Buku

[Book Review] Mata Ketiga

VH6JjVw6

Judul: Mata Ketiga

Penulis: Muhajjah Saratini

Penerbit: Loka Madia

Tebal: 81 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Kurasa, mandi setelah melakukan percintaan bukan hanya untuk menghilangkan penat dan sisa keringat yang sudah melekat. Utamanya, justru untuk membasuh perasaan muak. Itu yang kupikir ketika lagi-lagi terbangun dan mendapati Gadis sesenggukan—kadang hanya terisak—sementara tubuhku terbuka lebar, menerima air yang terus-menerus mengucur dari atas sana.

Kalau memang yang dilakukan Gadis dan Ari berdasarkan cinta, lalu kenapa dia lebih sering kutemukan menangis seperti ini?

Memangnya, ada berapa jenis cinta antara manusia?

Aku tidak mengerti.

Menyelesaikan membaca buku ini diiringi suara sholawatan selepas Subuh dari masjid sebelah rumah. *halah*

Buku tipis dengan kisah yang complicated. Sedikit mengingatkan saya kepada salah satu cerpen milik Eka Kurniawan berjudul “Cerita Batu”, yang mana kita diajak untuk melihat kehidupan dari para manusia yang “kurang beres” melalui sudut pandang tokoh bukan manusia. Hanya, emm… aduh, ini saya durhaka nggak ya kalau bilang buku ini yang lebih membuat bulu kuduk saya meremang daripada yang itu. Wkwkwk *Mbak Ajjah silakan geer :D*

Setidaknya, ada tiga hal yang menurut saya istimewa dan menjadikan buku ini berkesan. Pertama, tema yang dipilih. Tentang kisah cinta tak biasa beserta hal-hal suram yang menyertainya. Sebagai orang yang terbiasa dimanjakan oleh cerita cinta menye-menye, membaca kisah Gadis dan Ari tak dapat dipungkiri membuat saya sedikit berdebar. *eh

Kedua, adegan-adegan yang rada ekstrem. Lagi-lagi saya dibuat berdebar tapi dengan nuansa yang lain ketika sampai pada bagian Ayah mengambil tato Gadis. Ya ampun! Saya baca subuh-subuh loh ini, masih sepi. Merinding.

Ketiga, banyaknya kejutan. Saya seperti dijungkirbalikkan dengan alur yang tak terduga-duga. Dan, itu tak cuma sekali. Seperti yang sudah saya bilang, banyak plot twist di sini. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kegemaran Mbak Ajjah membaca cerita-cerita detektif.

Hanya ada satu yang agak mengganjal. Sebenarnya saya rada malu ini mau nanyain, tapi daripada penasaran. 😀 Anu, di sini dikatakan si Gadis nggak mau meninggalkan Ari karena dia sudah tidak perawan. Itu gimana ceritanya ya, bisa nggak perawan. Si Ari kan, itu… emm, ya sudahlah. Saya memang cupu. Lol!

Last, buku ini tipis saja. Selesai dibaca dengan sekali duduk. Tapi, efek yang saya rasakan setelah membaca buku ini kok sepertinya nggak selesai-selesai. Nggak heran kalau buku ini menjadi juara pertama. Selamat, Mbak Ajjah. Ditunggu karya-karya selanjutnya. 😀

Buku

[Book Review] Life 150 Cm: It’s My Real Life be Like…

9Nh11z6n

Judul: Life 150 Cm

Penulis: Naoko Takagi

Penerbit: Haru Media

Tebal: 110 halaman

Terbit: April 2017

Buku imut nan oenyoe ini ternyata adalah komik esai dari kehidupan sang penulisnya sendiri. Naoko Takagi, seorang gadis mungil bergolongan darah O yang suka makan semangka (Wah! Kok, saya banget, haha). Bagaimana Naoko menjalani hari-harinya sebagai orang dengan tinggi di bawah rata-rata orang-orang di sekitarnya, mengerahkan segala kreativitasnya untuk mengakali kelemahannya itu.

Membaca buku ini, saya be like: “O, I feel you, Naoko.” Meskipun tak semuanya, tapi dalam beberapa hal saya pernah mengalami apa yang dialami oleh Naoko. Seperti terhimpit orang-orang waktu di angkutan umum, susah ambil barang di rak paling atas kalau lagi ke swalayan atau toko buku, tiap beli dress kudu dipermak dulu karena pasti kepanjangan, dan lain-lain. 😀

Namun, rasanya kesulitan yang saya alami tidak sama besar sebagaimana yang dihadapi oleh Naoko. Entah karena saya tinggal di Indonesia, yang mana rata-rata masyarakatnya juga segini-segini saja tingginya. Atau, saya yang terlalu menikmati hidup ini. 😀 Malahan di samping kesulitan-kesulitan yang tidak cukup berarti itu, ada banyak hal menyenangkan yang saya alami. Salah satunya adalah–yang juga dialami oleh Naoko–masih sering dikira jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Hahaha

Buku

[Book Review] Dark Romance: Kisah Cinta Dua Dunia, Mungkinkah Bersama?

n01KI1Ds

Judul: Dark Romance, Aku Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Penulis: Zephyr

Penerbit: Senja

Tebal: 204 halaman

Terbit: Januari 2017

Eugene dan Faye saling mencintai. Semua itu mungkin tidak akan menjadi masalah kalau saja mereka tidak berbeda. Eugene adalah Devoile, bangsa kegelapan. Adapun Faye, merupakan Fyriel, bangsa cahaya. Kedua bangsa itu saling bermusuhan. Maka tentu saja, hubungan Eugene dan Faye pun tidak akan berjalan mulus sebagaimana yang mereka inginkan.

“Tak akan ada yang berubah, Faye,” bisiknya meyakinkan. “Kita akan tetap bersama, selama mungkin yang kita bisa. Melakukan apa pun yang kita mau. Pergi ke mana pun yang kita inginkan. Takkan ada yang berubah.” – hlm. 167

Membaca kisah Eugene dan Faye, mengingatkan saya kepada kisah cinta Romeo dan Juliet. Dua insan yang saling jatuh cinta, tapi tak dapat bersatu karena keluarga yang saling berseteru. Namun tak seperti Romeo dan Juliet yang putus asa dan mengakhiri hidup mereka demi cinta, Eugene dan Faye memilih berjuang dengan segala konsekuensinya. Endingnya? Hmm… nanti ada kejutan di sana.

Dan, jangan lupakan pula Kyrion. Seorang pria tampan yang baik hatinya, tapi harus rela mengalami kegagalan dalam urusan asmara. Begitulah nasibnya, sebagaimana nasib para second lead cinta segitiga dalam cerita romansa pada umumnya. *pukpuk Kyrion*

Sebenarnya, cerita di buku ini hampir sama dengan cerita romansa yang lainnya, sih. Ada cinta segitiga, ada keluarga yang tak merestui, ada second lead yang patah hati, dan ada bad boy yang berubah jadi romantis maksimal di depan cewek yang disukai (adegan Eugene dan Faye itu sungguh sangat membuai. Manis banget, dah). Namun karena berbalut fantasi, jadi ceritanya terasa lebih asyik dan menarik. Plus, twist ending yang tak terduga. Seru.

Buku

[Book Review] Istriku Seribu

VBpndiFm

Judul: Istriku Seribu

Penulis: Emha Ainun Nadjib

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 96 halaman

Terbit: Agustus 2015

Poligami barangkali menjadi bahasan yang tak pernah sepi diperbincangkan di masyarakat. Ada pro dan kontra, tentu saja. Sebagian berpendapat boleh poligami dengan alasan mengikuti syariat agama, sebagian yang lain menolak poligami dengan alasan melukai hak asasi wanita, dan sebagian lainnya lagi memilih berada di tengah-tengah, poligami dibolehkan dengan syarat-syarat tertentu yang kondisional.

Entah kesambet apa saya sehingga memutuskan untuk membaca buku dengan tema yang “berbahaya” ini. Lalu, tersesat ke dalam kalimat-kalimat yang penuh pemikiran dan tak bisa dibaca sambil ngemil kacang. Namun demikian, sebut saja saya sedang tersesat di jalan yang benar. Buku ini tipis saja, akan tetapi sarat akan nilai-nilai kehidupan yang berharga.

Di samping menyoroti seputar poligami, di dalam buku ini Cak Nun juga menyinggung permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat Indonesia, lebih tepatnya. Bagaimana mereka sangat mudah ribut-ribut sebab perkara yang remeh temeh, mudah teradu domba sebab hal-hal yang sepele. Melalui buku ini pula, Cak Nun mengajak kita untuk belajar berlapang dada ketika menghadapi sebuah kezaliman yang menimpa diri sendiri, sebab kezaliman yang dilakukan orang lain atas diri kita itu akan menjadi investasi pahala di masa yang akan datang. Dan banyak lagi pelajaran kehidupan yang disampaikannya melalui interaksi penulis dengan Yai Sudrun.

Kembali ke masalah poligami, penulis membahas asal mula ayat tentang poligami diturunkan, bagaimana kondisi sosial pada masa itu. Di bagian akhir buku ini, terdapat esai yang cukup menarik tentang bahwasanya Tuhan hanya sedang mengajak kita berdiskusi. Diskusi antara ayat Allah dengan akal pikiran manusia. Allah membolehkan laki-laki untuk berpoligami dengan syarat utama dapat berlaku adil. Sementara, dalam ayat lain secara tegas Allah menyatakan bahwa kaum lelaki sesekali tidak akan pernah mampu berbuat adil. Demikian, hendaknya manusia berpikir serta merenungkannya sebelum mengambil keputusan, demi kemaslahatan bersama.

Buku

[Book Review] Misteri Bilik Korek Api: Rumah Kosong, Sumur Tua, dan “Penglihatan” Emola

8MnvxVwr

Judul: Misteri Bilik Korek Api

Penulis: Ruwi Meita

Penerbit: Grasindo

Tebal: 238 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Sejak bayi Sunday tinggal di panti asuhan sehingga dia sama sekali buta dengan Ambon, daerah asalnya. Sampai Emola datang, lalu mengingatkan Sunday dengan asal-usulnya yang samar.

Suatu hari mereka menumukan bilik penuh tempelan korek api saat pindah panti asuhan yang baru. Sejak saat itu, kecelakaan demi kecelakaan menimpa teman-teman sekamar Sunday. Sunday mencurigai Emola berkaitan dengan semua kesialan yang terjadi. Bagaimana tidak? Emola memiliki kepribadian yang misterius, minim bicara, dan hanya mendendangkan lagu daerah asalnya sambil menggenggam bandul kalung yang dibungkus kain putih.

Lalu, siapa giliran berikutnya yang bakal celaka?

Dia?

Mereka?

Kamu?

Menyelesaikan membaca buku ini beberapa hari yang lalu. Dan, perlu menenangkan diri sejenak sebelum bisa menulis review ini. :))

Banyak yang saya suka dari buku ini. Pertama, jalan ceritanya yang penuh dengan teka-teki, membuat saya enggan untuk melepaskan buku ini setelah membaca lembar-lembar pertama. Menegangkan sekaligus bikin penasaran. Kedua, buku ini dituliskan dengan dua sudut pandang yang saling melengkapi. Kita akan membaca sisi gaib dari sudut pandang Emola, dan dunia yang kasat mata dari sudut pandang Sunday.

Ketiga, karakter tokoh yang unik. Emola mengingatkan saya kepada Christopher Boone di buku Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Setidaknya, bagaimana pusingnya kepala saya saat membaca jalan pikiran Emola, sama seperti ketika saya membaca jalan pikiran Christopher di buku tersebut. Christopher adalah seorang anak penderita sindrom asperger yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan anjing tetangganya. Sedangkan, Emola adalah anak yang bisa mendengar warna-warna bersuara. Kalau tidak salah ingat, dari artikel yang pernah saya baca, kondisi Emola ini disebut dengan synesthesia. CMIIW. Hebatnya, selain menderita synesthesia, Emola juga anak indigo dan suka berhalusinasi melihat manusia seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Walah! Complicated sekali hidup Emola ini.

Hal lain yang saya sukai dari buku ini adalah saya jadi dapat banyak informasi baru. Tentang filumenis, John Walker, rumah jengki, permainan ancong-ancong, dll. Kereeenn… sekali pokoknya!

Kutipan favorit:

“Kadang menangis akan membantumu menyadari arti kekuatan.” – Nugi kepada Sunday. Aww… so sweet. :’)

Senang sekali bisa mendapatkan buku yang bagus ini dari sebuah giveaway. Apalagi, hadiahnya melebihi ekspektasi. Padahal saya dikasih buku saja sudah bahagia. Nah, ini saya malah dapat lengkap. Buku plus tanda tangan penulis, stiker, pin, juga pensil bunga mawar. Wuaaa… 😀 Bunga mawar ini bisa berarti mistis, bisa juga bermakna romantis. Hahaha terima kasiiihh…. *emoticon ketjup*

 

Buku

[Book Review] Sepotong Hati yang Baru: 8 Kisah Cinta dan Pelajaran yang Bisa Diambil Darinya

16052709
Gambar diambil dari sini

Judul: Sepotong Hati yang Baru

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Mahaka

Tebal: 204 halaman

Terbit: September 2012

Buku ini berisi sekumpulan cerita pendek tentang cinta, yang… endingnya kok nyesek semua. T__T

Konon, dalam kamus Melayu kuno tahun 1902, definisi dari kata “cinta” itu sendiri berupa “kesedihan” dan “patah hati”. Meskipun maknanya sudah sangat berlawanan dengan definisi cinta yang kita pahami saat ini, akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa cinta memang dapat berisiko membawa kita kepada kesedihan dan patah hati. Maka, hati-hatilah dalam bermain cinta.

“Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kamu tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut.” – Hlm. 51

Delapan cerita pendek dengan delapan jenis cinta terangkum dalam buku ini. Ada cinta yang kegeeran, cinta dalam kemiskinan dan tekanan hidup, cinta kepada orangtua dan keluarga, cinta karena pengabdian yang tulus, cinta beda kasta, cinta kepada tanah air, cinta yang dihianati, serta cinta yang hancur karena prasangka.

“Tetapi cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan.” – Hlm. 178

Delapan kisah cinta yang sangat heartbreaking, beserta hikmah-hikmah yang dapat diambil darinya. Cover buku ini pas banget untuk menggambarkan isinya. Hati yang diperban rapat, hanya menyisakan sepotong saja yang masih sehat.

Paling suka dengan cerpen yang diadaptasi dari kisah “Sampek Engtay” dan “Rama Shinta”. Dua kisah cinta legendaris tersebut memang terkenal memiliki ending yang sangat memilukan. Kisah Itje Noerbaja dan Kang Djalil juga cukup seru. Cerita cinta zaman penjajahan Belanda yang dituliskan dengan ejaan lama.

“Tapi tjinta kita, boekanlah apa-apa dibanding tjinta atas kemerdekaan bangsa kita. Tjinta soetji kita boekanlah apa-apa dibanding tjinta kita atas tanah air kita ini. Akoe, kamoe, akan mengorbankan apa poen demi itoe.”

Sayangnya, alih-alih menarik, saya justru capek baca tulisan dengan ejaan lama itu. Kayaknya nggak perlu ditulis pakai ejaan lama juga kali ya, untuk menunjukkan kalau cerita tersebut terjadi di masa penjajahan Belanda. Cukup dengan penggambaran setting atau interaksi tokoh-tokohnya mungkin.

Kisah kasih tak sampai si miskin dan si kaya ala Mbak Hesti dan Tigor juga cukup mengaduk perasaan. Klise, tapi entah kenapa tetap menarik.

Seperti yang tertulis di cover belakangnya, buku ini mengajarkan kepada kita bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik. Jadi, buat kamu…, kamu…, dan kamu yang suka baper dan galau mikir mantan atau gebetan, baiknya baca buku ini. Setidaknya, kamu akan tahu bahwa nasibmu jauh lebih baik daripada tokoh-tokoh yang ada di sini. 😀 *eh, kabur*

Buku

[Book Review] Gerbang Dialog Danur: Persahabatan Anak Manusia dengan Hantu

jPxgzvyy

Judul: Gerbang Dialog Danur

Penulis: Risa Saraswati

Penerbit: Bukune

Tebal: 224 halaman

Terbit: Januari 2012

Jangan heran jika mendapatiku sedang bicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat bersamaku. Saat itu, mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut… hantu–jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Jujur, sebenarnya saya ini penakut. Jangankan berurusan dengan hantu, mau ke kamar mandi di rumah tengah malam saja saya tidak berani. Namun, saya memiliki kesenangan yang aneh terhadap cerita-cerita atau film horor. Pada kondisi tertentu, saya membutuhkannya sebagai pelarian ketika hidup terasa mulai penuh dengan drama. Melihat tokoh di film-film tersebut dikejar hantu, saya jadi lebih bersyukur karena segala kegalauan yang sedang saya alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan mereka. Hahaha #ditendang

Karena kegemaran tersebut, sampailah buku ini ke tangan saya. Buku yang sangat menarik, menurut saya. Berbeda dari buku-buku bergenre horor lainnya, yang umumnya berisi full teror dari bangsa hantu. Di buku ini saya menemui hantu-hantu yang friendly, tampan, dan menggemaskan. Buku ini menceritakan tentang Risa, seorang anak manusia yang dikaruniai kemampuan dapat melihat makhluk tak kasat mata. Dengan kemampuannya itu, Risa kemudian berkenalan dengan lima hantu anak Belanda yang kemudian menjadi sahabatnya.

Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen, nama lima sahabat hantunya itu. Kelimanya meninggal secara tragis akibat kekejaman Nippon. Mereka tidak langsung pergi menuju kedamaian, akan tetapi malah bergentayangan untuk menemukan sesuatu yang berharga dan mereka cintai dalam hidup mereka dulu.

“Aku tak mengkhawatirkan Papa, dia dapat melindungi dirinya sendiri. Aku mengkhawatirkan Mama, selamanya akan kucari Mama.” – Peter

Peter Cs membuat hari-hari Risa yang sebelumnya sepi menjadi lebih berwarna. Mereka selalu menemani Risa ke sekolah, mengusir hantu-hantu jahil yang mengganggu, bermain dan tertawa bersama. Namun, sebagaimana dalam kehidupan di dunia, yang namanya persahabatan pasti mengalami pasang surut. Suatu hari, Peter Cs marah karena Risa tak bisa menepati janjinya untuk ikut ke alam mereka pada usianya yang ke-13. Kelima sahabat hantunya itu marah, lalu pergi meninggalkannya.

Semenjak kepergian Peter Cs, hari-hari Risa pun mulai penuh teror. Hantu-hantu yang mendatanginya bukan lagi hantu-hantu bule yang necis dan cakep, melainkan hantu-hantu yang menyeramkan dan buruk rupa. Paling bikin saya merinding adalah hantu korban kebakaran bioskop dari Jogja. Ngeri banget penggambaran wujudnya, suwer. 🙁 Hantu-hantu tersebut mendatangi Risa untuk menceritakan kisah-kisah mereka semasa hidup hingga akhirnya menjadi arwah penasaran.

Nah, yang menarik di sini adalah kita jadi kayak bimbingan konseling dengan hantu gitu. 😀 Banyak petuah-petuah kehidupan dari kisah-kisah flashback para hantu tersebut. Membaca kisah-kisah para hantu yang tragis dan menyedihkan itu, seharusnya membuat kita bersyukur dan lebih menghargai kehidupan ini.

“Baru kali ini aku mengerti alasan kenapa mereka selalu mengeluarkan suara tangisan pilu. Baru sekarang aku tahu kenapa mereka selalu membuat suara-suara tawa mengerikan. Mereka sedang menangisi diri mereka sendiri, dan segala penyesalan atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka juga sedang menertawakan diri mereka, yang begitu bodoh membuat sebuah keputusan.” – hlm. 116

Last, buku ini asyik juga kalau dibaca sambil dengerin lagu Bilur-nya Kak Risa Saraswati yang gloomy banget itu. Biar makin gregets.

Buku

[Book Review] Gado-Gado dan Sushi: Mengintip Keunikan Orang Jepang dalam Kisah Keseharian Ibu dan Anak-Anaknya

Bv6u2Ev6

Judul: Gado-Gado dan Sushi

Penulis: Yunitha Fairani

Penerbit: Gramedia

Tebal: 183 halaman

Terbit: Januari 2013

Negara Jepang dalam benak kita selama ini barangkali identik dengan rasa kagum dan juga rasa heran. Tak dapat dipungkiri, hal-hal yang berkaitan dengan negeri sakura tersebut memang dapat membuat kita terkagum-kagum sekaligus terheran-heran dalam suatu waktu. Etos, kedisiplinan, serta pola pikir mereka yang maju akan membuat kita berdecak kagum. Sedangkan, tradisi dan kegiatan-kegiatan mereka yang tak jarang unik serta nyeleneh akan membuat kita ternganga heran.

Buku ini berisi tentang keseharian seorang ibu rumah tangga asal Indonesia yang harus ikut suaminya yang berasal dari Jepang. Di dalam buku ini, beliau menceritakan bagaimana suka duka beradaptasi di lingkungan baru dengan tradisi dan kebiasaan yang sangat berbeda dengan tradisi serta kebiasaan di negara asalnya, Indonesia. Ada beberapa hal yang cukup menarik perhatian saya dan membuat saya berdecak kagum saat membaca buku ini.

Pertama, pola pendidikan dan pengasuhan di Jepang. Orang-orang Jepang tidak menuntut anak-anak mereka untuk bersaing menjadi yang nomor satu. Cukup menjadi satu-satunya. Setiap orang memang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dia hanya akan menjadi satu-satunya di dunia, tidak ada manusia lain yang akan menyamainya. Jadi, mengeksplorasi bakat dan keterampilan yang ada di dalam diri anak secara maksimal akan lebih baik daripada menuntut anak untuk bersaing menjadi yang paling baik dibandingkan kawan-kawannya. Dengan cara ini, anak tidak akan merasa tertekan dan lelah karena harus bersaing dengan kawan-kawannya. Sebaliknya, mereka akan semangat mengeksplorasi hal-hal yang diminatinya, dengan arahan dari guru dan orang tua tentu saja.

“Janganlah bersedih jika tidak menjadi nomor satu. Tetapi, selalu berusaha untuk menjadi yang hanya satu.” – Hlm. 81-82

Seperti kutipan lirik lagu Sekai ni Hitotsu Dake no Hana, Bunga yang Hanya Satu-Satunya berikut ini. Lagu tersebut dinyanyikan pada waktu upacara perpisahan TK Naomi, anak sulung ibu penulis

Chiisai hana ya ookina hana Hitotsu onaji mono wa nai kara number one ni naranakutemo ii Motomoto tokubetsu only one.” – Hlm. 87)

Hal lain yang membuat saya takjub adalah semangat kerja sama dan kekompakan para ibu-ibu wali murid. Ada semacam klub/ekstrakurikuler untuk para ibu di sekolah anaknya masing-masing. Wow… keren ya. Kalau biasanya anak-anak yang sibuk sekolah dan ikut eskul rupa-rupa, di Jepang para ibu pun punya ekskul di tengah kesibukan tugas rumah tangga mereka. Tentu saja, para ibu rumah tangga juga butuh sarana untuk bersosialisasi dan aktualisasi diri, agar otak tetap waras di tengah urusan domestik yang padat. Nah, kalau di Indonesia umumnya para ibu cuma ikut arisan, di Jepang mereka ikut klub teater, klub memasak, dan beragam kegiatan lainnya.

Masih banyak lagi hal yang membuat saya mau tak mau membandingkannya dengan yang terjadi di negara sendiri. Seperti misalnya, ketika kita sudah 70% menguasai suatu bidang, di Indonesia kita akan menyebutnya “kita bisa”. Sementara di Jepang, mereka yang sudah 80-90% menguasai suatu bidang, mereka masih menganggap diri mereka “belum bisa”. Demikian perbedaan standar bisa dan tidak bisa di Jepang dengan di Indonesia. 😀

Di samping hal-hal yang membuat takjub, saya juga sering dibuat geli dan bahkan bergidik dengan kebiasaan-kebiasaan mereka yang tak lazim. Di Jepang yang notabene adalah negara sekuler, hampir semua masyarakatnya merayakan natal. Namun demikian, bagi mereka, natal bukanlah sebuah perayaan keagamaan, melainkan sebuah perayaan tahunan sebagaimana kita merayakan tahun baru dan perayaan yang lain. Hampir ngakak waktu baca bahwa sempat ada wacana di daerah mereka untuk mengganti natal dari bulan Desember ke bulan Agustus. Wkwkwk

“Karena bulan Desember adalah bulan yang sangat sibuk di Jepang, maka ada usul agar asosiasi sinterklas memindahkan Natal ke liburan musim panas atau sekitar bulan Agustus.” – Hlm. 154

Yang paling bikin ternganga sekaligus merinding adalah onsen. Onsen merupakan pemandian air panas di Jepang. Uniknya, di Onsen, orang-orang masuk ke tempat pemandian dengan tanpa sehelai pakaian pun. Mereka akan hilir mudik tanpa malu di depan banyak orang yang juga sedang mandi situ. Dan, hal itu dianggap wajar. Justru yang malu-malu yang akan dianggap aneh. Wew… Yah, meskipun pemandian laki-laki dan perempuan terpisah, tapi nggak gitu juga kali yaaa…

Terus apa lagi yaa… emm, sebenarnya banyak yang pengen saya ceritakan. Tapi, nanti jadi nggak seru lagi, dong. Jadi, kayaknya mending baca sendiri aja deh ya… 😀

Buku

[Book Review] Kitchen Series: Jangan Baca Buku Ini Kalau Lagi Lapar

Kitchen Series

Judul: Kitchen

Penulis: Jo Joo-Hee

Penerjemah: Mayang Ratu Negara

Penerbit: Noura Books

Konon, bagi masyarakat Korea, makanan memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari. Mereka percaya bahwa keseimbangan Yin dan Yang dengan kelima elemennya (kayu, api, tanah, logam, dan air) dapat diperoleh dari lima rasa dalam makanan, yaitu manis, pedas, asam, asin, dan pahit.

Seolah ingin membuktikan hal itu, komik Kitchen yang notabene penulisnya adalah orang asli Korea, mengangkat makanan sebagai tema besarnya. Sejumlah cerita tentang makanan beserta kisah-kisah keseharian yang ringan dibaca. Menarik!

Saya suka membaca komik dan sedang tertarik dengan masak-memasak. Dua hal yang saya sukai ada di dalam buku ini. Maka saat menemukan buku ini, saya langsung naksir.

Untuk seri pertama, ada beberapa yang menjadi favorit saya, yaitu:

Tidak Sulit

Tentang seorang istri yang selalu ingin memasak untuk suaminya sebagai bukti cinta. Tapi suaminya gitu, deh. Sedih banget baca ini. Nyesek.

“Aku selalu bersusah payah untuk membuatkannya makanan enak, karena itu adalah caraku untuk menyatakan rasa sayang. Aku selalu ingin membuatkan masakan-masakan baru baginya. Karena itu adalah isi hatiku.” – hlm. 29

Untukmu yang Terakhir Kali

Problem perempuan dengan pacarnya. Lucu. Bisa dipraktikkan tipsnya biar cepat move on. 😀

“Betapa menyeramkannya sosok sang wanita yang sedang memasak di hadapannya. Dan dari situ aku menyadari bahwa tidak mungkin ada pria yang mampu dengan mudah mengatakan, ‘Terima kasih makanannya. Kalau begitu, selamat tinggal’.” – hlm. 66

Perang Dunia I: Perang Rajungan

Menantu vs Mertua. Kocak banget. Hahaha

“Walaupun dia anak tunggal, tetapi pasti ada wanita yang dapat memperbaikinya. Karena itu… hmmm… dibandingkan tidak menikah, memang jauh lebih baik menikah.” – hlm. 74

Rasa Kehidupan

Dalem banget pesannya. Apa pun permasalahan yang sedang kita hadapi, ingatlah bahwa mungkin ada orang lain yang dapat cobaan lebih pahit.

“Setiap kali upacara pemakaman mereka memberikan yukgaejang yang pedas dan asin. Karena itu adalah rasa yang kuat dan berkesan di lidah. Masakan ini seolah mengatakan kalau kau masih hidup dan menyadarkan kita akan kehidupan.” – hlm. 135-136

Cheese Cake

Ceritanya bikin saya pengin nyamar jadi keju mozarella. Lumerrr… :’) Kocak, lebay, unyu, romantis, unchh… #baper

“Akhirnya perang ini diakhiri dengan luluhnya hati kedua pihak dengan manis….” – hlm. 146

Mencicipi buku kedua dari Kitchen Series, masih sama lezatnya seperti buku pertama. Paling suka episode “Pertemuan yang Tidak Disangka-Sangka”. Cerita tentang seorang perempuan dan seorang tunanetra. Saya jadi teringat pernah mengalami kejadian serupa. Sayangnya, karena keterbatasan saya sendiri, saya tidak bisa membantu semaksimal mungkin sebagaimana wanita di dalam buku ini. 🙁 Semoga bapak tunanetra yang bertemu dengan saya di bus waktu itu sehat selalu. Aamiin.

“Sama seperti tteokpokki, kita tidak tahu bahwa di balik rasa yang pedas ini mungkin saja ada rasa yang manis di dalamnya.” – hlm. 78

Kisah lain yang juga jadi favorit saya adalah “Makanan Penambah Umur”. Cerita tentang pasangan multikultural yang baru saja menikah dan meminta restu kepada para sesepuh. Manis banget dan bikin baper. 🙂

Nyesek maksimal saat membaca episode “Penghormatan Pertama Setelah Menikah”. Gimana coba rasanya ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya, lalu harus membantu menyiapkan pernikahan sang mantan. Sungguh, patah hati itu pedih, Jenderal!

“Aku belajar bahwa apa pun yang berlebihan itu tidaklah baik. Begitu juga dengan perasaan.” – hlm. 106

Saat menikmati hidangan terakhir dari serial Kitchen, saya menemukan cerita yang agak panjang-panjang dibanding buku pertama dan kedua. Dan tentunya, lebih seru. Kalau di dua buku sebelumnya setting-nya cuma di Korea (kecuali untuk episode spesial), di buku ketiga ada cerita yang ber-setting di Amerika, Istanbull, dan Malaga. Gambarnya juga bagus-bagus.

Bisa dibilang, dari dua seri sebelumnya, buku ketiga ini yang paling saya suka. Dari kesepuluh cerita yang ada di seri ketiga ini, hampir semuanya saya suka. Terutama episode “Impian Tentara Wajib Militer”. Lucu, hahaha. Segala ada Girls Generation dan SM Entertainment disebut-sebut. :))

Ada bermacam rasa terkumpul dalam komik yang tidak terlalu tebal ini. Sedih, senang, haru, lucu, dan tentu saja… lapar! :)) Saya suka ceritanya, suka gambarnya, dan suka masakannya. Habis ini mau coba bikin pancake kentang juga, ah!

Buku

[Book Review] Sing-Py, Single Happy: Buat Apa Dobel Tapi Nyakitin, Kalau Bisa Single Tapi Bahagia

Sing Py

Judul:  Sing-Py, Single Happy

Penulis: Dewi Dedew Rieka

Penerbit: Loveable

Tebal: 212 halaman

Terbit: September 2015

Apa yang salah sih jadi jomblo. Ya, memang dia ke mana-mana sendirian. Bareng ransel doang. Tapi, rasanya asyik-asyik saja. Nggak ada yang ngintilin melulu atau cerewet nanya, kamu di mana? Dengan siapa? Melakukan apa? – hlm. 136

Rania, seorang janda kembang yang trauma disakiti pria. Ia lalu membangun sebuah kos-kosan dengan misi tertentu, yaitu mendidik cewek-cewek agar tidak mudah tergoda oleh rayuan cowok. Maka, berdirilah Kos Jomblo. Sebuah kos-kosan putri yang murah meriah dan nyaman, tapi syaratnya harus jomblo. Peminat kos pun menumpuk, sehingga Rania harus melakukan seleksi. Akhirnya, terpilihlah 10 orang penghuni Kos Jomblo yang memiliki karakter warna warni.

Yang seru, meskipun syarat tinggal di Kos Jomblo adalah harus jomblo, tapi isi cerita di buku ini nggak jauh-jauh dari pedekate, pacaran, friendzone, dll. 😀 Mulai dari Hanna dan Vanessa yang sama-sama naksir Athalla, Roro yang pingsan di pernikahan sang mantan terindah, Hanna yang dimanfaatkan sama penulis idola, Kidung yang TTM-an, Tahlia yang pacaran sama playboy, Gani si maniak kuis yang jatuh cinta sama adik laki-laki ibu kos, Gillian si abege yang populer di kalangan cowok-cowok di sekolahnya, dan bermacam permasalahan cewek lainnya.

Secara konten, buku ini lucu, seru, koplak. Sayangnya, editingnya gengges alias ganggu banget, deh. Bayangkan, lagi asyik baca tiba-tiba bingung karena penulisan nama tokoh yang sering keliru, ada typo, tanda baca yang salah, dialog yang saling bertubrukan di satu paragraf (sebaiknya kalau beda tokoh, dienter aja biar nggak bingung), dan ada adegan yang terbalik susunannya.

Di halaman 52 si Vanessa bilang, “Tapi kamu cocok dipanggil Dudung. Tonjokanmu dahsyat.” Tapi, baru di halaman 53 ada adegan Kidung nonjok si Vanessa-nya. Bingung deh, saya.

Mengabaikan editing yang mengganggu, isi dari buku ini sangatlah menghibur. Ada-ada saja kelakuan para jones di buku ini. Buku ini seolah hadir untuk memberikan dukungan kepada para manusia lajang bahwa ….

“Jadi jomblo itu nggak mengerikan, karena jomblo itu bebas merdeka. Meski terhalang dompet tipis di tanggal tua.” – hlm. 81

PS: Terima kasih pemberian bukunya, Mas Dion. 🙂