Buku

[Book Review] Pahat Hati: Jangan Beli Buku karena Covernya!

Pahat Hati
Gambar diambil dari sini

Judul: Pahat Hati

Penulis: Andi Tenri Ayumayasari

Penerbit: Matahari

Cetakan Pertama: Oktober 2013

Tebal: 200 halaman

Jujur saja, saya tertarik membeli buku ini gara-gara covernya. Di cover depan, terdapat selling point yang cukup menarik: “#5th Best Author in Social Media Shorty Award 2013”. Cover belakangnya lebih bombastis lagi, tertulis:

“Dari Penulis yang bersanding dengan JK Rowling dan Cassandra Claire sebagai nominator BEST AUTHOR IN SOCIAL MEDIA 2013, penulis Indonesia berbakat, Andi Tenry Ayumayasari siap menggebrak dunia lewat karya fenomenalnya.”

Membayangkan “karya fenomenal” semacam Harry Potter yang akan saya baca, maka saya segera membayarnya ke kasir dan membawanya pulang. Namun ternyata, saya kecewa. Mungkin ekspektasi saya yang terlalu tinggi. Atau, cover buku ini yang terlalu mengumbar janji?

Baiklah, mari kita ulas satu per satu. Mohon maaf kalau spoiler dan sangat panjang. Karena… ya, gitu deh. 🙁

Novel ini bercerita tentang Cherry, seorang gadis yang ceria, setia kawan, tapi jutek dan galak kalau sama Dicky. Adapun Dicky, diceritakan sebagai cowok playboy stadium akhir, yang mudah bergonta-ganti pacar. Namun demikian, Dicky ini digilai oleh banyak cewek di sekolah. Pertemuan Cherry dengan Dicky adalah serba kebetulan. Berawal dari ketika mereka secara KEBETULAN menyetop taksi yang sama, lalu keduanya berebut tidak ada yang mau mengalah, hingga akhirnya Dicky kalah karena “keganasan” Cherry. Lalu, mereka bertemu lagi karena KEBETULAN menyewa apartemen yang sama. Kamar yang sama, karena si pemilik apartemen ternyata menipu mereka. Kejadian rebut-rebutan pun terulang, tapi kali ini rebutan kamar. Karena nggak ada yang mau ngalah, akhirnya mereka sepakat tinggal satu atap. Oh, my God…! Oh ya, secara KEBETULAN juga, mereka ini satu sekolah, dan yang paling KEBETULAN adalah mereka sama-sama kabur dari rumah karena enggan untuk dijodohkan oleh orangtua masing-masing.

Diceritakan bahwa Dicky, si playboy stadium akhir, pada akhirnya insaf setelah bertemu dan jatuh cinta kepada Cherry. Sementara Cherry, yang sebelumnya selalu menganggap Dicky seperti musuh bebuyutan, pada akhirnya jatuh hati juga pada si playboy stadium akhir itu. Well, sangat drama korea. Dalam drama Korea memang sudah jamak ditemui cerita tentang cowok dan cewek yang awalnya berantem terus tapi ujung-ujungnya jadi cinta. Yah, terinspirasi dari drama Korea tidak masalah, asal ada modifikasi dari penulis sehingga tidak mengingatkan kembali pembaca kepada dramanya. Apalagi, bagi penggemar drakor, pasti sudah hafal deh setiap adegan di drama favoritnya.

Kebetulan, selain penggemar drakor, saya juga adalah penggemar lagu-lagu Pop Korea. Dan sebagai Kpopers, adegan Cherry rebutan kamar apartemen sama Dicky ini mengingatkan saya pada musik video lagu “As a Man”-nya Gummy. Serius! Saya sampai tonton ulang tuh video. Detailnya suamaaa… mulai dari ketika mobil mereka ketemu di halaman depan saat mengemasi barang-barang pindahan, berdebat di depan pintu, pada sibuk dengan handphone masing-masing untuk menghubungi pemilik apartemen, rebutan handle pintu, aksi dorong-mendorong, Dicky terjerembab ke lantai karena kepentok pintu, dan lain-lain. Walah! Mirip sekaliii… tadinya mau saya capture videonya sebagai bukti, tapi takut nanti ulasan ini jadi kepanjangan. Coba cek aja dah di youtube.

Menilik nama-nama tokoh yang laki-laki; Dicky, Bisma, Rangga, Morgan, Ilham, Reza, Rafael… hmm, oke ini fanfiction dari boyband Smash-nya Indonesia (karena di Korea juga ada boyband bernama SMASH). Sebenarnya saya tidak terlalu alergi dengan yang namanya fanfiction, banyak juga kok fanfic yang lumayan. Namun untuk yang satu ini, entahlah… jalan ceritanya terlalu maksa, mengada-ada, dan banyak yang nggak logis.

Oma berpikir kamu mungkin kembali karena tidak betah dengan orangtuamu. Oma titipkan uang padamu dan oma usahakan akan rutin mengirim uang di buku tabunganmu. Jaga dirimu sayang.

Peluk cium, Oma

— hal. 8

Itu adalah surat dari Oma untuk Cherry. Ceritanya sang nenek sudah feeling bahwa Cherry nggak akan betah tinggal di rumah orangtuanya dan akan kembali untuk tinggal bersamanya. Sayang, si nenek harus pergi ke Jepang untuk berobat sebelum Cherry sampai di rumahnya lagi. Well, nenek macam apa? Di zaman yang sudah canggih gini, untuk hal sepenting itu, bukannya langsung menelepon Cherry malah main surat-suratan dan dititip ke tetangga. Pakai nitip uang dan buku tabungan segala. Uangnya banyak loh, bisa dipakai buat sewa apartemen tuh ceritanya. Nenek yang aneh. Cherry-nya juga lebih aneh. Bukannya stay di rumah neneknya malah ngacir cari kos-kosan. Kalau di novel ini sih nyebutnya apartemen. Mungkin biar terkesan mewah.

Selain Oma, sepertinya tokoh para orang tua di novel ini juga dibikin jadi konyol banget. Seperti Pak Lukman dan Bu Shinta, orangtua Cherry. Diceritakan bahwa mereka sudah mencari Cherry yang kabur dari rumah sampai ke mana-mana. Hingga entah bagaimana ceritanya mereka menemukan alamat apartemen Cherry. Tapi, Dicky yang menemui dan bilang kalau mereka salah alamat. Trus si Pak Lukman dan Bu Shinta pasrah gitu aja, cuma ninggalin kartu nama. Ya ampun, Pak… Bu…, hambok bikin laporan anak hilang gitu ke polisi. Biar itu si bocah nggak tahu diurus bisa diseret pulang, bukannya malah asyik-asyikan tinggal seatap sama cowok. Hadeh!

Tokoh orang tua yang konyol selanjutnya adalah guru-guru di sekolah Cherry. Seperti misalanya, adegan ketika Dicky berkoar-koar dengan mikrofon memberi pengumuman ke seantero sekolah bahwa dia sudah insaf menjadi playboy. Duh, guru BK ke mana yaaa… itu ada murid yang bikin rusuh di sekolah gitu, loh. Lalu, ketika Bu Erlina (guru kesenian) patah hati karena Pak Dion (guru olahraga) akan menikahi kekasihnya yang sedang kuliah di Prancis. *keselek menara Eiffel* Dengan konyolnya diceritakan, Bu Erlina lantas membuat peraturan baru untuk murid-muridnya, sebagai pelampiasan dari rasa patah hatinya. *pukpuk Bu Erlina*

Satu lagi, hal yang membuat saya kerap rolling eyes ketika membaca novel ini, yaitu novel ini terlalu over dramatis. Banyak sekali kejadian tragis yang kesannya terlalu dipaksakan hanya untuk nyambungin alur doang. Di antaranya:

Ilham susah move on dari Hanie yang meninggal karena kecelakaan pas hari H pertunangan mereka. Btw, mereka ini ceritanya masih SMA, loh. Belum tujuh belas tahun. Sudah tunangan? Orangtua mana yang mengizinkan anak abege yang punya KTP aja belum, bertunangan? Weww… saya saja sampai sekarang belum ketemu jodoh (malah curhat). *rolling eyes*

Si kembar Andini dan Alda berantem dan perang dingin berhari-hari hanya karena mereka naksir cowok yang sama, yaitu Morgan. Perang dingin gara-gara rebutan cowok itu akhirnya bisa didamaikan setelah Andini ketabrak mobil dan Alda sadar betapa pentingnya saudara kembarnya itu baginya. *rolling eyes*

Cherry nyemplung jurang karena didorong Dinda gara-gara ngerebutin Dicky. Untung saja dia bisa gelantungan di pohon dan selamat. *rolling eyes*

Debby melakukan percobaan bunuh diri gara-gara orangtuanya cekcok terus. Adegan ini dipakai penulis untuk nyambungin alur, supaya ada momen Cherry berbaikan dengan ketua geng Royal Girls tersebut. *rolling eyes*

Terakhir, Dinda meninggal karena kecelakaan. Dan meninggalkan wasiat, dia ingin mendonorkan hatinya untuk Cherry, sebagai permintaan maaf karena dulu telah mendorong Cherry ke jurang. Weww…. *rolling eyes*

Menjelang ending memang diceritakan bahwa Cherry ternyata menderita kanker hati dan butuh donor hati atau nyawanya tidak terselamatkan lagi. Mendengar kabar ini, keluarga Cherry jadi shock. Termasuk Dea, adik Cherry. Saking shock-nya, Dea sampai jantungan. Ternyataaa… ceritanya Dea punya sakit jantung juga! Nggak tahu gimana ceritanya soal si Dea ini, karena tahu-tahu aja diceritakan gitu di ending-nya. Pusing, kan? Sama, saya juga! Parahnya, sakitnya Dea juga nggak main-main. Dia juga butuh donor jantung untuk menyelamatkan nyawanya. *rolling eyes lagi*

Namun berkat donor dari Dinda, akhirnya Cherry dan Dea bisa diselamatkan. Dan pada akhirnya, Cherry bertunangan dengan Dicky. Happy ending? Saya kira juga begitu. Tapi, tiba-tiba….

BRUKK!!!

Cherry pingsan, lalu koma. Ketika tersadar, Dicky masih setia menunggu di sampingnya. Lalu dengan terbata, Cherry mengucapkan kalimat menyedihkan ini kepada kekasihnya:

“Dicky maafin gue, gue udah nyusahin loe, tapi makasih, gue bisa kenal arti bahagia karena gue ada di sisi loe. Loe harus hidup bahagia, kalo loe bahagia, gue juga bakal bahagia. Gue percaya loe pasti bisa, Ky. Pasti bisa bahagia tanpa gue.” Cherry menutup mata.

–hal. 193

Laahhh… kok Cherry meninggal? Pamitan pula. Apa yang terjadi, Gaes?! Ternyata, ceritanya Cherry mengalami komplikasi waktu pencangkokan hati. Haiaahh….!! #gubrak

Sebelum menutup ulasan yang panjang lebar ini, saya simpulkan bahwa sebagai novel remaja, buku ini sangat tidak layak untuk dibaca oleh remaja. Alasannya?

  1. Novel ini mengajarkan tentang pergaulan bebas. Cerita tentang Cherry dan Dicky yang tinggal seatap itu adalah contoh yang paling jelas. Selain itu, karakter orang tua yang seharusnya bisa menjadi pembimbing dan panutan anak-anak remaja ini, justru jarang disebut-sebut dalam cerita. Kalaupun disebut, pasti dalam cerita yang konyol, atau sebagai karakter orang tua yang tidak layak dijadikan panutan, papa dan mama Debby contohnya.
  2. Novel ini mengajarkan tentang gaya hidup mewah Cerita tentang geng Royal Girls yang suka shopping, kebiasaan Dicky dan teman-temannya yang berangkat ke sekolah naik mobil, dan Cherry yang tinggal di apartemen bukannya di kos-kosan.
  3. Tokoh-tokoh di dalam novel ini adalah anak sekolah. Setting-nya pun kebanyakan terjadi di sekolahan. Namun, sepanjang cerita saya tidak menemukan sama sekali adegan mereka pusing berkutat dengan rumus Matematika, atau kegiatan persekolahan lainnya.

Last, saya memang agak heran kenapa novel ini bisa lolos seleksi editornya. Namun, saya lebih heran kenapa penulis novel yang apalah ini bisa disandingkan dengan penulis sekaliber JK Rowling. Setelah ini, pokoknya saya harus cari tahu apa itu Shorty Award sebenarnya. Sekian. *semaput*