Jalan-Jalan

Candi Kalasan dan Candi Sari: Dulu Bercahaya di Tengah Hutan Rimba

Beberapa waktu yang lalu, saya berencana untuk mengunjungi Candi Kalasan sendirian. Waktu saya sampaikan niat itu kepada seorang kawan, reaksinya: “Hah? Sendirian? Mau ngapain??”

Jadi, tujuan saya sebenarnya adalah sekadar ingin melepas penat. Saat sedang dalam kondisi suntuk atau bad mood, saya biasanya selalu ingin menyendiri. Jalan-jalan sendiri, kulineran sendiri, atau naik bus dengan rute yang lebih jauh sekadar untuk menenangkan diri. Yang belum pernah saya coba adalah jalan-jalan ke candi sendiri. :))

Sebenarnya saya juga bukan orang yang pemberani, sih. Saya pilih Candi Kalasan karena lokasinya cukup dekat dari kantor. Candi ini terletak di tepi jalan raya Jogja-Solo. Sekitar 13 km dari Candi Prambanan. Tepatnya di Dusun Kalibening, Tirtamani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Sudah dua kali saya berkunjung ke candi ini (tapi sama teman, haha). Dan, saya sudah sangat terkesan sejak awal kunjungan. Candi Kalasan memang bukan kompleks candi yang luas seperti Prambanan. Hanya ada satu bangunan candi yang besar, tinggi menjulang. Namun, satu candi itu di mata saya terlihat eksotis sekaligus menawan.

Candi Kalasan
Candi Kalasan

Konon, candi ini dibangun pada abad ke-8 dan merupakan candi peninggalan Buddha. Candi Kalasan yang memiliki nama lain Candi Kalibening ini dibangun oleh Rakai Panangkaran sebagai sarana pemujaan Dewi Tara sekaligus biara untuk para pendeta. Keterangan ini tertulis dalam sebuah prasasti yang ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan situs Candi Kalasan. Menurut para ahli, prasasti yang tertulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf pranagari tersebut diperkirakan ditulis pada tahun Saka 700 atau 778 Masehi.

Salah satu keistimewaan dari Candi Kalasan adalah adanya Bajralepa yang melapisi dinding batu dari candi ini. Bajralepa merupakan semacam lapisan yang bisa membuat batu-batu candi ini jadi tampak mengkilap kalau terkena cahaya (emm, kayak plitur gitu kali ya kalau zaman sekarang? *ngawur, abaikan*). Lapisan bajralepa dapat memantulkan cahaya sehingga dinding-dinding batu candi akan tampak gemerlapan. Selain fungsi estetis tersebut, lapisan yang konon memiliki sifat kedap air ini juga berfungsi untuk melindungi batu-batuan candi dari paparan sinar matahari dan guyuran hujan.

Selain Candi Kalasan, terdapat candi lain yang juga dilapisi bajralepa, yaitu Candi Sari. Lokasi Candi Sari tak jauh dari Candi Kalasan, kira-kira sekitar 0,5 km ke arah timur dari Candi Kalasan. Tepatnya di Dusun Bendan, Tirtamartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Saya juga pernah mengunjungi candi ini sebanyak dua kali. Meskipun kali kedua saya kurang beruntung, karena sudah terlalu sore jadi sudah tutup.

Candi Sari
Candi Sari

Candi Sari memiliki nama lain Candi Bendan. Barangkali merujuk kepada nama dusun di mana candi tersebut berada, Dusun Bendan. Dalam prasasti yang ditemukan di lokasi penemuan Candi Kalasan, tertulis juga keterangan mengenai Candi Sari. Jadi, candi ini ternyata masih ada hubungannya dengan Candi Kalasan. Sama-sama dibangun oleh Rakai Panangkaran pada abad ke-8. Diperkirakan Candi Sari dibangun sebagai biara atau asrama bagi para pendeta Buddha. Dan, sama halnya dengan Candi Kalasan, sisa-sisa lapisan bajralepa katanya juga masih dapat dilihat di Candi Sari.

Sebagai orang yang awam dalam hal ini, saya kurang tahu juga persisnya yang mana itu lapisan bajralepanya. 😀 Namun dalam pengamatan awam saya, dinding batu Candi Kalasan dan Candi Sari tampak berwarna keputih-putihan jika dibandingkan dengan candi-candi yang lain. Mo’on maap ya… kalau keliru. Yang jelas, membaca sejarah dari Candi Kalasan dan Candi Sari ini, saya jadi membayangkan, berabad silam, kedua candi ini berdiri menjulang di tengah hutan rimba (katanya sih, dulu daerah Kalasan adalah alas/hutan), lalu berkilau keemasan oleh pantulan sinar bulan. Wuaaa… pasti indah sekali yaaa… 😀

Kembali kepada rencana saya untuk menenangkan diri di Candi Kalasan sebagaimana yang saya kemukakan di awal tulisan, pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengurungkannya. Sebab kata kawan saya, “Kalau kamu lagi galau, mending dengerin sholawatan. Bukannya malah ngelamun di tempat peninggalan purbakala. Bisa-bisa nanti disamperin jin. Apalagi sendirian.”

Oke, saya menyerah!

Opini · Suka-Suka

Yogyakarta: Bukan Metropolitan, Tapi Tak Ketinggalan Zaman

N1kbXX9B
Para abdi dalem sedang memanggul gunungan dalam acara Grebeg Besar 1950 Je

“Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.” — Joko Pinurbo.

Sejak dilahirkan di kota yang istimewa ini, saya memang belum pernah benar-benar pergi meninggalkan Yogyakarta. Kalaupun keluar kota, paling sekadar piknik atau mengunjungi kerabat di kota tetangga. Selanjutnya, takdir terus menuliskan garis hidup saya berjalan di kota ini. Lahir di Yogya, besar di Yogya, cari ilmu di Yogya, cari rezeki di Yogya, cari jodoh…. *skip

Namun demikian, saat mendengarkan curahan hati dari kawan-kawan saya tentang kota kelahiran ini, dada ini cukup mengembang oleh rasa bangga. Mereka yang telah menghabiskan masa studi di Yogya, lalu harus melanjutkan hidup di kota-kota lainnya, selalu merasakan rindu dan ingin kembali ke sini.

Bagi mereka, Yogyakarta bukanlah kota yang sangat metropolitan, di mana semua serba keras dan harus bergegas. Di Yogya, kota berjalan pelan dan bersahaja. Sebersahaja anggukan kepala kepada orang yang lebih tua. Namun, Yogya juga bukan kota yang ketinggalan zaman. Ada toko buku, bioskop, mall, kafe, perpustakaan, stadion olahraga, dan banyak lagi fasilitas umum yang lainnya.

Objek wisata? Ada candi-candi, kraton, dan beragam warisan cagar budaya yang bisa ditelusuri jika kamu suka sejarah. Ada pula gunung dan pantai-pantai yang bisa dijelajahi kalau kau suka berpetualang. Jangan lupakan pula aneka kuliner, seni, dan budaya yang banyak sekali jumlahnya.

Dari perasaan bangga, kemudian timbul sedikit rasa penasaran. Penasaran atas sensasi bahagia yang dirasakan kawan-kawan saya saat kembali ke Yogya. Barangkali saya harus mencoba untuk merantau juga barang sejenak, agar dapat merasakan kerinduan dan ingin pulang kembali ke kota ini. Suatu saat nanti, mungkin?

Yang pasti, sebagai orang yang lahir dan besar di kota ini, saya berharap semoga Yogyakarta tetap nyaman untuk ditinggali. Jangan lagi banyak dibangun gedung-gedung tinggi. Yogyakarta tak perlu menjadi kota metropolitan. Cukup jadi kota yang tak ketinggalan zaman.