; Plengkung Jagabaya, terletak di sebelah barat Tamansari, menghadap barat; Plengkung Jagasura, terletak di sebelah barat alun-alun utara, menghadap utara; Plengkung Tarunasura, terletak di sebelah timur alun-alun utara, menghadap utara; dan Plengkung Madyasura, terletak di benteng timur, menghadap timur.

Tahun 1812, terdapat kabar mengenai penyerangan tentara Inggris dari arah timur keraton. Maka, Plengkung Madyasura pun dengan tergesa ditutup secara permanen. Namun, ternyata para tentara Inggris menyerang dari arah utara dengan menjebol benteng bagian utara. Sejarah mencatatnya sebagai peristiwa “Geger Sepei”. Bekas penjebolan benteng oleh tentara Inggris ini masih dapat kita lihat di sebelah timur Jalan Ibu Ruswo Yogyakarta.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 16.24.08
Bekas penjebolan benteng dalam peristiwa Geger Sepei

Sejak ditutup secara permanen, Plengkung Madyasura kemudian dijuluki dengan nama plengkung buntet oleh masyarakat setempat. Plengkung buntet berarti “plengkung yang tertutup”. Keberadaan si plengkung buntet Madyasura saat ini semakin tergeser oleh padatnya pemukiman penduduk. Jika ingin melihatnya, kita bisa pergi ke Jalan Mantrigawen, Yogyakarta. Di sela-sela atap rumah penduduk, kita akan menemukan sebuah bangunan menyerupai gapura. Nah, itulah dia Madyasura.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 16.24.40
Sisa Plengkung Madyasura

Saat ini, hanya tinggal dua pintu gerbang saja yang masih dapat kita temukan dalam kondisi lumayan utuh, yaitu Plengkung Nirbaya (kini dikenal dengan nama Plengkung Gading) dan Plengkung Tarunasura (kini dikenal dengan nama Plengkung Wijilan). Adapun Plengkung Jagabaya dan Plengkung Jagasura saat ini hanya tampak berupa gapura biasa. Tidak lagi berbentuk plengkung (melengkung).

Dari kiri ke kanan: Plengkung Nirbaya – Plengkung Tarunasura – Plengkung Jagasura – Plengkung Jagabaya

/ Jagang jero toyanira wening /

Di bagian luar tembok baluwarti, terdapat jagang (parit buatan) dengan kedalaman 3 meter sebagai fungsinya untuk pertahanan dan keamanan. Parit-parit ini saat ini sudah menjadi pemukiman penduduk. Banyak rumah penduduk yang dibangun di atas bekas jagang. Sisa-sisa jagang masih dapat dilihat di daerah pojok benteng sebelah timur.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.02 (1)
Sisa jagang di bawah bastion pojok beteng timur

/ Ringin pacak suji / Gayam turut lurung /

Pohon beringin dan pohon gayam merupakan dua dari beberapa tanaman khas yang ada di wilayah keraton. Konon, ada 9 jenis pohon yang masing-masing memiliki filosofi sendiri. Pohon beringin yang berdaun rimbun serta batang yang kokoh melambangkan pengayoman. Pengayoman dari raja kepada rakyatnya, juga dari Tuhan kepada manusia. Di lingkungan keraton, beberapa pohon beringin mendapat perlakuan khusus, yaitu diberi pacak suji. Pacak suji adalah pagar yang menghias sekeliling pohon, yang terbuat dari suji/sujen (bilah bambu dengan ujung runcing). Saat ini, pohon beringin yang dihias pagar di sekelilingnya dapat kita temukan di Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan Yogyakarta. Namun, bukan pagar yang terbuat dari suji/sujen lagi, melainkan pagar dari tembok. Oleh masyarakat, pohon beringin ini dijuluki dengan nama Ringin Kurung.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.02
Ringin kurung di alun-alu selatan

Pohon gayam melambangkan ketenteraman. Hal ini diambil dari nama gayam yang dimaknai dengan “ayem”. Selain itu, secara ekologi pohon gayam (Inocarpus Fagifor) memiliki akar yang dapat menyimpan banyak cadangan air, sehingga dapat menjaga pasokan mata air. Air merupakan sumber kehidupan. Jika ketersediaan mata air terjaga, maka akan tercipta rasa ayem atau tenteram dalam kehidupan manusia. Beberapa pohon gayam masih dapat kita temui di dekat gedung Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-Alun Selatan, Yogyakarta.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.03
Pohon gayam di dekat gedung Sasana Hinggil Dwi Abad

Dalam satu tembang saja, termuat cerita sejarah yang sedemikian rupa. Kini, setiap kali mengingat tembang tersebut, benak saya akan mengembara membayangkan keadaan sekitar berabad silam. Atau, bernostalgia ke masa kecil. Saat simbah putri melagukan tembang tersebut di tengah aktivitas beliau meracik bubur sumsum. Bait-bait syair Mijil yang mengudara, berpadu dengan suara mendidih bubur beras yang menciptakan gelembung-gelembung kecil di permukaannya, dan di antara aroma saus gula jawa yang menguar ke mana-mana.

*) gambar merupakan dokumen pribadi hasil penelusuran Desember 2017

**) tulisan ini termuat dalam buku antologi Stories of Your Life, Penerbit Laksana

 

Buku · Suka-Suka

Hasil Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya

Awal tahun lalu saya pernah gaya-gayaan bikin “tabungan buku”. Niatnya sih untuk menyemangati diri sendiri supaya makin rajin membaca. Jadi, setiap kali saya selesai membaca sebuah buku, saya akan memasukkan uang ke dalam celengan. Nominal uang yang masuk ke celengan disesuaikan dengan jenis bukunya. Nggak tanggung-tanggung, loh, saya bahkan sudah membuat rincian jenis buku dan nominalnya sebagai berikut.

  • Komik/novel grafis/buku yang isinya banyak gambarnya: 1.500
  • Buku komedi/personal literatur/kumcer: 2.000
  • Novel: 2.500
  • Nonfiksi: 3.000
  • Novel Sastra: 3.500
  • Sejarah: 4.000
  • Buku yang tebalnya 500 halaman ke atas: 5.000

Kemudian tekad membuat “tabungan buku” ini pun sudah saya tuliskan pula di blog ini (Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya). Realisasinya, selama setahun kemarin saya agak terseok-seok baca bukunya.

e1e78b60-10fd-4954-8441-939a116c2616

Alhamdulillah, sepanjang tahun 2018 saya banyak mendapat kesempatan menulis. Namun, akibatnya membacanya jadi keteteran. Target membaca di Goodreads yang nggak sampai 50 buku itu pun tidak bisa saya penuhi. Kurang 4 buku astagaaaa…. padahal, yang saya baca juga kebanyakan komik dan novel grafis. Payah sekali.

Tapi, bagaimanapun tabungan bukunya tetap jalan dong, ya. Jadi, sekarang saatnya untuk pecah celengan. Yeay! Oke, langsung saja.

Selama tahun 2018, saya banyak baca komik. Ada sekitar 13 komik (13 x 1.500 = 19.500). Selain komik, ada pula satu novel grafis dan dua buku yang saya masukkan ke dalam kategori pertama karena memuat banyak gambar dan sedikit teks (3 x 1.500 = 4.500). Ada dua buku antologi, yang saya masukkan ke kategori kumcer (2 x 2.000 = 4.000). Dua buku komedi (3 x 2.000 = 6.000). Ada pula satu buku kumpulan tulisan refleksi dan satu buku yang isinya kumpulan tulisan pendek-pendek semacam curahan hati, haha. Keduanya saya masukkan ke kategori nomor dua (2 x 2.000 = 4.000). Ada 6 buah novel populer (6 x 2.500 = 15.000) serta 3 novel sastra (3 x 3.500 = 10.500). Dua buku nonfiksi (2 x 3.000 = 6.000) dan terakhir, dua buah buku sejarah (2 x 4.000 = 8.000).

Total ada 36 buku yang saya baca dengan total tabungannya adalah … duh, sik mana kalkulator? Hahaha

19.500 + 4.500 + 4.000 + 6.000 + 4.000 + 15.000 + 10.500 + 6.000 + 8.000 = 77.500

Tujuh ribu lima ratus rupiah, Gaes! Dalam setahun. Astaga! Alhamdulillah, tetap harus disyukuri. Lumayan bisa buat bekal berburu buku obralan. Hahaha Dan tabungan buku ini akan dilanjutkan lagi setahun ke depan. Semoga ada peningkatan. Mangats!

Buku

Stories of Your Life: Satu Buku Banyak Rasa

WhatsApp Image 2018-12-29 at 10.02.05

Judul: Stories of Your Life

Penulis: Milley Ann Hasneni, dkk

Penerbit: Laksana

Terbit: 2018

Dalam banyak kesempatan, saya merasa beruntung tinggal di wilayah dalam beteng Keraton Yogyakarta. Kebetulan rumah kami hanya 50 meter dari regol Kemagangan, halaman belakang Keraton, tempat para abdi dalem menyusun gunungan. Jika berkenan jalan kaki sedikit lebih jauh ke timur, ada kompleks Tamansari, taman raja peninggalan abad 18. Sekitar 500 meter dari rumah kami, terdapat Tepas Keprajuritan Pracimosono, basecamp para prajurit Keraton. Di waktu-waktu tertentu, kami dapat menyaksikan mereka berbaris sambil menabuh tambur dan meniup terompet melewati jalan depan rumah.

Lebih dari segala keistimewaan tersebut, hal lain yang saya sukai adalah banyaknya sastra lisan yang beredar di daerah kami. Saya cukup senang karena sempat mendengar beberapa cerita lisan tersebut sebelum keberadaannya mulai punah seiring berkembangnya zaman. Dulu waktu kuliah, saya sempat mengajukan proposal penelitian guna mengumpulkan sastra lisan di Kecamatan Kraton ini dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Namun meski lolos dan mendapat dana hibah dari DIKTI, tim kami tak berhasil sampai ke PIMNAS. Kalah sama penelitian sains. Hiks!

Beberapa waktu yang lalu, saat Penerbit Diva Press mengadakan lomba menulis yang salah satu temanya adalah “Hidden Gems of Your City Stories”, saya tertarik untuk mencobanya. Saya memilih satu cerita yang kali pertama saya dengar dari alm. simbah, tentang kerajaan dengan 5 pintu gerbang yang salah satu pintunya tertutup. Cerita lisan tersebut disampaikan melalui sebuah tembang Mijil. Bukan sekadar dongeng, cerita tersebut menggambarkan kondisi daerah tempat tinggal kami berabad silam.

Alhamdulillah, tulisan sederhana saya terpilih untuk ikut masuk dalam antologi Stories of Your Life ini. Terima kasih, Diva Press!

Stories of Your Life merupakan sebuah buku antologi yang unik dengan berbagai rasa. Kalau umumnya antologi hanya mengangkat satu tema besar saja dalam satu buku, di buku ini kita akan menemui 18 cerita dengan lima tema yang berbeda. Mulai dari cerita tentang pernikahan, keunikan kota, daerah perbatasan, kisah-kisah dalam bioskop, hingga the most uwuwuw moment: Ketemu calon mertua!

Sebagaimana judulnya, Stories of Your Life, buku ini seolah menggambarka aneka fragmen dalam kehidupan. Hidup memang terjalin dari beragam cerita dengan banyak tema. Ada kisah receh yang B aja, ada juga cerita yang luar biasa. Nah, di buku ini juga begitu. Ada cerita yang bikin saya be like “Paan seehh”, tapi ada juga yang membuat saya tidak tahan untuk tidak ber-uwu ria.

Namun meski unik, banyaknya tema dalam satu buku malah justru bikin nggak fokus. Jadi nggak ada gimana-gimananya gitu. Simpelnya, kurang ngena. Kalau masing-masing tema dibikin buku sendiri-sendiri, barangkali akan jadi lebih asyik. Hehehe

Suka-Suka

Ternyata Saya Pernah Menulis Novel

WhatsApp Image 2018-12-29 at 09.44.31

Menemukan file ini saat bongkar-bongkar folder lama. Ternyata, saya pernah nulis novel. Naskah ini saya tulis sekitar tahun 2008 atau 2009. Waktu masih kuliah pokoknya. *ketahuan umurmu, Budhe* Tahun 2010 diterima sama penerbit, tapi sampai sekarang belum terbit dan saya nggak tahu juga penerbitnya masih ada atau enggak saat ini. Hahahaha

Novel ini bercerita tentang dua orang sahabat yang memperjuangkan impian mereka untuk menjadi penulis. Persahabatan mereka terancam kandas karena sebuah permasalahan internal. Ya kan dulu saya sedang ngefans berat sama Andrea Hirata, jadi novelnya sedikit terpengaruh ala-ala Sang Pemimpi gitu. Selain itu, di novel ini juga ada cerita tentang teater-teaternya. Nggak nyangka juga saya bisa nulis tentang teater-teateran begitu. Barangkali karena waktu itu kebetulan saya juga sedang menyiapkan pertunjukan teater bersama teman-teman sekelas untuk tugas akhir mata kuliah Kajian Drama.

Sekarang kalau saya baca lagi naskah novel ini, rasanya malu sendiri dan ingin hilang ingatan. Anu… ceritanya itu, aduhh… Hahaha Tapi di sisi lain, ada rasa bangga juga, sih. Novel ini menjadi pengalaman pertama saya dapat honor dari menulis buku. Kalau nggak salah ingat, waktu itu uangnya saya belikan handphone Cina merek D-One (belum Android) terus buat dipakai foto-fotoan waktu wisuda. Yup, handphone berkamera pertama yang saya punya, beli pakai uang sendiri, dong! 😀

PS: Jangan tanya saya bisa nulis novel atau enggak ya sekarang. Ini tampang saya udah nonfiksi banget soalnya. :))

Suka-Suka

A Letter to Myself: Surat dari Masa Depan

WhatsApp Image 2018-12-29 at 10.10.41

To: Me in the present

From: Me in the future

Kepada diriku di masa lalu,

Apa kabar?

Maaf bila aku lancang menulis surat ini. Bukan untuk mendahului takdir Tuhan, hanya ingin menyampaikan sebuah harapan. Semoga, kau tak keberatan.

Aku menulis surat ini di sela-sela kesibukanku mengurus dua krucils yang sedang aktif-aktifnya. Dua? Yap, twin baby. Seperti impianmu. Mereka sudah 2 tahun sekarang. Si kakak sedang banyak tingkah. Tiap sore selalu minta berburu belalang bersama ayah. Sementara adek, lebih suka membaca buku bersama ibu. Lucu sekali melihat ekspresinya saat menyimak dongeng tentang kupu-kupu.

Sampai di sini, kau pasti bertanya-tanya. Siapa ayah mereka? Hmm, sebenarnya ini rahasia. Tapi, baiklah, kuberi sedikit bocoran. Dia adalah seorang lelaki dewasa yang pintar dan baik hatinya. Sesuai harapanmu. Bersamanya, membuatku merasa bahwa apa yang kutangisi tempo hari jadi konyol sekali. Kalau saja aku tahu bahwa Tuhan telah mempersiapkan untukku orang sehebat ini, tak akan kusia-siakan waktuku dulu untuk meratapi patah hati.

Tujuanku menulis surat ini sebenarnya adalah aku ingin meminta tolong kepadamu. Saat ini, aku sangat bahagia dengan hidupku. Kau tahu kan, bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh apa yang dia lakukan di masa lalu? Nah, aku adalah dirimu di masa depan. Dengan demikian, kau adalah diriku di masa lalu. Maka, nasibku di sini sangat bergantung kepadamu. Jadi, aku mohon dengan sangat, tolong ubah semua kebiasaan burukmu itu.

Melihatmu masih suka mager dan malas-malasan begini, aku jadi tak yakin Tuan Hebat akan bersedia menikahimu. Lalu, melihatmu yang selalu menumpuk pekerjaan hingga mepet tenggat waktu, aku jadi pesimis kau bisa jadi ibu yang baik untuk si kembar. Aku harap setelah membaca surat ini, kau berkenan mulai membenahi diri. Tentu kau tak ingin hidupku di masa depan suram, kan? Jangan lupa, aku adalah dirimu.

Mungkin sekian dulu suratku. Tolong pikirkan baik-baik permintaanku itu ya.

Salam hangat,

Aku, dirimu di masa depan.

Seni & Budaya

Pengalaman Mengikuti Diskusi Budaya di Bangsal Prabeya, Keraton, Yogyakarta

Hari Minggu pagi tanggal 5 Agustus 2018, warga Jalan Magangan Kulon tengah berbenah untuk menyambut HUT RI ke-73. Lagu-lagu kebangsaan diputar sementara para warga bergotong-royong memasang bendera, umbul-umbul, dan pernak-pernik HUT RI lainnya. Pada saat yang sama, di salah satu sudut Jalan Magangan Kulon, tepatnya sekitar 50 meter dari regol Kemagangan, berkumpul 50-an orang dari berbagai komunitas, media, dan masyarakat umum. Dengan wajah antusias, mereka siap menerima wawasan baru dalam diskusi budaya yang mengangkat tema “Gunungan, Simbol dan Maknanya”. Saya senang sekali bisa menjadi bagian dari masyarakat umum yang berkesempatan mengikuti diskusi tersebut.

Diskusi tersebut diselenggarakan di Bangsal Prabeya, konon merupakan sebuah bangunan yang digunakan sebagai dapur Keraton. Di belakang Bangsal Prabeya ini terdapat regol yang terhubung dengan Keraton Kilen, tempat tinggal HB X. Adapun diskusi budaya tersebut diselenggarakan oleh Malam Museum yang bekerja sama dengan Tepas Tandha Yekti. Mas Erwin, founder komunitas Malam Museum, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya diskusi budaya tersebut adalah dalam rangka mengajak anak-anak muda, khususnya para generasi millennial, agar lebih aware terhadap budaya bangsa sendiri. Dalam kesempatan itu pula, Mas Erwin mengimbau agar para peserta berkenan untuk menuliskan kembali apa yang telah didapat dari diskusi. Apa pun bentuknya. Baik berupa blog post, maupun sekadar postingan di medsos.

Diskusi Budaya 1
Mas Erwin sedang menjelaskan tujuan diselenggarakannya acara diskusi budaya kepada para peserta

Diskusi diawali dengan perkenalan singkat tentang Tepas Tandha Yekti oleh GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti) dan Mas Wiwit selaku pimpinan produksi yang bertanggung jawab mengurusi online present Keraton Yogyakarta. Jadi, sederhananya, Mas Wiwit itu tuh bertugas membuat konten untuk memperkenalkan Keraton Yogyakarta melalui media online, seperti website, Instagram, Twitter, dan bahkan Youtube.

Acara selanjutnya adalah pemutaran video terkait gunungan dan dilanjutkan ke pembahasan tema utama diskusi dengan narasumber KRT Kusumonegoro (penghageng Tepas Keprajuritan). Jujur saja, nih. Meskipun saya sering menonton upacara garebeg dan mengaku sebagai penggemar berat dari prajurit Keraton, ternyata pengetahuan saya tentang gunungan masih sedikit sekali. Dari diskusi ini, saya jadi tahu lebih banyak mengenai gunungan. Mulai dari sejarah, cara pembuatan, makna simbolik, hingga detail-detail terkecil yang terkait dengannya. Lebih lanjut tetang gunungan ini, nanti saya ceritakan di postingan yang lain saja, ya. Insya Allah.

Diskusi Budaya 3
Kiri-kanan: GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti), Mas Wiwit (Pimpro Tepas Tandha Yekti), Mas Erwin (founder komunitas Malam Museum)
Diskusi Budaya 4
KRT Kusumonegoro, penghageng Tepas Keprajuritan selaku pembicara 

Acara diskusi menjadi semakin semarak ketika dibuka sesi tanya jawab. Saya sempat menanyakan kepada pembicara tentang sikap masyarakat yang menjadikan bahan-bahan makanan yang mereka dapatkan dari merayah gunungan tersebut sebagai jimat. Ada yang meletakkannya di sawah dengan harapan panen jadi lancar. Pun ada yang menyimpannya di tempat-tempat tertentu sebagai tolak bala. Apakah memang seperti itu tujuan dari pembagian gunungan sebenarnya?

Menjawab pertanyaan saya tersebut, KRT Kusumonegoro mengatakan bahwa sikap masyarakat tersebut merupakan wujud dari betapa tingginya penghormatan mereka terhadap Keraton, sehingga menganggap segala sesuatu yang berasal dari dalam Keraton merupakan benda bertuah. Padahal, tujuan dari pembagian gunungan sendiri adalah untuk sedekah. Dengan demikian, sebenarnya bahan-bahan makanan dari gunungan itu tentu sebaiknya dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Dengan sedikit berseloroh, beliau berkata bahwa jika suatu hari nanti saya berhasil dapat sayuran hasil rayahan gunungan, lebih baik dimasak jadi jangan mbayung saja (sayur daun lembayung). Haha

Acara diskusi ditutup dengan foto bersama. Dan, saya berkesempatan berfoto bersama Gusti Hayu. :’)

Diskusi-Budaya-2-2380903516-1535777178199.jpg
Bersama GKR Hayu

Senang sekali bisa mengikuti acara yang sangat berfaedah ini, meskipun saya bukan termasuk bagian dari generasi milenial yang dimaksud oleh Mas Erwin. :)) Harapannya. acara-acara semacam ini dapat terus berlanjut dan mendapat semakin banyak peminat. Sebab seperti tujuan dari acara ini, acara-acara seperti ini bisa menjadi upaya untuk membuat generasi muda tetap memahami dan mencintai kebudayaan bangsa sendiri di tengah era globalisasi. Semoga.

Seni & Budaya

Prajurit Jogokaryo, Sang Penjaga Keamanan Kerajaan

4.Jagakarya
Gambar diambil dari web https://www.kratonjogja.id

Prajurit Jogokaryo dulu merupakan pasukan yang bertugas menjaga keamanan dan jalannya pemerintahan di kerajaan. Namanya berasal dari gabungan bahasa sansekerta ‘jogo’ yang berarti menjaga serta dari bahasa kawi ‘karyo’ yang berarti tugas atau pekerjaan. Dalam iring-iringan bregada prajurit Keraton Yogyakarta, Prajurit Jogokaryo berada pada urutan keempat setelah Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaeng, dan Prajurit Patangpuluh.

Dalam satu pasukan, Prajurit Jogokaryo terdiri atas 4 orang perwira, 8 orang bintara, 72 orang prajurit, serta 1 orang prajurit yang bertugas membawa dwaja atau panji-panji pasukan. Panji dari Prajurit Jogokaryo memiliki warna dasar merah dengan lingkaran berwarna hijau di bagian tengahnya, yang diberi nama papasan. Konon, nama tersebut memiliki makna “memapas” atau “menumpas”. Melambangkan Prajurit Jogokaryo sebagai pasukan yang gagah berani menumpas musuh-musuhnya.

Seragam yang dikenakan oleh Prajurit Jogokaryo berupa pakaian bermotif lurik dengan topi tempelangan (berbentuk kapal terbalik) berwarna hitam. Selain Jogokaryo, ada tiga pasukan lagi yang juga memakai pakaian bermotif lurik, yaitu Prajurit Patangpuluh, Prajurit Ketanggung, dan Prajurit Mantrijero. Prajurit Patangpuluh mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna merah, Prajurit Ketanggung mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna hitam, sementara Prajurit Matrijero dan Jogokaryo sama-sama memakai atasan dan celana lurik. Perbedaannya ada pada kaus kaki yang mereka kenakan. Prajurit Mantrijero memakai kaus kaki berwarna putih, sedangkan Prajurit Jogokaryo mengenakan kaus kaki berwarna hitam.

Gladi Resik Jogokaryo
Gambar dokumen pribadi

Prajurit Jogokaryo memiliki persenjataan berupa senapan, tombak, serta keris. Dalam iring-iringan kirab Prajurit Keraton, mereka juga dilengkapi dengan seperangkat alat musik, yaitu tambur, seruling, dan terompet. Ada dua macam iringan musik yang dimainkan oleh Prajurit Jogokaryo, yaitu Mars Tamengmaduro ketika mereka sedang berjalan cepat dan Mars Slanggunder ketika mereka sedang berjalan lambat dengan langkah yang sedikit digayakan.

Saya berkesempatan mengabadikan momen Prajurit Jogokaryo ini dalam gladi resik untuk acara Grebeg Syawal tahun Dal 1951, di Alun-alun Utara tanggal 10 Juni 2018 yang lalu. Suara terompet yang dibunyikan dengan irama khas sebagai penanda datangnya para Prajurit Jogokaryo, selalu berhasil membuat saya terkesima. Meskipun saat ini peran dari Prajurit Jogokaryo sudah sangat berbeda daripada dulu, akan tetapi pesona mereka serta kesembilan bregada lainnya tetap menarik perhatian masyarakat. Dan, saya termasuk di antaranya.

Seni & Budaya

Prajurit Lombok Abang, Sang Pengiring Gunungan dari Pakualaman

Bersama Prajurit Lombok Abang
Saya bersama Prajurit Lombok Abang

Banyak orang sering salah menggunakan nama Prajurit Lombok Abang untuk menyebut kesatuan prajurit yang ada pada urutan pertama dalam defile prajurit Keraton Yogyakarta. Nama pasukan tersebut yang sebenarnya adalah Prajurit Wirabraja. Terus terang, saya pun dulu mengira nama “Lombok Abang” merupakan julukan dari Prajurit Wirabraja yang diberikan oleh masyarakat. Sebab, seragam dan bentuk topi Prajurit Wirabraja memang menyerupai lombok abang atau cabai merah.

Belakangan saya tahu kalau Prajurit Lombok Abang itu ternyata ada sendiri, Guys. Jadi, Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Wirabraja itu merupakan dua kesatuan yang berbeda.

Lombok Abang merupakan kesatuan prajurit dari Puro Pakualaman. Selain Lombok Abang, ada satu pasukan lagi yang bernama Prajurit Plangkir. Prajurit Lombok Abang memiliki seragam dan atribut berwarna serba merah, sedangkan Prajurit Plangkir seragam dan atributnya berwarna serba hitam. Pada waktu acara garebeg, Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Plangkir bertugas mengiringi gunungan dari Keraton menuju ke Puro Pakualaman.

Foto saya bersama Prajurit Lombok Abang di atas diambil pada acara garebeg Syawal sekitar tahun 2014. Waktu itu pas nggak niat mau nonton garebeg. Hanya mendapat titah dari ibu buat mengondisikan ponakan-ponakan. Lalu, saya ajak saja mereka melipir ke Kemandungan Ler. 😀

 

 

Buku

[Review] Sebuah Kitab yang Tak Suci: Absurd dan Muram, Jangan Baca Buku Ini Ketika Otak Sedang Semrawut

Sebuah Kitab yang Tak Suci

Judul: Sebuah Kitab yang Tak Suci

Penulis: Puthut Ea

Penerbit: Mojok

Tebal: 87 hlm

Terbit: 2017

Buku kedua karya Puthut Ea yang saya baca setelah Seekor Bebek Mati di Pinggir Kali. Sama seperti ketika membaca buku sebelumnya, lagi-lagi saya seperti tersesat dalam labirin yang ruwet. Diksi-diksi yang cenderung absurd, cukup sulit dijangkau oleh otak saya yang pas-pasan ini.

Buku ini berisi 10 cerita pendek yang kesemuanya bernuansa muram. Iya, 10 cerpen, entah kenapa di back cover-nya tertulis ada 12 cerpen. Kesan muram tersebut juga saya temukan pada buku Seekor Bebek mati di Pinggir Kali. ­Barangkali memang itu merupakan ciri khas dari karya-karya Puthut Ea. Selain kisah-kisah yang muram, ciri khas lainnya adalah pilihan kata serta penggambaran suasana yang keren.

Pada cerpen pertama yang berjudul “Kematian Seorang Istri” contohnya, kita akan disuguhi kisah menyedihkan seorang laki-laki yang merawat jenazah istrinya layaknya masih hidup. Namun demikian, kisah tentang kematian, mayat, dan kesunyian tersebut dibuka dengan narasi yang cukup membuai seperti ini:

“Ia menulis sebuah puisi panjang di depan sekujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata seperti “mati”, “kematian”, dan “air mata” di dalam puisi itu. Dia bersama tubuh kaku istrinya, kamar sepi, dan sesuatu yang menyangkut di tenggorokan namun bukan kesedihan.” – hlm 1.

Pilihan kata dan penggambaran suasana yang indah juga tampak dalam cerpen berjudul “Penunggang Kuda yang Selalu Memburu Angin”. Saya agak kesulitan untuk memahami esensi dari cerpen yang satu ini, akan tetapi cukup terbuai dengan diksi-diksinya yg sangat estetis.

“Sebetulnya cerita ini tidak pernah berakhir. Hanya karena ketakutan kaum ibu yang tak bisa membelai rambut dan meniupkan doa-doa pada ubun-ubun anak mereka, serta para bapak yang tak bisa lagi membanggakan anaknya di tengah pesta kenduri atau warung kopi, maka cerita ini dibuang jauh-jauh menuju ke negeri dongeng.” – hlm. 65

Cerpen lain yang menjadi favorit saya adalah “Rahim Itu Berisi Cahaya”. Cerpen ini mengisahkan tentang tiga jenis makhluk ciptaan Tuhan yang memprotes ketetapan takdir, lalu bekerja sama untuk menciptakan takdir sendiri.

“Menurutnya, ada yang keliru tentang wakil Tuhan di dunia. Sayang di dalam kitab yang selalu diwariskan oleh keluarganya mengatakan bahwa Tuhan tahu apa yang tidak diketahui makhluknya. Bahkan juga setan yang dengan sangat keras dan kritis menanyakan eksistensinya. Sebab buat apa setan diciptakan jika hanya untuk mengganggu manusia.” — hlm. 40

Ada satu bagian yang menarik dari cerpen tersebut, yaitu ketika si tokoh wanita gundah dan bertanya-tanya tentang penciptaan manusia di dunia. Tentang apa alasan Tuhan menciptakan pria terlebih dahulu, baru kemudian wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Mengapa bukan wanita yang diciptakan terlebih dahulu kemudian pria diciptakan dari rontokan rambut wanita. Walah! 😀 Kalau mengingat penulisnya adalah seorang lulusan dari fakultas filsafat, nggak heran sih kalau kita jadi diajak untuk ikut berpikir filsafati begitu di dalam cerpennya.

Nah, pada akhirnya, saya sependapat dengan komentar salah satu pembaca buku ini di Goodreads, yaitu jangan membaca buku ini ketika suasana sedang semrawut. Kecuali kamu bisa memisahkan isi kepala di antara keramaian. 😀