Buku · Suka-Suka

Tabungan Buku: Banyak Membaca, Banyak Uangnya

j5x9e1g2

Kemarin waktu ikut event menulis selama 30 hari berturut-turut di Instagram, ada yang posting tentang “Tabungan Buku”. Jadi, setiap kali dia selesai membaca satu buku, dia akan memasukkan uang ke dalam celengan. Semakin rajin membaca, maka akan semakin banyak pula tabungannya.

Nah, saya kan jadi tertarik pengin coba juga. Kayaknya seru. 😀 Tapi, karena bacaan saya random, jadi saya sudah bikin ketentuan jumlah nominal yang harus dimasukkan sebagai berikut.

  • Komik/novel grafis/buku yang isinya banyak gambarnya: 1.500
  • Buku komedi/personal literatur: 2.000
  • Novel biasa: 2.500
  • Nonfiksi: 3.000
  • Sastra: 3.500
  • Sejarah: 4.000
  • Buku yang tebalnya 500 halaman ke atas: 5.000 (kayaknya yang ini saya jarang, deh. 😀 )

Terus apa lagi, ya? Emm… sementara itu saja dulu. Lalu, uang tabungannya nanti mau buat apa? Ntar aja deh dipikirin. Wong sekarang juga lagi malas baca karena kebanyakan lemburan. Hahaha 😀

NB: Moon maap, gambar celengannya kekanakan banget. Soalnya kalau gambar Jungkook, nanti keremajaan. Halah!

Buku

[Book Review] Kulineran Mandiri Ala Ms Koizumi

m5iNpe1a

Judul: Ms. Koizumi Loves Ramen Noodles

Penulis: Naru Narumi

Penerbit: M&C Comics

Seri: 1-3

Terbit: 2017

Kemarin, sepulang kerja saya melipir ke warung ramen sendirian demi memenuhi hasrat yang mendadak rindu berat pada ramen setelah membaca komik ini. Sebagai orang yang mengaku penggemar ramen, saya jadi merasa cupu sekali gara-gara si Koizumi-san. Pengetahuan saya tentang peramenan (halah) masih cetek sekali. Untuk urusan kuah saja, selama ini saya hanya tahu tiga jenis kuah ramen, yaitu miso, soyu, dan kare. Dan, nama jenis ramen yang berbeda-beda itu hanyalah nama menunya. Namun, ternyata… berdasarkan pada komposisi bahannya, ada banyak sekali jenis kuah ramen, Tjoy! Bahkan, kekentalan kuah juga menjadi tolak ukur untuk membedakan jenis ramen. Walah!

Lalu, Koizumi-san be like: “Kau bertahan hidup hanya dengan pengetahuan dasar itu ya?” -_-

Oke, baiklah. Saya akui, saya memang masih newbie dalam hal ini. Tapi sebagai penggemar ramen, saya cukup terpuaskan dengan buku ini. Pada seri pertama, pembahasan mengenai aneka jenis ramen dengan aneka variasi toping dan kekentalan kuahnya, tak ayal membuat saya ngiler berat. Meskipun ada beberapa bahan yang membuat saya jadi hilang selera. Sebagai Muslim, saya tidak bisa mencicipi kesemua jenis ramen yang dipaparkan di sini dikarenakan komposisinya tidak diperbolehkan bagi saya untuk menyantapnya.

Masih dalam seri pertama, saya menemukan beberapa hal yang juga saya alami saat sedang menyantap ramen. Seperti kepedasan, tapi nagih. Dan, kacamata yang jadi buram karena terkena kepulan ramen yang masih panas. 😀

Membaca seri kedua, saya berkenalan dengan hiyashi ramen atau ramen dingin. Ramen ini biasanya dijual pada saat musim panas, disajikan lengkap dengan es batu. Benar, es batu. Jangan bayangkan ramen ini macam sup buah, loh. Ramen ini terbuat dari mi, aneka sayur dan toping, serta kuah kaldu. Spesialnya, disajikan dingin dan bahkan dengan ditambah es batu. Berani coba? 😀

Di buku ketiga, saya menemukan kesintingan Koizumi-san yang sampai bela-belain naik gunung demi mencoba ramen di kota yang ada di lereng gunung. Walah!  Selain ramen, memang yang saya sukai dari komik ini adalah… ya, Ms. Koizumi herself. Saya suka sekali dengan gaya Koizumi-san yang suka kulineran mandiri. Ke mana-mana berburu ramen sendirian. Menyantap ramen baginya adalah ritual yang sakral, sehingga tak ingin momen itu terganggu oleh hal-hal yang tidak diinginkan kalau dia mengajak teman.

Kalau bagi saya, kulineran sendirian bisa menjadi alternatif kegiatan di saat sedang butuh ketenangan. Saat ingin refreshing, tanpa harus ngerumpi dan foto-fotoan. Meskipun risikonya, harus siap menerima tatapan prihatin dari pasangan abege yang mungkin membatin: “Mbak, kok, makan sendirian aja? Jomblo ya?”

Udah, gitu saja.

Kpop & Kdrama

Super Junior Eunhyuk My Favorite Bias

Sebagai fangirl multifandom, setidaknya ada tiga boyband yang cukup berkesan bagi saya di sepanjang perjalanan saya menjadi fangirl. Pertama, SS501, my very first love at Kpop. Lalu, Super Junior. Sekarang, lagi sayang-sayangnya sama Bangtan. 😀 Dulu, jauh sebelum saya berkenalan dengan BTS, saya telah berbahagia bersama Super Junior. Tak bisa dipungkiri, hampir setiap fangirl di Indonesia khususnya, suka dengan boyband yang satu ini pada masanya. Pun demikian dengan saya. Dan Eunhyuk, adalah member Super Junior yang paling menarik perhatian saya.

Pernah ada teman yang tanya mengapa saya tidak memilih Siwon yang paling ganteng di antara seluruh member Super Junior, tapi justru Eunhyuk yang katanya ada di peringkat terakhir. Dan bukannya memilih Yesung atau Kyuhyun yang suaranya merdu, tapi justru Eunhyuk yang paling tidak bisa menyanyi di antara mereka. Yeah, Eunhyuk kan punya bakat sendiri. Sebagai lead dancer dan juga raper, tentu saja keahliannya adalah nge-dance dan nge-rap, bahkan dia pernah menciptakan beberapa lagu rap untuk Super Junior. Jadi, apakah saya lebih suka dancer daripada vokalis? Nggak juga, sih. Yang jelas, sejak Eunhyuk muncul dan mengacaukan daftar bias saya, hingga kini dialah yang menduduki posisi paling dominan di hati ini. :’)

eunhyuk-1

Eunhyuk yang lucu di keseharian dan luar biasa keren kalau di panggung. Hampir setiap aksi panggung Eunhyuk berhasil membuat para ELF jantungan. Seperti ketika dia solo dance ala Michael Jackson, duet “I Wanna Love You” bareng Donghae, solo dance “Sorry-Sorry Answer”, juga waktu dia harlem shake di Super Show 5.

Belakangan, saya baru menyadari bahwa apa yang terjadi pada saya dan Eunhyuk ini sebenarnya merupakan perwujudan dari pepatah lama, “Tresna iku jalaran seka kulina”. Cinta itu dapat muncul karena terbiasa, begitulah kiranya. Terbiasa apa? Tentu saja terbiasa melihat Eunhyuk. Apa yang menyebabkannya? Itu karena Eunhyuk ada di mana-mana. Saya mau nonton Super Junior H, Super Junior M, Super Junior T, ataupun Super Junior yang reguler (?) ada Eunhyuk di situ. Bahkan di Super Junior KRY, yang dari namanya saja jelas-jelas itu sub-grup khusus untuk Kyuhyun, Ryeowook, dan Yesung (para vokalis Super Junior), Eunhyuk juga ikut mengisi part rap di situ. Belum lagi dia juga punya proyek duet bareng Donghae dengan brand “D&E”, plus sub-grup bersama artis-artis SMEnt yang lain, seperti PSL Unique Unit dan SM The Performance.

Yes, Eunhyuk is everywhere! And he is my favourite bias!

Kalau begitu, mari kita bahas satu per satu. Yap, kayaknya bakal panjang nih postingan. 😀

Super Junior, debut pada tahun 2005 dengan 12 member, yaitu Leeteuk, Heechul, Hankyung (Hangeng), Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, Ryeowook, dan Kibum. Kemudian pada tahun 2006, masuk anggota baru, Kyuhyun.

Disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti Khyuhyun dan Ryeowook yang harus menjalani wajib militer, Kibum yang ingin berkonsentrasi pada kariernya sebagai aktor, Hangeng yang karena permasalahan dengan manajemen akhirnya memutuskan untuk keluar, Sungmin yang menikah dan akhirnya terpaksa pergi dari grup juga, dan Kangin… ah, sudah, stop! 🙁 Kini, dari ketiga belas member, tinggal tujuh orang yang masih aktif di Super Junior, salah satunya adalah tentu saja si dancing machine dan raper kenamaan Super Junior: EUNHYUK! 🙂

suju-sorry
Dulu
Super-Junior-3
Kini

Nih, aksi Eunhyuk bersama Super Junior di MV Mr Simple. Namanya juga lead dancer, maka dia dapat jatah aksi (?) tambahan dari keseluruhan koreografi sebuah lagu. Salah satunya adalah aksi koprol-koprol seperti yang ada di MV ini. Eunhyuk Jjang!!!

Super Junior memiliki beberapa sub-grup. Yang pertama adalah KRY. Sesuai dengan namanya, ini adalah sub-grup untuk para vokalis Super Junior: Kyuhyun, Ryeowook, dan Yesung. Namun, jangan salah, Eunhyuk juga ikut berpartisipasi lho di sini. Dia ikut mengisi part rap untuk beberapa lagu ballad Super Junior KRY. Salah satunya adalah lagu “Heartquake” berikut ini.

Sub-grup yang kedua adalah Super Junior T atau Super Junior Trot. Dalam sub-grup ini, para member Super Junior khusus menyanyikan lagu-lagu trot. Trot adalah genre musik paling tua di Korea. Super Junior T debut pada tahun 2007 dengan 6 orang member, yaitu Leeteuk, Heechul, Kangin, Shindong, Sungmin, dan … EUNHYUK! 😀

Suju T
Namanya juga nyanyiin lagu-lagu lama, jadi kostumnya pada jadul begini 😀
Eunhyuk Sj T
Eunhyuk di SJ T

Berikutnya adalah Super Junior M atau Super Junior Mandarin. Sesuai namanya, sub-grup ini menyanyikan lagu-lagu berbahasa Mandarin atau Chinesse. Debut pada tahun 2008 dengan personel antara lain Hangeng, Donghae, Siwon, Ryeowook, dan Kyuhyun, serta dua anggota baru yang berasal dari China, yaitu Zoumi dan Henry. Ketika Hangeng keluar pada tahun 2009, Super Junior M vakum untuk sementara, sebelum akhirnya posisinya digantikan oleh dua orang member Super Junior yang lain, Sungmin dan EUNHYUK! 😀

Sj m
Super Junior M with Hangeng
SJM
Super Junior M with Eunhyuk and Sungmin
Eunhyuk SJ M
Eunhyuk di SJ M

Super Junior H, adalah Super Junior Happy. Sub-grup keempat dari Super Junior. Namanya juga Super Junior Happy, sub-grup ini menyanyikan lagu-lagu yang happy dan lucu-lucu. Seperti lagu “Cooking Cooking” atau “Pajamas Party”, hiiih… lihat videonya serasa pengin ngacak-acak rambut mereka. Terlalu gemassss…. >.<

Di sub-grup ini, image mereka memang dibikin jadi unyu-unyu ngegemesin gitu, deh. Super Junior H terdiri dari enam personel, yaitu Leeteuk, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, and EUNHYUK! 😀

suju-h
Aigoo… neomu kyeopta! Unyuu… ^^~
Eunhyuk Sj H
Eunhyuk di Super Junior H. Imutnya nggak nyante! >.<

Nah, ini yang terbaru. Bisa disebut sub-grup atau bukan, ya? Sebab cuma dua orang. Duo EunHae, Eunhyuk dan Donghae. Kini, lebih dikenal dengan D&E. Mulai meluncur (?) dengan single-nya yang ngehits banget, “Oppa Oppa”, pada tahun 2011. Asyik banget kalau lihat live performance duo ini. Apalagi, Eunhyuk dan Donghae kan seperti anak kembar yang tak terpisahkan. Jadi, feel-nya dapat, deh. Hehe…. 😀

Oppa Oppa

Eunhyuk
I say Eunhyuk, you say Oppa! Eunhyuk… Oppa! Eunhyuk… Oppa! (bagian favorit saya dari lagu “Oppa Oppa”) 😀

Selain sub-grup dari Super Junior, Eunhyuk juga ikut terlibat di grup gabungan artis-artis SM Entertainment. Seperti Younique Unit dengan lagunya yang kece banget, “Maxstep”. Entah kenapa namanya Younique Unit, yang pasti sub-grup ini merupakan kolaborasi artis-artis SM Entertainment kenamaan, antara lain Eunhyuk (Super Junior), Henry (Super Junior M), Taemin (Shinee), Hyoyeon (Girls Generation), Kai (Exo K), dan Luhan (Exo M).

tumblr_mehukgshmc1qdtvhxo7_1280
Younique Unit “Maxstep”
jae
Eunhyuk “Maxstep”. Keren … meski rambutnya dikasih uban gitu.

SM The Performance. Nah, ini nih sub-grupnya para dancer. Kalau sebelumnya SM Entertainment sudah bikin SM The Ballad, sub-grup untuk para vokalis, kali ini ada SM The Performance, ajang untuk para penari-penari terbaik di SM Entertainment untuk unjuk kebolehan mereka dalam menari. 😀

Sub-grup ini terdiri dari Yunho (TVXQ), Eunhyuk dan Donghae (Super Junior), Minho dan Taemin (Shinee), serta Kai dan Lay (Exo). Single mereka berjudul “Spectrum”.

Spectrum

Karena mereka penari, maka untuk menikmatinya (?) harus secara audio visual. Jadi, nih tak kasih link videonya.

WARNING! CHARM OVERLOAD!

Baiklah, mari kita simpulkan tulisan yang panjang lebar ini. Eunhyuk, bisa tampak menawan bersama Super Junior M, Younique Unit, dan SM The Performance. Lucu dan imut bersama Super Junior H. Gokil dan kocak bersama Super Junior T dan waktu duet bareng Donghae. Juga bisa melow bareng KRY. Eunhyuk ada di beberapa sub-grup, di mana masing-masing mengusung genre musik yang berbeda.

Well, now we can call him a multitalented artis. He is Eunhyuk, my favourite bias! 🙂

19955402_777195415792257_375951788932595712_n
Salute to sergeant Lee Hyuk Jae!
Buku · Suka-Suka

Nyesek Story: Oh, My Book

3MAifsk1

Sudah menjadi kebiasaan saya membawa buku di dalam ransel untuk menemani perjalanan dari kantor-rumah. Sebagai pengguna transportasi umum, saya tentu akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk otw daripada dengan kendaraan pribadi. Dengan buku yang saya bawa, saya jadi lebih enjoy menikmati waktu perjalanan sambil membaca. Bahkan kalau sedang bad mood, saya kadang sengaja memilih naik bus dengan rute yang sedikit jauh, demi mendapatkan bus yang sepi sehingga saya bisa duduk tenang sambil membaca.

Buku saya masukkan ke dalam ransel bercampur dengan barang bawaan lainnya, seperti mukena, botol air minum, dompet, charger, power bank, pen case, payung, dan lain-lain. Biasalah, bawaan cewek di tas pasti banyak. Biasanya, sih, baik-baik saja. Paling cuma kusut sedikit bukunya. Tapi, malang tak bisa ditolak. Kemarin sore, saat membuka ransel, saya mendapati buku saya sudah basah kuyup ketumpahan air minum. Entah, mungkin saya kurang rapat menutup botolnya, sehingga seluruh isinya tumpah ke mana-mana. Momen yang paling dramatis adalah ketika saya mengeluarkan buku yang sudah kuyup dari tas, dengan air menetes-netes dari kertas dan covernya. 🙁

Dengan dibantu Ibu, saya melakukan tindakan penyelamatan: menyisipkan tisu di lembar-lembar bukunya, menindihnya dengan buku yang berat supaya covernya tidak tergulung, lalu mengangin-anginkan. Bukunya memang bisa diselamatkan setelah saya melakukan tips-tips hasil googling tersebut. Tapi, tentu saja dia tidak bisa kembali seperti semula.

Padahal ini buku yang baru saya buka segelnya beberapa hari sebelumnya, yang saya niatkan jadi buku pertama yang saya baca di tahun 2018, yang dengan bangga saya pamerkan kepada teman kantor. Bangga bisa memilikinya.

Pokoknya mah saya lagi sayang-sayangnya sama buku ini, sebelum tragedi itu terjadi. Kadang, hidup ini memang lucu. Bisa saja, menit ini kamu merasa sangat bahagia, tapi menit berikutnya kamu nelangsa. Pun sebaliknya. Maka meski nyesek, setidaknya ada pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini, yaitu “Jangan berlebihan mencintai. Sebab kalau kecewa, sakitnya akan parah sekali.”

SEKIAN.

Buku

[Book Review] Pus, I Love You

tSma5qnb

Judul: Pus, I Love You

Penulis: Soon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 288 halaman

Terbit: Juli 2014

Menemukan buku ini waktu jalan-jalan ke pameran Gramedia akhir tahun 2017 yang lalu. Saat membaca judulnya yang unik, “Pus, I Love You”, saya langsung tertarik untuk mencomotnya dari tumpukan buku lainnya. Saat mengamati covernya yang lembut dengan gambar ilustrasi anak perempuan bersama kucingnya, tak ragu lagi saya langsung memasukkannya ke dalam keranjang belanja.

Saya selalu mupeng berat tiap kali melihat kawan-kawan saya posting foto mereka sedang bermain bersama kucing. Apa daya, saya tidak mendapat izin untuk memelihara makhluk menggemaskan itu. Dulu, ada satu kucing kecil manis berbulu belang kuning yang saya pelihara. Namanya Brian. Nama itu saya berikan kepadanya karena menurut saya dia ganteng seperti Brian Westlife. 😀

Brian sangat manja, suka ndusel-ndusel di kaki, mengeong minta jatah waktu saya makan. Tiap malam, saya akan membungkusnya dengan selimut atau membopongnya layaknya bayi sampai dia tertidur sambil mendengkur. Pagi harinya, Brian akan menguntit di belakang waktu saya berjalan kaki menuju ke sekolah. Lalu, saya akan menggusahnya dan menyuruhnya pulang.

Suatu hari, saya menemukan Brian sekarat di jalanan depan rumah. Kepalanya penuh darah. Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya dan siapa yang telah mencelakainya. Yang jelas, sepanjang malam saya menangisinya. 🙁 Brian pergi. Dan sejak saat itulah, saya tidak diperbolehkan untuk memelihara kucing lagi.

Buku ini berisi tentang suka duka Soon bersama dua kucing kesayangannya. Kadang ia dibuat kesal dengan ulah kucing-kucingnya yang suka mencakar ini itu, kadang ia harus sibuk berkutat membersihkan bulu-bulu. Namun lebih dari itu, kucing-kucingnya dapat membuat hidup Soon lebih berwarna dan selalu membuatnya merasa rindu.

Kesal sekaligus gemas waktu baca tingkah laku kucing-kucingnya Soon. Ada juga cerita tentang Dewa Ngantuk yang bikin ngakak hard. Dan bahkan, ada juga si Pangeran Cilik yang ikut nongol dengan potongan adegan dari buku Le Petit Prince.

Cerita-cerita yang terangkum dalam buku ini sangat mengibur dan kadang sedikit haru. Kesemuanya disampaikan dalam ilustrasi-ilustrasi yang ringan tetapi menyegarkan mata. Membaca buku ini, sedikit mengobati hasrat saya untuk memelihara kucing yang tak kesampaian. 😀

 

Buku

[Book Review] Le Petit Prince: Pangeran Cilik

L0BqU8A_

Judul: Le Petit Prince: Pangeran Cilik

Penulis: Antoine de Saint-Exupéry

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 120 halaman

Terbit: Desember 2011

Penasaran dengan buku ini karena banyak yang bilang bagus dan konon telah disadur ke dalam 230 bahasa. Tak diragukan dong, ya. Mana ada 230 penerbit dari seluruh dunia yang berkenan ikut menerbitkan buku ini kalau kualitasnya nggak bagus.

Sempat terkecoh dengan covernya yang unyu dan isinya yang lengkap dengan ilustrasi. Saya pikir ini merupakan buku dongeng anak biasa yang ringan dan dapat dibaca sambil leha-leha. Namun, dugaan saya salah. Buku dongeng anak-anak memang khayali, tapi buku ini jauh lebih absurd lagi. Banyak permainan simbol dan metafora. Tak jarang kening saya berkerut untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh Monsieur Exupery di buku ini.

Buku ini bercerita tentang Pangeran Cilik yang tinggal seorang diri di planetnya yang kecil, bersama sekuntum bunga mawar. Suatu hari, Pangeran Cilik terjatuh dari planetnya. Dia lalu melakukan perjalanan melalui planet-planet yang lain untuk kembali ke planetnya sendiri. Dalam perjalanannya itulah, dia menemukan banyak hal yang menakjubkan dan tak jarang membuat benaknya mengeluarkan banyak pertanyaan-pertanyaan.

Meskipun dikemas seperti buku dongeng anak-anak, sebenarnya buku ini ditujukan untuk orang-orang dewasa. Melalui cerita perjalanan si Pangeran Cilik setelah dia jatuh dari planetnya, terdapat sindiran-sindiran tentang orang-orang yang gila kekuasaan, gila hormat, mabuk-mabukan, dan sebagainya. Sifat-sifat yang pada umumnya dimiliki oleh orang-orang dewasa.

“Tapi sayangnya, aku tak pandai melihat domba di dalam peti. Mungkin aku sedikit seperti orang-orang dewasa. Mungkin aku sudah menjadi tua.” – hlm. 23

Kutipan tersebut seolah menyindir kehidupan orang dewasa yang terlalu serius, terlalu sibuk berjibaku dengan dunia yang complicated, sehingga tak lagi peka dengan imajinasi-imajinasi sederhana khas anak-anak. Tak bisa dipungkiri, menjalani hidup sebagai orang dewasa dengan segala liku-likunya memang dapat memudarkan daya imajinasi kita.

Ada pula cerita tentang seorang pengusaha yang sibuk menghitung bintang sampai dirinya sendiri tidak tahu akan dia gunakan untuk apa bintang-bintang itu. Gambaran orang-orang dewasa yang kadang terlalu sibuk bekerja, sampai lupa meluangkan waktu untuk menikmati hasil kerja kerasnya.

“Orang-orang dewasa memang amat ganjil.” – hlm. 51

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Minggu pagi ini aku bangun di….

 

Minggu pagi ini aku bangun di tahun 850 Masehi. Sayup kudengar suara lesung bertalu-talu serta kokok ayam bersatu padu. Segerombolan makhluk halus kocar-kacir kembali ke sarangnya. Ya ampun, merinding.

“Aarrgh…!” Terdengar suara teriakan frustrasi seorang laki-laki.

Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku. Lalu menyeretku untuk bersembunyi di balik sebuah batu.

“Dia tampak marah sekali. Jangan sampai dia melihat kita,” kata orang itu yang ternyata adalah Empi, temanku.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Mesin waktu kita rusak. Kita jadi nyasar ke sini. Juki sedang memperbaikinya,” jelas Empi.

“Kau tidur ngebo banget, sih. Kau tahu, laki-laki itu tadi sibuk sekali. Dia harus membuat sesuatu dalam tempo semalam agar bisa menikahi pujaannya. Ya ampun, kasihan. Aku mah cukup seperangkat alat sholat dibayar tunai, Mas,” lanjut Empi, mulai rumpi.

“Hah? Maksudmu, kita nyasar di negeri dongeng?” Aku shock.

“Entah. Di penunjuk waktuku, saat ini kita sedang berada di abad ke-9,” kata Empi sambil memeluk tiang listrik.

Tunggu dulu… memangnya tiang listrik sudah ada di abad 9, ya? Nanti saja kita urus masalah ini. Aku terlanjur penasaran dengan jati diri pria itu.

“Jadi, apakah tadi dia sedang membuat perahu? Apa namanya Sangkuriang?”

“Emm… kurasa dia sedang membangun candi,” jawab Empi sambil menunjuk batu tempat kami bersembunyi.

Aku memandang sekeliling. Ada banyak candi di sekitar kami. Seribu candi… eh, anu… 999 candi dan satu yang belum jadi.

“Jadi, dia Bandung Bondowoso,” desisku.

Aku kembali mengintip dari balik batu. Bandung Bondowoso tampak marah sekali saat seorang wanita yang cantik jelita menghampirinya. Itu pasti Roro Jonggrang.

Aku menarik napas tegang. Setelah ini, si jelita akan berubah menjadi arca karena kutukan sang pria. Saat itulah, Juki memanggil. Kami harus segera masuk ke mesin waktu atau selamanya terjebak di masa lalu. Eaaa…

“Kita nyasar jauh sekali. Akan memakan waktu agak lama untuk kembali,” jelas Juki.

Karena kecewa tidak bisa menyaksikan bagian seru dari kisah Bandung Bondowoso, aku hanya menjawab: “Terserah saja. Asalkan diiringi musik dangdut.”

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2018 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Jika Kamu Mi Instan

Jika kamu adalah mi instan, maka aku adalah butiran nasi dalam panci magic com. Kita tak dapat bersatu, Sayang. Demikianlah kita ditakdirkan.

Untuk apa memaksa bersama, jika yang terjadi nanti adalah bahaya. Kita mungkin akan mengenyangkan. Namun, tidak menyehatkan. Sebab siapa pun yang berkenan menyatukan kita untuk mengisi lambungnya, dia harus rela mengalami lonjakan indeks glikemik. Kadar gula dalam darah pun bisa jadi naik.

Oh, tidak! Aku tidak menyukai kisah cinta yang berbahaya.

Maka bersandinglah engkau dengan bawang goreng, telur, atau cabai rawit. Mereka yang lebih mampu untuk membuatmu menjadi hidangan istimewa. Tak perlu kau risaukan aku di sini. Kelak akan kutemukan jodohku sendiri. Barangkali dia adalah sayur kangkung atau bayam yang dimasak oleh ibu. Tukang sayur akan membawanya kemari esok pagi. Asalkan besok tidak hujan.

Aku akan sabar menanti esok datang sambil mengenang kampung halaman. Sawah dan ladang. Di sanalah dulu aku tinggal, Sayang. Ah, andai Tuhan mengizinkan, aku ingin di sana selamanya. Agar kita tak pernah dipertemukan yang pada akhirnya tak bisa dipersatukan. Karena aku lebih suka jadi petani daripada jadi mantan pacarmu.

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2017 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Buku

[Book Review] Diari si Bocah Tengil

 

q7ja5jba

Judul: Diari si Bocah Tengil (Diary of a Wimpy Kid)

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Penerbit Atria

Tebal: 216 halaman

Terbit: Mei 2009

Kalau mendengar kata “diary”, yang terbayang di benak kita barangkali adalah sebuah buku unyu-unyu yang penuh dengan catatan baper curahan hati. Tapi, diary yang ini beda. Alih-alih baper, baca isi diary milik si bocah tengil ini justru akan membuat kita NGAKAK HARD! :))

Diary si Bocah Tengil berisi cerita keseharian dari Greg Heffley, seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia lebih suka menyebut catatan hariannya sebagai “jurnal” daripada “diary”. Setidaknya, ada beberapa tokoh utama yang kalau dijadikan satu, maka dunia tidak akan pernah tenteram kembali. Hahaha

  • Greg Heffley, yang tengil dan effortless.
  • Rodrick, sang kakak yang badung.
  • Manny, si bungsu yang selalu memanfaatkan kebungsuannya demi mendapatkan pembelaan dari Mom dan Dad.
  • Rowley, yang saking lugunya sampai menjurus ke bego. #eh
  • dan, Fregley, yang weird banget.

Tak habis saya terbahak membaca catatan-catatan keseharian yang ditulis si Greg dalam buku diaryjurnalnya ini. Koplak sangat!! Kadang saya kasihan sama Greg atas nasib sial yang sering menimpanya. Tapi, tak jarang pula saya pengin nyukurin dia, karena sungguh, kemalangannya itu kebanyakan terjadi akibat dari ketengilannya sendiri.

Secara keseluruhan, buku ini cocok untuk siapa saja yang menyukai bacaan ringan. Atau, sebagai selingan ketika sedang penat dengan bacaan berat.

Namun demikian, meski tokoh utama dalam buku ini adalah anak-anak, buku ini kurang recommended untuk jadi bacaan anak. Sebab, karakter tokoh anak dalam buku ini boleh dibilang tidak bisa dijadikan sebagai contoh yang patut untuk anak-anak. Buku ini adalah untuk orang-orang dewasa, yang menjadikannya semata sebagai bacaan menghibur pelepas penat belaka. 🙂

Buku

[Book Review] Jomblo Tapi Hafal Pancasila: Inspirasi Cilik-Cilikan dari Seorang Jomblo

rzj5Ggtt

Judul: Jomblo Tapi Hafal Pancasila

Penulis: Agus Mulyadi

Penerbit: B-First

Tebal: 314 halaman

Terbit: Juli 2014

Yang membedakan buku ini dengan buku-buku bertema jomblo lainnya adalah buku ini isinya bukan cuma haha hihi menertawakan kaum jomblo. Sebagaimana diketahui, nasib kaum jomblo di negara kita tercinta ini memang selalu ternistakan. Selalu diidentikkan dengan citra nelangsa dan penuh nestapa. Heleh!

Ayolah Mas, Mbak, bijaklah sedikit. Besok di alam kubur, yang ditanyakan oleh malaikat itu, “Siapa Tuhanmu dan siapa Nabimu, bukan siapa gebetanmu”. – Hlm. 10

Nah, buku ini seolah menjadi bukti bahwa jomblo juga bisa berprestasi. Nggak apa-apa jomblo, asal hafal Pancasila. Atau dengan kata lain, jomblo mungkin kalah dalam urusan asmara. Namun, bukan berarti mereka manusia tak berguna yang kalah juga dalam aspek kehidupan lainnya. Semangat, Mblo! #jomblomenggugat #eh

“Lebih baik jomblo yang berharap punya pacar, daripada punya pacar tapi berharap jomblo.” – Hlm. 202

Buku ini berisi sekumpulan artikel yang termuat di blog penulisnya. Jangan salah sangka dulu dengan judulnya, Jomblo tapi Hafal Pancasila. Meskipun mengangkat tema jomblo, buku ini tidak semata berisi curahan hati seorang jones akan nasib asmaranya. Di dalam buku ini, Agus Mulyadi menuliskan opini-opininya yang mencakup banyak aspek kehidupan. Mulai dari kehidupannya sebagai seorang blogger, keluarga, kawan-kawan, keseharian, bahkan hingga kondisi politik negeri. Dan, tak ketinggalan tentu saja masalah asmara.

Setiap artikel ditulis dengan bahasa yang ringan tapi kritis. Melalui gaya lawakan yang njawani khas Agus Mulyadi, terselip nasihat atau hikmah yang sangat mengena. Menginspirasi tanpa menggurui. Inspirasi cilik-cilikan, kalau kata Agus Mulyadi. Duh! Pokoknya buku ini seru, menghibur, tapi tetap berbobot.

Akhir kata, “Jangan hina kaum jomblo, siapa tahu lima menit lagi Anda akan merasakannya.” – Hlm. 273