Buku

[Book Review] Jomblo Tapi Hafal Pancasila: Inspirasi Cilik-Cilikan dari Seorang Jomblo

rzj5Ggtt

Judul: Jomblo Tapi Hafal Pancasila

Penulis: Agus Mulyadi

Penerbit: B-First

Tebal: 314 halaman

Terbit: Juli 2014

Yang membedakan buku ini dengan buku-buku bertema jomblo lainnya adalah buku ini isinya bukan cuma haha hihi menertawakan kaum jomblo. Sebagaimana diketahui, nasib kaum jomblo di negara kita tercinta ini memang selalu ternistakan. Selalu diidentikkan dengan citra nelangsa dan penuh nestapa. Heleh!

Ayolah Mas, Mbak, bijaklah sedikit. Besok di alam kubur, yang ditanyakan oleh malaikat itu, “Siapa Tuhanmu dan siapa Nabimu, bukan siapa gebetanmu”. – Hlm. 10

Nah, buku ini seolah menjadi bukti bahwa jomblo juga bisa berprestasi. Nggak apa-apa jomblo, asal hafal Pancasila. Atau dengan kata lain, jomblo mungkin kalah dalam urusan asmara. Namun, bukan berarti mereka manusia tak berguna yang kalah juga dalam aspek kehidupan lainnya. Semangat, Mblo! #jomblomenggugat #eh

“Lebih baik jomblo yang berharap punya pacar, daripada punya pacar tapi berharap jomblo.” – Hlm. 202

Buku ini berisi sekumpulan artikel yang termuat di blog penulisnya. Jangan salah sangka dulu dengan judulnya, Jomblo tapi Hafal Pancasila. Meskipun mengangkat tema jomblo, buku ini tidak semata berisi curahan hati seorang jones akan nasib asmaranya. Di dalam buku ini, Agus Mulyadi menuliskan opini-opininya yang mencakup banyak aspek kehidupan. Mulai dari kehidupannya sebagai seorang blogger, keluarga, kawan-kawan, keseharian, bahkan hingga kondisi politik negeri. Dan, tak ketinggalan tentu saja masalah asmara.

Setiap artikel ditulis dengan bahasa yang ringan tapi kritis. Melalui gaya lawakan yang njawani khas Agus Mulyadi, terselip nasihat atau hikmah yang sangat mengena. Menginspirasi tanpa menggurui. Inspirasi cilik-cilikan, kalau kata Agus Mulyadi. Duh! Pokoknya buku ini seru, menghibur, tapi tetap berbobot.

Akhir kata, “Jangan hina kaum jomblo, siapa tahu lima menit lagi Anda akan merasakannya.” – Hlm. 273

Buku

[Book Review] Where the Mountain Meets the Moon: Perjalanan Minli Mencari Kakek Rembulan

87unOokE

Judul: Where the Mountain Meets the Moon

Penulis: Grace Lin

Penerbit: Atria

Tebal: 261 halaman

Terbit: 2010

“Jika kau membahagiakan mereka yang ada di dekatmu, mereka yang jauh darimu akan datang.” – hlm. 238

Setiap hari, Minli harus ikut membantu Ba dan Ma bekerja di sawah hingga matahari mulai terbenam. Keluarga mereka sangat miskin. Minly melihat bagaimana orangtuanya bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka di tengah kemiskinan. Melihat Ma yang selalu murung dan uring-uringan.

Karena itulah, Minli bertekad mencari Kakek Rembulan untuk bertanya bagaimana cara mengubah peruntungan keluarga mereka. Kakek Rembulan adalah tokoh dalam dongeng yang diceritakan oleh Ba setiap malam. Tanpa sepengetahuan Ma dan Ba, Minli pun memulai petualangannya yang penuh keajaiban.

Buku yang sangat heart warming. Kisah yang indah dan diceritakan dengan indah pula. Tentang keluarga, persahabatan, serta pencarian kebahagiaan.

“Sepanjang hidupnya, sang hakim mewarnai jiwanya dengan begitu banyak amarah sehingga ketika raganya mati, jiwanya tidak bisa beristirahat dengan tenang ….” – hlm. 183

Buku ini menjadi semakin menarik dengan adanya bumbu dongeng-dongeng dari negeri China di samping cerita utama. Jadi seperti berlapis-lapis, ada cerita di dalam cerita.

Editingnya… emm, nemu beberapa typo. Seperti kata “meraka” yang seharusnya “mereka”, “manyala” yang seharusnya “menyala”, kata “naga” yang seharusnya tertulis “raja”, dan sebagainya. Di halaman 90, tertulis: “Seekor kerbau besar berlumuran lumpur, ditarik oleh seekor bocah ….” Itu bocah sejenis binatang apa gimana? Wew…

Beruntung masalah editing itu tidak begitu mengganggu karena saya sudah terlanjur asyik dengan kisah indah dan hangat, yang dapat menjadi obat untuk hati orang-orang dewasa yang sudah terlalu penat.

“Kekayaan bukanlah rumah yang dipenuhi dengan emas dan batu giok, namun sesuatu yang lebih bermakna daripada itu. Sesuatu yang telah dimilikinya dan tidak perlu diubahnya.” – hlm. 242.

 

Buku

[Book Review] Rainbow Love: Belajar Kehidupan dari Pape dan Popo

1kl3av8t

Judul: Pepe & Popo: Rainbow Love

Penulis: Shim Seung Hyun

Penerjemah: Novita Isnaeni

Penerbit: Noura Books

Tebal: 224 halaman

Terbit: Juni 2014

Blurb:

Cinta itu seperti cermin. Ketika berdiri di depannya, kita akan melihat bayangan sendiri. Karena itulah, kita harus selalu tersenyum. Kita harus lebih dahulu bahagia jika ingin membahagiakan orang yang kita cintai. Kita harus mengasihi diri kita sendiri dulu jika ingin mengasihi orang yang kita cintai.

Inilah cerita cinta klasik antara Pape, seorang pemuda polos, dan Popo, seorang gadis lembut hati. Kisah-kisahnya menghibur hati dan mengingatkan kita pada nilai cinta sejati, pentingnya keluarga, dan arti persahabatan.

Rada melenceng dari bayangan saya semula ketika membaca blurb-nya. Buku ini ternyata lebih dari sekadar cerita kehidupan cinta pasangan Pape dan Popo. Kisah-kisah cinta yang terangkum di dalam buku ini adalah cinta yang universal.

Diawali dengan cerita tentang ikan paus yang menemukan “jati dirinya” saat berjumpa lautan, membuka lembar-lembar berikutnya kita akan disuguhi sejumlah kisah kehidupan yang berwarna-warni. Sebagaimana penamaan tiap bab dalam buku ini yang menggunakan warna-warna pelangi.

Ada cerita tentang keluarga, pasangan, orangtua, persahabatan, kenangan masa kecil, guru kesayangan, sedih, senang, jatuh cinta, kecewa, dan banyak lagi cerita yang mengajarkan tentang arti cinta sejati. Membaca buku ini, saya seperti membaca buku tentang pelajaran kehidupan. Kesemuanya disampaikan dengan bahasa yang liris dan filosofis, serta gambar-gambar dengan warna yang lembut membuat mata sejuk.

Tak ketinggalan pula kalimat-kalimat quotable yang dapat dijadikan sebagai bahan perenungan. Beberapa yang menjadi favorit saya di antaranya:

“Ada dua macam dosa yang dimiliki oleh manusia. Dosa-dosa yang lain akan muncul karena dua hal ini, yaitu sifat tidak sabaran dan rasa malas. Kafka mengingatkanku bahwa Adam dan Hawa dulu diusir dari surga karena tidak sabaran. Mereka juga tidak bisa lagi kembali ke surga karena rasa malas.” — hlm. 32

“Kita memerlukan orang munafik yang berbuat baik, mau itu tulus atau tidak. Daripada orang yang sekadar ingin melakukan kebaikan saja.” — Hlm. 151

“Keberuntungan akan didapatkan oleh mereka yang menyambutnya dengan tangan terbuka.” — Hlm. 213

Buku

[Book Review] Mata Ketiga

VH6JjVw6

Judul: Mata Ketiga

Penulis: Muhajjah Saratini

Penerbit: Loka Madia

Tebal: 81 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Kurasa, mandi setelah melakukan percintaan bukan hanya untuk menghilangkan penat dan sisa keringat yang sudah melekat. Utamanya, justru untuk membasuh perasaan muak. Itu yang kupikir ketika lagi-lagi terbangun dan mendapati Gadis sesenggukan—kadang hanya terisak—sementara tubuhku terbuka lebar, menerima air yang terus-menerus mengucur dari atas sana.

Kalau memang yang dilakukan Gadis dan Ari berdasarkan cinta, lalu kenapa dia lebih sering kutemukan menangis seperti ini?

Memangnya, ada berapa jenis cinta antara manusia?

Aku tidak mengerti.

Menyelesaikan membaca buku ini diiringi suara sholawatan selepas Subuh dari masjid sebelah rumah. *halah*

Buku tipis dengan kisah yang complicated. Sedikit mengingatkan saya kepada salah satu cerpen milik Eka Kurniawan berjudul “Cerita Batu”, yang mana kita diajak untuk melihat kehidupan dari para manusia yang “kurang beres” melalui sudut pandang tokoh bukan manusia. Hanya, emm… aduh, ini saya durhaka nggak ya kalau bilang buku ini yang lebih membuat bulu kuduk saya meremang daripada yang itu. Wkwkwk *Mbak Ajjah silakan geer :D*

Setidaknya, ada tiga hal yang menurut saya istimewa dan menjadikan buku ini berkesan. Pertama, tema yang dipilih. Tentang kisah cinta tak biasa beserta hal-hal suram yang menyertainya. Sebagai orang yang terbiasa dimanjakan oleh cerita cinta menye-menye, membaca kisah Gadis dan Ari tak dapat dipungkiri membuat saya sedikit berdebar. *eh

Kedua, adegan-adegan yang rada ekstrem. Lagi-lagi saya dibuat berdebar tapi dengan nuansa yang lain ketika sampai pada bagian Ayah mengambil tato Gadis. Ya ampun! Saya baca subuh-subuh loh ini, masih sepi. Merinding.

Ketiga, banyaknya kejutan. Saya seperti dijungkirbalikkan dengan alur yang tak terduga-duga. Dan, itu tak cuma sekali. Seperti yang sudah saya bilang, banyak plot twist di sini. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kegemaran Mbak Ajjah membaca cerita-cerita detektif.

Hanya ada satu yang agak mengganjal. Sebenarnya saya rada malu ini mau nanyain, tapi daripada penasaran. 😀 Anu, di sini dikatakan si Gadis nggak mau meninggalkan Ari karena dia sudah tidak perawan. Itu gimana ceritanya ya, bisa nggak perawan. Si Ari kan, itu… emm, ya sudahlah. Saya memang cupu. Lol!

Last, buku ini tipis saja. Selesai dibaca dengan sekali duduk. Tapi, efek yang saya rasakan setelah membaca buku ini kok sepertinya nggak selesai-selesai. Nggak heran kalau buku ini menjadi juara pertama. Selamat, Mbak Ajjah. Ditunggu karya-karya selanjutnya. 😀

Buku

[Book Review] Life 150 Cm: It’s My Real Life be Like…

9Nh11z6n

Judul: Life 150 Cm

Penulis: Naoko Takagi

Penerbit: Haru Media

Tebal: 110 halaman

Terbit: April 2017

Buku imut nan oenyoe ini ternyata adalah komik esai dari kehidupan sang penulisnya sendiri. Naoko Takagi, seorang gadis mungil bergolongan darah O yang suka makan semangka (Wah! Kok, saya banget, haha). Bagaimana Naoko menjalani hari-harinya sebagai orang dengan tinggi di bawah rata-rata orang-orang di sekitarnya, mengerahkan segala kreativitasnya untuk mengakali kelemahannya itu.

Membaca buku ini, saya be like: “O, I feel you, Naoko.” Meskipun tak semuanya, tapi dalam beberapa hal saya pernah mengalami apa yang dialami oleh Naoko. Seperti terhimpit orang-orang waktu di angkutan umum, susah ambil barang di rak paling atas kalau lagi ke swalayan atau toko buku, tiap beli dress kudu dipermak dulu karena pasti kepanjangan, dan lain-lain. 😀

Namun, rasanya kesulitan yang saya alami tidak sama besar sebagaimana yang dihadapi oleh Naoko. Entah karena saya tinggal di Indonesia, yang mana rata-rata masyarakatnya juga segini-segini saja tingginya. Atau, saya yang terlalu menikmati hidup ini. 😀 Malahan di samping kesulitan-kesulitan yang tidak cukup berarti itu, ada banyak hal menyenangkan yang saya alami. Salah satunya adalah–yang juga dialami oleh Naoko–masih sering dikira jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Hahaha

Buku

[Book Review] Dark Romance: Kisah Cinta Dua Dunia, Mungkinkah Bersama?

n01KI1Ds

Judul: Dark Romance, Aku Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Penulis: Zephyr

Penerbit: Senja

Tebal: 204 halaman

Terbit: Januari 2017

Eugene dan Faye saling mencintai. Semua itu mungkin tidak akan menjadi masalah kalau saja mereka tidak berbeda. Eugene adalah Devoile, bangsa kegelapan. Adapun Faye, merupakan Fyriel, bangsa cahaya. Kedua bangsa itu saling bermusuhan. Maka tentu saja, hubungan Eugene dan Faye pun tidak akan berjalan mulus sebagaimana yang mereka inginkan.

“Tak akan ada yang berubah, Faye,” bisiknya meyakinkan. “Kita akan tetap bersama, selama mungkin yang kita bisa. Melakukan apa pun yang kita mau. Pergi ke mana pun yang kita inginkan. Takkan ada yang berubah.” – hlm. 167

Membaca kisah Eugene dan Faye, mengingatkan saya kepada kisah cinta Romeo dan Juliet. Dua insan yang saling jatuh cinta, tapi tak dapat bersatu karena keluarga yang saling berseteru. Namun tak seperti Romeo dan Juliet yang putus asa dan mengakhiri hidup mereka demi cinta, Eugene dan Faye memilih berjuang dengan segala konsekuensinya. Endingnya? Hmm… nanti ada kejutan di sana.

Dan, jangan lupakan pula Kyrion. Seorang pria tampan yang baik hatinya, tapi harus rela mengalami kegagalan dalam urusan asmara. Begitulah nasibnya, sebagaimana nasib para second lead cinta segitiga dalam cerita romansa pada umumnya. *pukpuk Kyrion*

Sebenarnya, cerita di buku ini hampir sama dengan cerita romansa yang lainnya, sih. Ada cinta segitiga, ada keluarga yang tak merestui, ada second lead yang patah hati, dan ada bad boy yang berubah jadi romantis maksimal di depan cewek yang disukai (adegan Eugene dan Faye itu sungguh sangat membuai. Manis banget, dah). Namun karena berbalut fantasi, jadi ceritanya terasa lebih asyik dan menarik. Plus, twist ending yang tak terduga. Seru.

Buku

[Book Review] Istriku Seribu

VBpndiFm

Judul: Istriku Seribu

Penulis: Emha Ainun Nadjib

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 96 halaman

Terbit: Agustus 2015

Poligami barangkali menjadi bahasan yang tak pernah sepi diperbincangkan di masyarakat. Ada pro dan kontra, tentu saja. Sebagian berpendapat boleh poligami dengan alasan mengikuti syariat agama, sebagian yang lain menolak poligami dengan alasan melukai hak asasi wanita, dan sebagian lainnya lagi memilih berada di tengah-tengah, poligami dibolehkan dengan syarat-syarat tertentu yang kondisional.

Entah kesambet apa saya sehingga memutuskan untuk membaca buku dengan tema yang “berbahaya” ini. Lalu, tersesat ke dalam kalimat-kalimat yang penuh pemikiran dan tak bisa dibaca sambil ngemil kacang. Namun demikian, sebut saja saya sedang tersesat di jalan yang benar. Buku ini tipis saja, akan tetapi sarat akan nilai-nilai kehidupan yang berharga.

Di samping menyoroti seputar poligami, di dalam buku ini Cak Nun juga menyinggung permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat kita. Masyarakat Indonesia, lebih tepatnya. Bagaimana mereka sangat mudah ribut-ribut sebab perkara yang remeh temeh, mudah teradu domba sebab hal-hal yang sepele. Melalui buku ini pula, Cak Nun mengajak kita untuk belajar berlapang dada ketika menghadapi sebuah kezaliman yang menimpa diri sendiri, sebab kezaliman yang dilakukan orang lain atas diri kita itu akan menjadi investasi pahala di masa yang akan datang. Dan banyak lagi pelajaran kehidupan yang disampaikannya melalui interaksi penulis dengan Yai Sudrun.

Kembali ke masalah poligami, penulis membahas asal mula ayat tentang poligami diturunkan, bagaimana kondisi sosial pada masa itu. Di bagian akhir buku ini, terdapat esai yang cukup menarik tentang bahwasanya Tuhan hanya sedang mengajak kita berdiskusi. Diskusi antara ayat Allah dengan akal pikiran manusia. Allah membolehkan laki-laki untuk berpoligami dengan syarat utama dapat berlaku adil. Sementara, dalam ayat lain secara tegas Allah menyatakan bahwa kaum lelaki sesekali tidak akan pernah mampu berbuat adil. Demikian, hendaknya manusia berpikir serta merenungkannya sebelum mengambil keputusan, demi kemaslahatan bersama.

Buku

[Book Review] Misteri Bilik Korek Api: Rumah Kosong, Sumur Tua, dan “Penglihatan” Emola

8MnvxVwr

Judul: Misteri Bilik Korek Api

Penulis: Ruwi Meita

Penerbit: Grasindo

Tebal: 238 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Sejak bayi Sunday tinggal di panti asuhan sehingga dia sama sekali buta dengan Ambon, daerah asalnya. Sampai Emola datang, lalu mengingatkan Sunday dengan asal-usulnya yang samar.

Suatu hari mereka menumukan bilik penuh tempelan korek api saat pindah panti asuhan yang baru. Sejak saat itu, kecelakaan demi kecelakaan menimpa teman-teman sekamar Sunday. Sunday mencurigai Emola berkaitan dengan semua kesialan yang terjadi. Bagaimana tidak? Emola memiliki kepribadian yang misterius, minim bicara, dan hanya mendendangkan lagu daerah asalnya sambil menggenggam bandul kalung yang dibungkus kain putih.

Lalu, siapa giliran berikutnya yang bakal celaka?

Dia?

Mereka?

Kamu?

Menyelesaikan membaca buku ini beberapa hari yang lalu. Dan, perlu menenangkan diri sejenak sebelum bisa menulis review ini. :))

Banyak yang saya suka dari buku ini. Pertama, jalan ceritanya yang penuh dengan teka-teki, membuat saya enggan untuk melepaskan buku ini setelah membaca lembar-lembar pertama. Menegangkan sekaligus bikin penasaran. Kedua, buku ini dituliskan dengan dua sudut pandang yang saling melengkapi. Kita akan membaca sisi gaib dari sudut pandang Emola, dan dunia yang kasat mata dari sudut pandang Sunday.

Ketiga, karakter tokoh yang unik. Emola mengingatkan saya kepada Christopher Boone di buku Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Setidaknya, bagaimana pusingnya kepala saya saat membaca jalan pikiran Emola, sama seperti ketika saya membaca jalan pikiran Christopher di buku tersebut. Christopher adalah seorang anak penderita sindrom asperger yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan anjing tetangganya. Sedangkan, Emola adalah anak yang bisa mendengar warna-warna bersuara. Kalau tidak salah ingat, dari artikel yang pernah saya baca, kondisi Emola ini disebut dengan synesthesia. CMIIW. Hebatnya, selain menderita synesthesia, Emola juga anak indigo dan suka berhalusinasi melihat manusia seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Walah! Complicated sekali hidup Emola ini.

Hal lain yang saya sukai dari buku ini adalah saya jadi dapat banyak informasi baru. Tentang filumenis, John Walker, rumah jengki, permainan ancong-ancong, dll. Kereeenn… sekali pokoknya!

Kutipan favorit:

“Kadang menangis akan membantumu menyadari arti kekuatan.” – Nugi kepada Sunday. Aww… so sweet. :’)

Senang sekali bisa mendapatkan buku yang bagus ini dari sebuah giveaway. Apalagi, hadiahnya melebihi ekspektasi. Padahal saya dikasih buku saja sudah bahagia. Nah, ini saya malah dapat lengkap. Buku plus tanda tangan penulis, stiker, pin, juga pensil bunga mawar. Wuaaa… 😀 Bunga mawar ini bisa berarti mistis, bisa juga bermakna romantis. Hahaha terima kasiiihh…. *emoticon ketjup*

 

Buku

[Book Review] Sepotong Hati yang Baru: 8 Kisah Cinta dan Pelajaran yang Bisa Diambil Darinya

16052709
Gambar diambil dari sini

Judul: Sepotong Hati yang Baru

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Mahaka

Tebal: 204 halaman

Terbit: September 2012

Buku ini berisi sekumpulan cerita pendek tentang cinta, yang… endingnya kok nyesek semua. T__T

Konon, dalam kamus Melayu kuno tahun 1902, definisi dari kata “cinta” itu sendiri berupa “kesedihan” dan “patah hati”. Meskipun maknanya sudah sangat berlawanan dengan definisi cinta yang kita pahami saat ini, akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa cinta memang dapat berisiko membawa kita kepada kesedihan dan patah hati. Maka, hati-hatilah dalam bermain cinta.

“Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kamu tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut.” – Hlm. 51

Delapan cerita pendek dengan delapan jenis cinta terangkum dalam buku ini. Ada cinta yang kegeeran, cinta dalam kemiskinan dan tekanan hidup, cinta kepada orangtua dan keluarga, cinta karena pengabdian yang tulus, cinta beda kasta, cinta kepada tanah air, cinta yang dihianati, serta cinta yang hancur karena prasangka.

“Tetapi cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan.” – Hlm. 178

Delapan kisah cinta yang sangat heartbreaking, beserta hikmah-hikmah yang dapat diambil darinya. Cover buku ini pas banget untuk menggambarkan isinya. Hati yang diperban rapat, hanya menyisakan sepotong saja yang masih sehat.

Paling suka dengan cerpen yang diadaptasi dari kisah “Sampek Engtay” dan “Rama Shinta”. Dua kisah cinta legendaris tersebut memang terkenal memiliki ending yang sangat memilukan. Kisah Itje Noerbaja dan Kang Djalil juga cukup seru. Cerita cinta zaman penjajahan Belanda yang dituliskan dengan ejaan lama.

“Tapi tjinta kita, boekanlah apa-apa dibanding tjinta atas kemerdekaan bangsa kita. Tjinta soetji kita boekanlah apa-apa dibanding tjinta kita atas tanah air kita ini. Akoe, kamoe, akan mengorbankan apa poen demi itoe.”

Sayangnya, alih-alih menarik, saya justru capek baca tulisan dengan ejaan lama itu. Kayaknya nggak perlu ditulis pakai ejaan lama juga kali ya, untuk menunjukkan kalau cerita tersebut terjadi di masa penjajahan Belanda. Cukup dengan penggambaran setting atau interaksi tokoh-tokohnya mungkin.

Kisah kasih tak sampai si miskin dan si kaya ala Mbak Hesti dan Tigor juga cukup mengaduk perasaan. Klise, tapi entah kenapa tetap menarik.

Seperti yang tertulis di cover belakangnya, buku ini mengajarkan kepada kita bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik. Jadi, buat kamu…, kamu…, dan kamu yang suka baper dan galau mikir mantan atau gebetan, baiknya baca buku ini. Setidaknya, kamu akan tahu bahwa nasibmu jauh lebih baik daripada tokoh-tokoh yang ada di sini. 😀 *eh, kabur*

Buku

[Book Review] Gerbang Dialog Danur: Persahabatan Anak Manusia dengan Hantu

jPxgzvyy

Judul: Gerbang Dialog Danur

Penulis: Risa Saraswati

Penerbit: Bukune

Tebal: 224 halaman

Terbit: Januari 2012

Jangan heran jika mendapatiku sedang bicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat bersamaku. Saat itu, mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut… hantu–jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Jujur, sebenarnya saya ini penakut. Jangankan berurusan dengan hantu, mau ke kamar mandi di rumah tengah malam saja saya tidak berani. Namun, saya memiliki kesenangan yang aneh terhadap cerita-cerita atau film horor. Pada kondisi tertentu, saya membutuhkannya sebagai pelarian ketika hidup terasa mulai penuh dengan drama. Melihat tokoh di film-film tersebut dikejar hantu, saya jadi lebih bersyukur karena segala kegalauan yang sedang saya alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan mereka. Hahaha #ditendang

Karena kegemaran tersebut, sampailah buku ini ke tangan saya. Buku yang sangat menarik, menurut saya. Berbeda dari buku-buku bergenre horor lainnya, yang umumnya berisi full teror dari bangsa hantu. Di buku ini saya menemui hantu-hantu yang friendly, tampan, dan menggemaskan. Buku ini menceritakan tentang Risa, seorang anak manusia yang dikaruniai kemampuan dapat melihat makhluk tak kasat mata. Dengan kemampuannya itu, Risa kemudian berkenalan dengan lima hantu anak Belanda yang kemudian menjadi sahabatnya.

Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen, nama lima sahabat hantunya itu. Kelimanya meninggal secara tragis akibat kekejaman Nippon. Mereka tidak langsung pergi menuju kedamaian, akan tetapi malah bergentayangan untuk menemukan sesuatu yang berharga dan mereka cintai dalam hidup mereka dulu.

“Aku tak mengkhawatirkan Papa, dia dapat melindungi dirinya sendiri. Aku mengkhawatirkan Mama, selamanya akan kucari Mama.” – Peter

Peter Cs membuat hari-hari Risa yang sebelumnya sepi menjadi lebih berwarna. Mereka selalu menemani Risa ke sekolah, mengusir hantu-hantu jahil yang mengganggu, bermain dan tertawa bersama. Namun, sebagaimana dalam kehidupan di dunia, yang namanya persahabatan pasti mengalami pasang surut. Suatu hari, Peter Cs marah karena Risa tak bisa menepati janjinya untuk ikut ke alam mereka pada usianya yang ke-13. Kelima sahabat hantunya itu marah, lalu pergi meninggalkannya.

Semenjak kepergian Peter Cs, hari-hari Risa pun mulai penuh teror. Hantu-hantu yang mendatanginya bukan lagi hantu-hantu bule yang necis dan cakep, melainkan hantu-hantu yang menyeramkan dan buruk rupa. Paling bikin saya merinding adalah hantu korban kebakaran bioskop dari Jogja. Ngeri banget penggambaran wujudnya, suwer. 🙁 Hantu-hantu tersebut mendatangi Risa untuk menceritakan kisah-kisah mereka semasa hidup hingga akhirnya menjadi arwah penasaran.

Nah, yang menarik di sini adalah kita jadi kayak bimbingan konseling dengan hantu gitu. 😀 Banyak petuah-petuah kehidupan dari kisah-kisah flashback para hantu tersebut. Membaca kisah-kisah para hantu yang tragis dan menyedihkan itu, seharusnya membuat kita bersyukur dan lebih menghargai kehidupan ini.

“Baru kali ini aku mengerti alasan kenapa mereka selalu mengeluarkan suara tangisan pilu. Baru sekarang aku tahu kenapa mereka selalu membuat suara-suara tawa mengerikan. Mereka sedang menangisi diri mereka sendiri, dan segala penyesalan atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka juga sedang menertawakan diri mereka, yang begitu bodoh membuat sebuah keputusan.” – hlm. 116

Last, buku ini asyik juga kalau dibaca sambil dengerin lagu Bilur-nya Kak Risa Saraswati yang gloomy banget itu. Biar makin gregets.