Membaca & Menulis · Suka-Suka

Minggu pagi ini aku bangun di….

 

Minggu pagi ini aku bangun di tahun 850 Masehi. Sayup kudengar suara lesung bertalu-talu serta kokok ayam bersatu padu. Segerombolan makhluk halus kocar-kacir kembali ke sarangnya. Ya ampun, merinding.

“Aarrgh…!” Terdengar suara teriakan frustrasi seorang laki-laki.

Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku. Lalu menyeretku untuk bersembunyi di balik sebuah batu.

“Dia tampak marah sekali. Jangan sampai dia melihat kita,” kata orang itu yang ternyata adalah Empi, temanku.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Mesin waktu kita rusak. Kita jadi nyasar ke sini. Juki sedang memperbaikinya,” jelas Empi.

“Kau tidur ngebo banget, sih. Kau tahu, laki-laki itu tadi sibuk sekali. Dia harus membuat sesuatu dalam tempo semalam agar bisa menikahi pujaannya. Ya ampun, kasihan. Aku mah cukup seperangkat alat sholat dibayar tunai, Mas,” lanjut Empi, mulai rumpi.

“Hah? Maksudmu, kita nyasar di negeri dongeng?” Aku shock.

“Entah. Di penunjuk waktuku, saat ini kita sedang berada di abad ke-9,” kata Empi sambil memeluk tiang listrik.

Tunggu dulu… memangnya tiang listrik sudah ada di abad 9, ya? Nanti saja kita urus masalah ini. Aku terlanjur penasaran dengan jati diri pria itu.

“Jadi, apakah tadi dia sedang membuat perahu? Apa namanya Sangkuriang?”

“Emm… kurasa dia sedang membangun candi,” jawab Empi sambil menunjuk batu tempat kami bersembunyi.

Aku memandang sekeliling. Ada banyak candi di sekitar kami. Seribu candi… eh, anu… 999 candi dan satu yang belum jadi.

“Jadi, dia Bandung Bondowoso,” desisku.

Aku kembali mengintip dari balik batu. Bandung Bondowoso tampak marah sekali saat seorang wanita yang cantik jelita menghampirinya. Itu pasti Roro Jonggrang.

Aku menarik napas tegang. Setelah ini, si jelita akan berubah menjadi arca karena kutukan sang pria. Saat itulah, Juki memanggil. Kami harus segera masuk ke mesin waktu atau selamanya terjebak di masa lalu. Eaaa…

“Kita nyasar jauh sekali. Akan memakan waktu agak lama untuk kembali,” jelas Juki.

Karena kecewa tidak bisa menyaksikan bagian seru dari kisah Bandung Bondowoso, aku hanya menjawab: “Terserah saja. Asalkan diiringi musik dangdut.”

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2018 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀

Membaca & Menulis · Suka-Suka

Jika Kamu Mi Instan

Jika kamu adalah mi instan, maka aku adalah butiran nasi dalam panci magic com. Kita tak dapat bersatu, Sayang. Demikianlah kita ditakdirkan.

Untuk apa memaksa bersama, jika yang terjadi nanti adalah bahaya. Kita mungkin akan mengenyangkan. Namun, tidak menyehatkan. Sebab siapa pun yang berkenan menyatukan kita untuk mengisi lambungnya, dia harus rela mengalami lonjakan indeks glikemik. Kadar gula dalam darah pun bisa jadi naik.

Oh, tidak! Aku tidak menyukai kisah cinta yang berbahaya.

Maka bersandinglah engkau dengan bawang goreng, telur, atau cabai rawit. Mereka yang lebih mampu untuk membuatmu menjadi hidangan istimewa. Tak perlu kau risaukan aku di sini. Kelak akan kutemukan jodohku sendiri. Barangkali dia adalah sayur kangkung atau bayam yang dimasak oleh ibu. Tukang sayur akan membawanya kemari esok pagi. Asalkan besok tidak hujan.

Aku akan sabar menanti esok datang sambil mengenang kampung halaman. Sawah dan ladang. Di sanalah dulu aku tinggal, Sayang. Ah, andai Tuhan mengizinkan, aku ingin di sana selamanya. Agar kita tak pernah dipertemukan yang pada akhirnya tak bisa dipersatukan. Karena aku lebih suka jadi petani daripada jadi mantan pacarmu.

_____________________________________________________________

Tulisan ini dibuat guna memenuhi tugas dalam event “30 Hari Bercerita” tahun 2017 di Instagram. Diposting di blog karena dibuang sayang. 😀