Buku

[Book Review] Diari si Bocah Tengil

 

q7ja5jba

Judul: Diari si Bocah Tengil (Diary of a Wimpy Kid)

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Penerbit Atria

Tebal: 216 halaman

Terbit: Mei 2009

Kalau mendengar kata “diary”, yang terbayang di benak kita barangkali adalah sebuah buku unyu-unyu yang penuh dengan catatan baper curahan hati. Tapi, diary yang ini beda. Alih-alih baper, baca isi diary milik si bocah tengil ini justru akan membuat kita NGAKAK HARD! :))

Diary si Bocah Tengil berisi cerita keseharian dari Greg Heffley, seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia lebih suka menyebut catatan hariannya sebagai “jurnal” daripada “diary”. Setidaknya, ada beberapa tokoh utama yang kalau dijadikan satu, maka dunia tidak akan pernah tenteram kembali. Hahaha

  • Greg Heffley, yang tengil dan effortless.
  • Rodrick, sang kakak yang badung.
  • Manny, si bungsu yang selalu memanfaatkan kebungsuannya demi mendapatkan pembelaan dari Mom dan Dad.
  • Rowley, yang saking lugunya sampai menjurus ke bego. #eh
  • dan, Fregley, yang weird banget.

Tak habis saya terbahak membaca catatan-catatan keseharian yang ditulis si Greg dalam buku diaryjurnalnya ini. Koplak sangat!! Kadang saya kasihan sama Greg atas nasib sial yang sering menimpanya. Tapi, tak jarang pula saya pengin nyukurin dia, karena sungguh, kemalangannya itu kebanyakan terjadi akibat dari ketengilannya sendiri.

Secara keseluruhan, buku ini cocok untuk siapa saja yang menyukai bacaan ringan. Atau, sebagai selingan ketika sedang penat dengan bacaan berat.

Namun demikian, meski tokoh utama dalam buku ini adalah anak-anak, buku ini kurang recommended untuk jadi bacaan anak. Sebab, karakter tokoh anak dalam buku ini boleh dibilang tidak bisa dijadikan sebagai contoh yang patut untuk anak-anak. Buku ini adalah untuk orang-orang dewasa, yang menjadikannya semata sebagai bacaan menghibur pelepas penat belaka. 🙂

Buku

[Book Review] Jomblo Tapi Hafal Pancasila: Inspirasi Cilik-Cilikan dari Seorang Jomblo

rzj5Ggtt

Judul: Jomblo Tapi Hafal Pancasila

Penulis: Agus Mulyadi

Penerbit: B-First

Tebal: 314 halaman

Terbit: Juli 2014

Yang membedakan buku ini dengan buku-buku bertema jomblo lainnya adalah buku ini isinya bukan cuma haha hihi menertawakan kaum jomblo. Sebagaimana diketahui, nasib kaum jomblo di negara kita tercinta ini memang selalu ternistakan. Selalu diidentikkan dengan citra nelangsa dan penuh nestapa. Heleh!

Ayolah Mas, Mbak, bijaklah sedikit. Besok di alam kubur, yang ditanyakan oleh malaikat itu, “Siapa Tuhanmu dan siapa Nabimu, bukan siapa gebetanmu”. – Hlm. 10

Nah, buku ini seolah menjadi bukti bahwa jomblo juga bisa berprestasi. Nggak apa-apa jomblo, asal hafal Pancasila. Atau dengan kata lain, jomblo mungkin kalah dalam urusan asmara. Namun, bukan berarti mereka manusia tak berguna yang kalah juga dalam aspek kehidupan lainnya. Semangat, Mblo! #jomblomenggugat #eh

“Lebih baik jomblo yang berharap punya pacar, daripada punya pacar tapi berharap jomblo.” – Hlm. 202

Buku ini berisi sekumpulan artikel yang termuat di blog penulisnya. Jangan salah sangka dulu dengan judulnya, Jomblo tapi Hafal Pancasila. Meskipun mengangkat tema jomblo, buku ini tidak semata berisi curahan hati seorang jones akan nasib asmaranya. Di dalam buku ini, Agus Mulyadi menuliskan opini-opininya yang mencakup banyak aspek kehidupan. Mulai dari kehidupannya sebagai seorang blogger, keluarga, kawan-kawan, keseharian, bahkan hingga kondisi politik negeri. Dan, tak ketinggalan tentu saja masalah asmara.

Setiap artikel ditulis dengan bahasa yang ringan tapi kritis. Melalui gaya lawakan yang njawani khas Agus Mulyadi, terselip nasihat atau hikmah yang sangat mengena. Menginspirasi tanpa menggurui. Inspirasi cilik-cilikan, kalau kata Agus Mulyadi. Duh! Pokoknya buku ini seru, menghibur, tapi tetap berbobot.

Akhir kata, “Jangan hina kaum jomblo, siapa tahu lima menit lagi Anda akan merasakannya.” – Hlm. 273

Buku

[Book Review] Where the Mountain Meets the Moon: Perjalanan Minli Mencari Kakek Rembulan

87unOokE

Judul: Where the Mountain Meets the Moon

Penulis: Grace Lin

Penerbit: Atria

Tebal: 261 halaman

Terbit: 2010

“Jika kau membahagiakan mereka yang ada di dekatmu, mereka yang jauh darimu akan datang.” – hlm. 238

Setiap hari, Minli harus ikut membantu Ba dan Ma bekerja di sawah hingga matahari mulai terbenam. Keluarga mereka sangat miskin. Minly melihat bagaimana orangtuanya bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka di tengah kemiskinan. Melihat Ma yang selalu murung dan uring-uringan.

Karena itulah, Minli bertekad mencari Kakek Rembulan untuk bertanya bagaimana cara mengubah peruntungan keluarga mereka. Kakek Rembulan adalah tokoh dalam dongeng yang diceritakan oleh Ba setiap malam. Tanpa sepengetahuan Ma dan Ba, Minli pun memulai petualangannya yang penuh keajaiban.

Buku yang sangat heart warming. Kisah yang indah dan diceritakan dengan indah pula. Tentang keluarga, persahabatan, serta pencarian kebahagiaan.

“Sepanjang hidupnya, sang hakim mewarnai jiwanya dengan begitu banyak amarah sehingga ketika raganya mati, jiwanya tidak bisa beristirahat dengan tenang ….” – hlm. 183

Buku ini menjadi semakin menarik dengan adanya bumbu dongeng-dongeng dari negeri China di samping cerita utama. Jadi seperti berlapis-lapis, ada cerita di dalam cerita.

Editingnya… emm, nemu beberapa typo. Seperti kata “meraka” yang seharusnya “mereka”, “manyala” yang seharusnya “menyala”, kata “naga” yang seharusnya tertulis “raja”, dan sebagainya. Di halaman 90, tertulis: “Seekor kerbau besar berlumuran lumpur, ditarik oleh seekor bocah ….” Itu bocah sejenis binatang apa gimana? Wew…

Beruntung masalah editing itu tidak begitu mengganggu karena saya sudah terlanjur asyik dengan kisah indah dan hangat, yang dapat menjadi obat untuk hati orang-orang dewasa yang sudah terlalu penat.

“Kekayaan bukanlah rumah yang dipenuhi dengan emas dan batu giok, namun sesuatu yang lebih bermakna daripada itu. Sesuatu yang telah dimilikinya dan tidak perlu diubahnya.” – hlm. 242.

 

Kpop & Kdrama

Mengapa Jungkook Tidak Suka Dipanggil Oppa?

Armys tentu sudah tahu bahwa si bungsu BTS, Jeon Jungkook, tidak suka dipanggil oppa. Dalam sebuah fanmeeting, Jungkook bahkan dengan tegas bilang kalau lain kali dia akan mengecek KTP para Army untuk memastikan bahwa dirinya bukanlah oppa mereka. Walah! :))

Lalu, mengapa Jungkook tidak suka dengan panggilan oppa? Hmm… sebenarnya bukan panggilannya yang menjadi masalah, melainkan siapa yang memanggil dan kepada siapa panggilan tersebut ditujukan. Yok, kita cermati dulu aturan panggilan kekerabatan di Korea berikut ini.

  • Oppa (오빠) = panggilan untuk kakak laki-laki dari adik perempuan
  • Noona (누나) = panggilan untuk kakak perempuan dari adik laki-laki
  • Hyung (형) = panggilan untuk kakak laki-laki dari adik laki-laki
  • Unnie (언니) = panggilan dari kakak perempuan dari adik perempuan

Nah, dalam hal ini Jungkook merasa kalau dirinya itu masih muda (sok imut yee…). Atau setidaknya, dia lebih muda dari para fans, sehingga tak seharusnya para fangirls itu memanggilnya “oppa”. Justru, Jungkook-lah yang semestinya memanggil mereka “noona”. Duh, Dek…. 😀

Tapi, kalau menurut saya, dalam hal ini Jungkook ada salahnya juga, sih. Kesalahan dia adalah kenapa jadi orang keren banget. Mana ada anak kemaren sore udah kayak gini bentukannya. Harusnya masih ingusan kan ya. #eh

Jungkook
Gambar diambil dari https://aminoapps.com

Dan, asal tahu aja nih ya, Cinteee… tak peduli berapa usianya, yang ganteng dan keren akan kami panggil “oppa”. Dan “oppa” bagi kami, adalah kesayangan yang wajib untuk dicintai sepenuh hati. Eaaa… #digetok pakai KBBI supaya sadar dari halusinasi#

Opini · Suka-Suka

Yogyakarta: Bukan Metropolitan, Tapi Tak Ketinggalan Zaman

N1kbXX9B
Para abdi dalem sedang memanggul gunungan dalam acara Grebeg Besar 1950 Je

“Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.” — Joko Pinurbo.

Sejak dilahirkan di kota yang istimewa ini, saya memang belum pernah benar-benar pergi meninggalkan Yogyakarta. Kalaupun keluar kota, paling sekadar piknik atau mengunjungi kerabat di kota tetangga. Selanjutnya, takdir terus menuliskan garis hidup saya berjalan di kota ini. Lahir di Yogya, besar di Yogya, cari ilmu di Yogya, cari rezeki di Yogya, cari jodoh…. *skip

Namun demikian, saat mendengarkan curahan hati dari kawan-kawan saya tentang kota kelahiran ini, dada ini cukup mengembang oleh rasa bangga. Mereka yang telah menghabiskan masa studi di Yogya, lalu harus melanjutkan hidup di kota-kota lainnya, selalu merasakan rindu dan ingin kembali ke sini.

Bagi mereka, Yogyakarta bukanlah kota yang sangat metropolitan, di mana semua serba keras dan harus bergegas. Di Yogya, kota berjalan pelan dan bersahaja. Sebersahaja anggukan kepala kepada orang yang lebih tua. Namun, Yogya juga bukan kota yang ketinggalan zaman. Ada toko buku, bioskop, mall, kafe, perpustakaan, stadion olahraga, dan banyak lagi fasilitas umum yang lainnya.

Objek wisata? Ada candi-candi, kraton, dan beragam warisan cagar budaya yang bisa ditelusuri jika kamu suka sejarah. Ada pula gunung dan pantai-pantai yang bisa dijelajahi kalau kau suka berpetualang. Jangan lupakan pula aneka kuliner, seni, dan budaya yang banyak sekali jumlahnya.

Dari perasaan bangga, kemudian timbul sedikit rasa penasaran. Penasaran atas sensasi bahagia yang dirasakan kawan-kawan saya saat kembali ke Yogya. Barangkali saya harus mencoba untuk merantau juga barang sejenak, agar dapat merasakan kerinduan dan ingin pulang kembali ke kota ini. Suatu saat nanti, mungkin?

Yang pasti, sebagai orang yang lahir dan besar di kota ini, saya berharap semoga Yogyakarta tetap nyaman untuk ditinggali. Jangan lagi banyak dibangun gedung-gedung tinggi. Yogyakarta tak perlu menjadi kota metropolitan. Cukup jadi kota yang tak ketinggalan zaman.

Buku

[Book Review] Rainbow Love: Belajar Kehidupan dari Pape dan Popo

1kl3av8t

Judul: Pepe & Popo: Rainbow Love

Penulis: Shim Seung Hyun

Penerjemah: Novita Isnaeni

Penerbit: Noura Books

Tebal: 224 halaman

Terbit: Juni 2014

Blurb:

Cinta itu seperti cermin. Ketika berdiri di depannya, kita akan melihat bayangan sendiri. Karena itulah, kita harus selalu tersenyum. Kita harus lebih dahulu bahagia jika ingin membahagiakan orang yang kita cintai. Kita harus mengasihi diri kita sendiri dulu jika ingin mengasihi orang yang kita cintai.

Inilah cerita cinta klasik antara Pape, seorang pemuda polos, dan Popo, seorang gadis lembut hati. Kisah-kisahnya menghibur hati dan mengingatkan kita pada nilai cinta sejati, pentingnya keluarga, dan arti persahabatan.

Rada melenceng dari bayangan saya semula ketika membaca blurb-nya. Buku ini ternyata lebih dari sekadar cerita kehidupan cinta pasangan Pape dan Popo. Kisah-kisah cinta yang terangkum di dalam buku ini adalah cinta yang universal.

Diawali dengan cerita tentang ikan paus yang menemukan “jati dirinya” saat berjumpa lautan, membuka lembar-lembar berikutnya kita akan disuguhi sejumlah kisah kehidupan yang berwarna-warni. Sebagaimana penamaan tiap bab dalam buku ini yang menggunakan warna-warna pelangi.

Ada cerita tentang keluarga, pasangan, orangtua, persahabatan, kenangan masa kecil, guru kesayangan, sedih, senang, jatuh cinta, kecewa, dan banyak lagi cerita yang mengajarkan tentang arti cinta sejati. Membaca buku ini, saya seperti membaca buku tentang pelajaran kehidupan. Kesemuanya disampaikan dengan bahasa yang liris dan filosofis, serta gambar-gambar dengan warna yang lembut membuat mata sejuk.

Tak ketinggalan pula kalimat-kalimat quotable yang dapat dijadikan sebagai bahan perenungan. Beberapa yang menjadi favorit saya di antaranya:

“Ada dua macam dosa yang dimiliki oleh manusia. Dosa-dosa yang lain akan muncul karena dua hal ini, yaitu sifat tidak sabaran dan rasa malas. Kafka mengingatkanku bahwa Adam dan Hawa dulu diusir dari surga karena tidak sabaran. Mereka juga tidak bisa lagi kembali ke surga karena rasa malas.” — hlm. 32

“Kita memerlukan orang munafik yang berbuat baik, mau itu tulus atau tidak. Daripada orang yang sekadar ingin melakukan kebaikan saja.” — Hlm. 151

“Keberuntungan akan didapatkan oleh mereka yang menyambutnya dengan tangan terbuka.” — Hlm. 213

Buku

[Book Review] Mata Ketiga

VH6JjVw6

Judul: Mata Ketiga

Penulis: Muhajjah Saratini

Penerbit: Loka Madia

Tebal: 81 halaman

Terbit: Oktober 2017

Blurb:

Kurasa, mandi setelah melakukan percintaan bukan hanya untuk menghilangkan penat dan sisa keringat yang sudah melekat. Utamanya, justru untuk membasuh perasaan muak. Itu yang kupikir ketika lagi-lagi terbangun dan mendapati Gadis sesenggukan—kadang hanya terisak—sementara tubuhku terbuka lebar, menerima air yang terus-menerus mengucur dari atas sana.

Kalau memang yang dilakukan Gadis dan Ari berdasarkan cinta, lalu kenapa dia lebih sering kutemukan menangis seperti ini?

Memangnya, ada berapa jenis cinta antara manusia?

Aku tidak mengerti.

Menyelesaikan membaca buku ini diiringi suara sholawatan selepas Subuh dari masjid sebelah rumah. *halah*

Buku tipis dengan kisah yang complicated. Sedikit mengingatkan saya kepada salah satu cerpen milik Eka Kurniawan berjudul “Cerita Batu”, yang mana kita diajak untuk melihat kehidupan dari para manusia yang “kurang beres” melalui sudut pandang tokoh bukan manusia. Hanya, emm… aduh, ini saya durhaka nggak ya kalau bilang buku ini yang lebih membuat bulu kuduk saya meremang daripada yang itu. Wkwkwk *Mbak Ajjah silakan geer :D*

Setidaknya, ada tiga hal yang menurut saya istimewa dan menjadikan buku ini berkesan. Pertama, tema yang dipilih. Tentang kisah cinta tak biasa beserta hal-hal suram yang menyertainya. Sebagai orang yang terbiasa dimanjakan oleh cerita cinta menye-menye, membaca kisah Gadis dan Ari tak dapat dipungkiri membuat saya sedikit berdebar. *eh

Kedua, adegan-adegan yang rada ekstrem. Lagi-lagi saya dibuat berdebar tapi dengan nuansa yang lain ketika sampai pada bagian Ayah mengambil tato Gadis. Ya ampun! Saya baca subuh-subuh loh ini, masih sepi. Merinding.

Ketiga, banyaknya kejutan. Saya seperti dijungkirbalikkan dengan alur yang tak terduga-duga. Dan, itu tak cuma sekali. Seperti yang sudah saya bilang, banyak plot twist di sini. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kegemaran Mbak Ajjah membaca cerita-cerita detektif.

Hanya ada satu yang agak mengganjal. Sebenarnya saya rada malu ini mau nanyain, tapi daripada penasaran. 😀 Anu, di sini dikatakan si Gadis nggak mau meninggalkan Ari karena dia sudah tidak perawan. Itu gimana ceritanya ya, bisa nggak perawan. Si Ari kan, itu… emm, ya sudahlah. Saya memang cupu. Lol!

Last, buku ini tipis saja. Selesai dibaca dengan sekali duduk. Tapi, efek yang saya rasakan setelah membaca buku ini kok sepertinya nggak selesai-selesai. Nggak heran kalau buku ini menjadi juara pertama. Selamat, Mbak Ajjah. Ditunggu karya-karya selanjutnya. 😀

Kpop & Kdrama

Meninggalnya Jonghyun dan Mitos Club27

Jonghyun

Pertengahan Desember tahun lalu, kabar duka datang dari ranah industri musik Korea. Jonghyun, penyanyi, pencipta lagu, yang juga merupakan anggota dari grup Shinee ditemukan telah meninggal dunia akibat keracunan gas monooksida di dalam kamarnya. Diduga, Jonghyun sengaja mengakhiri hidupnya sendiri. Hal ini dikuatkan dengan surat pamitan yang ia kirimkan kepada kakak perempuan dan sahabatnya.

Jonghyun meninggal dunia pada usia 27 tahun. Kematiannya kemudian dikaitkan juga dengan isu Club27. Jonghyun menambah panjang daftar artis-artis yang bunuh diri di usia 27. Sebelum Jonghyun, sudah banyak selebriti dunia yang mengakhiri hidupnya di usia 27 tahun. Sebut saja,  Amy Winehouse, Jim Morrison, Jimi Hendrix, Janis Joplin, Kurt Cobain, Heath Ledger, dll.

Heath_Ledger
Heath Ledger meninggal dunia pada 22 Januari 2008 karena over dosis obat tidur

Lantas, apa sebenarnya Club27 itu? Apakah klub tersebut benar ada? Konon, istilah “Club27” ini ada karena banyaknya fenomena artis yang bunuh diri di usia mereka yang masih sangat muda. Adanya kesamaan usia, profesi, bakat, prestasi, dan cara mereka meninggal (dengan bunuh diri) membuat para pemerhati musik dunia mengelompokkan mereka ke dalam “Club27”. Di sisi lain, banyak pula yang mengaitkan klub ini dengan hal-hal mistis. Seperti perjanjian dengan setan demi karier yang bagus. Lalu, syaratnya mereka harus meninggal di usia 27.

Sejujurnya, saya baru tahu soal Club27 gara-gara Jonghyun. Dan, dari sekian teori dan spekulasi yang saya baca terkait klub ini, ada satu artikel yang cukup logis dan masuk akal untuk dipercaya. Dalam artikel tersebut dinyatakan bahwa menurut sebuah penelitian, usia 27 tahun merupakan fase yang dapat mendatangkan banyak tekanan. Sebagai masa peralihan dari muda menjadi dewasa, dalam fase ini seseorang akan mendapatkan banyak ekspektasi, baik dari diri sendiri, keluarga, maupun sosial. Berbeda dengan usia 26 tahun ke bawah yang cenderung masih bebas, atau usia 28 tahun ke atas yang lebih suka melakukan refleksi atas hidup yang telah dilaluinya.

Bagi para selebriti yang mendunia, segala tuntutan ini akan menjadi semakin berat. Mereka juga akan menerima ekspektasi dari agensi dan penggemar dari seluruh dunia. Ditambah gaya hidup dalam dunia showbiz, yang pada akhirnya membuat mereka merasa semakin tertekan, depresi, dan yang paling disayangkan, berujung kepada bunuh diri. Wew… mengerikan sekali ya.

Depression is not a joke. Ini adalah penyakit yang dapat menimpa siapa saja. Semoga kita semua selalu mendapat perlindungan dari-Nya, sehingga terhindar dari hal-hal yang demikian. Aamiin. 🙂

Suka-Suka

Excuse Me, Can You Show Me this Address, Please .…

 

Tinggal di kampung yang dekat dengan salah satu objek wisata, sudah menjadi pemandangan yang jamak bagi saya, turis wara-wiri sambil menenteng kamera, backpack, dan peta. Dulu, waktu kecil, setiap kali melihat ada bule yang melintas di jalanan kampung, saya bersama sepupu dan teman-teman main lainnya selalu berseru riang, “Halo, Mister!” Lalu, si bule akan mengalihkan perhatiannya dari serius membaca peta menjadi serius memfoto anak-anak kecil yang gumunan melihat orang asing. Mendapat kesempatan difoto bule, bukan main bahagianya kami saat itu. Wkwkwk duh!

Belakangan, saat sudah dewasa, saya paham bahwa para bule itu memang sengaja blusukan untuk mengetahui kehidupan asli di perkampungan sekitar. Kalau bahasa kekiniannya, backpacker-an. Mereka sengaja blusukan sendiri dan memilih tidak menggunakan layanan city tour (atau apa ya namanya?) yang biasanya hanya mengunjungi tempat-tempat wisata yang umum saja. Karena blusukan sendiri, maka tentu saja mereka tidak ditemani oleh seorang tour guide. Ya, pokoknya berkelana sendiri gitulah! *ribet amat bahasanya, wkwk*

Dan, tidak seperti waktu masih kecil, sekarang ini ketika bertemu dengan turis yang sedang backpacker-an, saya justru sebisa mungkin menghindar. Bukan apa-apa, saya hanya takut ditanya alamat! Diminta menunjukkan arah pakai bahasa Indonesia saja saya sering ribet sendiri, apalagi kudu pakai bahasa Inggris. 🙁

 

Pernah suatu hari, saat saya sedang ke warung beli kuaci, tiba-tiba ada mbak turis datang menghampiri (halah!). “Excuse me, do you know where Jalan Mantrigawen is?” tanya mbak turis yang ternyata dari Vietnam itu. Jalan yang ditanyakan mbak turis kebetulan cukup dekat dengan posisi kami saat itu. Maka dengan penuh percaya diri, saya jawab:

“Ahh, it’s over there!” Sambil nunjuk ke depan.

There?” Mbak Turis pasang tampang plongo.

Wew… padahal maksud saya mau bilang gini, “Itu lho, Mbak, lurus aja. Sampai ada pertigaan. Nah, situ namanya Jalan Mantrigawen.” Tapiii… kata “pertigaan” bahasa Inggrisnya apaan sih? #plak *digetok pakai kamus Indonesia-Inggris*

 

Ya sudah, daripada ribet, saya anterin saja deh tuh Mbak Turis sampai ke tekape. Jalan kaki, tentu saja. Untung saja, nilai bahasa Inggris saya yang meskipun pas-pasan, tapi nggak jelek-jelek amat. Jadi, sepanjang perjalanan kami nggak krik krik, diem-dieman seperti lagi marahan. Hahaha

Do you live around here?” tanya Mbak Turis.

Yes,” jawab saya.

Married?”

Not yet,” jawab saya sambil senyum dimanis-manisin. Hadeh, ngobrol sama orang asing juga ada ya pertanyaan sejuta umat ini, “Kapan nikah?” -___-

Beruntung kami sudah sampai tekape sebelum obrolan makin nggak keruan. Saya katakan kepada Mbak Turis bahwa kami sudah sampai. Mbak Turis mengucapkan terima kasih, sambil memberi tahu bahwa sebenarnya dia sedang mencari penginapannya yang ada di sekitar jalan tersebut.

Thank you very much. I’m looking for The D*l*m, a guesthouse. But, I can just walk. Thank you :),” kata Mbak Turis.

Intinya, dia bilang dia bisa cari sendiri penginapannya. Yaa… gitu juga boleh, Mbak. Sebenarnya saya tahu itu di mana penginapannya. Nggak jauh lagi dari tempat kami berdiri waktu itu. Tapi, daripada ntar ruwet lagi, mending biar mbak turis cari sendiri saja deh ya. Wkwkwk *melipir pulang sambil nyisil kuaci*

Buku

[Book Review] Life 150 Cm: It’s My Real Life be Like…

9Nh11z6n

Judul: Life 150 Cm

Penulis: Naoko Takagi

Penerbit: Haru Media

Tebal: 110 halaman

Terbit: April 2017

Buku imut nan oenyoe ini ternyata adalah komik esai dari kehidupan sang penulisnya sendiri. Naoko Takagi, seorang gadis mungil bergolongan darah O yang suka makan semangka (Wah! Kok, saya banget, haha). Bagaimana Naoko menjalani hari-harinya sebagai orang dengan tinggi di bawah rata-rata orang-orang di sekitarnya, mengerahkan segala kreativitasnya untuk mengakali kelemahannya itu.

Membaca buku ini, saya be like: “O, I feel you, Naoko.” Meskipun tak semuanya, tapi dalam beberapa hal saya pernah mengalami apa yang dialami oleh Naoko. Seperti terhimpit orang-orang waktu di angkutan umum, susah ambil barang di rak paling atas kalau lagi ke swalayan atau toko buku, tiap beli dress kudu dipermak dulu karena pasti kepanjangan, dan lain-lain. 😀

Namun, rasanya kesulitan yang saya alami tidak sama besar sebagaimana yang dihadapi oleh Naoko. Entah karena saya tinggal di Indonesia, yang mana rata-rata masyarakatnya juga segini-segini saja tingginya. Atau, saya yang terlalu menikmati hidup ini. 😀 Malahan di samping kesulitan-kesulitan yang tidak cukup berarti itu, ada banyak hal menyenangkan yang saya alami. Salah satunya adalah–yang juga dialami oleh Naoko–masih sering dikira jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Hahaha