Membaca & Menulis

Hasil Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya

Awal tahun lalu saya pernah gaya-gayaan bikin “tabungan buku”. Niatnya sih untuk menyemangati diri sendiri supaya makin rajin membaca. Jadi, setiap kali saya selesai membaca sebuah buku, saya akan memasukkan uang ke dalam celengan. Nominal uang yang masuk ke celengan disesuaikan dengan jenis bukunya. Nggak tanggung-tanggung, loh, saya bahkan sudah membuat rincian jenis buku dan nominalnya sebagai berikut.

  • Komik/novel grafis/buku yang isinya banyak gambarnya: 1.500
  • Buku komedi/personal literatur/kumcer: 2.000
  • Novel: 2.500
  • Nonfiksi: 3.000
  • Novel Sastra: 3.500
  • Sejarah: 4.000
  • Buku yang tebalnya 500 halaman ke atas: 5.000

Kemudian tekad membuat “tabungan buku” ini pun sudah saya tuliskan pula di blog ini (Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya). Realisasinya, selama setahun kemarin saya agak terseok-seok baca bukunya.

e1e78b60-10fd-4954-8441-939a116c2616

Alhamdulillah, sepanjang tahun 2018 saya banyak mendapat kesempatan menulis. Namun, akibatnya membacanya jadi keteteran. Target membaca di Goodreads yang nggak sampai 50 buku itu pun tidak bisa saya penuhi. Kurang 4 buku astagaaaa…. padahal, yang saya baca juga kebanyakan komik dan novel grafis. Payah sekali.

Tapi, bagaimanapun tabungan bukunya tetap jalan dong, ya. Jadi, sekarang saatnya untuk pecah celengan. Yeay! Oke, langsung saja.

Selama tahun 2018, saya banyak baca komik. Ada sekitar 13 komik (13 x 1.500 = 19.500). Selain komik, ada pula satu novel grafis dan dua buku yang saya masukkan ke dalam kategori pertama karena memuat banyak gambar dan sedikit teks (3 x 1.500 = 4.500). Ada dua buku antologi, yang saya masukkan ke kategori kumcer (2 x 2.000 = 4.000). Dua buku komedi (3 x 2.000 = 6.000). Ada pula satu buku kumpulan tulisan refleksi dan satu buku yang isinya kumpulan tulisan pendek-pendek semacam curahan hati, haha. Keduanya saya masukkan ke kategori nomor dua (2 x 2.000 = 4.000). Ada 6 buah novel populer (6 x 2.500 = 15.000) serta 3 novel sastra (3 x 3.500 = 10.500). Dua buku nonfiksi (2 x 3.000 = 6.000) dan terakhir, dua buah buku sejarah (2 x 4.000 = 8.000).

Total ada 36 buku yang saya baca dengan total tabungannya adalah … duh, sik mana kalkulator? Hahaha

19.500 + 4.500 + 4.000 + 6.000 + 4.000 + 15.000 + 10.500 + 6.000 + 8.000 = 77.500

Tujuh ribu lima ratus rupiah, Gaes! Dalam setahun. Astaga! Alhamdulillah, tetap harus disyukuri. Lumayan bisa buat bekal berburu buku obralan. Hahaha Dan tabungan buku ini akan dilanjutkan lagi setahun ke depan. Semoga ada peningkatan. Mangats!

Buku · Membaca & Menulis

Stories of Your Life: Satu Buku Banyak Rasa

WhatsApp Image 2018-12-29 at 10.02.05

Judul: Stories of Your Life

Penulis: Milley Ann Hasneni, dkk

Penerbit: Laksana

Terbit: 2018

Dalam banyak kesempatan, saya merasa beruntung tinggal di wilayah dalam beteng Keraton Yogyakarta. Kebetulan rumah kami hanya 50 meter dari regol Kemagangan, halaman belakang Keraton, tempat para abdi dalem menyusun gunungan. Jika berkenan jalan kaki sedikit lebih jauh ke timur, ada kompleks Tamansari, taman raja peninggalan abad 18. Sekitar 500 meter dari rumah kami, terdapat Tepas Keprajuritan Pracimosono, basecamp para prajurit Keraton. Di waktu-waktu tertentu, kami dapat menyaksikan mereka berbaris sambil menabuh tambur dan meniup terompet melewati jalan depan rumah.

Lebih dari segala keistimewaan tersebut, hal lain yang saya sukai adalah banyaknya sastra lisan yang beredar di daerah kami. Saya cukup senang karena sempat mendengar beberapa cerita lisan tersebut sebelum keberadaannya mulai punah seiring berkembangnya zaman. Dulu waktu kuliah, saya sempat mengajukan proposal penelitian guna mengumpulkan sastra lisan di Kecamatan Kraton ini dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Namun meski lolos dan mendapat dana hibah dari DIKTI, tim kami tak berhasil sampai ke PIMNAS. Kalah sama penelitian sains. Hiks!

Beberapa waktu yang lalu, saat Penerbit Diva Press mengadakan lomba menulis yang salah satu temanya adalah “Hidden Gems of Your City Stories”, saya tertarik untuk mencobanya. Saya memilih satu cerita yang kali pertama saya dengar dari alm. simbah, tentang kerajaan dengan 5 pintu gerbang yang salah satu pintunya tertutup. Cerita lisan tersebut disampaikan melalui sebuah tembang Mijil. Bukan sekadar dongeng, cerita tersebut menggambarkan kondisi daerah tempat tinggal kami berabad silam.

Alhamdulillah, tulisan sederhana saya terpilih untuk ikut masuk dalam antologi Stories of Your Life ini. Terima kasih, Diva Press!

Stories of Your Life merupakan sebuah buku antologi yang unik dengan berbagai rasa. Kalau umumnya antologi hanya mengangkat satu tema besar saja dalam satu buku, di buku ini kita akan menemui 18 cerita dengan lima tema yang berbeda. Mulai dari cerita tentang pernikahan, keunikan kota, daerah perbatasan, kisah-kisah dalam bioskop, hingga the most uwuwuw moment: Ketemu calon mertua!

Sebagaimana judulnya, Stories of Your Life, buku ini seolah menggambarka aneka fragmen dalam kehidupan. Hidup memang terjalin dari beragam cerita dengan banyak tema. Ada kisah receh yang B aja, ada juga cerita yang luar biasa. Nah, di buku ini juga begitu. Ada cerita yang bikin saya be like “Paan seehh”, tapi ada juga yang membuat saya tidak tahan untuk tidak ber-uwu ria.

Namun meski unik, banyaknya tema dalam satu buku malah justru bikin nggak fokus. Jadi nggak ada gimana-gimananya gitu. Simpelnya, kurang ngena. Kalau masing-masing tema dibikin buku sendiri-sendiri, barangkali akan jadi lebih asyik. Hehehe

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Ternyata Saya Pernah Menulis Novel

WhatsApp Image 2018-12-29 at 09.44.31

Menemukan file ini saat bongkar-bongkar folder lama. Ternyata, saya pernah nulis novel. Naskah ini saya tulis sekitar tahun 2008 atau 2009. Waktu masih kuliah pokoknya. *ketahuan umurmu, Budhe* Tahun 2010 diterima sama penerbit, tapi sampai sekarang belum terbit dan saya nggak tahu juga penerbitnya masih ada atau enggak saat ini. Hahahaha

Novel ini bercerita tentang dua orang sahabat yang memperjuangkan impian mereka untuk menjadi penulis. Persahabatan mereka terancam kandas karena sebuah permasalahan internal. Ya kan dulu saya sedang ngefans berat sama Andrea Hirata, jadi novelnya sedikit terpengaruh ala-ala Sang Pemimpi gitu. Selain itu, di novel ini juga ada cerita tentang teater-teaternya. Nggak nyangka juga saya bisa nulis tentang teater-teateran begitu. Barangkali karena waktu itu kebetulan saya juga sedang menyiapkan pertunjukan teater bersama teman-teman sekelas untuk tugas akhir mata kuliah Kajian Drama.

Sekarang kalau saya baca lagi naskah novel ini, rasanya malu sendiri dan ingin hilang ingatan. Anu… ceritanya itu, aduhh… Hahaha Tapi di sisi lain, ada rasa bangga juga, sih. Novel ini menjadi pengalaman pertama saya dapat honor dari menulis buku. Kalau nggak salah ingat, waktu itu uangnya saya belikan handphone Cina merek D-One (belum Android) terus buat dipakai foto-fotoan waktu wisuda. Yup, handphone berkamera pertama yang saya punya, beli pakai uang sendiri, dong! 😀

PS: Jangan tanya saya bisa nulis novel atau enggak ya sekarang. Ini tampang saya udah nonfiksi banget soalnya. :))

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Minggu pagi ini aku bangun di….

 

Minggu pagi ini aku bangun di tahun 850 Masehi. Sayup kudengar suara lesung bertalu-talu serta kokok ayam bersatu padu. Segerombolan makhluk halus kocar-kacir kembali ke sarangnya. Ya ampun, merinding.

“Aarrgh…!” Terdengar suara teriakan frustrasi seorang laki-laki.

Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku. Lalu menyeretku untuk bersembunyi di balik sebuah batu.

“Dia tampak marah sekali. Jangan sampai dia melihat kita,” kata orang itu yang ternyata adalah Empi, temanku.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Mesin waktu kita rusak. Kita jadi nyasar ke sini. Juki sedang memperbaikinya,” jelas Empi.

“Kau tidur ngebo banget, sih. Kau tahu, laki-laki itu tadi sibuk sekali. Dia harus membuat sesuatu dalam tempo semalam agar bisa menikahi pujaannya. Ya ampun, kasihan. Aku mah cukup seperangkat alat sholat dibayar tunai, Mas,” lanjut Empi, mulai rumpi.

“Hah? Maksudmu, kita nyasar di negeri dongeng?” Aku shock.

“Entah. Di penunjuk waktuku, saat ini kita sedang berada di abad ke-9,” kata Empi sambil memeluk tiang listrik.

Tunggu dulu… memangnya tiang listrik sudah ada di abad 9, ya? Nanti saja kita urus masalah ini. Aku terlanjur penasaran dengan jati diri pria itu.

“Jadi, apakah tadi dia sedang membuat perahu? Apa namanya Sangkuriang?”

“Emm… kurasa dia sedang membangun candi,” jawab Empi sambil menunjuk batu tempat kami bersembunyi.

Aku memandang sekeliling. Ada banyak candi di sekitar kami. Seribu candi… eh, anu… 999 candi dan satu yang belum jadi.

“Jadi, dia Bandung Bondowoso,” desisku.

Aku kembali mengintip dari balik batu. Bandung Bondowoso tampak marah sekali saat seorang wanita yang cantik jelita menghampirinya. Itu pasti Roro Jonggrang.

Aku menarik napas tegang. Setelah ini, si jelita akan berubah menjadi arca karena kutukan sang pria. Saat itulah, Juki memanggil. Kami harus segera masuk ke mesin waktu atau selamanya terjebak di masa lalu. Eaaa…

“Kita nyasar jauh sekali. Akan memakan waktu agak lama untuk kembali,” jelas Juki.

Karena kecewa tidak bisa menyaksikan bagian seru dari kisah Bandung Bondowoso, aku hanya menjawab: “Terserah saja. Asalkan diiringi musik dangdut.”

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2018 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Jika Kamu Mi Instan

Jika kamu adalah mi instan, maka aku adalah butiran nasi dalam panci magic com. Kita tak dapat bersatu, Sayang. Demikianlah kita ditakdirkan.

Untuk apa memaksa bersama, jika yang terjadi nanti adalah bahaya. Kita mungkin akan mengenyangkan. Namun, tidak menyehatkan. Sebab siapa pun yang berkenan menyatukan kita untuk mengisi lambungnya, dia harus rela mengalami lonjakan indeks glikemik. Kadar gula dalam darah pun bisa jadi naik.

Oh, tidak! Aku tidak menyukai kisah cinta yang berbahaya.

Maka bersandinglah engkau dengan bawang goreng, telur, atau cabai rawit. Mereka yang lebih mampu untuk membuatmu menjadi hidangan istimewa. Tak perlu kau risaukan aku di sini. Kelak akan kutemukan jodohku sendiri. Barangkali dia adalah sayur kangkung atau bayam yang dimasak oleh ibu. Tukang sayur akan membawanya kemari esok pagi. Asalkan besok tidak hujan.

Aku akan sabar menanti esok datang sambil mengenang kampung halaman. Sawah dan ladang. Di sanalah dulu aku tinggal, Sayang. Ah, andai Tuhan mengizinkan, aku ingin di sana selamanya. Agar kita tak pernah dipertemukan yang pada akhirnya tak bisa dipersatukan. Karena aku lebih suka jadi petani daripada jadi mantan pacarmu.

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2017 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Buku · Membaca & Menulis

Lapar Mata di MocoSik: Books and Music Festival

dscf4241

Yogyakarta barangkali menjadi salah satu kota yang sering dijadikan tempat terselenggaranya event pameran buku. Hampir setiap tahun, para pencinta buku akan dimanjakan oleh adanya bookfair dengan beragam tema yang diusungnya. Mengawali tahun 2017 kali ini, hadir sebuah acara bertajuk “MocoSik”. Dalam bahasa Jawa, “moco sik” dapat diterjemahkan menjadi “membaca dulu”. Sebagaimana acara-acara buku pada umumnya, secara garis besar MocoSik memang bertujuan untuk terus menghidupkan kegemaran membaca di masyarakat.

Namun demikian, acara ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan pameran buku biasanya. Dengan mengusung tagline “Membaca Musik, Menyanyikan Buku”, acara ini mencoba menggabungkan antara festival musik dan pameran buku. Sebuah konsep yang cukup unik dan konon merupakan pertama kalinya di Indonesia. Jadi selain memanjakan para pencinta buku, acara ini juga dapat menyenangkan hati para penikmat musik.

Ada beberapa musisi kenamaan yang tampil dalam acara ini. Sebut saja, Tompi, Raisa, Glenn Fredly, Jogja Hip Hop Foundation, Shaggydog, dan masih banyak lagi. Untuk dapat menikmati penampilan mereka, tentu saja kita harus membeli tiket. Namun, jangan bayangkan kalau tiket yang kita beli ini seperti tiket pada umumnya. Tiket di sini adalah berupa buku.

Cukup dengan membeli buku seharga 50 ribu, kita bisa nonton pertunjukan musik dari para musisi kenamaan. Ada banyak buku pilihannya. Lucu, ya. Kalau dipikir-pikir, nothing to lose. Kita seperti beli tiket festival musik gratis buku. Atau, beli buku bonus nonton festival musik.

Beli buku tiketnya di sini, ya.…

img_20170214_133858

Di samping beragam pilihan buku tiket, ada pula buku-buku keren yang dipamerkan dan cukup mampu membuat saya jadi laper mata. Ada beragam judul buku dengan berbagai tema, baik fiksi maupun nonfiksi. Salah satu stan yang cukup menarik perhatian adalah stan buku-buku lawas/langka. Buku-buku tersebut diobral dengan harga mulai dari 10 ribuan.

img_20170214_133537
Ada Lima Sekawan, bacaan zaman unyu. 😀

img_20170214_132214

Dan sebagaimana acara buku yang lain, tidak afdal jika tak ada talkshow seputar kepenulisan. Pada waktu saya ke sana, tiga orang pembicara, Bapak Hernowo, Mahfud Ikhwan, dan Okky Madasari, sudah siap berbagi inspirasi seputar “Menulis Sebagai Sebuah Tanggung Jawab”.  Secara ringkas, apa yang yang disampaikan para pembicara pada waktu itu adalah bahwa menulis merupakan kegiatan menyampaikan ide dan gagasan kepada orang lain. Dengan demikian, ada sebuah pertanggungjawaban yang harus ditanggung seorang penulis atas tulisan-tulisannya. Maka dari itu, tidak boleh asal-asalan.

dscf4253

Kedengarannya serem, ya. Tapi, kalau kita yakin dengan apa yang kita tulis, tentu nggak perlu takut dengan tuntutan pertanggungjawabannya, dong. Itulah sebabnya perlu memperbanyak wawasan dan pengetahuan, sehingga tulisan kita dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu cara untuk memperbanyak wawasan adalah dengan membaca. Di samping itu, membaca juga dapat memperkaya kebahasaan kita, yang nantinya berguna juga untuk membantu proses menulis.

Seperti kata Mbak Okky, “Kemampuan bahasa adalah senjata utama dalam menulis. Dibutuhkan kemahiran dalam memilih dan memilah.”

Last, meskipun tidak berkesempatan nonton perform Raisa, tapi hari itu saya cukup puas karena mendapat banyak ilmu baru sekaligus cuci mata hunting buku-buku. \(^0^)/

 

#Bisa dibaca juga di blog Redaksi Javalitera

Buku · Membaca & Menulis

Ternyata Saya Pernah Sebuku dengan Orang-Orang Hebat

img_20160412_161230

Waktu beres-beres kamar, saya menemukan buku ini. Akhirnya, jadi nostalgia, deh. Buku bersampul kuning dengan ilustrasi gambar pohon ini, merupakan buku antologi bersama yang diterbitkan secara mandiri oleh teman-teman dari Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

Proyek antologi bersama ini diadakan rutin tiap tahun, dalam rangka peringatan dies natalies almamater saya tersebut. Namun sepanjang saya jadi warga kampus dan ikut proyek antologi bersama ini terus, baru pada tahun 2008 nama saya berhasil masuk sebagai salah satu kontributor dalam proyek antologi cerpen. Tahun-tahun sebelumnya, saya nggak pernah berhasil lolos di proyek antologi puisi. Sebagai informasi, teman-teman dan kakak kelas saya di kampus itu jagoannya bikin puisi. Jadi, saya mah apa! 😀

Tapi, saya boleh geer ketika di dalam pengantar buku ini, Pak Hamdy Salad menuliskan kalimat berikut:

Meski tidak sepenuhnya mengandung dominasi unsur tematik sebagaimana disarankan oleh panitia, cerpen-cerpen yang terpilih dalam antologi ini sekurang-kurangnya telah memenuhi kriteria penilaian yang didasarkan pada kesuntukannya dalam mencipta karya sastra. Kesuntukan itu dapat dilihat melalui konsistensi dan intensitasnya dalam mengolah serta mengembangkan gaya penulisan secara kreatif dan kritis. Memiliki struktur cerita yang utuh, baik dari segi bahasa, plot, maupun karakter penokohannya.

21

Oh ya, kalau lihat di daftar isinya, hampir sebagian besar kontributor di antologi ini sekarang sudah jadi orang-orang hebat. Ada yang jadi cerpenis keren yang karyanya di mana-mana, ada yang jadi penyair top dan sudah sering main film juga, ada yang jadi editor di salah satu penerbitan ternama, dan banyak lagi. Seneng, sih, bisa sebuku dengan orang-orang hebat ini. Lalu, saya jadi mikir.

Time flies. Mereka sudah bertransformasi menjadi orang-orang hebat. Sementara saya, masih segini saja.

Buku · Membaca & Menulis

Menulis = Tanggung Jawab

81Mff5nL

Waktu diminta mas pemred untuk menulis naskah dengan tema jilbab, awalnya saya semangat sekali. Setelah selama ini seringnya menulis di belakang layar atau sekadar bantu teman saja, sekarang berkesempatan menulis naskah sendiri. Gimana nggak semangat! Namun, semangat pada awalnya itu kemudian berubah menjadi gamang. Pasalnya, waktu browsing cari materi, saya merasa tertampar-tampar. Kemudian krik… krik… lirik jilbab sendiri.

Iya, jilbab saya masih gini-gini aja. Masak iya mau menasihati orang lain kalau dirinya sendiri juga belum dibenerin? Sampai akhirnya teman saya bilang, “Nggak apa-apa. Anggap aja itu sekalian belajar.” Lalu, saya ajak saja dia nulis naskah jilbab berdua. Jadi kalau dosa ditanggung bareng gitu ya? Hoahahaha #eh

Singkat cerita, setelah kurang lebih satu bulan kami berkutat dan mengkaji banyak artikel tentang jilbab, akhirnya jadi juga naskahnya. Dan sekarang, terbit sudah bukunya. Buku ini memang masih jauh dari sempurna, tapi kami banyak belajar selama proses pengerjaannya. Harapannya, nanti buku ini juga dapat menjadi sarana belajar bagi banyak orang. Khususnya, bagi kami berdua. Insya Allah.

NB: Ulasan lengkap buku ini insya Allah menyusul di blog ini ya. 😀

Membaca & Menulis

Pelukan untuk Mama

Dingin. Basah. Aku memeluknya erat dari belakang. Menempelkan kepalaku di punggungnya. Sekadar untuk mendapatkan sedikit rasa hangat. Mempererat pelukanku, agar tubuhku tak ikut basah.

Hujan pagi itu, menghambat perjalanan kami. Dia berjibaku membelah jalan raya. Membelah hujan. Memastikan bahwa aku sampai dengan selamat ke sekolah. Aku meringkuk di dalam jas hujan, di belakangnya.

Jas hujan itu tidak bisa melindungi kami dengan sempurna dari terpaan hujan. Kulihat sekilas, kakinya basah. Begitu pula yang terjadi pada sepatuku. Basah. Aku mendesah. Pasti nanti masih ribet mengeringkan sepatuku yang basah ini agar lebih nyaman saat mengikuti pelajaran di kelas.

Terbayang teman-temanku yang selalu diantar jemput dengan mobil-mobil mewahnya. Mereka sampai di sekolah dalam keadaan baik-baik saja. Tidak sepertiku yang kuyup dan kacau balau.

“Mama, gimana kalau hari ini tidak usah berangkat ke sekolah?” keluhku tadi pagi. Ia mengerutkan keningnya.

“Kenapa begitu?” tanyanya.

“Di luar hujan deras,” aku menunjuk ke arah jendela, tampak cuaca yang tidak begitu bersahabat. Langit menumpahkan tangisnya tanpa henti.

“Hemm … ya sudah kalau nggak mau sekolah. Mama sih nggak masalah, kalau kamu mau terima risikonya, nggak bisa belajar, nggak bisa ketemu teman-teman, ketinggalan hal-hal seru yang mungkin saja terjadi di sekolah hari ini. Dan … ah iya, bukannya hari ini ada pelajaran Bahasa Indonesia. Waduh, bisa jadi sekarang ada tugas mengarang. Dan dapat dipastikan bahwa predikatmu sebagai jago mengarang di kelas, bahkan di sekolah, akan tergeser oleh teman-temanmu, karena kamu nggak ikut mengarang hari ini. Kan nggak berangkat sekolah. Gimana tuh?” terangnya panjang lebar.

Aah … Mama, selalu saja bisa buat aku berubah pikiran.

***

Dia masih membelah jalan raya. Membelah hujan. Sesekali berhenti di lampu merah. Menikung. Melajukan motornya, tak peduli hujan yang terus mendera.

Jas hujan itu tersibak. Aku terpekik kecil saat air hujan menciprat sedikit pada rok seragam sekolahku. Kupererat pelukanku padanya.

Mama menghentikan motornya di halaman parkir sekolahku. Dengan payung, ia mengantarku sampai ke depan kelas.

“Mama, coba kita punya mobil. Pasti enak, nggak kebasahan kalau hujan begini,” rengekku begitu sampai di beranda depan kelas. Mama hanya tersenyum. Ia membantuku merapikan rambut dan bajuku yang sedikit berantakan akibat perjalanan kami tadi.

“Iya, memang enak. Tapi nanti tak ada lagi yang memeluk Mama seperti tadi sepanjang perjalanan,” jawabnya. Masih dengan senyum yang setia menghias wajah manisnya.

“Memangnya Mama suka?” tanyaku.

“Suka sekali,” jawab Mama sambil mengusap kepalaku lembut.

“Sudah sana, masuk kelas. Nanti terlambat.” Aku mengangguk. Mama masih mengawasi sampai aku benar-benar masuk ke dalam kelas. Aku meliriknya saat Mama mengambil payung dan bersiap pergi.

“Mama!!” panggilku dari ambang pintu kelas. Mama membalikkan badannya ke arahku.

“Kalau gitu nggak usah punya mobil saja!” seruku.

Aku yakin dia mendengarnya, meskipun suara hujan sedikit menghalangi percakapan jarak jauh kami. Karena kulihat dia tersenyum, mengacungkan jempolnya, kemudian memberi isyarat agar aku segera kembali ke kelas. Aku sedikit terbahak, lalu bergegas masuk kelas.

***

Tahun berlalu. Dan aku masih suka memeluknya dari belakang, saat Mama terduduk menatap senja di beranda rumah. Kadang dia terkaget dengan tindakanku yang tiba-tiba.

“Mama masih suka bila kupeluk seperti ini?” tanyaku.

“Selalu suka,” jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu. Saat dia mengusap kepalaku di beranda sekolah waktu itu.

#Terpilih sebagai salah satu cerpen pemenang event #22HariBercerita Seri Tiga

#Dimuat di blog http://indonesiabercerita.org

Membaca & Menulis

Cerpen: Surat Cinta

: Untuk Ang Riandra, jawaban dari Lelaki Diammu.

 Dik, jangan kau membeciku. Meskipun kutahu, wajar bila kau melakukannya. Saat itu aku sungguh tak kuasa ketika cinta datang membawa sekuntum bunga, kemudian menanamnya di hatiku. Dan bunga-bunga itu kian tumbuh bermekaran menyesakkan hati. Bunga-bunga itu bagai candu yang membuatku selalu ingin memetiknya dan menciumi wanginya, hingga aku terlupa akan sajak-sajak cinta yang senantiasa kau suguhkan di setiap pagi, siang, dan malamku. Hal yang kini kusesali. Gelora yang sesaat dulu kurasakan, tak sebanding dengan penyesalan yang kini harus kutanggung.

Aku bukanlah petualang, seperti yang dulu pernah kau katakan. Aku hanyalah seorang pria yang mudah terbawa rasa. Namun sekejap saja cinta itu akan sirna, karena cinta dengan sendirinya pergi dariku. Mencampakkanku begitu saja. Dan engkau Dik, selalu mampu menghangatkan kembali hatiku yang beku. Kau semikan kembali benih-benih dalam jiwaku.

“Kang, kapan kau akan mengakhiri petualanganmu?” tanyamu selalu saat aku sudah mulai bangkit kembali. Aku tak pernah menjawabnya dengan sepatah kata pun. Kau pun tak pernah bertanya lebih banyak lagi. Seakan kau tahu bahwa suatu hari nanti akan kubuktikan, akan kupunya satu cinta saja untuk selamanya. Aku memang telah membuktikannya. Di depan penghulu aku berikrar untuk selalu menjagamu. Kau menjawabnya dengan air mata haru.

***

Semuanya baik-baik saja Dik, hingga ia datang di kehidupan kita. Dia menawariku secangkir madu. Aku tak kuasa menolaknya. Aku sungguh bodoh. Aku terpedaya. Winarsih, dia yang dulu membuatku meninggalkanmu, ternyata adalah seorang bidadari berhati sengkuni. Dengan wajahnya ia memikat, namun dengan taringnya ia akan menghisap habis darah di tubuh korbannya, yang kemudian menjadi biru, kaku, dan akhirnya mati dalam sakit hati.

Itulah yang terjadi padaku saat ini, Dik. Aku hampir mati karenanya. Di saat aku bekerja dengan beribu tetes peluh dan berjuta   harapan, teganya ia membawa laki-laki itu ke dalam rumah. Rumah yang katamu dulu penuh cinta.

“Kalau rumah ini memang dipenuhi cinta, mungkin aku tak akan melakukannya! Tapi engkau selalu diam seribu bahasa! Aku ini wanita Kang! Aku tak yakin akan cintamu! Kau tak pernah mengatakannya! Rumah ini terasa sunyi!” Itulah yang dikatakan Winarsih ketika aku memergoki mereka berdua. Sebuah alasan yang sama, yang selalu kuterima ketika cinta-cinta yang lain hendak meninggalkanku. Aku memang tak pandai mengumbar kata cinta. Tak seperti Chairil Anwar ataupun Rendra, yang mampu merangkai kata puitis, hingga tercipta puisi romantis. Bagiku, cinta tak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata. Cinta datang dari hati, maka cinta dapat terbaca dari tatapan mata. Bukankah mata adalah jendela hati? Cinta juga tak perlu diungkapkan secara berlebihan. Cukup dengan kesederhanaan. Seperti pengabdian seorang istri terhadap suami, dan suami yang akan selalu menjaga dan melindungi anak istrinya. Hanya kau yang mampu memahaminya, Dik.

***

Mereka tak jua jera meski berulang kali kupergoki. Hingga kesabaranku habislah sudah. aku memberinya pilihan, aku atau lelaki itu. Dan aku telah mendapatkan balasan atas apa yang telah kulakukan padamu dulu, Dik. Ketika aku memilih Winarsih tanpa memedulikan air matamu. Juga ketika aku membawanya ke rumah kita, sementara kau harus kembali ke orang tuamu dengan membawa Ryan, buah hati kita. Karma itu telah menimpaku. Winarsih memilih lelaki itu. Meninggalkanku sendiri bersama perasaan dan hatiku yang hancur.

Aku merindukanmu Dik. Juga masa-masa di mana kita masih bersama. Kau selalu setia membawakan masakanmu untuk memulihkan energiku setelah seharian bekerja di sawah. Kau ajak serta Ryan yang semakin lincah dan pandai. Lalu kita akan berbincang mengenai apa saja. Tak kita hiraukan matahari yang bersinar dengan angkuhnya, karena cinta telah meneduhkan hati kita.

Tak akan kulupakan ekspresi bahagiamu ketika Ryan mulai bisa berjalan. Juga ketika kau ajari dia untuk mengenali orang-orang yang kan selalu menyayanginya. Saat itu kau bertanya,

“Ayah mana Ryan?” maka Ryan akan menunjuk diriku. Lalu kau bertanya lagi,

“Bunda mana Ryan?” dan Ryan akan menunjuk dirimu.

***

Dik, betapa bahagianya aku ketika kita berjumpa tanpa sengaja. Tak seberapa jauh dari sawah, ketika senja menyelimuti desa kita. Namun, kau malah mempercepat langkahmu.

“Kang, kumohon jangan ganggu aku, di saat aku mencoba untuk melupakanmu!” begitu katamu saat aku mencoba untuk mengejarmu.

“Benarkah kau ingin melupakanku? Selamanya dalam hidupmu? Bagaimana denga Ryan, anak kita?”

“Kang, mengapa kau berkata demikian? Sedangkan dulu saat kutanya tentang nasib anak kita, kau lebih memberatkan hatimu pada wanita itu.”

“Maafkan aku Dik. Saat itu aku memang mabuk. Dan ketika tersadar, kau sudah begitu jauh dariku.”

“Sudahlah, Kang. Anggap saja kami tiada. Atau kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”

“Dik, bukankah berdosa jika memutuskan silaturahmi?”

“Kang, dosa terbesarku adalah dulu ketika aku begitu mencintaimu, hingga melupakan-Nya. Saat itu kepalaku hanya dipenuhi oleh dirimu. Aku lupa akan kewajibanku sebagai manusia untuk bersujud kepada-Nya. Saat kau meninggalkanku, aku tahu bahwa Tuhan telah menghukumku. Ya, Kang, tak akan kuulangi lagi kesalahanku.”

Dik, dulu aku memang melalaikan-Nya. Dia telah memberikan wanita terbaik di sampingku, namun aku tak pernah mensyukurinya. Aku pun telah mendapatkan hukumannya, Dik. Masih adakah kesempatan untukku? Aku berjanji akan menjadi imam yang baik untukmu, dan anak kita.

***

Mimpikah ini Dik, aku melihatmu di ambang pintu. Kurasa tidak, karena terasa sakit saat kulitku kucubit.

“Kang, sudah kuputuskan, kau boleh menemui Ryan kapan pun kau mau.”

“Benarkah??!! Apa ini berarti kau menerimaku kembali? Kita rajut kembali kisah kita dulu?”

“Maafkan aku, Kang. Untuk itu aku telah menguburkannya dalam-dalam. Kedatanganku kemari adalah untuk ini.”

Dik, kali ini aku berharap sedang bermimpi, ketika kau serahkan sepucuk undangan bersampul biru, tertulis namamu dengan satu nama, Setiadi.

#Dimuat dalam Antologi Cerpen FBS UNY 2008, Kenangan: Esok Pasti Cerah.