Suka-Suka

Letter to My Self: “Selamat Ulang Tahun, Mpok!”

WhatsApp Image 2019-05-02 at 9.09.55 AM

To: Me

From: Also Me

Dulu, kamu pernah bertanya, “Apa yang paling menggelisahkan tentang masa depan? Jodoh yang tak kunjung kelihatan? Atau, hati yang selalu salah sasaran?”

Waktu itu, aku tak bisa menjawabnya. Sebab, aku pun merasakan kegelisahan yang sama.

Belakangan, kau tanya lagi kepadaku, “Dari sekian kesempatan, belum ada yang membuat kita berkenan. Apa menurutmu kita enggak sok kecantikan?”

Lagi, aku tak dapat menjawabnya. Namun, kalau boleh aku mengutip analogi dari seorang kawan, saat ini kita ibarat menunggu bus kota. Masing-masing bus yang datang, tentu akan bermacam-macam kondisinya. Kita bisa memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan bus yang lebih dulu merapat sehingga sampai tujuan lebih cepat, meskipun kondisi bus mungkin akan membuat kita tidak nyaman dan bahkan salah jurusan. Atau, kita sabar menunggu hingga datang bus dengan kualitas yang kita mau, sesuai dengan jalur yang ingin kita tuju, dan membuat kita nyaman sepanjang perjalanan. Dengan risiko, mungkin kita akan sedikit terlambat sampai ke tujuan.

Mengingat perjalanan yang akan kita tempuh ini sangat panjang, sepanjang sisa kehidupan, maka sebaiknya kita memilih kedaraan yang memang mebuat kita nyaman dan sesuai jalur yang kita inginkan. Tak mengapa terlambat, asal tetap selamat. Sebab seperti katamu dulu, cukup masa lalu saja yang penuh dengan drama-drama kehidupan. Masa depan jangan.

Selamat ulang tahun, Mpok. Terima kasih telah mau banyak belajar dan berbenah. Terima kasih sudah jadi orang yang selow dan santai dalam menghadapi masalah. Terus terang, dibanding beberapa tahun yang lalu, aku lebih suka dirimu yang sekarang ini. Semoga segera terwujud apa yang menjadi doa-doa kita selama ini.

Aamiin.

03 Ramadhan 11440 H / 08 Mei 2019 M

Suka-Suka

Terima Kasih Telah Singgah

Terima kasih telah bersedia singgah, Tuan.

Maaf aku tak sempat menyeduhkan secangkir kopi serta setangkup roti berlapis selai stroberi, sebab engkau telah buru-buru pergi. Lebih tepatnya, aku yang mengizinkanmu singgah sejenak di dalam dada ini dan aku pula yang kemudian melepasmu pergi lagi.

Aku harus melepasmu pergi.

Bukan karena aku membencimu, Tuan. Justru, kau yang paling istimewa sejauh ini. Hanya, aku terlalu lelah untuk terjebak dalam gelisah, sebagaimana yang sudah-sudah. Sudah kutinggalkan semua hal yang melelahkan itu. Tahun ini, aku hanya ingin merawat diriku sendiri. Lahir dan batin.

Namun, satu hal yang perlu kau tahu, Tuan. Darimu, aku sadar bahwa orang hebat adalah justru dia yang tak pernah menunjukkan dirinya sendiri hebat. Kehebatannya akan tampak sendiri dari kerendahan hati. Bagiku, kamu hebat, tapi rendah hati. Kamu pintar, banyak yang mengakui itu. Pun aku, melihatmu seperti itu. Kamu pendiam, tapi juga lucu. Kamu puitis, tapi tidak sembarangan mengumbar kata-kata romantis. Lebih dari itu, kamu adalah pria yang sopan.

Kamu memang tak sempurna, tapi kamu sempurna memenuhi kriteria yang kupintakan kepada-Nya. Belakangan baru kusadari fakta itu. Fakta yang membuatku tidak ingin melihat yang lain secara objektif. Aku hanya melihatmu saja. Tentu saja, sikapku itu kurang benar. Sebab seperti katamu, setiap orang punya takaran kebahagiaan dan kesempurnaan masing-masing. Jadi jangan dibanding-bandingkan.

Jodohmu kelak tentulah wanita dengan kualitas yang sama sepertimu. Dan, itu bukan aku.

Membahas masalah jodoh, topik inilah yang membuat kita bertemu dalam situasi yang membuatku gelisah begini. Saat kamu mengetuk pintu di awal tahun baru beberapa tahun yang lalu, betapa senangnya aku menyambutmu. Tentu, aku belum berpikiran apa-apa waktu itu. Yang aku bayangkan hanyalah, aku dapat melakukan hal-hal yang kulakukan dulu. Waktu kamu mengajariku macam-macam, meskipun kita belum pernah dipertemukan. Maka pada kali pertama kita bertemu, aku membayangkan dapat melakukan semua hal itu. Belajar banyak darimu, berbincang panjang denganmu, ngobrol lucu-lucuan, pun aku bisa meminjam buku-bukumu. Jadi, marilah sekarang kita lakukan hal-hal yang seperti itu saja. Berteman biasa, seperti yang kau minta.

Terima kasih. Senang berteman denganmu. 🙂

 

PS: Kalau kau tak mengizinkanku untuk mengendap-endap masuk ke hatimu, berhentilah wara wiri di pikiranku. Aku mau cepat move on, woii!!

Suka-Suka

Bertemu Dilan KW di Bus Transjogja Jalur 1B, Akankah Ada Pertemuan Ketiga?

Saya selalu berpendapat bahwa yang disebut sebagai jodoh itu bukan semata belahan jiwa yang menunggu untuk berlayar bersama sambil saling bergenggaman tangan, melainkan siapa saja yang dipertemukan oleh Tuhan di sepanjang perjalanan kehidupan. Baik mereka yang singgah untuk kita sebut sebagai teman, maupun mereka yang hanya sepintas lalu hadir namun tetap meninggalkan kenangan.

Sepanjang tahun 2018 kemarin, alhamdulillah saya “berjodoh” dengan banyak teman baru. Termasuk salah satu orang unik yang saya temui awal tahun 2018 lalu. Saya menyebutnya sebagai Dilan KW, sebab kelakuannya mirip Dilan. Iya, Dilan yang itu. Tahu, kan. Dilan pacar Milea di novelnya Pidi Baiq yang famous itu. Dilan yang jago nyepik dan bikin cewek-cewek baper. Pertemuan kami hanya sepintas saja. Tidak berlama-lama. Namun, tetap meninggalkan cerita.

Siang itu, kira-kira awal bulan April atau akhir Maret 2018. Lupa tepatnya. Tidak ada yang istimewa. Saya hanya menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi ngejar bus, sore nunggu bus. Gitu aja terus sampai Jungkook tahu-tahu sudah gede, lol. Namun, hari Sabtu siang itu, takdir memberi sedikit kejutan agar hidup saya tidak terlalu lempeng. Waktu itu, saya sedang otw pulang kerja naik Transjogja jalur 1B. Lalu, naiklah cowok ini dan duduk di sebelah saya. Mulanya saya cuek aja (yakali, nggak kenal mau SKSD), sebelum akhirnya dia menyapa saya terlebih dahulu. Lalu, kami ngobrol. Kebetulan kami sama-sama turun di Taman Pintar. Dia mau ke Taman Budaya Yogyakarta.

Di tengah obrolan, tiba-tiba dia mengeluarkan buku kumpulan puisi karyanya. Wah, penyair ternyata. Lalu, dia cerita kalau sedang ada masalah dengan penerbit tempat bukunya itu diterbitkan. Katanya, pihak penerbit keliru mencantumkan ISBN dari buku lain pada cover bukunya. Dia lalu inisiatif menghubungi pihak Perpusnas untuk mengganti input di database mereka. Minta ditukar antara data ISBN untuk bukunya dengan data ISBN buku lain yang keliru itu. Menurutnya, hal itu lebih efisien daripada harus mencetak lagi cover dengan ISBN yang benar, lalu dijilid ulang. Lagipula, kata dia, kalau dibongkar terus dipasang lagi jilidan bukunya, nanti jadi jelek. Namun, inisiatifnya itu malah justru membuat CEO penerbit marah dan ngomel ke dia.

Allahumma… yakaliii….

Mendengar ceritanya, saya malah jadi pengin ikutan ngomelin dia. Saya bilang, masalah itu sebenarnya mudah diatasi kalau dia pasrahkan saja ke penerbit. Kan, kesalahan ada di pihak penerbit. Jadi, biar penerbit yang mengatasinya. Inisiatif dia menghubungi Perpusnas malah bikin masalah jadi melebar ke mana-mana. Wajar aja kalau CEO penerbitnya jadi marah. Nah, mendengar saya nyerocos begitu, dia jadi bertanya-tanya. Kok, saya bisa tahu banyak masalah ginian? Ya udah, saya bilang kalau saya kerja di penerbit juga. Hal yang kemudian saya sesali karena dia jadi makin penasaran. Tanya-tanya saya kerja di penerbit mana, bagian apa, dan sebagainya.

Jelang turun dari bus, tiba-tiba dia menyodorkan handphone-nya sambil bilang, “Minta nomor wa, ya.” Duh, saya nggak terbiasa kasih nomor handphone ke orang asing secara random begitu. Jadi, saya tanya balik, “Buat apa?” Dia bilang buat jualan buku. Sempat tebersit di benak saya buat kasih nomor asal aja, bukan nomor yang beneran. Tapi, dia bilang, “Jangan dipalsuin, lho.” OMG! Bisa baca pikiran apa gimana ini orang?

Setelah turun dari bus, saya langsung buru-buru pamit dan ngacir menjauh dari dia sambil berdoa semoga saya tidak perlu berurusan yang aneh-aneh dengannya. Saya kira, Allah mengabulkan doa saya itu. Karena beberapa waktu setelahnya, hidup saya kembali lempeng seperti biasa. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, tiga minggu, aman. Sampai suatu hari, kami ketemu lagi!! Tanpa sengaja. Di Transjogja jalur yang sama.

Dia tanya kabar, saya jawab baik. Terus kami ngobrol lagi. Dia tanya, “Eh, ini tanggal 25, ya?” Saya jawab, iya. Lalu, tiba-tiba dia mengulurkan tangan sambil bilang “Selamat, ya.”

Hah?

Selamat apaan? Saya tanya. Jawabnya, selamat hari Kartini. -__-

Mau nggak mau saya jadi ngakak. Terus iseng saya bilang, “Kenapa cuma aku? Ini ibunya juga Kartini,” kata saya sambil menunjuk ibu-ibu di sebelah. Ibunya cuma mesem-mesem saja. And you know what? Dia terus menyalami semua ibu-ibu dan mbak-mbak yang ada di bus sambil mengucapkan selamat hari Kartini. Saya sampai malu.

Untuk mengalihkan topik, saya bilang “Kok, bisa kebetulan ketemu lagi, ya?” Dia malah balik tanya, “Setiap hari naik bus ini, ya?” Saya jawab, iya. Lalu katanya, “Kalau begitu tunggu sampai pertemuan ketiga.” Emang kenapa dengan pertemuan ketiga? Tanya saya. Kata dia, “Aku percaya nggak ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk pertemuan kita.” Astagaaa!! -____-

Waktu itu saya ketawa, sih. Tapi, kan, malu juga dilihat sama orang-orang satu bus. Saya tahu, dia pasti mau ke TBY lagi. Jadi, saya turun di halte depan Pakualaman karena nggak mau turun bareng dia di Taman Pintar. Sudah terlanjur malu sama orang-orang di dalam bus. Dia tanya, “Loh, kan turunnya di Taman Pintar?” Akhirnya saya terpaksa bohong mau mampir ke suatu tempat dulu. Huft!

Nah, waktu saya mau turun, ada ibu-ibu juga mau turun. Terus cowok aneh itu manggil si ibu. Dia bilang gini, “Bu, titip, ya.” Allahumma… mana ibunya pakai jawab “Nggih, Mas.” segala.

Sungguh, kalau saya baca adegan seperti ini di novel romansa, pasti saya akan sibuk ber-uwuwu ria. Tapi ketika mengalaminya sendiri, ternyata yang ada saya malah merasa insecure. Malu banget sama orang-orang sumpeh. Sepanjang perjalanan pakai Gojek ke rumah, saya berdoa semoga nggak perlu berurusan dengan orang yang aneh-aneh lagi.

Demikian kisah pertemuan saya dengan Dilan KW. Meski dramatis begini, ini kisah nyata, Gaess. Saya juga nggak nyangka bakal ketemu orang sejenis itu. Yang jelas, semenjak pertemuan kedua itu, saya langsung ganti jalur bus dan sering naik Gojek dari kantor. Takut ada pertemuan ketiga, haha. Oh ya, dia juga sempat whatsapp. Tapi setiap kali dia whatsapp, saya selalu balas slow respons dan ala kadarnya. Wkwk ya gimana, serem eh. 😀

Tahun 2019 saya sudah balik naik jalur 1B lagi. Tapi, Dilan KW sudah nggak ada. Hahaha

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Ternyata Saya Pernah Menulis Novel

WhatsApp Image 2018-12-29 at 09.44.31

Menemukan file ini saat bongkar-bongkar folder lama. Ternyata, saya pernah nulis novel. Naskah ini saya tulis sekitar tahun 2008 atau 2009. Waktu masih kuliah pokoknya. *ketahuan umurmu, Budhe* Tahun 2010 diterima sama penerbit, tapi sampai sekarang belum terbit dan saya nggak tahu juga penerbitnya masih ada atau enggak saat ini. Hahahaha

Novel ini bercerita tentang dua orang sahabat yang memperjuangkan impian mereka untuk menjadi penulis. Persahabatan mereka terancam kandas karena sebuah permasalahan internal. Ya kan dulu saya sedang ngefans berat sama Andrea Hirata, jadi novelnya sedikit terpengaruh ala-ala Sang Pemimpi gitu. Selain itu, di novel ini juga ada cerita tentang teater-teaternya. Nggak nyangka juga saya bisa nulis tentang teater-teateran begitu. Barangkali karena waktu itu kebetulan saya juga sedang menyiapkan pertunjukan teater bersama teman-teman sekelas untuk tugas akhir mata kuliah Kajian Drama.

Sekarang kalau saya baca lagi naskah novel ini, rasanya malu sendiri dan ingin hilang ingatan. Anu… ceritanya itu, aduhh… Hahaha Tapi di sisi lain, ada rasa bangga juga, sih. Novel ini menjadi pengalaman pertama saya dapat honor dari menulis buku. Kalau nggak salah ingat, waktu itu uangnya saya belikan handphone Cina merek D-One (belum Android) terus buat dipakai foto-fotoan waktu wisuda. Yup, handphone berkamera pertama yang saya punya, beli pakai uang sendiri, dong! 😀

PS: Jangan tanya saya bisa nulis novel atau enggak ya sekarang. Ini tampang saya udah nonfiksi banget soalnya. :))

Suka-Suka

A Letter to Myself: Surat dari Masa Depan

WhatsApp Image 2018-12-29 at 10.10.41

To: Me in the present

From: Me in the future

Kepada diriku di masa lalu,

Apa kabar?

Maaf bila aku lancang menulis surat ini. Bukan untuk mendahului takdir Tuhan, hanya ingin menyampaikan sebuah harapan. Semoga, kau tak keberatan.

Aku menulis surat ini di sela-sela kesibukanku mengurus dua krucils yang sedang aktif-aktifnya. Dua? Yap, twin baby. Seperti impianmu. Mereka sudah 2 tahun sekarang. Si kakak sedang banyak tingkah. Tiap sore selalu minta berburu belalang bersama ayah. Sementara adek, lebih suka membaca buku bersama ibu. Lucu sekali melihat ekspresinya saat menyimak dongeng tentang kupu-kupu.

Sampai di sini, kau pasti bertanya-tanya. Siapa ayah mereka? Hmm, sebenarnya ini rahasia. Tapi, baiklah, kuberi sedikit bocoran. Dia adalah seorang lelaki dewasa yang pintar dan baik hatinya. Sesuai harapanmu. Bersamanya, membuatku merasa bahwa apa yang kutangisi tempo hari jadi konyol sekali. Kalau saja aku tahu bahwa Tuhan telah mempersiapkan untukku orang sehebat ini, tak akan kusia-siakan waktuku dulu untuk meratapi patah hati.

Tujuanku menulis surat ini sebenarnya adalah aku ingin meminta tolong kepadamu. Saat ini, aku sangat bahagia dengan hidupku. Kau tahu kan, bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh apa yang dia lakukan di masa lalu? Nah, aku adalah dirimu di masa depan. Dengan demikian, kau adalah diriku di masa lalu. Maka, nasibku di sini sangat bergantung kepadamu. Jadi, aku mohon dengan sangat, tolong ubah semua kebiasaan burukmu itu.

Melihatmu masih suka mager dan malas-malasan begini, aku jadi tak yakin Tuan Hebat akan bersedia menikahimu. Lalu, melihatmu yang selalu menumpuk pekerjaan hingga mepet tenggat waktu, aku jadi pesimis kau bisa jadi ibu yang baik untuk si kembar. Aku harap setelah membaca surat ini, kau berkenan mulai membenahi diri. Tentu kau tak ingin hidupku di masa depan suram, kan? Jangan lupa, aku adalah dirimu.

Mungkin sekian dulu suratku. Tolong pikirkan baik-baik permintaanku itu ya.

Salam hangat,

Aku, dirimu di masa depan.

Suka-Suka

Selamat Malam, Tuan

Selamat Malam, Tuan

Semoga malam ini kamu bisa tidur dengan nyenyak.

Dan ketika kau terbangun di pagi hari nanti, Tuhan telah menghapuskan segala sakit yang mendera ragamu, serta segala kegelisahan yang mengganggu jiwamu. Menggantinya dengan rezeki yang berkah. Juga, kebahagiaan yang melimpah.

Lalu ketika esok hari kamu kembali menjelma menjadi siluet di antara hitam dan biru pada langit pagi itu, akan kukatakan kepadamu: “Sebenarnya aku ingin sekali mengendap-endap masuk ke hatimu, tapi kenapa justru kamu yang selalu kurang ajar wara wiri di pikiranku?”

 

Suka-Suka

Lelaki yang Mengetuk Pintu di Tahun Baru

Selamat pagi… eh, udah siang, ding.

Saat membaca surat ini, mungkin kau sedang nguap-nguap ngantuk di depan monitor. Atau, sedang meregangkan punggungmu ke kiri dan kanan, hingga terdengar bunyi “kratak… kratak…”. Weww… sabar, yah. Sebentar lagi jam pulang kantor. Kamu bisa langsung touch down kasur, baca buku, atau mainan medsos.

Enng… melalui surat ini, aku cuma ingin mengingatkanmu pada perjanjian yang telah kita buat waktu itu. Kau bilang:

“Baiklah, hatiku. Kali ini hanya ada engkau dan aku. Juga Dia, yang menciptakan kita.”

Kala itu, aku masih belum sembuh benar. Masih ada sedikit nyeri di sana sini. Ya, karena kau tidak berhati-hati, aku jadi terluka lagi. Lebih parah.

“Kali ini aku akan menjagamu dengan baik. Tak akan membiarkanmu jatuh, dan akhirnya sakit lagi.”

Janjimu, dan aku setuju. Aku tulis surat ini, bukan karena aku tak percaya padamu. Aku hanya merasakan belakangan ini kau mulai gelisah. Sejak lelaki itu mengetuk pintu di tahun baru dua tahun yang lalu, kau jadi kepikiran, geregetan, dan penasaran. Lebih dari itu, kau juga jadi sering merasa rindu.

Yah, aku tahu, dia memang lebih hebat, jauh lebih hebat. Tapi, please yaa… kau sudah janji kepadaku. Kau berjanji akan berhati-hati menjagaku. Tak akan membiarkanku jatuh lagi kepada orang yang salah, yang pada akhirnya membuatku patah.

“Patah hati itu pedih, Jenderal!”

 

Salam,

Aku, isi hatimu

Suka-Suka

Review Suka-Suka Lagu Thousand Years – Christina Perri

Mendengar lagu ini, barangkali yang terbayang di benak kita adalah romantisme cinta segitiga antara Edward Cullen si vampire tampan dan Jacob Black si serigala ganteng yang mencintai seorang gadis yang sama, yaitu Bella Swan. Yap, lagu ini merupakan salah satu lagu yang menjadi soundtrack dari film Twilight. Terlepas dari romantisme yang dihadirkan dalam cerita filmnya, lagu ini juga memiliki potensi untuk membuat siapa pun yang mendengarnya jadi baper massal. Mendengarkan lagu ini, berasa ingin ngupas bawang bombai sambil bersandar di pundak Jacob. #ehh

Edward-jacob-bella-eclipse-movie-photos
Gambar diambil dari http://twilightsaga.wikia.com

Konon, para kritikus musik di Amerika sana juga sangat memuji lagu ini. Baik dari segi vokal Christina Perri yang sangat baik dalam membawakan lagu ini, juga dari lirik yang meskipun terkesan cengeng akan tetapi menimbulkan kesan yang mendalam. Suara Christina Perri yang merdu serta lirik lagu yang penuh haru adalah kekuatan dari lagu ini. Kedua aspek tersebut dapat menimbulkan suasana yang romantis sendu (halah, apaan tuh? 😀 ) dari lagu ini.

Mencermati liriknya, lagu ini bercerita tentang seseorang yang pada akhirnya menemukan tambatan hatinya setelah sekian lama menunggu. Setelah selama ini mencari, dia telah jatuh cinta dan ingin bersama dengan pujaan hatinya selama 1.000 tahun lamanya.

I have died everyday waiting for you / Darling don’t be afraid I have loved you / For a thousand years

Namun, betapapun cintanya, masih ada sedikit kegamangan di hatinya. Ada rasa takut untuk mendekat. Takut membuka hati lalu dia akan tersakiti. Barangkali dulu nih orang ceritanya pernah patah hati, jadi masih trauma buat jatuh cinta lagi. Atau, dia nggak berani mendekati orang yang ditaksirnya karena takut nggak direspons. Lol

How can I love when I’m afraid to fall

Pada akhirnya, dia beranikan diri juga untuk mendekat. Takut keburu gebetan ditikung orang. Wakakak

I will be brave / I will not let anything take away / What’s standing in front of me

Secara keseluruhan, lagu ini sangat puitis, romantis, dan baperable. Kurang baper gimana, di mana-mana yang namanya memendam perasaan suka itu rasanya pasti nyesek dong ya. *jangan curhat Mbak pliz*

Ya udah, gitu saja. Mohon maaf bila review ini sangat abal. Sekian dan terima pinangan Jacob Black.

 

 

Suka-Suka

Ketika Smartphone Membuat Hidup Terasa Bising

9568276_201803180938090520
gambar diambil dari https://www.kaskus.co.id

Belakangan ini, saya sering merasa ingin kembali ke zaman di mana belum ada smartphone. Zaman di mana kita harus sabar menunggu beberapa hari untuk bertegur sapa dengan kawan yang terpisahkan jarak. Menunggu ketika Pak Pos datang membawakan sepucuk surat balasan dari kawan lama. Bukannya saya tidak mau menerima kemajuan zaman, saya hanya merasa kesepian di tengah keramaian. Merasa hampa di tengah gempuran chat whatsapp yang seolah tidak ada habisnya. Ramai, sih. Tapi, hati ini rasanya kosong karena terlalu banyak haha hihi. Intinya, saya hanya ingin menikmati melipir sejenak dari hiruk pikuk yang mungkin ditimbulkan dari handphone pintar ini.

Bayangkan saja, misal dari satu handphone terinstal beberapa aplikasi sosial media, seperti facebook, twitter, instagram, dan sebagainya, yang kesemuanya dalam posisi log in. Maka, harus siap mendapatkan notifikasi masuk kapan saja.

Itu baru akun medsos, belum aplikasi messenger seperti whatsapp, BBM, Line, dan lain sebagainya. Dan, di masing-maing platform messenger kita join ke dalam beberapa grup. Grup ini kadang juga bukan kemauan kita untuk gabung, hanya dimasukkan oleh teman yang tidak kuasa ditolak demi kesopanan. Nah, bayangkan ketika setiap grup sedang ramai. Handphone tidak akan berhenti bergetar dan berbunyi “tang-ting-tang-ting”. Pusyiinngg…

Saya pribadi hanya pakai satu aplikasi messenger, yaitu Whatsapp. Lalu, beberapa grup juga sudah saya silent (hehe… piss!). Namun demikian, tetap saja perhatian teralih saat tahu ada banyak chat yang belum terbaca. Jadi penasaran untuk membacanya satu per satu. Akhirnya, buang-buang waktu. Saya sering diam-diam leave grup demi kesehatan jiwa. Tapi sialnya, setiap kali leave saya selalu tertangkap basah. :))

Gabung dengan grup-grup seperti itu sebenarnya seru, sih. Bisa punya teman ngobrol seru-seruan saat sedang merasa kesepian. Pun bisa saling berbagi informasi. Namun, ada kalanya saya ingin menyepi dan tidak berinteraksi dengan banyak orang untuk sementara waktu. Nah, inti dari tulisan ini sebenarnya adalah saya cuma mau curhat saja, sih. Daripada jadi penyakit kalau cuma dipendam, jadi sebaiknya diceritakan. Dan, saya nggak tahu mesti cerita ke siapa yang paling tepat. Makanya, saya nyampah di sini saja. Hahaha mo’on maap ya pemirsa…. 😀

Suka-Suka

Review Ala-Ala Lagu Mirasantika Rhoma Irama: Say No To Drugs

Singkat saja, karena saya sedang lemes, haha. Postingan ini terilhami dari kawan saya, Mpok Nanik, yang begitu menggemari Bang Haji Rhoma Irama. 😀

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan lagu milik Bang Haji Rhoma Irama ini. Liriknya yang cukup menggelitik karena adanya repetisi dari kata “tak”, tak jarang akan membuat kita senyum-senyum sendiri setiap kali mendengarnya. Namun demikian, di samping liriknya yang lucu itu, lagu ini sebenarnya mengandung nasihat yang cukup penting.

Dalam lagu Mirasantika, terdapat pesan agar kita senantiasa “Say No to Drugs!”. Sebab, minuman keras dan narkotika itu dapat membawa kita kepada banyak hal-hal buruk, yang pada akhirnya tidak hanya akan merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.

Gara-gara kamu orang bisa menjadi gila

Gara-gara kamu orang bisa putus sekolah

Gara-gara kamu orang bisa menjadi edan

Gara-gara kamu orang kehilangan masa depan

Tentu kita semua sudah tahu belakangan ini banyak berita-berita menyeramkan yang kesemua itu diakibatkan oleh miras dan obat-obatan terlarang. Sebagaimana kata Bang Haji dalam lagunya, minuman keras dan obat-obatan terlarang itu dapat menghancurkan hidup dan merusakkan jiwa. Maka, jangan sekali-kali mendekati benda-benda haram itu. Say no to drugs! Katakan, “Tak-tak-tak-tak-tak ku tak sudi tak sudi tak!