Suka-Suka

Diari dan Jejak Labil Masa Lalu

Gara-gara belum move on dari cerita tentang anak teman kami kemarin (sila baca: Jemput Jodoh dengan Cara yang Ngawur atau Elegan?), saya dan dua kawan saya jadi bernostalgia ke masa lalu. Waktu kami masih di usia yang sama dengan anak itu, 14 tahun, kelas 2 SMP.

“Waktu masih SMP, naksir cowok aja aku masih malu-malu. Nggak kepikiran deh untuk bertindak terlalu berani seperti itu,” kata seorang kawan saya.

“Kalau aku, kelas 2 SMP baru belajar terbiasa mendapatkan ‘tamu’ setiap bulan. ‘Tamu’ yang setiap kali datang, membuat hidupku jadi lebih ribet selama semingguan. Belum lagi berurusan dengan nyeri yang kadang bikin nggak bisa ngapa-ngapain lagi selain tiduran,” kawan saya yang satu lagi menimpali.

Sementara saya, apa yang terjadi dengan hidup saya pada waktu kelas 2 SMP? Hmm… nggak ada yang istimewa, sebab sebagian besar hidup saya hanya saya habiskan untuk menulis diari, hahaha. Saya memang agak kuper dulu (sekarang mendingan, lol). Waktu remaja, saya adalah tipe anak rumahan yang setiap hari kerjaannya baca buku, nonton tivi, dan menulis diari. Diari saya dulu lumayan tebal, covernya bergambar Meteor Garden yang sedang hits pada masa itu. Tidak pakai gembok dan anak kunci berbentuk Barbie sebagaimana diari milik teman saya yang lain. Diari saya ini, blak-blakan saja. Namun, saat membuka lembar pertamanya, saya pastikan tidak akan ada yang berani usil membaca isinya.

Memang ada apa di sana?

Di lembar pertama, saya tuliskan dengan huruf kapital semua. Dengan tulisan tangan yang sangat jauh untuk dibilang bagus. Sebuah kalimat intimidasi berikut ini:

“READ THIS AND YOU’LL DIE!”

Haha kok, dulu saya begitu, ya? Moon maaf, pemirsa! Ternyata saya sudah alay sejak dini. :)) Padahal isinya nggak ada yang menarik sama sekali. Baiklah, saya beri sedikit bocoran, ya. Isinya adalah tentang hari-hari di sekolah; tentang saya yang susah mengikuti pelajaran Matematika karena mesti nyimak penjelasan guru di papan tulis, sementara mata saya rabun jauh dan saya nggak pede pakai kacamata ke sekolah jadi nggak bisa lihat tulisan di papan (Hadeh, susah dibikin sendiri); tentang pelajaran favorit saya; tentang teman yang selalu pinjam pulpen tapi nggak pernah dikembalikan lagi (dari dulu memang bakat teraniaya sepertinya -__-); dan banyak lagi. Termasuk tentang cowok pujaan hati saya. Hehehe

Siapa dia? Hemm… jangan pikir dia adalah kapten basket yang ganteng, anggota pencinta alam yang super keren, atau ketua mading yang cerdas dan kharismatik, ya. Sebab, ini bukan FTV. 😀 Jadi, cowok pujaan hati saya adalah… Zac Hanson! Wkwkwk Tahu Zac Hanson, kan? Yang generasi 90-an pasti kenal, deh. Zac Hanson ini drummer sekaligus anggota termuda dari boyband ngetop waktu itu, Hanson. Nih, saya kasih lihat fotonya.

zac
Zachary Walker Hanson
(Gambar diambil dari sini)

Cerita tentang Zac Hanson dan kedua kakaknya, Isaac dan Taylor Hanson, hampir mendominasi lembar-lembar diari saya.

hanson
Zac bersama kedua kakaknya, Taylor dan Isaac.
(gambar diambil dari sini)

Rasakan perbedaannya! 😀

hanson now
Gambar diambil dari sini

Belakangan saya kepo lagi tentang idola lama saya ini. Penasaran bagaimana kabar mereka sekarang. Lalu, saya menemukan fakta bahwa Hanson ternyata masih aktif sampai sekarang, meskipun tidak tur dunia seperti dulu. Zac makin ganteng nggak ketulungan setelah dewasa, aduuu… dan dia sudah menikah. Ya iyalah, memangnya saya, jomblo jatuh tempo. Fakta lain yang cukup mengejutkan, ternyata Zac sudah jadi bapak empat anak! 😀

Turut bahagia, tapi… ada sedihnya juga. Bukan karena patah hati, melainkan karena kapan saya jadi ibu juga? Hiyaahhh….

Time flies. Kalau lagi nostalgia begini, kadang ada perasaan terharu di hati saya. Rasanya waktu cepat sekali berlari dan mengalahkan saya berkali-kali.

Suka-Suka

Jemput Jodoh dengan Cara yang Ngawur atau Elegan?

balance-cookies-dessert-6747
Gambar diambil dari sini

Beberapa waktu yang lalu, kami di kantor dibuat terpana sekaligus tak percaya ketika teman-teman bagian produksi mengajak kami untuk nengok baby di rumahnya salah satu mbak produksi. Bukan baby­-nya yang bikin kami terpana sampai segitunya. Menengok baby ­yang unyu-unyu, tentu saja merupakan agenda yang ditunggu-tunggu. Yang membuat kami agak ternganga adalah ketika mendapat kabar bahwa bayi yang akan kami tengok itu adalah cucu dari si mbak produksi. Benar, cucunya.

Setahu kami, mbaknya itu usianya baru sekitar 35 tahunan. Masih terlalu muda untuk memiliki cucu. Atau, mbaknya dulu nikah muda. Mungkin saja. Kami masih positif thinking waktu itu. Sampai pada akhirnya, kami mendapat informasi bahwa bukan mbaknya yang nikah muda, melainkan anaknya yang menikah dini. Lebih tepatnya, menikah terlalu dini. Anak itu baru saja memasuki usia remaja. Seharusnya dia masih kelas 2 SMP. Namun, karena “terlalu berani” dalam bergaul, sehingga dia sudah harus (terpaksa) menikah dan menjadi orangtua sebelum waktunya. *speechless*

Mendengar kabar itu, rasanya ironis sekaligus miris. Ironis, sebab bahkan saya yang usianya dua kali lipat dari usia dia saja (ketahuan tua), belum ketemu jodoh. Hahaha Dan miris, sebab kasihan sama adeknya itu. Belum tuntas dia merasakan masa remaja, sudah dibebani tanggung jawab sedemikian rupa. Namun, setiap perbuatan sudah pasti ada konsekuensinya. Dan kehilangan masa muda yang menyenangkan adalah konsekuensi yang harus dia terima akibat perbuatannya yang terlalu berani ini. Duh, Dek… 🙁

Lalu, saya jadi teringat pada nasihat berikut ini: “Tuhan telah mempersiapkan jodoh kita masih-masing. Mau cepat atau lambat, pasti akan ketemu dengan orang yang itu juga. Dengan orang yang sudah dipersiapkan oleh-Nya. Tinggal kita mau mengambilnya dengan cara yang grasa-grusu atau cara yang elegan.”

Baiklah kalau begitu, Tuhan. Di mana pun jodoh saya saat ini berada, mohon sampaikan kepadanya. Saya di sini masih menunggunya dengan elegan. Ea~

Suka-Suka

Lelaki yang Mengetuk Pintu di Tahun Baru

 

Tahun baru kala itu, baru genap lima hari usianya. Aku masih berjuang mengusir kunang-kunang yang beterbangan di depan mataku akibat migrain. Sisa-sisa pertempuran bersama bu dokter gigi di hari sebelumnya, membuatku tidak enak badan. Bekas suntikan anestesi itu, membuat gusiku terasa sangat nyeri dan ngilu. Aku lapar, tapi susah makan. Hiks! :’(

Sebagai penghiburan, aku bermaksud membuka beranda rumahku. Bertemu dan menyapa teman-teman di sana barangkali akan membuatku lupa rasa sakit yang sedang kuderita. Lagipula, sudah beberapa hari aku tidak menengok beranda rumahku sejak hari yang heroik itu.

Tiba-tiba, kau muncul di sana. Di beranda rumahku. “Hai, bolehkah aku berteman denganmu?” kau bilang.

Ah, bukan… bukan begitu kronologinya. Kau hanya muncul begitu saja. Menawarkan pertemanan. Tanpa sapa. Pun salam pembuka.

Hari-hari setelahnya, kita resmi berteman. Namun, kau tetap diam. Tak ada obrolan. Apalagi canda. Tetangga baru ini memang berbeda. Mungkin kamu adalah alien.

Iseng, aku main ke rumahmu. Sekadar ingin “say hi” kepada tetangga baru. Namun, yang ada aku justru seperti tenggelam dalam tumpukan buku. Tersandung di sana sini, lalu tersesat. Seperti masuk ke dunia lain, kemudian melambaikan tangan dan aku menyerah!

Kulihat dari beranda rumahku, kau memang sering wara wiri membawa setumpuk buku-buku. Well, sepertinya kamu bukan alien, melainkan kutu buku. Atau, mungkin kamu kutu buku keturunan alien. Bisa jadi.

Namun, siapa pun kamu. Alien ataupun kutu, sepertinya kamu adalah makhluk (?) yang baik.

Jadi, love to be your friend. 🙂

Udah, gitu aja.

Suka-Suka

Dapat Kunjungan Belajar dari Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

1
Saranghaeyo

Late post alias telat posting. 😀

Sekitar awal bulan Mei yang lalu, di kantor dapat kunjungan belajar dari teman-teman mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Mereka adalah mahasiswa jurusan Bahasa Arab. Dalam jurusan tersebut terdapat mata kuliah Penerjemahan dan Editorial (begitu kalau nggak salah ingat). Nah, kunjungan belajar ini masuk ke dalam mata kuliah tersebut.

Acara dimulai dengan sesi perkenalan dan ramah tamah. Setelah itu, mereka diperkenankan untuk melihat-lihat sekaligus tanya-tanya langsung ke tim kami. Nggak nyangka, antusiasmenya luar biasa. Dari teman-teman yang berkerumun ke meja saya saja, banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan. Mulai dari penentuan tema buku tiap bulan, mekanisme pencarian naskah, proses editing, proses artistik, proses distribusi, dan banyak lagi.

Saya jadi ingat zaman masih mahasiswa dulu. Sejak dulu, saya sudah bercita-cita pengin kerja di penerbit. Sama seperti mereka, saat itu juga banyak sekali pertanyaan tentang penerbitan dan dunia perbukuan yang memenuhi benak saya. Jadi, senang sekali sekarang bisa berbagi dengan teman-teman ini.

Di pertengahan obrolan, ada yang tanya begini, “Apa kendala terberat yang pernah dihadapi selama bekerja sebagai editor, Mbak?” Hmm… apa ya? Kalau yang berat, sih, paling ketika ketemu naskah yang berantakan tapi penulisnya nggak kooperatif, ketika udah dikejar deadline tapi otak tiba-tiba ngadat, atau kalau dapat komplain dari pembaca hiks, dan sebagainya. Tapi, karena udah cinta sama pekerjaan ini, jadi yang berat-berat itu nggak begitu terasa.

Yah, setidaknya nggak lebih berat kalau dibandingkan dengan upaya move on dari mantan gebetan. Halah… wes to, Mbak!

2

Btw, masih pantas nggak saya foto bareng adek-adek mahasiswi yang imut-imut ini? 😀

 

Suka-Suka

Letter to My Self: “Selamat Ulang Tahun, Mpok!”

WhatsApp Image 2019-05-02 at 9.09.55 AM

To: Me

From: Also Me

Dulu, kamu pernah bertanya, “Apa yang paling menggelisahkan tentang masa depan? Jodoh yang tak kunjung kelihatan? Atau, hati yang selalu salah sasaran?”

Waktu itu, aku tak bisa menjawabnya. Sebab, aku pun merasakan kegelisahan yang sama.

Belakangan, kau tanya lagi kepadaku, “Dari sekian kesempatan, belum ada yang membuat kita berkenan. Apa menurutmu kita enggak sok kecantikan?”

Lagi, aku tak dapat menjawabnya. Namun, kalau boleh aku mengutip analogi dari seorang kawan, saat ini kita ibarat menunggu bus kota. Masing-masing bus yang datang, tentu akan bermacam-macam kondisinya. Kita bisa memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan bus yang lebih dulu merapat sehingga sampai tujuan lebih cepat, meskipun kondisi bus mungkin akan membuat kita tidak nyaman dan bahkan salah jurusan. Atau, kita sabar menunggu hingga datang bus dengan kualitas yang kita mau, sesuai dengan jalur yang ingin kita tuju, dan membuat kita nyaman sepanjang perjalanan. Dengan risiko, mungkin kita akan sedikit terlambat sampai ke tujuan.

Mengingat perjalanan yang akan kita tempuh ini sangat panjang, sepanjang sisa kehidupan, maka sebaiknya kita memilih kedaraan yang memang mebuat kita nyaman dan sesuai jalur yang kita inginkan. Tak mengapa terlambat, asal tetap selamat. Sebab seperti katamu dulu, cukup masa lalu saja yang penuh dengan drama-drama kehidupan. Masa depan jangan.

Selamat ulang tahun, Mpok. Terima kasih telah mau banyak belajar dan berbenah. Terima kasih sudah jadi orang yang selow dan santai dalam menghadapi masalah. Terus terang, dibanding beberapa tahun yang lalu, aku lebih suka dirimu yang sekarang ini. Semoga segera terwujud apa yang menjadi doa-doa kita selama ini.

Aamiin.

03 Ramadhan 11440 H / 08 Mei 2019 M

Suka-Suka

Terima Kasih Telah Singgah

Terima kasih telah bersedia singgah, Tuan.

Maaf aku tak sempat menyeduhkan secangkir kopi serta setangkup roti berlapis selai stroberi, sebab engkau telah buru-buru pergi. Lebih tepatnya, aku yang mengizinkanmu singgah sejenak di dalam dada ini dan aku pula yang kemudian melepasmu pergi lagi.

Aku harus melepasmu pergi.

Bukan karena aku membencimu, Tuan. Justru, kau yang paling istimewa sejauh ini. Hanya, aku terlalu lelah untuk terjebak dalam gelisah, sebagaimana yang sudah-sudah. Sudah kutinggalkan semua hal yang melelahkan itu. Tahun ini, aku hanya ingin merawat diriku sendiri. Lahir dan batin.

Namun, satu hal yang perlu kau tahu, Tuan. Darimu, aku sadar bahwa orang hebat adalah justru dia yang tak pernah menunjukkan dirinya sendiri hebat. Kehebatannya akan tampak sendiri dari kerendahan hati. Bagiku, kamu hebat, tapi rendah hati. Kamu pintar, banyak yang mengakui itu. Pun aku, melihatmu seperti itu. Kamu pendiam, tapi juga lucu. Kamu puitis, tapi tidak sembarangan mengumbar kata-kata romantis. Lebih dari itu, kamu adalah pria yang sopan.

Kamu memang tak sempurna, tapi kamu sempurna memenuhi kriteria yang kupintakan kepada-Nya. Belakangan baru kusadari fakta itu. Fakta yang membuatku tidak ingin melihat yang lain secara objektif. Aku hanya melihatmu saja. Tentu saja, sikapku itu kurang benar. Sebab seperti katamu, setiap orang punya takaran kebahagiaan dan kesempurnaan masing-masing. Jadi jangan dibanding-bandingkan.

Jodohmu kelak tentulah wanita dengan kualitas yang sama sepertimu. Dan, itu bukan aku.

Membahas masalah jodoh, topik inilah yang membuat kita bertemu dalam situasi yang membuatku gelisah begini. Saat kamu mengetuk pintu di awal tahun baru beberapa tahun yang lalu, betapa senangnya aku menyambutmu. Tentu, aku belum berpikiran apa-apa waktu itu. Yang aku bayangkan hanyalah, aku dapat melakukan hal-hal yang kulakukan dulu. Waktu kamu mengajariku macam-macam, meskipun kita belum pernah dipertemukan. Maka pada kali pertama kita bertemu, aku membayangkan dapat melakukan semua hal itu. Belajar banyak darimu, berbincang panjang denganmu, ngobrol lucu-lucuan, pun aku bisa meminjam buku-bukumu. Jadi, marilah sekarang kita lakukan hal-hal yang seperti itu saja. Berteman biasa, seperti yang kau minta.

Terima kasih. Senang berteman denganmu. 🙂

 

PS: Kalau kau tak mengizinkanku untuk mengendap-endap masuk ke hatimu, berhentilah wara wiri di pikiranku. Aku mau cepat move on, woii!!

Suka-Suka

Bertemu Dilan KW di Bus Transjogja Jalur 1B, Akankah Ada Pertemuan Ketiga?

Saya selalu berpendapat bahwa yang disebut sebagai jodoh itu bukan semata belahan jiwa yang menunggu untuk berlayar bersama sambil saling bergenggaman tangan, melainkan siapa saja yang dipertemukan oleh Tuhan di sepanjang perjalanan kehidupan. Baik mereka yang singgah untuk kita sebut sebagai teman, maupun mereka yang hanya sepintas lalu hadir namun tetap meninggalkan kenangan.

Sepanjang tahun 2018 kemarin, alhamdulillah saya “berjodoh” dengan banyak teman baru. Termasuk salah satu orang unik yang saya temui awal tahun 2018 lalu. Saya menyebutnya sebagai Dilan KW, sebab kelakuannya mirip Dilan. Iya, Dilan yang itu. Tahu, kan. Dilan pacar Milea di novelnya Pidi Baiq yang famous itu. Dilan yang jago nyepik dan bikin cewek-cewek baper. Pertemuan kami hanya sepintas saja. Tidak berlama-lama. Namun, tetap meninggalkan cerita.

Siang itu, kira-kira awal bulan April atau akhir Maret 2018. Lupa tepatnya. Tidak ada yang istimewa. Saya hanya menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi ngejar bus, sore nunggu bus. Gitu aja terus sampai Jungkook tahu-tahu sudah gede, lol. Namun, hari Sabtu siang itu, takdir memberi sedikit kejutan agar hidup saya tidak terlalu lempeng. Waktu itu, saya sedang otw pulang kerja naik Transjogja jalur 1B. Lalu, naiklah cowok ini dan duduk di sebelah saya. Mulanya saya cuek aja (yakali, nggak kenal mau SKSD), sebelum akhirnya dia menyapa saya terlebih dahulu. Lalu, kami ngobrol. Kebetulan kami sama-sama turun di Taman Pintar. Dia mau ke Taman Budaya Yogyakarta.

Di tengah obrolan, tiba-tiba dia mengeluarkan buku kumpulan puisi karyanya. Wah, penyair ternyata. Lalu, dia cerita kalau sedang ada masalah dengan penerbit tempat bukunya itu diterbitkan. Katanya, pihak penerbit keliru mencantumkan ISBN dari buku lain pada cover bukunya. Dia lalu inisiatif menghubungi pihak Perpusnas untuk mengganti input di database mereka. Minta ditukar antara data ISBN untuk bukunya dengan data ISBN buku lain yang keliru itu. Menurutnya, hal itu lebih efisien daripada harus mencetak lagi cover dengan ISBN yang benar, lalu dijilid ulang. Lagipula, kata dia, kalau dibongkar terus dipasang lagi jilidan bukunya, nanti jadi jelek. Namun, inisiatifnya itu malah justru membuat CEO penerbit marah dan ngomel ke dia.

Allahumma… yakaliii….

Mendengar ceritanya, saya malah jadi pengin ikutan ngomelin dia. Saya bilang, masalah itu sebenarnya mudah diatasi kalau dia pasrahkan saja ke penerbit. Kan, kesalahan ada di pihak penerbit. Jadi, biar penerbit yang mengatasinya. Inisiatif dia menghubungi Perpusnas malah bikin masalah jadi melebar ke mana-mana. Wajar aja kalau CEO penerbitnya jadi marah. Nah, mendengar saya nyerocos begitu, dia jadi bertanya-tanya. Kok, saya bisa tahu banyak masalah ginian? Ya udah, saya bilang kalau saya kerja di penerbit juga. Hal yang kemudian saya sesali karena dia jadi makin penasaran. Tanya-tanya saya kerja di penerbit mana, bagian apa, dan sebagainya.

Jelang turun dari bus, tiba-tiba dia menyodorkan handphone-nya sambil bilang, “Minta nomor wa, ya.” Duh, saya nggak terbiasa kasih nomor handphone ke orang asing secara random begitu. Jadi, saya tanya balik, “Buat apa?” Dia bilang buat jualan buku. Sempat tebersit di benak saya buat kasih nomor asal aja, bukan nomor yang beneran. Tapi, dia bilang, “Jangan dipalsuin, lho.” OMG! Bisa baca pikiran apa gimana ini orang?

Setelah turun dari bus, saya langsung buru-buru pamit dan ngacir menjauh dari dia sambil berdoa semoga saya tidak perlu berurusan yang aneh-aneh dengannya. Saya kira, Allah mengabulkan doa saya itu. Karena beberapa waktu setelahnya, hidup saya kembali lempeng seperti biasa. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, tiga minggu, aman. Sampai suatu hari, kami ketemu lagi!! Tanpa sengaja. Di Transjogja jalur yang sama.

Dia tanya kabar, saya jawab baik. Terus kami ngobrol lagi. Dia tanya, “Eh, ini tanggal 25, ya?” Saya jawab, iya. Lalu, tiba-tiba dia mengulurkan tangan sambil bilang “Selamat, ya.”

Hah?

Selamat apaan? Saya tanya. Jawabnya, selamat hari Kartini. -__-

Mau nggak mau saya jadi ngakak. Terus iseng saya bilang, “Kenapa cuma aku? Ini ibunya juga Kartini,” kata saya sambil menunjuk ibu-ibu di sebelah. Ibunya cuma mesem-mesem saja. And you know what? Dia terus menyalami semua ibu-ibu dan mbak-mbak yang ada di bus sambil mengucapkan selamat hari Kartini. Saya sampai malu.

Untuk mengalihkan topik, saya bilang “Kok, bisa kebetulan ketemu lagi, ya?” Dia malah balik tanya, “Setiap hari naik bus ini, ya?” Saya jawab, iya. Lalu katanya, “Kalau begitu tunggu sampai pertemuan ketiga.” Emang kenapa dengan pertemuan ketiga? Tanya saya. Kata dia, “Aku percaya nggak ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk pertemuan kita.” Astagaaa!! -____-

Waktu itu saya ketawa, sih. Tapi, kan, malu juga dilihat sama orang-orang satu bus. Saya tahu, dia pasti mau ke TBY lagi. Jadi, saya turun di halte depan Pakualaman karena nggak mau turun bareng dia di Taman Pintar. Sudah terlanjur malu sama orang-orang di dalam bus. Dia tanya, “Loh, kan turunnya di Taman Pintar?” Akhirnya saya terpaksa bohong mau mampir ke suatu tempat dulu. Huft!

Nah, waktu saya mau turun, ada ibu-ibu juga mau turun. Terus cowok aneh itu manggil si ibu. Dia bilang gini, “Bu, titip, ya.” Allahumma… mana ibunya pakai jawab “Nggih, Mas.” segala.

Sungguh, kalau saya baca adegan seperti ini di novel romansa, pasti saya akan sibuk ber-uwuwu ria. Tapi ketika mengalaminya sendiri, ternyata yang ada saya malah merasa insecure. Malu banget sama orang-orang sumpeh. Sepanjang perjalanan pakai Gojek ke rumah, saya berdoa semoga nggak perlu berurusan dengan orang yang aneh-aneh lagi.

Demikian kisah pertemuan saya dengan Dilan KW. Meski dramatis begini, ini kisah nyata, Gaess. Saya juga nggak nyangka bakal ketemu orang sejenis itu. Yang jelas, semenjak pertemuan kedua itu, saya langsung ganti jalur bus dan sering naik Gojek dari kantor. Takut ada pertemuan ketiga, haha. Oh ya, dia juga sempat whatsapp. Tapi setiap kali dia whatsapp, saya selalu balas slow respons dan ala kadarnya. Wkwk ya gimana, serem eh. 😀

Tahun 2019 saya sudah balik naik jalur 1B lagi. Tapi, Dilan KW sudah nggak ada. Hahaha

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Ternyata Saya Pernah Menulis Novel

WhatsApp Image 2018-12-29 at 09.44.31

Menemukan file ini saat bongkar-bongkar folder lama. Ternyata, saya pernah nulis novel. Naskah ini saya tulis sekitar tahun 2008 atau 2009. Waktu masih kuliah pokoknya. *ketahuan umurmu, Budhe* Tahun 2010 diterima sama penerbit, tapi sampai sekarang belum terbit dan saya nggak tahu juga penerbitnya masih ada atau enggak saat ini. Hahahaha

Novel ini bercerita tentang dua orang sahabat yang memperjuangkan impian mereka untuk menjadi penulis. Persahabatan mereka terancam kandas karena sebuah permasalahan internal. Ya kan dulu saya sedang ngefans berat sama Andrea Hirata, jadi novelnya sedikit terpengaruh ala-ala Sang Pemimpi gitu. Selain itu, di novel ini juga ada cerita tentang teater-teaternya. Nggak nyangka juga saya bisa nulis tentang teater-teateran begitu. Barangkali karena waktu itu kebetulan saya juga sedang menyiapkan pertunjukan teater bersama teman-teman sekelas untuk tugas akhir mata kuliah Kajian Drama.

Sekarang kalau saya baca lagi naskah novel ini, rasanya malu sendiri dan ingin hilang ingatan. Anu… ceritanya itu, aduhh… Hahaha Tapi di sisi lain, ada rasa bangga juga, sih. Novel ini menjadi pengalaman pertama saya dapat honor dari menulis buku. Kalau nggak salah ingat, waktu itu uangnya saya belikan handphone Cina merek D-One (belum Android) terus buat dipakai foto-fotoan waktu wisuda. Yup, handphone berkamera pertama yang saya punya, beli pakai uang sendiri, dong! 😀

PS: Jangan tanya saya bisa nulis novel atau enggak ya sekarang. Ini tampang saya udah nonfiksi banget soalnya. :))

Suka-Suka

A Letter to Myself: Surat dari Masa Depan

WhatsApp Image 2018-12-29 at 10.10.41

To: Me in the present

From: Me in the future

Kepada diriku di masa lalu,

Apa kabar?

Maaf bila aku lancang menulis surat ini. Bukan untuk mendahului takdir Tuhan, hanya ingin menyampaikan sebuah harapan. Semoga, kau tak keberatan.

Aku menulis surat ini di sela-sela kesibukanku mengurus dua krucils yang sedang aktif-aktifnya. Dua? Yap, twin baby. Seperti impianmu. Mereka sudah 2 tahun sekarang. Si kakak sedang banyak tingkah. Tiap sore selalu minta berburu belalang bersama ayah. Sementara adek, lebih suka membaca buku bersama ibu. Lucu sekali melihat ekspresinya saat menyimak dongeng tentang kupu-kupu.

Sampai di sini, kau pasti bertanya-tanya. Siapa ayah mereka? Hmm, sebenarnya ini rahasia. Tapi, baiklah, kuberi sedikit bocoran. Dia adalah seorang lelaki dewasa yang pintar dan baik hatinya. Sesuai harapanmu. Bersamanya, membuatku merasa bahwa apa yang kutangisi tempo hari jadi konyol sekali. Kalau saja aku tahu bahwa Tuhan telah mempersiapkan untukku orang sehebat ini, tak akan kusia-siakan waktuku dulu untuk meratapi patah hati.

Tujuanku menulis surat ini sebenarnya adalah aku ingin meminta tolong kepadamu. Saat ini, aku sangat bahagia dengan hidupku. Kau tahu kan, bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh apa yang dia lakukan di masa lalu? Nah, aku adalah dirimu di masa depan. Dengan demikian, kau adalah diriku di masa lalu. Maka, nasibku di sini sangat bergantung kepadamu. Jadi, aku mohon dengan sangat, tolong ubah semua kebiasaan burukmu itu.

Melihatmu masih suka mager dan malas-malasan begini, aku jadi tak yakin Tuan Hebat akan bersedia menikahimu. Lalu, melihatmu yang selalu menumpuk pekerjaan hingga mepet tenggat waktu, aku jadi pesimis kau bisa jadi ibu yang baik untuk si kembar. Aku harap setelah membaca surat ini, kau berkenan mulai membenahi diri. Tentu kau tak ingin hidupku di masa depan suram, kan? Jangan lupa, aku adalah dirimu.

Mungkin sekian dulu suratku. Tolong pikirkan baik-baik permintaanku itu ya.

Salam hangat,

Aku, dirimu di masa depan.

Suka-Suka

Selamat Malam, Tuan

Selamat Malam, Tuan

Semoga malam ini kamu bisa tidur dengan nyenyak.

Dan ketika kau terbangun di pagi hari nanti, Tuhan telah menghapuskan segala sakit yang mendera ragamu, serta segala kegelisahan yang mengganggu jiwamu. Menggantinya dengan rezeki yang berkah. Juga, kebahagiaan yang melimpah.

Lalu ketika esok hari kamu kembali menjelma menjadi siluet di antara hitam dan biru pada langit pagi itu, akan kukatakan kepadamu: “Sebenarnya aku ingin sekali mengendap-endap masuk ke hatimu, tapi kenapa justru kamu yang selalu kurang ajar wara wiri di pikiranku?”