Jalan-Jalan

Candi Kadisoka: Peninggalan Abad Ke-8 yang Terbengkalai

Candi Kadisoka
Candi Kadisoka (sumber: https://www.instagram.com/dtinta/)

Beberapa waktu yang lalu, kawan saya mengajak untuk mengunjungi Candi Kadisoka. Terus terang, sebelumnya saya tidak tahu-menahu tentang candi tersebut. Bahkan, saya baru tahu kalau ada candi yang bernama Kadisoka. Karena saya sangat suka mengunjungi candi-candi sambil kepo sejarah tentangnya, saya pun mengikuti ajakan kawan tersebut.

Candi ini terletak di Jalan Raya Kadisoka, Kadisoko, Purwomartani, Kec. Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281. Medan yang ditempuh untuk mencapai candi ini cukup merepotkan juga ternyata, haha. Kami harus mblusuk melalui jalan yang sempit dan penuh genangan air, sebab di kiri dan kanan areal candi ini merupakan tempat pemancingan umum.

Setelah berjibaku dengan jalan setapak yang sempit dan becek, kami berhasil mencapai lokasi Candi Kadisoka. Sayang, kami hanya bisa menikmatinya dari luar, sebab pintu pagarnya terkunci dan kami tidak berhasil menemukan petugas yang berjaga di sana. Memang sepertinya candi ini belum dibuka untuk umum dan menjadi objek wisata seperti beberapa candi lainnya yang ada di sekitar wilayah candi ini.

Reaksi pertama saya saat kami tiba di lokasi candi ini adalah … “Mana candinya??” 😀 Kami tidak menemukan bangunan candi sebagaimana umumnya. Yang kami lihat hanyalah sebagian kecil dari batu candi yang masih tertutup tanah di bagian atasnya.

Candi Kadisoka diperkirakan merupakan candi Hindu yang dibangun pada abad ke-8. Konon katanya candi ini memang belum selesai dibangun, kemudian tertutup oleh lahar dingin dari Sungai Kuning. Candi Kadisoka ditemukan kembali pada tahun 2000 oleh seseorang penambang pasir. Kemudian dilakukan penggalian oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala pada tahun 2001.

Selain berhasil menemukan sebagian pondasi candi, pada awal penggalian juga ditemukan beberapa benda peninggalan. Seperti, plakat berukiran bunga teratai yang terbuat dari emas serta beberapa batu mulia.

Sayang penggalian candi ini masih terhenti. Sebagian besar dari Candi Kadisoka ini masih tertimbun tanah. Harapannya, sih, bisa terus dilanjutkan. Kemudian Candi Kadisoka menjadi salah satu pilihan objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan seperti candi-candi lainnya yang lebih dahulu terkenal. Semoga.

Jalan-Jalan

Candi Kalasan dan Candi Sari: Dulu Bercahaya di Tengah Hutan Rimba

Beberapa waktu yang lalu, saya berencana untuk mengunjungi Candi Kalasan sendirian. Waktu saya sampaikan niat itu kepada seorang kawan, reaksinya: “Hah? Sendirian? Mau ngapain??”

Jadi, tujuan saya sebenarnya adalah sekadar ingin melepas penat. Saat sedang dalam kondisi suntuk atau bad mood, saya biasanya selalu ingin menyendiri. Jalan-jalan sendiri, kulineran sendiri, atau naik bus dengan rute yang lebih jauh sekadar untuk menenangkan diri. Yang belum pernah saya coba adalah jalan-jalan ke candi sendiri. :))

Sebenarnya saya juga bukan orang yang pemberani, sih. Saya pilih Candi Kalasan karena lokasinya cukup dekat dari kantor. Candi ini terletak di tepi jalan raya Jogja-Solo. Sekitar 13 km dari Candi Prambanan. Tepatnya di Dusun Kalibening, Tirtamani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Sudah dua kali saya berkunjung ke candi ini (tapi sama teman, haha). Dan, saya sudah sangat terkesan sejak awal kunjungan. Candi Kalasan memang bukan kompleks candi yang luas seperti Prambanan. Hanya ada satu bangunan candi yang besar, tinggi menjulang. Namun, satu candi itu di mata saya terlihat eksotis sekaligus menawan.

Candi Kalasan
Candi Kalasan

Konon, candi ini dibangun pada abad ke-8 dan merupakan candi peninggalan Buddha. Candi Kalasan yang memiliki nama lain Candi Kalibening ini dibangun oleh Rakai Panangkaran sebagai sarana pemujaan Dewi Tara sekaligus biara untuk para pendeta. Keterangan ini tertulis dalam sebuah prasasti yang ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan situs Candi Kalasan. Menurut para ahli, prasasti yang tertulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf pranagari tersebut diperkirakan ditulis pada tahun Saka 700 atau 778 Masehi.

Salah satu keistimewaan dari Candi Kalasan adalah adanya Bajralepa yang melapisi dinding batu dari candi ini. Bajralepa merupakan semacam lapisan yang bisa membuat batu-batu candi ini jadi tampak mengkilap kalau terkena cahaya (emm, kayak plitur gitu kali ya kalau zaman sekarang? *ngawur, abaikan*). Lapisan bajralepa dapat memantulkan cahaya sehingga dinding-dinding batu candi akan tampak gemerlapan. Selain fungsi estetis tersebut, lapisan yang konon memiliki sifat kedap air ini juga berfungsi untuk melindungi batu-batuan candi dari paparan sinar matahari dan guyuran hujan.

Selain Candi Kalasan, terdapat candi lain yang juga dilapisi bajralepa, yaitu Candi Sari. Lokasi Candi Sari tak jauh dari Candi Kalasan, kira-kira sekitar 0,5 km ke arah timur dari Candi Kalasan. Tepatnya di Dusun Bendan, Tirtamartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Saya juga pernah mengunjungi candi ini sebanyak dua kali. Meskipun kali kedua saya kurang beruntung, karena sudah terlalu sore jadi sudah tutup.

Candi Sari
Candi Sari

Candi Sari memiliki nama lain Candi Bendan. Barangkali merujuk kepada nama dusun di mana candi tersebut berada, Dusun Bendan. Dalam prasasti yang ditemukan di lokasi penemuan Candi Kalasan, tertulis juga keterangan mengenai Candi Sari. Jadi, candi ini ternyata masih ada hubungannya dengan Candi Kalasan. Sama-sama dibangun oleh Rakai Panangkaran pada abad ke-8. Diperkirakan Candi Sari dibangun sebagai biara atau asrama bagi para pendeta Buddha. Dan, sama halnya dengan Candi Kalasan, sisa-sisa lapisan bajralepa katanya juga masih dapat dilihat di Candi Sari.

Sebagai orang yang awam dalam hal ini, saya kurang tahu juga persisnya yang mana itu lapisan bajralepanya. 😀 Namun dalam pengamatan awam saya, dinding batu Candi Kalasan dan Candi Sari tampak berwarna keputih-putihan jika dibandingkan dengan candi-candi yang lain. Barangkali, warna putih di dinding candi itulah yang merupakan sisa-sia dari lapisan bajralepanya. Mo’on maap ya… kalau keliru. Yang jelas, membaca sejarah dari Candi Kalasan dan Candi Sari ini, saya jadi membayangkan, berabad silam, kedua candi ini berdiri menjulang di tengah hutan rimba (katanya sih, dulu daerah Kalasan adalah alas/hutan), lalu berkilau keemasan oleh pantulan sinar bulan. Wuaaa… pasti indah sekali yaaa… 😀

Kembali kepada rencana saya untuk menenangkan diri di Candi Kalasan sebagaimana yang saya kemukakan di awal tulisan, pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengurungkannya. Sebab kata kawan saya, “Kalau kamu lagi galau, mending dengerin sholawatan. Bukannya malah ngelamun di tempat peninggalan purbakala. Bisa-bisa nanti disamperin jin. Apalagi sendirian.”

Oke, saya menyerah!

Jalan-Jalan

Berkunjung ke Kastil Affandi

Tak perlu segan untuk jalan-jalan ke museum. Di sana, kamu tak akan menemui mantan ataupun kenangan tentangnya. Kecuali, lokasi museumnya ada di hatimu. Lagi pula, jalan-jalan ke pantai, gunung, atau pertokoan itu sudah menjadi kegiatan yang sangat mainstream untuk mengisi liburan. Di museum, kita bisa pergi ke masa lalu tanpa perlu mesin waktu.

Demikianlah, untuk mengawali long weekend kemarin, saya dan teman-teman sepakat untuk mengunjungi kastil sang maestro lukis Indonesia, Affandi. Mengapa kastil? Sebab memang bangunan dari museum ini mirip kastil ibu peri dari dunia fantasi. Setidaknya, itulah yang tebersit dalam benak setiap kali melintas di Jalan Laksda Adisucipto, Yogyakarta, dan melewati bangunan museum ini di tepian sungai Gajah Wong.

img-20160507-wa00241

Museum ini buka setiap hari Senin-Sabtu pada pukul 09.00-16.00. Cukup dengan merogoh kocek sebesar 20 ribu rupiah, kita bisa berkeliling ke dalam museum plus mendapat free soft drink. Oh ya, kalau mau foto-foto di dalam museum, akan dikenakan biaya tambahan 10 ribu untuk kamera handphone dan 20 ribu untuk kamera digital. Cukup sepadan karena kita bisa melihat-lihat karya seni hasil sentuhan tangan sang maestro yang konon harganya bisa mencapai miliaran rupiah itu.

Museum ini terbagi menjadi empat galeri. Di galeri pertama, kita bisa melihat-lihat lukisan Pak Affandi dari masa ke masa dan juga benda-benda peninggalan beliau semasa hidup.

img-20160507-wa00121

Galeri kedua, terdapat hasil karya dari para pelukis lain, baik pelukis senior maupun yang masih junior. Tak jauh dari galeri kedua, terdapat makam Pak Affandi dan Ibu Maryati, istrinya. Tadinya saya pengin foto, tapi teman saya bilang jangan. Katanya, nggak etis foto di makam. Iya juga, sih. Hehe 😀

img-20160507-wa0006

Adapun pada galeri ketiga, selain lukisan, kita juga dapat menyaksikan liputan profil Pak Affandi melalui televisi yang telah disediakan di sana. Selain sebagai ruang pameran, galeri ketiga ini katanya juga digunakan sebagai semacam sanggar untuk mendidik anak-anak yang memiliki minat atau berbakat dalam bidang seni lukis.

img-20160507-wa00171
Di dalam galeri tiga disediakan tempat duduk untuk menonton liputan profil Pak Affandi

Galeri keempat adalah sebuah menara. Dari atas menara, kita bisa menyaksikan pemandangan di sekitar museum. Namun, waktu itu saya dan teman-teman belum sempat naik ke sana, karena perut sudah keroncongan dan haus. Akhirnya, kami langsung pergi ke Kafe Loteng yang tak jauh dari galeri tiga untuk mengambil soft drink gratis. 😀 Oh ya, bangunan Kafe Loteng ini konon merupakan rumah tempat tinggal Pak Affandi bersama anak dan istrinya semasa beliau masih hidup.

Puas berjalan-jalan, kami salat Zuhur terlebih dahulu sebelum keluar dari museum. Lagi-lagi kami menemukan hal yang unik. Tempat salatnya tidak seperti mushala-mushala yang ada di ruang publik pada umumnya. “Mushala” yang ada di Museum Affandi bentuknya berupa gerobak. Gerobak tersebut dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi tempat yang layak untuk salat. Unik dan menarik!

Singkat kata, seharian itu kami cukup puas, meskipun harus bermacet-macet ria di jalanan akibat liburan. 🙂

Jalan-Jalan

Ekspedisi Gembira Loka Zoo: Nggak Kurang Piknik Lagi!

Sehubungan dengan adanya keluhan dari orang-orang kurang piknik, maka sebagai penutupan tahun kemarin teman-teman di Javalitera sepakat mengadakan piknik ke kebun binatang Gembira Loka. Acara tersebut kami beri tajuk “#JavaCeria: Nggak Kurang Piknik Lagi!” 😀 Maafkan kalau namanya agak alay, sengajaaa… biar lucu gitu. Kalau terlalu kaku, nggak seru nanti hidup ini. Hahaha

Pukul 8.30 kami sepakat kumpul di tekape. Meskipun agak ngaret sedikit, tapi yang penting happy. Sebagai informasi, tuh teman-teman saya pada ngajak pasangan dan keluarganya masing-masing. Para bapak ngajak anak istri, Tatik si pengantin baru ngajak suami, Eista ngajak Mas Egi, sementara Rio ngajak bidadari. Kalau saya? Sebagai satu-satunya personel yang jomblosingle happy, saya cukup membawa diri! Wkwkwk *yang penting rimanya tetap i-i-i-i*

p1010679

Inti dari acara ini, selain untuk refreshing dari penatnya pekerjaan, juga untuk menambah keakraban setiap karyawan (meskipun sebenarnya udah akrab juga, sih). Oleh karena itu, selain jalan-jalan (dan foto-foto tentu saja), ada beberapa acara seru-seruan selama piknik itu. Dan, berikut adalah rangkaian acaranya:

Naik kapal

Karena tiket masuk sudah plus tiket naik kapal, jadi acara pertama begitu masuk ke kebun binatang adalah naik kapal bersama. Penginnya naik speed boat, tapi karena ada anak-anak, jadi ya udah cukup kapal yang biasa saja (kayak berani wae naik speed boat). 😀

tchptl5z

Sharing

Tujuan dari sesi sharing ini sih agar kami bisa saling mengenal lebih dalam, tsaah. Di sesi ini, masing-masing dapat kesempatan untuk menceritakan tentang dirinya sendiri, hobi, impiannya, kegelisahan hatinya (halah!), dan sebagainya.

“Satu kata untuk Javalitera?” tanya Mas Pemred ke saya waktu sesi sharing. Agak bingung juga sih jawabnya, penginnya sih jawab “Nggak Mainstream” haha. Tapi, itu kan dua kata. Iya, sepanjang karier saya, Javalitera memang kantor yang paling tidak mainstream. Baik kantornya, suasana kerjanya, dan sebagainya, mwahaha. Namun karena ketidak-mainstream-annya itulah jadinya seru, dan saya betah di sana. Baiklah, kalau begitu, satu kata untuk Javalitera bagi saya adalah: “Betah!”

p1010703
Dari sesi sharing ini, saya jadi tahu kalau terakhir kali Mas Yudan nangis itu waktu akad nikah. Ea~ so sweet… :’)

 Kado silang

Nah, ini yang paling seru. Karena selain bertukar kado, juga ada games-nya. Kesepakatannya, kado silang yang dibawa harus berupa barang (supaya lebih bisa dikenang, kalau makanan kan langsung habis) dengan nominal Rp5.000,- dan dibungkus koran. Di bungkus kadonya, masing-masing menuliskan pertanyaan truth dan tantangan dare. Siapa pun yang ketiban kado itu, nanti wajib menjawab pertanyaan yang ada di bungkus kadonya. Kalau tidak berkenan memilih truth dengan menjawab pertanyaannya (karena emang aneh-aneh sih, pertanyaannya :D), maka boleh memilih dare yaitu melakukan tantangan yang diberikan.

Singkatnya, setelah kado diputar dengan iringan lagu theme song Doraemon, saya ketimpuk kado dengan pertanyaan truth yang … OMG! Ini nih, pertanyaan truth dan tantangan dare buat saya.

p1010707
Dilema, jawab pertanyaan atau nyanyi aja, nih? Hiks…

Isi kadonya apa, tuh, kira-kira? Oke, saya bocorin saja, ya. Saya dapat sendok dan garpu. Benar, sendok dan garpu, Saudara-saudara! Plus komentar semena-mena dari Rio:

“Tuh, Mbak. Sendok sama garpu aja berpasangan, masa kamu enggak?” -___-

 Makan bersama

Sehubungan perut sudah keroncongan, acara selanjutnya adalah makan bersama. Sengaja bawa bekal sendiri-sendiri, biar lebih terasa feel pikniknya. Makan bekal sambil gelar tikar, wkwkwk. Kalau di tempat lain biasanya disediakan nasi kotak, kami bawa bekal sendiri-sendiri. Nah, benar, kan, kata saya. Nggak mainstream! Tapi, keren malahan. 😀

p1010708
Mentang-mentang pengantin baru, makan aja sepiring berdua.

Selanjutnya, acara bebas!

Sempatin dulu foto sama burung merak di Bird Park-nya. 😀

p1010729

Kadang, hidup ini seperti labirin, kita harus menempuh jalan yang berputar-putar terlebih dahulu sebelum sampai kepada yang dicita-citakan. Sebagaimana saya, yang mesti berputar-putar dahulu, galau karier, dan sebagainya. Sebelum akhirnya bertemu dengan teman-teman di Javalitera, yang sejauh ini membuat saya betah.

p1010740

Jalan-Jalan

Belajar Sejarah di Museum Benteng Vredeburg

Suka gagal paham kenapa setiap kali saya ingin jalan-jalan ke museum, teman-teman selalu berkomentar, “Wah, mau mengunjungi mantan ya!” Wew, mantan kok dimuseumkan. Museum, kan, tempat untuk menyimpan benda-benda dari masa lalu yang bersejarah dan layak untuk dikenang. Artinya, kalau mantan dimuseumkan, maka bayangan masa lalu akan terus terkenang, dong. Kapan move on-nya? Hahaha

By the way, ini postingan tentang apa, pembukaannya malah mbahas apa. -___- *salah fokus*

Ok, back to the topic. Pada sebuah akhir pekan beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman sepakat untuk jalan-jalan ke museum. Bukan untuk mengunjungin mantan, melainkan untuk belajar sejarah. Tujuan kami adalah museum Benteng Vredeburg. Lokasi Benteng Vredeburg terletak di kawasan 0 kilometer Yogyakarta. Tepatnya, di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Yogyakarta. Kalau dari Kraton Yogyakarta, cukup berjalan kaki beberapa ratus meter ke utara. Benteng Vredeburg berada persis di depan Gedung Agung, sebelum Malioboro.

Benteng Vredeburg dibuka untuk umum setiap hari Selasa–Minggu. Tiket masuknya? Murah meriah saja. Cukup merogoh kocek 2.000 rupiah untuk orang dewasa, dan 1.000 rupiah untuk anak-anak.

img_20160307_230354
Tiketnya seperti yang saya bawa itu 🙂

Dulu, Benteng Vredeburg sebenarnya adalah sebuah loji atau kantor besar peninggalan kompeni pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Benteng ini dibangun pada tahun 1760 atas permintaan Belanda. Pada masa itu, Belanda merasa cemas melihat Kasultanan Yogyakarta, yang baru saja berdiri di bawah pimpinan Sultan Hamengku Buwono I, berkembang dengan sangat cepat. Lalu, dengan dalih ingin melindungi dan menjaga keamanan di wilayah Kraton dan sekitarnya, Belanda meminta kepada Sultan agar dibangunkan sebuah benteng di dekat Kraton sebagai markas mereka. Namun di balik dalih memberikan perlindungan bagi Kraton, maksud Belanda yang sebenarnya adalah agar mereka lebih mudah mengontrol perkembangan di dalam Kraton. Pada masa itu, konon Belanda memang selalu ingin ikut campur dengan urusan politik para raja-raja Jawa. Wew!

Beteng ini dibangun dengan dikelilingi parit di depan pintu gerbangnya, serta terdapat bastion atau menara pantau di keempat penjuru bangunannya. Saat ini, benteng ini digunakan sebagai museum yang menampilkan diorama-diorama sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Istimewanya, seluruh diorama yang disajikan di dalam museum Benteng Vredeburg ini terjalin runtut mulai dari masa penjajahan, kemerdekaan, hingga periode awal pembangunan Indonesia.

p1010454
Teman-teman saya sedang asyik banget menyimak diorama sejarah perjuangan bangsa Indonesia

Selain diorama, di museum ini juga terdapat koleksi benda-benda bersejarah lainnya, ada pula lukisan, serta patung-patung yang terletak baik di dalam maupun di luar ruangan. Lengkap dengan layar sentuh yang berisi keterangan dari setiap koleksi yang ditampilkan. Lebih dari itu, museum ini juga masih dilengkapi dengan perpustakaan, games audio visual, gedung pertunjukan, serta musala. Ada pula games perang-perangan melawan Belanda. Selain mempelajari sejarah bangsa, berkunjung ke museum ini saya juga jadi ikut terbawa suasana pada masa perjuangan zaman dahulu kala.

p1010447
Patung di dalam ruangan
p1010457
Patung di luar ruangan

Selain dibuka untuk umum sebagai museum, Benteng Vredeburg juga kadang dijadikan sebagai tempat diselenggarakannya Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Atau, event-event kesenian lainnya yang ada di Yogyakarta.

Jalan-Jalan

Korean Days 2016: Nyobain Hanbok Hingga Odeng

Salah satu cara bahagia adalah tetap jalan-jalan di akhir pekan, meskipun sedang tanggal tua. Dan, agenda jalan-jalan akhir pekan kami kali ini adalah ke acara Korean Days. Acara Korean Days ini sebenarnya merupakan acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Korea (HIMAKA) Vokasi dan Himpunan Mahasiswa Korea (HIMAHARA) S1. Acara ini rutin diadakan setiap tahun dan dibuku untuk umum. Ini adalah kali pertama kami nyobain datang ke acara tersebut.

Sebagai Kpopers, tentu saja saya tertarik untuk datang ke acara itu, haha. 😀 Dan ternyata, banyak juga yang datang. Untuk membeli tiket saja, kami harus antre dulu. Setelah dapat tiket, kami dikasih gelang stiker dan dicap tangannya sebagai tanda masuk.

img-20160124-wa0030
Gelang stikernya seperti yang saya pakai itu

Ada apa saja di Korean Days? Yah, sebagaimana namanya, acara itu bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan Korea bagi masyarakat, khususnya masyarakat di Jogja. Di acara tersebut, ada stan-stan korea-koreaan. Tiga stan yang menarik perhatian saya dan teman saya adalah stan hanbok, stan jajanan khas Korea, dan stan dari Penerbit Haru, salah satu penerbit yang khusus menerbitkan novel berlatar Korea.

Tujuan pertama kami adalah stan hanbok. Stan tersebut menyewakan hanbok atau baju tradisional Korea buat yang mau foto-foto. Ada dua macam hanbok yang disewakan, yaitu hanbok kerajaan dan hanbok biasa. Kami tertarik untuk mencoba hanbok kerajaan. Namun, ampun deh, ukurannya gede semua. Nggak ada yang pas sama saya. Tapi demi foto-foto, pakai hanbok kegedean pun saya jabanin. #plak

img_20160124_184044
“Hwangjanim, nan yogi seo gidarigoisso.” — My Prince, di sini aku menunggumu. Ea~ *baper*

Foto di atas sudah mengalami proses editing yang maksimal, jadi sedikit tertolong daripada aslinya. Hahaha 😀 Sampai di stan jajanan Korea, kami tertarik untuk mencoba odeng. Ingat drama Boys Over Flowers? Di drama itu, Gu Jun Pyo doyan banget sama jajanan ini. Dia sampai habisin bertusuk-tusuk odeng saking doyannya.

Odeng ini banyak bentuknya. Rasanya mirip tempura, tapi dikasih kuah. Nah, karena yang kami beli kemarin bentuknya pipih, saya jadi ingat sama kerupuk udang. Jadi, odeng yang kami makan kemarin mirip banget dengan kerupuk udang yang jadi lembek karena dikuahin, wkwkwk. Tapi, enak, kok! 😀

Selain Odeng, ada barmacam Korean street food lainnya. Sebenarnya kami kepengin sekali mencoba semua jajanannya. Tapi apalah daya, tanggalnya sedang tua bangka. 😀

img-20160124-wa0020
It was fun!

Jalan-Jalan

Numpang Foto di Taman Bermain Badakan

Dikarenakan agenda kumpulan trah bulan Maret kemarin jatuh di rumah sepupu saya di daerah Temanggung, kami sepakat untuk mampir ke tempat wisata setelah acara tersebut. Namun, sayang rencana itu gagal total sebab acara trahnya molor, sehingga sudah kesorean untuk mampir piknik. Sebagai obat kecewa, akhirnya kami piknik dadakan di Taman Bermain Badakan. Kebetulan rute pulang kami dari Temanggung ke Magelang melewati taman ini.

Lokasi Taman Bermain Badakan ada di Jalan Pahlawan, Potrobangsan, Magelang, Jawa Tengah. Kenapa namanya Badakan? Ternyata, ada kaitannya dengan patung badak yang ada di tengah-tengah taman ini. Patung badak itulah yang menjadi ikon dari taman ini. Selain badak, ada beberapa patung binatang lainnya, seperti gajah, jerapah, macan, unta, dan lain-lain.

p1010821

Taman ini sifatnya terbuka untuk umum. Tidak perlu membeli tiket masuk. Jadi, dana beli tiket dapat dialokasikan untuk jajan bakso kerikil yang konon merupakan menu yang khas di daerah ini. Bagi yang mengajak anak-anak, bisa mencoba beberapa stan mainan anak seperti kereta-keretaan, pancing-pancingan, ayunan, perosotan, dan lain-lain.

Sekilas, taman ini mengingatkan saya pada tempat nongkrong yang cukup hits di daerah saya, Alun-Alun Selatan Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan nama Alkid. Keduanya sama-sama menyajikan sebuah open area dengan bermacam pilihan fasilitas permainan dan kulinernya.

Nah, karena waktu itu hari sudah sangat sore, kami tidak bisa berlama-lama di sana. Sekadar numpang foto dan mencoba beberapa permainan untuk keponakan. Nyobain bakso kerikil juga, nggak? Iya, dong. Beli dibungkus dan dibawa pulang.

p1010814

Jalan-Jalan

Goa Jepang dan Orang-Orang Kurang Piknik

Sebenarnya, sih, ini agenda jagong manten. Bukan agenda piknik. Jadi waktu itu, kami mendapat undangan pernikahan salah seorang kawan yang lokasinya di Jalan Kaliurang Km 12, Yogyakarta. Selesai kondangan, teman saya tiba-tiba nyeletuk, “Lanjut naik aja, yuk. Refreshing.” Sebagai orang yang kurang piknik, saya mengiyakan saja. Lagipula, saya cuma nebeng ini, haha. 😀 Begitulah, akhirnya piknik insidental itu pun terjadi.

wpid-img-20150518-wa0003

Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya sampailah kami di kawasan Kaliurang, di lereng gunung Merapi. Tepatnya, di kompleks wisata alam Nirmolo Kaliurang, Yogyakarta. Di kompleks ini, juga terdapat sebuah goa peninggalan zaman penjajahan Jepang, yang akrab disebut dengan nama Goa Jepang. Konon, goa ini digunakan oleh para tentara Jepang untuk bersembunyi dari tentara sekutu. Selain di Kaliurang, di Indonesia sendiri juga punya banyak situs goa peninggalan Jepang yang tersebar di beberapa kota. Yang membedakan Goa Jepang yang ada di Kaliurang ini dengan yang ada di kota lain adalah, Goa Jepang di Kaliurang berjumlah 25 unit yang kesemuanya saling terhubung. Selain itu, Goa Jepang di Kaliurang ini juga masih orisinal dan belum diberi penerangan.

Untuk mencapai ke situs Goa Jepang ini, pengunjung harus menempuh perjalanan menaiki anak tangga sejauh kurang lebih 1 km dari kompleks wisata Nirmolo Kaliurang. Oleh karena itulah, kami terpaksa harus gigit jari. Namanya juga insidental dan serba nekat, kami jadi salah kostum. Kostum yang kami pakai saat itu adalah kostum untuk kondangan, pakai dress dan heels. Kostum yang tentu sangat tidak recommended untuk mendaki 1 km jauhnya.

wpid-img_20150518_200030

Setelah menertawakan kekonyolan diri-sendiri, akhirnya kami hanya berfoto-foto di area depan kompleks wisata Nirmolo Kaliurang. Sambil berkejaran dengan monyet-monyet yang masih berkeliaran di habitat aslinya. Walau tak bisa naik sampai ke Goa Jepang-nya, tetapi piknik insidental itu lumayan membuat kami fresh.

Jalan-Jalan

Plaosan: Si Kembar yang Terabaikan

Saat pertama kali menginjakkan kaki ke sana, terus terang saja saya tak tahu-menahu tentang candi ini. Candi Plaosan memang tak setenar tetangga sebelahnya, Candi Prambanan, candi Hindu yang dinobatkan menjadi candi tercantik di dunia yang menurut legenda setempat dibangun sebagai bukti cinta Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang. Itu legendanya lho ya, karena menurut sejarah, Candi Prambanan sebenarnya dibangun oleh Rakai Pikatan pada era Jawa Kuno sebagai pesaing dari candi Buddha yang telah berdiri sebelumnya, Candi Borobudur dan Candi Sewu, yang lokasinya tak jauh dari Prambanan.

Kembali ke Plaosan, seperti yang telah saya katakan tadi, sampai ketika menginjakkan kaki ke sana, saya belum tahu apa-apa mengenai candi ini. Namun, bersyukurlah pada teknologi yang semakin canggih. Karena tak perlu repot-repot bertanya ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, cukup dengan mengaktifkan laptop dan koneksi internet maka Wikipedia sudah bisa menceritakannya panjang lebar. Hehe

Jadi, hampir sama seperti Prambanan, Candi Plaosan juga dibangun pada masa Jawa Kuno oleh Rakai Pikatan bersama Sri Kahulunan. Terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, kira-kira 1 KM dari Candi Sewu dan Candi Prambanan.

Candi Plaosan memiliki dua kompleks, Plaosan Lor (utara) dan Plaosan Kidul (selatan). Plaosan Lor memiliki dua candi utama, candi induk utara dengan relief perempuan dan candi induk selatan dengan relief laki-laki, sedangkan Plaosan Kidul terdiri dari beberapa perwara berbentuk candi dan stupa. Yang unik dari Candi Plaosan adalah dua candi induk yang berbentuk serupa atau yang biasa disebut sebagai candi kembar. Selain itu, meskipun Candi Plaosan adalah candi Buddha, akan tetapi ia menggunakan arsitektur gabungan dari candi Hindu dan Buddha.

dscn1630

Tiket masuk ke Candi Plaosan cukup murah meriah. Hanya dengan 3 ribu saja, kita sudah dapat menikmati cagar budaya peninggalan zaman purbakala ini. Sayangnya, kesan pertama yang saya dapat saat memasuki gerbangnya adalah suasana yang ‘horor’. Bukan karena hawa mistis yang katanya sering muncul pada benda-benda peninggalan zaman purba, melainkan lebih kepada kondisi objek wisata itu sendiri yang seolah tak terurus, seperti terabaikan. Utamanya di Plaosan Kidul. Di beberapa lokasinya tercium bau pesing, ulah para oknum tak bertanggung jawab.

dscn1627
Candi Plaosan di antara puing-puing batu candi yang belum tersusun
dscn1713
Puing-puing batu candi di Plaosan Kidul

Namun terlepas dari itu semua, Candi Plaosan menawarkan pemandangan yang indah di sekitarnya. View Gunung Merapi yang tampak jelas, rasanya sayang bila tidak diabadikan dengan kamera. Pelataran luas yang terdapat di Plaosan Lor, menjadi “narsis area” yang tak boleh dilewatkan.

dscn1697
Candi Plaosan berlatar belakang view Gunung Merapi ^^~
img_9474
Foto di reruntuhan kece juga ternyata hasilnya
img_9463
Girlband baru yang akan segera debut. Haha!

Harapannya, ke depan pengelolaan Candi Plaosan bisa lebih diperhatikan lagi. Dengan demikian, Candi Plaosan dapat menjadi alternatif objek wisata yang tak kalah menarik dibandingkan candi-candi lainnya yang telah lebih dulu melegenda. Semoga. 🙂

Jalan-Jalan

Kyai Langgeng Pada Suatu Hari

Sebenarnya ini adalah agenda kondangan. Kebetulan lokasi resepsi pernikahan salah satu kawan kami itu ada di kota Magelang. Jadi, setelah kondangan langsung dilanjutkan piknik ke Taman Kyai Langgeng. Sekalian, mumpung keluar kandang, Haha! 😀

Taman Kyai Langgeng adalah sebuah objek wisata yang terletak di Kota Magelang, Jawa Tengah. Taman ini memiliki berbagai macam koleksi tanaman langka serta binatang-binatang seperti reptil, ikan, berbagai jenis burung, dan beberapa permainan seperti jet coaster, komidi putar, becak mini, kereta air, dan yang lainnya. Adapun nama Kyai Langgeng itu sendiri diambil dari nama seorang pejuang pada zaman Pangeran Diponegoro, yang kemudian dimakamkan di kawasan taman itu. Sampai sekarang, makam tersebut masih ada dan terawat. Sayang, saya belum sempat melihat ke sana.

Kunjungan ini adalah kali ketiga saya ke Kyai Langgeng. Kali pertama saat saya masih kecil, piknik sekeluarga. Dan, saya sudah lupa apa saja yang saya lakukan waktu itu di sana. Sudah berabad-abad yang lalu soalnya. 😀 Kali kedua, saya ke sana bersama mbak dan teman-temannya. Naik jet coaster sampai pucet, kemudian menyewa becak mini sekadar untuk foto-fotoan. 😀

Dan terakhir, ke sana bersama teman-teman kantor. Melihat jet coaster, teman-teman saya sangat antusias untuk mencobanya, sementara saya sudah kapok. Wew… 😀 Tapi, Tuhan menjawab doa saya, jet coaster itu sedang dalam perbaikan. Jadi, akhirnya kami naik perahu air. Yeah! 😀

p1000549

Beberapa kawan yang tidak tahu akan ada agenda piknik ini, masih memakai high heels yang mereka kenakan ketika jagong manten. Alhasil, mereka terpaksa nyeker dan menenteng high heels-nya karena pegal. 😀

p1000546

Yang tak boleh terlewatkan dari acara jalan-jalan tentu saja mencari narsis area untuk foto-foto.

p1000563

Demikian cerita saya tentang agenda jalan-jalan ke taman Kyai Langgeng. Kalau ingin tahu lebih banyak tentang Taman Kyai Langgeng ini, silakan cuss saja ke situs resminya: tamankyailanggeng.com. Atau, rajin-rajinlah bersilaturahmi sama Tante Google. Oke, sip. Kaburrr….