Membaca & Menulis · Suka-Suka

Minggu pagi ini aku bangun di….

 

Minggu pagi ini aku bangun di tahun 850 Masehi. Sayup kudengar suara lesung bertalu-talu serta kokok ayam bersatu padu. Segerombolan makhluk halus kocar-kacir kembali ke sarangnya. Ya ampun, merinding.

“Aarrgh…!” Terdengar suara teriakan frustrasi seorang laki-laki.

Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku. Lalu menyeretku untuk bersembunyi di balik sebuah batu.

“Dia tampak marah sekali. Jangan sampai dia melihat kita,” kata orang itu yang ternyata adalah Empi, temanku.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Mesin waktu kita rusak. Kita jadi nyasar ke sini. Juki sedang memperbaikinya,” jelas Empi.

“Kau tidur ngebo banget, sih. Kau tahu, laki-laki itu tadi sibuk sekali. Dia harus membuat sesuatu dalam tempo semalam agar bisa menikahi pujaannya. Ya ampun, kasihan. Aku mah cukup seperangkat alat sholat dibayar tunai, Mas,” lanjut Empi, mulai rumpi.

“Hah? Maksudmu, kita nyasar di negeri dongeng?” Aku shock.

“Entah. Di penunjuk waktuku, saat ini kita sedang berada di abad ke-9,” kata Empi sambil memeluk tiang listrik.

Tunggu dulu… memangnya tiang listrik sudah ada di abad 9, ya? Nanti saja kita urus masalah ini. Aku terlanjur penasaran dengan jati diri pria itu.

“Jadi, apakah tadi dia sedang membuat perahu? Apa namanya Sangkuriang?”

“Emm… kurasa dia sedang membangun candi,” jawab Empi sambil menunjuk batu tempat kami bersembunyi.

Aku memandang sekeliling. Ada banyak candi di sekitar kami. Seribu candi… eh, anu… 999 candi dan satu yang belum jadi.

“Jadi, dia Bandung Bondowoso,” desisku.

Aku kembali mengintip dari balik batu. Bandung Bondowoso tampak marah sekali saat seorang wanita yang cantik jelita menghampirinya. Itu pasti Roro Jonggrang.

Aku menarik napas tegang. Setelah ini, si jelita akan berubah menjadi arca karena kutukan sang pria. Saat itulah, Juki memanggil. Kami harus segera masuk ke mesin waktu atau selamanya terjebak di masa lalu. Eaaa…

“Kita nyasar jauh sekali. Akan memakan waktu agak lama untuk kembali,” jelas Juki.

Karena kecewa tidak bisa menyaksikan bagian seru dari kisah Bandung Bondowoso, aku hanya menjawab: “Terserah saja. Asalkan diiringi musik dangdut.”

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2018 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Jika Kamu Mi Instan

Jika kamu adalah mi instan, maka aku adalah butiran nasi dalam panci magic com. Kita tak dapat bersatu, Sayang. Demikianlah kita ditakdirkan.

Untuk apa memaksa bersama, jika yang terjadi nanti adalah bahaya. Kita mungkin akan mengenyangkan. Namun, tidak menyehatkan. Sebab siapa pun yang berkenan menyatukan kita untuk mengisi lambungnya, dia harus rela mengalami lonjakan indeks glikemik. Kadar gula dalam darah pun bisa jadi naik.

Oh, tidak! Aku tidak menyukai kisah cinta yang berbahaya.

Maka bersandinglah engkau dengan bawang goreng, telur, atau cabai rawit. Mereka yang lebih mampu untuk membuatmu menjadi hidangan istimewa. Tak perlu kau risaukan aku di sini. Kelak akan kutemukan jodohku sendiri. Barangkali dia adalah sayur kangkung atau bayam yang dimasak oleh ibu. Tukang sayur akan membawanya kemari esok pagi. Asalkan besok tidak hujan.

Aku akan sabar menanti esok datang sambil mengenang kampung halaman. Sawah dan ladang. Di sanalah dulu aku tinggal, Sayang. Ah, andai Tuhan mengizinkan, aku ingin di sana selamanya. Agar kita tak pernah dipertemukan yang pada akhirnya tak bisa dipersatukan. Karena aku lebih suka jadi petani daripada jadi mantan pacarmu.

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2017 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Opini · Suka-Suka

Yogyakarta: Bukan Metropolitan, Tapi Tak Ketinggalan Zaman

N1kbXX9B
Para abdi dalem sedang memanggul gunungan dalam acara Grebeg Besar 1950 Je

“Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.” — Joko Pinurbo.

Sejak dilahirkan di kota yang istimewa ini, saya memang belum pernah benar-benar pergi meninggalkan Yogyakarta. Kalaupun keluar kota, paling sekadar piknik atau mengunjungi kerabat di kota tetangga. Selanjutnya, takdir terus menuliskan garis hidup saya berjalan di kota ini. Lahir di Yogya, besar di Yogya, cari ilmu di Yogya, cari rezeki di Yogya, cari jodoh…. *skip

Namun demikian, saat mendengarkan curahan hati dari kawan-kawan saya tentang kota kelahiran ini, dada ini cukup mengembang oleh rasa bangga. Mereka yang telah menghabiskan masa studi di Yogya, lalu harus melanjutkan hidup di kota-kota lainnya, selalu merasakan rindu dan ingin kembali ke sini.

Bagi mereka, Yogyakarta bukanlah kota yang sangat metropolitan, di mana semua serba keras dan harus bergegas. Di Yogya, kota berjalan pelan dan bersahaja. Sebersahaja anggukan kepala kepada orang yang lebih tua. Namun, Yogya juga bukan kota yang ketinggalan zaman. Ada toko buku, bioskop, mall, kafe, perpustakaan, stadion olahraga, dan banyak lagi fasilitas umum yang lainnya.

Objek wisata? Ada candi-candi, kraton, dan beragam warisan cagar budaya yang bisa ditelusuri jika kamu suka sejarah. Ada pula gunung dan pantai-pantai yang bisa dijelajahi kalau kau suka berpetualang. Jangan lupakan pula aneka kuliner, seni, dan budaya yang banyak sekali jumlahnya.

Dari perasaan bangga, kemudian timbul sedikit rasa penasaran. Penasaran atas sensasi bahagia yang dirasakan kawan-kawan saya saat kembali ke Yogya. Barangkali saya harus mencoba untuk merantau juga barang sejenak, agar dapat merasakan kerinduan dan ingin pulang kembali ke kota ini. Suatu saat nanti, mungkin?

Yang pasti, sebagai orang yang lahir dan besar di kota ini, saya berharap semoga Yogyakarta tetap nyaman untuk ditinggali. Jangan lagi banyak dibangun gedung-gedung tinggi. Yogyakarta tak perlu menjadi kota metropolitan. Cukup jadi kota yang tak ketinggalan zaman.

Suka-Suka

Excuse Me, Can You Show Me this Address, Please .…

 

Tinggal di kampung yang dekat dengan salah satu objek wisata, sudah menjadi pemandangan yang jamak bagi saya, turis wara-wiri sambil menenteng kamera, backpack, dan peta. Dulu, waktu kecil, setiap kali melihat ada bule yang melintas di jalanan kampung, saya bersama sepupu dan teman-teman main lainnya selalu berseru riang, “Halo, Mister!” Lalu, si bule akan mengalihkan perhatiannya dari serius membaca peta menjadi serius memfoto anak-anak kecil yang gumunan melihat orang asing. Mendapat kesempatan difoto bule, bukan main bahagianya kami saat itu. Wkwkwk duh!

Belakangan, saat sudah dewasa, saya paham bahwa para bule itu memang sengaja blusukan untuk mengetahui kehidupan asli di perkampungan sekitar. Kalau bahasa kekiniannya, backpacker-an. Mereka sengaja blusukan sendiri dan memilih tidak menggunakan layanan city tour (atau apa ya namanya?) yang biasanya hanya mengunjungi tempat-tempat wisata yang umum saja. Karena blusukan sendiri, maka tentu saja mereka tidak ditemani oleh seorang tour guide. Ya, pokoknya berkelana sendiri gitulah! *ribet amat bahasanya, wkwk*

Dan, tidak seperti waktu masih kecil, sekarang ini ketika bertemu dengan turis yang sedang backpacker-an, saya justru sebisa mungkin menghindar. Bukan apa-apa, saya hanya takut ditanya alamat! Diminta menunjukkan arah pakai bahasa Indonesia saja saya sering ribet sendiri, apalagi kudu pakai bahasa Inggris. 🙁

 

Pernah suatu hari, saat saya sedang ke warung beli kuaci, tiba-tiba ada mbak turis datang menghampiri (halah!). “Excuse me, do you know where Jalan Mantrigawen is?” tanya mbak turis yang ternyata dari Vietnam itu. Jalan yang ditanyakan mbak turis kebetulan cukup dekat dengan posisi kami saat itu. Maka dengan penuh percaya diri, saya jawab:

“Ahh, it’s over there!” Sambil nunjuk ke depan.

There?” Mbak Turis pasang tampang plongo.

Wew… padahal maksud saya mau bilang gini, “Itu lho, Mbak, lurus aja. Sampai ada pertigaan. Nah, situ namanya Jalan Mantrigawen.” Tapiii… kata “pertigaan” bahasa Inggrisnya apaan sih? #plak *digetok pakai kamus Indonesia-Inggris*

 

Ya sudah, daripada ribet, saya anterin saja deh tuh Mbak Turis sampai ke tekape. Jalan kaki, tentu saja. Untung saja, nilai bahasa Inggris saya yang meskipun pas-pasan, tapi nggak jelek-jelek amat. Jadi, sepanjang perjalanan kami nggak krik krik, diem-dieman seperti lagi marahan. Hahaha

Do you live around here?” tanya Mbak Turis.

Yes,” jawab saya.

Married?”

Not yet,” jawab saya sambil senyum dimanis-manisin. Hadeh, ngobrol sama orang asing juga ada ya pertanyaan sejuta umat ini, “Kapan nikah?” -___-

Beruntung kami sudah sampai tekape sebelum obrolan makin nggak keruan. Saya katakan kepada Mbak Turis bahwa kami sudah sampai. Mbak Turis mengucapkan terima kasih, sambil memberi tahu bahwa sebenarnya dia sedang mencari penginapannya yang ada di sekitar jalan tersebut.

Thank you very much. I’m looking for The D*l*m, a guesthouse. But, I can just walk. Thank you :),” kata Mbak Turis.

Intinya, dia bilang dia bisa cari sendiri penginapannya. Yaa… gitu juga boleh, Mbak. Sebenarnya saya tahu itu di mana penginapannya. Nggak jauh lagi dari tempat kami berdiri waktu itu. Tapi, daripada ntar ruwet lagi, mending biar mbak turis cari sendiri saja deh ya. Wkwkwk *melipir pulang sambil nyisil kuaci*

Suka-Suka

Blood Type: Ternyata Saya Adalah Si Mainstream O

gambar diambil dari https://ketahui.com

Kalau diminta untuk menyebutkan tiga hal yang paling saya takuti, maka jawabannya adalah jalan raya, jarum suntik, dan cabai rawit. :v Iya, saya memang cemen. Atas alasan itu pula, sampai umur segini saya belum tahu apa golongan darah saya. Hahaha

Selama ini, saya sudah cukup yakin dengan feeling sendiri kalau golongan darah saya adalah B (biru). :p Tapi, kawan-kawan saya bilang kalau saya lebih cocok AB. Alasannya karena saya suka berdiam diri di pojokan sambil membayangkan alien menginvasi bumi. -__-

Golongan darah AB memang terkenal dengan keunikannya. Selain karena sifatnya yang “eksklusif”—hanya dapat mendonorkan untuk sesama AB, tetapi dapat menerima transfusi dari tipe golongan darah apa pun—, golongan darah AB juga dapat dibilang langka. Tak banyak orang yang memiliki golongan darah dengan tipe AB.

Nah, untuk meyakinkan seluruh spekulasi di atas, beberapa waktu yang lalu saya beranikan diri untuk cek golongan darah. Enng… anu, sebenarnya ini juga karena kepepet, sih. Ditanya sama Pak RT untuk keperluan data kependudukan. Daripada tidak dianggap sebagai penduduk, kan? Hahaha

Singkat cerita, setelah antre lama sambil degdegan membayangkan jari saya akan dicoblos sampai berdarah-darah (yang ternyata nggak sakit sama sekali meskipun berdarah, haha huft!), hasil lab menyatakan bahwa saya memiliki tipe darah O rhesus Positif. Sah dan valid, dikuatkan dengan kartu tanda pemeriksaan golongan darah dari ibu petugas lab. Golongan darah O adalah golongan darah yang paling banyak ditemui di dunia.

Ternyata golongan darah saya mainstream, Pemirsa! 😀

 

Suka-Suka

Korespondensi Era: Terlalu Manis untuk Dilupakan

Menemukan harta karun ini waktu beres-beres. Seneng banget masih mengalami masa ini, SURAT-SURATAN! 😀 *ketahuan angkatannya* Waktu itu, belum ada smartphone atau medsos, jadi salah satu cara untuk tetap keep contact dengan teman-teman adalah dengan saling berkirim surat. Selain dengan teman-teman sekolah, dulu saya juga sempat punya sahabat pena. Kalau nggak salah ingat, dari Majalah Bobo atau Tabloid Fantasi. Ini saya fotoin beberapa, karena berbagi kenangan manis itu menyenangkan. 😀

img_20170605_114024

Beberapa surat jadul. Rata-rata dari teman-teman SD dan SMP. Teman SMA, kuliah, dan seterusnya nggak ada. Karena memang sudah beda zaman. 😀

Dari kiri – kanan:

Gambar pertama: kartu ucapan “Selamat Lebaran” dari teman SD saya. Ini dikirimnya waktu kami sudah SMP. Beberapa surat yang saya temukan kebanyakan dari dia, sih. Sekadar curhat atau bertukar pernak-pernik Westlife. Oh ya, waktu itu kami juga sering nulis surat pakai bahasa Inggris. Pede banget, meski ejaan berantakan. Lol!

Gambar kedua: surat dari teman SMP saya. Dikirimnya pas kami sudah SMA. Ini surat paling puanjanggg… yang saya terima. Sampai berlembar-lembar. Di surat itu dia cerita macam-macam. Termasuk cerita tentang salah satu kawan kami, Fornila, yang nggak bisa lanjut sekolah karena sakit. Tak lama setelah saya terima surat ini, kami dapat kabar bahwa Fornila telah meninggalkan kami untuk selamanya. 🙁 (Al-Fatihah…)

Gambar ketiga: surat dari teman SMP yang lainnya. Dilihat dari tahunnya, kayaknya saya terima surat ini pas sudah kuliah. Mungkin waktu itu saya belum punya nomor handphone-nya, jadi saya kirimi dia surat. Dan mungkin juga, di surat, saya curhat kalau akhirnya saya masuk jurusan Sastra Indonesia karena nggak keterima di Sastra Inggris. 😀 Di surat balasannya, dia menyarankan saya untuk kuliah sambil kursus bahasa Inggris. Hahaha

Last, melipat surat juga ada seninya.

Meski tak sepraktis berkomunikasi dengan whatsapp, tapi surat-suratan begini sangat menyenangkan. Asyiknya merangkai kata, lalu harap-harap cemas menanti surat balasan, tentu tak bisa digantikan dengan ratusan chat di sosial media. Di samping itu, kita juga masih bisa membacanya lagi dan lagi meskipun zaman sudah berganti. 😀

Suka-Suka

Pak Kijo: Ikhlas, Totalitas

Pak Kijo

Dulu, saya selalu berpikir bahwa kerja itu bukan semata perkara mencari gaji. Ada kalanya kita ingin melompat ke tempat yang lebih tinggi. Pada waktu itu, saya sudah bekerja dengan aman dan nyaman. Namun, hati saya selalu gelisah ketika melihat teman-teman seperguruan (teman kampus maksudnya), yang bekerja di bidang sama tapi perusahaan berbeda. Di tempat kerjanya masing-masing, mereka sudah sangat jauh melesat. Sementara saya, hanya sibuk jalan tempat. Sayangnya, waktu itu saya belum punya cukup nyali untuk meninggalkan zona nyaman. Sampai akhirnya ketika satu per satu teman sekantor saya mengepak koper dengan alasan mereka sendiri-sendiri, saya pun tergerak untuk ikut beranjak pergi.

Di tempat kerja saya saat ini, banyak hal baru yang saya pelajari. Pun banyak teman baru dan orang-orang hebat yang saya temui. Namun demikian, betapa pun betahnya saya di kantor baru, saya juga mulai mengumpulkan rindu. Salah satunya adalah rindu kepada lelaki tua nan kalem dan rendah hati, Pak Kijo. Sosok seperti Pak Kijo inilah yang tidak akan saya temui di kantor baru.

Pak Kijo adalah OB di tempat kerja saya dulu. Lelaki paruh baya yang berangkat paling pagi dan pulang paling sore. Berangkat dengan mengayuh sepeda onthelnya untuk rutinitas harian: bersih-bersih, bikin teh, menyiapkan camilan, dan banyak lagi. Ketika temam-teman redaksi sering mengeluh karena ketatnya deadline, Pak Kijo tak pernah tampak mengeluh dengan pekerjaannya yang serba repot. Beliau melakukannya dengan ikhlas dan penuh totalitas. Tak jarang beliau menanyai kami satu per satu, apakah tehnya kurang manis atau kemanisan. Lebih dari itu, Pak Kijo bahkan hafal warna tutup gelas favorit kami. Waarrbyasak

Pak Kijo, barangkali memang berbeda dari saya yang pada waktu itu selalu gelisah galau karier dan selalu ingin pergi. Bagi beliau, yang terpenting adalah mendapat rezeki untuk nafkah anak istri. Lalu, beliau akan membalasnya dengan jasa semaksimal mungkin yang bisa dilakukannya. Atas sifatnya tersebut, tak heran bila kami semua menyayanginya.

Suka-Suka

Mengenal Sadako Sasasi & Sadako Yamamura

Kalau disebut nama Sadako, barangkali yang terbayang di benak kita adalah hantu Jepang yang suka muncul dari layar televisi, kemudian menghampiri korbannya. Sebagai orang yang menyukai film horor, tentu saya kenal dengan Sadako. Sosok ini mulai dikenal masyarakat melalui film “Ringgu” atau “The Ring” yang diadaptasi dari novel karya Koji Suzuki. Sosok ini pulalah yang kemarin menjadi salah satu tujuan saya datang ke acara Asian Food Festival di Jogjakarta Expo Center beberapa waktu yang lalu.

Iya, kadang selera saya memang seaneh itu. Bukannya mencicip makanannya, malah mengincar hantunya. Mwahahaha

wp-1478850377098
Ketemu Sadako di Asian Food Festival 😀

Begitu melekatnya sosok hantu Sadako di dalam ingatan masyarakat, sehingga nama Sadako dianggap sebagai nama dari hantu Jepang itu sendiri. Sebagaimana kita kalau menyebut nama Drakula, Vampire, atau Kalong Wewe. Padahal sebenarnya, Sadako merupakan nama orang, yang secara etimologi memiliki arti sangat jauh dari citra hantu Sadako dalam ingatan masyarakat selama ini. Secara etimologi, Sadako terbangun dari dua kata “Sada” dan “Ko”, yang artinya “anak yang suci”. Pada masanya, nama Sadako ini merupakan nama yang populer di Jepang, dan menjadi pilihan para orangtua untuk menamai anak perempuannya. Di Jepang, ada dua nama Sadako yang sangat melegenda dan dijadikan sebagai simbol budaya negara tersebut, yaitu Sadako Sasaki dan Sadako Yamamura.

Sadako Sasasi adalah seorang anak korban bom atom Hirosima. Saat bom atom dijatuhkan di kota Hirosima pada 6 Agustus 1945, Sadako Sasasi sedang berada di rumahnya yang terletak sekitar 1 mil dari lokasi Ground Zero. Beberapa bulan setelahnya, Sadako Sasasi didiagnosis menderita Leukemia, dampak dari radiasi bom atom itu.

Selama tinggal di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, Sadako Sasasi selalu membuat origami berbentuk burung bangau. Konon menurut legenda di Jepang, barangsiapa yang dapat melipat seribu bangau kertas, maka segala permohonannya akan dikabulkan oleh Dewa. Namun, baru 644 burung bangau yang berhasil dibuatnya, Sadako Sasaki sudah tak sanggup lagi melawan penyakitnya. Ia meninggal dunia pada 25 Oktober 1955, di usia 12 tahun. Kisah Sadako Sasaki ini sangat menginspirasi dan dikenang oleh banyak masyarakat sebagai simbol harapan dan ketegaran. Kisahnya juga dituliskan ke dalam sebuah buku berjudul Sadako and the Thousand Paper Cranes. Bahkan, pada tahun 1958, dibuat sebuah patung berbentuk Sadako Sasaki sedang memegang bangau kertas, guna mengenang kisah luar biasa seorang gadis kecil yang melipat 1.000 burung kertas sebelum kematiannya.

sadako_statue_at_noborichc58d_junior_high_-_1985-1
Patung Sadako Sasaki (Gambar diambil dari wikipedi.org)

Lain halnya dengan Sadako Yamamura. Sadako Yamamura merupakan tokoh fiksi dalam novel karangan Koji Suzuki yang kemudian diadaptasi menjadi film trilogi “The Ring”. Dalam film tersebut, diceritakan bahwa Sadako Yamamura adalah seorang gadis cantik yang lahir dari hasil perkawinan ibunya dengan setan. Karena keturunan setan, Sadako Yamamura memiliki kekuatan jahat yang terpendam, sehingga dia harus dikurung sepanjang hidupnya.

Suatu hari, ayah angkatnya yang sangat ketakutan terhadap kekuatan jahat Sadako, merencanakan pembunuhan terhadapnya. Sang ayah memukul Sadako, lalu memasukkannya ke dalam sumur. Sadako masih hidup saat dimasukkan ke dalam sumur, tetapi akhirnya dia meninggal karena kelaparan. Dalam keadaan penuh amarah atas nasib malang yang dia alami semasa hidupnya. Arwah Sadako Yamamura kemudian sering berkeliaran untuk menebar kutukan dan membalas dendam.

Yap, Sadako Yamamura adalah Sadako hantu Jepang yang kita kenal selama ini.

sadako-yamamura
Sadako Yamamura di film Ringgu 1998 (Gambar diambil dari http://villains.wikia.com/)

Hantu Sadako Yamamura digambarkan sebagai seorang wanita berambut panjang, berbaju putih panjang, dan berwajah pucat dengan ekspresi penuh kemarahan yang menyeramkan. Kalau dipikir-pikir … wujud hantu Sadako ini sangat mirip dengan hantu dari Indonesia. Tahu, kan, siapa dia? Ah, tak perlu sebut namanya, sebab katanya bahkan hanya dengan memikirkannya saja, dia akan hadir di sekitar kita. Nah, loh!

Coba cek, siapa tahu ada yang sudah hadir di belakangmu.

Kuliner · Suka-Suka

Don’t Judge a Food by Its Name

beda nama beda harga
Gambar diambil dari brilio.net

Memang tidak semuanya, akan tetapi hampir kebanyakan cewek yang ketika makan di tempat-tempat nongkrong pasti memilih menu yang namanya lucu-lucu. Saya adalah salah satu di antaranya. Dan, karena kebiasaan itu, saya jadi sering kena zonk. Kadang ekspektasi yang diangankan dari nama menu yang unyu-unyu itu tak sesuai dengan kenyataan yang didapatkan. Pernah suatu kali saya terpikat dengan nama menu “Brokoli Chicken Teriyaki”, akhirnya saya pesan karena sepertinya sedap. Setelah pesanan terhidang di meja, ternyata cuma nasi plus tumis sayur brokoli yang dikasih tetelan ayam dan saus teriyaki. Ya, memang sedap, sih. Tapi, namanya sudah bikin saya berpikir terlalu tinggi.

Nasib saya itu masih lebih baik kalau dibanding dengan nasib kawan saya. Suatu kali, dia mengeluh ketika minuman yang bertitel “Lotta Lovin” pesanannya ternyata hanya semacam jus jambu biji dengan sirop rasa prambors. Lain cerita, kawan saya yang lain curhat ketika dia diminta menerjemahkan menu-menu masakan dengan bahasa Inggris. Ngakak ketika dia bilang menu “Nasi plus Oseng-Oseng Kacang Panjang” jadi “Stir Long Bean with Rice”. Wkwk

Kalau kita amati, penamaan menu-menu itu kebanyakan pakai bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Alasannya barangkali karena bahasa-bahasa asing itu dianggap lebih prestise sehingga bisa menaikkan “kelas” dari makanan yang dijual. Pada akhirnya, harga jualnya pun jadi lebih tinggi. Sebut saja, “es teh” yang kita beli di angkringan seharga 1.500, dengan bahan yang sama bisa berubah nama menjadi “ice tea” yang kita beli di restoran seharga 10.000. 😀

Jadi, kalau ada ungkapan “Don’t judge a book by its cover”, maka hal itu seharusnya berlaku juga untuk makanan. Nama menu yang memikat belum tentu rasanya nikmat. Nama menu yang tampak istimewa, bisa jadi makanannya biasa saja. Maka dari itu, selain membaca nama menu yang unyu-unyu, baiknya cermati juga keterangan komposisinya. Supaya tidak kena zonk. Biasanya keterangan itu ada di bawah nama menu, tertulis kecil-kecil. :v

Kalau kepepetnya nggak dikasih keterangan, ya sudah mau gimana lagi. Nggak apa-apa kena zonk sekali-kali. Yang penting sudah usaha untuk meminimalkan kemungkinan kita pesan menu “Deep Fries Fermented Soya Bean with Couple of Chili” yang ternyata maksudnya cuma tempe mendoan dengan cabe rawit dua. Hahaha 😀

Suka-Suka

Pernyataan Manusia Single, Bukan Sebuah Pembelaan

Meme Jomblo

Menjadi jomblo di negara kita tercinta ini memang sangat rentan terhadap bully. Terlepas dari takdir menjomblo karena nasib atau justru prinsip, kaum jomblo seolah menjadi makhluk yang paling merana sedunia. Kaum yang paling nestapa dan pukpukable. Ada saja celah untuk menjadikan jomblo sebagai bahan ledekan. Selain dituduh sebagai penyebab hujan ketika tiba waktu malam mingguan, kaum jomblo juga dianggap menderita di beberapa kesempatan. Termasuk saat momentum bulan puasa.

Saya amati beberapa waktu jelang bulan puasa tiba, selain iklan sirop yang mulai bermunculan, banyak pula meme lucu-lucuan yang ikut bertebaran. Tak ketinggalan, tentu saja, meme candaan atas nasib kaum jomblo. Sebagai orang yang masuk ke dalam koloni jomblowati, saya sih tidak begitu mengambil hati. Anggap saja pahala karena membuat mereka tertawa. Tapi waktu baca meme yang satu ini, mau tak mau saya jadi peduli. Bukan apa-apa, hanya tak habis pikir kenapa si pembuat meme menganggap seorang yang masih lajang itu lantas sebatang kara, sampai nggak ada yang mengucapkan selamat berbuka puasa. Weh, hidup itu bukan melulu soal pasangan. Masih ada orangtua, keluarga, dan teman-teman yang akan bersedia dengan tulus melakukannya.

Mengutip nasihat dari seorang kawan, “Sesungguhnya perkara jodoh itu hanya sepersekian dari nikmat Tuhan. Masih banyak nikmat Tuhan lainnya yang berceceran bila kita mau memperhitungkan. Yang tanpa memintanya pun, Tuhan akan berikan.”

Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang mau kamu dustakan? 🙂