Membaca & Menulis · Suka-Suka

Minggu pagi ini aku bangun di….

 

Minggu pagi ini aku bangun di tahun 850 Masehi. Sayup kudengar suara lesung bertalu-talu serta kokok ayam bersatu padu. Segerombolan makhluk halus kocar-kacir kembali ke sarangnya. Ya ampun, merinding.

“Aarrgh…!” Terdengar suara teriakan frustrasi seorang laki-laki.

Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku. Lalu menyeretku untuk bersembunyi di balik sebuah batu.

“Dia tampak marah sekali. Jangan sampai dia melihat kita,” kata orang itu yang ternyata adalah Empi, temanku.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Mesin waktu kita rusak. Kita jadi nyasar ke sini. Juki sedang memperbaikinya,” jelas Empi.

“Kau tidur ngebo banget, sih. Kau tahu, laki-laki itu tadi sibuk sekali. Dia harus membuat sesuatu dalam tempo semalam agar bisa menikahi pujaannya. Ya ampun, kasihan. Aku mah cukup seperangkat alat sholat dibayar tunai, Mas,” lanjut Empi, mulai rumpi.

“Hah? Maksudmu, kita nyasar di negeri dongeng?” Aku shock.

“Entah. Di penunjuk waktuku, saat ini kita sedang berada di abad ke-9,” kata Empi sambil memeluk tiang listrik.

Tunggu dulu… memangnya tiang listrik sudah ada di abad 9, ya? Nanti saja kita urus masalah ini. Aku terlanjur penasaran dengan jati diri pria itu.

“Jadi, apakah tadi dia sedang membuat perahu? Apa namanya Sangkuriang?”

“Emm… kurasa dia sedang membangun candi,” jawab Empi sambil menunjuk batu tempat kami bersembunyi.

Aku memandang sekeliling. Ada banyak candi di sekitar kami. Seribu candi… eh, anu… 999 candi dan satu yang belum jadi.

“Jadi, dia Bandung Bondowoso,” desisku.

Aku kembali mengintip dari balik batu. Bandung Bondowoso tampak marah sekali saat seorang wanita yang cantik jelita menghampirinya. Itu pasti Roro Jonggrang.

Aku menarik napas tegang. Setelah ini, si jelita akan berubah menjadi arca karena kutukan sang pria. Saat itulah, Juki memanggil. Kami harus segera masuk ke mesin waktu atau selamanya terjebak di masa lalu. Eaaa…

“Kita nyasar jauh sekali. Akan memakan waktu agak lama untuk kembali,” jelas Juki.

Karena kecewa tidak bisa menyaksikan bagian seru dari kisah Bandung Bondowoso, aku hanya menjawab: “Terserah saja. Asalkan diiringi musik dangdut.”

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2018 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Jika Kamu Mi Instan

Jika kamu adalah mi instan, maka aku adalah butiran nasi dalam panci magic com. Kita tak dapat bersatu, Sayang. Demikianlah kita ditakdirkan.

Untuk apa memaksa bersama, jika yang terjadi nanti adalah bahaya. Kita mungkin akan mengenyangkan. Namun, tidak menyehatkan. Sebab siapa pun yang berkenan menyatukan kita untuk mengisi lambungnya, dia harus rela mengalami lonjakan indeks glikemik. Kadar gula dalam darah pun bisa jadi naik.

Oh, tidak! Aku tidak menyukai kisah cinta yang berbahaya.

Maka bersandinglah engkau dengan bawang goreng, telur, atau cabai rawit. Mereka yang lebih mampu untuk membuatmu menjadi hidangan istimewa. Tak perlu kau risaukan aku di sini. Kelak akan kutemukan jodohku sendiri. Barangkali dia adalah sayur kangkung atau bayam yang dimasak oleh ibu. Tukang sayur akan membawanya kemari esok pagi. Asalkan besok tidak hujan.

Aku akan sabar menanti esok datang sambil mengenang kampung halaman. Sawah dan ladang. Di sanalah dulu aku tinggal, Sayang. Ah, andai Tuhan mengizinkan, aku ingin di sana selamanya. Agar kita tak pernah dipertemukan yang pada akhirnya tak bisa dipersatukan. Karena aku lebih suka jadi petani daripada jadi mantan pacarmu.

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2017 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Buku · Membaca & Menulis

Lapar Mata di MocoSik: Books and Music Festival

dscf4241

Yogyakarta barangkali menjadi salah satu kota yang sering dijadikan tempat terselenggaranya event pameran buku. Hampir setiap tahun, para pencinta buku akan dimanjakan oleh adanya bookfair dengan beragam tema yang diusungnya. Mengawali tahun 2017 kali ini, hadir sebuah acara bertajuk “MocoSik”. Dalam bahasa Jawa, “moco sik” dapat diterjemahkan menjadi “membaca dulu”. Sebagaimana acara-acara buku pada umumnya, secara garis besar MocoSik memang bertujuan untuk terus menghidupkan kegemaran membaca di masyarakat.

Namun demikian, acara ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan pameran buku biasanya. Dengan mengusung tagline “Membaca Musik, Menyanyikan Buku”, acara ini mencoba menggabungkan antara festival musik dan pameran buku. Sebuah konsep yang cukup unik dan konon merupakan pertama kalinya di Indonesia. Jadi selain memanjakan para pencinta buku, acara ini juga dapat menyenangkan hati para penikmat musik.

Ada beberapa musisi kenamaan yang tampil dalam acara ini. Sebut saja, Tompi, Raisa, Glenn Fredly, Jogja Hip Hop Foundation, Shaggydog, dan masih banyak lagi. Untuk dapat menikmati penampilan mereka, tentu saja kita harus membeli tiket. Namun, jangan bayangkan kalau tiket yang kita beli ini seperti tiket pada umumnya. Tiket di sini adalah berupa buku.

Cukup dengan membeli buku seharga 50 ribu, kita bisa nonton pertunjukan musik dari para musisi kenamaan. Ada banyak buku pilihannya. Lucu, ya. Kalau dipikir-pikir, nothing to lose. Kita seperti beli tiket festival musik gratis buku. Atau, beli buku bonus nonton festival musik.

Beli buku tiketnya di sini, ya.…

img_20170214_133858

Di samping beragam pilihan buku tiket, ada pula buku-buku keren yang dipamerkan dan cukup mampu membuat saya jadi laper mata. Ada beragam judul buku dengan berbagai tema, baik fiksi maupun nonfiksi. Salah satu stan yang cukup menarik perhatian adalah stan buku-buku lawas/langka. Buku-buku tersebut diobral dengan harga mulai dari 10 ribuan.

img_20170214_133537
Ada Lima Sekawan, bacaan zaman unyu. 😀

img_20170214_132214

Dan sebagaimana acara buku yang lain, tidak afdal jika tak ada talkshow seputar kepenulisan. Pada waktu saya ke sana, tiga orang pembicara, Bapak Hernowo, Mahfud Ikhwan, dan Okky Madasari, sudah siap berbagi inspirasi seputar “Menulis Sebagai Sebuah Tanggung Jawab”.  Secara ringkas, apa yang yang disampaikan para pembicara pada waktu itu adalah bahwa menulis merupakan kegiatan menyampaikan ide dan gagasan kepada orang lain. Dengan demikian, ada sebuah pertanggungjawaban yang harus ditanggung seorang penulis atas tulisan-tulisannya. Maka dari itu, tidak boleh asal-asalan.

dscf4253

Kedengarannya serem, ya. Tapi, kalau kita yakin dengan apa yang kita tulis, tentu nggak perlu takut dengan tuntutan pertanggungjawabannya, dong. Itulah sebabnya perlu memperbanyak wawasan dan pengetahuan, sehingga tulisan kita dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu cara untuk memperbanyak wawasan adalah dengan membaca. Di samping itu, membaca juga dapat memperkaya kebahasaan kita, yang nantinya berguna juga untuk membantu proses menulis.

Seperti kata Mbak Okky, “Kemampuan bahasa adalah senjata utama dalam menulis. Dibutuhkan kemahiran dalam memilih dan memilah.”

Last, meskipun tidak berkesempatan nonton perform Raisa, tapi hari itu saya cukup puas karena mendapat banyak ilmu baru sekaligus cuci mata hunting buku-buku. \(^0^)/

 

#Bisa dibaca juga di blog Redaksi Javalitera

Buku · Membaca & Menulis

Ternyata Saya Pernah Sebuku dengan Orang-Orang Hebat

img_20160412_161230

Waktu beres-beres kamar, saya menemukan buku ini. Akhirnya, jadi nostalgia, deh. Buku bersampul kuning dengan ilustrasi gambar pohon ini, merupakan buku antologi bersama yang diterbitkan secara mandiri oleh teman-teman dari Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

Proyek antologi bersama ini diadakan rutin tiap tahun, dalam rangka peringatan dies natalies almamater saya tersebut. Namun sepanjang saya jadi warga kampus dan ikut proyek antologi bersama ini terus, baru pada tahun 2008 nama saya berhasil masuk sebagai salah satu kontributor dalam proyek antologi cerpen. Tahun-tahun sebelumnya, saya nggak pernah berhasil lolos di proyek antologi puisi. Sebagai informasi, teman-teman dan kakak kelas saya di kampus itu jagoannya bikin puisi. Jadi, saya mah apa! 😀

Tapi, saya boleh geer ketika di dalam pengantar buku ini, Pak Hamdy Salad menuliskan kalimat berikut:

Meski tidak sepenuhnya mengandung dominasi unsur tematik sebagaimana disarankan oleh panitia, cerpen-cerpen yang terpilih dalam antologi ini sekurang-kurangnya telah memenuhi kriteria penilaian yang didasarkan pada kesuntukannya dalam mencipta karya sastra. Kesuntukan itu dapat dilihat melalui konsistensi dan intensitasnya dalam mengolah serta mengembangkan gaya penulisan secara kreatif dan kritis. Memiliki struktur cerita yang utuh, baik dari segi bahasa, plot, maupun karakter penokohannya.

21

Oh ya, kalau lihat di daftar isinya, hampir sebagian besar kontributor di antologi ini sekarang sudah jadi orang-orang hebat. Ada yang jadi cerpenis keren yang karyanya di mana-mana, ada yang jadi penyair top dan sudah sering main film juga, ada yang jadi editor di salah satu penerbitan ternama, dan banyak lagi. Seneng, sih, bisa sebuku dengan orang-orang hebat ini. Lalu, saya jadi mikir.

Time flies. Mereka sudah bertransformasi menjadi orang-orang hebat. Sementara saya, masih segini saja.

Buku · Membaca & Menulis

Menulis = Tanggung Jawab

81Mff5nL

Waktu diminta mas pemred untuk menulis naskah dengan tema jilbab, awalnya saya semangat sekali. Setelah selama ini seringnya menulis di belakang layar atau sekadar bantu teman saja, sekarang berkesempatan menulis naskah sendiri. Gimana nggak semangat! Namun, semangat pada awalnya itu kemudian berubah menjadi gamang. Pasalnya, waktu browsing cari materi, saya merasa tertampar-tampar. Kemudian krik… krik… lirik jilbab sendiri.

Iya, jilbab saya masih gini-gini aja. Masak iya mau menasihati orang lain kalau dirinya sendiri juga belum dibenerin? Sampai akhirnya teman saya bilang, “Nggak apa-apa. Anggap aja itu sekalian belajar.” Lalu, saya ajak saja dia nulis naskah jilbab berdua. Jadi kalau dosa ditanggung bareng gitu ya? Hoahahaha #eh

Singkat cerita, setelah kurang lebih satu bulan kami berkutat dan mengkaji banyak artikel tentang jilbab, akhirnya jadi juga naskahnya. Dan sekarang, terbit sudah bukunya. Buku ini memang masih jauh dari sempurna, tapi kami banyak belajar selama proses pengerjaannya. Harapannya, nanti buku ini juga dapat menjadi sarana belajar bagi banyak orang. Khususnya, bagi kami berdua. Insya Allah.

NB: Ulasan lengkap buku ini insya Allah menyusul di blog ini ya. 😀

Membaca & Menulis

Pelukan untuk Mama

Dingin. Basah. Aku memeluknya erat dari belakang. Menempelkan kepalaku di punggungnya. Sekadar untuk mendapatkan sedikit rasa hangat. Mempererat pelukanku, agar tubuhku tak ikut basah.

Hujan pagi itu, menghambat perjalanan kami. Dia berjibaku membelah jalan raya. Membelah hujan. Memastikan bahwa aku sampai dengan selamat ke sekolah. Aku meringkuk di dalam jas hujan, di belakangnya.

Jas hujan itu tidak bisa melindungi kami dengan sempurna dari terpaan hujan. Kulihat sekilas, kakinya basah. Begitu pula yang terjadi pada sepatuku. Basah. Aku mendesah. Pasti nanti masih ribet mengeringkan sepatuku yang basah ini agar lebih nyaman saat mengikuti pelajaran di kelas.

Terbayang teman-temanku yang selalu diantar jemput dengan mobil-mobil mewahnya. Mereka sampai di sekolah dalam keadaan baik-baik saja. Tidak sepertiku yang kuyup dan kacau balau.

“Mama, gimana kalau hari ini tidak usah berangkat ke sekolah?” keluhku tadi pagi. Ia mengerutkan keningnya.

“Kenapa begitu?” tanyanya.

“Di luar hujan deras,” aku menunjuk ke arah jendela, tampak cuaca yang tidak begitu bersahabat. Langit menumpahkan tangisnya tanpa henti.

“Hemm … ya sudah kalau nggak mau sekolah. Mama sih nggak masalah, kalau kamu mau terima risikonya, nggak bisa belajar, nggak bisa ketemu teman-teman, ketinggalan hal-hal seru yang mungkin saja terjadi di sekolah hari ini. Dan … ah iya, bukannya hari ini ada pelajaran Bahasa Indonesia. Waduh, bisa jadi sekarang ada tugas mengarang. Dan dapat dipastikan bahwa predikatmu sebagai jago mengarang di kelas, bahkan di sekolah, akan tergeser oleh teman-temanmu, karena kamu nggak ikut mengarang hari ini. Kan nggak berangkat sekolah. Gimana tuh?” terangnya panjang lebar.

Aah … Mama, selalu saja bisa buat aku berubah pikiran.

***

Dia masih membelah jalan raya. Membelah hujan. Sesekali berhenti di lampu merah. Menikung. Melajukan motornya, tak peduli hujan yang terus mendera.

Jas hujan itu tersibak. Aku terpekik kecil saat air hujan menciprat sedikit pada rok seragam sekolahku. Kupererat pelukanku padanya.

Mama menghentikan motornya di halaman parkir sekolahku. Dengan payung, ia mengantarku sampai ke depan kelas.

“Mama, coba kita punya mobil. Pasti enak, nggak kebasahan kalau hujan begini,” rengekku begitu sampai di beranda depan kelas. Mama hanya tersenyum. Ia membantuku merapikan rambut dan bajuku yang sedikit berantakan akibat perjalanan kami tadi.

“Iya, memang enak. Tapi nanti tak ada lagi yang memeluk Mama seperti tadi sepanjang perjalanan,” jawabnya. Masih dengan senyum yang setia menghias wajah manisnya.

“Memangnya Mama suka?” tanyaku.

“Suka sekali,” jawab Mama sambil mengusap kepalaku lembut.

“Sudah sana, masuk kelas. Nanti terlambat.” Aku mengangguk. Mama masih mengawasi sampai aku benar-benar masuk ke dalam kelas. Aku meliriknya saat Mama mengambil payung dan bersiap pergi.

“Mama!!” panggilku dari ambang pintu kelas. Mama membalikkan badannya ke arahku.

“Kalau gitu nggak usah punya mobil saja!” seruku.

Aku yakin dia mendengarnya, meskipun suara hujan sedikit menghalangi percakapan jarak jauh kami. Karena kulihat dia tersenyum, mengacungkan jempolnya, kemudian memberi isyarat agar aku segera kembali ke kelas. Aku sedikit terbahak, lalu bergegas masuk kelas.

***

Tahun berlalu. Dan aku masih suka memeluknya dari belakang, saat Mama terduduk menatap senja di beranda rumah. Kadang dia terkaget dengan tindakanku yang tiba-tiba.

“Mama masih suka bila kupeluk seperti ini?” tanyaku.

“Selalu suka,” jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu. Saat dia mengusap kepalaku di beranda sekolah waktu itu.

#Terpilih sebagai salah satu cerpen pemenang event #22HariBercerita Seri Tiga

#Dimuat di blog http://indonesiabercerita.org

Membaca & Menulis

Cerpen: Surat Cinta

: Untuk Ang Riandra, jawaban dari Lelaki Diammu.

 Dik, jangan kau membeciku. Meskipun kutahu, wajar bila kau melakukannya. Saat itu aku sungguh tak kuasa ketika cinta datang membawa sekuntum bunga, kemudian menanamnya di hatiku. Dan bunga-bunga itu kian tumbuh bermekaran menyesakkan hati. Bunga-bunga itu bagai candu yang membuatku selalu ingin memetiknya dan menciumi wanginya, hingga aku terlupa akan sajak-sajak cinta yang senantiasa kau suguhkan di setiap pagi, siang, dan malamku. Hal yang kini kusesali. Gelora yang sesaat dulu kurasakan, tak sebanding dengan penyesalan yang kini harus kutanggung.

Aku bukanlah petualang, seperti yang dulu pernah kau katakan. Aku hanyalah seorang pria yang mudah terbawa rasa. Namun sekejap saja cinta itu akan sirna, karena cinta dengan sendirinya pergi dariku. Mencampakkanku begitu saja. Dan engkau Dik, selalu mampu menghangatkan kembali hatiku yang beku. Kau semikan kembali benih-benih dalam jiwaku.

“Kang, kapan kau akan mengakhiri petualanganmu?” tanyamu selalu saat aku sudah mulai bangkit kembali. Aku tak pernah menjawabnya dengan sepatah kata pun. Kau pun tak pernah bertanya lebih banyak lagi. Seakan kau tahu bahwa suatu hari nanti akan kubuktikan, akan kupunya satu cinta saja untuk selamanya. Aku memang telah membuktikannya. Di depan penghulu aku berikrar untuk selalu menjagamu. Kau menjawabnya dengan air mata haru.

***

Semuanya baik-baik saja Dik, hingga ia datang di kehidupan kita. Dia menawariku secangkir madu. Aku tak kuasa menolaknya. Aku sungguh bodoh. Aku terpedaya. Winarsih, dia yang dulu membuatku meninggalkanmu, ternyata adalah seorang bidadari berhati sengkuni. Dengan wajahnya ia memikat, namun dengan taringnya ia akan menghisap habis darah di tubuh korbannya, yang kemudian menjadi biru, kaku, dan akhirnya mati dalam sakit hati.

Itulah yang terjadi padaku saat ini, Dik. Aku hampir mati karenanya. Di saat aku bekerja dengan beribu tetes peluh dan berjuta   harapan, teganya ia membawa laki-laki itu ke dalam rumah. Rumah yang katamu dulu penuh cinta.

“Kalau rumah ini memang dipenuhi cinta, mungkin aku tak akan melakukannya! Tapi engkau selalu diam seribu bahasa! Aku ini wanita Kang! Aku tak yakin akan cintamu! Kau tak pernah mengatakannya! Rumah ini terasa sunyi!” Itulah yang dikatakan Winarsih ketika aku memergoki mereka berdua. Sebuah alasan yang sama, yang selalu kuterima ketika cinta-cinta yang lain hendak meninggalkanku. Aku memang tak pandai mengumbar kata cinta. Tak seperti Chairil Anwar ataupun Rendra, yang mampu merangkai kata puitis, hingga tercipta puisi romantis. Bagiku, cinta tak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata. Cinta datang dari hati, maka cinta dapat terbaca dari tatapan mata. Bukankah mata adalah jendela hati? Cinta juga tak perlu diungkapkan secara berlebihan. Cukup dengan kesederhanaan. Seperti pengabdian seorang istri terhadap suami, dan suami yang akan selalu menjaga dan melindungi anak istrinya. Hanya kau yang mampu memahaminya, Dik.

***

Mereka tak jua jera meski berulang kali kupergoki. Hingga kesabaranku habislah sudah. aku memberinya pilihan, aku atau lelaki itu. Dan aku telah mendapatkan balasan atas apa yang telah kulakukan padamu dulu, Dik. Ketika aku memilih Winarsih tanpa memedulikan air matamu. Juga ketika aku membawanya ke rumah kita, sementara kau harus kembali ke orang tuamu dengan membawa Ryan, buah hati kita. Karma itu telah menimpaku. Winarsih memilih lelaki itu. Meninggalkanku sendiri bersama perasaan dan hatiku yang hancur.

Aku merindukanmu Dik. Juga masa-masa di mana kita masih bersama. Kau selalu setia membawakan masakanmu untuk memulihkan energiku setelah seharian bekerja di sawah. Kau ajak serta Ryan yang semakin lincah dan pandai. Lalu kita akan berbincang mengenai apa saja. Tak kita hiraukan matahari yang bersinar dengan angkuhnya, karena cinta telah meneduhkan hati kita.

Tak akan kulupakan ekspresi bahagiamu ketika Ryan mulai bisa berjalan. Juga ketika kau ajari dia untuk mengenali orang-orang yang kan selalu menyayanginya. Saat itu kau bertanya,

“Ayah mana Ryan?” maka Ryan akan menunjuk diriku. Lalu kau bertanya lagi,

“Bunda mana Ryan?” dan Ryan akan menunjuk dirimu.

***

Dik, betapa bahagianya aku ketika kita berjumpa tanpa sengaja. Tak seberapa jauh dari sawah, ketika senja menyelimuti desa kita. Namun, kau malah mempercepat langkahmu.

“Kang, kumohon jangan ganggu aku, di saat aku mencoba untuk melupakanmu!” begitu katamu saat aku mencoba untuk mengejarmu.

“Benarkah kau ingin melupakanku? Selamanya dalam hidupmu? Bagaimana denga Ryan, anak kita?”

“Kang, mengapa kau berkata demikian? Sedangkan dulu saat kutanya tentang nasib anak kita, kau lebih memberatkan hatimu pada wanita itu.”

“Maafkan aku Dik. Saat itu aku memang mabuk. Dan ketika tersadar, kau sudah begitu jauh dariku.”

“Sudahlah, Kang. Anggap saja kami tiada. Atau kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”

“Dik, bukankah berdosa jika memutuskan silaturahmi?”

“Kang, dosa terbesarku adalah dulu ketika aku begitu mencintaimu, hingga melupakan-Nya. Saat itu kepalaku hanya dipenuhi oleh dirimu. Aku lupa akan kewajibanku sebagai manusia untuk bersujud kepada-Nya. Saat kau meninggalkanku, aku tahu bahwa Tuhan telah menghukumku. Ya, Kang, tak akan kuulangi lagi kesalahanku.”

Dik, dulu aku memang melalaikan-Nya. Dia telah memberikan wanita terbaik di sampingku, namun aku tak pernah mensyukurinya. Aku pun telah mendapatkan hukumannya, Dik. Masih adakah kesempatan untukku? Aku berjanji akan menjadi imam yang baik untukmu, dan anak kita.

***

Mimpikah ini Dik, aku melihatmu di ambang pintu. Kurasa tidak, karena terasa sakit saat kulitku kucubit.

“Kang, sudah kuputuskan, kau boleh menemui Ryan kapan pun kau mau.”

“Benarkah??!! Apa ini berarti kau menerimaku kembali? Kita rajut kembali kisah kita dulu?”

“Maafkan aku, Kang. Untuk itu aku telah menguburkannya dalam-dalam. Kedatanganku kemari adalah untuk ini.”

Dik, kali ini aku berharap sedang bermimpi, ketika kau serahkan sepucuk undangan bersampul biru, tertulis namamu dengan satu nama, Setiadi.

#Dimuat dalam Antologi Cerpen FBS UNY 2008, Kenangan: Esok Pasti Cerah.

Membaca & Menulis

Back To The Past: Yogyakarta 1950

Yup, kalau tak salah tebak nih, kurang lebih sudah lima menit aku celingak-celinguk kayak orang o’on sejak membuka mataku tadi. Mungkin karena baru bangun tidur, otakku jadi tidak bisa bekerja dengan sempurna. Ah, tidak! Bukan salah otakku, tapi memang keadaan ini yang mencapai batas nalarku. Aku mengacak rambutku frustrasi.

Saat bangun tidur tadi, aku dikejutkan oleh dua hal yang sempat membuatku percaya bahwa aku masih bermimpi. Pertama, aku mendapati diriku terbangun di sebuah tempat asing. Tak sepenuhnya asing sih, sepertinya ruangan ini pernah masuk dalam memoriku. Ini seperti rumah Simbah di mana waktu kecil aku juga tinggal di sana, hanya saja bentuknya lain. Maksudnya, perabotan-perabotan sederhana ini sangat berbeda dengan yang kulihat dulu. Kedua, ini yang paling mengejutkan bagiku. Aku menatap perutku yang membuncit, mengelusnya pelan, sesuatu bergerak di sana. Aku… hamil??! Heloooww… ini sungguh tak logis. Aku belum menikah, bagaimana bisa aku tiba-tiba hamil sebesar ini dalam waktu semalam? -_____-

Somebody please tell me what’s going on!

Seorang pria tiba-tiba muncul di ambang pintu. Pria itu mirip sekali dengan bapakku, hanya sedikit lebih kerempeng. Mengenakan surjan lurik dan jarik, ala abdi dalem kraton. Dia tersenyum, lalu berjalan mendekatiku. Refleks aku mundur.

“Kau sudah bangun?” katanya. Aku tak menjawab.

“Kau tidur nyenyak sekali, aku jadi tak tega membangunkanmu,” lanjutnya. Ia menghampiriku yang kini telah terpojok di tembok. Aku menelan ludah panik.

“Aku ke kraton dulu ya? Kau baik-baik di rumah. Hari ini tak usah ke pasar. Aku sudah minta tolong pada Yu Iro kalau kau butuh sesuatu,” katanya sambil mengenakan blangkon yang diambilnya dari lemari. Ia mencium keningku lembut, mengusap perutku yang buncit dan menciumnya juga. Lalu pergi meninggalkanku yang bingung dan frustrasi.

***

“Salamah, kau di dalam? Aku masak sayur kangkung hari ini. Ayo sarapan bersama!” suara cempreng itu menginterupsi segala analisa otakku yang masih random akan apa yang sedang kualami.

“Mas Hadi sudah berangkat ke kraton ya? Haa… beruntung sekali kau, dia suami yang baik.”

Tunggu dulu! Apa dia bilang tadi! Hadi? Suamiku? Pria yang mirip bapakku tadi? Lalu, siapa dia memanggilku tadi? Salamah? Ah… sebuah pencerahan terbetik di otakku. Walau masih tak bisa diterima akal sehat, tapi Hadi dan Salamah itu nama simbahku. Kesimpulanku sementara, pria tadi adalah Mbah Kakung yang masih muda, dan aku… Mbah Putri? Memang banyak yang bilang aku mirip Mbah Putri sih.

“Aaa… siapa kau memanggilku tadi?!!” Karena penasaran, aku berlari keluar menemui pemilik suara cempreng itu. Perutku… eem, maksudnya perut Simbah, yang besar ini mengganggu pergerakanku. “Akhhh…!!” Kakiku tersandung kaki kursi, membuatku mendarat dengan sempurna ke lantai tanah rumah Simbah.

Perempuan paruh baya pemilik suara cempreng tadi menghampiriku panik. “Salamah! Hati-hati!”

“Auwh…,” rintihku. Perutku mulas sekali. Lebih dahsyat rasanya dibanding sakit perut yang tiap bulan kurasakan.

“Waduh, gawat!” wanita itu makin panik saat melihat darah yang mulai mengalir di kedua kakiku. “Tunggu sebentar, aku panggil Mbah Prapto!” Dia ngacir keluar, meninggalkanku yang sekarat.

“Aaarrrggghhh…!” aku terengah.

Kemudian gelap.

 

#Event menulis “Back to The Past”, Gagas Media

Membaca & Menulis

Deana Sedang Jatuh Cinta

Ketika Deana sedang jatuh cinta, maka pipinya akan tampak merah muda, kedua sudut bibirnya akan terangkat ke atas membentuk sebuah senyum manis, membalas senyuman kekasihnya. Lalu saat pujaan hatinya itu mengajaknya jalan-jalan sambil bergandengan tangan, jantung Deana akan berdetak semakin cepat. Memompakan darah ke wajahnya, membuatnya semakin merona. Deana akan lupa menutup mulutnya yang ternganga melihat kekasihnya lincah memainkan sebuah permainan tembak-tembakan di taman hiburan tempat mereka berkencan, lalu memenangkan sebuah boneka monyet lucu untuknya, membuat Deana refleks memeluknya karena bahagia, dan dibalas dengan sebuah usapan halus di kepalanya. Otak Deana juga mulai tidak logis karena dengan senang hati menerima ajakan kekasihnya untuk mencoba wahana rollers coaster padahal ia takut ketinggian.

Ketika Deana sedang jatuh cinta, maka hatinya akan mengharu biru karena rindu. Rindu pada kekasihnya yang sedang jauh darinya. Kekasihnya bilang, ia akan segera kembali membawa sebuah kejutan untuknya. Namun, satu hari terasa seabad bagi Deana. Ia tak sanggup menganggungkan rindu begitu lama. Rindu yang selalu mengusik malam-malamnya, mencuri mimpi-mimpi indahnya. Rindu yang tak terobati hanya dengan menatap foto orang yang sedang dirindukannya. Rindu yang seolah menghalangi oksigen masuk ke paru-parunya, hingga ia tak dapat bernapas dengan sempurna. Membuatnya merasa jika satu hari lagi ia tak melihat kekasihnya, maka ia akan mati kehabisan napas.

Ketika Deana sedang jatuh cinta, maka seluruh sel di tubuhnya seolah bekerja sama dengan saraf sakit di otaknya untuk mengirimkan rasa sakit ke seluruh tubuhnya. Rasa sakit yang bersumber dari hatinya yang cemburu mendapati kekasihnya yang tiba-tiba muncul bersama wanita lain yang tak ia kenal. Setelah rindu yang menyesakkan, kini cemburu yang menyakitkan. Apa maksudnya?! Hati Deana berontak, ingin melampiaskan kemarahannya, namun yang terjadi dia hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat menahan amarah. Air matanya mulai menggenang ketika kekasihnya justru tersenyum santai dan berkata:

“Selama beberapa hari ini, baru kusadari bahwa aku tak sanggup terlalu lama jauh darimu. Aku ingin selalu bersamamu hingga akhir hidupku nanti. Dia adalah seorang desainer. Setelah ini, kau harus ikut dengannya untuk mengukur gaun pengantinmu. Would you be my wife?” ucap kekasihnya final.

Deana memang sedang jatuh cinta, maka ketika mendengar kekasihnya mengucapkan kata keramat itu, ia tak sanggup lagi menahan genangan yang sejak tadi sudah membuat kelopak matanya penat.

“I do,” jawab Deana sambil menyeka air matanya.

#Dibuat untuk memenuhi tugas kedua tahap 1 Gradien Writter Audition

Tugas: Deskripsikan “[Nama] Sedang Jatuh Cinta”

Membaca & Menulis

Senja di Pantai

Sejak kecil Sora sudah menyukai pantai. Tak ada alasan khusus, hanya suka. Sejak pertama kali ayahnya mengajaknya ke pantai yang hanya terletak beberapa meter dari rumahnya, ia sudah tepesona pada birunya air laut yang membentang tak terbatas. Lalu saat melihat horizon, kaki langit yang berbatasan dengan permukaan air laut di ujung sana, ia mulai bertanya-tanya dalam benaknya, apakah air laut itu benar-benar menyentuh langit? Ia juga suka sekali dengan sensasi yang ditimbulkan oleh pasir-pasir pantai yang menyentuh telapak kakinya. Angin laut yang menggoda anak-anak rambutnya, mengantarkan aroma laut yang khas ke indra penciumannya. Serta riak-riak kecil air laut yang jahil, yang selalu mengusik kenikmatannya menatap horizon sambil duduk di tepi pantai, yang selalu membuatnya terpekik kaget dan refleks bediri agar roknya tidak basah, walau akhirnya tetap basah juga.

Sora suka ke pantai pagi hari, melihat matahari terbit. Melihat bagaimana matahari itu muncul perlahan menyibak awan, membuat langit yang gelap menjadi biru tua, dan air laut yang hitam berubah keperakan. Sora juga suka ke pantai siang hari, melihat nelayan yang hilir mudik ke tempat pelelangan ikan setelah semalam melaut, mengais rezeki untuk keluarganya di rumah. Udara pantai di siang hari yang panas membakar kulitnya, justru menghangatkan hatinya. Sora belum pernah ke pantai saat senja, bukan karena tak suka, tapi karena senja adalah kelemahannya. Rabun senja, itulah yang dideritanya. Saat senja, maka dunia akan menjadi samar di matanya. Sora ingin sekali melihat pantai saat senja, namun tak bisa.

Adalah Aiden, sahabatnya sejak kecil, yang selalu bercerita tentang senja di pantai untuknya. Aiden bilang, saat senja, matahari seolah akan tenggelam di laut. Burung-burung camar terbang berkelompok kembali ke sarang. Langit berwarna oranye, sedangkan air laut berwarna keemasan, sebelum semuanya menjadi hitam pekat, menampakkan bulan yang gagah bertengger di langit menggantikan tugas matahari menerangi bumi.

Saat itu, untuk kesekian kalinya Sora terpana mendengar cerita Aiden tentang senja di pantai. Ia penasaran ingin melihatnya. Aiden berjanji besok akan memotretkan senja di pantai untuknya. Tapi Sora tak sabar lagi, ia membujuk Aiden untuk memotret senja saat itu juga. Aiden mengalah, ia berangkat ke pantai demi Sora, sahabat kecil yang diam-diam dicintainya. Tanpa tahu bahwa saat itu air laut sedang pasang, dan tak menyangka bahwa ketika ia tengah asyik membidikkan kameranya, ombak besar datang menghampirinya bersama sosok bertudung hitam tak kasat mata yang menjemputnya. Maut. Aiden tak bisa menghindarinya lagi.

Esoknya, Sora sedikit kesal menanti Aiden yang tak kunjung datang memenuhi janjinya, membawakan foto senja di pantai untuknya. Ia bergegas ke pantai, melihat sunrise sudah tak mungkin, tapi suasana pagi di pantai mungkin bisa mengusir kekesalannya. Namun, yang ia dapati justru pemandangan yang menyesakkan. Para nelayan berkerumun pada sesosok tubuh yang baru saja mereka temukan mengapung di laut. Di tangannya masih tergenggam kamera pocket yang ia gunakan untuk memotret senja. Senja di pantai untuk Sora.

#Untuk memenuhi tugas pertama tahap 1 Gradien Writer Audition

Tugas: Narasikan “Senja di Pantai”