Opini · Suka-Suka

Yogyakarta: Bukan Metropolitan, Tapi Tak Ketinggalan Zaman

N1kbXX9B
Para abdi dalem sedang memanggul gunungan dalam acara Grebeg Besar 1950 Je

“Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.” — Joko Pinurbo.

Sejak dilahirkan di kota yang istimewa ini, saya memang belum pernah benar-benar pergi meninggalkan Yogyakarta. Kalaupun keluar kota, paling sekadar piknik atau mengunjungi kerabat di kota tetangga. Selanjutnya, takdir terus menuliskan garis hidup saya berjalan di kota ini. Lahir di Yogya, besar di Yogya, cari ilmu di Yogya, cari rezeki di Yogya, cari jodoh…. *skip

Namun demikian, saat mendengarkan curahan hati dari kawan-kawan saya tentang kota kelahiran ini, dada ini cukup mengembang oleh rasa bangga. Mereka yang telah menghabiskan masa studi di Yogya, lalu harus melanjutkan hidup di kota-kota lainnya, selalu merasakan rindu dan ingin kembali ke sini.

Bagi mereka, Yogyakarta bukanlah kota yang sangat metropolitan, di mana semua serba keras dan harus bergegas. Di Yogya, kota berjalan pelan dan bersahaja. Sebersahaja anggukan kepala kepada orang yang lebih tua. Namun, Yogya juga bukan kota yang ketinggalan zaman. Ada toko buku, bioskop, mall, kafe, perpustakaan, stadion olahraga, dan banyak lagi fasilitas umum yang lainnya.

Objek wisata? Ada candi-candi, kraton, dan beragam warisan cagar budaya yang bisa ditelusuri jika kamu suka sejarah. Ada pula gunung dan pantai-pantai yang bisa dijelajahi kalau kau suka berpetualang. Jangan lupakan pula aneka kuliner, seni, dan budaya yang banyak sekali jumlahnya.

Dari perasaan bangga, kemudian timbul sedikit rasa penasaran. Penasaran atas sensasi bahagia yang dirasakan kawan-kawan saya saat kembali ke Yogya. Barangkali saya harus mencoba untuk merantau juga barang sejenak, agar dapat merasakan kerinduan dan ingin pulang kembali ke kota ini. Suatu saat nanti, mungkin?

Yang pasti, sebagai orang yang lahir dan besar di kota ini, saya berharap semoga Yogyakarta tetap nyaman untuk ditinggali. Jangan lagi banyak dibangun gedung-gedung tinggi. Yogyakarta tak perlu menjadi kota metropolitan. Cukup jadi kota yang tak ketinggalan zaman.

Opini

Semoga Yogyakarta Tak Berhenti Nyaman

Ringin kurung alun-alun utara
Pohon beringin kembar di tengah alun-alun utara Yogyakarta pada pertengahan tahun 1857 (Gambar diambil dari Wikipedia.org)

Kejadian hari ini mau tak mau membuat ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam, ketika saya masih kecil, bersama Simbah menyaksikan sebuah pertunjukan yang istimewa, Kirab Grebeg Maulud Kraton Yogyakarta. Duduk bersila di atas rumput pinggir trotoar, tak peduli dengan rumput yang basah sebab hujan yang mengguyur malam harinya. Pun tak peduli ketika sesekali harus menggaruk kaki yang gatal karena digigit semut api yang bersarang pada akar rumput di dalam tanah. Saya sudah begitu terpesona pada iring-iringan bregada prajurit kraton yang berbaris dengan diiringi istrumen perpaduan genderang, seruling, dan terompet yang dibunyikan dengan irama lambat.

Kenangan itu begitu membekas, sehingga membuat saya ingin selalu mengulanginya. Maka, setelah bertahun-tahun waktu tersita oleh kesibukan dan tanggung jawab sebagai orang dewasa (baca: bekerja), siang tadi akhirnya saya bisa kembali mengulang nostalgia. Namun, situasi yang saya temui sungguh berbeda. Tak ada rumput basah untuk duduk bersila. Hujan memang turun deras semalam, akan tetapi hanya menyisakan tanah becek serta udara yang panas dan pengap. Ke mana rumput-rumput itu pergi? Barangkali mati karena terlindas bus-bus pariwisata, atau rusak ketika didirikan panggung-panggung pertunjukan dari stasiun-stasiun televisi ibu kota. Singkat cerita, rencana nostalgia saya gagal total sebab saya justru berakhir di tangan paramedis setelah sebelumnya kliyengan karena dehidrasi.

Yogya memang telah berubah. Cerita di atas mungkin hanya contoh kecil dari perubahan kota ini. Perubahan lain yang cukup signifikan di antaranya adalah banyaknya titik-titik kemacetan yang mulai bermunculan pada beberapa wilayah di Yogyakarta. Lagi-lagi ingatan saya jadi bernostalgia ke beberapa tahun silam, ketika bersama Bapak bersepeda di sore hari melewati sepanjang Jalan Malioboro. Kami bersepeda dengan santai, sambil sesekali Bapak menyuruh saya belajar mengeja nama toko-toko di Malioboro. Di sekitar kami, berseliweran orang-orang yang sedang joging. Juga andong dan becak yang mengantar ibu-ibu pulang dari Pasar Beringharjo. Beberapa di antaranya juga mengantar wisatawan berbelanja di Malioboro. Satu dua bus kota melintas. Suasana seperti itu mungkin sulit untuk kita dapati saat ini, sebab kendaraan bermotor seolah makin banyak saja memadati jalan-jalan di Yogya. Entah, barangkali karena faktor banyaknya pendatang, atau karena makin mudahnya masyarakat untuk membeli kendaraan-kendaraan tersebut dengan sistem kredit. Yang pasti, kegiatan bersepeda santai seperti yang biasa saya lakukan bersama Bapak tempo dulu tentu tidak bisa dilakukan lagi. Bagaimana bisa kita bersepeda dengan santai di tengah lalu lintas yang ruwet. Beberapa waktu yang lalu saya melihat seorang bapak tukang becak yang diklaksoni mobil ketika beliau sedang terengah-engah mengayuh becaknya, mungkin itu bisa jadi salah satu contohnya.

“Yogyakarta sudah menyerupai Jakarta,” kata teman saya.

Selain merujuk kepada kemacetan, barangkali kalimat tersebut juga ditujukan dengan maraknya pembangunan gedung yang terjadi di Yogya. Di satu sisi, pembangunan gedung-gedung ini menunjukkan bahwa Yogya sudah menjadi kota yang lebih maju sehingga para investor sudi meliriknya. Namun di sisi lain, maraknya pembangunan gedung ini juga cukup meresahkan. Pembangunan mal, hotel, apartemen, yang notabene sasarannya hanya untuk orang-orang “berduit”, akan mengundang banyak pendatang, utamanya mereka dari kota-kota besar. Hal ini membuat jumlah penduduk Yogya semakin padat, dan jumlah kendaraan semakin banyak, sehingga Yogya semakin macet. Lalu, bagaimana nasib penduduk lokal Yogya yang mayoritas berstatus sosial lebih rendah daripada orang-orang dari kota besar itu? Mau tak mau mereka harus mengikuti “gaya hidup” yang dibawa oleh para pendatang itu, atau bernasib seperti bapak tukang becak yang diklaksoni mobil ketika terengah-engah mengayuh becaknya tadi.

Banyaknya investor yang menanamkan modalnya ke Yogyakarta memang dapat menambah pendapatan daerah. Namun, hendaknya perlu dipikirkan juga kemanfaatannya untuk penduduk lokal Yogya itu sendiri. Dan bukan berarti menolak sebuah kemajuan, akan tetapi baiknya dipertimbangkan juga agar dengan kemajuan itu tidak lantas membuat Yogyakarta kehilangan jati dirinya serta tetap nyaman untuk ditinggali. Bukankah beberapa waktu yang lalu Yogyakarta dinobatkan menjadi “The Most Liveable City” di Indonesia?

Pada akhirnya, sebagai orang yang lahir dan tumbuh di kota ini, saya berharap semoga Yogyakarta tak berhenti nyaman.

Opini

Bijak Menggunakan Sosial Media

logo
Gambar diambil dari pesanlogo.net

Zaman sekarang, siapa sih yang nggak punya akun social media? Hampir semua punya, ya. Bahkan, tak cukup hanya satu, masing-masing orang bisa punya akun sosial media dari berbagai platform. Pun tak hanya didominasi oleh para kawula muda, sosial media juga menjadi milik para orang tua. Hampir semua orang menggunakan sosial media. Tentu saja, dengan maksud dan tujuan masing-masing. Bisa untuk bisnis, atau sekadar ingin eksis.

Dalam perkembangannya, sosial media kini jadi ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, sosial media memudahkan orang-orang untuk saling terhubung meski jarak ribuan mil jauhnya. Namun di sisi lain, sosial media juga dapat membawa dampak negatif, baik bagi diri sendiri, pun bagi orang lain.

Maka, bijaklah dalam memakai sosial media. Berikut ada beberapa poin mengenai apa yang sebaiknya tak dilakukan di sosial media, berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya sendiri.

  1. Pikir dulu sebelum share sesuatu

Banyak berita abal dan seringnya cenderung hoax di sosial media. Parahnya, kita langsung mudah terprovokasi dan membagikannya begitu saja. Lebih parah, sebagian dari kita malah langsung merespons dengan nyinyir tanpa membaca terlebih dahulu isinya dengan saksama. Hanya melihat judul yang provokatif, lalu tersulut dengan pikiran yang negatif. Akibatnya, semakin banyak link tersebut dibagikan, semakin menyebar pula pikiran-pikiran negatif itu.

Baiknya, pilah dan pilih terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membagikan sesuatu. Pilih hanya dari sumber yang terpercaya untuk share sebuah berita. Pastikan juga kebenarannya. Jangan lupa dibaca dulu, ya. Jangan asal komen nyinyir padahal baru baca judulnya doang. Intinya, think before sharing.

  1. Klik like dan tulis “aamiin” untuk ikut mendoakan

Di sosial media kadang kita menemukan foto/gambar menyedihkan lalu disertai tulisan seperti ini, “Klik like dan komen ‘aamiin’ untuk mendoakan.” Tak jarang foto-foto tersebut berupa foto korban suatu musibah yang berdarah-darah, yang bahkan untuk melihatnya pun rasanya tak tega. Nah, dengan mengetik like dan menuliskan komentar, otomatis foto itu akan terus beredar ke linimasa. Kalau kita saja tidak nyaman melihat foto-foto itu, maka demikian halnya penghuni linimasa lainnya. Hormati mereka juga, ya. Kalau memang berniat ikut mendoakan, cukup doakan dalam hati saja. Karena sesungguhnya Allah maha mendengar setiap doa hamba-Nya.

Selain itu, saya pernah membaca sebuah artikel yang menyatakan kalau disinyalir ada modus di balik postingan “klik like dan aamin” itu. Berikut penjelasannya yang saya ambil dari sebuah thread di kaskus.

1750262_20150107111649

  1. Nyampah, marah-marah, sumpah serapah, dan mengumbar keluh kesah

Zaman dulu, kalau kita punya diari pasti selalu milih yang ada gemboknya. Sebab di dalam diari itu akan tertulis curahan hati yang paling rahasia, yang tak semua orang boleh membacanya. Sekarang, malah sebaliknya. Sosial media jadi semacam diari tempat untuk berkeluh kesah. Yah, dulu saya juga sempat begitu. Namun akhirnya saya sadari bahwa dengan mengumbar keluh kesah, semua orang jadi tahu kalau kita sedang memiliki masalah. Alih-alih membantu, mereka justru hanya ingin selalu mau tahu, sehingga kita jadi punya masalah baru.

Selain itu, sosial media juga bukan tempatnya untuk marah-marah, apalagi sumpah serapah. Tentu kita belum lupa ada banyak kasus orang-orang yang harus berurusan dengan polisi hanya gara-gara menulis status di Facebook. Jadi, marah-marah di sosmed tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Justru menambah masalah. Lebih parah, citra kita di mata orang lain juga akan jadi negatif. Nah, kalau tadi kita harus think before sharing, sekarang lagi-lagi kita harus think before posting.

Sosial media adalah sarana untuk menjalin pertemanan dan mencari hiburan dari penatnya pikiran. Jadi, bijaklah menggunakannya. Jangan sampai menjadi senjata yang justru menyusahkan kita. 🙂