Suka-Suka

Belajar Menjadi Manusia Tanpa Smartphone

9568276_201803180938090520
gambar diambil dari https://www.kaskus.co.id

Belakangan ini, saya sering merasa ingin kembali ke zaman di mana belum ada smartphone. Zaman di mana kita harus sabar menunggu beberapa hari untuk bertegur sapa dengan kawan yang terpisahkan jauh jarak. Menunggu ketika Pak Pos datang membawakan sepucuk surat balasan dari kawan lama. Bukannya saya tidak mau menerima kemajuan zaman, saya hanya merasa kesepian di tengah keramaian. Saya hanya merasa hampa di tengah gempuran chat whatsapp yang seolah tidak ada habisnya. Ramai, sih. Tapi, hati ini rasanya kosong karena terlalu banyak haha hihi. Intinya, saya hanya ingin menikmati melipir sejenak dari hiruk pikuk yang mungkin ditimbulkan dari handphone pintar ini.

Bayangkan saja, misal dari satu handphone terinstal beberapa aplikasi sosial media, seperti facebook, twitter, instagram, path, dan sebagainya, yang kesemuanya dalam posisi log in. Maka, harus siap mendapatkan notifikasi masuk kapan saja.

Itu baru akun medsos, belum aplikasi messenger seperti whatsapp, BBM, Line, dan lain sebagainya. Dan, di masing-maing platform messenger kita join ke dalam beberapa grup. Grup ini kadang juga bukan kemauan kita untuk gabung, hanya dimasukkan oleh teman yang tidak kuasa ditolak demi kesopanan. Nah, kalau saja setiap grup sedang ramai. Bayangkan handphone tidak akan berhenti bergetar dan berbunyi “tang-ting-tang-ting”. Pusyiinngg…

Saya pribadi hanya pakai satu aplikasi messenger, yaitu Whatsapp. Lalu, beberapa grup juga sudah saya silent (hehe… piss!). Namun demikian, tetap saja perhatian teralih saat tahu ada banyak chat yang belum terbaca. Jadi penasaran untuk membacanya satu-satu. Akhirnya, buang-buang waktu. Saya sering diam-diam leave grup demi kesehatan jiwa. Tapi sialnya, setiap kali leave saya selalu tertangkap basah. :))

Gabung dengan grup-grup seperti itu sebenarnya seru, sih. Bisa punya teman ngobrol seru-seruan saat sedang merasa kesepian. Pun bisa saling berbagi informasi. Namun, ada kalanya saya ingin menyepi dan tidak berinteraksi dengan banyak orang untuk sementara waktu. Nah, inti dari tulisan ini sebenarnya adalah saya cuma mau curhat saja, sih. Daripada jadi penyakit kalau cuma dipendam, jadi sebaiknya diceritakan. Dan, saya nggak tahu mesti cerita ke siapa yang paling tepat. Makanya, saya nyampah di sini saja. Hahaha mo’on maap ya pemirsa…. 😀

Suka-Suka

Review Ala-Ala Lagu Mirasantika Rhoma Irama: Say No To Drugs

Singkat saja, karena saya sedang lemes, haha. Postingan ini terilhami dari kawan saya, Mpok Nanik, yang begitu menggemari Bang Haji Rhoma Irama. 😀

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan lagu milik Bang Haji Rhoma Irama ini. Liriknya yang cukup menggelitik karena adanya repetisi dari kata “tak”, tak jarang akan membuat kita senyum-senyum sendiri setiap kali mendengarnya. Namun demikian, di samping liriknya yang lucu itu, lagu ini sebenarnya mengandung nasihat yang cukup penting.

Dalam lagu Mirasantika, terdapat pesan agar kita senantiasa “Say No to Drugs!”. Sebab, minuman keras dan narkotika itu dapat membawa kita kepada banyak hal-hal buruk, yang pada akhirnya tidak hanya akan merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.

Gara-gara kamu orang bisa menjadi gila

Gara-gara kamu orang bisa putus sekolah

Gara-gara kamu orang bisa menjadi edan

Gara-gara kamu orang kehilangan masa depan

Tentu kita semua sudah tahu belakangan ini banyak berita-berita menyeramkan yang kesemua itu diakibatkan oleh miras dan obat-obatan terlarang. Sebagaimana kata Bang Haji dalam lagunya, minuman keras dan obat-obatan terlarang itu dapat menghancurkan hidup dan merusakkan jiwa. Maka, jangan sekali-kali mendekati benda-benda haram itu. Say no to drugs! Katakan, “Tak-tak-tak-tak-tak ku tak sudi tak sudi tak!

Suka-Suka

Terus Bergerak, Jangan Berhenti

keep moving
(gambar diambil dari sini)

Pernahkah kamu merasa kalau hidup ini amatlah lucu. Bisa saja, menit ini kamu merasa sangat bahagia, tapi menit berikutnya kamu nelangsa. Pun sebaliknya.

Contohnya:

Pagi hari, kamu masih bisa sayang-sayangan sama buku favorit. Lalu sore harinya, buku itu rusak karena keteledoranmu sendiri.

Atau mungkin, kamu sudah jatuh bangun menyelesaikan satu level games. Tinggal selangkah saja. Lalu tiba-tiba, musuh datang sehingga game over dan membuat seluruh usahamu sia-sia.

Atau bisa jadi, kamu sudah penuh kesabaran ekstra men-download satu episode drama Korea. Sudah sampai 90%, tinggal sedikit lagi download-an paripurna. Lalu tiba-tiba, koneksi internet mati. Membuatmu pengen nangis seprovinsi.

Atau bisa juga, saat ini kamu tengah lelah dan ingin menyerah memikirkan seseorang yang belakangan ini selalu wara-wiri di pikiranmu. Lalu suatu saat nanti, kamu menyadari bahwa ada orang lain yang diam-diam ingin mengendap-endap masuk ke hatimu.

Nah, sesungguhnya kesemuanya itu wajar adanya. Karena sejatinya segala sedih, duka, sakit hati, patah hati itu ada untuk mengingatkan bahwa kamu masih hidup. Semua itu ada untuk memberikan pelajaran baru, pemahaman baru, kekuatan baru, dan membuat kita menjadi pribadi yang baru.

Yang harus dilakukan hanyalah terus bergerak. Sebagaimana hidup yang harus terus berjalan. Sedih boleh, tapi sebentar saja. Setelah itu, berdamailah dengan masa lalu dan segera move on. Sebab percayalah, yang akan datang kepadamu pasti lebih baik untukmu daripada yang telah lalu.

“Indeed what is to come will be better for you than what has gone by.”

(QS. Ad-Dhuha, 93:4)

Suka-Suka

Gara-Gara Ayam Geprek

(gambar diambil dari https://hellosehat.com)

Kalau ada makanan yang dapat mengubah hidup saya, maka itu adalah ayam geprek. Sebagai chilli haters, selama ini saya selalu menyatakan diri kalau saya ini bukannya nggak berani makan sambel, melainkan nggak suka. Nggak berani dan nggak suka adalah dua hal yang berbeda. Nggak berani itu masalah nyali. Sedangkan nggak suka, masalah selera.

Saya suka heran sama teman-teman yang asyik makan pedas hingga air mata berlinangan dan bibirnya tak henti mengeluarkan desisan. Weh, itu makan atau kesurupan? Lalu mereka bilang, “Makan kalau nggak pakai sambel itu nggak nikmat.” Sementara saya bilang, “Gimana bisa menikmati kalau kudu megap-megap, kan?” Selanjutnya, mereka akan meragukan tulisan di KTP saya, “Kamu beneran orang Indonesia? Bukan Eropa?”

Hingga suatu hari, ayam geprek mengubah segalanya. Berawal dari seorang kawan yang mengeluhkan tak ada sambel di nasi kotaknya. Lalu saya sodorkan cabai gorengan sebagai pengganti sambalnya.

Dia bilang, “Mbak, aku cari sambal, bukan cabai.”

Saya: “Halah sama aja. Yang penting pedas, kan?”

Dia: “Aku makan sambal itu bukan cari pedasnya, Mbak. Tapi, cari enaknya.”

Nah, jawaban dia ini berbeda dari testimoni kebanyakan orang tentang sambal. Orang umumnya mencari kenikmatan saat makan sambal, sedangkan teman saya mencari enak. Jadi, apa benar sambal itu enak? Ingin membuktikan ucapan teman saya itu, akhirnya saya mencobanya sendiri. Saya bereksperimen sendiri dengan membuat ayam geprek.

Dan, benar! Memang enak. Paduan antara cabai rawit, bawang putih, garam, dan sedikit micin (#eh), sungguh menggugah selera saya. Sejak saat itu, saya mulai keranjingan menggeprek segala jenis bahan makanan. Mulai dari ayam, ikan, tempe, telur, perkedel, dan bahkan tahu bulat. Lol

Tapi sebagai newbie dalam dunia persambelan, perut saya hanya dapat bertahan dengan cabai satu saja. Pernah nekat mencoba cabai dua, akhirnya mules datang melanda. :))

Kpop & Kdrama · Suka-Suka

Bos Otak dan Anak Buahnya

Song Song Couple
(gambar diambil dari KapanLagi.com)

Sudah pernah merasakan bagaimana mata, tangan, dan mulut berkolaborasi untuk membangkang dari otak? Saya pernah.

Begini ceritanya:

Suatu hari, saat baca naskah saya menemukan kalimat yang kurang lebih begini bunyinya: “Perusahaan memutasi beberapa karyawannya.” Tapi, entah kenapa terbaca jadi: “Perusahaan memutilasi beberapa karyawannya.” -_-.

Maka untuk beberapa detik, saya hanya diam terpaku pada kalimat itu. Otak merasakan sesuatu yang salah, akan tetapi mata mengirimkan informasi kepadanya berupa: “Perusahaan memutilasi beberapa karyawannya.” Ngeri amat.

Pada kasus di atas, dapat diketahui bahwa mata saya sedang mencoba mengkhianati otak dengan cara mengirimkan informasi yang keliru dari apa yang sebenarnya telah ditangkap olehnya. Nah, mungkin karena beberapa kali merasa dikhianati oleh kawan-kawannya, suatu hari otak saya balas dendam dengan cara membangkang dari sinyal yang dikirimkan kepadanya.

Begini ceritanya:

Waktu itu mata menangkap sebuah pemandangan yang nyesekable, yaitu berita tentang pernikahan oppa. Kemudian mata mengirim berkas laporan ke otak, dengan tembusan untuk hati saya (tempat di mana oppa berada). Hati meresponsnya dengan cepat. Yeah, nyesek gitulah. 🙁 Karena nyesek, ia mengirim sinyal ke paru-paru untuk menghela napas barang sejenak, dengan harapan sedikit udara itu bisa mengusir ganjalan yang membuatnya nyesek. Ia juga mengirim sinyal ke mulut untuk lupa mingkem a.k.a melongo, dan mata untuk lupa kedip. Meskipun akhirnya itu justru membuatnya makin nyesek.

Tak lupa, ia mengirim laporan ke otak, “Bos, saya galau. Saya cinta oppa sepenuh hati, tapi mereka bahkan tak tahu-menahu bahwa saya ada di dunia ini.”

Tapi, otak tak memedulikannya. Ia justru memerintahkan mulut yang tadinya melongo untuk bilang, “Kalau kalian bahagia, aku juga akan bahagia, Oppa.”

Demikianlah cerita tentang bos otak dan anak buahnya. Seluruh teori di atas hanyalah karangan saya saja, bukan berdasarkan penelitian secara medis. Haha! Entahlah apa sebab keeroran tersebut, tapi yang namanya khilaf itu memang milik manusia. 😀

Buku · Suka-Suka

Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya

j5x9e1g2

Kemarin waktu ikut event menulis selama 30 hari berturut-turut di Instagram, ada yang posting tentang “Tabungan Buku”. Jadi, setiap kali dia selesai membaca satu buku, dia akan memasukkan uang ke dalam celengan. Semakin rajin membaca, maka akan semakin banyak pula tabungannya.

Nah, saya kan jadi tertarik pengin coba juga. Kayaknya seru. 😀 Tapi, karena bacaan saya random, jadi saya sudah bikin ketentuan jumlah nominal yang harus dimasukkan sebagai berikut.

  • Komik/novel grafis/buku yang isinya banyak gambarnya: 1.500
  • Buku komedi/personal literatur: 2.000
  • Novel biasa: 2.500
  • Nonfiksi: 3.000
  • Sastra: 3.500
  • Sejarah: 4.000
  • Buku yang tebalnya 500 halaman ke atas: 5.000 (kayaknya yang ini saya jarang, deh. 😀 )

Terus apa lagi, ya? Emm… sementara itu saja dulu. Lalu, uang tabungannya nanti mau buat apa? Ntar aja deh dipikirin. Wong sekarang juga lagi malas baca karena kebanyakan lemburan. Hahaha 😀

NB: Moon maap, gambar celengannya kekanakan banget. Soalnya kalau gambar Jungkook, nanti keremajaan. Halah!

Buku · Suka-Suka

Nyesek Story: Oh, My Book

3MAifsk1

Sudah menjadi kebiasaan saya membawa buku di dalam ransel untuk menemani perjalanan dari kantor-rumah. Sebagai pengguna transportasi umum, saya tentu akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk otw daripada dengan kendaraan pribadi. Dengan buku yang saya bawa, saya jadi lebih enjoy menikmati waktu perjalanan sambil membaca. Bahkan kalau sedang bad mood, saya kadang sengaja memilih naik bus dengan rute yang sedikit jauh, demi mendapatkan bus yang sepi sehingga saya bisa duduk tenang sambil membaca.

Buku saya masukkan ke dalam ransel bercampur dengan barang bawaan lainnya, seperti mukena, botol air minum, dompet, charger, power bank, pen case, payung, dan lain-lain. Biasalah, bawaan cewek di tas pasti banyak. Biasanya, sih, baik-baik saja. Paling cuma kusut sedikit bukunya. Tapi, malang tak bisa ditolak. Kemarin sore, saat membuka ransel, saya mendapati buku saya sudah basah kuyup ketumpahan air minum. Entah, mungkin saya kurang rapat menutup botolnya, sehingga seluruh isinya tumpah ke mana-mana. Momen yang paling dramatis adalah ketika saya mengeluarkan buku yang sudah kuyup dari tas, dengan air menetes-netes dari kertas dan covernya. 🙁

Dengan dibantu Ibu, saya melakukan tindakan penyelamatan: menyisipkan tisu di lembar-lembar bukunya, menindihnya dengan buku yang berat supaya covernya tidak tergulung, lalu mengangin-anginkan. Bukunya memang bisa diselamatkan setelah saya melakukan tips-tips hasil googling tersebut. Tapi, tentu saja dia tidak bisa kembali seperti semula.

Padahal ini buku yang baru saya buka segelnya beberapa hari sebelumnya, yang saya niatkan jadi buku pertama yang saya baca di tahun 2018, yang dengan bangga saya pamerkan kepada teman kantor. Bangga bisa memilikinya.

Pokoknya mah saya lagi sayang-sayangnya sama buku ini, sebelum tragedi itu terjadi. Kadang, hidup ini memang lucu. Bisa saja, menit ini kamu merasa sangat bahagia, tapi menit berikutnya kamu nelangsa. Pun sebaliknya. Maka meski nyesek, setidaknya ada pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini, yaitu “Jangan berlebihan mencintai. Sebab kalau kecewa, sakitnya akan parah sekali.”

SEKIAN.

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Minggu pagi ini aku bangun di….

 

Minggu pagi ini aku bangun di tahun 850 Masehi. Sayup kudengar suara lesung bertalu-talu serta kokok ayam bersatu padu. Segerombolan makhluk halus kocar-kacir kembali ke sarangnya. Ya ampun, merinding.

“Aarrgh…!” Terdengar suara teriakan frustrasi seorang laki-laki.

Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku. Lalu menyeretku untuk bersembunyi di balik sebuah batu.

“Dia tampak marah sekali. Jangan sampai dia melihat kita,” kata orang itu yang ternyata adalah Empi, temanku.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Mesin waktu kita rusak. Kita jadi nyasar ke sini. Juki sedang memperbaikinya,” jelas Empi.

“Kau tidur ngebo banget, sih. Kau tahu, laki-laki itu tadi sibuk sekali. Dia harus membuat sesuatu dalam tempo semalam agar bisa menikahi pujaannya. Ya ampun, kasihan. Aku mah cukup seperangkat alat sholat dibayar tunai, Mas,” lanjut Empi, mulai rumpi.

“Hah? Maksudmu, kita nyasar di negeri dongeng?” Aku shock.

“Entah. Di penunjuk waktuku, saat ini kita sedang berada di abad ke-9,” kata Empi sambil memeluk tiang listrik.

Tunggu dulu… memangnya tiang listrik sudah ada di abad 9, ya? Nanti saja kita urus masalah ini. Aku terlanjur penasaran dengan jati diri pria itu.

“Jadi, apakah tadi dia sedang membuat perahu? Apa namanya Sangkuriang?”

“Emm… kurasa dia sedang membangun candi,” jawab Empi sambil menunjuk batu tempat kami bersembunyi.

Aku memandang sekeliling. Ada banyak candi di sekitar kami. Seribu candi… eh, anu… 999 candi dan satu yang belum jadi.

“Jadi, dia Bandung Bondowoso,” desisku.

Aku kembali mengintip dari balik batu. Bandung Bondowoso tampak marah sekali saat seorang wanita yang cantik jelita menghampirinya. Itu pasti Roro Jonggrang.

Aku menarik napas tegang. Setelah ini, si jelita akan berubah menjadi arca karena kutukan sang pria. Saat itulah, Juki memanggil. Kami harus segera masuk ke mesin waktu atau selamanya terjebak di masa lalu. Eaaa…

“Kita nyasar jauh sekali. Akan memakan waktu agak lama untuk kembali,” jelas Juki.

Karena kecewa tidak bisa menyaksikan bagian seru dari kisah Bandung Bondowoso, aku hanya menjawab: “Terserah saja. Asalkan diiringi musik dangdut.”

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2018 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Jika Kamu Mi Instan

Jika kamu adalah mi instan, maka aku adalah butiran nasi dalam panci magic com. Kita tak dapat bersatu, Sayang. Demikianlah kita ditakdirkan.

Untuk apa memaksa bersama, jika yang terjadi nanti adalah bahaya. Kita mungkin akan mengenyangkan. Namun, tidak menyehatkan. Sebab siapa pun yang berkenan menyatukan kita untuk mengisi lambungnya, dia harus rela mengalami lonjakan indeks glikemik. Kadar gula dalam darah pun bisa jadi naik.

Oh, tidak! Aku tidak menyukai kisah cinta yang berbahaya.

Maka bersandinglah engkau dengan bawang goreng, telur, atau cabai rawit. Mereka yang lebih mampu untuk membuatmu menjadi hidangan istimewa. Tak perlu kau risaukan aku di sini. Kelak akan kutemukan jodohku sendiri. Barangkali dia adalah sayur kangkung atau bayam yang dimasak oleh ibu. Tukang sayur akan membawanya kemari esok pagi. Asalkan besok tidak hujan.

Aku akan sabar menanti esok datang sambil mengenang kampung halaman. Sawah dan ladang. Di sanalah dulu aku tinggal, Sayang. Ah, andai Tuhan mengizinkan, aku ingin di sana selamanya. Agar kita tak pernah dipertemukan yang pada akhirnya tak bisa dipersatukan. Karena aku lebih suka jadi petani daripada jadi mantan pacarmu.

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2017 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Opini · Suka-Suka

Yogyakarta: Bukan Metropolitan, Tapi Tak Ketinggalan Zaman

N1kbXX9B
Para abdi dalem sedang memanggul gunungan dalam acara Grebeg Besar 1950 Je

“Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.” — Joko Pinurbo.

Sejak dilahirkan di kota yang istimewa ini, saya memang belum pernah benar-benar pergi meninggalkan Yogyakarta. Kalaupun keluar kota, paling sekadar piknik atau mengunjungi kerabat di kota tetangga. Selanjutnya, takdir terus menuliskan garis hidup saya berjalan di kota ini. Lahir di Yogya, besar di Yogya, cari ilmu di Yogya, cari rezeki di Yogya, cari jodoh…. *skip

Namun demikian, saat mendengarkan curahan hati dari kawan-kawan saya tentang kota kelahiran ini, dada ini cukup mengembang oleh rasa bangga. Mereka yang telah menghabiskan masa studi di Yogya, lalu harus melanjutkan hidup di kota-kota lainnya, selalu merasakan rindu dan ingin kembali ke sini.

Bagi mereka, Yogyakarta bukanlah kota yang sangat metropolitan, di mana semua serba keras dan harus bergegas. Di Yogya, kota berjalan pelan dan bersahaja. Sebersahaja anggukan kepala kepada orang yang lebih tua. Namun, Yogya juga bukan kota yang ketinggalan zaman. Ada toko buku, bioskop, mall, kafe, perpustakaan, stadion olahraga, dan banyak lagi fasilitas umum yang lainnya.

Objek wisata? Ada candi-candi, kraton, dan beragam warisan cagar budaya yang bisa ditelusuri jika kamu suka sejarah. Ada pula gunung dan pantai-pantai yang bisa dijelajahi kalau kau suka berpetualang. Jangan lupakan pula aneka kuliner, seni, dan budaya yang banyak sekali jumlahnya.

Dari perasaan bangga, kemudian timbul sedikit rasa penasaran. Penasaran atas sensasi bahagia yang dirasakan kawan-kawan saya saat kembali ke Yogya. Barangkali saya harus mencoba untuk merantau juga barang sejenak, agar dapat merasakan kerinduan dan ingin pulang kembali ke kota ini. Suatu saat nanti, mungkin?

Yang pasti, sebagai orang yang lahir dan besar di kota ini, saya berharap semoga Yogyakarta tetap nyaman untuk ditinggali. Jangan lagi banyak dibangun gedung-gedung tinggi. Yogyakarta tak perlu menjadi kota metropolitan. Cukup jadi kota yang tak ketinggalan zaman.