Buku · Membaca & Menulis

Stories of Your Life: Satu Buku Banyak Rasa

WhatsApp Image 2018-12-29 at 10.02.05

Judul: Stories of Your Life

Penulis: Milley Ann Hasneni, dkk

Penerbit: Laksana

Terbit: 2018

Dalam banyak kesempatan, saya merasa beruntung tinggal di wilayah dalam beteng Keraton Yogyakarta. Kebetulan rumah kami hanya 50 meter dari regol Kemagangan, halaman belakang Keraton, tempat para abdi dalem menyusun gunungan. Jika berkenan jalan kaki sedikit lebih jauh ke timur, ada kompleks Tamansari, taman raja peninggalan abad 18. Sekitar 500 meter dari rumah kami, terdapat Tepas Keprajuritan Pracimosono, basecamp para prajurit Keraton. Di waktu-waktu tertentu, kami dapat menyaksikan mereka berbaris sambil menabuh tambur dan meniup terompet melewati jalan depan rumah.

Lebih dari segala keistimewaan tersebut, hal lain yang saya sukai adalah banyaknya sastra lisan yang beredar di daerah kami. Saya cukup senang karena sempat mendengar beberapa cerita lisan tersebut sebelum keberadaannya mulai punah seiring berkembangnya zaman. Dulu waktu kuliah, saya sempat mengajukan proposal penelitian guna mengumpulkan sastra lisan di Kecamatan Kraton ini dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Namun meski lolos dan mendapat dana hibah dari DIKTI, tim kami tak berhasil sampai ke PIMNAS. Kalah sama penelitian sains. Hiks!

Beberapa waktu yang lalu, saat Penerbit Diva Press mengadakan lomba menulis yang salah satu temanya adalah “Hidden Gems of Your City Stories”, saya tertarik untuk mencobanya. Saya memilih satu cerita yang kali pertama saya dengar dari alm. simbah, tentang kerajaan dengan 5 pintu gerbang yang salah satu pintunya tertutup. Cerita lisan tersebut disampaikan melalui sebuah tembang Mijil. Bukan sekadar dongeng, cerita tersebut menggambarkan kondisi daerah tempat tinggal kami berabad silam.

Alhamdulillah, tulisan sederhana saya terpilih untuk ikut masuk dalam antologi Stories of Your Life ini. Terima kasih, Diva Press!

Stories of Your Life merupakan sebuah buku antologi yang unik dengan berbagai rasa. Kalau umumnya antologi hanya mengangkat satu tema besar saja dalam satu buku, di buku ini kita akan menemui 18 cerita dengan lima tema yang berbeda. Mulai dari cerita tentang pernikahan, keunikan kota, daerah perbatasan, kisah-kisah dalam bioskop, hingga the most uwuwuw moment: Ketemu calon mertua!

Sebagaimana judulnya, Stories of Your Life, buku ini seolah menggambarka aneka fragmen dalam kehidupan. Hidup memang terjalin dari beragam cerita dengan banyak tema. Ada kisah receh yang B aja, ada juga cerita yang luar biasa. Nah, di buku ini juga begitu. Ada cerita yang bikin saya be like “Paan seehh”, tapi ada juga yang membuat saya tidak tahan untuk tidak ber-uwu ria.

Namun meski unik, banyaknya tema dalam satu buku malah justru bikin nggak fokus. Jadi nggak ada gimana-gimananya gitu. Simpelnya, kurang ngena. Kalau masing-masing tema dibikin buku sendiri-sendiri, barangkali akan jadi lebih asyik. Hehehe

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Ternyata Saya Pernah Menulis Novel

WhatsApp Image 2018-12-29 at 09.44.31

Menemukan file ini saat bongkar-bongkar folder lama. Ternyata, saya pernah nulis novel. Naskah ini saya tulis sekitar tahun 2008 atau 2009. Waktu masih kuliah pokoknya. *ketahuan umurmu, Budhe* Tahun 2010 diterima sama penerbit, tapi sampai sekarang belum terbit dan saya nggak tahu juga penerbitnya masih ada atau enggak saat ini. Hahahaha

Novel ini bercerita tentang dua orang sahabat yang memperjuangkan impian mereka untuk menjadi penulis. Persahabatan mereka terancam kandas karena sebuah permasalahan internal. Ya kan dulu saya sedang ngefans berat sama Andrea Hirata, jadi novelnya sedikit terpengaruh ala-ala Sang Pemimpi gitu. Selain itu, di novel ini juga ada cerita tentang teater-teaternya. Nggak nyangka juga saya bisa nulis tentang teater-teateran begitu. Barangkali karena waktu itu kebetulan saya juga sedang menyiapkan pertunjukan teater bersama teman-teman sekelas untuk tugas akhir mata kuliah Kajian Drama.

Sekarang kalau saya baca lagi naskah novel ini, rasanya malu sendiri dan ingin hilang ingatan. Anu… ceritanya itu, aduhh… Hahaha Tapi di sisi lain, ada rasa bangga juga, sih. Novel ini menjadi pengalaman pertama saya dapat honor dari menulis buku. Kalau nggak salah ingat, waktu itu uangnya saya belikan handphone Cina merek D-One (belum Android) terus buat dipakai foto-fotoan waktu wisuda. Yup, handphone berkamera pertama yang saya punya, beli pakai uang sendiri, dong! 😀

PS: Jangan tanya saya bisa nulis novel atau enggak ya sekarang. Ini tampang saya udah nonfiksi banget soalnya. :))

Suka-Suka

A Letter to Myself: Surat dari Masa Depan

WhatsApp Image 2018-12-29 at 10.10.41

To: Me in the present

From: Me in the future

Kepada diriku di masa lalu,

Apa kabar?

Maaf bila aku lancang menulis surat ini. Bukan untuk mendahului takdir Tuhan, hanya ingin menyampaikan sebuah harapan. Semoga, kau tak keberatan.

Aku menulis surat ini di sela-sela kesibukanku mengurus dua krucils yang sedang aktif-aktifnya. Dua? Yap, twin baby. Seperti impianmu. Mereka sudah 2 tahun sekarang. Si kakak sedang banyak tingkah. Tiap sore selalu minta berburu belalang bersama ayah. Sementara adek, lebih suka membaca buku bersama ibu. Lucu sekali melihat ekspresinya saat menyimak dongeng tentang kupu-kupu.

Sampai di sini, kau pasti bertanya-tanya. Siapa ayah mereka? Hmm, sebenarnya ini rahasia. Tapi, baiklah, kuberi sedikit bocoran. Dia adalah seorang lelaki dewasa yang pintar dan baik hatinya. Sesuai harapanmu. Bersamanya, membuatku merasa bahwa apa yang kutangisi tempo hari jadi konyol sekali. Kalau saja aku tahu bahwa Tuhan telah mempersiapkan untukku orang sehebat ini, tak akan kusia-siakan waktuku dulu untuk meratapi patah hati.

Tujuanku menulis surat ini sebenarnya adalah aku ingin meminta tolong kepadamu. Saat ini, aku sangat bahagia dengan hidupku. Kau tahu kan, bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh apa yang dia lakukan di masa lalu? Nah, aku adalah dirimu di masa depan. Dengan demikian, kau adalah diriku di masa lalu. Maka, nasibku di sini sangat bergantung kepadamu. Jadi, aku mohon dengan sangat, tolong ubah semua kebiasaan burukmu itu.

Melihatmu masih suka mager dan malas-malasan begini, aku jadi tak yakin Tuan Hebat akan bersedia menikahimu. Lalu, melihatmu yang selalu menumpuk pekerjaan hingga mepet tenggat waktu, aku jadi pesimis kau bisa jadi ibu yang baik untuk si kembar. Aku harap setelah membaca surat ini, kau berkenan mulai membenahi diri. Tentu kau tak ingin hidupku di masa depan suram, kan? Jangan lupa, aku adalah dirimu.

Mungkin sekian dulu suratku. Tolong pikirkan baik-baik permintaanku itu ya.

Salam hangat,

Aku, dirimu di masa depan.

Seni & Budaya

Pengalaman Mengikuti Diskusi Budaya di Bangsal Prabeya, Keraton, Yogyakarta

Hari Minggu pagi tanggal 5 Agustus 2018, warga Jalan Magangan Kulon tengah berbenah untuk menyambut HUT RI ke-73. Lagu-lagu kebangsaan diputar sementara para warga bergotong-royong memasang bendera, umbul-umbul, dan pernak-pernik HUT RI lainnya. Pada saat yang sama, di salah satu sudut Jalan Magangan Kulon, tepatnya sekitar 50 meter dari regol Kemagangan, berkumpul 50-an orang dari berbagai komunitas, media, dan masyarakat umum. Dengan wajah antusias, mereka siap menerima wawasan baru dalam diskusi budaya yang mengangkat tema “Gunungan, Simbol dan Maknanya”. Saya senang sekali bisa menjadi bagian dari masyarakat umum yang berkesempatan mengikuti diskusi tersebut.

Diskusi tersebut diselenggarakan di Bangsal Prabeya, konon merupakan sebuah bangunan yang digunakan sebagai dapur Keraton. Di belakang Bangsal Prabeya ini terdapat regol yang terhubung dengan Keraton Kilen, tempat tinggal HB X. Adapun diskusi budaya tersebut diselenggarakan oleh Malam Museum yang bekerja sama dengan Tepas Tandha Yekti. Mas Erwin, founder komunitas Malam Museum, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya diskusi budaya tersebut adalah dalam rangka mengajak anak-anak muda, khususnya para generasi millennial, agar lebih aware terhadap budaya bangsa sendiri. Dalam kesempatan itu pula, Mas Erwin mengimbau agar para peserta berkenan untuk menuliskan kembali apa yang telah didapat dari diskusi. Apa pun bentuknya. Baik berupa blog post, maupun sekadar postingan di medsos.

Diskusi Budaya 1
Mas Erwin sedang menjelaskan tujuan diselenggarakannya acara diskusi budaya kepada para peserta

Diskusi diawali dengan perkenalan singkat tentang Tepas Tandha Yekti oleh GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti) dan Mas Wiwit selaku pimpinan produksi yang bertanggung jawab mengurusi online present Keraton Yogyakarta. Jadi, sederhananya, Mas Wiwit itu tuh bertugas membuat konten untuk memperkenalkan Keraton Yogyakarta melalui media online, seperti website, Instagram, Twitter, dan bahkan Youtube.

Acara selanjutnya adalah pemutaran video terkait gunungan dan dilanjutkan ke pembahasan tema utama diskusi dengan narasumber KRT Kusumonegoro (penghageng Tepas Keprajuritan). Jujur saja, nih. Meskipun saya sering menonton upacara garebeg dan mengaku sebagai penggemar berat dari prajurit Keraton, ternyata pengetahuan saya tentang gunungan masih sedikit sekali. Dari diskusi ini, saya jadi tahu lebih banyak mengenai gunungan. Mulai dari sejarah, cara pembuatan, makna simbolik, hingga detail-detail terkecil yang terkait dengannya. Lebih lanjut tetang gunungan ini, nanti saya ceritakan di postingan yang lain saja, ya. Insya Allah.

Diskusi Budaya 3
Kiri-kanan: GKR Hayu (penghageng Tepas Tandha Yekti), Mas Wiwit (Pimpro Tepas Tandha Yekti), Mas Erwin (founder komunitas Malam Museum)
Diskusi Budaya 4
KRT Kusumonegoro, penghageng Tepas Keprajuritan selaku pembicara 

Acara diskusi menjadi semakin semarak ketika dibuka sesi tanya jawab. Saya sempat menanyakan kepada pembicara tentang sikap masyarakat yang menjadikan bahan-bahan makanan yang mereka dapatkan dari merayah gunungan tersebut sebagai jimat. Ada yang meletakkannya di sawah dengan harapan panen jadi lancar. Pun ada yang menyimpannya di tempat-tempat tertentu sebagai tolak bala. Apakah memang seperti itu tujuan dari pembagian gunungan sebenarnya?

Menjawab pertanyaan saya tersebut, KRT Kusumonegoro mengatakan bahwa sikap masyarakat tersebut merupakan wujud dari betapa tingginya penghormatan mereka terhadap Keraton, sehingga menganggap segala sesuatu yang berasal dari dalam Keraton merupakan benda bertuah. Padahal, tujuan dari pembagian gunungan sendiri adalah untuk sedekah. Dengan demikian, sebenarnya bahan-bahan makanan dari gunungan itu tentu sebaiknya dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Dengan sedikit berseloroh, beliau berkata bahwa jika suatu hari nanti saya berhasil dapat sayuran hasil rayahan gunungan, lebih baik dimasak jadi jangan mbayung saja (sayur daun lembayung). Haha

Acara diskusi ditutup dengan foto bersama. Dan, saya berkesempatan berfoto bersama Gusti Hayu. :’)

Diskusi-Budaya-2-2380903516-1535777178199.jpg
Bersama GKR Hayu

Senang sekali bisa mengikuti acara yang sangat berfaedah ini, meskipun saya bukan termasuk bagian dari generasi milenial yang dimaksud oleh Mas Erwin. :)) Harapannya. acara-acara semacam ini dapat terus berlanjut dan mendapat semakin banyak peminat. Sebab seperti tujuan dari acara ini, acara-acara seperti ini bisa menjadi upaya untuk membuat generasi muda tetap memahami dan mencintai kebudayaan bangsa sendiri di tengah era globalisasi. Semoga.

Seni & Budaya

Prajurit Jogokaryo, Sang Penjaga Keamanan Kerajaan

4.Jagakarya
Gambar diambil dari web https://www.kratonjogja.id

Prajurit Jogokaryo dulu merupakan pasukan yang bertugas menjaga keamanan dan jalannya pemerintahan di kerajaan. Namanya berasal dari gabungan bahasa sansekerta ‘jogo’ yang berarti menjaga serta dari bahasa kawi ‘karyo’ yang berarti tugas atau pekerjaan. Dalam iring-iringan bregada prajurit Keraton Yogyakarta, Prajurit Jogokaryo berada pada urutan keempat setelah Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaeng, dan Prajurit Patangpuluh.

Dalam satu pasukan, Prajurit Jogokaryo terdiri atas 4 orang perwira, 8 orang bintara, 72 orang prajurit, serta 1 orang prajurit yang bertugas membawa dwaja atau panji-panji pasukan. Panji dari Prajurit Jogokaryo memiliki warna dasar merah dengan lingkaran berwarna hijau di bagian tengahnya, yang diberi nama papasan. Konon, nama tersebut memiliki makna “memapas” atau “menumpas”. Melambangkan Prajurit Jogokaryo sebagai pasukan yang gagah berani menumpas musuh-musuhnya.

Seragam yang dikenakan oleh Prajurit Jogokaryo berupa pakaian bermotif lurik dengan topi tempelangan (berbentuk kapal terbalik) berwarna hitam. Selain Jogokaryo, ada tiga pasukan lagi yang juga memakai pakaian bermotif lurik, yaitu Prajurit Patangpuluh, Prajurit Ketanggung, dan Prajurit Mantrijero. Prajurit Patangpuluh mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna merah, Prajurit Ketanggung mengenakan atasan lurik dengan celana berwarna hitam, sementara Prajurit Matrijero dan Jogokaryo sama-sama memakai atasan dan celana lurik. Perbedaannya ada pada kaus kaki yang mereka kenakan. Prajurit Mantrijero memakai kaus kaki berwarna putih, sedangkan Prajurit Jogokaryo mengenakan kaus kaki berwarna hitam.

Gladi Resik Jogokaryo
Gambar dokumen pribadi

Prajurit Jogokaryo memiliki persenjataan berupa senapan, tombak, serta keris. Dalam iring-iringan kirab Prajurit Keraton, mereka juga dilengkapi dengan seperangkat alat musik, yaitu tambur, seruling, dan terompet. Ada dua macam iringan musik yang dimainkan oleh Prajurit Jogokaryo, yaitu Mars Tamengmaduro ketika mereka sedang berjalan cepat dan Mars Slanggunder ketika mereka sedang berjalan lambat dengan langkah yang sedikit digayakan.

Saya berkesempatan mengabadikan momen Prajurit Jogokaryo ini dalam gladi resik untuk acara Grebeg Syawal tahun Dal 1951, di Alun-alun Utara tanggal 10 Juni 2018 yang lalu. Suara terompet yang dibunyikan dengan irama khas sebagai penanda datangnya para Prajurit Jogokaryo, selalu berhasil membuat saya terkesima. Meskipun saat ini peran dari Prajurit Jogokaryo sudah sangat berbeda daripada dulu, akan tetapi pesona mereka serta kesembilan bregada lainnya tetap menarik perhatian masyarakat. Dan, saya termasuk di antaranya.

Seni & Budaya

Prajurit Lombok Abang, Sang Pengiring Gunungan dari Pakualaman

Bersama Prajurit Lombok Abang
Saya bersama Prajurit Lombok Abang

Banyak orang sering salah menggunakan nama Prajurit Lombok Abang untuk menyebut kesatuan prajurit yang ada pada urutan pertama dalam defile prajurit Keraton Yogyakarta. Nama pasukan tersebut yang sebenarnya adalah Prajurit Wirabraja. Terus terang, saya pun dulu mengira nama “Lombok Abang” merupakan julukan dari Prajurit Wirabraja yang diberikan oleh masyarakat. Sebab, seragam dan bentuk topi Prajurit Wirabraja memang menyerupai lombok abang atau cabai merah.

Belakangan saya tahu kalau Prajurit Lombok Abang itu ternyata ada sendiri, Guys. Jadi, Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Wirabraja itu merupakan dua kesatuan yang berbeda.

Lombok Abang merupakan kesatuan prajurit dari Puro Pakualaman. Selain Lombok Abang, ada satu pasukan lagi yang bernama Prajurit Plangkir. Prajurit Lombok Abang memiliki seragam dan atribut berwarna serba merah, sedangkan Prajurit Plangkir seragam dan atributnya berwarna serba hitam. Pada waktu acara garebeg, Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Plangkir bertugas mengiringi gunungan dari Keraton menuju ke Puro Pakualaman.

Foto saya bersama Prajurit Lombok Abang di atas diambil pada acara garebeg Syawal sekitar tahun 2014. Waktu itu pas nggak niat mau nonton garebeg. Hanya mendapat titah dari ibu buat mengondisikan ponakan-ponakan. Lalu, saya ajak saja mereka melipir ke Kemandungan Ler. 😀

 

 

Buku

[Review] Sebuah Kitab yang Tak Suci: Absurd dan Muram, Jangan Baca Buku Ini Ketika Otak Sedang Semrawut

Sebuah Kitab yang Tak Suci

Judul: Sebuah Kitab yang Tak Suci

Penulis: Puthut Ea

Penerbit: Mojok

Tebal: 87 hlm

Terbit: 2017

Buku kedua karya Puthut Ea yang saya baca setelah Seekor Bebek Mati di Pinggir Kali. Sama seperti ketika membaca buku sebelumnya, lagi-lagi saya seperti tersesat dalam labirin yang ruwet. Diksi-diksi yang cenderung absurd, cukup sulit dijangkau oleh otak saya yang pas-pasan ini.

Buku ini berisi 10 cerita pendek yang kesemuanya bernuansa muram. Iya, 10 cerpen, entah kenapa di back cover-nya tertulis ada 12 cerpen. Kesan muram tersebut juga saya temukan pada buku Seekor Bebek mati di Pinggir Kali. ­Barangkali memang itu merupakan ciri khas dari karya-karya Puthut Ea. Selain kisah-kisah yang muram, ciri khas lainnya adalah pilihan kata serta penggambaran suasana yang keren.

Pada cerpen pertama yang berjudul “Kematian Seorang Istri” contohnya, kita akan disuguhi kisah menyedihkan seorang laki-laki yang merawat jenazah istrinya layaknya masih hidup. Namun demikian, kisah tentang kematian, mayat, dan kesunyian tersebut dibuka dengan narasi yang cukup membuai seperti ini:

“Ia menulis sebuah puisi panjang di depan sekujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata seperti “mati”, “kematian”, dan “air mata” di dalam puisi itu. Dia bersama tubuh kaku istrinya, kamar sepi, dan sesuatu yang menyangkut di tenggorokan namun bukan kesedihan.” – hlm 1.

Pilihan kata dan penggambaran suasana yang indah juga tampak dalam cerpen berjudul “Penunggang Kuda yang Selalu Memburu Angin”. Saya agak kesulitan untuk memahami esensi dari cerpen yang satu ini, akan tetapi cukup terbuai dengan diksi-diksinya yg sangat estetis.

“Sebetulnya cerita ini tidak pernah berakhir. Hanya karena ketakutan kaum ibu yang tak bisa membelai rambut dan meniupkan doa-doa pada ubun-ubun anak mereka, serta para bapak yang tak bisa lagi membanggakan anaknya di tengah pesta kenduri atau warung kopi, maka cerita ini dibuang jauh-jauh menuju ke negeri dongeng.” – hlm. 65

Cerpen lain yang menjadi favorit saya adalah “Rahim Itu Berisi Cahaya”. Cerpen ini mengisahkan tentang tiga jenis makhluk ciptaan Tuhan yang memprotes ketetapan takdir, lalu bekerja sama untuk menciptakan takdir sendiri.

“Menurutnya, ada yang keliru tentang wakil Tuhan di dunia. Sayang di dalam kitab yang selalu diwariskan oleh keluarganya mengatakan bahwa Tuhan tahu apa yang tidak diketahui makhluknya. Bahkan juga setan yang dengan sangat keras dan kritis menanyakan eksistensinya. Sebab buat apa setan diciptakan jika hanya untuk mengganggu manusia.” — hlm. 40

Ada satu bagian yang menarik dari cerpen tersebut, yaitu ketika si tokoh wanita gundah dan bertanya-tanya tentang penciptaan manusia di dunia. Tentang apa alasan Tuhan menciptakan pria terlebih dahulu, baru kemudian wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Mengapa bukan wanita yang diciptakan terlebih dahulu kemudian pria diciptakan dari rontokan rambut wanita. Walah! 😀 Kalau mengingat penulisnya adalah seorang lulusan dari fakultas filsafat, nggak heran sih kalau kita jadi diajak untuk ikut berpikir filsafati begitu di dalam cerpennya.

Nah, pada akhirnya, saya sependapat dengan komentar salah satu pembaca buku ini di Goodreads, yaitu jangan membaca buku ini ketika suasana sedang semrawut. Kecuali kamu bisa memisahkan isi kepala di antara keramaian. 😀

Buku

[Review] Dua Belas Pasang Mata: Kisah Guru dan Murid di Jepang Zaman Perang

Sakae Tsuboi

Judul: Dua Belas Pasang mata

Penulis: Sakae Tsuboi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 248 hlm

Cetakan ke-3: 2016

Miss Oishi baru lulus dari sekolah keguruan. Untuk mengawali kariernya, ia kemudian ditugaskan mengajar di Desa Tanjung, sebuah desa nelayan yang sangat pelosok dan miskin. Semula, Miss Oishi merasa sangat berat menjalani tugasnya. Bukan hanya karena ia harus menempuh jarak 8 km sekali jalan dari tempat tinggalnya, melainkan juga karena dia harus menghadapi sikap penduduk desa yang kurang menyukainya karena dianggap terlalu modern.

Seiring berjalannya waktu dan banyaknya kejadian yang dialami, Miss Oishi kemudian justru memiliki keterikatan hati dengan Desa Tanjung. Khususnya, dengan para muridnya. Tak jarang air matanya berlinang saat memikirkan siswanya yang seharusnya tumbuh dengan gemilang justru harus menyerah atas cita-citanya. Bukan hanya karena kemiskinan, melainkan juga karena perang.

Diceritakan pada saat itu, Jepang sedang mengalami masa-masa sulit akibat perang. Semangat nasionalisme sedang gencar digalakkan di mana-mana. Terlebih lagi di sekolah. Orang-orang yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip nasionalisme, akan ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan “merah” atau komunis. Beberapa kali kepala sekolah mewanti-wanti Miss Oishi untuk berhati-hati ketika mengajar agar tidak dicurigai. Miss Oishi akhirnya memutuskan berhenti mengajar karena merasa sudah tidak sejalan dengan keadaan di sekolah.

Sementara itu, setiap anak laki-laki juga harus siap menjadi sukarelawan prajurit yang turun ke medan perang lalu gugur sebagai bunga bangsa. Dengan doktrin bahwa mereka akan gugur sebagai pahlawan, membuat anak-anak muda bersemangat merelakan diri maju berperang untuk kemudian mati secara terhormat. Di sisi lain, para Ibu bersedih hati karena harus rela kehilangan suami atau anak laki-laki mereka.

“Jaga diri kalian baik-baik. Jangan mati terhormat, pulanglah dengan selamat.” — Miss Oishi kepada Nita, Isokichi, dan Kicijhi (hlm. 189)

Membaca buku ini, sedikit mengingatkan saya kepada Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Ada guru laki-laki yang sudah tua, guru perempuan muda yang berangkat mengajar dengan sepeda, serta anak-anak desa yang semangat ke sekolah meski dalam keterbatasan. Beberapa kemiripan di antara dua novel tersebut, mau tak mau membuat saya mengaitkan keduanya. Belakangan, baru saya tahu bahwa ternyata Andrea Hirata memang terinspirasi dari novel ini saat menulis Laskar Pelangi.

Latar masa perang dunia tahun 1928 sebenarnya menarik. Sayangnya, saya kurang bisa membayangkan bagaimana situasinya. Seandainya latar tahun 1928 itu di Indonesia, barangkali saya ada sedikit gambaran. Namun karena latar novel ini Jepang di masa lalu, jadi saya rada nge-blank. Tapi mungkin sayanya aja yang kurang wawasan. :)) Hal lain yang membuat saya kurang bisa masuk ke dalam cerita adalah tokohnya yang sangat banyak dan masing-masing memiliki kisah sendiri, sehingga susah untuk dihafal.

Namun lebih dari itu, buku ini sangat heartwarming untuk dibaca. Di balik cerita tentang kemiskinan, perang, putus sekolah, prajurit gugur, dan hal-hal menyedihkan lainnya, kita juga akan menemukan kisah tentang kasih sayang, cinta, keluarga, dan persahabatan.

Buku

[Review] Geek In High Heels: Dari Jomblo Jatuh Tempo, Lalu Bimbang di Antara Dua Cinta

lpHmS82L

Judul: Geek in High Heels

Penulis: Octa NH

Penerbit: Stiletto Book

Tebal: 208 hlm.

Terbit: Desember 2013

Athaya adalah seorang web designer yang juga shoe fetishism. Athaya memiliki obsesi khusus terhadap sepatu. Dia bahkan dapat merasa lebih bersemangat bekerja ketika menaruh high heels di samping meja kerjanya. Athaya suka menyerasikan warna sepatu dan cat kukunya sehingga membuat penampilannya tampak modis. Namun di balik penampilannya yang selalu modis tersebut, ada hal yang sangat menggelisahkan hati Athaya, yaitu kehidupan cintanya. Pasalnya, di usianya yang sudah menginjak 27 tahun, Athaya belum juga menemukan jodoh yang tepat. Tekanan dari keluarga besar, terutama sang tante, akan status jomblonya membuat hari-hari Athaya jadi terasa berat.

Takdir kemudian mempertemukan Athaya dengan dua orang pria. Adalah Kelana, seorang penulis novel best seller yang secara tak sengaja ditemuinya di sebuah kafe waktu Athaya melarikan diri dari acara keluarga. Dan juga Ibra, mantan klien Athaya. Sejak mengenal Kelana dan Ibra, nasib kehidupan cinta Athaya jadi berubah drastis. Dari yang semula jomblo jatuh tempo, menjadi seorang gadis yang didekati oleh dua pria.

Suatu hari, Ibra melamar Athaya. Lamaran Ibra ini membuat Athaya jadi bimbang. Pasalnya, dia masih tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ibra adalah seorang pria yang dewasa dengan perkerjaan yang mapan. Tentu, tak ada alasan untuk Athaya menyia-nyiakannya. Apalagi, sudah jelas Ibra sangat mencintainya. Keseriusan Ibra dibuktikan dengan komitmennya untuk menikahi Athaya.

“… kadang ada yang lebih penting dijadikan pertimbangan selain cinta…”

“Apa?”

“Komitmen.”

— Hlm. 153

Sementara itu, Kelana adalah pria yang selalu bisa membuat Athaya tertawa. Bersama Kelana, Athaya merasa lebih bisa lepas dan spontan. Namun sayangnya, Kelana sering ilang-ilangan. Athaya jadi ragu bagaimana sebenarnya perasaan Kelana kepadanya.

Jadi, siapakah yang akan dipilih Athaya di antara keduanya?

Cerita cinta segitiga ala Athaya, Ibra, dan Kelana ini sebenarnya sudah cukup mainstream. Namun, narasi-narasi lucu dan segar ataupun celetukan dialog tokoh-tokohnya menjadikan novel ini tetap menarik untuk dibaca hingga akhir.

Pembicaraan yang selalu mengarah ke hal jodoh dan pernikahan membuat suasana (dan makanan enak apa pun) jadi tidak menarik buat Athaya. Bayangkan!  Ketika kamu sedang asyik makan shrimp salad dan tiba-tiba ditanyai, “Apa kamu tidak sebaiknya cepat-cepat menikah saja?” Aku yakin shrimp salad itu rasanya tiba-tiba berubah seperti sandal jepit. – Hlm. 11

Cowok seperti Kelana mungkin banyak disukai sama cewek-cewek ya. Tapi, kalau jadi Athaya, saya sepertinya akan lebih memilih Ibra. Karena yaa… Ibra itu:

“Single dan mapan. Terlalu menarik untuk dilewatkan.” – Hlm. 93 #eh

Nggak, ding. Karena Ibra itu dewasa dan berani berkomitmen. Tidak ilang-ilangan seperti Kelana. Tapi, Kelana juga romantis, sih. Kalau ada yang punya kenalan cowok kayak Kelana ini, tolong kabari saya yha. #lahh *digebuk massa*

Satu hal yang agak mengganjal buat saya adalah judul novel ini, “Geek In High Heels”. Sepengetahuan saya, geek itu sosok yang cupu, unik, dan rada-rada antisosial. Dekat dengan nerd. Tapi, Athaya yang disebut-sebut geek di novel ini kenapa justru sangat gaul dan stylish. Jauh dari geek sebagaimana bayangan saya.

Terakhir, izinkan saya mengutip salah satu kalimat yang menenteramkan hati para jomblowan dan jomblowati di dalam novel ini:

“Hidup memang berat. Apalagi buat para single kayak kita. Tapi buat yang dobel, beratnya juga dobel.” – Hlm 36.

 

Suka-Suka

Selamat Malam, Tuan

Selamat Malam, Tuan

Semoga malam ini kamu bisa tidur dengan nyenyak.

Dan ketika kau terbangun di pagi hari nanti, Tuhan telah menghapuskan segala sakit yang mendera ragamu, serta segala kegelisahan yang mengganggu jiwamu. Menggantinya dengan rezeki yang berkah. Juga, kebahagiaan yang melimpah.

Lalu ketika esok hari kamu kembali menjelma menjadi siluet di antara hitam dan biru pada langit pagi itu, akan kukatakan kepadamu: “Sebenarnya aku ingin sekali mengendap-endap masuk ke hatimu, tapi kenapa justru kamu yang selalu kurang ajar wara wiri di pikiranku?”