Seni & Budaya

Menjenguk Keraton Yogyakarta di Masa Lalu dengan ‘Mesin Waktu’

Sejak kecil, saya sangat menyukai dongeng. Saya tinggal di perkampungan di dalam benteng Keraton Yogyakarta. Orang Yogya sering menyebut daerah tempat tinggal saya dengan nama jeron beteng. Di daerah jeron beteng, banyak sastra lisan seperti dongeng, asal-usul, mitos, tembang, dan sebagainya, yang tersebar di masyarakat setempat. Saya bersyukur masih sempat mendengar beberapa sastra lisan tersebut sebelum keberadaannya mulai punah seiring dengan berkembangnya zaman. Salah satu yang tak pernah saya lupa adalah tembang Mijil berikut ini.

Ing Mataram betengira inggil. Ngubengi kedhaton. Plengkung lima mung papat mengane. Jagang jero toyanira wening. Ringin pacak suji. Gayam turut lurung.

Terjemahan:

Di Mataram bentengnya tinggi. Mengelilingi keraton. Lima pintu gerbang, hanya empat yang terbuka. Parit yang dalam dan airnya jernih. Pohon beringin di-pacak suji. Pohon gayam sepanjang jalan.

Kali pertama saya mendengar tembang tersebut dari almarhum simbah putri. Beliau menyenandungkannya untuk saya lengkap dengan cerita tentang kerajaan dengan lima pintu gerbang, tetapi satu pintunya ditutup. Kata simbah, salah satu pintu gerbang tersebut ditutup karena di sana banyak maling.

Tahun 2008, saya mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian terkait sastra-sastra lisan yang ada di wilayah jeron beteng dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Sayang karena keterbatasan ilmu, saya dan tim tidak berhasil lolos hingga ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Namun demikian, saya cukup senang karena dari kegiatan tersebut, saya jadi tahu bahwa cerita simbah tentang kerajaan dengan lima pintu gerbang itu bukanlah kisah fiksi. Lalu, “maling” yang dimaksud oleh simbah bukanlah pencuri biasa, melainkan tentara Inggris.

Saat penelitian, kami melakukan interview ke beberapa penduduk setempat serta membaca banyak referensi. Dari situlah, saya tahu bahwa semua yang digambarkan dalam lirik tembang Mijil nyata adanya. Seperti mesin waktu, tembang Mijil tersebut seolah mengajak kita untuk menjenguk keraton Yogyakarta tempo dulu. Kalau begitu, mari kita nyalakan mesin waktunya dan kembali ke masa lalu.

/ Ing Mataram, betengira inggil / Ngubengi kedhaton /

Pada tahun 1755, Pangeran Mangkubumi atau Hamengkubuwana I membangun ibukota kerajaan Yogyakarta di atas tanah sepanjang 4 km. Wilayah ini yang kelak disebut jeron beteng. Di tengah-tengah wilayah tersebut, berdiri istana Pangeran Mangkubumi yang kemudian kita kenal sebagai Keraton Yogyakarta.

Tahun 1785-1787, Adipati Anom, sang putra mahkota yang kelak bergelar Hamengkubuwana II, memprakarsai pembangunan benteng baluwarti mengelilingi wilayah di sekitar keraton. Lengkap dengan bastion untuk mengintai musuh di setiap sudutnya.

Konon, pembangunan benteng baluwarti ini sebagai bentuk protes atas pembangunan benteng milik kompeni yang terletak tak jauh dari keraton. Kini dikenal dengan nama Benteng Vredeburg.

IMG_20171227_070442
Benteng baluwarti beserta bastion yang masih tersisa

/ Plengkung lima mung papat mengane /

Terdapat lima pintu gerbang yang berbentuk melengkung (plengkung) untuk akses keluar masuk wilayah yang dilingkupi baluwarti. Kelima pintu gerbang tersebut bernama: Plengkung Nirbaya, terletak di dekat alun-alun selatan, menghadap selatan; Plengkung Jagabaya, terletak di sebelah barat Tamansari, menghadap barat; Plengkung Jagasura, terletak di sebelah barat alun-alun utara, menghadap utara; Plengkung Tarunasura, terletak di sebelah timur alun-alun utara, menghadap utara; dan Plengkung Madyasura, terletak di benteng timur, menghadap timur.

Tahun 1812, terdapat kabar mengenai penyerangan tentara Inggris dari arah timur keraton. Maka, Plengkung Madyasura pun dengan tergesa ditutup secara permanen. Namun, ternyata para tentara Inggris menyerang dari arah utara dengan menjebol benteng bagian utara. Sejarah mencatatnya sebagai peristiwa “Geger Sepei”. Bekas penjebolan benteng oleh tentara Inggris ini masih dapat kita lihat di sebelah timur Jalan Ibu Ruswo Yogyakarta.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 16.24.08
Bekas penjebolan benteng dalam peristiwa Geger Sepei

Sejak ditutup secara permanen, Plengkung Madyasura kemudian dijuluki dengan nama plengkung buntet oleh masyarakat setempat. Plengkung buntet berarti “plengkung yang tertutup”. Keberadaan si plengkung buntet Madyasura saat ini semakin tergeser oleh padatnya pemukiman penduduk. Jika ingin melihatnya, kita bisa pergi ke Jalan Mantrigawen, Yogyakarta. Di sela-sela atap rumah penduduk, kita akan menemukan sebuah bangunan menyerupai gapura. Nah, itulah dia Madyasura.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 16.24.40
Sisa Plengkung Madyasura

Saat ini, hanya tinggal dua pintu gerbang saja yang masih dapat kita temukan dalam kondisi lumayan utuh, yaitu Plengkung Nirbaya (kini dikenal dengan nama Plengkung Gading) dan Plengkung Tarunasura (kini dikenal dengan nama Plengkung Wijilan). Adapun Plengkung Jagabaya dan Plengkung Jagasura saat ini hanya tampak berupa gapura biasa. Tidak lagi berbentuk plengkung (melengkung).

Dari kiri ke kanan: Plengkung Nirbaya – Plengkung Tarunasura – Plengkung Jagasura – Plengkung Jagabaya

/ Jagang jero toyanira wening /

Di bagian luar tembok baluwarti, terdapat jagang (parit buatan) dengan kedalaman 3 meter sebagai fungsinya untuk pertahanan dan keamanan. Parit-parit ini saat ini sudah menjadi pemukiman penduduk. Banyak rumah penduduk yang dibangun di atas bekas jagang. Sisa-sisa jagang masih dapat dilihat di daerah pojok benteng sebelah timur.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.02 (1)
Sisa jagang di bawah bastion pojok beteng timur

/ Ringin pacak suji / Gayam turut lurung /

Pohon beringin dan pohon gayam merupakan dua dari beberapa tanaman khas yang ada di wilayah keraton. Konon, ada 9 jenis pohon yang masing-masing memiliki filosofi sendiri. Pohon beringin yang berdaun rimbun serta batang yang kokoh melambangkan pengayoman. Pengayoman dari raja kepada rakyatnya, juga dari Tuhan kepada manusia. Di lingkungan keraton, beberapa pohon beringin mendapat perlakuan khusus, yaitu diberi pacak suji. Pacak suji adalah pagar yang menghias sekeliling pohon, yang terbuat dari suji/sujen (bilah bambu dengan ujung runcing). Saat ini, pohon beringin yang dihias pagar di sekelilingnya dapat kita temukan di Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan Yogyakarta. Namun, bukan pagar yang terbuat dari suji/sujen lagi, melainkan pagar dari tembok. Oleh masyarakat, pohon beringin ini dijuluki dengan nama Ringin Kurung.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.02
Ringin kurung di alun-alu selatan

Pohon gayam melambangkan ketenteraman. Hal ini diambil dari nama gayam yang dimaknai dengan “ayem”. Selain itu, secara ekologi pohon gayam (Inocarpus Fagifor) memiliki akar yang dapat menyimpan banyak cadangan air, sehingga dapat menjaga pasokan mata air. Air merupakan sumber kehidupan. Jika ketersediaan mata air terjaga, maka akan tercipta rasa ayem atau tenteram dalam kehidupan manusia. Beberapa pohon gayam masih dapat kita temui di dekat gedung Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-Alun Selatan, Yogyakarta.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 15.29.03
Pohon gayam di dekat gedung Sasana Hinggil Dwi Abad

Dalam satu tembang saja, termuat cerita sejarah yang sedemikian rupa. Kini, setiap kali mengingat tembang tersebut, benak saya akan mengembara membayangkan keadaan sekitar berabad silam. Atau, bernostalgia ke masa kecil. Saat simbah putri melagukan tembang tersebut di tengah aktivitas beliau meracik bubur sumsum. Bait-bait syair Mijil yang mengudara, berpadu dengan suara mendidih bubur beras yang menciptakan gelembung-gelembung kecil di permukaannya, dan di antara aroma saus gula jawa yang menguar ke mana-mana.

*) gambar merupakan dokumen pribadi hasil penelusuran Desember 2017

**) tulisan ini termuat dalam buku antologi Stories of Your Life, Penerbit Laksana

 

Seni & Budaya

Pengalaman Mengikuti Diskusi Budaya di Bangsal Prabeya, Keraton, Yogyakarta

Hari Minggu pagi tanggal 5 Agustus 2018, warga Jalan Magangan Kulon tengah berbenah untuk menyambut HUT RI ke-73. Lagu-lagu kebangsaan diputar sementara para warga bergotong-royong memasang bendera, umbul-umbul, dan pernak-pernik HUT RI lainnya. Pada saat yang sama, di salah satu sudut Jalan Magangan Kulon, tepatnya sekitar 50 meter dari regol Kemagangan, berkumpul 50-an orang dari berbagai komunitas, media, dan masyarakat umum. Dengan wajah antusias, mereka siap menerima wawasan baru dalam diskusi budaya yang mengangkat tema “Gunungan, Simbol dan Maknanya”. Saya senang sekali bisa menjadi bagian dari masyarakat umum yang berkesempatan mengikuti diskusi tersebut.

Diskusi tersebut diselenggarakan di Bangsal Prabeya, konon merupakan sebuah bangunan yang digunakan sebagai dapur Keraton. Di belakang Bangsal Prabeya ini terdapat regol yang terhubung dengan Keraton Kilen, tempat tinggal HB X. Adapun diskusi budaya tersebut diselenggarakan oleh Malam Museum yang bekerja sama dengan Tepas Tandha Yekti. Mas Erwin, founder komunitas Malam Museum, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya diskusi budaya tersebut adalah dalam rangka mengajak anak-anak muda, khususnya para generasi millennial, agar lebih aware terhadap budaya bangsa sendiri. Dalam kesempatan itu pula, Mas Erwin mengimbau agar para peserta berkenan untuk menuliskan kembali apa yang telah didapat dari diskusi. Apa pun bentuknya. Baik berupa blog post, maupun sekadar postingan di medsos.

Diskusi Budaya 1
Mas Erwin sedang menjelaskan tujuan diselenggarakannya acara diskusi budaya kepada para peserta

Diskusi diawali dengan perkenalan singkat tentang Tepas Tandha Yekti oleh GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti) dan Mas Wiwit selaku pimpinan produksi yang bertanggung jawab mengurusi online present Keraton Yogyakarta. Jadi, sederhananya, Mas Wiwit itu tuh bertugas membuat konten untuk memperkenalkan Keraton Yogyakarta melalui media online, seperti website, Instagram, Twitter, dan bahkan Youtube.

Acara selanjutnya adalah pemutaran video terkait gunungan dan dilanjutkan ke pembahasan tema utama diskusi dengan narasumber KRT Kusumonegoro (penghageng Tepas Keprajuritan). Jujur saja, nih. Meskipun saya sering menonton upacara garebeg dan mengaku sebagai penggemar berat dari prajurit Keraton, ternyata pengetahuan saya tentang gunungan masih sedikit sekali. Dari diskusi ini, saya jadi tahu lebih banyak mengenai gunungan. Mulai dari sejarah, cara pembuatan, makna simbolik, hingga detail-detail terkecil yang terkait dengannya. Lebih lanjut tetang gunungan ini, nanti saya ceritakan di postingan yang lain saja, ya. Insya Allah.

Diskusi Budaya 3
Kiri-kanan: GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti), Mas Wiwit (Pimpro Tepas Tandha Yekti), Mas Erwin (founder komunitas Malam Museum)
Diskusi Budaya 4
KRT Kusumonegoro, penghageng Tepas Keprajuritan selaku pembicara 

Acara diskusi menjadi semakin semarak ketika dibuka sesi tanya jawab. Saya sempat menanyakan kepada pembicara tentang sikap masyarakat yang menjadikan bahan-bahan makanan yang mereka dapatkan dari merayah gunungan tersebut sebagai jimat. Ada yang meletakkannya di sawah dengan harapan panen jadi lancar. Pun ada yang menyimpannya di tempat-tempat tertentu sebagai tolak bala. Apakah memang seperti itu tujuan dari pembagian gunungan sebenarnya?

Menjawab pertanyaan saya tersebut, KRT Kusumonegoro mengatakan bahwa sikap masyarakat tersebut merupakan wujud dari betapa tingginya penghormatan mereka terhadap Keraton, sehingga menganggap segala sesuatu yang berasal dari dalam Keraton merupakan benda bertuah. Padahal, tujuan dari pembagian gunungan sendiri adalah untuk sedekah. Dengan demikian, sebenarnya bahan-bahan makanan dari gunungan itu tentu sebaiknya dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Dengan sedikit berseloroh, beliau berkata bahwa jika suatu hari nanti saya berhasil dapat sayuran hasil rayahan gunungan, lebih baik dimasak jadi jangan mbayung saja (sayur daun lembayung). Haha

Acara diskusi ditutup dengan foto bersama. Dan, saya berkesempatan berfoto bersama Gusti Hayu. :’)

Diskusi-Budaya-2-2380903516-1535777178199.jpg
Bersama GKR Hayu

Senang sekali bisa mengikuti acara yang sangat berfaedah ini, meskipun saya bukan termasuk bagian dari generasi milenial yang dimaksud oleh Mas Erwin. :)) Harapannya. acara-acara semacam ini dapat terus berlanjut dan mendapat semakin banyak peminat. Sebab seperti tujuan dari acara ini, acara-acara seperti ini bisa menjadi upaya untuk membuat generasi muda tetap memahami dan mencintai kebudayaan bangsa sendiri di tengah era globalisasi. Semoga.

Seni & Budaya

Prajurit Jogokaryo, Sang Penjaga Keamanan Kerajaan

4.Jagakarya
Gambar diambil dari web https://www.kratonjogja.id

Prajurit Jogokaryo dulu merupakan pasukan yang bertugas menjaga keamanan dan jalannya pemerintahan di kerajaan. Namanya berasal dari gabungan bahasa sansekerta ‘jogo’ yang berarti menjaga serta dari bahasa kawi ‘karyo’ yang berarti tugas atau pekerjaan. Dalam iring-iringan bregada prajurit Keraton Yogyakarta, Prajurit Jogokaryo berada pada urutan keempat setelah Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaeng, dan Prajurit Patangpuluh.

Dalam satu pasukan, Prajurit Jogokaryo terdiri atas 4 orang perwira, 8 orang bintara, 72 orang prajurit, serta 1 orang prajurit yang bertugas membawa dwaja atau panji-panji pasukan. Panji dari Prajurit Jogokaryo memiliki warna dasar merah dengan lingkaran berwarna hijau di bagian tengahnya, yang diberi nama papasan. Konon, nama tersebut memiliki makna “memapas” atau “menumpas”. Melambangkan Prajurit Jogokaryo sebagai pasukan yang gagah berani menumpas musuh-musuhnya.

Seragam yang dikenakan oleh Prajurit Jogokaryo berupa pakaian bermotif lurik dengan topi tempelangan (berbentuk kapal terbalik) berwarna hitam. Selain Jogokaryo, ada tiga pasukan lagi yang juga memakai pakaian bermotif lurik, yaitu Prajurit Patangpuluh, Prajurit Ketanggung, dan Prajurit Mantrijero. Prajurit Patangpuluh mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna merah, Prajurit Ketanggung mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna hitam, sementara Prajurit Matrijero dan Jogokaryo sama-sama memakai atasan dan celana lurik. Perbedaannya ada pada kaus kaki yang mereka kenakan. Prajurit Mantrijero memakai kaus kaki berwarna putih, sedangkan Prajurit Jogokaryo mengenakan kaus kaki berwarna hitam.

Gladi Resik Jogokaryo
Gambar dokumen pribadi

Prajurit Jogokaryo memiliki persenjataan berupa senapan, tombak, serta keris. Dalam iring-iringan kirab Prajurit Keraton, mereka juga dilengkapi dengan seperangkat alat musik, yaitu tambur, seruling, dan terompet. Ada dua macam iringan musik yang dimainkan oleh Prajurit Jogokaryo, yaitu Mars Tamengmaduro ketika mereka sedang berjalan cepat dan Mars Slanggunder ketika mereka sedang berjalan lambat dengan langkah yang sedikit digayakan.

Saya berkesempatan mengabadikan momen Prajurit Jogokaryo ini dalam gladi resik untuk acara Grebeg Syawal tahun Dal 1951, di Alun-alun Utara tanggal 10 Juni 2018 yang lalu. Suara terompet yang dibunyikan dengan irama khas sebagai penanda datangnya para Prajurit Jogokaryo, selalu berhasil membuat saya terkesima. Meskipun saat ini peran dari Prajurit Jogokaryo sudah sangat berbeda daripada dulu, akan tetapi pesona mereka serta kesembilan bregada lainnya tetap menarik perhatian masyarakat. Dan, saya termasuk di antaranya.

Seni & Budaya

Prajurit Lombok Abang, Sang Pengiring Gunungan dari Pakualaman

Bersama Prajurit Lombok Abang
Saya bersama Prajurit Lombok Abang

Banyak orang sering salah menggunakan nama Prajurit Lombok Abang untuk menyebut kesatuan prajurit yang ada pada urutan pertama dalam defile prajurit Keraton Yogyakarta. Nama pasukan tersebut yang sebenarnya adalah Prajurit Wirabraja. Terus terang, saya pun dulu mengira nama “Lombok Abang” merupakan julukan dari Prajurit Wirabraja yang diberikan oleh masyarakat. Sebab, seragam dan bentuk topi Prajurit Wirabraja memang menyerupai lombok abang atau cabai merah.

Belakangan saya tahu kalau Prajurit Lombok Abang itu ternyata ada sendiri, Guys. Jadi, Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Wirabraja itu merupakan dua kesatuan yang berbeda.

Lombok Abang merupakan kesatuan prajurit dari Puro Pakualaman. Selain Lombok Abang, ada satu pasukan lagi yang bernama Prajurit Plangkir. Prajurit Lombok Abang memiliki seragam dan atribut berwarna serba merah, sedangkan Prajurit Plangkir seragam dan atributnya berwarna serba hitam. Pada waktu acara garebeg, Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Plangkir bertugas mengiringi gunungan dari Keraton menuju ke Puro Pakualaman.

Foto saya bersama Prajurit Lombok Abang di atas diambil pada acara garebeg Syawal sekitar tahun 2014. Waktu itu pas nggak niat mau nonton garebeg. Hanya mendapat titah dari ibu buat mengondisikan ponakan-ponakan. Lalu, saya ajak saja mereka melipir ke Kemandungan Ler. 😀

 

 

Seni & Budaya

Asyiknya Nonton Gladhen Prajurit di Tengah Gerimis

Nonton kirab prajurit kraton merupakan agenda yang saya gemari sejak kecil. Waktu kecil, saya akan senang sekali ketika almarhum simbah wedok (mbah putri) mengajak saya ke alun-alun utara yang jaraknya tak jauh dari rumah untuk menyaksikan acara garebeg. Apa yang saya tunggu di acara itu? Tentu saja iring-iringan prajurit kraton yang mengantarkan gunungan keluar dari dalam kraton untuk selanjutnya nanti akan dirayah atau dibagi-bagikan ke masyarakat. Iring-iringan bregada prajurit kraton yang berbaris dengan diiringi istrumen perpaduan genderang, seruling, dan terompet yang dibunyikan dengan irama lambat sungguh membuat saya terpesona.

Bahkan, saya tak segan  duduk bersila dengan nyaman di atas rumput pinggir trotoar. Tak peduli jika sesekali harus menggaruk kaki yang gatal akibat digigit semut api yang bersarang pada akar rumput di dalam tanah. Hal ini tentu sudah tak bisa lagi saya lakukan saat ini. Selain karena rumput yang ada di alun-alun tidak serimbun dulu sehingga tidak memungkinkan untuk bersila di sana, juga karena sudah tua oiii… jadi nggak bisa sebebas waktu masih kecil. Hahaha

Namun demikian, bertambahnya usia tidak menyurutkan kegemaran saya untuk nonton kirab prajurit Kraton. Dulu, selain di acara Garebegnya, saya biasanya juga menyaksikan arak-arakan para prajurit itu ketika mereka latihan dan lewat di depan rumah. 😀 Namun, belakangan pihak pariwisata Kraton membuat agenda sendiri untuk latihan prajurit ini sehingga bisa disaksikan oleh masyarakat luas. Agenda tersebut diberi tajuk “Gladhen Prajurit”. Nah, pada postingan ini saya mau cerita pengalaman saya waktu nonton gladhen prajurit dalam rangka acara Garebeg Maulud tahun Dal 1951. Late post banget sih emang. 😀

GP 1
Hujan-hujan stand by di alun-alun utara 😀

Dalam setahun, setidaknya ada tiga kali acara garebeg, yaitu pada waktu Idulfitri, Iduladha, dan Maulud Nabi Muhammad saw. Dari masing-masing acara garebeg tersebut, pasti ada gladhen-nya. Saya kurang tahu juga berapa kali persisnya mereka latihan. Tapi, acara “Gladhen Prajurit” selalu bisa ditonton setidaknya dalam tiga kali garebeg itu. Dalam acara gladhen ini, para prajurit belum memakai kostum dan atribut lengkap. Mereka memakai “pakaian dinas”-nya para abdi dalem. Kalau tidak salah, pakaian ini disebut dengan nama “baju peranakan”, yaitu satu set baju atasan lurik, bawahan jarik, serta ikat kepala blangkon. Tak ketinggalan keris yang terselip di pinggang.

Terkait baju peranakan, ternyata setiap detail dari baju ini memiliki makna tersendiri, loh. Dari laman Facebook Kraton Jogja dijelaskan bahwa dalam baju peranakan terdapat 6 buah kancing di bagian leher yang melambangkan rukun iman dan 5 buah kancing di ujung lengan menyimbolkan rukun Islam. Adapun nama “peranakan” itu sendiri memiliki makna “satu keturunan”. Nama ini bukan tanpa maksud. Kata “peranakan” dipilih untuk menjadi nama pakaian dinas para abdi dalem sebagai wujud harapan agar para abdi dalem satu sama lain saling menjaga hubungan harmonis layaknya saudara kandung atau saudara satu keturunan.

GP 2
Para prajurit  keraton Yogyakarta dengan pakaian peranakan

Kembali ke acara Gladhen Prajurit, waktu itu saya sempat pesimis tidak jadi nonton acara yang sudah saya tunggu-tunggu ini, sebab tiba-tiba hujan turun deras sekali. Sampai pada jam di mana acara seharusnya dimulai, hujan tidak kunjung reda. Malah semakin deras. Saya pikir, “Ah, jangan-jangan gladhen-nya juga nggak jadi, nih. Hujan begini.” Tapi, tak lama kemudian, dari rumah terdengar sayup-sayup suara terompet dan genderang. Walah… sudah mulai yak! Akhirnya, saya dan kawan nekat pakai payung menuju ke lokasi.

Awalnya kami menyaksikan arak-arakan mereka dari Kemandhungan Ler atau Keben. Di tengah hujan deras, para prajurit itu tetap semangat menabuh genderang, meniup terompet, dan berbaris masuk ke dalam salah satu areal di Keraton, yang kemudian nanti akan keluar kembali melalui gerbang Pagelaran Keraton. Salut, deh. Para prajurit itu yang sebagian juga terdiri dari bapak-bapak sepuh, tetap semangat meski hujan sedang lebat.

GP 3
Tetap semangat meski sedang hujan

Karena kami nggak boleh ikut masuk ke dalam areal Kraton, maka dari Kemandungan Ler kami kemudian langsung ngacir ke alun-alun utara dan menunggu para prajurit keluar dari pintu gerbang Pagelaran Kraton. Di sana, ternyata banyak juga orang-orang yang sudah berdiri di tepi trotoar untuk menyaksikan Gladhen Prajurit. Meski waktu itu hujan belum sepenuhnya reda. Masih ada gerimis tipis-tipis.

Nah, karena pada waktu itu bertepatan dengan tahun Dal, maka rangkaian acara garebeg pada waktu itu pun berbeda dari tahun-tahun biasanya. Konon tahun Dal ini hanya terjadi selama 8 tahun sekali, demikian kata salah satu bapak prajuritnya waktu saya tanya. Jadi, kalau biasanya gunungan akan langsung dirayah oleh masyarakat sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan, pada tahun tahun Dal ini ada satu gunungan lagi yang harus para prajurit bawa pulang kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para kerabat Keraton. Gunungan tersebut dinamakan gunungan Bromo. Sebelumnya, gunungan Bromo akan ikut diarak bersama gunungan yang lain. Dua gunungan lanang kemudian dibawa ke Kepatihan dan Puro Pakualaman, lima gunungan dibagikan kepada masyarakat di pelataran Masjid Gedhe Kauman, sedangkan gunungan Bromo dibawa kembali ke Kraton. Pada waktu gladhen, gunungannya belum dibawa tentu saja.

GP 4
Menunggu gunungan Bromo dibacakan doa di pelataran Masjid Gedhe Kauman

Bagi saya sendiri, sebenarnya lebih menyukai nonton Gladhen Prajurit daripada waktu acara garebeg-nya. Meskipun belum ada gunungan serta para prajuritnya belum memakai atribut dan kostum lengkap, tapi saya lebih bisa menikmati rangkaian acaranya. Sebab, pada waktu garebeg biasanya akan crowded sekali. Alih-alih menikmati acara, saya harus berjibaku senggol-senggolan dengan penonton lainnya. Pernah suatu kali, saya hampir berakhir di tangan paramedis karena dehidrasi waktu nonton garebeg. Untung nggak pingsan. Kan, malu kalau sampai pingsan. 😀

Kuliner · Seni & Budaya

Filosofi Ketan, Kolak, dan Apem dalam Tradisi Ruwahan

Setiap menjelang bulan puasa, ada suatu tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa, yaitu Ruwahan. Ruwahan dilaksanakan pada bulan Ruwah, yang bertepatan dengan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Salah satu hal yang paling identik dari tradisi ini adalah makanan tradisional ketan, kolak, dan apem. Biasanya 10 hari menjelang bulan puasa tiba, ibu-ibu mulai sibuk membuat sajian ini yang kemudian dibagi-bagikan ke tetangga-tetangga di kampung. Ada pula yang disertai dengan kenduri.

Dan, sebagaimana lazimnya masyarakat Jawa yang senang bermain dengan simbol-simbol, makanan ketan, kolak, dan apem ini ternyata juga memiliki makna filosofisnya sendiri.

  1. Ketan

Ketan merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dikukus. Rasanya manis dan mengenyangkan. Nama ketan sendiri dalam kepercayaan masyarakat Jawa memiliki banyak makna.

Ketan dapat diartikan sebagai “kraketan” atau “ngraketke ikatan”, yang artinya “merekatkan ikatan”. Maka, ketan dapat menjadi simbol eratnya persaudaraan antarsesama manusia.

Nama ketan juga konon diambil dari kata “khatam” dari bahasa Arab yang berarti “tamat”. Hal ini menyimbolkan umat dari nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw.

Nama ketan juga diambil dari kata bahasa Arab lainnya, yaitu “khotan” yang artinya “kesalahan”. Lalu, dari bahasa Jawa “kemutan” yang berarti “teringat”. Dalam konteks ini, nama ketan menyimbolkan sebuah perenungan atau introspeksi diri sendiri atas kesalahan-kesalahan dan dosa yang telah dilakukan.

ketan
Gambar diambil dari okefoods.blogspot.com
  1. Kolak

Kolak adalah makanan yang terbuat dari pisang, ubi, kolang-kaling, yang direbus bersama kuah campuran santan dan gula jawa. Nama kolak sendiri konon diambil dari kata “khalaqa” yang artinya “menciptakan”. Atau “khaliq” yang berarti “sang pencipta”. Dalam hal ini merujuk kepada Allah swt.

kolak
Gambar diambil dari resepmasakankreatif.com
  1. Apem

Apem merupakan kue tradisional yang tebuat dari tepung beras. Bentuknya bulat pipih, dan biasanya dimasak di atas wajan kecil atau cetakan khusus dengan bara api kecil. Nama apem diambil dari kata “afwan” dalam bahasa Arab, yang berarti memohon ampunan.

apem
Gambar diambil dari gerberasnackshop.wordpress.com

Apabila ditarik kesimpulan, dari ketiga makanan tersebut jika dihubungkan akan menggambarkan sebuah nasihat. Pertama-tama, sebagai umat Nabi Muhammad saw, kita harus senantiasa mengingat dosa-dosa yang telah kita perbuat. Lalu, kita diharapkan untuk segera kembali kepada-Nya. Bertobat dan memohon ampunan kepada Sang Pencipta, Allah swt. Sebagaimana esensi dari bulan puasa itu sendiri. Bulan tempat refleksi diri, bulan untuk me-recharge kembali keimanan kita.

Yah, ini adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang konon merupakan kreativitas dari para pendakwah zaman dahulu. Dahulu, para pendakwah di tanah Jawa menggunakan cara-cara semacam ini agar dapat masuk, diterima, dan menyampaikan ilmu agama dengan mudah di masyarakat. Tentu saja, ada pro dan kontra terkait tradisi ini di masa kini. Namun, tidak perlu berdebat sampai adu urat. Kita hanya perlu cerdas untuk memilah dan memilih mana yang merupakan syariat dan mana yang berupa adat, sehingga bisa meluruskan niat antara menjalankan perintah agama atau melestarikan budaya. 🙂

Kuliner · Seni & Budaya

Lopis Ketan, Simbol Eratnya Persaudaraan

Masyarakat Jawa memang selalu senang bermain dengan simbol-simbol. Melalui simbol-simbol itulah mereka mengajarkan nilai-nilai atau pesan moral kepada anak cucunya. Pesan moral ini tersembunyi hampir di setiap aspek kehidupan mereka. Bahkan, dari hal yang kecil sekalipun. Termasuk, dalam hal kuliner.

Bicara masalah kuliner, ada salah satu jajanan tradisional Jawa yang masih cukup digemari oleh masyarakat, di tengah masuknya beragam makan-makanan modern dewasa ini. Sebut saja, kue lopis. Kue tradisional ini masih dapat kita jumpai di pasar-pasar tradisonal. Umumnya, lopis dijual bersamaan dengan makanan tradisional yang lain, seperti ketan, cenil, gethuk, grontol (jagung pipil rebus), dan lain-lain. Bahan baku pembuatan kue lopis adalah ketan, yang dimasak dengan bungkus daun pisang, dibentuk menyerupai lontong. Penyajiannya dengan cara dipotong tipis-tipis, lalu disiram saus gula jawa serta parutan kelapa. Kue lopis biasanya disajikan sebagai makanan pembuka, atau dapat pula menjadi camilan berat.

Lopis ketan
Ibu penjual lopis di pasar tradisional dekat rumah saya

Sebagai makanan tradisional Jawa, kue lopis juga tak lepas dari simbol-simbol. Berdasarkan bahan baku dan cara pembuatannya, ternyata kue lopis menyimbolkan sebuah rasa persaudaraan yang sangat erat. Bahan baku lopis yang terbuat dari ketan, melambangkan sebuah persatuan. Sesuai dengan makna dari nama ketan itu sendiri, yaitu “Kraketan”. Kraket berarti erat. Setelah direbus, ketan akan menjadi sangat lengket. Lebih lengket dibandingkan nasi. Setiap butir ketan yang telah direbus akan lengket satu sama lain sehingga menjadi satu. Hal ini melambangkan bahwa sebagai sesama kita harus saling peduli dan mengingatkan kepada kebaikan.

Adapun warna beras ketan yang putih bersih, melambangkan kesucian hati. Sedangkan, bungkusnya yang dari daun pisang berwarna hijau, melambangkan kemakmuran. Wah! Ternyata, dari jajanan sederhana nan lezat ini, terkandung pesan yang sedemikian rupa. 😀

Seni & Budaya

Prajurit Kraton Dulu dan Kini

prajurit-kraton-yogyakarta

Prajurit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa sekarang mungkin hanyalah menjadi salah satu simbol budaya warisan leluhur terdahulu. Kehadirannya bisa kita temui dalam acara-acara kebudayaan di Yogyakarta, seperti dalam Upacara Grebeg sebagai pengiring keluarnya Gunungan dari Kraton yang kemudian akan dibagi-bagikan kepada masyarakat. Sebagai simbol budaya, tak bisa dipungkiri bahwa pesona para prajurit kraton ini masih begitu memikat masyarakat Jawa pada umumnya, dan Yogyakarta pada khususnya. Terbukti, mereka rela berduyun-duyun datang ke Yogya dari segala penjuru demi bisa menyaksikan kirab prajurit kraton. Dengan bersenjatakan senapan dan tombak panjang, para prajurit kraton berbaris dengan gagah. Diiringi instrumen berirama lambat, perpaduan antara genderang, seruling, dan terompet. Menyimbolkan bahwasanya di balik sosok-sosok yang gagah itu, tersimpan jiwa yang lembah manah (sopan dan santun). Khas Yogyakarta.

Prajurit kraton dibentuk oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada abad ke-17, tepatnya pada tahun 1755. Falsafah dasar yang digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I ketika membentuk prajurit kraton ini adalah watak kesatria atau “Wataking Satriya Ngayogyakarta” yang berlandaskan pada kredo SawijiGregetSengguhOra Mingkuh. Sebagai falsafah hidup, Sawiji dapat diartikan sebagai sifat persatuan, bersatu untuk mencapai satu tujuan. Greget dimaknai sebagai semangat hidup atau kegigihan dalam berjuang. Sengguh berarti percaya diri dengan kemampuannya, akan tetapi tidak sombong dan tetap rendah hati. Sedangkan, ora mingkuh berarti sifat bertanggung jawab, pantang menyerah, dan tidak akan pernah mundur menghadapi segala tantangan yang menghadang dengan tetap tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa. Falsafah tersebut digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai landasan dalam pembentukan watak para prajurit kraton, yang harapannya nanti akan tercipta watak luhur yang berdasar pada idealisme serta komitmen untuk menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, integritas moral, serta nurani yang bersih dalam pengabdiannya terhadap nusa, bangsa, dan negara.

 

Adapun mengenai seragam dan atribut yang dikenakan oleh para prajurit kraton ini adalah berupa pakaian yang menjadi identitas dari orang Yogyakarta, yaitu Surjan. Sri Sultan Hamengku Buwono I telah menetapkan surjan ini sebagai pakaian identitas masyarakat Yogyakarta, beberapa waktu setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti.

Prajurit kraton Yogyakarta terdiri dari 10 bregada/prajurit, yaitu Bregada Wirabraja, Bregada Dhaeng, Bregada Patangpuluh, Bregada Jagakarya, Bregada Prawiratama, Bredaga Nyutra, Bregada Ketanggung, Bregada Mantrijero, Bregada Bugis, dan Bregada Surakarsa. Layaknya seorang prajurit, para prajurit kraton ini pada masa lalu juga ikut berperang melawan penjajah. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, para prajurit yang dulu dikenal dengan nama Prajurit Mataram ini pernah dua kali melakukan penyerbuan ke benteng VOC di Batavia (Jakarta) pada tahun 1628 dan 1629 atas perintah Sultan Agung. Mereka juga pernah perang menghadapi serbuan pasukan Inggris di bawah pimpinan Jenderal Gillespie pada bulan Juni 1812. Dulu mereka dipersenjatai bedil dan meriam. Bahkan, dalam beberapa catatan sejarah diceritakan bahwa pasukan dari Kraton ini cukup kuat, sehingga pasukan Inggris kewalahan. Dan masih banyak lagi perjuangan mereka melawan penjajah dari beberapa zaman.

Sayangnya, semenjak masa pemerintahan Hamengku  Buwono III, kompeni Inggris membubarkan angkatan perang Kasultanan Yogyakarta ini dalam sebuah perjanjian tanggal 2 Oktober 1813, yang ditandatangani oleh Sultan Hamengku Buwono III dan Raffles. Maka, sejak saat itulah peran dan fungsi prajurit kraton sebagai prajurit perang kemudian bergeser menjadi sebagai pengawal sultan dan penjaga kraton saja.

Pada masa kini, fungsi prajurit kraton kembali bergeser menjadi prajurit yang hanya muncul pada acara-acara seremonial yang diadakan kraton. Namun demikian, kita tetap wajib menaruh hormat yang tinggi, mengingat peran dan jasa-jasa mereka terhadap bangsa dan negara. Meskipun kini mereka bukanlah pasukan yang turut serta berjuang mengusir penjajah seperti tempo dulu, mereka harus tetap ada. Agar anak cucu kita nanti bisa ikut mengenang sejarah bahwa dulu negara Ngayogyakarta Hadiningrat (kini Kota Yogyakarta) pernah mempunyai pasukan perang yang tangguh dan ditakuti musuh.

 

*) Gambar diambil dari forum.viva.co.id

Seni & Budaya · Suka-Suka

Raja Kamehameha

Ketika mendengar kata “kamehameha”, yang terbayang di benak kita mungkin adalah jurus andalan si bocah bernama Goku yang bersama teman-temannya berusaha mengumpulkan tujuh bola ajaib pengabul setiap keinginan yang disebut sebagai Dragon Ball. Namun, tahukan bahwa sesungguhnya Kamehameha itu merupakan nama raja di Hawaii? Ada lima Raja Kamehameha yang pernah memimpin di Hawaii.

Raja Kamehameha I (1758–1819) memerintah sekitar tahun 1782  hingga tahun 1819. Raja yang dikenal juga sebagai King Kamehameha The Great adalah sosok raja yang sangat dicintai oleh masyarakat Hawaii, sebab pada masa pemerintahannya berhasil menjaga perdamaian dan kemakmuran, dengan cara membangun aliansi dengan negara-negara besar di Samudera Pasifik. Dia juga dikenal sebagai pembela nila-nilai tradisional Hawaii, dan salah satu sistem hukum yang dideklarasikannya, mamalahoe, kini menjadi sistem hukum yang dipergunakan di seluruh dunia untuk melindungi hak asasi manusia kaum sipil di dalam peperangan.

kamehameha-1
Raja Kamehameha I

Setelah Raja Kamehameha I meninggal, takhtanya digantikan oleh anaknya, Liholiho (1797–1824), yang kemudian dikenal sebagai Raja Kamehameha II. Liholiho memiliki nama lengkap Kalaninui kua Liholiho i ke kapu ‘Iolani, dan bertambah panjang menjadi Kalani Kalei’aimoku o Kaiwikapu o La’amea i Kauikawekiu Ahilapalapa Keali’i Kauinamoku o Kahekili Kalaninui i Mamao ‘Iolani i Ka Liholiho. Raja Kamehameha II ini hanya memerintah selama 5 tahun 55 hari (20 Mei 1819–14 Juli 1824), sebab ia meninggal di usia yang muda, 27 tahun.

kamehameha-2
Raja Kamehameha II

Raja Kamehameha II kemudian digantikan oleh adiknya, Raja Kamehameha III (1813–1854). Nama lengkapnya adalah Keaweaw’ula Kiwala’o Kauikeaouli Kaleiopapa. Saat naik takhta, namanya menjadi semakin panjang, yaitu Keaweaweula Kiwalao Kauikeaouli Kaleiopapa Kalani Waiakua Kalanikau Iokikilo Kiwalao i ke kapu Kamehameha. Raja Kamehameha III ini menjadi raja Hawaii yang memerintah paling lama, yaitu 29 tahun 192 hari (6 Juni 1825–15 Desember 1854). Selama masa pemerintahannya, Hawaii berubah dari monarki absolut ke monarki konstitusional Kristen, yang bertujuan untuk menyeimbangkan Hawaii dengan modernisasi Barat tanpa melupakan keutuhan negara.

kamehameha-3
Raja Kamehameha III

Takhta berikutnya jatuh kepada Raja Kamehameha IV, yang bernama asli Alexander Iolani Liholiho Keawenui (1834–1863). Pada masa pemerintahannya, dia mengeluarkan pernyataan sikap netral terhadap Perang Saudara Amerika dan melakukan kampanye untuk membatasi ketergantungan Hawaii terhadap Amerika Serikat. Kamehameha IV memerintah selama 8 tahun 323 hari (11 Januari 1855–30 November 1863). Ia meninggal pada usia 29 tahun karena penyakit asma. Takhtanya kemudian digantikan oleh saudaranya, Kamehameha V.

kamehameha-4
Raja Kamehameha IV

Kamehameha V memiliki nama asli Lot Kapuāiwa (1830–1872). Ia berkuasa selama 9 tahun 11 hari (30 November 1863–11 Desember 1872) dan merupakan raja terakhir dari Dinasti Kamehameha. Kamehameha V meninggal pada usia 42 tahun tanpa menunjuk seorang penerus. Maka, sesuai denga tradisi kerajaan, penerusnya kemudian ditunjuk sendiri oleh keluarga kerajaan Hawaii yang masih hidup, yaitu sepupu dari Kamehameha V yang bernama Lunalilo.

kamehameha-5
Raja Kamehameha V

Sampai sekarang, wujud bukti kebesaran Raja Kamehameha ini masih dapat kita saksikan melalui empat patung yang dibangun oleh masyarakat Hawaii untuk mengenang jasa-jasa mereka. Salah satu patung terletak di depan Istana Iolani di pusat Kota Honolulu, sedangkan tiga lainnya berada di Kohala, dekat pusat Kota Hilo dan Washington DC. Patung-patung tersebut menjadi landmark yang terkenal dan dikunjungi banyak wisatawan.

*dari berbagai sumber

Seni & Budaya

Tumplak Punjen: Wujud Syukur Atas Selesainya Tugas Orang Tua

Sebagian orang mungkin ada yang belum mengenal upacara adat yang satu ini. Salah satu rangkaian prosesi upacara pernikahan adat Jawa, yang mana dilaksanakan pada saat orang tua mengadakan pernikahan anaknya yang terakhir. Nama Tumplak Punjen itu sendiri berasal dari kata tumplak yang berarti tumpah (keluar semua), dan punjen yang artinya sesuatu yang dipanggul (anak yang menjadi tanggungan orang tua). Kata punjen dapat dimaknai juga sebagai pundi-pundi, yang menyimbolkan harta benda hasil jerih payah orang tua.

Dalam budaya Jawa, orang tua memiliki tiga kewajiban terhadap anak-anaknya, yaitu memberi nama yang baik (nama yang berisi harapan dan doa untuk anak-anaknya), mendidik, dan yang terakhir adalah menikahkan. Ketika orang tua telah menikahkan anaknya yang terakhir, maka upacara Tumplak Punjen ini dilakukan sebagai tanda bahwa orang tua telah menyelesaikan seluruh kewajiban mereka kepada anak-anaknya.

Adapun pelaksanaan prosesi Tumplak Punjen ini sendiri dilakukan pada saat acara Panggih Temanten. Acara dimulai dengan sambutan dari salah seorang anak yang mewakili saudara-saudaranya, yang ditujukan kepada bapak dan ibunya. Dalam sambutannya tersebut, sang anak dapat menyampaikan ungkapan terima kasih atas jasa-jasa orang tua kepada mereka. Setelah itu, giliran orang tua yang memberikan jawaban atas sambutan dari anaknya. Kemudian dilanjutkan dengan sungkeman, yang dimulai dari anak tertua hingga si bungsu (sang pengantin) beserta para pasangan masing-masing.

Ketika sungkem, orang tua akan memberikan kantung-kantung kecil yang berisi biji-bijian (beras kuning, kedelai, jagung, empon-empon), bunga sritaman, dan uang. Prosesi ini menyimbolkan orang tua memberi modal kepada anak-anaknya untuk mengarungi hidup yang baru. Modal yang dimaksud bukan hanya berupa harta benda, melainkan juga modal ilmu, budi pekerti, dan agama.

Setelah sungkeman selesai, orang tua menyebar udhik-udhik yang berada dalam bokor, yang kemudian bisa diperebutkan oleh anak, menantu, cucu, dan seluruh tamu undangan. Yang dimaksud dengan udhik-udhik itu sendiri adalah sama seperti isi kantung-kantung kecil yang sebelumnya diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya ketika sungkeman, yaitu berupa biji-bijan, bunga sritaman, dan uang receh. Saat prosesi menyebar udhik-udhik ini, orang tua harus menyisakannya untuk kemudian ditumplak atau ditumpahkan di depan pelaminan, sebagai syarat dari upacara Tumplak Punjen bagi anak terakhirnya.

images
Udhik-Udhik (Gambar diambil dari cridealits.blogspot.com)

Dalam perkembangannya, pelaksanaan prosesi Tumplak Punjen ini memiliki beberapa perbedaan dari upacara aslinya. Perbedaan ini terjadi sesuai dengan perubahan zaman. Seperti misalnya, upacara Tumplak Punjen tidak melulu dilaksanakan pada acara pernikahan si bungsu. Sebab tak jarang terjadi anak bungsu yang menikah lebih dulu daripada kakaknya. Maka, Tumplak Punjen ini dilaksanakan pada hajatan terakhir yang diadakan oleh orang tua, meskipun itu bukan pernikahan anak bungsunya. Perbedaan lainnya ada pada salah satu ubo rampe Tumplak Punjen yang sebelumnya berupa uang receh, baik logam ataupun kertas, pada zaman sekarang dapat diganti dengan hadiah berupa perhiasan atau barang berharga lainnya. Ada juga yang hanya memberikan udhik-udhik tersebut sebagai souvenir yang dibagikan kepada para tamu undangan, bukan disebar dan dirayah sebagaimana sebelumnya.

tumplak punjen
Contoh souvenir yang berisi udhik-udik untuk para tamu undangan (gambar diambil dari: http://corojowo.blogspot.co.id)

Bagaimanapun cara pelaksanaannya, baiknya kita ambil saja makna dan tujuan dari prosesi Tumplak Punjen itu sendiri. Selain sebagai wujud syukur orang tua kepada Allah Swt. karena telah selesainya tugas mereka membesarkan, mendidik, hingga menikahkan anak-anaknya, juga sebagai tanda cinta kasih orang tua, tanda bakti anak (ditandai dengan sungkeman), teladan untuk bersedekah kepada sesama, dan harapan serta doa orang tua untuk kebahagiaan anak dan cucunya.