Buku · Membaca & Menulis

Stories of Your Life: Satu Buku Banyak Rasa

WhatsApp Image 2018-12-29 at 10.02.05

Judul: Stories of Your Life

Penulis: Milley Ann Hasneni, dkk

Penerbit: Laksana

Terbit: 2018

Dalam banyak kesempatan, saya merasa beruntung tinggal di wilayah dalam beteng Keraton Yogyakarta. Kebetulan rumah kami hanya 50 meter dari regol Kemagangan, halaman belakang Keraton, tempat para abdi dalem menyusun gunungan. Jika berkenan jalan kaki sedikit lebih jauh ke timur, ada kompleks Tamansari, taman raja peninggalan abad 18. Sekitar 500 meter dari rumah kami, terdapat Tepas Keprajuritan Pracimosono, basecamp para prajurit Keraton. Di waktu-waktu tertentu, kami dapat menyaksikan mereka berbaris sambil menabuh tambur dan meniup terompet melewati jalan depan rumah.

Lebih dari segala keistimewaan tersebut, hal lain yang saya sukai adalah banyaknya sastra lisan yang beredar di daerah kami. Saya cukup senang karena sempat mendengar beberapa cerita lisan tersebut sebelum keberadaannya mulai punah seiring berkembangnya zaman. Dulu waktu kuliah, saya sempat mengajukan proposal penelitian guna mengumpulkan sastra lisan di Kecamatan Kraton ini dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Namun meski lolos dan mendapat dana hibah dari DIKTI, tim kami tak berhasil sampai ke PIMNAS. Kalah sama penelitian sains. Hiks!

Beberapa waktu yang lalu, saat Penerbit Diva Press mengadakan lomba menulis yang salah satu temanya adalah “Hidden Gems of Your City Stories”, saya tertarik untuk mencobanya. Saya memilih satu cerita yang kali pertama saya dengar dari alm. simbah, tentang kerajaan dengan 5 pintu gerbang yang salah satu pintunya tertutup. Cerita lisan tersebut disampaikan melalui sebuah tembang Mijil. Bukan sekadar dongeng, cerita tersebut menggambarkan kondisi daerah tempat tinggal kami berabad silam.

Alhamdulillah, tulisan sederhana saya terpilih untuk ikut masuk dalam antologi Stories of Your Life ini. Terima kasih, Diva Press!

Stories of Your Life merupakan sebuah buku antologi yang unik dengan berbagai rasa. Kalau umumnya antologi hanya mengangkat satu tema besar saja dalam satu buku, di buku ini kita akan menemui 18 cerita dengan lima tema yang berbeda. Mulai dari cerita tentang pernikahan, keunikan kota, daerah perbatasan, kisah-kisah dalam bioskop, hingga the most uwuwuw moment: Ketemu calon mertua!

Sebagaimana judulnya, Stories of Your Life, buku ini seolah menggambarka aneka fragmen dalam kehidupan. Hidup memang terjalin dari beragam cerita dengan banyak tema. Ada kisah receh yang B aja, ada juga cerita yang luar biasa. Nah, di buku ini juga begitu. Ada cerita yang bikin saya be like “Paan seehh”, tapi ada juga yang membuat saya tidak tahan untuk tidak ber-uwu ria.

Namun meski unik, banyaknya tema dalam satu buku malah justru bikin nggak fokus. Jadi nggak ada gimana-gimananya gitu. Simpelnya, kurang ngena. Kalau masing-masing tema dibikin buku sendiri-sendiri, barangkali akan jadi lebih asyik. Hehehe

Buku

[Review] Sebuah Kitab yang Tak Suci: Absurd dan Muram, Jangan Baca Buku Ini Ketika Otak Sedang Semrawut

Sebuah Kitab yang Tak Suci

Judul: Sebuah Kitab yang Tak Suci

Penulis: Puthut Ea

Penerbit: Mojok

Tebal: 87 hlm

Terbit: 2017

Buku kedua karya Puthut Ea yang saya baca setelah Seekor Bebek Mati di Pinggir Kali. Sama seperti ketika membaca buku sebelumnya, lagi-lagi saya seperti tersesat dalam labirin yang ruwet. Diksi-diksi yang cenderung absurd, cukup sulit dijangkau oleh otak saya yang pas-pasan ini.

Buku ini berisi 10 cerita pendek yang kesemuanya bernuansa muram. Iya, 10 cerpen, entah kenapa di back cover-nya tertulis ada 12 cerpen. Kesan muram tersebut juga saya temukan pada buku Seekor Bebek mati di Pinggir Kali. ­Barangkali memang itu merupakan ciri khas dari karya-karya Puthut Ea. Selain kisah-kisah yang muram, ciri khas lainnya adalah pilihan kata serta penggambaran suasana yang keren.

Pada cerpen pertama yang berjudul “Kematian Seorang Istri” contohnya, kita akan disuguhi kisah menyedihkan seorang laki-laki yang merawat jenazah istrinya layaknya masih hidup. Namun demikian, kisah tentang kematian, mayat, dan kesunyian tersebut dibuka dengan narasi yang cukup membuai seperti ini:

“Ia menulis sebuah puisi panjang di depan sekujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata seperti “mati”, “kematian”, dan “air mata” di dalam puisi itu. Dia bersama tubuh kaku istrinya, kamar sepi, dan sesuatu yang menyangkut di tenggorokan namun bukan kesedihan.” – hlm 1.

Pilihan kata dan penggambaran suasana yang indah juga tampak dalam cerpen berjudul “Penunggang Kuda yang Selalu Memburu Angin”. Saya agak kesulitan untuk memahami esensi dari cerpen yang satu ini, akan tetapi cukup terbuai dengan diksi-diksinya yg sangat estetis.

“Sebetulnya cerita ini tidak pernah berakhir. Hanya karena ketakutan kaum ibu yang tak bisa membelai rambut dan meniupkan doa-doa pada ubun-ubun anak mereka, serta para bapak yang tak bisa lagi membanggakan anaknya di tengah pesta kenduri atau warung kopi, maka cerita ini dibuang jauh-jauh menuju ke negeri dongeng.” – hlm. 65

Cerpen lain yang menjadi favorit saya adalah “Rahim Itu Berisi Cahaya”. Cerpen ini mengisahkan tentang tiga jenis makhluk ciptaan Tuhan yang memprotes ketetapan takdir, lalu bekerja sama untuk menciptakan takdir sendiri.

“Menurutnya, ada yang keliru tentang wakil Tuhan di dunia. Sayang di dalam kitab yang selalu diwariskan oleh keluarganya mengatakan bahwa Tuhan tahu apa yang tidak diketahui makhluknya. Bahkan juga setan yang dengan sangat keras dan kritis menanyakan eksistensinya. Sebab buat apa setan diciptakan jika hanya untuk mengganggu manusia.” — hlm. 40

Ada satu bagian yang menarik dari cerpen tersebut, yaitu ketika si tokoh wanita gundah dan bertanya-tanya tentang penciptaan manusia di dunia. Tentang apa alasan Tuhan menciptakan pria terlebih dahulu, baru kemudian wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Mengapa bukan wanita yang diciptakan terlebih dahulu kemudian pria diciptakan dari rontokan rambut wanita. Walah! 😀 Kalau mengingat penulisnya adalah seorang lulusan dari fakultas filsafat, nggak heran sih kalau kita jadi diajak untuk ikut berpikir filsafati begitu di dalam cerpennya.

Nah, pada akhirnya, saya sependapat dengan komentar salah satu pembaca buku ini di Goodreads, yaitu jangan membaca buku ini ketika suasana sedang semrawut. Kecuali kamu bisa memisahkan isi kepala di antara keramaian. 😀

Buku

[Review] Dua Belas Pasang Mata: Kisah Guru dan Murid di Jepang Zaman Perang

Sakae Tsuboi

Judul: Dua Belas Pasang mata

Penulis: Sakae Tsuboi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 248 hlm

Cetakan ke-3: 2016

Miss Oishi baru lulus dari sekolah keguruan. Untuk mengawali kariernya, ia kemudian ditugaskan mengajar di Desa Tanjung, sebuah desa nelayan yang sangat pelosok dan miskin. Semula, Miss Oishi merasa sangat berat menjalani tugasnya. Bukan hanya karena ia harus menempuh jarak 8 km sekali jalan dari tempat tinggalnya, melainkan juga karena dia harus menghadapi sikap penduduk desa yang kurang menyukainya karena dianggap terlalu modern.

Seiring berjalannya waktu dan banyaknya kejadian yang dialami, Miss Oishi kemudian justru memiliki keterikatan hati dengan Desa Tanjung. Khususnya, dengan para muridnya. Tak jarang air matanya berlinang saat memikirkan siswanya yang seharusnya tumbuh dengan gemilang justru harus menyerah atas cita-citanya. Bukan hanya karena kemiskinan, melainkan juga karena perang.

Diceritakan pada saat itu, Jepang sedang mengalami masa-masa sulit akibat perang. Semangat nasionalisme sedang gencar digalakkan di mana-mana. Terlebih lagi di sekolah. Orang-orang yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip nasionalisme, akan ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan “merah” atau komunis. Beberapa kali kepala sekolah mewanti-wanti Miss Oishi untuk berhati-hati ketika mengajar agar tidak dicurigai. Miss Oishi akhirnya memutuskan berhenti mengajar karena merasa sudah tidak sejalan dengan keadaan di sekolah.

Sementara itu, setiap anak laki-laki juga harus siap menjadi sukarelawan prajurit yang turun ke medan perang lalu gugur sebagai bunga bangsa. Dengan doktrin bahwa mereka akan gugur sebagai pahlawan, membuat anak-anak muda bersemangat merelakan diri maju berperang untuk kemudian mati secara terhormat. Di sisi lain, para Ibu bersedih hati karena harus rela kehilangan suami atau anak laki-laki mereka.

“Jaga diri kalian baik-baik. Jangan mati terhormat, pulanglah dengan selamat.” — Miss Oishi kepada Nita, Isokichi, dan Kicijhi (hlm. 189)

Membaca buku ini, sedikit mengingatkan saya kepada Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Ada guru laki-laki yang sudah tua, guru perempuan muda yang berangkat mengajar dengan sepeda, serta anak-anak desa yang semangat ke sekolah meski dalam keterbatasan. Beberapa kemiripan di antara dua novel tersebut, mau tak mau membuat saya mengaitkan keduanya. Belakangan, baru saya tahu bahwa ternyata Andrea Hirata memang terinspirasi dari novel ini saat menulis Laskar Pelangi.

Latar masa perang dunia tahun 1928 sebenarnya menarik. Sayangnya, saya kurang bisa membayangkan bagaimana situasinya. Seandainya latar tahun 1928 itu di Indonesia, barangkali saya ada sedikit gambaran. Namun karena latar novel ini Jepang di masa lalu, jadi saya rada nge-blank. Tapi mungkin sayanya aja yang kurang wawasan. :)) Hal lain yang membuat saya kurang bisa masuk ke dalam cerita adalah tokohnya yang sangat banyak dan masing-masing memiliki kisah sendiri, sehingga susah untuk dihafal.

Namun lebih dari itu, buku ini sangat heartwarming untuk dibaca. Di balik cerita tentang kemiskinan, perang, putus sekolah, prajurit gugur, dan hal-hal menyedihkan lainnya, kita juga akan menemukan kisah tentang kasih sayang, cinta, keluarga, dan persahabatan.

Buku

[Review] Geek In High Heels: Dari Jomblo Jatuh Tempo, Lalu Bimbang di Antara Dua Cinta

lpHmS82L

Judul: Geek in High Heels

Penulis: Octa NH

Penerbit: Stiletto Book

Tebal: 208 hlm.

Terbit: Desember 2013

Athaya adalah seorang web designer yang juga shoe fetishism. Athaya memiliki obsesi khusus terhadap sepatu. Dia bahkan dapat merasa lebih bersemangat bekerja ketika menaruh high heels di samping meja kerjanya. Athaya suka menyerasikan warna sepatu dan cat kukunya sehingga membuat penampilannya tampak modis. Namun di balik penampilannya yang selalu modis tersebut, ada hal yang sangat menggelisahkan hati Athaya, yaitu kehidupan cintanya. Pasalnya, di usianya yang sudah menginjak 27 tahun, Athaya belum juga menemukan jodoh yang tepat. Tekanan dari keluarga besar, terutama sang tante, akan status jomblonya membuat hari-hari Athaya jadi terasa berat.

Takdir kemudian mempertemukan Athaya dengan dua orang pria. Adalah Kelana, seorang penulis novel best seller yang secara tak sengaja ditemuinya di sebuah kafe waktu Athaya melarikan diri dari acara keluarga. Dan juga Ibra, mantan klien Athaya. Sejak mengenal Kelana dan Ibra, nasib kehidupan cinta Athaya jadi berubah drastis. Dari yang semula jomblo jatuh tempo, menjadi seorang gadis yang didekati oleh dua pria.

Suatu hari, Ibra melamar Athaya. Lamaran Ibra ini membuat Athaya jadi bimbang. Pasalnya, dia masih tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ibra adalah seorang pria yang dewasa dengan perkerjaan yang mapan. Tentu, tak ada alasan untuk Athaya menyia-nyiakannya. Apalagi, sudah jelas Ibra sangat mencintainya. Keseriusan Ibra dibuktikan dengan komitmennya untuk menikahi Athaya.

“… kadang ada yang lebih penting dijadikan pertimbangan selain cinta…”

“Apa?”

“Komitmen.”

— Hlm. 153

Sementara itu, Kelana adalah pria yang selalu bisa membuat Athaya tertawa. Bersama Kelana, Athaya merasa lebih bisa lepas dan spontan. Namun sayangnya, Kelana sering ilang-ilangan. Athaya jadi ragu bagaimana sebenarnya perasaan Kelana kepadanya.

Jadi, siapakah yang akan dipilih Athaya di antara keduanya?

Cerita cinta segitiga ala Athaya, Ibra, dan Kelana ini sebenarnya sudah cukup mainstream. Namun, narasi-narasi lucu dan segar ataupun celetukan dialog tokoh-tokohnya menjadikan novel ini tetap menarik untuk dibaca hingga akhir.

Pembicaraan yang selalu mengarah ke hal jodoh dan pernikahan membuat suasana (dan makanan enak apa pun) jadi tidak menarik buat Athaya. Bayangkan!  Ketika kamu sedang asyik makan shrimp salad dan tiba-tiba ditanyai, “Apa kamu tidak sebaiknya cepat-cepat menikah saja?” Aku yakin shrimp salad itu rasanya tiba-tiba berubah seperti sandal jepit. – Hlm. 11

Cowok seperti Kelana mungkin banyak disukai sama cewek-cewek ya. Tapi, kalau jadi Athaya, saya sepertinya akan lebih memilih Ibra. Karena yaa… Ibra itu:

“Single dan mapan. Terlalu menarik untuk dilewatkan.” – Hlm. 93 #eh

Nggak, ding. Karena Ibra itu dewasa dan berani berkomitmen. Tidak ilang-ilangan seperti Kelana. Tapi, Kelana juga romantis, sih. Kalau ada yang punya kenalan cowok kayak Kelana ini, tolong kabari saya yha. #lahh *digebuk massa*

Satu hal yang agak mengganjal buat saya adalah judul novel ini, “Geek In High Heels”. Sepengetahuan saya, geek itu sosok yang cupu, unik, dan rada-rada antisosial. Dekat dengan nerd. Tapi, Athaya yang disebut-sebut geek di novel ini kenapa justru sangat gaul dan stylish. Jauh dari geek sebagaimana bayangan saya.

Terakhir, izinkan saya mengutip salah satu kalimat yang menenteramkan hati para jomblowan dan jomblowati di dalam novel ini:

“Hidup memang berat. Apalagi buat para single kayak kita. Tapi buat yang dobel, beratnya juga dobel.” – Hlm 36.

 

Buku

[Book Review] Para Bajingan yang Menyenangkan

 

Para Bajingan yang Menyenangkan

Judul: Para Bajingan yang Menyenangkan

Penulis: Puthut EA

Penyunting: Prima S. Wardhani

Desainer sampul: R.E. Hartanto

Penerbit: Buku Mojok

Terbit: Desember 2016

Tebal: 178 halaman

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat penasaran sekali dengan buku ini gara-gara banyak diomongin sama teman-teman. Waktu saya tanya ke seorang teman, “Bagus ya bukunya, Mas?”, sesemasnya bilang, “Yang ini, kalau nggak biasa baca, takutnya malah nggak cocok.” Barangkali beliau melihat saya terlalu polos sehingga tidak cocok membaca buku yang katanya memuat banyak pisuhan ini. :)) Akhirnya, saya redam rasa penasaran saya.

Belakangan, saya berjodoh dengan buku ini ketika membeli paket valentine di Buku Mojok. Dua buku incaran saya, ada satu paket dengan buku ini. Karena sudah punya, ya masak nggak dibaca. :))

Tadinya cuma mau intip-intip saja dan siap berhenti sewaktu-waktu kalau bikin pusing. Eeh… ternyata malah keterusan sampai habis. Jadi, apa saya sudah tidak polos lagi? Bisa jadi. Haha Alih-alih nggak cocok, saya malah sangat menikmatinya. Buku ini sukses membuat saya cekikikan di sembarang tempat. Di kantor, di dalam bus, dan bahkan di warung mi ayam. Lol

Buku ini berisi kisah masa muda penulis dengan sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Jackpot Society. Mereka adalah tipe mahasiswa tanpa harapan dengan hobi yang semakin memperparah keadaan, mabuk dan judi. Tak habis saya dibuat terpingkal-pingkal membaca cerita koplak dari Bagor cs, meskipun sesekali harus mengernyitkan kening atau ngakak sambil istigfar (?) ketika ada cerita lucu yang diiringi pisuhan saru.

Beberapa cerita yang cukup membuat pipi dan perut saya kaku seperti adegan beli barang secara random di Ramai Mall saat menang judi, Pengki yang mabuk berat hingga asyik ngemil daun teh-tehan karena menyangkanya keripik singkong, Bagor kasih kartu ujian ke polisi waktu ditilang, hingga pengeksploitasian kehadiran Proton demi menyelamatkan diri dari pertanyaan maut dari keluarga besar di hari Lebaran.

Penggunaan bahasa Jawa yang ngoko sengoko-ngokonya membuat saya semakin menghayati cerita. Saya sampai download  beberapa video Basiyo setelah membaca buku ini. Haha Oh ya, tapi saya masih gagal paham kenapa setiap ada yang menantang Bagor berantem, orang itu jadi jiper ketika tahu Bagor orang Kotagede? Ada apa dengan Kotagede? Apa karena di sana ada makam Panembahan Senopati yang konon sangat sakti sampai keris pun tak mempan melukainya, sehingga orang sana juga terkenal sakti-sakti? Nggak dijelaskan di buku ini.

Orang waras pada umumnya barangkali akan menganggap para anggota Jackpot Society ini sebagai segerombolan pemuda dengan masa depan suram. Tapi, kok ya ndilalah mereka kini jadi orang sukses semua. Kecuali Almarhum Jadek yang telah meninggal dunia karena kecelakaan.

Maka pelajaran yang dapat diambil di sini adalah jangan terlalu underestimate kepada orang yang kita anggap buruk. Sebab, bisa jadi kelak mereka akan menjadi manusia yang lebih baik dari kita.

Buku · Suka-Suka

Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya

j5x9e1g2

Kemarin waktu ikut event menulis selama 30 hari berturut-turut di Instagram, ada yang posting tentang “Tabungan Buku”. Jadi, setiap kali dia selesai membaca satu buku, dia akan memasukkan uang ke dalam celengan. Semakin rajin membaca, maka akan semakin banyak pula tabungannya.

Nah, saya kan jadi tertarik pengin coba juga. Kayaknya seru. 😀 Tapi, karena bacaan saya random, jadi saya sudah bikin ketentuan jumlah nominal yang harus dimasukkan sebagai berikut.

  • Komik/novel grafis/buku yang isinya banyak gambarnya: 1.500
  • Buku komedi/personal literatur/kumcer: 2.000
  • Novel biasa: 2.500
  • Nonfiksi: 3.000
  • Sastra: 3.500
  • Sejarah: 4.000
  • Buku yang tebalnya 500 halaman ke atas: 5.000 (kayaknya yang ini saya jarang, deh. 😀 )

Terus apa lagi, ya? Emm… sementara itu saja dulu. Lalu, uang tabungannya nanti mau buat apa? Ntar aja deh dipikirin. Wong sekarang juga lagi malas baca karena kebanyakan lemburan. Hahaha 😀

NB: Moon maap, gambar celengannya kekanakan banget. Soalnya kalau gambar Jungkook, nanti keremajaan. Halah!

Buku

[Book Review] Kulineran Mandiri Ala Ms Koizumi

m5iNpe1a

Judul: Ms. Koizumi Loves Ramen Noodles

Penulis: Naru Narumi

Penerbit: M&C Comics

Seri: 1-3

Terbit: 2017

Kemarin, sepulang kerja saya melipir ke warung ramen sendirian demi memenuhi hasrat yang mendadak rindu berat pada ramen setelah membaca komik ini. Sebagai orang yang mengaku penggemar ramen, saya jadi merasa cupu sekali gara-gara si Koizumi-san. Pengetahuan saya tentang peramenan (halah) masih cetek sekali. Untuk urusan kuah saja, selama ini saya hanya tahu tiga jenis kuah ramen, yaitu miso, soyu, dan kare. Dan, nama jenis ramen yang berbeda-beda itu hanyalah nama menunya. Namun, ternyata… berdasarkan pada komposisi bahannya, ada banyak sekali jenis kuah ramen, Tjoy! Bahkan, kekentalan kuah juga menjadi tolak ukur untuk membedakan jenis ramen. Walah!

Lalu, Koizumi-san be like: “Kau bertahan hidup hanya dengan pengetahuan dasar itu ya?” -_-

Oke, baiklah. Saya akui, saya memang masih newbie dalam hal ini. Tapi sebagai penggemar ramen, saya cukup terpuaskan dengan buku ini. Pada seri pertama, pembahasan mengenai aneka jenis ramen dengan aneka variasi toping dan kekentalan kuahnya, tak ayal membuat saya ngiler berat. Meskipun ada beberapa bahan yang membuat saya jadi hilang selera. Sebagai Muslim, saya tidak bisa mencicipi kesemua jenis ramen yang dipaparkan di sini dikarenakan komposisinya tidak diperbolehkan bagi saya untuk menyantapnya.

Masih dalam seri pertama, saya menemukan beberapa hal yang juga saya alami saat sedang menyantap ramen. Seperti kepedasan, tapi nagih. Dan, kacamata yang jadi buram karena terkena kepulan ramen yang masih panas. 😀

Membaca seri kedua, saya berkenalan dengan hiyashi ramen atau ramen dingin. Ramen ini biasanya dijual pada saat musim panas, disajikan lengkap dengan es batu. Benar, es batu. Jangan bayangkan ramen ini macam sup buah, loh. Ramen ini terbuat dari mi, aneka sayur dan toping, serta kuah kaldu. Spesialnya, disajikan dingin dan bahkan dengan ditambah es batu. Berani coba? 😀

Di buku ketiga, saya menemukan kesintingan Koizumi-san yang sampai bela-belain naik gunung demi mencoba ramen di kota yang ada di lereng gunung. Walah!  Selain ramen, memang yang saya sukai dari komik ini adalah… ya, Ms. Koizumi herself. Saya suka sekali dengan gaya Koizumi-san yang suka kulineran mandiri. Ke mana-mana berburu ramen sendirian. Menyantap ramen baginya adalah ritual yang sakral, sehingga tak ingin momen itu terganggu oleh hal-hal yang tidak diinginkan kalau dia mengajak teman.

Kalau bagi saya, kulineran sendirian bisa menjadi alternatif kegiatan di saat sedang butuh ketenangan. Saat ingin refreshing, tanpa harus ngerumpi dan foto-fotoan. Meskipun risikonya, harus siap menerima tatapan prihatin dari pasangan abege yang mungkin membatin: “Mbak, kok, makan sendirian aja? Jomblo ya?”

Udah, gitu saja.

Buku · Suka-Suka

Nyesek Story: Oh, My Book

3MAifsk1

Sudah menjadi kebiasaan saya membawa buku di dalam ransel untuk menemani perjalanan dari kantor-rumah. Sebagai pengguna transportasi umum, saya tentu akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk otw daripada dengan kendaraan pribadi. Dengan buku yang saya bawa, saya jadi lebih enjoy menikmati waktu perjalanan sambil membaca. Bahkan kalau sedang bad mood, saya kadang sengaja memilih naik bus dengan rute yang sedikit jauh, demi mendapatkan bus yang sepi sehingga saya bisa duduk tenang sambil membaca.

Buku saya masukkan ke dalam ransel bercampur dengan barang bawaan lainnya, seperti mukena, botol air minum, dompet, charger, power bank, pen case, payung, dan lain-lain. Biasalah, bawaan cewek di tas pasti banyak. Biasanya, sih, baik-baik saja. Paling cuma kusut sedikit bukunya. Tapi, malang tak bisa ditolak. Kemarin sore, saat membuka ransel, saya mendapati buku saya sudah basah kuyup ketumpahan air minum. Entah, mungkin saya kurang rapat menutup botolnya, sehingga seluruh isinya tumpah ke mana-mana. Momen yang paling dramatis adalah ketika saya mengeluarkan buku yang sudah kuyup dari tas, dengan air menetes-netes dari kertas dan covernya. 🙁

Dengan dibantu Ibu, saya melakukan tindakan penyelamatan: menyisipkan tisu di lembar-lembar bukunya, menindihnya dengan buku yang berat supaya covernya tidak tergulung, lalu mengangin-anginkan. Bukunya memang bisa diselamatkan setelah saya melakukan tips-tips hasil googling tersebut. Tapi, tentu saja dia tidak bisa kembali seperti semula.

Padahal ini buku yang baru saya buka segelnya beberapa hari sebelumnya, yang saya niatkan jadi buku pertama yang saya baca di tahun 2018, yang dengan bangga saya pamerkan kepada teman kantor. Bangga bisa memilikinya.

Pokoknya mah saya lagi sayang-sayangnya sama buku ini, sebelum tragedi itu terjadi. Kadang, hidup ini memang lucu. Bisa saja, menit ini kamu merasa sangat bahagia, tapi menit berikutnya kamu nelangsa. Pun sebaliknya. Maka meski nyesek, setidaknya ada pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini, yaitu “Jangan berlebihan mencintai. Sebab kalau kecewa, sakitnya akan parah sekali.”

SEKIAN.

Buku

[Book Review] Pus, I Love You

tSma5qnb

Judul: Pus, I Love You

Penulis: Soon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 288 halaman

Terbit: Juli 2014

Menemukan buku ini waktu jalan-jalan ke pameran Gramedia akhir tahun 2017 yang lalu. Saat membaca judulnya yang unik, “Pus, I Love You”, saya langsung tertarik untuk mencomotnya dari tumpukan buku lainnya. Saat mengamati covernya yang lembut dengan gambar ilustrasi anak perempuan bersama kucingnya, tak ragu lagi saya langsung memasukkannya ke dalam keranjang belanja.

Saya selalu mupeng berat tiap kali melihat kawan-kawan saya posting foto mereka sedang bermain bersama kucing. Apa daya, saya tidak mendapat izin untuk memelihara makhluk menggemaskan itu. Dulu, ada satu kucing kecil manis berbulu belang kuning yang saya pelihara. Namanya Brian. Nama itu saya berikan kepadanya karena menurut saya dia ganteng seperti Brian Westlife. 😀

Brian sangat manja, suka ndusel-ndusel di kaki, mengeong minta jatah waktu saya makan. Tiap malam, saya akan membungkusnya dengan selimut atau membopongnya layaknya bayi sampai dia tertidur sambil mendengkur. Pagi harinya, Brian akan menguntit di belakang waktu saya berjalan kaki menuju ke sekolah. Lalu, saya akan menggusahnya dan menyuruhnya pulang.

Suatu hari, saya menemukan Brian sekarat di jalanan depan rumah. Kepalanya penuh darah. Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya dan siapa yang telah mencelakainya. Yang jelas, sepanjang malam saya menangisinya. 🙁 Brian pergi. Dan sejak saat itulah, saya tidak diperbolehkan untuk memelihara kucing lagi.

Buku ini berisi tentang suka duka Soon bersama dua kucing kesayangannya. Kadang ia dibuat kesal dengan ulah kucing-kucingnya yang suka mencakar ini itu, kadang ia harus sibuk berkutat membersihkan bulu-bulu. Namun lebih dari itu, kucing-kucingnya dapat membuat hidup Soon lebih berwarna dan selalu membuatnya merasa rindu.

Kesal sekaligus gemas waktu baca tingkah laku kucing-kucingnya Soon. Ada juga cerita tentang Dewa Ngantuk yang bikin ngakak hard. Dan bahkan, ada juga si Pangeran Cilik yang ikut nongol dengan potongan adegan dari buku Le Petit Prince.

Cerita-cerita yang terangkum dalam buku ini sangat mengibur dan kadang sedikit haru. Kesemuanya disampaikan dalam ilustrasi-ilustrasi yang ringan tetapi menyegarkan mata. Membaca buku ini, sedikit mengobati hasrat saya untuk memelihara kucing yang tak kesampaian. 😀

 

Buku

[Book Review] Le Petit Prince: Pangeran Cilik

L0BqU8A_

Judul: Le Petit Prince: Pangeran Cilik

Penulis: Antoine de Saint-Exupéry

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 120 halaman

Terbit: Desember 2011

Penasaran dengan buku ini karena banyak yang bilang bagus dan konon telah disadur ke dalam 230 bahasa. Tak diragukan dong, ya. Mana ada 230 penerbit dari seluruh dunia yang berkenan ikut menerbitkan buku ini kalau kualitasnya nggak bagus.

Sempat terkecoh dengan covernya yang unyu dan isinya yang lengkap dengan ilustrasi. Saya pikir ini merupakan buku dongeng anak biasa yang ringan dan dapat dibaca sambil leha-leha. Namun, dugaan saya salah. Buku dongeng anak-anak memang khayali, tapi buku ini jauh lebih absurd lagi. Banyak permainan simbol dan metafora. Tak jarang kening saya berkerut untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh Monsieur Exupery di buku ini.

Buku ini bercerita tentang Pangeran Cilik yang tinggal seorang diri di planetnya yang kecil, bersama sekuntum bunga mawar. Suatu hari, Pangeran Cilik terjatuh dari planetnya. Dia lalu melakukan perjalanan melalui planet-planet yang lain untuk kembali ke planetnya sendiri. Dalam perjalanannya itulah, dia menemukan banyak hal yang menakjubkan dan tak jarang membuat benaknya mengeluarkan banyak pertanyaan-pertanyaan.

Meskipun dikemas seperti buku dongeng anak-anak, sebenarnya buku ini ditujukan untuk orang-orang dewasa. Melalui cerita perjalanan si Pangeran Cilik setelah dia jatuh dari planetnya, terdapat sindiran-sindiran tentang orang-orang yang gila kekuasaan, gila hormat, mabuk-mabukan, dan sebagainya. Sifat-sifat yang pada umumnya dimiliki oleh orang-orang dewasa.

“Tapi sayangnya, aku tak pandai melihat domba di dalam peti. Mungkin aku sedikit seperti orang-orang dewasa. Mungkin aku sudah menjadi tua.” – hlm. 23

Kutipan tersebut seolah menyindir kehidupan orang dewasa yang terlalu serius, terlalu sibuk berjibaku dengan dunia yang complicated, sehingga tak lagi peka dengan imajinasi-imajinasi sederhana khas anak-anak. Tak bisa dipungkiri, menjalani hidup sebagai orang dewasa dengan segala liku-likunya memang dapat memudarkan daya imajinasi kita.

Ada pula cerita tentang seorang pengusaha yang sibuk menghitung bintang sampai dirinya sendiri tidak tahu akan dia gunakan untuk apa bintang-bintang itu. Gambaran orang-orang dewasa yang kadang terlalu sibuk bekerja, sampai lupa meluangkan waktu untuk menikmati hasil kerja kerasnya.

“Orang-orang dewasa memang amat ganjil.” – hlm. 51