Suka-Suka

Lelaki yang Mengetuk Pintu di Tahun Baru

Selamat pagi… eh, udah siang, ding.

Saat membaca surat ini, mungkin kau sedang nguap-nguap ngantuk di depan monitor. Atau, sedang meregangkan punggungmu ke kiri dan kanan, hingga terdengar bunyi “kratak… kratak…”. Weww… sabar, yah. Sebentar lagi jam pulang kantor. Kamu bisa langsung touch down kasur, baca buku, atau mainan medsos.

Enng… melalui surat ini, aku cuma ingin mengingatkanmu pada perjanjian yang telah kita buat waktu itu. Kau bilang:

“Baiklah, hatiku. Kali ini hanya ada engkau dan aku. Juga Dia, yang menciptakan kita.”

Kala itu, aku masih belum sembuh benar. Masih ada sedikit nyeri di sana sini. Ya, karena kau tidak berhati-hati, aku jadi terluka lagi. Lebih parah.

“Kali ini aku akan menjagamu dengan baik. Tak akan membiarkanmu jatuh, dan akhirnya sakit lagi.”

Janjimu, dan aku setuju. Aku tulis surat ini, bukan karena aku tak percaya padamu. Aku hanya merasakan belakangan ini kau mulai gelisah. Sejak lelaki itu mengetuk pintu di tahun baru dua tahun yang lalu, kau jadi kepikiran, geregetan, dan penasaran. Lebih dari itu, kau juga jadi sering merasa rindu.

Yah, aku tahu, dia memang lebih hebat, jauh lebih hebat. Tapi, please yaa… kau sudah janji kepadaku. Kau berjanji akan berhati-hati menjagaku. Tak akan membiarkanku jatuh lagi kepada orang yang salah, yang pada akhirnya membuatku patah.

“Patah hati itu pedih, Jenderal!”

 

Salam,

Aku, isi hatimu