Suka-Suka

Terus Bergerak, Jangan Berhenti

keep moving
(gambar diambil dari sini)

Pernahkah kamu merasa kalau hidup ini amatlah lucu. Bisa saja, menit ini kamu merasa sangat bahagia, tapi menit berikutnya kamu nelangsa. Pun sebaliknya.

Contohnya:

Pagi hari, kamu masih bisa sayang-sayangan sama buku favorit. Lalu sore harinya, buku itu rusak karena keteledoranmu sendiri.

Atau mungkin, kamu sudah jatuh bangun menyelesaikan satu level games. Tinggal selangkah saja. Lalu tiba-tiba, musuh datang sehingga game over dan membuat seluruh usahamu sia-sia.

Atau bisa jadi, kamu sudah penuh kesabaran ekstra men-download satu episode drama Korea. Sudah sampai 90%, tinggal sedikit lagi download-an paripurna. Lalu tiba-tiba, koneksi internet mati. Membuatmu pengen nangis seprovinsi.

Atau bisa juga, saat ini kamu tengah lelah dan ingin menyerah memikirkan seseorang yang belakangan ini selalu wara-wiri di pikiranmu. Lalu suatu saat nanti, kamu menyadari bahwa ada orang lain yang diam-diam ingin mengendap-endap masuk ke hatimu.

Nah, sesungguhnya kesemuanya itu wajar adanya. Karena sejatinya segala sedih, duka, sakit hati, patah hati itu ada untuk mengingatkan bahwa kamu masih hidup. Semua itu ada untuk memberikan pelajaran baru, pemahaman baru, kekuatan baru, dan membuat kita menjadi pribadi yang baru.

Yang harus dilakukan hanyalah terus bergerak. Sebagaimana hidup yang harus terus berjalan. Sedih boleh, tapi sebentar saja. Setelah itu, berdamailah dengan masa lalu dan segera move on. Sebab percayalah, yang akan datang kepadamu pasti lebih baik untukmu daripada yang telah lalu.

“Indeed what is to come will be better for you than what has gone by.”

(QS. Ad-Dhuha, 93:4)

Suka-Suka

Gara-Gara Ayam Geprek

(gambar diambil dari https://hellosehat.com)

Kalau ada makanan yang dapat mengubah hidup saya, maka itu adalah ayam geprek. Sebagai chilli haters, selama ini saya selalu menyatakan diri kalau saya ini bukannya nggak berani makan sambel, melainkan nggak suka. Nggak berani dan nggak suka adalah dua hal yang berbeda. Nggak berani itu masalah nyali. Sedangkan nggak suka, masalah selera.

Saya suka heran sama teman-teman yang asyik makan pedas hingga air mata berlinangan dan bibirnya tak henti mengeluarkan desisan. Weh, itu makan atau kesurupan? Lalu mereka bilang, “Makan kalau nggak pakai sambel itu nggak nikmat.” Sementara saya bilang, “Gimana bisa menikmati kalau kudu megap-megap, kan?” Selanjutnya, mereka akan meragukan tulisan di KTP saya, “Kamu beneran orang Indonesia? Bukan Eropa?”

Hingga suatu hari, ayam geprek mengubah segalanya. Berawal dari seorang kawan yang mengeluhkan tak ada sambel di nasi kotaknya. Lalu saya sodorkan cabai gorengan sebagai pengganti sambalnya.

Dia bilang, “Mbak, aku cari sambal, bukan cabai.”

Saya: “Halah sama aja. Yang penting pedas, kan?”

Dia: “Aku makan sambal itu bukan cari pedasnya, Mbak. Tapi, cari enaknya.”

Nah, jawaban dia ini berbeda dari testimoni kebanyakan orang tentang sambal. Orang umumnya mencari kenikmatan saat makan sambal, sedangkan teman saya mencari enak. Jadi, apa benar sambal itu enak? Ingin membuktikan ucapan teman saya itu, akhirnya saya mencobanya sendiri. Saya bereksperimen sendiri dengan membuat ayam geprek.

Dan, benar! Memang enak. Paduan antara cabai rawit, bawang putih, garam, dan sedikit micin (#eh), sungguh menggugah selera saya. Sejak saat itu, saya mulai keranjingan menggeprek segala jenis bahan makanan. Mulai dari ayam, ikan, tempe, telur, perkedel, dan bahkan tahu bulat. Lol

Tapi sebagai newbie dalam dunia persambelan, perut saya hanya dapat bertahan dengan cabai satu saja. Pernah nekat mencoba cabai dua, akhirnya mules datang melanda. :))

Kpop & Kdrama · Suka-Suka

Bos Otak dan Anak Buahnya

Song Song Couple
(gambar diambil dari KapanLagi.com)

Sudah pernah merasakan bagaimana mata, tangan, dan mulut berkolaborasi untuk membangkang dari otak? Saya pernah.

Begini ceritanya:

Suatu hari, saat baca naskah saya menemukan kalimat yang kurang lebih begini bunyinya: “Perusahaan memutasi beberapa karyawannya.” Tapi, entah kenapa terbaca jadi: “Perusahaan memutilasi beberapa karyawannya.” -_-.

Maka untuk beberapa detik, saya hanya diam terpaku pada kalimat itu. Otak merasakan sesuatu yang salah, akan tetapi mata mengirimkan informasi kepadanya berupa: “Perusahaan memutilasi beberapa karyawannya.” Ngeri amat.

Pada kasus di atas, dapat diketahui bahwa mata saya sedang mencoba mengkhianati otak dengan cara mengirimkan informasi yang keliru dari apa yang sebenarnya telah ditangkap olehnya. Nah, mungkin karena beberapa kali merasa dikhianati oleh kawan-kawannya, suatu hari otak saya balas dendam dengan cara membangkang dari sinyal yang dikirimkan kepadanya.

Begini ceritanya:

Waktu itu mata menangkap sebuah pemandangan yang nyesekable, yaitu berita tentang pernikahan oppa. Kemudian mata mengirim berkas laporan ke otak, dengan tembusan untuk hati saya (tempat di mana oppa berada). Hati meresponsnya dengan cepat. Yeah, nyesek gitulah. 🙁 Karena nyesek, ia mengirim sinyal ke paru-paru untuk menghela napas barang sejenak, dengan harapan sedikit udara itu bisa mengusir ganjalan yang membuatnya nyesek. Ia juga mengirim sinyal ke mulut untuk lupa mingkem a.k.a melongo, dan mata untuk lupa kedip. Meskipun akhirnya itu justru membuatnya makin nyesek.

Tak lupa, ia mengirim laporan ke otak, “Bos, saya galau. Saya cinta oppa sepenuh hati, tapi mereka bahkan tak tahu-menahu bahwa saya ada di dunia ini.”

Tapi, otak tak memedulikannya. Ia justru memerintahkan mulut yang tadinya melongo untuk bilang, “Kalau kalian bahagia, aku juga akan bahagia, Oppa.”

Demikianlah cerita tentang bos otak dan anak buahnya. Seluruh teori di atas hanyalah karangan saya saja, bukan berdasarkan penelitian secara medis. Haha! Entahlah apa sebab keeroran tersebut, tapi yang namanya khilaf itu memang milik manusia. 😀

Buku · Suka-Suka

Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya

j5x9e1g2

Kemarin waktu ikut event menulis selama 30 hari berturut-turut di Instagram, ada yang posting tentang “Tabungan Buku”. Jadi, setiap kali dia selesai membaca satu buku, dia akan memasukkan uang ke dalam celengan. Semakin rajin membaca, maka akan semakin banyak pula tabungannya.

Nah, saya kan jadi tertarik pengin coba juga. Kayaknya seru. 😀 Tapi, karena bacaan saya random, jadi saya sudah bikin ketentuan jumlah nominal yang harus dimasukkan sebagai berikut.

  • Komik/novel grafis/buku yang isinya banyak gambarnya: 1.500
  • Buku komedi/personal literatur: 2.000
  • Novel biasa: 2.500
  • Nonfiksi: 3.000
  • Sastra: 3.500
  • Sejarah: 4.000
  • Buku yang tebalnya 500 halaman ke atas: 5.000 (kayaknya yang ini saya jarang, deh. 😀 )

Terus apa lagi, ya? Emm… sementara itu saja dulu. Lalu, uang tabungannya nanti mau buat apa? Ntar aja deh dipikirin. Wong sekarang juga lagi malas baca karena kebanyakan lemburan. Hahaha 😀

NB: Moon maap, gambar celengannya kekanakan banget. Soalnya kalau gambar Jungkook, nanti keremajaan. Halah!

Buku · Suka-Suka

Nyesek Story: Oh, My Book

3MAifsk1

Sudah menjadi kebiasaan saya membawa buku di dalam ransel untuk menemani perjalanan dari kantor-rumah. Sebagai pengguna transportasi umum, saya tentu akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk otw daripada dengan kendaraan pribadi. Dengan buku yang saya bawa, saya jadi lebih enjoy menikmati waktu perjalanan sambil membaca. Bahkan kalau sedang bad mood, saya kadang sengaja memilih naik bus dengan rute yang sedikit jauh, demi mendapatkan bus yang sepi sehingga saya bisa duduk tenang sambil membaca.

Buku saya masukkan ke dalam ransel bercampur dengan barang bawaan lainnya, seperti mukena, botol air minum, dompet, charger, power bank, pen case, payung, dan lain-lain. Biasalah, bawaan cewek di tas pasti banyak. Biasanya, sih, baik-baik saja. Paling cuma kusut sedikit bukunya. Tapi, malang tak bisa ditolak. Kemarin sore, saat membuka ransel, saya mendapati buku saya sudah basah kuyup ketumpahan air minum. Entah, mungkin saya kurang rapat menutup botolnya, sehingga seluruh isinya tumpah ke mana-mana. Momen yang paling dramatis adalah ketika saya mengeluarkan buku yang sudah kuyup dari tas, dengan air menetes-netes dari kertas dan covernya. 🙁

Dengan dibantu Ibu, saya melakukan tindakan penyelamatan: menyisipkan tisu di lembar-lembar bukunya, menindihnya dengan buku yang berat supaya covernya tidak tergulung, lalu mengangin-anginkan. Bukunya memang bisa diselamatkan setelah saya melakukan tips-tips hasil googling tersebut. Tapi, tentu saja dia tidak bisa kembali seperti semula.

Padahal ini buku yang baru saya buka segelnya beberapa hari sebelumnya, yang saya niatkan jadi buku pertama yang saya baca di tahun 2018, yang dengan bangga saya pamerkan kepada teman kantor. Bangga bisa memilikinya.

Pokoknya mah saya lagi sayang-sayangnya sama buku ini, sebelum tragedi itu terjadi. Kadang, hidup ini memang lucu. Bisa saja, menit ini kamu merasa sangat bahagia, tapi menit berikutnya kamu nelangsa. Pun sebaliknya. Maka meski nyesek, setidaknya ada pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini, yaitu “Jangan berlebihan mencintai. Sebab kalau kecewa, sakitnya akan parah sekali.”

SEKIAN.

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Minggu pagi ini aku bangun di….

 

Minggu pagi ini aku bangun di tahun 850 Masehi. Sayup kudengar suara lesung bertalu-talu serta kokok ayam bersatu padu. Segerombolan makhluk halus kocar-kacir kembali ke sarangnya. Ya ampun, merinding.

“Aarrgh…!” Terdengar suara teriakan frustrasi seorang laki-laki.

Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku. Lalu menyeretku untuk bersembunyi di balik sebuah batu.

“Dia tampak marah sekali. Jangan sampai dia melihat kita,” kata orang itu yang ternyata adalah Empi, temanku.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Mesin waktu kita rusak. Kita jadi nyasar ke sini. Juki sedang memperbaikinya,” jelas Empi.

“Kau tidur ngebo banget, sih. Kau tahu, laki-laki itu tadi sibuk sekali. Dia harus membuat sesuatu dalam tempo semalam agar bisa menikahi pujaannya. Ya ampun, kasihan. Aku mah cukup seperangkat alat sholat dibayar tunai, Mas,” lanjut Empi, mulai rumpi.

“Hah? Maksudmu, kita nyasar di negeri dongeng?” Aku shock.

“Entah. Di penunjuk waktuku, saat ini kita sedang berada di abad ke-9,” kata Empi sambil memeluk tiang listrik.

Tunggu dulu… memangnya tiang listrik sudah ada di abad 9, ya? Nanti saja kita urus masalah ini. Aku terlanjur penasaran dengan jati diri pria itu.

“Jadi, apakah tadi dia sedang membuat perahu? Apa namanya Sangkuriang?”

“Emm… kurasa dia sedang membangun candi,” jawab Empi sambil menunjuk batu tempat kami bersembunyi.

Aku memandang sekeliling. Ada banyak candi di sekitar kami. Seribu candi… eh, anu… 999 candi dan satu yang belum jadi.

“Jadi, dia Bandung Bondowoso,” desisku.

Aku kembali mengintip dari balik batu. Bandung Bondowoso tampak marah sekali saat seorang wanita yang cantik jelita menghampirinya. Itu pasti Roro Jonggrang.

Aku menarik napas tegang. Setelah ini, si jelita akan berubah menjadi arca karena kutukan sang pria. Saat itulah, Juki memanggil. Kami harus segera masuk ke mesin waktu atau selamanya terjebak di masa lalu. Eaaa…

“Kita nyasar jauh sekali. Akan memakan waktu agak lama untuk kembali,” jelas Juki.

Karena kecewa tidak bisa menyaksikan bagian seru dari kisah Bandung Bondowoso, aku hanya menjawab: “Terserah saja. Asalkan diiringi musik dangdut.”

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2018 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Jika Kamu Mi Instan

Jika kamu adalah mi instan, maka aku adalah butiran nasi dalam panci magic com. Kita tak dapat bersatu, Sayang. Demikianlah kita ditakdirkan.

Untuk apa memaksa bersama, jika yang terjadi nanti adalah bahaya. Kita mungkin akan mengenyangkan. Namun, tidak menyehatkan. Sebab siapa pun yang berkenan menyatukan kita untuk mengisi lambungnya, dia harus rela mengalami lonjakan indeks glikemik. Kadar gula dalam darah pun bisa jadi naik.

Oh, tidak! Aku tidak menyukai kisah cinta yang berbahaya.

Maka bersandinglah engkau dengan bawang goreng, telur, atau cabai rawit. Mereka yang lebih mampu untuk membuatmu menjadi hidangan istimewa. Tak perlu kau risaukan aku di sini. Kelak akan kutemukan jodohku sendiri. Barangkali dia adalah sayur kangkung atau bayam yang dimasak oleh ibu. Tukang sayur akan membawanya kemari esok pagi. Asalkan besok tidak hujan.

Aku akan sabar menanti esok datang sambil mengenang kampung halaman. Sawah dan ladang. Di sanalah dulu aku tinggal, Sayang. Ah, andai Tuhan mengizinkan, aku ingin di sana selamanya. Agar kita tak pernah dipertemukan yang pada akhirnya tak bisa dipersatukan. Karena aku lebih suka jadi petani daripada jadi mantan pacarmu.

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2017 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Opini · Suka-Suka

Yogyakarta: Bukan Metropolitan, Tapi Tak Ketinggalan Zaman

N1kbXX9B
Para abdi dalem sedang memanggul gunungan dalam acara Grebeg Besar 1950 Je

“Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.” — Joko Pinurbo.

Sejak dilahirkan di kota yang istimewa ini, saya memang belum pernah benar-benar pergi meninggalkan Yogyakarta. Kalaupun keluar kota, paling sekadar piknik atau mengunjungi kerabat di kota tetangga. Selanjutnya, takdir terus menuliskan garis hidup saya berjalan di kota ini. Lahir di Yogya, besar di Yogya, cari ilmu di Yogya, cari rezeki di Yogya, cari jodoh…. *skip

Namun demikian, saat mendengarkan curahan hati dari kawan-kawan saya tentang kota kelahiran ini, dada ini cukup mengembang oleh rasa bangga. Mereka yang telah menghabiskan masa studi di Yogya, lalu harus melanjutkan hidup di kota-kota lainnya, selalu merasakan rindu dan ingin kembali ke sini.

Bagi mereka, Yogyakarta bukanlah kota yang sangat metropolitan, di mana semua serba keras dan harus bergegas. Di Yogya, kota berjalan pelan dan bersahaja. Sebersahaja anggukan kepala kepada orang yang lebih tua. Namun, Yogya juga bukan kota yang ketinggalan zaman. Ada toko buku, bioskop, mall, kafe, perpustakaan, stadion olahraga, dan banyak lagi fasilitas umum yang lainnya.

Objek wisata? Ada candi-candi, kraton, dan beragam warisan cagar budaya yang bisa ditelusuri jika kamu suka sejarah. Ada pula gunung dan pantai-pantai yang bisa dijelajahi kalau kau suka berpetualang. Jangan lupakan pula aneka kuliner, seni, dan budaya yang banyak sekali jumlahnya.

Dari perasaan bangga, kemudian timbul sedikit rasa penasaran. Penasaran atas sensasi bahagia yang dirasakan kawan-kawan saya saat kembali ke Yogya. Barangkali saya harus mencoba untuk merantau juga barang sejenak, agar dapat merasakan kerinduan dan ingin pulang kembali ke kota ini. Suatu saat nanti, mungkin?

Yang pasti, sebagai orang yang lahir dan besar di kota ini, saya berharap semoga Yogyakarta tetap nyaman untuk ditinggali. Jangan lagi banyak dibangun gedung-gedung tinggi. Yogyakarta tak perlu menjadi kota metropolitan. Cukup jadi kota yang tak ketinggalan zaman.

Suka-Suka

Excuse Me, Can You Show Me this Address, Please .…

 

Tinggal di kampung yang dekat dengan salah satu objek wisata, sudah menjadi pemandangan yang jamak bagi saya, turis wara-wiri sambil menenteng kamera, backpack, dan peta. Dulu, waktu kecil, setiap kali melihat ada bule yang melintas di jalanan kampung, saya bersama sepupu dan teman-teman main lainnya selalu berseru riang, “Halo, Mister!” Lalu, si bule akan mengalihkan perhatiannya dari serius membaca peta menjadi serius memfoto anak-anak kecil yang gumunan melihat orang asing. Mendapat kesempatan difoto bule, bukan main bahagianya kami saat itu. Wkwkwk duh!

Belakangan, saat sudah dewasa, saya paham bahwa para bule itu memang sengaja blusukan untuk mengetahui kehidupan asli di perkampungan sekitar. Kalau bahasa kekiniannya, backpacker-an. Mereka sengaja blusukan sendiri dan memilih tidak menggunakan layanan city tour (atau apa ya namanya?) yang biasanya hanya mengunjungi tempat-tempat wisata yang umum saja. Karena blusukan sendiri, maka tentu saja mereka tidak ditemani oleh seorang tour guide. Ya, pokoknya berkelana sendiri gitulah! *ribet amat bahasanya, wkwk*

Dan, tidak seperti waktu masih kecil, sekarang ini ketika bertemu dengan turis yang sedang backpacker-an, saya justru sebisa mungkin menghindar. Bukan apa-apa, saya hanya takut ditanya alamat! Diminta menunjukkan arah pakai bahasa Indonesia saja saya sering ribet sendiri, apalagi kudu pakai bahasa Inggris. 🙁

 

Pernah suatu hari, saat saya sedang ke warung beli kuaci, tiba-tiba ada mbak turis datang menghampiri (halah!). “Excuse me, do you know where Jalan Mantrigawen is?” tanya mbak turis yang ternyata dari Vietnam itu. Jalan yang ditanyakan mbak turis kebetulan cukup dekat dengan posisi kami saat itu. Maka dengan penuh percaya diri, saya jawab:

“Ahh, it’s over there!” Sambil nunjuk ke depan.

There?” Mbak Turis pasang tampang plongo.

Wew… padahal maksud saya mau bilang gini, “Itu lho, Mbak, lurus aja. Sampai ada pertigaan. Nah, situ namanya Jalan Mantrigawen.” Tapiii… kata “pertigaan” bahasa Inggrisnya apaan sih? #plak *digetok pakai kamus Indonesia-Inggris*

 

Ya sudah, daripada ribet, saya anterin saja deh tuh Mbak Turis sampai ke tekape. Jalan kaki, tentu saja. Untung saja, nilai bahasa Inggris saya yang meskipun pas-pasan, tapi nggak jelek-jelek amat. Jadi, sepanjang perjalanan kami nggak krik krik, diem-dieman seperti lagi marahan. Hahaha

Do you live around here?” tanya Mbak Turis.

Yes,” jawab saya.

Married?”

Not yet,” jawab saya sambil senyum dimanis-manisin. Hadeh, ngobrol sama orang asing juga ada ya pertanyaan sejuta umat ini, “Kapan nikah?” -___-

Beruntung kami sudah sampai tekape sebelum obrolan makin nggak keruan. Saya katakan kepada Mbak Turis bahwa kami sudah sampai. Mbak Turis mengucapkan terima kasih, sambil memberi tahu bahwa sebenarnya dia sedang mencari penginapannya yang ada di sekitar jalan tersebut.

Thank you very much. I’m looking for The D*l*m, a guesthouse. But, I can just walk. Thank you :),” kata Mbak Turis.

Intinya, dia bilang dia bisa cari sendiri penginapannya. Yaa… gitu juga boleh, Mbak. Sebenarnya saya tahu itu di mana penginapannya. Nggak jauh lagi dari tempat kami berdiri waktu itu. Tapi, daripada ntar ruwet lagi, mending biar mbak turis cari sendiri saja deh ya. Wkwkwk *melipir pulang sambil nyisil kuaci*

Kpop & Kdrama · Suka-Suka

Pesan dari Fangirl Sesepuh

Kalau kalian tahu lagu ini, itu artinya kalian adalah kpopers yang sudah harus dimuseumkan. Dan, saya adalah salah satu di antaranya. :))

Lalu, fangirl zaman now be like: “Iya, Eonni. Mending pensiun saja. Bukannya mikir nikah, malah nikung bias orang mulu.”

Wkwkwk iyaaa… iyaa… tapi, sebelum kehidupan saya sebagai fangirl benar-benar paripurna dikarenakan usia (halah), saya pengin pesan aja nih ya buat dedek fangirl zaman sekarang. Please… jangan war mulu. Mari kita nikmati saja kegantengan oppa… enngg, maksudnya, hiburan dari oppa dalam damai, aman, sentosa.

Lagipula, war itu kagak ada faedahnya sama sekali. Sesungguhnya, bias yang kalian panggil “suami” itu kelak akan jadi suami orang. Yang fana adalah oppa, ditinggal nikah itu pasti adanya (lalu ingat Taeyang yang baru saja jadi suami orang, hiks).

Maka dari itu, daripada berantem, mending berteman. Karena siapa tahu, kelak jodohmu ada di fandom sebelah. #nah