Kuliner

Kicak and the Story Behind

Kalau ada yang saya tunggu di saat Ramadan, salah satunya adalah untuk mencicipi kudapan khas Yogyakarta ini. Namanya Kicak, makanan tradisional yang terbuat dari ketan, parutan kelapa muda, santan, gula, dan irisan nangka. Rasanya manis, gurih, dan lembut di lidah. Cocok sekali disantap waktu buka puasa. Ditambah aroma nangka yang hmm… sungguh menggugah selera.

Konon, kicak merupakan kudapan asli dari kampung Kauman Yogyakarta dan hanya muncul pada saat bulan Ramadhan. Di daerah lain, ada juga makanan tradisional dengan nama kicak. Namun, tidak sama dengan kicak versi Kauman ini. Di daerah Jepara misalnya, kicak terbuat dari singkong yang diberi taburan parutan kelapa dan gula merah. Dari bahannya, kicak versi Jepara ini barangkali memiliki citarasa mirip dengan gethuk. Berbeda dengan kicak versi Kauman yang berbahan dasar beras ketan.

Kicak
Kicak versi Kauman

Adalah Mbah Wono, orang pertama yang membuat kicak Kauman sejak tahun 80-an. Mbah Wono adalah warga asli kampung Kauman. Dulu, beliau membuat kicak untuk dijual sebagai menu harian di warung nasinya. Namun, ternyata kicak lebih digemari pada saat bulan Ramadhan dibandingkan pada hari-hari biasa. Sejak saat itulah, kicak akhirnya hanya dibuat setiap bulan Ramadhan saja.

Sayangnya, belum diketahui mengapa beliau memberi nama penganan ciptaannya ini kicak. Anak cucu Mbah Wono sendiri belum sempat menanyakan hal ini kepada beliau. Saat ini, Mbah Wono telah meninggal dunia. Namun, tradisi membuat kicak selama bulan Ramadan masih terus dilanjutkan oleh anak cucu beliau. Bahkan, banyak pedagang lain yang kemudian juga membuat kicak dengan modifikasi mereka sendiri. Kini, kicak dapat dijumpai setiap bulan puasa di Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman. Letaknya di sepanjang lorong kampung Kauman.

Masjid Kauman
Masjid Gede Kauman

Nah, mencicipi kue kicak ini menjadi salah satu momen khas Ramadan versi saya. Kalau sekarang, sih, penjual kicak mungkin sudah menjamur, di mana-mana ada. Tapi, rasanya belum mantep aja kalau belum mencicipi kicak yang asli dari Kauman. Jadi, kemarin sepulang kerja saya sempatkan mampir menyusuri lorong-lorong kampung Kauman untuk membeli penganan ini. Ada yang sudah pernah makan kicak juga? 🙂

Kuliner

Belajar Masak: Kroket Salah Gaul

Kroket Salah Gaul

Setelah berjibaku dengan deadline satu dan yang lainnya sejak bulan Januari kemarin, entah kenapa otak ini jadi macet buat nulis. Blog jadi lumutan, deh. Nah, sebagai pemanasan, sekarang saya mau posting cerita main masak-masakan aja, deh. Oh ya, ini pernah saya posting sebelumnya di Instagram. Iya, ini repost. Hahaha *ketawa evil*

Jadi, ini saya bikin apa? Emm… sebut saja ini dengan nama “Kroket Salah Gaul. Lol! Niat awal memang bikin kroket, tapi pas eksekusi saya ngebentuknya kegedean. Jadi macem perkedel, haha. Selain itu, saya juga kelupaan salah satu bumbu yang paling penting, yaitu gula pasir. Gula pasir itu penting untuk menentukan jati diri masakan ini, sebab yang membedakan antara kroket dengan perkedel adalah cita rasanya. Kalau perkedel gurih, kroket agak manis (macem yang masak *abaikan*). Ya wes kalau gitu, sebut saja ini “Kroket Salah Gaul (Blasteran Perkedel)”. :)).

Resepnya sebagai berikut:

Bahan untuk kentangnya:

  • Kentang
  • Telur
  • Bawang putih
  • Garam
  • Merica
  • Tepung panir

Bahan untuk isiannya:

  • Wortel
  • Daun bawang
  • Keju (biasanya pakai daging ayam cincang, tapi ini dadakan jadi seadanya 😀)
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Garam
  • Merica

Cara membuat:

  • Adonan kentangnya:

Haluskan bumbu: bawang putih, merica, dan garam. Goreng kentang sampai kira-kira lunak dan mudah untuk dihaluskan. Tumbuk kentang, lalu campurkan bumbu yang sudah dihaluskan, tambahkan telur (sisakan sedikit untuk tahap akhir). Uleni hingga tercampur rata.

  • Isiannya:

Potong-potong wortel, daun bawang, bawang merah, bawang putih. Tumis semua bahan. Tambahkan garam dan merica. Terakhir, setelah diangkat dari kompor, tambahkan keju parut.

  • Tahap akhir:

Ambil sedikit adonan kentang, bentuk menjadi pipih, lalu beri isiannya. Kemudian bulatkan lagi hingga isian tertutup kentang. Setelah itu, celupkan ke dalam telur lalu gulingkan dalam tepung panir. Ulangi langkah ini hingga adonan habis.

Setelah seluruh adonan dibentuk dan diberi isian, goreng hingga kecokelatan. Udah, jadi, dah! Agak rumit juga sih langkah-langkahnya. Setidaknya, nggak serumit membaca hatimu. 😀

Kuliner · Seni & Budaya

Filosofi Ketan, Kolak, dan Apem dalam Tradisi Ruwahan

Setiap menjelang bulan puasa, ada suatu tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa, yaitu Ruwahan. Ruwahan dilaksanakan pada bulan Ruwah, yang bertepatan dengan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Salah satu hal yang paling identik dari tradisi ini adalah makanan tradisional ketan, kolak, dan apem. Biasanya 10 hari menjelang bulan puasa tiba, ibu-ibu mulai sibuk membuat sajian ini yang kemudian dibagi-bagikan ke tetangga-tetangga di kampung. Ada pula yang disertai dengan kenduri.

Dan, sebagaimana lazimnya masyarakat Jawa yang senang bermain dengan simbol-simbol, makanan ketan, kolak, dan apem ini ternyata juga memiliki makna filosofisnya sendiri.

  1. Ketan

Ketan merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dikukus. Rasanya manis dan mengenyangkan. Nama ketan sendiri dalam kepercayaan masyarakat Jawa memiliki banyak makna.

Ketan dapat diartikan sebagai “kraketan” atau “ngraketke ikatan”, yang artinya “merekatkan ikatan”. Maka, ketan dapat menjadi simbol eratnya persaudaraan antarsesama manusia.

Nama ketan juga konon diambil dari kata “khatam” dari bahasa Arab yang berarti “tamat”. Hal ini menyimbolkan umat dari nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw.

Nama ketan juga diambil dari kata bahasa Arab lainnya, yaitu “khotan” yang artinya “kesalahan”. Lalu, dari bahasa Jawa “kemutan” yang berarti “teringat”. Dalam konteks ini, nama ketan menyimbolkan sebuah perenungan atau introspeksi diri sendiri atas kesalahan-kesalahan dan dosa yang telah dilakukan.

ketan
Gambar diambil dari okefoods.blogspot.com
  1. Kolak

Kolak adalah makanan yang terbuat dari pisang, ubi, kolang-kaling, yang direbus bersama kuah campuran santan dan gula jawa. Nama kolak sendiri konon diambil dari kata “khalaqa” yang artinya “menciptakan”. Atau “khaliq” yang berarti “sang pencipta”. Dalam hal ini merujuk kepada Allah swt.

kolak
Gambar diambil dari resepmasakankreatif.com
  1. Apem

Apem merupakan kue tradisional yang tebuat dari tepung beras. Bentuknya bulat pipih, dan biasanya dimasak di atas wajan kecil atau cetakan khusus dengan bara api kecil. Nama apem diambil dari kata “afwan” dalam bahasa Arab, yang berarti memohon ampunan.

apem
Gambar diambil dari gerberasnackshop.wordpress.com

Apabila ditarik kesimpulan, dari ketiga makanan tersebut jika dihubungkan akan menggambarkan sebuah nasihat. Pertama-tama, sebagai umat Nabi Muhammad saw, kita harus senantiasa mengingat dosa-dosa yang telah kita perbuat. Lalu, kita diharapkan untuk segera kembali kepada-Nya. Bertobat dan memohon ampunan kepada Sang Pencipta, Allah swt. Sebagaimana esensi dari bulan puasa itu sendiri. Bulan tempat refleksi diri, bulan untuk me-recharge kembali keimanan kita.

Yah, ini adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang konon merupakan kreativitas dari para pendakwah zaman dahulu. Dahulu, para pendakwah di tanah Jawa menggunakan cara-cara semacam ini agar dapat masuk, diterima, dan menyampaikan ilmu agama dengan mudah di masyarakat. Tentu saja, ada pro dan kontra terkait tradisi ini di masa kini. Namun, tidak perlu berdebat sampai adu urat. Kita hanya perlu cerdas untuk memilah dan memilih mana yang merupakan syariat dan mana yang berupa adat, sehingga bisa meluruskan niat antara menjalankan perintah agama atau melestarikan budaya. 🙂

Kuliner · Suka-Suka

Don’t Judge a Food by Its Name

beda nama beda harga
Gambar diambil dari brilio.net

Memang tidak semuanya, akan tetapi hampir kebanyakan cewek yang ketika makan di tempat-tempat nongkrong pasti memilih menu yang namanya lucu-lucu. Saya adalah salah satu di antaranya. Dan, karena kebiasaan itu, saya jadi sering kena zonk. Kadang ekspektasi yang diangankan dari nama menu yang unyu-unyu itu tak sesuai dengan kenyataan yang didapatkan. Pernah suatu kali saya terpikat dengan nama menu “Brokoli Chicken Teriyaki”, akhirnya saya pesan karena sepertinya sedap. Setelah pesanan terhidang di meja, ternyata cuma nasi plus tumis sayur brokoli yang dikasih tetelan ayam dan saus teriyaki. Ya, memang sedap, sih. Tapi, namanya sudah bikin saya berpikir terlalu tinggi.

Nasib saya itu masih lebih baik kalau dibanding dengan nasib kawan saya. Suatu kali, dia mengeluh ketika minuman yang bertitel “Lotta Lovin” pesanannya ternyata hanya semacam jus jambu biji dengan sirop rasa prambors. Lain cerita, kawan saya yang lain curhat ketika dia diminta menerjemahkan menu-menu masakan dengan bahasa Inggris. Ngakak ketika dia bilang menu “Nasi plus Oseng-Oseng Kacang Panjang” jadi “Stir Long Bean with Rice”. Wkwk

Kalau kita amati, penamaan menu-menu itu kebanyakan pakai bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Alasannya barangkali karena bahasa-bahasa asing itu dianggap lebih prestise sehingga bisa menaikkan “kelas” dari makanan yang dijual. Pada akhirnya, harga jualnya pun jadi lebih tinggi. Sebut saja, “es teh” yang kita beli di angkringan seharga 1.500, dengan bahan yang sama bisa berubah nama menjadi “ice tea” yang kita beli di restoran seharga 10.000. 😀

Jadi, kalau ada ungkapan “Don’t judge a book by its cover”, maka hal itu seharusnya berlaku juga untuk makanan. Nama menu yang memikat belum tentu rasanya nikmat. Nama menu yang tampak istimewa, bisa jadi makanannya biasa saja. Maka dari itu, selain membaca nama menu yang unyu-unyu, baiknya cermati juga keterangan komposisinya. Supaya tidak kena zonk. Biasanya keterangan itu ada di bawah nama menu, tertulis kecil-kecil. :v

Kalau kepepetnya nggak dikasih keterangan, ya sudah mau gimana lagi. Nggak apa-apa kena zonk sekali-kali. Yang penting sudah usaha untuk meminimalkan kemungkinan kita pesan menu “Deep Fries Fermented Soya Bean with Couple of Chili” yang ternyata maksudnya cuma tempe mendoan dengan cabe rawit dua. Hahaha 😀

Kuliner

Pajeon, Bakwan Korea

Selain kisah percintaan yang romantis habis, salah satu hal dari drama Korea yang cukup menarik perhatian bagi saya adalah kulinernya. Beberapa yang paling umum seperti Bulgogi, Tteokbokki, Kimbab, Odeng, dan Kimchi sudah pernah saya cobain. Sebagaimana yang pernah saya tulis di sini >> Makan Siang ala Drama Korea.

Nah, salah satu yang belum pernah saya cobain dan cukup membuat penasaran adalah Pajeon. Pajeon merupakan street snack atau jajanan tradisional Korea yang banyak digemari. Umumnya, Pajeon ini disajikan sebagai makanan pembuka, tapi cocok juga apabila ingin disantap sebagai camilan.

Pajeon dikenal juga dengan sebutan Korean Pancake. Namun demikian, jangan bayangkan kalau Pajeon rasanya manis sebagaimana pancake pada umumnya. Pajeon dibuat dari campuran adonan pancake, telur, dan daun bawang. Jadi, rasanya gurih. Kalau menurut saya sih, Pajeon ini mirip gorengan di Indonesia. Bedanya, Pajeon tidak dimasak dengan cara digoreng dalam wajan dengan minyak yang banyak, akan tetapi dimasak di atas pan dengan sedikit minyak saja, seperti membuat pancake.

pajeon

Sebenarnya, saya sudah mulai penasaran dengan Pajeon sejak nonton variety show bertajuk “Star Kitchen with UKiss”. Di acara tersebut, Eli dan AJ praktik masak membuat Pajeon. Setelah berkesempatan mencicipinya, sebagaimana dugaan saya, Pajeon memang memiliki cita rasa yang mirip dengan bakwan dari Indonesia. Cuma beda cara masaknya saja. Selain itu, Pajeon juga disajikan dengan saus khusus yang terbuat dari campuran kecap dan cuka. Tapi, baik Pajeon maupun bakwan, sama-sama enaaakkk, kok… 😀

Kuliner · Seni & Budaya

Lopis Ketan, Simbol Eratnya Persaudaraan

Masyarakat Jawa memang selalu senang bermain dengan simbol-simbol. Melalui simbol-simbol itulah mereka mengajarkan nilai-nilai atau pesan moral kepada anak cucunya. Pesan moral ini tersembunyi hampir di setiap aspek kehidupan mereka. Bahkan, dari hal yang kecil sekalipun. Termasuk, dalam hal kuliner.

Bicara masalah kuliner, ada salah satu jajanan tradisional Jawa yang masih cukup digemari oleh masyarakat, di tengah masuknya beragam makan-makanan modern dewasa ini. Sebut saja, kue lopis. Kue tradisional ini masih dapat kita jumpai di pasar-pasar tradisonal. Umumnya, lopis dijual bersamaan dengan makanan tradisional yang lain, seperti ketan, cenil, gethuk, grontol (jagung pipil rebus), dan lain-lain. Bahan baku pembuatan kue lopis adalah ketan, yang dimasak dengan bungkus daun pisang, dibentuk menyerupai lontong. Penyajiannya dengan cara dipotong tipis-tipis, lalu disiram saus gula jawa serta parutan kelapa. Kue lopis biasanya disajikan sebagai makanan pembuka, atau dapat pula menjadi camilan berat.

Lopis ketan
Ibu penjual lopis di pasar tradisional dekat rumah saya

Sebagai makanan tradisional Jawa, kue lopis juga tak lepas dari simbol-simbol. Berdasarkan bahan baku dan cara pembuatannya, ternyata kue lopis menyimbolkan sebuah rasa persaudaraan yang sangat erat. Bahan baku lopis yang terbuat dari ketan, melambangkan sebuah persatuan. Sesuai dengan makna dari nama ketan itu sendiri, yaitu “Kraketan”. Kraket berarti erat. Setelah direbus, ketan akan menjadi sangat lengket. Lebih lengket dibandingkan nasi. Setiap butir ketan yang telah direbus akan lengket satu sama lain sehingga menjadi satu. Hal ini melambangkan bahwa sebagai sesama kita harus saling peduli dan mengingatkan kepada kebaikan.

Adapun warna beras ketan yang putih bersih, melambangkan kesucian hati. Sedangkan, bungkusnya yang dari daun pisang berwarna hijau, melambangkan kemakmuran. Wah! Ternyata, dari jajanan sederhana nan lezat ini, terkandung pesan yang sedemikian rupa. 😀

Kuliner

Mencicipi Bakso Kerikil: Puluhan Bakso dalam Satu Mangkuk

p1010814

Bagi warga Magelang dan sekitarnya, barangkali sudah tidak asing dengan menu bakso yang satu ini. Saya sendiri sebenarnya sudah sering mendengar nama bakso kerikil disebut-sebut oleh sepupu ipar (istrinya sepupu) yang kebetulan berasal dari daerah tersebut. Dan, baru kemarin saya sempat mencicipinya, waktu mampir sepulang dari acara trah di Temanggung.

Jadi, pada dasarnya bakso kerikil ini sama seperti bakso pada umumnya. Bedanya, penyajian bakso kerikil ini cukup unik dan nggak mainstream, yaitu baksonya yang dibentuk bulatan kecil-kecil sehingga menyerupai kerikil. Ukuran bakso yang kecil-kecil ini nantinya akan terlihat penuh ketika disajikan di mangkuk. Rasanya, semangkuk cuma berisi bakso semua. Sampai capek saya ngunyahnya. 😀

p1010811
Maaf, fotonya seadanya. Saya keburu laper, wkwk

Satu porsi bakso kerikil berisi kurang lebih 40-an butir bakso, sedikit bakmi, dan sayur sawi. Selain ukuran bakso yang kecil-kecil, kuah bakso ini menurut saya juga cukup istimewa. Tidak seperti bakso pada umumnya, kuah bakso kerikil terbilang lebih keruh. Dan ketika dicicipi, maka akan terasa gurih dan ngaldu sekali. Nggak heran, deh, kenapa sepupu ipar saya semangat sekali merekomendasikan menu bakso ini. Iya, saya ketagihan. Pokoknya harus nyobain lagi bakso ini next time kalau mampir ke Magelang lagi!

Emm, di Jogja sudah ada belum sih? *melipir cari info*

Kuliner

Ngadem dengan Seporsi Patbingsoo

Kalau sejak dulu tahu bahwa menjadi orang dewasa akan serumit ini, saya tak akan menginginkan untuk cepat-cepat besar dan menikmati masa kanak-kanak selama mungkin. Hahaha Duh, manusia. Maunya cuma enaknya. Waktu masih kecil, ingin cepat dewasa. Setelah dewasa, ingin lari dari permasalahan hidup dan kembali menjadi anak-anak yang tahunya hanya main saja.

Yah, menjadi dewasa memang seru, tapi kadang susah sekali dijalani. Banyak hal rumit yang harus dihadapi. Tak jarang membuat mood berantakan serta suasana hati tak keruan. Akibatnya, tidak hanya otak yang panas, hati pun ikutan jadi panas.

Namun, sebagai orang dewasa, tentunya punya cara sendiri untuk mengakali agar tidak berlarut-larut galau. Nah, cara saya untuk melarikan diri dari kondisi yang membuat bad mood salah satunya adalah dengan kulineran! 😀

Dan agenda kulineran kali ini, saya coba mencicipi patbingsoo. Sebenarnya saya agak mikir-mikir ketika teman saya mengajak saya ke restoran patbingsoo ini (karena ini bukan postingan iklan, jadi nggak usah saya sebutkan ya nama restonya :p ). Masalahnya, tanggal tua! Hahaha berat di kantong, huvt! 😀 Tapi membayangkan semangkuk patbingsoo yang segar, saya akhirnya setuju saja. Setidaknya, seporsi patbingsoo bisa membantu mendinginkan kembali suasana hati saya yang sedang sedikit membara. Halah!

Patbingsoo

Jadi, patbingsoo ini adalah es serut khas Korea. Ciri khas dari patbingsoo adalah es serut plus kacang merah. Lalu, diberi toping yang variatif sesuai selera. Patbingsoo biasanya dijadikan sebagai makanan penutup. Di daerah asalnya sana, patbingsoo ini banyak yang suka. Khususnya, di waktu musim panas.

Kalau di Korea, patbingsoo biasa dijual di pedagang-pedagang kaki lima. Nggak kayak di sini, perlu merogoh kocek ekstra untuk menyantap seporsi es serut kacang merah ini. Tapi alhamdulillah, saya nggak jadi tekor di tanggal tua. Sebab, agenda kulineran kali ini teman saya yang traktir. Jadinya, seporsi patbingsoo kemarin rasanya semakin segar karena gratisan! Wkwkwk

Kuliner

Songgo Buwono: Tampang Bule, Nama Jawa

Barangkali sebagian orang masih asing dengan jenis makanan ini. Bentuknya yang mirip sandwich, roti dengan isi daging cincang, telur, sayuran, dan disiram dengan saus mayones, dilengkapi daun selada serta acar mentimun sebagai garnis, membuat orang beranggapan bahwa ini merupakan salah satu jenis makanan impor. Namun, anggapan itu akan terbantahkan apabila menilik dari namanya yang sangat njawani, Songgo Buwono.

songgo buwono
Gambar diambil dari http://www.imgrum.co/tag/snackjawa

Songgo Buwono merupakan makanan khas dari Yogyakarta. Zaman dahulu, Songgo Buwono hanya disajikan di kalangan para bangsawan keraton. Tak mengherankan apabila masih banyak orang yang belum mengenal makanan ini, bahkan orang Yogja sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, songgo buwono mulai diperkenalkan di kalangan masyarakat umum. Pada mulanya, makanan ini dapat ditemui dalam acara resepsi pernikahan orang-orang berada, tapi dewasa ini Songgo Buwono sudah menjadi jajanan tradisonal yang dapat dinikmati dengan harga terjangkau.

Adapun nama Songgo Buwono itu memiliki filosofi tersendiri. Songgo berarti “menyangga”, Buwono bermakna “bumi”. Songgo Buwono diibaratkan sebagai makanan yang menggambarkan dunia, langit, dan seisinya. Hal ini ditampakkan juga dari cara penyajiannya. Daun selada yang diletakkan di dasar sebagai alas dari rotinya, diibaratkan sebagai tanaman penyangga dunia. Dunia dan seisinya dilambangkan dengan roti yang diisi daging cincang dan aneka sayuran yang dimasak sedemikian lupa, serta telur rebus yang diletakkan di atasnya. Sedangkan, langit digambarkan dari saus mayones dan acar mentimun yang disiramkan dan digarnis di atas roti isi tadi.

Selain nama dan penyajiannya yang memiliki makna luar biasa, Songgo Buwono juga memiliki cita rasa yang tidak perlu diragukan lagi. Perpaduan gurih, manis, dan mengenyangkan yang didapat dari roti isi dengan saus mayones, dipadu segarnya acar mentimun. Cita rasa khas Yogya yang tak kalah dengan burger dari Amerika.

Selamat mencoba! 😀

Kuliner

Makan Siang Ala Drama Korea

Boleh dibilang dalam setiap drama Korea hampir selalu menyajikan sebuah romantisme tingkat tinggi yang rasanya sulit untuk menemukan hal seperti itu dalam dunia nyata ini. Bagaimana seorang pria dengan begitu sempurna mencintai kekasihnya, melindungi dengan segenap jiwa dan raga dari awal sampai akhir, tatapan mata penuh cinta, perhatian, kata-kata puitis, dan… aaahh… stop! Saya sudah mulai melayang. #plak!

Namun, betapapun tidak masuk akalnya, sang sutradara berhasil mengemasnya menjadi sajian yang menarik, sehingga kita sebagai penoton sering terbawa suasana dan membayangkan apabila kita menjadi salah satu tokoh utama dalam drama tersebut. Haha…

Hal menarik lainnya yang bisa ditemukan dalam drama Korea adalah ketika adegan makan. Masih ingat, adegan dalam drama Boys Before Flowers di mana Gu Jun Pyo (Lee Min Ho) makan ramyeon langsung dari panci dengan menggunakan tutup pancinya sebagai piring? Deuuuh… lapar atau doyan? Untung cakep. 😀

Lee Min Ho

Ada juga adegan dalam drama Full House, ketika Han Ji Eun (Song Hye Kyo) marah karena Young Jae (Rain) batal mengajaknya makan, dan akhirnya dia makan bibimbap sendirian. Dan juga adegan ketika Cha Dae Woong (Lee Seung Gi) menyiapkan Gimbap buat bekal dia jalan-jalan ke kebun binatang bersama Gumiho (Shim Min Ah) dalam drama My Girlfriend is Gumiho. Oke, cukup, saya sudah mulai ngiler.

Untungnya, untuk urusan kuliner ini tak perlu sekadar berkhayal sebagaimana membayangkan menjadi tokoh wanita dalam drama Korea. Pada weekend beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk mencicipi kuliner khas Korea ini bersama teman-teman. Tak perlu terbang langsung ke Korea, sebab sekarang restoran Korea sudah tersebar di mana-mana.

Sebelumnya saya sempat browsing dulu untuk menentukan menu apa yang nanti akan dibeli. Karena ini makanan asing, maka harus dipastikan dulu terbuat dari bahan-bahan yang halal. Hehe… selain itu, agar tidak kelihatan ndeso banget di restorannya nanti. Bwahahaha 😀

Dan, inilah pilihan kami! ^^

Kimchi

Kimchi

Di drama Korea Boys Before Flowers ada, tuh, adegan di mana keluarga Geum Jan Di (Goo.Hye Sun) bergotong-royong membuat kimchi. Kimchi ini terbuat dari sayuran seperti kubis, sawi, lobak putih, atau ketimun yang difermentasi bersama jahe, bawang putih, bawang bombai, dan gouchang, saus cabai khas Korea yang bikinnya pakai minyak wijen, kecap, garam, bawang putih, dan jahe.

Kimchi ini pilihan teman saya. Untung saja saya nggak jadi beli ini, sebab ternyata rasanya luarrrr… biasa. Asem banget plus pedas. Bisa tahu rasanya sebab kimchi itu juga jadi campuran dalam ramyeon yang saya pesan. Intinya, cita rasa kimchi ini kurang cocok di lidah saya sebagai orang Jawa yang terbiasa makan yang manis-manis. 😀

Ramyeon

Ramyeon

Ini sebenarnya cuma mi instan biasa. Kalau di Jepang ada ramen, di Korea ramyeon. Haha… miriplah. Ramyeon dimasak dengan kuah pedas, biasanya ditambah sayuran, daging, atau kimchi. Saya pesan ramyeon karena terinspirasi oleh Gu Jun Pyo, sih, sebenarnya. :p Dan walaupun nggak makan pakai tutup pancinya sebagaimana di dalam drama, tapi membayangkan jadi Geum Jan Di yang makan ramyeon bareng Jun Pyo sudah cukup membuat saya melupakan rasa pedas makanan tersebut. 😀

Tteokbokki

Tteokbokki

Tteokbokki ini adalah salah satu makanan ringan Korea yang cukup terkenal. Tteok artinya tepung beras, maka Tteokbokki adalah semacam kue dari tepung beras berbentuk silinder atau batang yang dimasak dengan bumbu pedas dan manis.

Sekilas, tteokbokki ini mengingatkan saya pada makanan ringan Indonesia, yaitu cilok. ^_^v

Gimbap

Kimbap

Nah, yang ini favorit saya. Setelah berbagai menu dengan cita rasa pedas, gimbap ini yang paling cocok untuk lidah saya yang sudah musuhan sama cabai sejak dulu. Gimbap adalah nasi gulung rumput laut. Isinya bervariasi, dari sayuran, telur, ikan, daging, sosis, keju, ikan tuna, dan lain-lain.

Bibimbap

Bibimbap

Bibimbap adalah nasi yang dicampur dengan sayuran, telur, daging sapi, dan gochujang. Cara makannya biasanya seluruh bahan-bahan tadi diaduk dulu sebelum disantap. Saya belum sempat mencicipi menu ini, sebab sudah kenyang. Mungkin kapan-kapan perlu dicoba. Hehehe….

Patbingsu

Patbingsu

Makanan penutupnya, patbingsu! Katanya, ini dessert yang sangat digemari di Korea, terutama pada hari-hari musim panas. Patbingsu ini adalah es serut kacang merah manis, yang memiliki variasi tambahan berupa es krim dan yogurt dingin, susu kental manis, sirop, buah-buahan seperti stroberi dan pisang, agar-agar, remah-remah sereal, dan sebagainya. Rasanya… maknyus!

Hari itu, kesampaian juga kami makan siang ala drama Korea. My tummy full of Korean food! Jinja masitta!!! ^^

narsis